Rose

[ A flowers that have five petals and often armed with sharp prickles ]


Itachi melangkah menuruni tangga, lalu tiba-tiba matanya membelalak lebar, begitu melihat seisi ruangan dipenuhi oleh kelopak bunga. Fugaku juga ada di sana, namun hanya berdiri diam dengan sebatang rokok di selipan jarinya terlihat frustasi.

Tidak mau ambil masalah, pelan-pelan ia mendekat, melangkah sangat hati-hati supaya tidak menginjak kelopak bunga yang bertebaran di atas lantai.

"Aku harus kembali ke Suna hari ini," ujar Itachi saat Fugaku menyadari keberadaannya. "Ada sedikit masalah, karena itu aku harus kembali sekarang, walaupun ini weekend."

Fugaku tidak merespon, ia menghisap batang rokok yang terselip di jemarinya kuat-kuat lalu memalingkan wajahnya.

Itachi menghela napas, ia memunguti satu persatu kelopak bunga yang berceceran di atas lantai. "Kau seharusnya meminta bantuan florist pirang itu, kenapa kau berhenti memanggilnya? kau tidak berbakat dalam hal ini."

"Sasuke tidak akan menyukainya," sahut Fugaku pelan.

Itachi mengernyit, awalnya ia tidak mengerti apa yang dimaksud Fugaku, lalu tiba-tiba saja ia mengingat percakapannya dengan Sasuke beberapa hari yang lalu. "Jadi begitu rupanya," gumamnya pelan. "Pria pemilik toko bunga yang menghilang, dan florist itu adalah pria yang sama, pantas saja."

Fugaku melirik ke arah Itachi memperhatikan raut wajah putra sulungnya sebelum membuka mulut. "Jangan lakukan hal yang bodoh, jika kau menjadi penghalang di antara mereka berdua, kau akan berurusan denganku."

Dan Itachi merespon dengan tertawa geli seraya melangkah ke arah pintu. "Kau masih saja pilih kasih," ujarnya sinis diselingi tawa sebelum jemarinya yang pucat meraih knop pintu.

.

Mobil yang dikendarainya berhenti tepat di salah satu kedai kopi, ia memesan kopi hitam kesukaannya lalu melangkah menyusuri trotoar. Dari seberang jalan iris hitamnya bisa melihat vas berukuran besar yang terisi penuh oleh berbagai macam jenis bunga, dan ia yakin jika itu adalah toko bunga yang ia cari.

"Tidak sulit," ungkapnya senang, merobek kertas berukuran kecil bertuliskan sebuah alamat dengan tinta hitam.

Langkahnya semakin lebar, lalu tiba-tiba berhenti ketika iris hitamnya menangkap sosok seorang pria bersurai pirang yang berada di balik jendela.

"Aku menemukanmu," gumamnya, sambil tersenyum sinis. Ia kembali melangkah ketika pria bersurai pirang menghilang dari balik jendela, menyebrangi jalan, lalu berhenti tepat tiga langkah dari vas bunga.

Iris hitamnya mengintip dari luar jendela, memperhatikan seisi ruangan beserta dua orang pria yang berada di sana. Pria bersurai pirang sedang mencampur beberapa bahan ke dalam alat penyiram bunga, sedangkan pria bersurai hitam di sebelahnya hanya duduk diam di atas sofa memperhatikan. Mereka berbicara, lalu tertawa, terlihat sangat akrab dan dekat, namun tidak terlihat seperti sahabat.

"Jadi seperti itu rupanya," gumamnya pelan. "Pantas saja aku tidak melihatmu di rumah, kau memilih pria itu walaupun hari ini aku harus kembali ke Suna." Ia membalikan tubuhnya, melangkah kembali ke arah mobilnya yang terparkir di depan kedai kopi seraya merogoh ponsel dari saku celana. "Hey, ini aku Itachi, apa kau bisa melakukan sesuatu untukku?"

.

"Kau lihat apa di jendela?"

Sudah tiga kali Naruto memperhatikan iris hitam Sasuke tertuju pada jendela, dan itu secara tidak sadar membuatnya juga ikut menatap ke arah jendela, tapi ia tidak melihat atau menemukan hal yang aneh.

"Tadi aku melihat seperti ada seseorang yang berdiri di sana, apa kau tidak melihatnya?" Sasuke balik bertanya, sedangkan Naruto hanya menatapnya tidak paham. "Aku melihat bayangannya di vas bunga," lanjutnya lagi.

"Mungkin itu hanya imajinasimu saja, atau mungkin itu bayangan tiang lampu jalan," ujar Naruto menaikan segaris alis serta mengedikan bahunya.

"Apa kau pikir tiang lampu jalan memiliki kepala, tangan, dan kaki?" Sasuke mengernyit, ia bangkit dari atas sofa, lalu melangkah keluar melalui pintu, cukup lama ia berdiri di sana, menatap ke arah kiri dan kanan trotoar jalan.

Dari dalam Naruto hanya bisa menahan tawanya, ia melangkah menghampiri Sasuke lalu berdiri tepat di sebelahnya. "Apa kau menemukannya?" Ia bertanya dengan tangan melipat di depan dada, tapi pria bersurai hitam itu sama sekali tidak meresponnya. "Ngomong-ngomong cuacanya sangat terik ya? Aku sangat menyukai sinar matahari seperti ini."

Sasuke melirik ke arah Naruto, menempatkan telapak tangannya di bahu pria yang memiliki kulit lebih gelap darinya, lalu berbisik pelan. "Dan aku membencinya." Ia menepuk bahu Naruto beberapa kali, lalu melangkah kembali ke dalam ruangan.

Naruto menatap Sasuke bingung untuk beberapa detik, lalu mengikutinya dari arah belakang. "Kau mungkin hanya tidak menyukainya, bukan membencinya." Ia membuka mulutnya ketika pria bersurai hitam itu kembali duduk di atas sofa.

"Aku membencinya," sahut Sasuke mantap. Ia bersandar pada punggung sofa, dan melirik ke arah Naruto ketika pria bersurai pirang itu duduk di sebelahnya. "Rumah, dan sekolah," ujarnya datar. "Aku menggabiskan seluruh masa kecilku hanya di dua tempat itu."

Naruto tidak membuka mulutnya, ia membiarkan Sasuke untuk berbicara lebih banyak.

"Kurasa Fugaku tidak sama seperti ayah yang lain, dia ingin Itachi dan aku menjadi penerusnya, karena itu, dia tidak pernah mengijinkan kami untuk meninggalkan rumah." Sasuke tersenyum pahit. "Aku iri dengan mereka, anak-anak yang bisa bermain dan berlari bebas di bawah terik matahari, sedangkan aku dan Itachi harus berada di dalam kamar bersama tutor dan buku-buku yang menumpuk, karena itu aku membencinya."

"Apa kau tahu? Aku bisa membuatmu merasakan bagaimana teriknya sinar matahari yang menyenangkan," ucap Naruto menarik paksa lengan Sasuke. "Kau tidak akan membencinya lagi," lanjutnya tersenyum tipis.

"Huh?"

Belum sempat Sasuke menolak, Naruto sudah lebih dahulu menariknya ke luar ruangan dan berlari menyusuri trotoar.

"Whoohooo! Bukankah ini menyenangkan Sasuke!" Naruto tersenyum lebar, matanya sedikit menyipit akibat terik matahari yang begitu menyengat, sedangkan Sasuke yang berada di belakangnya hanya bisa menatapnya kesal, dengan napas terengah-engah, dan wajah memerah menahan panasnya terik matahari, dan juga malu saat orang lain menatap aneh ke arahnya.

"Apa kau sudah gila! Semua orang menatap kita" Sasuke bisa merasakan cengkraman tangan Naruto semangkin erat di lengannya, ia merasa percuma saja untuk memberontak.

Naruto hanya merespon dengan tertawa, ia sama sekali tidak peduli, langkah kakinya semakin lebar, dan cepat menuju salah satu taman yang terletak persis di sudut blok. Sedangkan Sasuke berusaha sekuat tenaga untuk mengimbangi kecepatan langkah Naruto, panasnya terik matahari seakan membuatnya kehilangan akal, ia berhenti memprotes dan mulai menikmati, hingga Naruto menghempaskan tubuhnya ke salah satu bangku taman.

"Bukankah... ini... menyenangkan?" Naruto berbicara diselingi napas yang terengah seraya menatap Sasuke yang berada di sebelahnya, sambil tertawa.

Iris hitam Sasuke melirik ke arah Naruto, bulir keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya, ia tidak menjawab, tenggorokannya, telapak kaki, beserta kulit wajahnya terasa panas.

"Wajahmu yang pucat, sekarang terbakar, kau benar-benar terlihat seperti kepiting rebus." Naruto kembali terkekeh geli, ia menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering lalu, merogoh saku celana, "Pakai ini," ucapnya memberikan selembar sapu tangan berwarna oranye terang pada Sasuke.

Masih tidak membuka mulutnya, Sasuke mengambil sapu tangan milik Naruto, lalu menyeka seluruh keringat di wajahnya.

"Sekarang katakan padaku Sasuke," ucap Naruto sedikit memaksa. "Apa ini menyenangkan? Kau masih membenci terik matahari?" Ia tersenyum tipis, menanti jawaban yang nantinya akan terlontar dari bibir berwarna pucat itu.

Sasuke menarik napas dalam, lalu menghembuskannya seraya bangkit dari atas bangku taman. "Ini menyenangkan," sahutnya pelan seakan malu mengakui. "Tapi aku masih sedikit membencinya," lanjutnya lagi melangkah menjauh, meninggalkan Naruto yang tersenyum puas ke arahnya.

.

Sasuke tidak pernah merasa jika waktu berjalan sangat cepat, rasanya baru saja ia datang mengunjungi Naruto tadi pagi dan sekarang jam sudah menunjukan pukul delapan malam, bahkan pria pirang itu sudah mulai membereskan vas bunga satu persatu karena sebentar lagi ia akan menutup tokonya.

"Aku memesan ramen untuk makan malam, apa kau ingin menu lain?"

Sasuke menggeleng, lalu diam-diam ia melirik ke arah Naruto yang saat ini sedang menghitung jumlah persediaan bibit bunganya. Sebenarnya ia tidak peduli dengan makan malam, karena ia juga tidak lapar, yang ada di dalam otaknya saat ini adalah ia ingin menghabiskan waktu bersama naruto selama dua puluh empat jam, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengatakan hal itu.

"Tidak mungkin," gumam Sasuke pelan mengenyahkan perasaan campur aduk yang menghantuinya.

"Apa kau mengatakan sesuatu?" sela Naruto.

Tubuh Sasuke tersentak kaget, ia menoleh ke arah Naruto lalu cepat-cepat mengelaknya.

"Baiklah," Naruto mengangguk mengerti. "Kalau begitu, aku akan pergi ke supermarket di seberang jalan, kalau pengantar ramen itu datang kau bisa—"

"Ya, ya," potong Sasuke cepat. "Aku akan mengurus hal itu," lanjutnya lagi, dengan kedua iris hitamnya membuntuti Naruto ketika pria pirang itu melangkah ke luar melalui pintu.

Ia menghela napasnya panjang, lalu bersandar pada punggung sofa. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini dengan orang lain sebelumnya, rasa tertarik yang begitu kuat, membuat jantungnya seakan ingin meloncat ke luar, hampir bisa disamakan dengan obsesi, dan itu tentu saja membuatnya takut.

"Obsesi, huh?" gumamnya pelan. "Kenapa aku bisa memikirkan hal semacam itu—"

Perkataannya terpotong oleh ketukan di pintu kaca, ia melangkah menghampiri, lalu membuka pintunya, berharap pengantar ramen yang berdiri di sana tapi ternyata ia salah. Seorang pria berseragam putih, mengenakan topi yang juga berwarna putih, membawa secarik kertas dan pena di tangan kanannya.

"Apa kau tuan Uzumaki Naruto?"

Sasuke menaikan segaris alisnya, iris hitamnya menyelidik sesosok pria di hadapannya. "Bukan, aku ini— temannya." Ada jeda sesaat, mengingat akan sangat aneh jika seorang pria sepertinya berkata jika 'aku ini kekasihnya'

"Itu bukan masalah, aku hanya pengantar bunga dari perkebunan." Pria itu tersenyum ramah, lalu ia pergi ke arah belakang truck, dan kembali dengan beberapa orang pria, masing-masing pria membawa satu kotak besar berisikan bunga mawar.

Sasuke hanya diam memperhatikan.

"Maaf tuan, kau harus tanda tangan di sini." Pria itu melangkah mendekat dan menyerahkan sebuah kertas beserta pena, tanpa berpikir dua kali, Sasuke mencoretkan tanda tangannya di sana.

"Terima kasih."

Sasuke bergumam tidak peduli saat pria itu lagi-lagi tersenyum ramah ke arahnya sebelum pergi kembali ke dalam truck. Lalu ia melangkah sangat hati-hati ke arah sofa, seisi ruangan menjadi sempit dipenuhi oleh kotak, menyulitkannya untuk melangkah.

"Si bodoh itu membeli bunga mawar sebanyak ini untuk apa?" gumamnya, memperhatikan seisi ruangan yang dipenuhi oleh mawar, entah berapa jumlahnya, puluhan, ratusan, ia tidak tahu, bahkan bunga-bunga yang lain terlihat kalah menonjol jika di bandingkan dengan bunga mawar merah yang terlihat sangat segar.

Ia terdiam untuk berpikir, lalu tiba-tiba saja wajahnya menjadi merah padam.

"Kenapa aku bisa sangat bodoh," rutuknya pelan.

Ia tahu jika sepasang kekasih, melakukan hal 'itu' tentu saja bukan masalah. Mereka sama-sama dewasa, dan membutuhkan. Tapi ia tidak pernah menyangka jika Naruto akan melakukan hal clichè seperti ini, memenuhi seluruh ruangan dengan bunga mawar, kenapa tidak langsung saja memintanya? Memikirkan semua hal itu tidak membantunya sama sekali, ia berusaha menenangkan dirinya walaupun sebenarnya itu semakin membuatnya salah tingkah.

"Sasuke, aku bertemu pengantar ramennya di depan sana bukankah itu kebetu— huh? Kenapa banyak sekali bunga mawar?"

Sasuke menoleh ke arah pintu, dan benar saja, tepat seperti dugaannya, Naruto berdiri di sana seakan-akan ia tidak mengetahui tentang ratusan bunga mawar di hadapannya, dan jujur saja itu membuatnya sedikit kesal.

"Apa kau yang memesan semua ini?" Naruto melangkah pelan-pelan mendekati Sasuke, iris birunya memperhatikan satu persatu kotak dengan label unik tertempel di masing-masing sisi. "Aku mengenal perkebunan mawar ini, letaknya di utara kota dan mereka adalah perkebunan mawar unggul."

Sasuke diam saja, ia membiarkan Naruto berbicara sesukanya, perasaanya campur aduk saat ini, gugup karena memikirkan hal 'itu' dan juga kesal karena pria pirang di hadapannya masih saja bersikap layaknya ia tidak tahu.

"Uhh..." Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Setelah meletakan ramen di atas meja ia melangkah mendekati Sasuke dan duduk persis di sebelahnya.

Mereka berdua saling menatap, tapi tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Kesal menunggu lama, dan Naruto yang masih saja bersikap layaknya tidak tahu apa-apa, Sasuke menarik kerah baju si pirang, lalu menciumnya, mempersatukan bibir mereka dalam lumatan yang saling mendominasi.

Tidak mau kalah, Naruto menggunakan tangannya untuk mendorong tubuh Sasuke ke atas sofa.

"Kau menciumku dengan paksa, apa kau tidak sadar sejak tadi kau menatapku seperti itu? Tatapan matamu terlihat seakan-akan kau kesal padaku."

"Apa kau masih harus bertanya? Lihat di sekitarmu, jangan berpura-pura lagi," sahut Sasuke menarik kerah baju Naruto semakin mendekat ke arahnya.

"Kau benar, seharusnya aku menyadarinya sejak tadi." Naruto tersenyum tipis, ia merasa sangat bodoh, untuk tidak menyadari jika Sasuke sudah melakukan semua hal ini hanya untuknya, memenuhi seisi ruangan dengan bunga mawar, dan ia bersikap layaknya tidak tahu apa-apa. "Apa kau mau melakukannya?" Ia berbisik pelan.

Dan Sasuke merespon dengan mengambil sebatang bunga mawar dari dalam kotak, lalu mengigit batangnya dengan menaikan segaris alis.

Mereka tidak lagi mempedulikan kondisi di sekitarnya, pria bersurai pirang hanya terfokus pada pria bersurai hitam, begitu pula sebaliknya, bahkan mereka tidak menyadari jika sebenarnya ada secarik kertas berwarna biru muda terikat di salah satu kotak bertuliskan dengan tinta hitam,

'Thank me later — Uchiha Itachi'

.

Continued