a/n1: HAPPY D18 DAY, SEMOGA TERUS BAHAGIA YA SAMPAI BERAPA TAHUN PUN LAGI. /tebar bunga/
a/n2: berarti kontribusi saya buat d18 day tahun ini juga berakhir dengan chapter ini :") semoga tahun depan masih balik ke fandom ini buat nyumbang. semogaa.
a/n3: selamat membacaaa, ini dalam tyl-verse.
.
Dokumen setinggi satu kaki diletakkan pada tepi mejanya, dokumen-dokumen itu diperiksanya satu per satu. Sudah semalaman ia berkutat di depan meja namun dokumen-dokumen tersebut tidak kunjung berkurang. Ia meletakkan penanya di meja dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Kedua lengannya ditarik ke atas untuk mereganggkan otot-otot yang telah kaku.
Ketika teleponnya berdering, ia mengerutkan alisnya. Kepalanya ditolehkan ke arah jam dinding yang digantung di atas posisi pintu, pukul dua subuh. Ia bertanya-tanya, siapa yang akan meneleponnya pada waktu seperti ini.
Ia mengangkat telepon tersebut, "ya?"
"Ah, Dino-san! Apa Hibari-san ada di sana?" ucap suara dari seberang sambungan. Tanpa perkenalan diri pun Dino sudah tahu suara siapa yang sedang ada di jaringan.
"Tidak, Kyouya tidak di sini, Tsuna. Ada apa?" Itu adalah suara adik kesayangannya (bukan adik dalam kandungan darah tentunya, ia hanya merasa mereka berdua sama-sama tahu betapa kerasnya berada di bawah bimbingan Reborn). Dino mengambil kembali pena yang tadi ia tinggalkan, menulis beberapa patah kata dalam bahasa Italia pada salah satu dokumen di meja.
"Hibari-san ... belum kembali setelah tiga minggu. Kusakabe-san maupun kami sudah mencoba menghubunginya namun hasilnya nihil.' Terdengar nada kekhawatiran dari Tsuna. Salah satu guardian-nya hilang begitu saja, tentu sebagai seorang don ia akan khawatir. Dino pun pasti akan khawatir bila saja ia tidak mengenal Kyouya dengan―sangat―baik.
Dino tertawa kecil, "tenang saja, Tsuna. Ia pasti akan pulang."
Bucking Horse and Skylark: Cloud and Home
December 18th, 2013 (D18 Day 2013)
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
This is a work of fanfiction, simply written for the purpose of enjoyment and entertainment. I gain no financial profit from writing this.
Bukannya ia tidak peduli dengan Kyouya. Ia sangat peduli padanya. Namun ia tahu Kyouya-nya pasti akan baik-baik saja. Ia tahu seberapa kuat Kyouya itu―berhubung ialah yang menjadi tutor pribadinya sejak 10 tahun lalu.
Ia mengetuk-ngetukkan penanya pada meja, tatapan matanya tampak kosong dan ia tak fokus pada dokumen di meja.
Kyouya memang tidak pernah ingin bekerja dalam sebuah tim. Bahkan dalam Vongola, ia hanya bertindak sendiri dan akan menolak setiap Tsuna memintanya bekerja dalam tim. Tapi itu bukanlah sebuah kelemahan bagi Kyouya. Walau ia selalu sendiri, Kyouya adalah orang yang akan berada dalam kondisi terbaiknya ketika ia bertindak sesuai apa yang ia mau. Dino pun telah memastikan bahwa kekuatan Kyouya cukup untuk bertindak sendiri.
Ia memastikan Kyouya akan menjadi kuat dan sangat kuat, cukup kuat hingga ia takkan pernah kalah dalam pertarungan melawan siapapun.
Dino mengangkat cangkir minumannya yang diletakkan di mejanya, menyeruput kopi yang sudah mendingan dengan perlahan. Aromanya telah hilang, rasanya pun tidak lagi tinggal di lidah. Ia meletakkan kembali cangkir itu pada piringnya, kemudian dengan cangkir di tangan, ia beranjak dari meja kerjanya dan keluar dari ruangannya.
Sesampainya di dapur, ia meletakkan cangkir kosong itu pada wastafel―nanti saja mencucinya.
Ketika ia baru hendak kembali lagi ke ruangan kerjanya untuk berduaan dengan dokumen setumpuk itu, ia mendengar bunyi langkah kaki yang familiar di telinganya. Menjadi seorang mafia membuatnya dapat mengenal orang dari langkah kakinya.
Ia tersenyum.
"Ah, Kyouya. Ingin mandi dulu?"
Sesosok pria muncul dari balik pilar megah mansionnya. Tatapan tajam sepasang manik kelabu, pakaian yang kotor, tonfa yang tergenggam erat di tangan, kemudian juga ... bau anyir darah yang sudah memenuhi ruangan. Pria itu menarik bibirnya membentuk segaris senyum yang menghiasi paras tampannya.
"Tadi Tsuna mencarimu, ia bilang mereka sama sekali tak dapat menghubungimu." Ia bersandar pada dinding dan melipat tangannya, "kemana saja kau, Kyouya?"
"Aku bermain."
Dino mendengus, "sudah kuduga."
Kyouya berjalan ke arah kamar Dino (yang kata Dino, juga merupakan kamar Kyouya) dan melepas setelan jasnya. Ia lempar pada kursi kosong di sana. Kemudian ia melonggarkan dasinya, melemparkannya pada tempat yang sama dan berlanjut pada kemeja ungunya.
"Tidakkah sebaiknya kau kembali ke markas Vongola dulu sebelum kau ke sini, Kyouya?" tanya Dino. Ia memeluk Kyouya dari belakang, mengabaikan bercak-bercak darah pada kulit pucat mulus Kyouya akan mengotori pakaiannya. Ia menopang kepalanya pada bahu Kyouya dan menghirup aroma tubuhnya, 'ah, bau darah yang manis.'
"Sudah kubilang sebelumnya, kan? Aku Awan yang akan selalu pulang pada sang Langit."
"Tapi bukankah Tsuna juga merupakan sang 'Langit'?" Dino tertawa kecil. Kemudian ia membenamkan kepalanya pada tengkuk Kyouya dan membiarkan dirinya tenggelam dalam aroma tubuh Kyouya yang membuatnya nyaman. Berjam-jam di depan meja kerja ditemani secangkir kopi tak membuatnya mengantuk, namun ternyata aroma Kyouya dapat membuatnya ingin tidur dalam hitungan detik.
Mungkin karena menurut sang Langit, sang Awan selalu membawa kesan 'rumah' dalam aromanya.
"Aku pulang, Haneuma."
"Kau pulang, Kyouya."
End.
a/n4: selesai jugaaaa. akhirnya project ini selesai jugaaa.
a/n5: terima kasih sudah membaca sampai akhir! sekali lagi, happy d18 day!
