Summer in Seoul ©Ilana Tan
Saduran dari karya Ilana Tan yang saya gubah nama tokoh menjadi pairing kesukaan saya.
..
..
MinYoon
Park Jimin x Min Yoongi BTS
.
Kim Seokjin BTS
Kim Taehyung BTS
Zhoumi SJM
Park Chanyeol EXO
Byun Baekhyun EXO
Ps, GS untuk Min Yoongi, Kim Seokjin dan Byun Baekhyun.
..
..
.
Tujuh
.
Sudah hampir dua minggu berlalu sejak Suga terakhir kali bertemu dan berbicara dengan Park Jimin di rumah pria itu. Entah kenapa Suga merasa serba salah. Ia ingin menghubungi Park Jimin, tapi tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Ia ingin bertanya pada Paman Zhoumi, tapi tidak tahu apa yang akan ditanyakannya.
Suga berjalan tanpa tujuan di sekitar kampus. Ia berjalan dari gedung ke gedung, dari kelasnya ke perpustakaan, dari perpustakaan ke aula. Akhirnya ia berhenti di halaman kampus, duduk di bangku panjang di bawah pohon. Ia mengeluarkan ponsel dan menatap benda itu sambil menarik napas.
Kenapa dia tidak menelepon? Tapi memangnya kenapa dia harus menelepon? Suga menggeleng-geleng dan menarik napas lagi. Kenapa dia tidak menelepon?
Suga tersentak karena mendengar suara Kim Seokjin yang ternyata sudah berdiri di belakangnya. "Apa?" tanyanya pada Seokjin.
Seokjin duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat ceria seperti biasa. "Tadi kau bertanya kenapa dia tidak menelepon. Siapa yang yang kau maksud?"
Ternyata tanpa sadar ia telah menyuarakan pikirannya. Ini berarti bahaya. Ia kenapa sih?
"Ah, tidak. Bukan siapa-siapa," sahut Suga sambil memaksakan tawa.
"Aku harap bukan Park Chanyeol," kata Seokjin sinis.
Suga langsung mengibaskan tangan. "Bukan! Bukan dia."
"Baguslah kalau bukan," kata Seokjin. Ia mengangkat tangan dan menarik napas dalam-dalam. "Haaah… cuaca hari ini indah sekali!"
Suga memandang langit, lalu melirik temannya dengan hati-hati.
"Seokjin," panggilnya.
Seokjin menoleh. "Hm?"
"Album baru Park Jimin sudah diluncurkan, kan?"
Seokjin mengangguk. "Benar, beberapa hari yang lalu. Memangnya kenapa? Bukankah kau sudah punya? Kita kan sudah mendapatkannya sewaktu acara jumpa penggemar itu."
Suga menggeleng. "Ah, tidak ada apa-apa." Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Berarti Park Jimin akhir-akhir ini pasti sibuk sekali, ya?"
Temannya mengangguk sekali lagi dan berkata, "Tentu saja. Kudengar beberapa waktu yang lalu dia sibuk syuting video klip. Belum lagi kenyataan dia harus tampil dalam banyak acara untuk mempromosikan albumnya." Seokjin bertepuk tangan gembira. "Kita akan sering melihatnya di televisi."
"Begitu?"
Ternyata memang sedang sangat sibuk…
"Majalah-majalah juga banyak memuat artikel tentang dia," Seokjin menambahkan penuh semangat. "Mereka membahas albumnya, lagu-lagunya, dan mereka juga mulai mengungkit-ungkit soal kekasihnya."
Suga menatap temannya. "Apa yang mereka katakan?"
Seokjin mengerutkan dahi. "Banyak, mereka bertanya-tanya oal keberadaan wanita itu, identitasnya. Aku sendiri juga penasaran. Intinya, mereka tiba-tiba meragukan apakah wanita itu benar-benar kekasih Park Jimin."
"Kenapa mereka meragukannya?"
"Karena wanita itu tidak terlihat di media lagi sejak fotonya muncul. Bahkan sekadar kabarnya tidak terdengar," Seokjin menjelaskan. "Mereka mulai berpikir mungkin hubungan Park Jimin dan wanita itu sudah berakhir. Terus terang saja, aku juga berharap itu benar. Oh ya, mereka juga mengungkit kejadian empat tahun lalu."
"Masalah yang…?"
"Benar. Yang kuceritakan waktu itu. Soal empat tahun lalu ketika ada penggemar Park Jimin yang meninggal pada saat acara jumpa penggemarnya. Kau ingat? Untung saja acara tahun ini lancar-lancar saja dan tidak ada kejadian buruk."
Suga menengadah memandang langit biru dan sibuk dengan pikirannya sendiri sementara temannya terus bercerita. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Suga buru-buru menjawab dan raut wajahnya berubah. "Oh, Chanyeol ssi."
..
..
..
Zhoumi duduk merenung di kantornya. Di meja terdapat beberapa majalah yang terbuka pada halaman yang memuat artikel Park Jimin. Ia sudah menduga akan ada kejadian seperti ini. Begitu album baru Jimin keluar, orang-orang akan sibuk membicarakan artis asuhannya itu. Bukan hanya lagu-lagunya, tapi segala gosip yang berhubungan dengan Park Jimin, termasuk gosip tentang pacar misteriusnya. Mereka bahkan kembali menyinggung-nyinggung
kecelakaan empat tahun lalu, tapi untungnya hanya sekilas, jadi seharusnya tidak apa-apa.
Zhoumi mengusap-usap dagu dan berpikir mungkin sudah tiba saatnya mereka membutuhkan bantuan Suga lagi. Kali ini, mau tidak mau gadis itu harus bersedia menampakkan diri. Ia mengangkat gagang telepon yang ada di meja dan menekan beberapa tombol.
"Halo, Suga. Apa kabar? Ini Zhoumi… Kau punya waktu sekarang? … Bagus. Bisa datang ke kantorku? … Baik, sampai jumpa."
..
..
..
"Seperti yang sudah kukatakan, sepertinya kami tidak cocok."
Suga memandang laki-laki tinggi besar yang duduk di hadapannya itu dengan perasaan lelah. Park Chanyeol tampak menyedihkan. Ia baru mengakui kepada Suga bahwa ia dan kekasihnya sedang bermasalah.
"Kami tidak cocok," Park Chanyeol mengulangi kata-katanya dan menatap Suga, menunggu reaksinya.
Suga tertawa pahit. "Dan kau baru tahu setelah hampir setahun bersamanya?"
"Kau masih marah?" tanya Park Chanyeol dengan nada bersalah.
Suga menarik napas. "Tidak juga," katanya. "Marah juga tidak ada gunanya."
"Tidak, kau berhak marah padaku," Park Chanyeol bergumam pelan. "Aku memang salah. Sekarang aku sadar."
Suga mengerutkan keningnya. "Lalu?"
"Sepertinya hubungan kami tidak bisa diteruskan lagi," kata Park Chanyeol tegas.
Alis Suga terangkat. Sesaat ia bingung, lalu ia mendengar ponselnya berbunyi. Merasa lega karena tidak harus menanggapi apa yang baru saja dikatakan Park Chanyeol, Suga cepat-cepat membuka layar ponselnya.
"Halo?"
Ia kaget ketika mendengar suara Zhoumi di seberang sana.
"Oh, apa kabar, Paman? … Sekarang? Ya, aku sedang tidak sibuk… Aku akan ke sana sekarang… Sampai jumpa."
Suga menutup ponsel dan memandang Park Chanyeol yang menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Kau mau pergi sekarang?" tanyanya ketika melihat Suga buru-buru menghabiskan minumannya.
"Maaf, Chanyeol ssi. Ada urusan mendadak. Aku harus pergi. Lain kali saja baru dilanjutkan," kata Suga cepat-cepat, lalu bangkit dan keluar dari kafe itu.
..
..
..
"Kita akan pergi menemui Jimin," kata Zhoumi kepada gadis yang duduk di hadapannya.
Suga mengangguk. "Kami harus difoto lagi?"
"Benar," Zhoumi mengiyakan. "Karena itu kita harus mengubah penampilanmu. Kau tidak ingin sampai dikenali, kan?" Lalu Zhoumi bangkit dari kursi dan meraih jas.
"Jadi kapan kita mulai bekerja?" tanya Suga.
Zhoumi memandang Suga dan berkata, "Sekarang juga."
Suga agak terkejut. "Oh, sekarang?" Ia belum merasa siap.
"Ya, ada masalah?" tanya pria itu sambil mengenakan jas dan memperbaiki posisi dasi.
Suga menggeleng. "Tidak." Sepertinya mau tak mau ia harus mempersiapkan dirinya saat ini juga.
"Ayo, kita pergi," kata Zhoumi, mulai berjalan ke pintu. "Saat ini Jimin sedang diwawancara. Kita akan pergi ke lokasi wawancaranya, tapi sebelum itu kita harus memberimu penampilan baru."
Zhoumi merasa tidak enak karena harus menyembunyikan sesuatu dari Suga, tapi ia tidak punya pilihan. Kalau Suga tahu, kemungkinan besar ia tidak akan bersedia diajak menemui Jimin dan saat ini Zhoumi tidak punya cukup waktu untuk meyakinkannya.
Ia membawa Suga ke toko pakaian yang juga merangkap salon dan menyuruh gadis itu mencoba beberapa pakaian. Ia tidak ingin Suga terlihat cantik atau bergaya. Ia ingin Suga tampil sesederhana mungkin supaya tidak menonjol dan tidak ada orang yang dapat mengenalinya. Ia juga menyuruh Suga mencoba beberapa rambut palsu, tapi tidak ada yang cocok di matanya. Akhirnya Zhoumi meminta pegawai toko itu menyanggul rambut Suga. Dengan rambut yang disanggul, kemeja krem polos tanpa lengan dan rok polos berwarna abu-abu, Suga terlihat seperti wanita yang lebih tua daripada usianya yang sebenarnya. Persis seperti yang dibayangkan Zhoumi. Sebagai sentuhan terakhir, ia mengulurkan kacamata berlensa kecokelatan yang bisa menyamarkan wajah Suga.
"Baiklah," Zhoumi berkata puas. "Kita berangkat sekarang. Seharusnya wawancara Tae-Woo akan selesai sebentar lagi."
..
..
..
Park Jimin bangkit dari sofa yang didudukinya sejak tadi dan bersalaman dengan para kamerawan dan reporter yang mewawancarainya. Ia sedikit lelah, tapi ia tahu ini sudah menjadi risiko pekerjaannya. Para wartawan tadi juga sempat bertanya tentang hubungannya dengan kekasih misteriusnya, namun Jimin hanya memberikan jawaban samar. Ada juga yang mengungkit kejadian empat tahun lalu. Jimin berhasil menanggapinya dengan tenang, walau ia harus mengakui dalam hati perasaannya masih agak resah bila diingatkan kembali tentang kejadian itu.
Jimin dan beberapa anggota stafnya keluar dari lift dan berjalan ke pintu utama gedung tempat diadakannya wawancara tadi. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika pandangannya menembus pintu kaca yang lebar dan melihat seorang wanita turun dari mobil sedan putih. Jimin tertegun sejenak, lalu ia mempercepat langkahnya, mendorong pintu kaca sampai terbuka dan menghampiri wanita itu.
"Sedang apa kau di sini?" tanyanya tanpa basa-basi.
Wanita itu berbalik dan agak terkejut melihatnya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Jimin sekali lagi. Ia tidak menyangka bisa bertemu Suga di sini. Ia menatap Suga tajam dan melihat pipi gadis itu agak memerah.
"Itu… Paman yang menyuruhku ke sini," Suga mencoba menjelaskan dengan agak bingung. "Kau tidak tahu? Katanya kita akan difoto."
Jimin menoleh ke belakang dan melihat kerumunan wartawan mulai menghampiri mereka dengan cepat.
"Tidak," jawabnya. "Ikut aku." Ia merangkul pundak Suga dan berjalan menjauh ketika kilatan-kilatan lampu blitz kamera mulai beraksi dan para wartawan berlomba-lomba mengajukan pertanyaan.
"Park Jimin, siapa wanita ini?"
"Apakah dia wanita misterius di foto waktu itu?"
"Nona! Siapa nama Anda?"
"Apa hubungan kalian berdua?"
"Apakah Anda bisa memberikan sedikit komentar?"
Jimin hanya mengangkat sebelah tangan dan menuntun Suga ke mobilnya yang diparkir tidak jauh dari sana. Ia membuka pintu mobil untuk Suga sambil berusaha menghalangi para wartawan mengambil gambar jelas gadis itu. Ia memerhatikan Suga terus menunduk dan menutupi wajah dengan sebelah tangan. Jimin cepat-cepat menutup pintu dan berjalan mengelilingi mobilnya ke bagian tempat duduk pengemudi. Sebelum masuk ke mobil, ia tersenyum dan melambaikan tangan sekali lagi ke arah para wartawan.
Setelah mereka sudah agak jauh dari tempat itu, Jimin melirik Suga dan bertanya, "Kau baik-baik saja?"
Suga melepaskan kacamata dan mengembuskan napas kesal. "Paman bilang kita akan difoto. Difoto apanya? Ternyata begini… Ah, tapi benar juga. Kita memang difoto. Oleh wartawan."
"Jangan menyalahkan Hyung," kata Jimin. "Setidaknya Hyung sudah mengubah penampilanmu sebelum menjebak kita."
"Menurutmu mereka berhasil memotretku?" tanya Suga ingin tahu.
"Sudah tentu," sahut Jimin sambil tersenyum. "Tapi kau tidak usah cemas. Dengan penampilan seperti itu, tidak akan ada orang yang tahu kau adalah kau."
Gadis itu menunduk memerhatikan penampilannya sendiri. Tiba-tiba ia bertanya, "Tapi tadi kau langsung mengenaliku. Bagaimana bisa?"
Jimin tidak tahu harus menjawab apa. Tadi ketika melihat seorang wanita turun dari mobil Zhoumi, ia langsung tahu wanita itu Suga. Kalau dipikir-pikir, ia sendiri juga tidak mengerti bagaimana ia bisa begitu yakin. Penampilan Suga berbeda sekali dengan biasanya, tapi tadi ia bahkan tidak memerhatikan penampilan gadis itu. Ia hanya tahu wanita yang berdiri di sana Suga.
"Terus terang saja, aku juga tidak tahu," sahut Jimin.
Suga tersenyum, lalu bertanya, "Sekarang bagaimana? Kau mau ke mana?"
Jimin melirik jam tangannya dan berkata, "Sekarang aku harus menghadiri konser amal…"
Ponselnya berbunyi. "Sebentar." Ia memasang earphone untuk menjawab. "Hyung, ada apa? … Aku sedang di jalan… Begitu? Hyung yakin? … Baiklah."
Ia melepaskan earphone dan menoleh ke samping. Suga ternyata juga sedang berbicara di telepon.
"Oh, Seokjin, ada apa?" kata gadis itu dengan ponsel yang ditempelkan ke telinga. "Aku? Aku sedang di jalan… Apa? Bukan, bukan bersama Chanyeol ssi." Jimin menyadari Suga meliriknya sekilas.
"Sebentar lagi aku akan pulang ke rumah… Mm, nanti telepon aku lagi."
"Sepertinya kau belum bisa pulang sekarang," kata Jimin setelah melihat Suga memasukkan ponsel ke tas tangannya.
"Kenapa?"
"Hyung menyuruhmu ikut denganku ke konser amal itu."
"Kenapa?! Tidak mau!"
Jimin melihat gadis itu agak cemas. "Tidak apa-apa," katanya menenangkan. "Kau hanya perlu hadir di sana. Selebihnya serahkan padaku. Hyung juga ada di sana. Tidak akan lama."
Suga menggeleng-geleng. "Tidak, tidak. Sudah kubilang aku hanya akan berfoto denganmu. Tidak lebih."
Jimin menarik napas. "Kau juga tahu tadi kita dikejar-kejar wartawan. Saat ini mereka pasti sedang mengikuti kita. Apalagi mereka juga tahu aku akan pergi ke konser amal itu. Kalau kau kuturunkan di tengah jalan atau di mana pun, mereka pasti akan mengerumunimu. Kau mau begitu?"
Suga tidak menjawab. Jimin meliriknya dan melihat gadis itu menggigit bibir dengan kening berkerut.
"Aku minta maaf atas semua kejadian hari ini," kata Jimin lagi. "Aku berjanji akan mengantarmu pulang secepatnya."
"Apa yang sudah kulakukan?" Suga mengucapkan kata-kata itu dengan pelan, tapi Jimin bisa mendengarnya. Karena tidak tahu harus berkomentar apa, ia diam saja.
Gadis yang duduk di sampingnya juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
..
..
..
Kim Seokjin baru saja selesai membantu ibunya mencuci piring. Jam makan siang sudah lewat sejak tadi dan sekarang rumah makan milik keluarganya ini tidak begitu ramai.
"Ibu, aku naik ya?" Seokjin berseru kepada ibunya yang duduk di meja kasir, lalu berlari menaiki tangga ke lantai atas tanpa menunggu jawaban.
Seokjin segera menyalakan televisi karena sebentar lagi siaran langsung konser musik amal akan ditayangkan. Ia membuka sebungkus keripik kentang dan berbaring telungkup di lantai sambil bertopang dagu.
"Ah, ternyata sudah dimulai," gerutunya ketika gambar muncul di layar televisi. "Wah, yang datang banyak sekali."
Di layar televisi terlihat artis-artis berjalan memasuki aula konser dan para reporter sibuk mewawancarai artis-artis yang lewat. Lalu di layar televisi muncul wajah Park Jimin.
"Oh, ternyata Park Jimin juga datang ke konser itu!" seru Seokjin pada dirinya sendiri. "Dia ikut menyanyi juga ya?"
Kim Seokjin memerhatikan idolanya dengan hati berbunga-bunga. Park Jimin yang mengenakan turtleneck hitam dan jas cokelat abu-abu itu terlihat tampan seperti biasa dan ia terus tersenyum ramah ketika diwawancarai reporter.
"Jadi, Park Jimin, siapakah wanita yang tadi datang bersama Anda? Wanita yang berdiri di sana itu? Kekasih Anda?" tanya si reporter sambil menyodorkan mikrofon kepada Park Jimin.
Seokjin melihat wanita berkacamata gelap yang berdiri agak jauh di belakang Park Jimin. Wajahnya tidak terlihat jelas sehingga Seokjin pun merangkak mendekati pesawat televisi sambil memasukkan beberapa potong keripik ke mulut.
Park Jimin tertawa dan menoleh ke arah si wanita dan berpaling kembali kepada si reporter. Bagi Seokji, reaksi Park Jimin sudah menunjukkan jawabannya, dan ternyata si reporter juga berpendapat sama. Tanpa menunggu jawaban Park Jimin si reporter bertanya lagi dengan nada menggoda, "Kenapa Anda tidak memperkenalkan Nona itu kepada kami semua? Ayolah, kenapa harus malu?"
"Benar! Kenapa harus disembunyikan?" seru Seokjin kepada gambar Park Jimin di televisi.
Park Jimin masih tersenyum ketika menjawab, "Memang benar, tapi sebenarnya dia agak pemalu. Dia bersedia datang hari ini juga karena saya yang memintanya. Kalau tidak, dia sama sekali tidak akan datang."
"Wah, gadis yang sombong. Yoongi harus melihat ini," kata Seokjin sambil duduk bersila. Ia meraih telepon dan menghubungi nomor ponsel Suga. Matanya tetap mengawasi Park Jimin yang sudah beranjak pergi dari si reporter dan menghampiri kekasihnya.
Kamera memang sudah tidak difokuskan pada Park Jimin karena sekarang ada artis lain yang sedang diwawancarai. Tapi Park Jimin dan kekasihnya masih terlihat di bagian latar, walaupun tidak terlalu jelas.
"Min Yoongi, cepat angkat teleponmu sebelum Park Jimin dan kekasihnya masuk," kata Seokjin gemas. Ia terus menatap Park Jimin dan kekasihnya di televisi, seakan-akan kedua orang itu bakal lenyap kalau ia mengalihkan pandangan sedetik saja.
Seokjin melihat wanita itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam tas tangannya sementara Park Jimin berdiri di sampingnya. Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari tasnya, lalu melakukan gerakan membuka dan menutup. Tepat pada saat itu nada sambung di telepon Seokjin terputus.
"Ah, anak aneh ini kenapa tidak menjawab teleponku? Tidak mau melihat pacar Park Jimin?" gerutu Seokjin sambil menekan nomor ponsel Suga sekali lagi. "Jangan-jangan dia masih di jalan ya?"
Seokjin menatap layar televisi dan merasa lega karena Park Jimin dan kekasihnya masih terlihat di sudut. Sambil menunggu Suga menjawab telepon, Seokjin menyipitkan mata supaya bisa melihat lebih jelas Park Jimin dan pacarnya. Kali ini wanita itu kembali merogoh tas.
"Ada apa dengannya? Kelihatannya sibuk sekali," Seokjin bertanya sendiri.
Wanita itu mengeluarkan sesuatu lagi dan menatap benda yang dipegangnya itu.
"Ponsel?" gumam Seokjin tidak yakin sambil menyipitkan mata. Wanita itu menatap tangannya, lalu menatap Park Jimin. Park Jimin terlihat menggeleng-geleng, memberi isyarat supaya wanita itu melihat ke sekeliling, sambil mengucapkan sesuatu. Entah apa yang ia katakan karena akhirnya wanita itu terlihat mengutak-atik benda yang dipegangnya. Tepat pada saat itu nada sambung di telepon Seokjin terputus sekali lagi. Seokjin tertegun. Ia menatap layar televisi dengan mata terbelalak. Bungkusan keripik yang sejak tadi dipeluknya terlepas dan jatuh ke lantai. Matanya terpaku pada layar televisi. Ia melihat kekasih Park Jimin sedang menundukkan kepala dan mengutak-atik sesuatu yang menurut Seokjin ponsel, lalu memasukkannya kembali ke tas tangan. Kemudian mereka berdua bergerak dan menghilang dari layar televisi Seokjin.
Seokjin menatap layar televisi dan telepon yang dipegangnya bergantian. Otaknya sibuk berputar. Ia mencoba menghubungi ponsel Suga sekali lagi dan kali ini ia hanya mendengar suara operator telepon yang berkata telepon yang dituju sedang tidak aktif. Seokjin menutup telepon dan mengerutkan dahi.
"Apa yang kulihat tadi? Apa artinya ini? Hanya kebetulan? Kebetulan yang aneh…," gumam Seokjin pada dirinya sendiri. Ia tidak lagi bersemangat menonton konser amal itu. Ia sibuk memutar otak, memikirkan apa yang baru saja ia lihat dan alami. Ia tidak percaya dengan kemungkinan yang muncul di benaknya. "Ini tidak mungkin. Tapi memang kalau dipikir-pikir…"
..
..
..
Seperti yang dikatakan Park Jimin sebelumnya, Suga tidak perlu mengikuti acara konser amal itu sampai selesai karena Jimin punya jadwal lain yang sangat padat. Begitu Suga sudah menyelesaikan tugasnya, Zhoumi mengantarnya pulang sementara Park Jimin menghadiri acara selanjutnya.
Ketika berjalan di sepanjang koridor menuju apartemennya, Suga agak heran melihat Kim Seokji berdiri di depan pintu gedung itu.
"Seokjin, sedang apa kau di sini?" tanya Suga sambil mempercepat langkah untuk menghampiri temannya.
Seokjin mengangkat wajah dan Suga melihat mata temannya terbelalak kaget ketika melihatnya. Lalu Seokjin tersenyum aneh.
"Ternyata tidak salah," gumamnya.
"Mm? Kau bilang apa?" Suga mengeluarkan kunci pintu dan memandang temannya.
Seokjin tersenyum dan menggeleng. "Tidak, aku sedang bicara sendiri. Ayo, kita masuk dulu. Aku sudah capek berdiri sejak tadi."
Suga segera membuka pintu dan mengajak Seokjin masuk.
"Kenapa menunggu di sini? Kau kan bisa menelepon dulu."
Seokjin melangkah masuk dan menjawab, "Ponselmu tidak aktif."
Suga menepuk dahi. "Oh, memang kumatikan tadi. Maaf."
Kim Seokjin berdiri di tengah-tengah ruang duduk dan mengamati Suga dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Suga merasa aneh diamati begitu. "Kenapa memandangiku seperti itu?"
"Pakaianmu," gumam Seokjin dengan pandangan penuh arti.
Suga tersentak. Ia baru menyadari ia masih mengenakan pakaian yang diberikan Zhoumi. Gaya rambutnya juga masih seperti tadi. Seokjin pasti heran dengan penampilannya yang seperti ini.
"Ah, ini?" Suga berbalik memunggungi temannya dan pura-pura mencari sesuatu di dalam emari es. Otaknya berputar cepat, mencari alasan yang masuk akal. "Biasa lah, Mister Kim sedang melakukan percobaan baru. Katanya penampilan ini cocok untukku. Tapi kurasa tidak begitu. Aku benar, kan? Eh, kau mau minum apa?"
Suga memutar tubuh, kembali menghadap temannya. Seokjin sudah duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapan temannya itu seakan bisa menembus ke dalam hatinya. Suga mulai gugup.
"Kau tahu," Seokjin membuka mulut, "tadi aku menonton acara konser amal di televisi."
Suga merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat daripada biasanya. Tidak mungkin Seokjin melihatnya. Ia sudah sangat hati-hati agar tidak disorot kamera. "Aku melihat Park Jimin bersama kekasihnya," Seokjin melanjutkan dengan nada tenang. Ia tersenyum kecil. "Anehnya, kekasihnya itu memakai pakaian yang sama dengan yang kau pakai sekarang. Gaya rambut kalian juga sama persis."
Baiklah, Suga harus melakukan sesuatu. Ia tertawa dan berkata, "Lalu kau mengira aku wanita itu? Seokjin, kau ada-ada saja."
Seokjin mengangkat alis. "Benarkah, begitu? Sebenarnya aku juga tidak akan berpikir wanita itu kau, Yoongi, kalau saja aku tidak meneleponmu saat itu. Aku melihatmu di televisi. Memang tidak jelas, tapi aku melihat kejadiannya."
Suga ingat Seokjin memang menghubungi ponselnya ketika ia berada di acara konser amal. Ia tidak menjawab karena suasana di sana berisik sekali, semua orang berbicara dan irama musik terdengar di mana-mana. Kalau ia menjawab, Seokjin akan mendengar bunyi berisik di latar belakang dan merasa curiga. Jimin juga berkata sebaiknya ia tidak menjawab telepon. Itulah sebabnya Suga mematikan ponselnya. Ternyata saat itu Seokjin melihatnya di televisi.
"Ketika aku meneleponmu, kekasih Park Jimin secara kebetulan juga menerima telepon. Ketika dia memutuskan hubungan, tepat pada saat itu nada sambung di teleponku juga terputus," Seokjin melanjutkan. "Aku mencoba lagi dan melihat wanita itu akhirnya mematikan ponselnya."
Suga tidak bisa mengelak lagi. Ia sudah tidak tahu alasan apa lagi yang bisa ia gunakan. Ia sudah mengenal Kim Seokjin selama bertahun-tahun dan tahu benar temannya itu pintar dan berotak tajam.
Mungkin saja saat ini Seokjin sudah bisa menduga sendiri. Suga tidak bisa lagi menyembunyikan masalah ini darinya.
"Min Yoongi, kurasa sekarang waktunya kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi," kata Seokjin. "Aku sudah berpikir lama dan ingin tahu apakah kenyataannya seperti yang kupikirkan."
..
..
..
Suasana di salah satu toko buku terbesar di Seoul itu terlihat ramai sekali. Di depan toko terpasang spanduk yang bertuliskan "Peluncuran Buku Salju di Musim Panas dan Pembagian Tanda Tangan Choi Min-Ah".
Mungkin ini sebabnya kenapa buku yang paling banyak dipajang di etalase toko itu adalah Saljut di Musim Panas karya Choi Min-Ah. Para pengunjung toko masing-masing memegang buku tersebut sambil berdiri berdesak-desakan sementara anggota-anggota staf toko bersusah payah mengendalikan keadaan. Selain para pengunjung toko, beberapa wartawan juga tampak hadir di sana.
"Choi Min-Ah sudah datang?" seru seorang wanita berkacamata kepada salah satu anggota stafnya yang sedang berbicara di telepon.
Anggota staf tersebut menutup telepon dan menjawab, "Katanya dia akan tiba dalam dua puluh menit."
Wanita berkacamata itu memegang kening dan mengembuskan napas. "Aku tidak tahu apakah kita bakal mampu bertahan dua puluh menit lagi. Hei, semuanya sudah siap di belakang sana? Aku ingin semuanya sempurna sebelum Choi Min-Ah menginjakkan kaki di toko ini. Mengerti?"
Dua puluh dua menit kemudian, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Seorang wanita cantik keluar dari mobil hitam dan berjalan masuk ke toko buku sambil tersenyum lebar dan melambaikan tangan dengan anggun.
"Itu Choi Min-Ah! Cantik sekali! Lebih cantik daripada fotonya."
"Katanya dia baru pulang dari Amerika."
"Dia pulung khusus untuk menghadiri acara ini."
"Dia kelihatan masih muda ya."
"Kau lihat pakaiannya? Bagus sekali!"
"Aku sudah membaca semua buku yang ditulisnya."
Choi Min-Ah menyalami wanita berkacamata yang adalah manajer toko itu, kemudian berdiri di balik meja panjang yang sudah tersedia. Senyumnya yang tulus dan menyenangkan masih tersungging di bibir.
"Apa kabar, semuanya?" Choi Min-Ah menyapa para pengunjung dengan suaranya yang indah dan ramah. Para pengunjung pun membalas sapaannya meski dengan agak kacau-balau. Choi Min-Ah tertawa kecil dan melanjutkan, "Saya baru saja turun dari pesawat dan sepanjang perjalanan dari bandara saya merasa lelah sekali. Tapi begitu tiba di sini dan mendapat sambutan sehangat ini, tiba-tiba saya merasa segar kembali. Terima kasih banyak."
Para pengunjung pun tertawa dan bertepuk tangan. Setelah acara penandatanganan buku itu selesai, Choi Min-Ah mengizinkan para wartawan mewawancarainya. Mula-mula para wartawan menanyainya tentang buku barunya, tentang proses penulisan bukunya, tentang ide-idenya dan hal-hal teknis lain. Sering berlalunya berbagai pertanyaan, para wartawan pun semakin berani karena melihat sikap Choi Min-Ah yang ramah dan terbuka.
"Nyonya Choi Min-Ah, bagaimana kabar suami Anda?"
"Dia baik-baik saja, masih terus membenamkan diri dalam not-not balok seperti biasa," jawab Choi Min-Ah ceria. "Kadang-kadang dia malah melupakan istrinya yang cantik ini."
"Lalu bagaimana kabar putra Anda?"
"Jimin? Seharusnya dia baik-baik saja. Saya belum sempat meneleponnya. Dia bahkan belum tahu saya ada di Seoul. Mungkin saya akan meneleponnya nanti," sahut Choi Min-Ah. "Tapi saya rasa Anda sekalian tentu sudah tahu dengan sangat jelas keadaannya. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk dengan album barunya."
"Kabarnya dia sudah punya kekasih. Apakah Anda tahu itu, Nyonya?"
Wajah Choi Min-Ah berseri-seri. "Ah, benar. Tentu saja saya tahu. Saya pernah berbicara dengannya. Min Yoongi ssi itu gadis yang baik. Aku berharap hubungan mereka akan berhasil."
..
..
TBC
..
..
