HarinJoy Present
Darkness of Destiny
Chapter 5
A fanficion about Kyumin
.
.
.
"Selamat datang." Sungmin membungkuk pada pengunjung yang baru saja datang dan menunjukkan meja kosong pada mereka.
Sudah dua hari setelah kejadian Sungmin pingsan dan sudah tiga hari Kyuhyun kembali datang di kehidupannya. Sungmin menuruti apa yang Changmin katakan dua hari yang lalu untuk bedrest minimal satu hari full. Ia memang membutuhkan libur kerja untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah. Hari ini, ia kembali bekerja dengan kondisi tenang. Selama dua hari ini Kyuhyun tidak muncul di hadapannya. Sungmin bersyukur lelaki tersebut tidak datang mengganggunya lagi di saat ia menginginkan ketenangan. Sungmin tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika Kyuhyun kembali datang ke tempatnya. Ia masih begitu membenci Kyuhyun atas apa yang ia perbuat.
"Hey." Changmin mengibaskan telapak tangannya di depan Sungmin. "Apa yang kau pikirkan?"
Sungmin melengos ke dalam dapur untuk mengambil pesanan yang sudah jadi. "Kenapa kau berkeliaran keluar dapur? kau harus kembali bekerja." Tegur Sungmin setelah sampai di dapur cafe.
"Aku sedang mengambil waktu istirahatku." Jawab Changmin santai. "Seharusnya kau yang jangan melamun di saat sedang bekerja, Sungmin-ssi."
"Aku sedang tidak melamun."
"Aku melihatmu dengan jelas. Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Bukan urusanmu." Jawab Sungmin pada akhirnya dengan ketus. Changmin tertawa mendengar jawaban Sungmin.
"Sekali-kali jika ada yang mengganggu pikiranmu kau boleh bercerita pada seseorang. Misalnya Minho, Shindong ahjussi, karyawan lain, atau aku." Saran Changmin sembari menepuk kepala Sungmin pelan. "Semua orang mau mendengarkan keluhan dirimu kok." Lanjutnya.
"Tanganmu lancang, Changmin-ssi." Kata Sungmin setelah sesaat tertegun mendengar ucapan Changmin.
"Hahaha. Maafkan tanganku yang berulah." Sungmin membalikkan badannya menuju pintu dapur sembari membawa beberapa pesanan pengunjung.
"Changmin-ssi."
"Ya?"
"Terima kasih untuk membawaku ke rumah daripada rumah sakit. Terima kasih juga sudah membuatkan makanan untukku." Kata Sungmin tanpa berbalik dan kembali berjalan keluar lalu menghilang dari pandangan Changmin.
Changmin menggaruk kepalanya. Hatinya senang mendapat ucapan terima kasih dari Sungmin. Namun, ia merasa ada yang salah. Seharusnya ucapan terima kasih itu tidak semua di ucapkan padanya. Harusnya ia juga mengucapkan kata-kata tersebut pada seseorang lagi.
.
.
.
"Kau yakin tidak akan terjadi apa-apa kalau kita mendatanginya lagi?" Eunhyuk menghentikan langkah Ryeowook.
"Aku tidak tahu." Ryeowook menghela napas pelan. "Tapi aku ingin meminta maaf dan mengenalkanmu padanya."
Eunhyuk menghela napas pasrah. Ia mengerti keinginan Ryeowook yang merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Sungmin. Dirinya sendiri pun ikut merasa bersalah setelah mendengar penuturan kekasihnya kemarin. Mau bagaimanapun Kyuhyun adalah kerabat dekat dengannya. Eunhyuk mengangguk dan berjalan mendahului Ryeowook.
"Ayo, jika kau mau bertemu dengannya kau harus semangat." Kata Eunhyuk mengingatkan Ryeowook yang terlihat cemas. "Dia terpuruk, masa kau juga ikut murung. Itu tidak akan membantu, tahu?" lanjutnya.
Ryeowook tersenyum kecil kemudian lari mendekati Eunhyuk dan memeluk lengannya. "Terimakasih sudah mengingatkannya, nona Eunhyuk. Kau yang terbaik!" Ryeowook mengacungkan jempolnya tepat di depan wajah wanita berambut pirang tersebut.
"Aku memang yang terbaik." Timpal Eunhyuk di lanjut dengan kekehannya. "Lalu, apa rencana yang akan kita lakukan?"
"Aku masih ragu untuk menemuinya di tempat Shindong Ahjussi atau rumahnya. Menurutmu lebih baik kita menemuinya dimana?"
"Rumah!" jawab Eunhyuk to the point. "Kita tidak bisa membuat keributan untuk kedua kalinya di cafe itu. Seharusnya kau masih ingat itu Wook." Eunhyuk bergidik membayangkan betapa memalukannya mereka jika membuat keributan dua kali di tempat yang sama dalam waktu yang berdekatan.
"Kau benar. Lebih baik menunggunya di rumah Sungmin Eonni."
"Menunggu?"
"Dia masih bekerja sampai sore."
"Kau bercanda Wook? Menunggu di depan rumahnya? Itu membosankan." Keluh Eunhyuk. "Lebih baik kita belanja sesuatu untuk Sungmin atau mempersiapkan sesuatu untuknya. Semacam surprise?"
"Surprise?" tanya Wook bingung.
"Datang dengan tangan kosong, lalu kita meminta maaf? Ayolah, aku saja tidak akan luluh dan memaafkan dengan mudah jika seperti itu. Setidaknya kita harus menyiapkan sesuatu yang membuatnya senang, atau malah nyaman bersama kita."
"Benar juga. Kau memang yang terbaik! Aku mengakui itu." Sahut Ryeowook antusias.
"Kau baru mengakuinya? Kau pasti menyesal baru mengetahui aku yang terbaik." Kekeh Eunhyuk. Mereka berjalan menuju mobil Eunhyuk yang terparkir di depan halaman kampus.
"Apa aku mengajak Yesung Oppa untuk bergabung dengan kita?" Ryeowook mengeluarkan ponselnya dari dalam tas setelah berada dalam mobil.
Alis mata Eunhyuk berkerut. "Jangan. Lebih baik girl's time, Wook. Lelaki tidak bisa menyelesaikan urusan hati perempuan. Hanya perempuan lagi yang bisa menyelesaikannya." Kata Eunhyuk. Tangannya dengan lihai memutar kemudi agar terbebas dari deretan mobil lainnya. "Terkadang lelaki hanya bisa menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Sungguh merepotkan." Lanjut Eunhyuk setelah terbebas dari tempat parkir dan melaju di jalanan Seoul.
"Kau sedang membicarakan Donghae?" tebak Ryeowook.
Eunhyuk tertawa, "Siapa lagi? Dia begitu ceroboh hingga tidak bisa menjaga setan kecil itu di New York. Untuk apa Hangeng Ahjussi meminta tolong dia untuk menjaga Kyuhyun, jika ternyata terjadi hal seperti ini? Ck, mau bagaimana lagi?"
Ryeowook membenarkan. Bukan hanya kesalahan Kyuhyun seorang mengapa peristiwa ini bisa terjadi. Kyuhyun memang butuh pengawasan, dan mereka sebagai keluarga Kyuhyun lalai dalam hal ini. "Tapi, aku cukup lega."
"Lega? Apa yang membuatmu lega?"
"Ternyata Kyuhyun setidaknya mencintai Sungmin Eonni. Kupikir ia sungguh mempermainkan Sungmin seperti yang diceritakan Donghae. Dan kemarin aku melihat langsung penyesalan yang memenuhi dirinya. Aku cukup lega melihatnya mau bertanggung jawab atas kesalahannya."
Eunhyuk mengangguk setuju dengan apa yang diutarakan Ryeowook. Seorang Kyuhyun yang dikenalnya saat berumur tujuh tahun memang condong pada sifat memberontak. Salah satu upaya protesnya pada kedua orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun, apa yang dilakukan Kyuhyun tidak dapat mengubah apapun. Hangeng dan Heechul tidak bisa meninggalkan perusahaan yang didirikan dari nol dan jerih payah.
Sifatnya yang pemberontak dan arogan itu mendarah daging pada dirinya. Melekat begitu erat karena telah terbiasa dengan sifat itu bertahun-tahun. Kyuhyun menjadi pribadi yang buruk dan selalu mempermainkan orang. Jika diingat kembali, ketika kecil mereka sering bermain bersama. Pada saat itu Kyuhyun hanyalah seorang anak kecil yang pendiam dan cenderung menjadi anak bawang ketika bermain.
"Aku jadi teringat sifat Kyuhyun saat berumur lima tahun." Ungkap Eunhyuk. "Dia amat sangat berbeda dari sekarang."
Ryeowook menerawang mengingat kenangannya di umur itu kemudian tertawa kecil karena berhasil mengingatnya. "Dia anak baik-baik waktu itu."
"Benar, kan? Aku tak menyangka dia berubah dengan cepat saat umurnya menginjak tujuh tahun. "
Eunhyuk memutar kemudinya ke sebuah pusat perbelanjaan. Wanita tersebut dengan cepat melajukan mobilnya pada jasa vallet. Ia turun dari mobilnya begitu pula dengan Ryeowook. Eunhyuk memberikan kunci mobilnya pada petugas vallet dan bergegas masuk kedalam pusat perbelanjaan.
"Kupikir kita harus membelikan beberapa perawatan wajah dan makeup." Usul Ryeowook mengingat ia tidak banyak menemukan perawatan wajah di flat Sungmin.
"Kau yakin ia tidak memiliki make up satu pun?"
"Yah,kupikir begitu. Aku tidak menemukan satupun di rumahnya. Wae?" Mereka melangkah menuju salah satu counter kosmetik terkenal saat ini.
Eunhyuk berpikir sembari menggeleng pelan, "Sulit dipercaya jika ia tidak mempunyai makeup satupun atau perawatan wajah." Ucap Eunhyuk pelan. "Kau lihat wajahnya kemarin?! Kulitnya tampak mulus! Walaupun terlihat sedikit pucat, tapi demi Tuhan ia memiliki kulit putih dan mulus! Dan itu alami!"
Ryeowook melihat Eunhyuk geli. "Aku juga berpikir seperti itu saat pertama kali menginap di tempat tinggalnya."
"Daebak! Jika semua wanita korea mengetahui ini, mereka akan iri setengah mati padanya."
"Tolong pilihkan satu set perawatan wajah organik." Ujar Ryeowook pada salah satu karyawan counter tersebut. "Mungkin para selebriti pun akan iri dengan Sungmin Eonni." Lanjut Ryeowook setelah karyawan counter tersebut mencari permintaannya.
"Silahkan, Nona. Ini produk organik terbaik yang kami miliki." Karyawan tersebut menyodorkan produk terbaik milik mereka. "Produk ini limited edition dan nyonya beruntung karena produk ini tersisa hanya satu." Lanjut karyawan tadi.
"Sungmin Eonni sangat beruntung." Ryeowook tersenyum senang sembari menyenggol lengan Eunhyuk beberapa kali.
"Semoga ini pertanda untuk hidupnya lebih baik di masa yang akan datang. " timpal Eunhyuk sembari tersenyum. Kedua wanita tersebut berjalan keluar counter kosmetik tersebut setelah melakukan pembayaran. Sesekali mereka tertawa lebar membayangkan ekspresi apa yang akan ditunjukan Sungmin mengetahui mereka membawakan hadiah untuknya. Namun, langkah dan tawa Eunhyuk tiba-tiba terhenti. Ia membalikkan tubuhnya dan memandang seseorang yang terasa familiar baginya, berjalan membelakangi.
"Hyukkie? Ada apa?"
"Tidak apa-apa. Kupikir aku tadi melihat kenalanku." Eunhyuk melanjutkan langkahnya kembali diikuti Ryeowook disampingnya. Otaknya berpikir keras menggeledah memori dalam kepalanya. Entah mengapa, Eunhyuk merasa terganggu setelah melihat seseorang yang dilihatnya sekilas tersebut.
.
.
.
Kata Open berubah menjadi close telah tersemat pada pintu kaca De'Floral. Sungmin menata kursi dan meja menjadi rapih seperti semula dengan cepat. Kemudian ia bergegas menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Ia memandang kaca sepanjang tubuhnya yang menampilkan sosoknya.
Tangannya bergerak menyentuh segaris hitam kecoklatan yang membekas pada perutnya. Ia menyentuh bekas luka yang sepertinya tidak akan hilang dengan sempurna sama seperti kenangannya yang tidak kunjung hilang. Ia tersenyum lemah. Lalu mengenakan pakaiannya kembali.
Tok tok tok
"Noona? Apa aku boleh masuk?" suara MinHo terdengar dari luar ruangan.
"Ya." Jawab Sungmin singkat, ia merapikan lokernya dan menutup loker miliknya.
"Kau sudah mau pulang, Noona?"
"Seperti yang kau lihat."
"Noona, aku ingin meminta saran darimu, boleh?" Ucap MinHo pelan dan terdengar ragu-ragu.
"Saran?" Alis Sungmin mengkerut bingung. "tentang apa?"
"Ini tentang Taemin, Noona. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Kumohon, Noona."
Sungmin memandang MinHo yang terlihat putus asa. Akhirnya dengan menghela napas Sungmin mengangguk. "Ada apa?"
"Sejak beberapa hari yang lalu aku bertengkar dengan Taemin. Kemudian ia memutuskan hubungan kami karena kesalahanku. Memang aku salah karena sulit membagi waktu antara Taemin, kuliah, dan bekerja. Tapi ketiganya menjadi prioritas utamaku jadi aku tidak bisa menghabiskan waktuku untuk Taemin saja." Suara MinHo terdengar putus asa di telinga Sungmin.
"Makanya kau selalu mencuri waktu bekerja untuk bertemu dengan pacarmu itu?" komentar Sungmin.
Minho mengangguk, "Tapi, menurut Taemin aku tidak menyayanginya dan lebih menyayangi pekerjaanku, Noona. Ia merasa aku sering mengabaikannya."
"Lalu? Apa saran yang kau minta dariku?"
"Kami putus setelah bertengkar karena masalah itu. Kemudian, aku melihat ia sekarang akrab dengan salah satu temanku di kampus. Aku melihat Taemin tertawa lebar bersama dengan lelaki tersebut. Aku senang jika Taemin senang, tapi aku merasa terganggu karena laki-laki tersebut terkenal dengan sikapnya yang brengsek." MinHo mengepal tangannya kesal. "Lalu kemarin aku mendengar laki-laki tersebut mengadakan pesta untuk teman-temannya dan mengajak Taemin datang ke pesta tersebut." Lanjut MinHo.
"Lalu?"
"Aku juga mendengar gosip kalau lelaki tersebut hanya mempermainkan Taemin dan akan menyakiti Taemin di pesta tersebut."
Sungmin menatap MinHo dengan tajam, "Kau harus melarang Taemin untuk datang ke pesta itu!" pekik Sungmin. MinHo tersentak kaget melihat respon Sungmin yang diluar dugaannya.
"Tapi, Taemin tidak mau mendengarkan perkataanku yang melarangnya. Dia bahkan masih marah denganku. Aku tidak tahu harus berbuat apa, Noona. Aku takut terjadi sesuatu dengan Taemin."
"Kau harus menolongnya! Itu satu-satunya saran yang kuberikan! Kau akan menyesal jika tidak berbuat sesuatu pada Taemin! Kau mencintainya,bukan?" Sungmin menarik MinHo keluar dari ruang ganti. MinHo merasakan tangan Sungmin yang bergetar.
"Sekarang kau datang kerumah Taemin dan minta maaflah padanya, jangan biarkan dia datang ke pesta itu."
"Aku juga ingin menolongnya, tapi aku yakin Taemin sudah berada di pesta tersebut. Pestanya hari ini dan aku tidak memiliki akses ke apartemen yang di sewa laki-laki tersebut, Noona. Aku hanya bisa berharap Taemin akan baik-baik saja."
"Kau tidak bisa melakukan itu! Kau satu-satunya yang bisa menolong Taemin! Mungkin Taemin juga sedang menunggu pertolonganmu!" Sungmin menarik MinHo keluar dari De'floral. Ia tidak bisa membiarkan hal yang sama pada dirinya terjadi pada diri Taemin. Kejadiannya serupa dengan masa lalunya. Ia tahu bagaimana rasanya menunggu seseorang yang ia cintai untuk menolongnya.
"Ming!" Suara Kyuhyun memanggilnya dari arah samping jalan. Sungmin menoleh pada Kyuhyun yang sedang berjalan kearahnya.
"Aku datang untuk menjemputmu." Kata Kyuhyun setelah berhadapan dengan Sungmin. Kyuhyun memandang MinHo yang berada di belakang Sungmin dengan tangan yang saling bertautan. Alisnya berkerut melihat pemandangan tersebut.
Bukan hanya lelaki berkaki panjang saja yang mencoba mendekati Sungmin ternyata, pikir Kyuhyun kesal dan waspada pada sosok laki-laki di depannya yang terlihat putus asa.
"Kau siapa?" tanya Kyuhyun dengan sinis pada MinHo.
"Kau membawa mobil?" belum sempat MinHo menjawab Sungmin melemparkan sebuah pertanyaan langsung. Kyuhyun bingung melihat Sungmin yang panik. Ia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Sungmin.
"Antarkan kami." Kata Sungmin setengah berteriak.
Alis Kyuhyun terangkat, "Antarkan? Kemana?"
"MinHo katakan pesta itu dimana. Kita harus cepat!" pekik Sungmin lagi, tangannya tergenggam keras pertanda gelisah.
"Cho Tower."
"Cho Tower? Ada apa dengan Cho Tower? Apa yang terjadi?"
"Tolong, antarkan saja dulu kami." Balas Sungmin tanpa menjelaskan apapun. Kyuhyun mengangguk dan berjalan menunjukkan mobilnya.
"Noona!" Panggil MinHo. "Tapi, aku tidak mempunyai akses apapun untuk masuk ke dalam kamar yang dia sewa! Ini percuma saja!" lanjut MinHo benar-benar putus asa. Sungmin memandang MinHo tajam dan berjalan menghampiri MinHo.
PLAK
Tamparan keras tepat mengenai pipinya. "KAU TIDAK BOLEH BERSIKAP SEPERTI INI!" teriak Sungmin dengan mata yang nyaris mengeluarkan air mata. "Jika kau mencintainya, kau seharusnya memastikan orang yang kau cintai itu tidak terluka sedikitpun! Fisiknya.. mentalnya.. ataupun hatinya!" punggung Sungmin bergetar menahan amarahnya.
"Noona—"
"Siapa lagi yang akan menolong Taemin jika kau tidak ada di sana! Aku yakin Taemin masih mencintaimu dan menunggu kau menolongnya. setidaknya kau harus berusaha dulu." Lanjut Sungmin dengan air mata yang akhirnya keluar dari matanya.
Kyuhyun menatap Sungmin dan MinHo dengan seksama. Dia bisa memahami sedikit dengan apa yang terjadi pada situasi sekarang. Ia melihat Sungmin yang berusaha menahan tangisnya meledak. Kyuhyun ingin merangkul pundaknya yang bergetar dan mengucapkan kalimat penenang, tapi ia urungkan niatnya. Sungmin masih menolaknya dan membencinya.
"Lebih baik kita berangkat sekarang. Kau bisa menggunakanku sebagai akses masuk." Kata Kyuhyun pada akhirnya.
Mereka bertiga memasuki mobil Kyuhyun dalam diam. Sungmin menggigiti kukunya cemas sesekali memejamkan matanya. Sedangkan Minho yang berada di samping Kyuhyun bergerak dengan gelisah. Terlihat pipinya yang masih memerah bekas tamparan Sungmin.
Sepertinya tamparan Sungmin cukup keras, pikir Kyuhyun. Sekali lagi Kyuhyun melihat Sungmin yang duduk di belakang mobil. Dari perkataanya tadi, Kyuhyun menangkap itu adalah suara hati Sungmin sendiri. Suara hati Sungmin yang ditujukan untuknya sekarang, ataupun di masa lalu.
Mobil Kyuhyun sampai di lobby Cho Tower. Kyuhyun menyerahkan mobilnya pada jasa vallet yang berada di lobby.
"Tuan Cho, selamat datang. Anda butuh bantuan?" seorang resepsionis menyapa Kyuhyundengan ramah.
"Aku butuh kunci kamar yang di sewa hari ini atas nama—"
"Jonghyun." Sambar MinHo cepat .
"Tunggu sebentar." Resepsionis tersebut mengecek sesuatu pada komputer di hadapannya. "Tapi, status penyewa tersebut private dan tidak bisa masuk tanpa seizinpenyewa." Lanjut resepsionis tersebut. MinHo menghela napas kasar.
Sungmin menggebrak meja resepsionis tersebut,"Izinkan kami masuk! Di dalam sana mungkin ada seorang yeoja yang membutuhkan pertolongan!" pekik Sungmin nyaris berteriak.
"Tapi, nona—"
"Berikan kami kunci tersebut atau aku akan memecatmu dari sini." Potong Kyuhyun dingin pada resepsionis wanita di hadapannya. Resepsionis itu tersentak dan dengan cepat memberikan kunci kamar tersebut kepada Kyuhyun.
Kyuhyun berjalan di depan yang lainnya menunjukkan jalan menuju kamar tersebut. Pintu silver tertutup yang memiliki nomor 7063 itu berdiri kokoh di depan mereka, sayup-sayup terdengar suara gaduh dentuman musik dari dalam. Kyuhyun menempelkan key card pada gagang pintu dan pintu terbuka.
"Apa yang akan kalian lakukan?! Jangan lakukan ini kumohon!" suara teriakan Taemin dan kencangnya suara musik terdengar menembus indera pendengaran ketiga manusia di depan pintu.
"Sial!" teriak MinHo marah sembari masuk ke dalam kamar apartemen tersebut di susul oleh Kyuhyun yang ikut berlari. Di belakang Sungmin diam mematung, dadanya bergejolak marah, takut, dan kecewa.
Apakah aku terlambat? Ucapnya dalam hati. Apakah Taemin akan menjadi sepertiku? Seharusnya aku datang lebih cepat.
Perlahan Sungmin berjalan masuk dan mengikuti sumber suara yang semakin gaduh dengan teriakan marah MinHo. Sungmin memandang ngeri pemandangan di depannya. Berantakan. MinHo sibuk dengan pukulannya dan umpatannya pada sesosok laki-laki bertelanjang dada. Kyuhyun membantu MinHo dengan berkelahi dengan ketiga laki-laki lainnya.
Taemin! Wanita itu dimana sekarang? Pikir Sungmin ketika sadar ia tak melihat Taemin. Mata Sungmin menyusuri ruangan yang terlihat berantakan karena botol minuman beralkohol yang berserakan.
"Taemin?" Sungmin menangkap sesosok wanita yang meringkuk dibelakang kursi dengan baju yang terkoyak. Sungmin mendekati wanita itu perlahan dan memeluknya. Taemin menangis ketakutan dalam pelukan Sungmin. Tangan Sungmin yang bergetar mengelus punggung Taemin dengan lembut.
"Sudah. Tidak apa-apa. Sekarang semua akan baik-baik saja." Bisik Sungmin di telinga Taemin yang masih menangis.
Sungmin tersentak kaget ketika sebuah tangan melingkar di lehernya dan memaksanya untuk berdiri. Kilasan-kilasan masa lalunya kembali terdorong keluar seakan nyata berada di depannya. Sungmin mendadak lemas dan sesak.
"L-lepaskan aku." Teriak Sungmin lemah. Kyuhyun yang menyadari suara Sungmin menoleh ke belakang. Ia menggeram marah dan melangkah maju.
"Berhenti!" Pria yang menawan Sungmin berteriak kencang. "MinHo! Kau juga berhenti memukuli Jonghyun! Jangan ada yang bergerak! Aku tidak akan segan-segan melukai gadis ini!"
"Lepaskan... jangan sentuh aku." Ucap Sungmin di sela ketakutannya.
Kyuhyun menggeram marah, "Lepaskan dia sekarang juga!" Ucap Kyuhyun penuh dengan penekanan pada setiap katanya.
"Brengsek! Kalian sudah memukuli kami! Apa yang salah dengan kami? Wanita jalang itu!" laki-laki tersebut menunjuk Taemin yang sedang meringkuk di lantai. "Mendatangi kami dengan sukarela! Apa salahnya kami bersenang-senang sedikit dengannya!"
"Brengsek! Jangan menghina Taemin seperti itu!" Balas MinHo marah. "Kalian duluan yang mendekati Taemin! Sekarang lepaskan Sungmin Noona atau aku akan menghajarmu!"
"Hajar aku jika berani! Lihat! Aku akan menyentuh gadis ini! Kau lihat?!" tangan pria itu bergerak menyelinap di balik kemeja Sungmin. Mata Sungmin membulat. Ingatan bagaimana tangan Jungmo dan teman-temannya saat menyentuh tubuhnya terlintas begitu nyata. Pikiran Sungmin kacau. Ia bergetar hebat. Air matanya turun dengan cepat, dan nafasnya menjadi cepat.
"Jangan sentuh aku!" teriak Sungmin. "Lepaskan!" Sungmin semakin histeris saat tangan itu tak kunjung menjauh dari tubuhnya. Kaki Sungmin menendang-nendang tak tentu arah. Tangannya berusaha melepaskan diri dari kungkungan lelaki di belakangnya dengan brutal.
"Jangan sentuh Sungmin, Brengsek!" Kyuhyun menerjang lelaki itu dan membebaskan Sungmin dari kungkungan lelaki bermata sipit itu. Lelaki itu tersungkur jatuh.
Kyuhyun memukuli wajahnya tanpa memberikan lelaki itu kesempatan untuk bergerak, "Aku akan membunuhmu, brengsek! Beraninya kau menyentuh Sungmin! Brengsek!"
"T-tolong, hentikan." Lelaki itu merintih di sela pukulan Kyuhyun. "Aku... hanya bermaksud menggertak saja!"
Kyuhyun terus memukuli lelaki itu tanpa henti. Melihat Kyuhyun yang kalap, membuat MinHo menarik Kyuhyunmenjauh dari lelaki yang sudah tak berdaya tersebut.
"Hyung! Tenanglah! Dia sudah tak mampu bergerak!" MinHo menarik Kyuhyun menjauh kemudian mendekati Taemin dan menyelimutinya. Taemin memeluk erat MinHo dan menangis hebat. MinHo mengelus punggung Taemin dan mengucapkan kata-kata penenang untuk kekasihnya tersebut.
Kyuhyun melihat Taemin dan MinHo dengan senyum kecil dan menghela napas. Ia berbalik untuk melihat keadaan Sungmin. Kyuhyun mendekati Sungmin dengan sedih. Wanitanya meringkuk memeluk lututnya sendiri dan meracau kalimat yang sama berulang kali.
"Lepaskan aku.." racaunya.
"Ming..." panggil Kyuhyun. Tak ada respon yang berarti dari Sungmin. Tidak tahan melihat keadaan Sungmin, akhirnya Kyuhyun menarik Sungmin ke pelukannya. Ia mengusap rambut Sungmin lembut.
"Gwenchana.. Semua akan baik-baik saja. Tenanglah... tidak akan ada yang meyakitimu lagi. Aku berjanji.. aku akan melindungimu, Ming." Ucap Kyuhyun. Terselip getaran dari setiap katanya. Ia menyadari sepenuhnya. Menyadari betapa beratnya hidup Sungmin setelah kejadian itu. Semuanya adalah ulahnya.
Tanpa Kyuhyun duga, Sungmin balas memeluk Kyuhyun dengan erat. "Aku takut... aku sangat takut, Kyu..." ucap Sungmin pelan dalam tangisnya.
"Aku di sini, Ming.. semua baik-baik saja."
.
.
.
"Ini sudah malam. Kapan dia akan pulang?" Eunhyuk melirik jam tangannya. Mereka berdua sudah menunggu di depan flat Sungmin hampir dua jam. Ryeowook menatap keluar jendela dengan gelisah. Ia tidak mendapati tanda-tanda dari keberadaan Sungmin.
"Apakah ia lembur?" tanya Ryeowook.
"Kau menanyakannya padaku? Tentu saja aku tidak tahu , Wook." Eunhyuk menghela napas. "Sebaiknya kita kembali saja lagi besok. Ini sudah terlalu lama kita menunggu dia, Wook." Eunhyuk menatap sedih makanan yang mereka beli tadi untuk dimakan oleh mereka bertiga.
"Makanannya jadi sia-sia." Gumam Eunhyuk pelan.
"Hei, itu mobil Kyuhyun." Ryeowook menunjuk mobil yang baru saja terparkir dengan sempurna di halaman gedung.
"hah? Mobil Kyuhyun?" Eunhyuk melihat arah yang di tunjuk oleh Ryeowook. "Omo! Dia datang bersama Sungmin? Bagaimana bisa?" Eunhyuk membulatkan matanya ketika melihat Sungmin keluar dari mobil Kyuhyun kemudian diikuti dengan Kyuhyun di belakangnya.
"Mereka berbaikan?" tanya Eunhyuk bingung.
"Aku juga tidak tahu." Ryeowook memandang halaman parkir dimana mobil Kyuhyun terparkir di sana. "Kupikir telah terjadi sesuatu tadi." Lanjut Ryeowook.
"Mungkin saja. Aku juga melihat sekilas mata Sungmin yang sembab." Eunhyuk mengangguk-angguk setuju. "Pasti setan kecil itu berbuat ulah lagi." Decak Eunhyuk kesal.
"Tapi, atmosfer yang mereka ciptakan tidak terlihat Kyuhyun berbuat hal buruk." Ryeowook memiringkan kepalanya heran. "Mereka terlihat baik-baik saja."
"Ya, mereka memang terlihat aneh. Suasananya tidak baik, tidak juga buruk."
"Hei, sedang apa kalian berdua di sini?" Suara Kyuhyun mengudara dari ujung lorong lantai flat Sungmin. Eunhyuk dan Ryeowook yang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing tersadar dan melihat Kyuhyun dan Sungmin sudah berada di lantai yang sama dengan mereka.
"Kami berniat mengunjungi Sungmin-ssi." Akhirnya Eunhyuk menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia memandang Sungmin yang terlihat sedikit kacau.
"Dia tidak terlihat baik-baik saja." Bisik Eunhyuk pada Ryeowook.
"Eonni? Apa kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Ryeowook mendekati Sungmin yang terlihat kosong dan lelah.
"Bisakah kalian pulang? Aku ingin sendirian." Akhirnya Sungmin berbicara dengan lemah. Ia meraih kunci dari tasnya dan membuka pintu flatnya. Ryeowook memandang tajam Kyuhyun meminta penjelasan dari Kyuhyun. Kyuhyun hanya membalas dengan helaan napas panjang.
"Apakah Eonni akan baik-baik saja?" Ryeowook memandang Sungmin dengan khawatir. Sungmin tak menjawab dan berjalan masuk ke dalam flatnya. Ryeowook yang melihat Sungmin menghela napas kemudian.
"Baiklah kami akan pulang kalau—"
"Aku tidak mau pulang. Kita akan menginap di sini." Potong Eunhyuk sembari menahan pintu flat Sungmin yang hendak tertutup. "Lagipula kalian pasti lapar, bukan?" Eunhyuk mengangkat bungkus ayam goreng yang sudah di beli dirinya dan Ryeowook. Dia menatap Kyuhyun meminta bantuan untuk mendukung pernyataannya.
"Sejujurnya, aku memang sangat lapar." Ucap Kyuhyun setelah mengerti arti tatapan Eunhyuk.
"Nah, Sungmin-ssi izinkan kami untuk menginap satu malam di sini." Eunhyuk melangkah masuk, mengabaikan tatapan protes dari Sungmin. "Lagipula, selama ini kau selalu sendirian. Aku yakin kau sudah puas dan muak dengan kesendirian. Sekarang saatnya kami menemanimu,oke?" lanjut Eunhyuk sembari mengedipkan matanya pada Sungmin dan mengisyaratkan Ryeowook dan Kyuhyun untuk masuk.
Ryeowook tersenyum kecil melihat tingkah Eunhyuk yang terlihat tidak sopan. Namun, apa yang dikatakan Eunhyuk benar. Sungmin membutuhkan teman yang menemaninya saat ini, Ryeowook yakin itu. Walaupun Sungmin menyangkal itu, Eunhyuk, Ryeowook, dan Kyuhyun yakin bahwa dalam hati kecil Sungmin berteriak menderita karena kesepian.
.
.
.
Continue..
Hai, kali ini aku ingin mencoba untuk membalas review kalian, biar bisa lebih dekat dengan kalian hehe
Lee Hye byung: Siapa nih yang brengseknya? Wkwkw abisnya di dalam cerita yangbrengsek banyak bngt.
PumpkinEvil137: karakter mereka emang aku buat jahat bgt di sini haha *evilsmile. Kyuhyun sekarang udah waspada tingkat dewa buat jagain Ming ko sekarang hoho.
Ini sudah update ya.. makasih udah nyemangatin dan doain aku! luv
Lee Kyurah: Kyuhyun mah udah nganggep Sungmin wanitanya hoho jadi pasti dia bakal berusaha buat Sungmin beneran jadi wanitanya wkwkw
Michiko Haruna: nelpon siapa ya? Nanti bakal terjawab kok hehe.
Makasih udah nyemangatin aku ya! Luv
Cho MeiHwa : wah kenapa ga bisa login ya? Aku udah jarang buka dari opera mini klo buka ffn :( bener banget! Klo udah sayang tapi benci jadi serba salah. Tapi klo udah gitu tnggal hati yang jawab apa Kyuhyun pantas menerima maaf dari Sungmin. Hoho.
Kejadian sebenarnya dari masa lalu mereka akan terungkap nanti.. silahkan menebak-nebak dulu hehe ~
Cho Vincelin: bener bngt. Kasian mereka selalu menjadi karakter yang jahat di FF *sungkemsamavicjungmoyangasli. Wah, semoga FF ini menghibur kamu ya~
Terimakasih udah doain aku dan tetap membaca FF kyumin! Luv
Vha137: emang banyak yang niat jahat ke Kyu sama Ming, kayaknya pada iri ngeliat Kyumin bahagia wkwkw. Kyu bakal jagain Ming kok, dia udah taubat hoho
Danactebh: ini udah di update lanjutannya. Sama! Aku juga pengen cakar muka Victoria pas nulis ini hahaha.
Aduh aku masih bisa dibilang pemula bgt untuk menggambar, karena sebenernya aku kuliah desain interior pamerannya sih isinya tugas2 aku selama satu tahun kemarin hehe
Makasih udah nyemangatin aku ya! Luv
Orange girls: iya bisa dibilang begitu, malah sudah sejak lama sebelum kejadian Sungmin Kyu sering konsultasi dengan bum. Sahabat belum tentu sahabat sesungguhnya.. Kyu bakal ngejagain Ming kok sekarang hehe.
Makasih ya udah nyemangatin aku! Luv semoga ff ini bakal menghibur kamu~
Nanayukeroo: hihihi mungkin klo aku di posisi Sungmin bakal memilih changmin. Tapi apadaya Ming masih mencintai Kyu walaupun belum bisa menerima Kyu hoho.
Makasih untuk semua yang sudah baca FF ini~ semoga kalian terhibur dan terus menantikan FF ini! 3
Kyuhyun belongs to Sungmin. Sungmin belongs to Kyuhyun
Regards,
HarinJoy
