Apa kabar, reader-tachi? #dikeplak. Iya maaf saya tau updatenya lamaaaaaaaa banget kayaknya ya udah 6 abad gitu. #lebay. Tapi percayalah, yang namanya tugas kuliah itu ternyata seabrek-abrek ya? :'D ntar lagi kalo saya mabol pasal UUD sama KUHP, saya akan menuntut kampus saya! #heh. Eh... oke, boong. Sebenernya saya aja yang orangnya hobi mepetin deadline hehe.
But thanks to Dryn, kareshii saya tercinta yang hobi ngasih semangat dan bawelin saya kalo tugas lagi banyak-banyaknya, untuk tetap makan, mandi, dan tidak melupakan kehidupan di dunia nyata, kalo enggak ada dia, saya yakin saya bakalan jadi tengkorak berjalan dan lupa saya tinggal di taun berapa. #ekstrim. Apa? Mau kenalan sama orangnya? Kenalan aja. Dia gak gigit kok. Paling nyakar dikit. #heh
Oh ya, chapter kali ini agak panjang. Sekitar 4k words, sebagai rasa penyesalan(?) saya udah apdetnya lama gitu :'D . Hoho, ini adalah chapter yang akan mengaduk-aduk kalian dengan rasa penasaran. So, yah... selamat menebak-nebak~
Enjoy!
Some Dreams on His Eyes
a HETALIA FANFIC
By : EcrivainHachan24
Desclaimer by : Hidekaz Himaruya
A special fanfiction for nacchandroid. Maap kalo jelek, Sayang :')
WARNING!
Abal, (maybe) OOC, death-chara, typo(s), etc
DON'T LIKE, DON'T READ!
.
.
.
.
.
Seorang lelaki berambut keperakan memerhatikan layar-layar di hadapannya. Iris keunguannya menyipit, lalu dia memutar mikrofon di hadapan bibirnya.
"Astaga, Arthur Kirkland!" hardiknya kesal ketika melihat wajah lelaki berambut pirang dengan alis tebal di salah satu layar yang tengah memegang mic bertuliskan 'Breaking News' dengan mimik wajah bosan. "Sudah kubilang, aktualisasikan apa yang sedang kau lihat di gedung presiden! Bukannya memberikan opinimu seenaknya!"
"Aku juga sedang berusaha melakukan pekerjaanku di sini, tahu?" balas Arthur tak kalah kesal. "Tapi podium presiden terlalu jauh dari tempatku! Makanya aku tadi sedikit berimprovisasi!"
"Jangan banyak alasan," balas si lelaki albino dengan hardikan yang sama. "Setelah ini, aku mau gambar yang bagus. Kamera lima, tolong shoot wajah presiden dari dekat."
Tak lama kemudian, kamera lima yang berada di sisi kanan dirinya menampakkan sosok wajah sumringah yang pastinya dikenal oleh seluruh orang Amerika—orang yang merupakan pemimpin mereka, melambaikan tangan dengan ramah dan rendah hati kepada rakyatnya. Tak lupa dengan pengawal-pengawal khusus di sekitarnya.
"Bagus," puji lelaki albino itu, tampak puas dengan gambar yang dishoot kamera lima lalu kembali pada Arthur. "Arthur, setelah ini aku mau kau berjalan ke jembatan yang ada di sebelah podium presiden. Jangan mengacau, dan tunjukkan rasa nasionalisme-mu!"
Arthur memutar kedua bola matanya. "Nasionalisme apa sih maksudmu? Aku bahkan bukan orang Amerika, dan perlu kuingatkan, bahwa kau juga bukan, Beilschmidt."
"Lima detik, Arthur," si albino mulai kehabisan kesabaran menghadapi reporter sinis yang satu itu. "Lima detik atau kupotong gajimu setengahnya untuk bulan ini. Tidak sadarkah kau ini hari bersejarah sepanjang tahun?!"
"Baik, baik," Arthur mengalah, kemudian mulai berjalan mendekati jembatan yang dimaksud si albino diikuti kamera di belakangnya. "Bloody hell pengancam." dengus Arthur.
Si albino menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan reporternya yang sinis dan menyebalkan itu. Bahkan kepada dirinya—bosnya—saja, Arthur Kirkland sanggup membuatnya jengkel setengah mati. Kalau bukan karena mereka teman baik sewaktu kuliah dulu, mana mau dia terus mempekerjakan anak buah menyebalkan seperti itu? Banyak kok yang jauh lebih kompeten dan mudah diatur, dan tidak merenggut pada segala sesuatu hanya karena ia menganggapnya merepotkan.
"Yak, kamera tiga, tolong shoot Arthur, dan kamera tujuh, tolong shoot warga yang datang," perintahnya lagi di mikrofon, lalu berpaling pada kamera tiga di mana Arthur sudah berpijak di jembatan yang ia inginkan, dan sudah siap dengan posisinya. "Arthur, kami akan merekam. Tiga… dua… satu… action!"
Seketika, wajah Arthur Kirkland menjadi cerah dengan sebuah senyuman tipis yang formal. "Breaking News, 5 Juni. Presiden Amerika Serikat saat ini sedang berada di gedung putih New York City ditemani beberapa guard dan polisi untuk memberikan kata-kata sambutan bagi hari besar internasional, yaitu Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Saat ini presiden tengah menyampaikan pidatonya mengenai lingkungan hidup di mana kebijakannya hari ini adalah menanam pohon…"
Iris ungu si lelaki albino masih memerhatikan Arthur dan mengangguk puas. Yah, setidaknya Arthur cukup profesional saat bekerja.
Pekerjaannya sebagai produser di Breaking News lumayan melelahkan, dan dia hanya bisa tidur, setidaknya tiga jam dalam sehari, karena kantor pusat mereka bekerja duapuluh empat jam menyajikan berita-berita aktual yang sedang terjadi di belahan nasional dan dunia. Melelahkan? Sangat. Tetapi dia mencintai profesinya, sehingga kelelahan yang ia rasakan seolah sirna begitu saja.
"… demikianlah yang bisa saya sampaikan langsung dari gedung putih New York City, silakan kembali bersama teman saya di studio satu, Francis Bonnefoy…"
"Cut!" perintah si albino, lalu seketika wajah formal Arthur berubah menjadi wajah masam seperti biasanya. "Bagus, Arthur."
"Bolehkah aku makan siang sekarang?" tanya Arthur dengan wajah menyipit menahan terik panasnya matahari.
"Kau punya waktu break sepuluh menit," lelaki albino itu mengangguk, lalu melepaskan headset yang menempel di kedua telinganya, kemudian menghela napas panjang untuk melepaskan penat dari dadanya. Dia meraih gagang telepon lalu memesan secangkir kopi panas.
Tok tok tok.
"Cepat sekali," gumamnya. "Masuk,"
Namun bukan office boy yang mengantarkan kopi, melainkan sosok lelaki bertubuh jangkung, berambut dirt blonde, berkacamata frameless, dengan cengiran lebar di wajahnya. Jaket cokelatnya yang khas terentang seiring kedua tangannya ikut melambai.
"Yo, Gilbo! Nyahahaha~!"
"Astaga," Gilbert Beilschmidt, nama si albino itu memijat dahinya. "Alfred F. Jones! Ke mana saja kau?! Aku hampir gila dibuat oleh kelakuan Arthur!"
Alfred tertawa keras. "Oh, c'mon! Arthur sebenarnya orang yang baik kok. Mungkin kau yang terlalu keras padanya. Nyahahaha!"
Iris ungu Gilbert berputar. "Aku terlalu keras? Ketika kau yang bertugas, aku tak pernah sepusing ini hanya karena melihat wajah masam anak buahku, dan moodku ikut buruk seketika!"
Alfred tertawa. "He won't cause any problem, dude. He's professional, you know that, right?"
Gilbert menghela napas. "Ya. Kau benar juga," dia mengangguk-angguk, lalu tak lama seorang office boy datang dengan secangkir kopi panas yang kemudian diletakkan di sisi meja Gilbert yang langsung menyesapnya ketika office boy itu pergi dari ruangannya. "Kau mau?" sodor Gilbert.
"Tidak, terima kasih," balas Alfred masih dengan cengiran sumringahnya. "Aku ke sini mau bicara padamu, Gilbo! Nyahahaha~!"
"Bicara apa? Katakan," Gilbert kembali menyesap kopinya dengan khidmat.
"Aku minta cuti."
"APA?!" Gilbert Beilschmidt nyaris saja menyemburkan kopi yang ada di mulutnya. "KAU MINTA CUTI?!"
Tak terpengaruh dengan segala wajah dan nada syok yang digunakan Gilbert, Alfred malah semakin ceria saja. "Benar! Aku minta cuti… satu bulan?"
"SATU BULAN!" jerit Gilbert putus asa. "ALFRED F. JONES!" kemudian dia meletakkan cangkir kopinya, kemudian memelototi pria Amerika yang kini menatapnya dengan polos. "Apa-apaan kau?! Minta digantung?! Tahukah kau seberapa pusingnya aku sekarang?!"
"Oh, c'mon, dude. It's not that terrible isn't it?" Alfred mengangkat kedua alisnya.
"IT WAS THE WORST NEWS FROM YOU!" bentak Gilbert kesal. "Kita punya delapan reporter professional. Dua di antaranya sedang bertugas ke China, salah satu sedang sakit dan yang satunya lagi sedang bertugas ke Ukraina. Dan sekarang kau mau minta cuti?! Sebulan, pula? Apa kau sedang berusaha membuatku jadi pengidap penyakit jiwa atau apa?!"
Alfred menahan tawanya melihat tampang panik-tapi-kocak yang ditunjukkan bosnya itu. "Well…"
"Well?!" semprot Gilbert garang melihat tampang Alfred yang berusaha keras menahan tawa. Apanya yang lucu sih? Sekarang dia berubah jadi badut penghibur, begitu?!
"Natalia—"
"Pacarmu!" seru Gilbert tak habis pikir memotong perkataan Alfred. "Dia—"
"She's pregnant," cengir Alfred lebar-lebar—dan kini meluluhkan ekspresi kesal di wajah Gilbert.
"A-apa katamu?" gagap Gilbert tak percaya.
"Natalia hamil," Alfred bahkan tidak bisa menyembunyikan kegirangannya. "Dia hamil! I don't know it was a girl or a boy, it was just new to her pregnancy, but I was soooo happy! I'm going to be a father, Gilbo!"
Sesaat Gilbert Beilschmidt tak bisa berkata-kata. Dia memandangi Alfred dan cengiran lebarnya, dan perlahan hatinya ikut meluluh. Anak. Anugrah terbesar dari Tuhan. Alfred pasti ingin melihatnya, dan jika suatu saat nanti Gilbert memiliki anak, dia juga pasti akan menomorsatukan anaknya di atas segala-galanya, bahkan pekerjaannya. Gilbert yang masih menganga, segera menutup mulutnya dan berdeham. "Oh… begitu…"
"Mm," Alfred mengangguk. "So, I'm going to marry her soon. Aku berjanji, setelah pernikahanku, aku akan kembali bekerja dan pergi ke Palestina sesuai dengan prosedur kenaikan pangkatku. How does it sounds?"
Gilbert melipat tangannya di dada. "Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengatakannya pada Ludwig…"
Ludwig Beilschmidt adalah atasan tertinggi mereka, dan adik dari Gilbert Beilschmidt. Dialah yang menentukan tugas-tugas reporter dan menugaskan jurnalis untuk mendapatkan artikel dan berita menarik dengan cara apapun. Berbeda dengan Gilbert yang friendly, tidak punya masalah dalam pergaulan dengan karyawannya, dan lebih toleran, Ludwig sangat strict tentang profesionalitas, dan sangat kaku. Dia mementingkan sistem di atas segala-galanya, tidak peduli pada urusan pribadi karyawan-karyawannya. Jika profesionalisme artinya adalah mengorbankan perasaan karyawan-karyawannya, maka dia akan melakukannya. Ambisinya begitu besar, dan adalah orang terpandang di Amerika Serikat. Semua orang menjulukinya 'si Diktator' seperti yang dikatakan Arthur tentang betapa mengintimidasinya atasan mereka itu.
"Bujuklah dia," pinta Alfred kali ini. "Kau pasti mengerti perasaanku, bukan?"
"Aku sih mengerti," angguk Gilbert. "Tapi bagaimana dengan Ludwig? Aku tahu persis karakter adikku itu. Dan kau juga jelas tahu seperti apa dia."
"Yeah, tapi kau 'kan kakaknya, Gilbo," tutur Alfred. "Please, I'm begging you…"
Gilbert menghela napas pasrah. "Oke, aku akan coba bicara dengannya. Tapi aku tak berjanji apapun, oke?"
"Terima kasih banyak, Gil!" Alfred kembali menunjukkan senyuman lima jarinya, kemudian menepuk bahu Gilbert dengan akrab. "Aku akan mengundangmu nanti. Tenang saja! Nyahahaha!"
Gilbert ikut nyengir, lalu menatap jam, dan menepuk dahinya. "Astaga! Sudah lewat sepuluh menit! Arthur harus kembali siaran!"
Alfred terkekeh. "Selamat bekerja, Gilbo!"
"Ya, terima kasih," Gilbert melambai pada Alfred yang keluar dari ruangannya sembari bersiul-siul gembira. Lelaki albino itu menghela napas panjang menatap Alfred yang riang. Apakah jatuh cinta sebahagia itu? Sejak perceraiannya dua tahun lalu, Gilbert sudah tidak pernah lagi memikirkan cinta dan tetek bengek lainnya. Selama pernikahannya, ia juga tak pernah dikaruniai anak. Setelah itu Gilbert kembali menjalani hidupnya yang monoton dan sendirian.
Dan begitu melihat Alfred tadi, mendadak ia rindu menyesap bahagia.
Mendadak ia merasa sangat sepi.
"Oi," di layar ketiga, tampak wajah Arthur yang kebingungan. "Aku sudah selesai makan. Kau masih di sana bukan, Gil?"
Lelaki albino itu mengerjap mendapatkan kesadarannya kembali. "Oh, ya ya," Gilbert berdeham. "Kami akan merekammu sekarang. Tiga… dua… satu… action!"
2 minggu sebelumnya…
Perlahan-lahan, kelopak mata itu terbuka—menampakkan iris biru es yang cantik di baliknya. Rambutnya yang panjang tampak agak kusut berseliweran di bantal, kemudian ia menghela napas panjang ketika melihat jam kecil di samping tempat tidurnya. Pukul enam pagi. Waktunya bangun bukan, Natalia Arlovskaya?
Wanita berambut platinum blonde itu menggerakkan tubuhnya yang kaku sehabis tidur, kemudian mendudukan dirinya di atas tempat tidur berukuran queen size yang ditempatinya. Dia mengucek matanya yang terasa berat, kemudian menoleh ke samping—di mana seseorang sedang tidur dengan pulasnya. Natalia memerhatikan wajah damai dengan mulut yang sedikit membuka mengeluarkan dengkuran-dengkuran lembut dari sana dengan senyuman tipis, kemudian menyentuh pipi lelaki bersurai dirty blonde itu dengan sikap sayang. Tentu saja, Natalia yang sekarang adalah sisi lain dari dirinya yang dingin, mengintimidasi dan menyeramkan. Kepada Alfred F. Jones, sikapnya berubah. Karena lelaki itu sangat spesial di hatinya.
"Dasar bodoh," bisik Natalia sembari mengusap ujung bibir lelaki itu yang mengeluarkan sedikit saliva. Natalia kemudian bangkit, dan menyibakkan selimut putih tebal dari tubuhnya, sebelum mengenakan sandal rumah, dan berjalan menuju pintu kamar. Dia menyipitkan matanya tatkala sinar dari luar menyapa wajahnya. Setelah membiasakan diri, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menyikat gigi. Kegiatan rutin Natalia setiap pagi sangat menyenangkan. Entah karena ia merasa sibuk atau… karena ia tinggal bersama Alfred?
Pikiran itu membuat wajahnya terasa sedikit panas. Sudah hampir dua bulan ia tinggal bersama Alfred, dan keseharian mereka sangat menyenangkan. Biasanya Alfred akan berangkat ke kantor pukul sembilan pagi, dan Natalia akan berangkat pukul sebelas pagi, dan akan pulang jam enam sore, sementara Alfred akan pulang jam delapan malam. Biasanya Alfred membawakan kue, atau—yah—hamburger dan sejenis junkfood lainnya (dan kerap kali Natalia menodongnya untuk tidak membawakan makanan-makanan itu). Natalia akan menyiapkan makan malam, dan mereka akan makan malam bersama sembari menonton film-film bagus sampai tertidur.
Segalanya terasa sangat sempurna.
Jadi, Natalia menyalakan kompor, dan menuangkan air ke dalam panci untuk membuat teh dan kopi. Ia kemudian menyiapkan wajan, dan menaruhnya di kompor sebelah, dan memberikan sesendok margarin untuk menggoreng telur.
Namun ketika ia memecahkan telur tersebut ke dalam wajan dan mencium bau amis dari telur tersebut, perutnya terasa mual bukan main, kemudian ia melempar sodet dari tangannya, dan berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan apapun yang ada di perutnya. Tetapi karena belum ada asupan apa-apa, yang ia keluarkan hanyalah suara-suara yang terdengar amat tersiksa di dalam kamar mandi sana.
"Natie?" rupanya suara Natalia terdengar hingga Alfred terbangun. Agak panik, lelaki bersurai dirty blonde itu segera menyibakkan selimut dan memakai kacamatanya yang terletak di samping kepalanya. Setengah bergegas, Alfred melompat keluar kamar, dan berjalan cepat ke kamar mandi di mana Natalia tengah menunduk-nunduk ke lubang toilet. Ada apa ini? Natalia sakit?
"Natie? Hei…" Alfred menghampiri wanita yang ia cintai itu, kemudian mengelur-elus punggungnya. "Kau kenapa? Kau sakit? Apakah kepalamu sakit, Natie?" cecar Alfred kepanikan melihat wajah pucat Natalia yang tidak seperti biasanya.
Agak gemetar, Natalia menunjuk ke arah dapur. "T-telurnya… airnya…"
Mengerti maksudnya, Alfred mendudukkan Natalia di pinggiran bathtub. "Tunggu di sini, alright? I'll be back!"
Natalia memegangi kepala dan perutnya. Ia merasa pusing ketika mencium bau amis dari telur itu, dan ia mual bukan main saat itu pula. Sebelumnya, dia tidak pernah punya masalah dengan bau telur, baru kali ini ia mengalaminya.
Setetes keringat dingin di pelipisnya membuat Natalia mengerjap. Apa dia sakit? Keracunan makanan? Atau apa?
"Natie, sweetheart," panggil Alfred setelah kembali ke kamar mandi. "Ayo sini kubantu…"
Alfred memeluk tubuh ramping wanitanya itu, kemudian menuntunnya keluar kamar mandi untuk ia bawa ke dalam kamar. Dengan sigap, Alfred membaringkan tubuh wanitanya itu di atas tempat tidur. Wajah cantik Natalia terlihat amat pucat, dan keringat dingin terus menetes dari dahinya. Alfred menghela napas panjang. Benar-benar merasa khawatir dengan keadaan tidak biasa yang dialami oleh kekasih hatinya tersebut.
"Kau tidak apa-apa? Kau kenapa? Apa yang kau rasakan, Natie?" bisik Alfred sembari mengusap keringat dari dahinya. "Ah, wait up! I'll take some tea!"
Natalia hanya memerhatikan Alfred yang kelimpungan dan panik itu dengan aturan napas. Dia tersenyum kecil dalam hati. Inilah pertama kalinya ada seseorang yang begitu mengkhawatirkannya, yang merawatnya, yang begitu peduli padanya… yang begitu… mencintainya… Natalia tak pernah merasa disayangi setulus dan selembut ini, dan sekarang ia mendapatkannya, dan ia tidak yakin harus merespon dan bagaimana harus bersikap.
Tak lama, aroma teh memasuki kamar mereka, dan Alfred memberikan cangkir putih itu kepada Natalia. "Ini minumlah,"
Perlahan, Natalia mulai menyesap bibir cangkir teh itu dan mendesah pelan saat dirasakannya cairan panas itu menjalari seluruh tubuhnya.
"Better?" tanya Alfred ketika melihat wajah Natalia agak bersemu.
Wanita itu mengangguk, tetapi Alfred masih terlihat cemas. "Aku khawatir padamu. Aku akan memanggil dokter, apartemenku ini ada fasilitas kesehatan gratis. Aku akan izin kerja hari ini. Oke?"
Natalia menggeleng. "Tidak perlu. Mungkin aku hanya flu… atau meriang biasa…"
"No!" sentak Alfred. "Kau pucat sekali, tahu tidak, Natie? Flu atau meriang tidak akan membuatmu sepucat ini! Pokoknya aku akan menelepon dokter sekarang!"
Yah, apa gunanya berdebat dengan Alfred yang tidak suka ditolak?
Diperhatikannya Alfred memencet nomor dari telpon apartemen, setelah beberapa saat, wajah Alfred terangkat. "Ya, halo. Ini Alfred F. Jones dari kamar 401 A, aku meminta layanan kesehatan datang sekarang juga. Ya, ya, sekarang. Sekarang, ini darurat, oke? Aku tunggu kehadiran dokter, kumohon cepatlah, oke? Terima kasih."
Perlahan, hati Natalia terasa menghangat saat menatap lelaki yang sangat memedulikannya itu. Alfred terlihat sangat cemas, dan walau Natalia merasa dirinya merepotkan, dia merasa senang melihat kecemasan lelaki itu, pertanda kalau Natalia sangat berarti dan Alfred sangat tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk kepadanya.
Dan… perasaan cinta itu selalu bertambah besar setiap kali ia memandangnya.
Ting tong!
"Itu dia!" seru Alfred tampak lega, kemudian segera keluar untuk menyambut dokter yang akan memeriksa Natalia.
Tak lama, Alfred muncul dengan seorang wanita muda berambut pendek dengan ribbon biru di sisi rambutnya yang pirang pendek di atas leher. Tatapannya yang keibuan dan lembut membuat Natalia merasa rileks saat dokter muda itu tersenyum ramah padanya. "Hai. Aku Lily Zwingli, aku ke mari atas panggilan atas nama Alfred F. Jones. Betul? Salam kenal."
"Okay, dokter Lily," angguk Alfred, kemudian membawanya mendekat kepada Natalia yang terbaring lemas di atas tempat tidur. "Dokter, ada apa dengan Natie? Dia muntah-muntah tadi pagi, and she looks so pale! Dia sakit apa?"
"Aku akan memeriksanya dulu," senyum Lily sabar. Dokter manis itu mengeluarkan stetoskop dari tas cokelat yang dibawanya, kemudian mendekati Natalia dan memeriksa detak jantungnya sesaat. Setelah itu, dia mengambil thermometer dan alat pengukur tensi. Wajahnya mengerut sedikit, kemudian mengerjap dan menatap Natalia.
"Tekanan darahmu cukup rendah. Apa Anda sudah makan?"
Natalia menggeleng. "Mual ketika aku mencium baunya."
Lily mengangguk-angguk, kemudian mulai bertanya. "Apa yang Anda rasakan sekarang?"
Natalia berjengit. "Agak pusing. Dan akhir-akhir ini aku mudah lelah. Mungkin aku drop atau apa…"
"Hmm," Lily tersenyum kecil. "Maaf, tapi kapan terakhir kali Anda dapat haid?"
Natalia mengerjap. Haid?
Dia mencoba mengingat-ingat, kemudian tersadar sesuatu. Ini sudah tanggal 21 Mei, dan haid terakhirnya mungkin… sekitar sebulan lebih yang lalu…
Tidak.
Dia sudah terlambat haid dua minggu.
Natalia tersentak. "A-aku sudah terlambat haid dua minggu…"
Lily Zwingli tersenyum. "Anda tidak sakit, nyonya Arlovskaya. Kau hanya mengalami morning sickness…"
Natalia membeliak, seolah akan meledak kala itu juga. "Apa maksudmu?!"
Lily Zwingli berbalik menatap Alfred yang memerhatikan mereka berdua dengan mulut setengah menganga. "Sepertinya… dia hamil…"
Apa?
Apa…?
Natalia mengerjap-ngerjapkan matanya. Seolah tidak percaya dengan pendengarannya, sementara Alfred langsung mendekat dengan wajah bersemu dan kelihatan sangat senang.
"Hamil…? Benarkah…?!"
Lily mengangguk. "Saya yakin mual-mual yang dirasakannya pagi ini hanyalah morning sickness… semua tanda-tandanya sangat jelas, apalagi dia sudah telat haid selama dua minggu... Selamat ya, kalian berdua!"
Sesaat tidak ada yang berkata-kata saking kagetnya, tetapi lalu Alfred menatap Natalia yang bergeming dengan wajah beku.
"Kau dengar itu, Natie?!" seru Alfred kegirangan, berbeda dengan Natalia yang wajahnya bersemu merah menahan tangisan bahagianya. "Kau hamil! Aku akan jadi ayah! Yahoooo!"
Sementara Alfred berterima kasih kepada Lily yang tak henti-hentinya memberikan tips kehamilan pertama untuk Natalia, wanita bersurai platinum blonde itu termenung.
Hamil?
Dia mengusap perutnya perlahan.
Ini… anak Alfred… dan dirinya…?
Ada perasaan hangat di dadanya. Perasaan yang sangat senang dan membuatnya begitu berdebar-debar. Dia… akan menjadi seorang ibu…? Seperti apa rupa anak ini nantinya? Apakah mirip dengan dirinya? Atau mirip dengan Alfred? Apakah laki-laki… atau perempuan…?
Ah…
Dia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan segala rasa bahagia yang membuncah di dadanya kala ini. Dia merasa sangat… sangat… sangaat senang mengingat ini adalah buah cintanya dengan Alfred.
Dia mendongak tatkala Alfred membuka pintu kamar dengan terburu-buru masih dengan senyuman lima jarinya. "Natie! Oh, Gosh!" Alfred mendekati Natalia yang kini duduk di tepi tempat tidur, kemudian berlutut di hadapannya. "Aku… aku tidak percaya…," Alfred mengelus perut Natalia dengan lembut. "This is… my son? Or my daughter….?"
Lelaki Amerika itu tampak sangat senang, dan hal itu kembali membuat dada Natalia menghangat. "Ya, bodoh. Ini anakmu."
"Oh, Natie… sweetheart…," panggil Alfred lembut dan lirih, seolah dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia memandang Natalia dengan mata berbinar. "I love you so much! I love you soo damn much! Ah wait!"
Natalia mengerjap saat Alfred beranjak, menuju lemarinya dan mengeluarkan sesuatu dari laci, dan menyembunyikannya di balik badannya yang tegap.
"Apa itu?" tanya Natalia saat Alfred mendekat kembali padanya.
Lelaki Amerika itu hanya tersenyum lebar, dengan wajah yang sedikit memerah. "Yah, sebenarnya aku berniat melakukannya seminggu lagi, tepat di anniversary kita. But… I was so happy that I can't resist myself again!"
Mata Natalia membeliak tatkala Alfred mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah, dengan tekstur bulu-bulu pendek yang lembut di jemarinya ketika ia menyentuhnya.
Sebuah velvet.
"Natalia Arlovskaya…," panggil Alfred, dan kali ini membuat degup jantung Natalia nyaris copot dari tempatnya. Dia memerhatikan bagaimana lelaki itu menatapnya, begitu dalam, lembut, dan intens, membuatnya menahan napas saking gugupnya—dan wajah Alfred begitu hangat kepadanya. Ekspresinya, suaranya yang dengan penuh cinta menyebut namanya… semuanya terasa begitu menggelitik debaran dan kobaran cinta di dadanya kian membuncah.
Karena dia bisa merasakannya.
Karena dia tahu Alfred F. Jones sangat mencintainya.
Hanya dengan itu, dan dia yakin dunianya akan selalu tentram.
"… will you marry me?"
Alfred membuka velvet itu, dan tampaknya sebuah cincin yang terbuat dari emas putih, dengan lima batu intan kecil bersinar indah dengan aksen biru muda yang sangat manis. Mungkin itu bukanlah cincin termahal di dunia, atau cincin terindah di dunia… tetapi karena Alfred F. Jones adalah orang yang memberikannya, cincin tersebut sangatlah mahal dan indah di matanya. Cincin itu takkan pernah tergantikan, dan akan selalu menjadi harga berharganya.
Ya. Karena cincin itu adalah pengikat resmi antara dirinya dan Alfred.
Tes.
Tes.
"Na-Natie?!" seru Alfred panik saat ditatapnya wanita itu hanya menatapnya, tetapi ada air mata yang bergulir di sudut matanya. "K-kau kenapa?! Mananya yang sakit?! Perlu kupanggilkan dokter la—"
"... kau ini bodoh, ya?" potong Natalia dengan suara agak gemetar.
"H-hee?"
Natalia mengatur napasnya yang tersendat karena kerongkongannya tersumbat perasaan haru dan bahagia. "… aku… aku senang… aku sangat… senang… Alfred… a-aku—"
"Sssh," Alfred tersenyum, kemudian memeluk Natalia. "Aku juga sangat senang, Natie. Lebih dari kata bahagia… ah! Andai kau bisa tahu pikiranku saat ini!" Alfred menunjuk kepalanya. "Semuanya hanya terpenuhi olehmu, lho! Nyahahaha~!"
Natalia tersenyum tipis, dan setetes bulir air mata kembali mengalir di pipinya yang halus. "Alfred…"
"Hmm? Ya?" Alfred menatapnya sumringah seperti biasanya.
Natalia menggigit bibir bawahnya, kemudian menundukkan wajahnya. "… au…"
"Hah? Apa?" Alfred mengerjap, memiringkan kepalanya menatap wanitanya yang masih tersendat dalam berkata-kata.
Natalia menghela napas panjang, untuk menenangkan dirinya sendiri. "… a-aku—aku mau… aku mau… menikah denganmu…" seiring kata itu diucapkan, mata Alfred melebar, dan senyumannya tergantikan oleh bibir yang sedikit terbuka.
"Hah…"
Wajah Natalia yang tadinya memerah karena tangisannya, kini mulai berubah karena ia merasa malu.
"… A-aku tidak mau mengulangnya, a-atau kau akan kubun—"
Ucapannya terputus saat Alfred memeluknya erat-erat, dan membenamkan wajahnya ke bahu Natalia. Lelaki itu sangat mencintainya. Dia mencintai segala hal yang ada pada diri Natalia. Wangi rambutnya, tubuhnya, tatapan matanya, bibir manisnya, sikapnya yang dingin, dan segala tentangnya bisa membuat Alfred lupa diri dan jatuh cinta.
Sangat jatuh cinta.
"Thank you…," Alfred berbisik. "Thank you very much…,"
Natalia balas memeluk lelaki itu. Kemudian menutup matanya saat Alfred mengecup keningnya dengan lembut.
"I love you, Natalia. I really do…" sembari mengucapkannya, Alfred menyematkan cincin itu di jari manis Natalia.
Ya. Dan Natalia jauh—jauh lebih mencintainya.
Alfred F. Jones berjalan di sepanjang toko-toko kue yang terletak di pinggir jalan. Ada banyak sekali bakery, tapi dia tidak tahu harus membawakan apa untuk Natalia. Sebenarnya, hari ini dia mau pulang dengan dua paket big mac dan french fries, tetapi mengingat Natalia yang sedang sangat sensitif dengan hidung dan perutnya belakangan ini (dan percayalah, setiap kali wanita itu merasa kesal karena perubahan hormon dan hidung sensitifnya, Alfred selalu menjadi pelampiasannya, tentu saja) membuatnya mengurungkan niatnya, dan sepertinya kue manis terdengar lebih bisa diterima wanita itu.
Tapi apa yang harus dia beli, ya?
Bruk!
Alfred mengerjap saat menyadari dirinya menabrak seorang wanita. "Oh! Sorry, sorry, miss! Really I am!"
Wanita itu berambut cokelat panjang yang agak ikal di bagian bawah, dengan make up yang semakin memamerkan kecantikannya, dipadu dengan tanktop hitam yang dipadukan dengan jaket jeans biru cerah ketat yang tidak dikancingkan, aksesoris-aksesoris seperti kalung dan anting, celana panjang hitam yang memperlihatkan bentuk kakinya yang jenjang, dan kakinya yang memakai wedges putih. Seperti barbie, nilai Alfred dalam hati.
Wanita tadi meringis sembari mengusap-usap pergelangan tangannya yang terasa sakit. "Tidak, tidak apa-apa, it's okay… salahku tadi tidak melihat ke depan juga,"
"Ah, barang bawaanmu berantakan, miss," Alfred kemudian berdeku untuk mengambil barang belanjaan berisi snack-snack ringan itu dengan sigap, kemudian memberikannya lagi pada wanita itu. "Ini. I'm so sorry, okay?"
Wanita itu tertawa renyah saat menerima kantong belanjaannya kembali. "Tidak apa-apa…," lalu wajahnya perlahan berubah. "Ah… kau… Alfred F. Jones, bukan? Reporter di Breaking News?"
Alfred menunjukkan cengiran lima jarinya, kemudian mengangguk-angguk. "Yup, that's me! Senang rasanya bertemu orang yang mengenaliku di jalanan! Nyahahahaha~!"
Wanita tadi tertawa manis. "Seharusnya aku yang bilang begitu, Mr. Jones. Aku fans nomor satumu. Aku sering menonton berita, dan kau adalah reporter favoritku."
"Panggil saja aku Alfred," balas Alfred masih dengan cengiran lebarnya. "Well, thank you very much! Walau biasanya wanita lebih suka reporter seperti Francis sih, nyahahaha~!"
"Ahaha, tidak, aku lebih suka ketika kau yang membawakan acaranya," kata wanita itu sembari menyibakkan rambut ikal kecokelatannya, membuat kecantikannya kian menguar. "Ah iya, kita belum berkenalan," dia mengulurkan tangannya. "Aku Elizaveta Herdervary, aku sekretaris di sebuah perusahaan asuransi."
"Alfred F. Jones," Alfred menjabat tegas tangan wanita itu sebelum tersenyum lagi. "Senang bertemu denganmu, miss Herdervary!"
"Elizaveta juga tidak apa," katanya sembari mengedipkan matanya yang dilapisi maskara. "Ah, aku ingin minta maaf soal yang tadi. Mau kutraktir kopi?"
"Ah, tidak perlu," Alfred menggelengkan kepalanya. "Lagipula, itu bukan salahmu kok. Aku juga tidak melihat jalan tadi. Nyahahaha!"
"Ah, aku jadi merasa tidak enak hati," wajah wanita itu mengerut sedikit agak kecewa. "Aku benar-benar ingin meminta maaf dan itu akan terus membuatku tidak enak hati…,"
Alfred yang menatap wajah sendu wanita itu akhirnya tersenyum menenangkan. "Baiklah. Bagaimana kalau minggu depan?"
Wajah Elizaveta kembali cerah. "Sungguh?"
"Yup!" Alfred tersenyum lebar. "Kanelbullar Café, jam empat sore? Aku free jam segitu, karena jadwal take-ku dimulai pukul lima. Bagaimana?"
"Baiklah!" Elizaveta tersenyum senang. "Berapa nomor ponselmu, Alfred? Tenang, aku takkan menyebarkannya ke sembarang orang kok!"
Alfred tertawa. "Tentu saja…"
Dan setelah itu, mereka berpisah, tanpa Alfred ketahui bahwa di belakangnya, wanita itu menelepon seseorang.
"Halo? Aku sudah dapat nomor ponselnya. Minggu depan aku akan bertemu dengannya di Kanelbullar Café jam empat sore, pastikan orang-orangmu siap membantu. Baiklah. Dah."
Pip.
Elizaveta menatap punggung Alfred yang menjauh kemudian menyeringai kecil sembari menempelkan ujung ponselnya ke dagu. "Dia tampan dan ceria sekali. Tapi sayangnya… mungkin aku akan membuat keceriaan itu hilang dalam hitungan detik… maaf ya," Elizaveta terkikik geli. "Tapi kaulah sumber uang yang ada kudapat nanti. Yah, sampai saat itu tiba, siap-siap saja, ya, Baby?"
To be Continue
Jeng jeeeng!
Apa ya, yang bakal dilakukan Elizaveta?
Tadinya, saya mau ganti chara antagonis ceweknya, kalo Elizaveta kan wanita setrong gitu, ga cocok jadi cewek penggoda -_- tapi terus saya bingung harus siapa? Kalo cewek-cewek Hetalia yang lain gaada yang cocok sebenernya.
Tapi Elizaveta kan cantik, terus auranya emang menggoda gitu #apaan. Jadi, dengan teramat menyesal, saya harus bikin dia OOC maaf yaaa! Ini semua demi kelangsungan cerita TwT *sungkem*
Oh ya, bagi yang mau bilang "kok Natalianya hamil duluan?" well, di Amerika itu hal yang biasa kan? Kebanyakan pasangan di sana kan gitu. Apalagi dia udah di atas umur, dan ada jaminan hidupnya di tangan Alfred yang akan segera menikahinya~ #maksa. Lagian logikanya, kalo mereka tinggal berdua doang gitu, gamungkin ga terjadi apa-apa kan? #IYATHORUDAH #banyakanakdibawahumur #jdak.
Review?
V
V
