#Author's Note#
Apa ya? oh ya, sorry update nya telat, hehe. Di chap ini pertarungan sesungguhnya akan dimulai antara Naruto, Nine Hunter Demon dan para pemburu 'Sang Mata'.
Entah bakal menarik atau tidak, hehe. Dan soal Hinata, dia cuman manusia biasa dan engga punya kekuatan apapun.
Lalu sudah diputuskan juga kalau beberapa Chara akan memiliki kemampuan seperti di Canon.
Yaa, itu aja sih Note dari saya, terima kasih buat yang udah kasih saran dan kasih semangat sehingga saya masih bisa tetep update. Terima kasih juga buat yang udah sempetin baca fict amburadul ini.
.
.
Disclaimer : Saya tidak mengakui yang bukan hak saya, kata ibunya tetangga temannya teman sekolah teman saya, itu dosa.
Genre : Supranatural - Fantasy - Romance.
.
Chapter 7 -Enjoy it-
.
.
.
Aku menghabiskan waktu seharian ini bersama Naruto-kun. Tak ada yang spesial sih, cuman menemani hal hal yang biasa dilakukannya saat sedang dirumah, seperti membaca buku, bermain Game, lalu nonton Film Film kesukaannya, Film Action. dan sekarang jarum jam sudah menunjukan pukul lima sore, terasa sangat singkat.
Entah kenapa setiap detik waktu hari ini terasa sangat berarti, rasanya Aku menginginkan hari ini berjalan lebih lama lagi.
.
Seolah hari ini adalah saat terakhirku bersamanya.
.
.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu Naruto-kun, sambil sesekali mengunyah cemilan dengan pandangan bosan ke layar kaca.
Ini Film terakhir dari lima Film yang kami tonton, jujur saja Film Action bukanlah Film yang Aku minati, adegan tembak tembakan, perkelahian, apa bagusnya coba?, Aku lebih menyukai Film bergenre Romansa yang bisa menyentuh hati, bukan yang membuatku mual dan meringis dengan mengumbar adegan kekerasan.
Tapi melihat Naruto-kun begitu antusias, Aku mau bagaimana lagi.
.
Film yang kami tonton sudah memasuki babak akhir, dan Aku melihat kepuasan di mimik wajahnya, dia mulai memberikan komentar tentang Film yang selesai kami tonton yang kutanggapi dengan Anggukan diselingi cengiran, karena jujur saja Aku tak begitu memperhatikan jalan cerita Filmnya, dan yah, entah kenapa sekarang Naruto-kun jadi terlihat sangat terbuka, dia tak lagi terasa dingin seperti saat pertama kami bertemu.
Naruto yang sekarang terasa sangat Hangat.
.
.
"Naruto-kun, boleh Aku minta sesuatu?" tanyaku.
"Katakanlah." jawabnya santai.
"Hmm, Aku ingin kau bertemu Ayahku?." pintaku sambil menarik kepala dari pundak pemuda itu, Aku ingin tahu ekspresinya.
"Kenapa Aku harus menemui Ayahmu?" tanyanya dengan wajah bingung, yaampun kukira dia akan terkejut, kukira dia sudah tahu maksudku memintanya menemui ayahku.
Apa dia se polos itu ya.
"Tentu saja melamarku, apalagi memangnya." jawabku sukses membuat Naruto-kun membulatkan bola matanya. Wajah terkejutnya terlihat lucu.
"APA? Hinata, kita ini kan- maksudku kau dan Aku ini bukan-"
"Bukan sepasang kekasih ya kan? apa kau memang berpikir seperti itu?" potongku sedih, kukira Aku dan Naruto-kun sudah berpacaran.. memang sih saat ini status hubungan Kami belum jelas.
"Bukan itu, maksudku apa ini tidak terlalu cepat?." tanyanya, entah maksudnya mencoba menghiburku atau memang itu artinya Naruto-kun mengakuiku sebagai kekasihnya secara tak langsung, entah apapun maksudnya itu membuat hatiku berbunga bunga.
"Lebih cepat lebih baik." jawabku dengan kecepatan bicara empat kata perdetik.
"Tapi Hinata, Aku ini... kau sendiri tahu Aku ini akan pergi.." sahutnya terdengar sedih.
"Aku tahu itu, maka dari itu Aku ingin kita terikat sebelum kita berpisah, agar suatu saat.." Aku menahan kata kataku, ku genggam tangannya, lalu ku tatap wajahnya dalam dalam. "ketika kita bertemu lagi, kita bisa langsung menikah." lanjutku sambil menyunggingkan senyum.
Naruto-kun tertegun mendengarnya, entah apa yang ada dibenaknya tapi kemudian dia tersenyum.
"Dasar kau ini, tapi ada hal yang ingin kutanyakan."
"apa?."
"Apa ayahmu galak?."
"Sayangnya, iya."
"Itu gawat."
.
.
_
Aku tengah mencerna informasi yang diberikan mata mata kepercayaanku tentang para anggota organisasi yang memberontak dibawah pimpinan Hanzo.
Ini benar benar genting, pasalnya selama kepemimpinanku di Organisasi ini tak pernah sekalipun ada Anggota yang menyalahi setiap keputusanku, dan ini adalah pertama kalinya.
Aku mengerti, Mereka yang memberontak hanya ingin mencegah bangkitnya 'Sang Mata' yang akan menebar teror didunia, tentu saja Aku tak bisa menyalahkan mereka.
Bagaimanapun mereka terlalu polos, kekhawatiran mereka akan kebangkitan iblis itu telah mendorong mereka untuk berusaha mencegah ramalan itu menjadi kenyataan.
Mereka benar benar Naif.
Bagaimana Mereka bisa se yakin itu bisa mencegah kebangkitannya jika cara yang mereka terapkan justru berpeluang besar mempercepat apa yang ingin mereka cegah. Apa mereka lupa dengan kejadian tiga belas tahun yang lalu saat wadah dari 'Sang Mata' berusia enam tahun saja mampu menghancurkan nyaris satu desa.
Tak bisa dibayangkan kejadian mengerikan seperti apa nantinya jika wadah itu tak bisa mengontrol kekuatan iblis itu diusianya yang sekarang dimana staminanya sudah meningkat jauh dari saat dia berusia enam tahun.
"Aku sudah tak tahu harus Bagaimana lagi, Shisui." ujarku pada pemuda yang kini tengah berdiri dihadapanku, mata mataku.
"Maaf Hasirama-sama," ujarnya penuh hormat, "Di Organisasi ini Andalah pemimpinnya, Anda yang memutuskan Apa yang terbaik, memikirkan keputusan yang tepat sepertinya bukan wewenang saya." lanjutnya sembari tersenyum mengejek, Bocah ini memang benar benar kurang ajar.
Tapi begitulah, keakraban Aku dan Uciha Shisui telah membuatku menganggapnya seperti anak sendiri, dan kuharap suatu saat dia yang akan meneruskan kepemimpinanku, pemuda ini sangat berpotensi.
"Kau ini sudah sangat lama menjadi bawahanku, sebagai seorang agen mata mataku kau pasti lebih paham situasi saat ini, bahkan mungkin lebih paham dariku, ku naikan gajimu dua puluh persen jika kau bisa memberikan solusi terbaik." Aku mencoba menyogoknya.
"Dua puluh persen terlalu sedikit Hasirama-sama." sahutnya.
"Itu bisa kita bicarakan belakangan." balasku acuh, "katakan solusi terbaikmu." lanjutku.
"Baiklah, kita berdua paham bahwa yang dilakukan para anggota organisasi yang memberontak hanya akan mempercepat kebangkitan 'Sang Mata' seperti yang telah diramalkan, untuk itu kita harus mencegah mereka," tutur Shisui.
"Aku sudah mencobanya," Aku menyela, "tapi apa yang kukatakan mereka masukan ketelinga kanan, lalu mengeluarkannya dari telinga kiri." lanjutku frustasi.
"Jika kata kata sudah tak bisa didengarkan, maka menghabisi mereka adalah satu satunya jalan." tukasnya,
"Kau sudah gila?," tentu saja Aku kaget, "mereka adalah anggota organisasi, mereka tidak bersalah Bocah." lanjutku, Aku tak percaya dia akan memberikan solusi sekejam itu.
"Kadang kita harus mengorbankan yang sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak." sahutnya tenang.
Solusi yang diberikan Shisui memang masuk akal, tapi mengorbankan orang orang yang tak bersalah? jujur saja itu bukan metode ku.
"Apa memang harus begitu?." tanyaku sangsi.
"Prioritas kita adalah menjaga wadah itu dan memastikan kebangkitan 'Sang Mata' tak akan pernah terjadi." jawabnya.
"Langkah pertama, kita harus bertemu secara langsung dengan wadah iblis itu untuk memperingatkannya,"
"Kalau soal itu," potong Shisui "sebenarnya Aku punya koneksi dengan salah satu Anggota Nine Hunter Demon." lanjutnya membuatku bingung.
"Lanjutkan." perintahku.
"Namanya Adalah,"
.
.
"Uciha Itachi." .
.
.
_
KESANKU saat pertama kali memasuki rumah Hinata adalah.. Waow, meski sebelumnya Aku pernah mengantar Hinata pulang tapi tentu saja Aku hanya melihatnya dari luar saja.
Rumah ini benar benar mirip istana megah, sangat Elegan dan mewah, luas rumah ini mungkin setara dengan sebuah lapangan sepak bola, memiliki tiga tingkat lantai, Aku memandang sekeliling begitu banyak perabotan yang terlihat mahal dan tertata rapih, temboknya selang seling antara tembok bata biasa bercat warna cerah dan tembok Kaca yang memiliki ketebalan setengah meter.
Jujur Aku tak tahu rumah rumah megah di negara jepang itu seperti apa, namun kupastikan rumah ini adalah rumah termegah nomer satu dinegara ini.
Aku melirik kearah Hinata yang tengah terkikik.
"Kenapa?." tanyaku.
"Bukan apa apa, hanya saja kau terlihat lucu dengan ekspresimu itu." jawabnya sambil meletakan telapak tangan dimulut menahan tawa, Aku tak tahu semerah apa wajahku menahan malu saat itu.
"Cih, bodoh." sahutku melemparkan wajah kearah lain.
"Ayo kuantar kau menemui ayahku, dia ada di atas." ucapnya sambil menarik lenganku.
Aku dan Hinata meniti tangga berpola memutar yang tingginya lumayan membuatku cukup lelah, untung saja Aku agak rajin berolah raga.
Kami berdua tiba disebuah ruangan yang dibagian tengahnya terdapat meja panjang yang dipenuhi beraneka macam makanan dari yang ringan sampai yang berat, semuanya ditata rapi oleh Sekitar selusin pelayan yang hilir mudik mempersiapkan segala sesuatunya sedetil mungkin, ekspresi para pelayan itu seolah menunjukan jika mereka melakukan sebuah kesalahan, tamatlah.
Lalu diujung meja terlihat seorang bapak bapak dengan stelan jas yang tampak Elegan tengah duduk membaca lembaran koran, sepertinya dia tak menyadari kehadiran kami.
"Itu Ayahmu?" tanyaku berbisik.
"Siapa lagi memangnya." jawab Hinata.
Gadis indigo itu berjalan kearah ayahnya sambil tetap memegang tanganku, membuatku mau tak mau mengikutinya.
"Aku pulang Ayah." sapa Hinata sambil duduk di salah satu bangku dekat ayahnya, Aku tentu saja masih berdiri.
"Hinata, kau darimana saja? pagi pagi sudah menghilang, kau bahkan melewatkan sarapan pagimu," tanya Ayahnya khawatir, lalu meletakan koran yang dia baca, "dan, siapa dia?" lanjutnya dengan pertanyaan yang diarahkan padaku, dia menatapku berusaha mengintimidasiku, tapi bagiku itu tak berpengaruh sama sekali, tatapan semengerikan apapun bagiku terlihat biasa saja.
"Ini Naruto-kun yang pernah ku ceritakan padamu, dan.. tolong jangan tatap dia seperti itu, wajahmu terlihat menakutkan Ayah." jawab Hinata yang terdengar agak kurang sopan.
"Duduklah." ucapnya dengan intonasi berat.
tanpa menunggu lama Aku langsung mengambil tempat disamping Hinata.
"Baiklah, berhubung sudah waktunya makan siang kita nikmati dulu santapan yang sudah tersaji ini," oh, sepertinya dia tak se galak yang kubayangkan, Ayah Hinata terlihat cukup baik, "pelayan, tolong panggilkan Hanabi untuk ikut makan siang bersama!" lanjutnya memberi perintah.
Tak lama kemudian datanglah Hanabi, adik dari Hinata, (Aku mengetahuinya setelah sebelumnya menanyakan pada Hinata.) kuperkirakan usianya sekitar enam belas/tujuh belas.
"Wah, Onee-chan, tak biasanya kau membawa laki laki kerumah, kukira kau tak tertarik berpacaran." ucap Hanabi menggoda Kakaknya sambil mengambil tempat duduk.
"Bercandamu tidak lucu." balas Hinata acuh.
"Ngomong ngomong siapa nama Nii-san?." tanya Hanabi yang dimaksudkan padaku.
"Naruto, Uzumaki Naruto." jawabku se tenang mungkin, Oke ini situasi yang tak biasa untuku, mencoba bersosialisasi dengan orang asing bukanlah gayaku.
"Aku Hyuga Hanabi." balasnya sambil menyunggingkan senyuman.
"Jika Kalian terus mengobrol kapan makannya," intrupsi Ayah mereka berdua, "Hinata kau yang pimpin doa." lanjutnya.
Kami berempat menikmati makan siang yang menurutku kelewat banyak, entah sisa makan siang ini akan kemana nantinya, mungkin dibuang.
.
.
"Jadi Naruto, bisa kita bicara berdua," pinta Ayah Hinata dan Hanabi, "kau tahu, pembicaraan antara laki laki." lanjutnya yang kujawab dengan anggukan.
Kami berdua meninggalkan ruang makan, menyisakan Hinata dan Hanabi yang saling pandang dengan wajah heran.
"Putriku Hinata, dia bercerita padaku tentangmu dengan sangat semangat, itu pertama kali Aku melihatnya kembali terlihat sangat hidup," tuturnya sambil melihat lukisan keluarga yang terpajang di dinding, disana ada dirinya bersama seorang perempuan yang kutebak istrinya, Hinata kecil dan Hanabi kecil.
"Yah, setelah Ibu mereka tiada, Aku cukup kerepotan mengurus dua Anak seorang diri, kusadari Hinata sudah bukan anak remaja lagi, dia sudah membuat keputusan memilihmu sebagai belahan jiwanya." dia berhenti sejenak, entah sepertinya dia kesusahan merangkai kata kata.
Lelaki paruh baya itu berjalan kearahku.
"Tapi bukan itu inti pembicaraan kita ini, Naruto, Aku sudah tak muda lagi, entah besok atau lusa Aku mungkin akan mati, sebagian besar kekayaanku akan ku wariskan pada Hinata. Perusahaanku yang tersebar bukan hanya dinegara ini akan menjadi tanggu jawab Hinata kelak.
Aku ingin kau membantunya, jangan biarkan dia sendirian menanggung tanggung jawab itu sendirian." lanjutnya dengan wajah serius bercampur harap.
"Aku pastikan, Aku akan selalu ada Untuknya, Pak." balasku meyakinkan Lelaki berusia sekitar enam puluh tahunan yang berdiri dihadapanku.
.
.
.
_
"Baiklah, jadi Nine Hunter Demon yang selama ini kita kira sebagai Orang orang yang memburu 'Sang Mata' malah berusaha melindunginya," Pimpinanku kini sudah terlihat linglung dengan informasi yang baru saja kusampaikan, Aku sebisa mungkin menahan diri untuk tidak tertawa atau Aku akan berakhir tergantung oleh belitan dahan pohon yang menjadi kemampuan alaminya.
"mengapa nama Organisasi mereka bukan Nine Guardian demon saja sih agar tidak membingungkan." lanjutnya sambil memijit kening.
"Menurutku lebih cocok Nine Bodyguard Demon." Tobirama-sama sang adik ikut memberi saran yang terdengar konyol.
Oh ya ternyata dari tadi Tobirama-sama menguping istilah kasarnya, lalu kemudian memilih ikut bergabung.
"Terserahlah," balas Hasirama-sama acuh,"Shisui, susun pertemuanku dengan mereka, kita harus sesegera mungkin menyelesaikan masalah ini." lanjutnya.
"Kita tak punya waktu untuk itu," balasku "dari informasi yang kudapat, para pembeontak akan menyerang wadah itu malam ini juga, ditambah Saruman beserta pasukan penyihirnya juga mulai bergerak." lanjutku menginformasikan.
"Saruman?." kaget Kakak Adik itu bersamaan.
"Ini lebih kacau dari yang kuduga." ucap Hasirama-sama serius.
"Kita persiapkan semuanya saat ini juga." sahut Tobirama-sama.
.
.
.
_
TAK terasa saat ini jam di pegelangan tanganku sudah menunjukan pukul 18:00, pernah dengar teori tentang waktu yang berlalu begitu cepat saat kita tengah merasa senang? ternyata itu memang benar.
Rumah megah ini begitu terasa hangat oleh kebersamaan keluarga Hinata, Ayahnya ternyata bukat tipe orang galak, Gadis indigo itu sepertinya mengerjaiku dengan mengatakannya seperti itu, Adiknya Hanabi terkesan terlalu dewasa untuk Gadis seumurannya, mereka terlihat sempurna meski tidak adanya sosok Ibu atau istri diantara mereka.
Dan sepertinya sekarang waktunya bagiku untuk pulang, sudah cukup untukku hari ini.
Aku menjabat tangan Hiashi, Ayah mereka berdua sebelum pamit, lalu Hanabi memberiku ciuman di pipi yang tak sempat kutolak, membuat Hinata melotot kearah Adiknya itu dan dibalas Hanabi dengan memeletkan lidah, Hinata mengantarku sampai depan rumah.
"Terima kasih telah membawaku kerumahmu," ucapku sambil berusaha menyunggingkan senyum, "Kau memiliki keluarga yang hebat." lanjutku dan dibalas senyum yang terkembang di bibir Gadis indigo itu.
Aku barusaja Akan membalikan tubuhku sebelum kemudian ucapan Hinata menghentikannya.
"Naruto-kun, bila setelah ini kau akan pergi," Hinata menahan ucapannya, "jangan pernah ragu bahwa akan menunggumu." lanjutnya dengan suara lirih.
Aku, entah kenapa langsung memeluknya, seperti sesuatu yang tidak ku tahu mendorongku untuk melakukannya.
"Mungkin Aku akan milih jerman, Kalau ada waktu temuilah Aku disana." ucapku berbisik ditelinganya.
"Kenapa jerman?." tanyanya sambil mendongakan kepalanya kearahku dengan raut wajah heran.
"Entahlah, mungkin karena Aku mengidolakan Hitler." jawabku sembarang dan dibalas Hinata dengan memutar bola mata.
.
.
Aku memacu speda motorku dengan kecepatan sedang, tujuanku adalah rumah, tadi Sora mengirimkan pesan bahwa ia sudah seharian ini menunggui rumahku, berharap saja semoga si bodoh itu tidak mengacak acak rumahku.
Melewati setengah perjalanan Aku mulai merasa diikuti, sepertinya mereka belum kapok juga setelah apa yang terjadi malam itu, Entahlah sepertinya Aku harus menghindari mereka, sudah cukup, Aku tak mau lagi ada yang terbunuh.
Aku menambah kecepatan speda motorku dengan sangat drastis, melakukan aksi sulap selip mobil, truk, bus atau apapun yang ada di depanku, Baiklah rasanya sudah cukup, mereka tak akan bisa lagi mengejarku.
Tapi sialnya Aku mengambil rute yang salah, karena didepanku kini mereka sudah memblok jalan.
Ini akan sulit, jumlah mereka terlalu banyak dan Aku tak punya waktu untuk menghitungnya, sepertinya mereka akan habis habisan sekarang untuk menangkapku.
Aku baru saja turun dari tungganganku untuk maju menghadapi mereka sebelum kemudian beberapa orang turun dari langit? entahlah, tiba tiba mereka sudah berdiri membelakangiku.
Sebentar, sepertinya mereka terlihat Familiar.
Oh, mereka adalah Nine Hunter Demon.
Apa dari tadi mereka mengikutiku ya?
"Apa kabar Naruto-chan." sapa Tobi dengan nada cempreng.
"Jangan panggil Aku seperti itu." ucapku jengkel, Cih Kenapa ada orang idiot yang jadi Anggota pemburu iblis sih.
"Tenang saja Naruto, selama ada kami, tak akan ku biarkan mereka menyentuhmu." ucap Yahiko tenang.
"Terima kasih." ucapku.
"Wah, wah, menarik sekali, pemburu iblis kini malah melindungi iblis," ucap seorang lelaki, lebih mirip kakek kakek dengan sebelah matanya diperban, disebelahnya seorang dengan menggunakan tabung masker menatapku dengan tatapan membunuh, "kekonyolan macam apa ini." lanjutnya.
"Membicarakan sesuatu sebelum bertarung itu terasa menjengkelkan," ucap Hidan malas, "tapi baiklah Aku jelaskan, itu bukan urusanmu." lanjutnya, lalu melesat kearah orang orang yang memburuku, diikuti anggota Nine Hunter Demon yang lainnya.
"Dasar tak sabaran, Aku kan belum memberi perintah." gerutu Sang Leader, Yahiko.
Hidan berada paling depan langsung memainkan keahliannya menggunakan senjata berbentuk sabit, mengayunkan kesana kemari sambil berteriak teriak layaknya orang gila.
Disisi yang lain Aku melihat Tobi yang bertarung dengan gaya yang aneh menghindari serangan serangan dari lawannya, awalnya ku kira serangan itu meleset, tapi begitu ku perhatikan dengan seksama ternyata serangan serangan itu... Menembus tubuhnya, oke itu membuatku sangat terkesan.
Lalu Aku melihat Yahiko menarik beberapa lawannya dengan sesuatu yang tak dapat kulihat, kemudian mementalkannya, seolah dia memegang penuh kendali gravitasi di planet ini, disebelahnya Nagato tengah sibuk menembakan sesuatu dimulutnya yang begitu diarahkan pada lawan lawannya mereka langsung ambruk, kuperkirakan itu adalah semacam peluru angin.
Kulihat Itachi tengah menghajar satu persatu lawannya, memukul lawan didepannya, lalu menghantamkan kakinya pada lawan disampingnya, namun satu orang lawannya yang melihat celah langsung menghujamkan pedangnya keara punggung Itachi, tidak ada waktu untuk menghindar, pedang itu kini sudah menancap dipunggungnya.
Tapi sesuatu yang aneh terjadi, tiba tiba saja tubuh Itachi berubah menjadi sekumpulan gagak yang menyebar, lalu berkumpul lagi dibelakang lawan yang menyerangnya tadi, gagak gagak itu membentuk kembali menjadi sosok Itachi, lalu dengan sekali hantaman, lawannya tumbang.
Benar benar Gila.
Sementara itu kulihat Sasori telah menumbangkan lawan lawannya dengan menggunakan tubuh musuh musuh yang telah tumbang untuk menyerang lawannya dengan mengendalikan mereka menggunakan jari jarinya, seolah mereka yang dia kendalikan adalah bonekanya.
Begitu pula dengan Kisame yang telah menumbangkan lawan lawannya dengan pedang bersisik berbentuk mirip ikan, kulihat dia hanya mengayun ayunkan pedang itu ke sembarang arah, tapi lawan lawannya jatuh tertunduk lemas.
Konan kulihat menjatuhkan lawan lawannya menggunakan kertas kertas berbentuk shuriken, setahuku kertas itu bukan senjata, tapi kertas milik Konan sepertinya berbeda, karena benda itu mampu menyayat nyayat tubuh lawannya, dan kertas kertas itu seolah tak ada habisnya.
Deidara melemparkan bom bom berbentuk seranga berukuran sebesar bola pingpong, membuat lawannya lari kocar kacir, salah satu bomnya mendarat didekat Hidan, membuat lelaki bersenjata sabit itu repleks menghindar.
"BERENGSEK! APA KAU BERNIAT MEMBUNUHKU?." bentak Hidan emosi.
"A,ha ha ha, maaf Hidan, Aku benar benar tak sengaja." balas Dei sambil menggaruk belakang kepalanya.
.
.
Pertarungan semakin memanas, kakek berperban dan Lelaki bermasker tabung mulai turun tangan yang langsung disambut Itachi, Yahiko dan Nagato.
Lelaki bermasker tabung menembakan asap dari lubang masker tabungnya, kuperkirakan itu adalah asap racun. Namun Nagato dengan tanggap membalikannya dengan angin yang ia keluarkan dari mulutnya.
Sementara itu kakek dengan perban diwajahnya melemparkan sesuatu yang tak kasat mata, Itachi dan Yahiko sibuk menghindarinya, dibelakang mereka pohon pohon mulai tumbang, beberapa tembok pembatas jalan hancur terbentur sesuatu yang sepertinya disebabkan lemparan kakek berperban itu, sepertinya yang ia lemparkan semacam shuriken angin.
Pertarungan semakin mendekati babak Akhir, para anggota Nine Hunter Demon yang lain mulai ikut mengeroyok dua lawan sisanya itu setelah menyelesaikan pertarungan mereka.
kakek berperban dan Lelaki bermasker tabung mulai kewalahan, sekarang mereka kalah jumblah, Anggota Nine Hunter Demon terus menyerang maju, sementara mereka berdua dipaksa mundur sambil menahan serangan serangan lawannya.
Namun tiba tiba saja Aksi mereka dihentikan oleh kedatangan sepasukan yang dipimpin seorang kakek kakek berambut panjang warna putih dengan kumis, brewok dan janggut yang menyatu terjuntai se dada.
Dua orang yang tadi hampir dikalahkan mengambil kesempatan itu untuk mundur menjaga jarak dari lawannya, lalu tak lama kemudian muncul lagi sepasukan dari arah lain yang dipimpin oleh seorang lelaki berambut panjang hitam, dan disebelahnya seseorang yang rasanya pernah kulihat.
Orang itu..
.
.
Orang yang kulihat dimimpiku.
.
.
Orang yang memerintahkan Iruka-niisan untuk membunuhku.
.
.
"Kubunuh kau, Bajingan." .
.
_
Gimana Chapter ini? Membosankan kah? .
.
Give me your review ^_^
