...
Chapter 7
Place To Hide
Author : Yeolvin
Main Cast : ● Byun Baekhyun
● Park Chanyeol
● Oh Sehun
● Other cast find alone
Pairing : ChanBaek, HunBaek
Genre : Romance, Drama, Humor
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love , Boy x Boy
Rating : T
Note : No bash, No plagiat And No copas because this is purely my thoughts.
Sorry for Typo
Don't like don't read!
Hope you enjoy for reading...
.
.
.
Chanyeol dan teman-teman sekawannya sedang mengadakan rapat untuk kegiatan baru di ekstrakulikulernya. Kali ini ia harus mengikuti kegiatan yang penuh dengan tantangan tersebut yang di adakan satu bulan sekali dengan tema aktivitas yang berbeda. Semua sepakat bahwa esok hari mereka akan bermain Arung Jeram di perbatasan sungai Donggang dan Seogang tepatnya di kabupaten Yeongwol.
Sehun mengemukakan pendapatnya bahwa yang ikut dalam kegiatan ini, boleh dari luar sekolah atau kalangan orang yang tidak ada hubungannya dengan ekstrakulikuler tersebut untuk berpartisipasi menyelenggarakan keramaiannya acara. Chanyeol dan Jong in pun tampak setuju atas usulan Sehun itu.
Hari ini Chanyeol melihat Sehun tampak bersemangat dan bersikap seperti Sehun yang di kenalnya sebagai sahabat. Bukan Sehun yang seperti di hari kemarin yang menatapnya dengan sorotan tajam. Dan itu berakhir setelah Sehun menemui Baekhyun kemarin. Walaupun Chanyeol tahu Sehun masih mempunyai rasa kesal padanya, Sehun berusaha untuk tidak menunjukkan rasa amarahnya itu pada dirinya dengan sebuah kata "Aku akan mengajak Baekhyun dalam urusan ini. kau tidak keberatan?" Awalnya Chanyeol terkejut. Bagaimana bisa Sehun mengajak Baekhyun dalam kegiatannya kali ini. Chanyeol pikir Baekhyun tidak berminat untuk mengikuti kegiatan semacam ini. Lalu Chanyeol menanggapinya dengan santai. "Kenapa kau beritahu aku? Itu urusanmu." Chanyeol menyusun skripsinya setelah rapat mereka selesai.
"Kau bisa menolaknya jika kau keberatan aku mengajak Baekhyun."
Chanyeol menghela nafas "Sebagai ketua, tentunya aku harus men-toleransi opini wakil pemandu. Jadi aku tidak akan banyak berdebat soal pemikiran kita yang tidak sepadan. Kenapa kau bisa mengatakan aku keberatan soal Baekhyun? Dari awal aku sudah menyetujui usulanmu juga menyuruhmu untuk menentukan pendapatmu dan aku sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang kau rencanakan." Jelas Chanyeol lebar.
"Hanya saja aku juga butuh toleransimu. Kita adalah satu tim. Kau juga bisa mengajak seseorang untuk memeriahkan kegiatan kita."
"Mengajak seseorang ? Siapa? Di rasa aku tidak perlu melakukan itu. Karena aku hanya akan fokus pada acara." Chanyeol berniat meninggalkan Sehun yang sedang mematung, tapi ia palingkan kembali wajahnya pada Sehun. "Ohh iya, aku ragu jika Baekhyun benar – benar ikut. Semoga saja dia tidak mengecewakanmu." Chanyeol tersenyum lebih ke menyeringai dan Sehun masih belum bisa mencerna apa maksud dari perkataan pria bertelinga lebar yang telah menyisakan dirinya seorang diri di ruangan itu karena Jong In dan teman – temannya yang lain telah keluar sebelum Chanyeol.
...
"Sekarang aku merasa lebih baik Yixing-ge."Ujar Baekhyun saat dirinya mempunyai pertemuan dengan psikolog bernama Yixing tersebut di sebuah cafe.
Yixing tersenyum menanggapi perkataan Baekhyun. "Semuanya membutuhkan proses. Kau akan lebih baik setiap harinya. Percaya padaku."
"Terimakasih Yixing-ge. Menurutku kau benar. Tentang hal kecil atau apapun itu yang ku ingat, bisa sangat mempengaruhiku. Dan aku tidak bisa katakan itu dendam atau apa."
"Jadi kau menyadarinya?"
"Aku sudah merasa sedikit lega. Karena tidak seharusnya aku salah paham terhadap seseorang."
Yixing mengangguk-anggukan kepalanya tanda ia mengerti "Baekhyun, apa kau ada rencana untuk melanjutkan kuliah setelah ini?"
"Hmm... aku sangat ingin."
"Kalau begitu di mulai dari sekarang kau harus belajar bersosialisasi. Sering pergi keluar rumah dan pergi ke tempat-tempat yang menyenangkan walau kau tidak ingin. Aku sengaja membuat pertemuan kita di kafe ini supaya kau terbiasa." Baekhyun sedikit keberatan dengan semua yang yixing katakan. Ia hanya mengernyit. "Kau harus melakukannya. Turuti apa perintahku jika kau ingin melawan rasa takutmu."
"A..akan ku coba semampuku. Suho hyung juga sering menyuruhku untuk bermain ke luar rumah." Baekhyun menyeduh teh yang nyaris dingin di mejanya.
"Benarkah?"
"Iya, kemarin malam aku melihatnya pergi. Apa kau tahu dia pergi kemana?"
"Kau tidak tahu? mengapa dia tidak memberitahukan padamu."
"Yixing-ge mengetahui sesuatu?"
"Dia hanya ingin bersenang-senang untuk mengeluarkan penatnya setelah bekerja. Untuk seorang dokter tidak ada salahnya pergi ke club."
"Club? Apakah denganmu..."
.
.
Baekhyun berjalan mengiringi langkah kaki dengan tempo musik yang ia dengarkan melalui headset setelah menemui Yixing di pertemuan cafe tadi. Baekhyun terus berjalan untuk pulang seorang diri dengan cahaya matahari sore sehingga memunculkan warna orange dan jingga di langit yang membentang itu. Semua tampak nyata dan Baekhyun merasakan suasana hidup di dunianya. Baekhyun mencoba menikmati indahnya kota Seoul yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Jika di pikir memang benar kalau dirinya mulai bosan dengan kehidupannya yang sekarang. Namun semua itu adalah takdir baginya. Baekhyun seperti orang normal lainnya berada di tengah-tengah kota itu. Seolah dia tidak mempunyai gangguan tentang psikisnya walau ia tahu kakinya terasa dingin menahan suatu perasaan yang tidak ia mengerti.
Sehun mengendarai motornya ketika ia baru saja pulang sekolah. Saat itu pula ia melihat Baekhyun di jalan. Tampaknya orang itu tidak mengenali keberadaan Sehun hingga dia mulai menghentikan laju motornya dan menyapa kekasihnya.
"Hai Baekhyun.." Orang mungil di sana itu melepaskan semacam kabel yang menghubungkan ke telinganya.
"K..kau.."
Baekhyun dan Sehun duduk di kursi yang tersedia di tempat itu. melangsungkan mereka melihat ke sebuah matahari yang nyaris tenggelam di perpaduan suryanya dan memarkirkan kepunyaan Sehun di sana.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Sehun menatap Baekhyun.
"Habis dari kafe. Lalu mengapa kau lewat jalan ini?"
"Aku memang ingin mampir ke rumahmu tadi. Tapi ternyata kau ada di sini."
Hening
"Sehun.. mengapa kau tidak pernah bertanya soal hal pribadi tentangku. Aku rasa aku tidak pernah mengatakan kehidupanku padamu. Tapi kau dengan terbukanya memberitahu aku segalanya tentangmu. Sebenarnya kau malu bertanya atau tidak peduli dengan urusanku?"
Sehun tersenyum menanggapinya."Hha, aku hanya ingin kau sendiri yang mengatakan tentang hal pribadimu tanpa aku harus bertanya. Karena aku tak ingin membuatmu risih dengan pertanyaan ku."
"Baiklah. Apa yang ingin kau tahu dariku?"
"hmm... bagaimana rasanya setelah ciuman denganku?"
"Yak! Mengapa kau tanya itu.." ucapnya malu dan nadanya sedikit membentak.
"Katakan saja Baekhyun ~ " Sehun tersenyum jahil di hadapannya.
"A..aku tidak tahu." Sanggahnya.
"Arraseo. Bagaimana dengan pertanyaan yang lain. Kapan terakhir kali kau mencukur bulu ketiakmu?"
"Hei ! Apa itu penting? Oh Sehun kau benar – benar..." Baekhyun terlihat kesal dan mengerucutkan bibirnya lucu dengan kedua tangan melipat di dadanya. sedangkan Sehun tertawa karena tingkah orang mungil di sisinya.
" Aku hanya bercanda. Sebenarnya bukan itu yang ingin ku tahu." Sehun bersikap santai dan menengadah melihat pada langit yang kian gelap. "Tentang sekolahmu... bagaimana?" Baekhyun langsung menatap Sehun dan melepaskan lipatan tangannya. "Kau tidak pernah cerita tentang sekolahmu, teman-temanmu, ataupun keluargamu. Aku sangat ingin tahu semua itu. Jadi beritahu-
"Aku putus sekolah sekitar delapan bulan yang lalu." Baekhyun memotong ucapan Sehun. sedangkan orang yang lebih tinggi agak terkejut dengan perkataan Baekhyun. "Aku sengaja memutuskan sekolah karena aku punya alasan tertentu, Aku berakhir dengan home schooling saat ini. Jadi aku selalu berada di rumah." Jelasnya.
"Kenapa?" Ucap Sehun pelan hampir tak terdengar.
"Di sekolah dulu, aku hanya punya satu teman. bisa kau bayangkan betapa aku tidak pandai dalam bergaul. Kedua orang tua ku meninggal saat gempa bumi di kota Myeong-dong delapan tahun lalu. Keluargaku satu-satunya adalah hyung. Dia sangat baik dan peduli padaku." Baekhyun menyunggingkan senyuman tipisnya. "Sehun-ah bisa kau mengerti aku?"
Sehun mengangguk sebagai respon. "Tapi alasan apa yang membuatmu putus sekolah?"
Baekhyun mendesah "Karena sesuatu telah terjadi padaku." Ucapnya pelan tapi masih jelas terdengar.
"Maksudmu?"
Baekhyun berdiri dari duduknya. "A..aku akan pulang. sebaiknya kau juga pulang." Baekhyun mulai membelakangi Sehun untuk meninggalkannya. Sehun segera menahannya dengan memegang tangan Baekhyun.
"Ough, tanganmu dingin sekali." Ujar Sehun. Baekhyun langsung melepaskan tangannya dari Sehun dan ia gugup. "Kau kedinginan?" Tanya pria albino itu. Namun Baekhyun menggeleng dan pergi. Bahkan ia mempercepat langkahnya.
"Baekhyun!" Sehun mensejajarkan langkahnya untuk menyamainya. Sehun merasa ada yang tidak beres dengan Baekhyun dan ia khawatir."Kau kenapa? Kau baik-baik saja?"
"A..aku tak apa." Sehun meraba dahi dan kening Baekhyun yang berkeringat karena Sehun baru menyadari kalau Baekhyun terlihat pucat.
"Aku antar kau pulang. ya?" Sehun menaiki motornya yang sedari tadi terparkir di tempat itu. lalu ia mengantarkan Baekhyun menuju rumahnya. Sesampainya, Baekhyun memasuki kediaman apartemennya dan saat ia berada di tangga, dirinya melambaikan tangan pada Sehun sebagai ucapan salamnya karena ia tidak mengucapkan apapun tadi. Sehun pun balas melambai dan Baekhyun kembali masuk ke dalam. Bahkan Sehun lupa untuk mengatakan pada Baekhyun bahwa besok ia ingin mengajak Baekhyun ke perbatasan sungai untuk kegiatan ekskulnnya. Tapi Sehun akan mencoba membicarakan hal ini lewat telepon. Sehun yang sudah pergi mengendarai motornya tampak memikirkan tentang Baekhyun. Sehun tidak mengerti dengan sikap Baekhyun. Setiap bertemu, Baekhyun akan memintanya segera pulang. Ada apa dengannya pikir Sehun.
.
Blaaam
Baekhyun menutup pintu apartemennya. Memungkinkan dia untuk mengumpulkan ketenangannya. Baekhyun hampir saja terserang paniknya tadi saat bersama Sehun di luar. Tapi buru-buru Baekhyun meminum obat penenang yang di berikan Yixing waktu itu sehingga ia bisa pulih dengan cepat. Dadanya bergemuruh dan nafasnya naik turun. "Mengapa? Mengapa ini kembali?" Baekhyun mendesah. "Aku sudah sangat muak dengan ini." Ia merenggut frustasi. Rasa cemas dan takutnya masih belum tertahankan dan Baekhyun lemah. Dalam kesadarannya seperti itu Baekhyun tahu paniknya datang karena ia berada di luar rumah tadi. Dan juga karena Sehun bersamanya. Dari pertama bertemu Sehun, Baekhyun memang mempunyai perasaan panik dan cemas. Tapi ia ingin menyembunyikan perasaan itu di hadapan Sehun. Baekhyun merasa serba salah. Ia ingin bersama Sehun tapi tubuhnya seperti ingin menolak. Apa yang salah? Sehun adalah orang yang baik tapi Baekhyun tidak bisa menahan perasaan ini bila dekat dengannya.
Baekhyun merosot terduduk di lantai dan menangkupkan kedua tangannya pada lutut yang di tekuk itu. wajahnya ia benamkan di sana hingga seseorang mengetuk pintunya dan masuk.
"B..baekhyun?" Chanyeol memanggil nama itu dan Baekhyun menatap Chanyeol lemah.
Chanyeol mulai mendekat pada Baekhyun dan menjongkokkan badannya untuk bisa melihat pria mungil yang duduk menyender di dinding itu. Tadinya Chanyeol bermaksud menemui Baekhyun karena ingin menanyakan mengapa Baekhyun membereskan rumah Chanyeol yang berantakan. Tidak seharusnya Baekhyun melakukan semua itu. Chanyeol hanya ingin mengucapkan terimakasih. Tapi setelah Chanyeol menatap Baekhyun, tiba-tiba ia memeluk pria mungil itu dalam satu gerakan. Saat Chanyeol akan melepaskan pelukan itu, Baekhyun memeluk Chanyeol semakin erat. Sehingga Chanyeol tidak bisa melepaskan pelukannya.
"Baek.."
"Biarkan... biarkan aku." Baekhyun membenamkan kepalanya di dada bidang Chanyeol.
Hening
Chanyeol mengusap surai hitam Baekhyun dan menyapunya lembut. Baekhyun sudah mulai tenang karena orang di sisinya yang mampu mengusir dan mengendalikan rasa takutnya. Memang siapa Chanyeol? mengapa dia bisa membuat Baekhyun senyaman ini? Selain Suho ia tidak pernah merasakan perasaan setenang ini bersama orang lain. Tapi dengan Chanyeol lain hal. Takdir seperti membawa Chanyeol padanya untuk memberikan kehangatan ketika ia kedinginan, memberikan ketenangan ketika ia cemas, dan energi ketika dirinya lemah juga kekuatan untuk menghilangkan rasa takutnya. Chanyeol datang di waktu yang tepat ketika ia membutuhkannya. Menurut Baekhyun, Chanyeol memang datang untuk melindunginya. Chayeol adalah tempat persembunyiannya yang baru setelah rumah.
Drrrrtt drrrtt...
Getaran ponsel Baekhyun menyadarkan mereka. Baekhyun melepaskan pelukannya dan mengangkat benda persegi panjang itu.
"Y..ya Sehun." ucap Baekhyun pelan saat menerima sambungan dari kekasihnya. Chanyeol langsung menatap Baekhyun begitupun Baekhyun yang menatap Chanyeol.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."
"Ne."
"Hmm..." Baekhyun menggigit bibir bawahnya tampak gelisah dan Chanyeol melihat itu. "A..aku... maaf. Aku tidak bisa ikut denganmu besok. Kau tak apa kan?"
"Iya, selamat malam." Baekhyun menutup sambungannya.
"Apa Sehun ingin mengajakmu dalam acaranya?" Tanya Chanyeol. Sedangkan Baekhyun mengangguk. "Tak ada salahnya kau mengikuti kegiatan itu. Menurutku kau ikut saja."
"Tapi... aku takut." Baekhyun menggeleng dan ia benar-benar tidak ingin mengikuti kegiatan itu yang mungkin bisa membuatnya panik.
"Kau tidak perlu takut. Aku juga ikut kok." Baekhyun tetap menggeleng karena ia tidak bisa bayangkan hal apa yang akan terjadi. Chanyeol memegang kedua bahu Baekhyun. "Baek, mencobanya. Kau tidak akan takut." Tangan Chanyeol menelusur ke bawah bermaksud untuk memegang tangan Baekhyun. "Jika kau takut, kau bisa memegang tanganku seperti ini. Kau tidak sendirian karena kita bersama-sama. Di sana kau bisa melatih mentalmu. Itu menyenangkan Baek. Percayalah." Baekhyun tampak ragu. Ia jadi teringat ucapan Yixing tadi sore. Apapun itu Baekhyun harus mencobanya.
"Tapi... jika aku benar-benar ikut, kau tidak boleh menjauh dariku ataupun meninggalkanku." Chanyeol langsung tersenyum. Dan sialnya senyuman tampan itu pertama kalinya membuat Baekhyun berdegup. Mengapa Baekhyun baru menyadari kalau Chanyeol benar-benar sangat tampan. Baekhyun mengerjapkan matanya ketika Chanyeol mengacak rambutnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu. Ohh iya, kau membereskan apartemenku. Terimakasih. Seharusnya kau tidak perlu repot melakukan itu."
"Iya, sama-sama. Aku hanya tidak suka melihat ruangan yang berantakan jadi aku ingin membereskannya."
Chanyeol melihat ke buku – buku yang menumpuk di meja Baekhyun dan ia menghampirinya.
"Apa home schooling menyenangkan?"
"Eoh?" Baekhyun berdiri dan ia merasa hidup kembali. "Tidak. Menurutku biasa saja."
.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun pergi bersama pagi-pagi sekali. Mereka sudah bersiap-siap membawa tas yang penuh dengan perlengkapan yang mereka butuhkan. Suho teramat senang karena Chanyeol mengajak Baekhyun bersamanya. Itu berarti Baekhyun akan mendapatkan petualangannya hari ini dan itu pasti akan melelahkan. Inilah yang Suho inginkan. Membuat adik kesayangannya itu kembali pada dirinya yang dulu.
Baekhyun dan Chanyeol telah sampai di Daejeon High School. Chanyeol melihat ke isi ruang kelasnya yang kosong. Pikirnya semua murid yang mengikuti kegiatan itu belum datang karena mungkin ini masih terlalu awal. Jadi mereka berdua menunggu di sana dan Baekhyun masih terlihat mengantuk saat itu. Setelah mereka berdua menunggu sekitar 15 menit lamanya, Chanyeol tampak heran karena tidak ada satupun yang datang padahal ini sudah waktunya mereka pergi.
"Kita menunggu di luar saja." Ucap Chanyeol menarik lengan Baekhyun dan Baekhyun menuruti apa kata Chanyeol. Pria bertelinga lebar itu mengangkat ponselnya saat Jong In tiba- tiba menelponnya saat dirinya dan Baekhyun berada di gerbang sekolah.
"Mengapa kau belum datang? Aku dan rombongan sedang berada di perjalanan. Mungkin sebentar lagi kami akan sampai. Dimana kau sekarang?" ucap suara di seberang telepon.
"Apa! K..kalian... Aissshhh sial. Aku tertinggal."
"Kau ini bagaimana? Cepat datang."
"Iya tunggu aku Jong In" Chanyeol menutup sambungannya secara sepihak. Lalu ia menarik tangan Baekhyun untuk memasuki Bus yang baru saja lewat di hadapannya.
"Apa kita terlambat?" Tanya Baekhyun ketika ia dan Chanyeol duduk di kursi Bus.
"Sepertinya begitu."
.
.
Baekhyun tertegun ketika ia dan Chanyeol telah sampai di kabupaten Yeongwol. Butuh waktu lama perjalanan dari Seoul ke sungai Donggang mereka lalui dan akhirnya mereka sampai walau kedatangannya terlambat. Tapi rombongan mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan mereka menyambut Chanyeol sang ketua untuk segera mengobservasi kegiatannya. Di sisi lain mereka merasa asing dengan orang yang berada di samping Chanyeol. Baekhyun agak risih ketika di perlihatkan seperti itu tapi Chanyeol mempererat genggamannya. Chanyeol menatap Baekhyun dan tersenyum simpul untuk meyakinkan Baekhyun bahwa ini akan baik-baik saja.
"Chanyeol, siapa dia?" Tanya orang itu yang termasuk dalam bagian tim mereka.
"Apa dia pacarmu?" sahut seseorang yang lain.
"Dia begitu imut, kalian sangat serasi."
"Bukankah Chanyeol adalah mantannya Sooyoung, tidak mungkin dia berubah menjadi gay." Celetuk orang yang berada di sana. Membuat Baekhyun langsung menatap Chanyeol.
"Apa karena dia, kau jadi datang terlambat?"
"Hei, aku tanya siapa namamu manis?"
"Baekhyun.." orang dengan perawakan albino itu menatap dua insan di sana dengan sorotan tidak mengenakan. Baekhyun dan Chanyeol baru menyadari kehadiran Sehun di tengah-tengah rombongan itu. Sontak semua orang di sana terdiam karena melihat perubahan tingkah Sehun yang mendekati orang mungil di sisi Chanyeol.
"Apa tadi kau baru saja menyebut namanya?" Tanya orang yang sempat menyanyakan nama Baekhyun pada Sehun. tapi Sehun mengacuhkannya.
"Kau bilang kau tidak akan ikut. Lalu mengapa kau ada di sini?" Sehun bertanya pada Baekhyun sambil melihat tangan Baekhyun yang di genggam oleh sahabatnya sendiri.
"I..itu...aku.." Baekhyun meremas tangan Chanyeol pelan karena ia tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana pada Sehun.
"Aku yang memintanya datang. Tadinya Baekhyun tidak akan pergi. Tapi ia berubah pikiran saat aku hendak bersiap-siap kemari pagi sekali. Jadi dia pergi bersamaku." Jelas Chanyeol dilandasi sedikit kebohongan kecil.
Sehun bisa mempercayainya dan ia semakin mendekati Baekhyun untuk meraba keningnya. "Kemarin benar kau tidak apa-apa?" Baekhyun melepaskan tautan Chanyeol dan ia memasukkan kedua tangannya di saku mantelnya.
"Hmm.. sudah ku bilang aku baik." Baekhyun tersenyum untuk menutupi tingkat kegugupannya.
"Yak! Oh Sehun, kau mengenalnya?" Sahut orang yang sedari tadi penasaran dengan sosok Baekhyun.
"Tentu saja. Dia ini pacarku." Tandas Sehun. sontak semua orang di sana bersiul menggoda. Baekhyun di buatnya malu. Lalu Sehun menarik Baekhyun menjauh dari sana dan menjauhkannya dari Chanyeol. Baekhyun sempat menatap Chanyeol sesaat dan Chanyeol hanya tersenyum tipis padanya.
"Oh, ternyata orang imut itu pacar Sehun.."
Tidak ingin mendengar ocehan teman se-tim nya, Chanyeol melenggang pergi dari sana untuk mencari Jong In yang belum di lihatnya karena harus mengurusi suatu hal.
Chanyeol memimpin persiapan dari mulai membuat tenda, mengumpulkan profil siswa untuk pembagian regu, Dan mengamankan kelangsungan acara. Chanyeol yang saat ini sedang memakai pelampungnya untuk segera bermain Arung Jeram, diam – diam ia memperhatikan Baekhyun dari jauh. Baekhyun tidak menyadari Chanyeol melihatnya di bukit yang tinggi itu. karena ia sedang duduk di batu-batu besar yang berada di bawah sungai. Sehun meninggalkannya karena dia bilang ada kepentingan tentang apapun itu yang jelas Baekhyun tidak tahu. Baekhyun mempoutkan bibirnya. Saat ia akan berbalik, ia bertatapan dengan teman lamanya Daehyun. Baekhyun sempat terkejut ketika ternyata Jongdae juga berada di sana.
"Halo Baekhyun.." Sapa Daehyun ramah dan hangat seperti biasa ketika mereka bersama di sekolahnya dulu.
"Hai.." Baekhyun tersenyum manis.
"Senang bertemu denganmu lagi. Ternyata kau juga ikut ke sini ya?" Daehyun dan Jongdae berada di sana karena mereka juga ikut bagian dalam kegiatan ini.
"Hmm.." Baekhyun mengangguk dan senyumannya masih terpatri di wajah teduhnya. "Kalau begitu aku permisi. Aku harus menemui seseorang." Saat Baekhyun akan pergi meninggalkan kedua pria di sana itu, Jongdae memanggil namanya membuat Baekhyun berhenti untuk melangkah.
"Maafkan aku." Sepatah kata yang meluncur dari mulut Jongdae membuat Baekhyun langsung membulatkan matanya. "Maafkan aku, aku salah. Seharusnya aku berfikir dua kali ketika aku berniat mencelakaimu. Aku sadar kalau ternyata perbuatanku itu membuatmu tidak lagi sekolah disana. Dan aku tidak bisa lagi melihatmu saat itu. kau tahu itu membuat hatiku sakit." Jongdae berhambur memeluk Baekhyun. Dan Baekhyun membeku di sana. "Aku merindukanmu, hiks, aku tak pantas menyukaimu. Tolong maafkan aku." Baekhyun melepaskan pelukan Jongdae yang membuat hatinya sesak, air matanya ia tahan untuk tidak turun.
"J..Jongdae-ya, aku sudah memaafkanmu. Lebih dari itu aku berusaha melupakan kejadian yang lalu. Aku juga minta maaf karena bersikap dingin padamu." Baekhyun tersenyum tulus. "Aku tidak menyimpan dendam atau apapun. Jadi bersikaplah seperti Jongdae yang ku kenal." Baekhyun merogohkan tangannya untuk berjabat tangan dengan si wajah kotak itu. Dan Jongdae langsung menjabat tangan lentik Baekhyun untuk berdamai.
Dari segi pandang Chanyeol, Chanyeol mengerti dan ia segera turun menuju sungai di bawah itu.
"Baekhyun." pekik Chanyeol. Baekhyun langsung menghadap orang yang memiliki suara bass itu. Chanyeol mendekati Baekhyun dan membawakannya pelampung berwarna orange untuk di pakainya.
"Hei kau kan Park.." Daehyun memotong ucapannya karena ia tidak tahu memanggil nama orang bertelinga lebar itu dengan sebutan apa. Tapi ia cukup yakin pernah bertemu Chanyeol.
"Aku Park Chanyeol." Chanyeol tersenyum.
"Ahh iya, senang bertemu denganmu. Aku Daehyun."
"Aku tahu. karena waktu itu Baekhyun sempat menyebut namamu."
"Chanyeol, kenalkan dia Jongdae." Baekhyun memperkenalkan Jongdae.
"Ahh.. semoga kita bisa berpartisipasi."
Dua teman lama Baekhyun pergi meninggalkannya berdua dengan Chanyeol di sungai. Baekhyun memakai pelampungnya dan ia sedikit gugup untuk bermain di aliran air yang deras itu.
"Apa kau melihat Sehun?" Tanya Baekhyun. Chanyeol sedikit tidak suka dengan pertanyaan Baekhyun itu.
"Dia dengan Jong In. Memompa perahu karet di sana." Chanyeol menunjuk ke atas bukit.
"Apa aku akan satu regu denganmu?"
"Iya. Kau harus selalu denganku." Chanyeol mengacak rambut Baekhyun. Sedangkan Baekhyun menelan salivanya karena sepertinya ini adalah kebiasaan Chanyeol yang baru terhadapnya. Baekhyun nyengir dengan mimik wajah yang di buat – buat. Sedangkan Chanyeol beralih mencubit keuda pipi Baekhyun gemas karena astaga wajah Baekhyun sangat lucu ketika seperti itu.
"Chanyeol.. lepas~ " Baekhyun memegang tangan Chanyeol bermaksud untuk melepaskannya tapi Chanyeol tak menghiraukannya dan Chanyeol malah tersenyum semakin lebar.
"Apa Jongdae itu orang yang menyukaimu di sekolah?"
"Aisshhhh... Chanyeol. Ku bilang lepas."
"Jawab dulu pertanyaanku."
"Awww.. ahh.. sakit~"
"Aku tidak akan melepasmu." Chanyeol terus saja mencubit pipi Baekhyun. ia tahu cubitannya tidak sekuat itu dan ia tahu Baekhyun hanya mengaduh untuk membuat Chanyeol melepasnya. Sehun yang melihatnya dari kejauhan mengepalkan tangannya kuat.
"Chanyeol, waktu itu kau mengikutiku ke Sungai Han kan? Dasar penguntit." Chanyeol belum bisa mencerna kata itu. "Kau yang memakai hoodie YODA. Itu benar-benar kau kan? Kau memang berada disana untuk melihatku kan? Mengapa? Mengapa? Apa kau memperhatikanku sejauh itu? Chanyeol jawab aku.."
"Huh..?" Chanyeol masih dalam posisinya memegang pipi Baekhyun dan ia tampak malu karena Baekhyun mengetahuinya. Sial.
"Jawab aku Yeol.."
Sedetik kemudian Chanyeol melepaskan tangannya. Apa Baekhyun baru saja mengatakan nama pendeknya? Ohh Itu sangat manis.
"Kalau iya, kenapa?" Baekhyun terkejut.
"Jadi.. apa k..kau tahu aku ada kencan dengan Sehun?" Chanyeol terdiam. "Karena kau yang mengikutiku seperti itu, apa kau tahu aku hampir saja terserang panik. Kenapa kau lakukan itu, waktu itu aku sangat takut Chanyeol." Chanyeol merasakan ada aura kesal dalam suara di nada Baekhyun.
"I..itu aku lakukan karena aku... mengkhawatirkanmu. Aku sangat mengkhawatirkanmu Baekhyun."Jujurnya.
Baekhyun tertegun dengan kalimat yang Chanyeol lontarkan. Chanyeol bilang dia mengkhawatirkannya. Apakah itu sebuah bentuk kasih sayang ? ataukah sebuah perhatian? Apakah Chanyeol benar-benar memperhatikannya? Tapi Baekhyun rasa Chanyeol tidak berbohong dengan perkataannya. Baekhyun terdiam hingga teman-teman Chanyeol datang ke arahnya.
"Chanyeol !" Sapa Jong In sambil membawa perahu karet dengan Sehun. "Eo? Baekhyun! tidak ku duga aku akan bertemu denganmu." Pria berkulit Tan itu tersenyum. Sedangkan Baekhyun balas tersenyum padanya.
"Biar ku bantu." Baekhyun menghampiri Sehun dan Jong In untuk menyimpan perahu itu di air sungai. "Chanyeol, mengapa kau diam saja?" Baekhyun mengingatkan Chanyeol untuk membantu mengangkat perahunya dan Chanyeol menghampirinya.
"Tidak usah, perahu ini cukup ringan untuk aku dan Jong In bawa. Ini tidak seberat yang kau pikirkan." Ucap Sehun datar yang sepertinya di tujukan pada Baekhyun. Baekhyun pun sedikit menghindar dan tidak sengaja menubruk Chanyeol di belakangnya.
"A..ahh, begitu." Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jong In merasakan aura dingin di sana. Memang cuaca yang sedang kurang baik ataukah suasananya yang begitu rumit? Entahlah Jong In tidak ingin mengurusi hal itu.
"Lebih baik kita pakai helm saja dulu." Chanyeol meraih dua helm di perahu yang Sehun dan Jong bawa dan ia memberikan satu pada Baekhyun. Baekhyun hanya memakainya tanpa berkata sepatah katapun.
.
.
Ini adalah pertama kalinya Baekhyun bermain Arung Jeram, anehnya ia tidak merasa takut, gugup,cemas, ataupun panik. Baekhyun sempat tidak mengerti dengan fobia nya. Biasanya perasaan itu akan muncul ketika ia berada di alam terbuka tapi saat ini ia benar-benar merasa fobianya telah hilang. Mungkin karena Chanyeol terus berada di sisinya makanya ia merasa nyaman dan betah berlama-lama bermain di sana. Walapun tim Chanyeol tidak menang dalam permainan ini mereka menikmati senangnya mendayung. Berjalan mengikuti arus sungai yang deras, saling berteriak satu sama lain dan benar-benar melepaskan penat mereka. Tapi itu cukup melelahkan dan cukup menantang bagi Baekhyun yang tidak terbiasa. Pada saat perahu itu menabrak sebuah batu, Baekhyun nyaris terjatuh tetapi Chanyeol segera memeluk pinggangnya dan menariknya kembali. "Hati-hati Baek." Ucap Chanyeol pelan. Baekhyun mengangguk dan melanjutkan mendayung. Sehun yang duduk di barisan belakang bersama Jong In memutar bola matanya. Sebut saja Sehun sedang kesal hari ini. Ia bersikap dingin dan mengacuhkan Baekhyun. Sedangkan Jong In menatap Sehun dan Chanyeol bergantian. "Ayo! Semangat! Semangat! Semangat! Kyaaaa..." Jong In berteriak untuk memecahkan kecanggungan dan keheningan yang tercipta dari love triangle tersebut. Setelah permainan itu berakhir, semuanya mendapati basah di tubunya. Baekhyun dan Chanyeol termasuk juga Sehun melihat Jong In yang sedang membuka sepatunya yang kemasukan air dan juga ikan kecil di sana. Pantas saja Jong In merasa geli di bawah kakinya. Ia bermaksud membuang ikan kecil itu kembali ke sungai tetapi sepatunya malah ikut tercebur. Baekhyun tertawa lepas saat itu dan ini pertama kalinya Sehun melihat. Padahal menurut Sehun hal itu tidak terlalu lucu. Baekhyun tampak begitu bahagia. Sebelumnya Sehun tidak pernah mendengar tawa renyah yang keluar dari bibir Baekyun. Apakah karena Chanyeol bersamanya Baekhyun merasa senang? Pikiran itu melintas di benak Sehun dan membuatnya semakin takut Chanyeol akan merebut Baekhyun darinya. Sehun berkalut dengan pikirannya. Ia mengingat-ingat apa yang Chanyeol katakan kemarin saat rapat di aula.
"Mengajak seseorang ? Siapa? Di rasa aku tidak perlu melakukan itu."
... lalu mengapa kau mengajak Baekhyun dan memintanya datang...
"Ohh iya, aku ragu jika Baekhyun benar – benar ikut. Semoga saja dia tidak mengecewakanmu."
... Kau tahu sesuatu tentang Baekhyun. apa yang kau maksud dengan 'aku ragu jika Baekhyun benar-benar ikut' apakah sebelumnya kau tahu kalau Baekhyun memang tidak akan datang?...
Sebenarnya hal apa yang Sehun tidak ketahui? Sepertinya Chanyeol tahu banyak tentang Baekhyun dan itu membuat Sehun kesal juga cemburu.
"Sehun, mengapa kau tidak mengganti bajumu? Ayo ganti dulu pakaianmu setelah itu kita mak-"
"Aku tahu." Sehun memotong ucapan Baekhyun. "Kau sendiri belum mengganti pakaianmu dan kau menyuruhku mengganti baju. Urusi dulu dirimu sendiri. Kau tidak usah pedulikan aku." Sehun pergi meninggalkan Baekhyun yang mematung disana. Baekhyun terkejut karena ucapan Sehun yang begitu menusuk. Jelas sekali kalau kekasihnya itu marah padanya.
Setelah Baekhyun selesai mengganti pakaiannya, ia keluar dari tenda itu. Baekhyun melihat Sehun sedang duduk seorang diri di rerumputan yang tak jauh dari tempat tenda. Ia bermaksud untuk mendekatinya dan ia menghampirinya untuk duduk di sampingnya.
"Kau mau makan bersamaku?" Tanya Baekhyun sambil mengeluarkan kotak bekal sushi yang ia siapkan tadi pagi. Sehun meliriknya sebentar lalu ia kembali menghadap ke depan. "Kau kenapa? Bukankah aku sudah datang? Seharusnya kau senang..." Sehun masih saja terdiam. "Baiklah, aku akan pergi saja." Baekhyun berniat meninggalkan Sehun untuk kembali ke tenda tapi Sehun menariknya duduk.
"Sebenarnya kau datang untuk siapa... untukku atau Chanyeol?" Sehun mentapnya intens.
"Yak! Kau bicara apa? T..tentu saja aku.. datang untukmu."
"Hha! Benarkah?" Sehun tersenyum meremehkan. Lalu ia pergi meninggalkan Baekhyun di sana. Mungkin dia akan mengganti bajunya. Baekhyun melihat pada kotak bekalnya tanpa minat. Seleranya menjadi turun dan ia menyimpan sushi itu kembali dan tidak menyentuhnya. Tadi pagi Baekhyun menyiapkannya khusus untuk Sehun tapi Sehun malah mengacuhkannya saat ini. Baekhyun merasa dia tidak berbuat hal yang salah. Baekhyun akui dia menyukai Sehun hanya sebatas itu. Rasa cinta masih belum tumbuh dalam dirinya walau ia memaksakan hatinya untuk mencintai seseorang seperti Sehun. Sejujurnya dalam hati Baekhyun, dia ragu akan cintanya pada Sehun. Tapi dia menerima Sehun untuk menjadi kekasihnya membuat orang itu berharap lebih padanya. Sebenarnya alasan apa yang membuatnya menerima cinta Sehun? yang Baekhyun tahu dan sadari dia hanya kasihan. Kasihan pada Sehun karena dia tidak ingin mengecewakan cintanya. Tapi itu adalah alasan yang bodoh. Menerima Sehun karena rasa kasihan? Baekhyun mengiyakan perasaannya karena itu memang benar. Jika Sehun tahu perasaan Baekhyun yang sebenarnya seperti ini, mungkin Sehun akan lebih kecewa dari sebelumnya. Baekhyun tidak tahu hubungan mereka menjadi apa nantinya yang jelas ia juga membutuhkan Chanyeol untuk tetap di sisinya. Jika di pikir Baekhyun memanfaatkan Chanyeol untuk menghilangkan perasaan takut terhadap phobianya. Karena Canyeol adalah sumber energinya yang bisa membuatnya tenang. Tetapi Sehun membuat itu menjadi salah paham. Apa yang harus Baekhyun lakukan? Apakah dia harus memberitahukan Sehun tentang hal ini? apa jadinya jika Sehun mengetahuinya? Baekhyun merasa dirinya bodoh sekarang karena melibatkan dua orang yang masuk dalam kehidupannya.
Ngomong-ngomong soal Chanyeol, dimana dia? Baekhyun tidak melihatnya sejak permainan Arung Jeram itu berakhir. Baekhyun celingukan untuk melihat pemuda jangkung yang ia cari. Namun yang ia lihat adalah Jong In yang menghampirinya. Pria berkulit Tan itu duduk dengan Baekhyun.
"Kau mau nonton konser Cn Black di Busan minggu depan?" Tanya Jong In. Baekhyun yang mendengar nama idolanya di sebut langsung menatap Jong In dengan bersemangat.
"Iya, aku ingin. Tapi.. aku belum membeli tiket." Keluhnya. "Kau mau nonton?"
"Tentu saja. aku sudah membeli satu tiket untukku."
"Benarkah?"
"Iya, sebenarnya aku punya dua tiket. Tapi tidak kubawa sekarang." Baekhyun menyelidik dan menyipitkan matanya pada Jong In. Bisa saja pria yang ada di sampingnya ini sedang berbohong. "Yak! Aku serius. Jika kau mau, aku bisa memberimu satu tiket gratis. Kyungsoo pula yang memberikannya satu pada.. uppsss!" Jong In buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Apa kau bilang? Kyungsoo! Kyungsoo!" Baekhyun menjadi heboh karena nama itu.
"Aiihhh... kau mau atau tidak? Jika kau tidak mau aku akan memberikan tiket itu pada Chanyeol atau Sehun saja."
"Hei! Bagaimana bisa? Kau... bertemu Kyungsoo? Kau itu siapanya Kyungsoo? Huh?" Baekhyun bertanya dengan bertubu-tubi.
"Jika kau percaya, aku bisa di bilang lucky fans. Aku mendapatkan tiket itu secara cuma-cuma darinya. Bukankah itu hebat. Hahaha." Jong In berbangga dengan dirinya.
"Berikan padaku. Aku mohon Jong In~" Rengeknya. "Aku belum pernah melihat konser atau bertemu dengannya. Aku ingin sekali.."
"Baiklah, besok aku akan membawa tiket itu. Tapi..." Jong In menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?"
"Kau harus menghapus fotoku bersama Kyungsoo di ponselmu. Ingat?"
"Hanya itu.. aku akan menghapusnya setelah kau benar-benar memberikan tiketmu padaku."
Chanyeol sedang mengumpulkan kayu untuk membakar ikan sore itu. ia tampak sibuk sehingga sementara dirinya meninggalkan Baekhyun. Jong In membantunya memancing dan teman-temannya yang lain asyik bercanda ria dan menyanyi menunggu ikan mereka matang. Setelah beberapa dari mereka sudah menghabiskan makan malamnya, Chanyeol tidak menemukan Baekhyun ikut bergabung bersama rombongannya untuk makan malam. Chanyeol mengernyit melihat Sehun yang tampak acuh dan tidak se-antusias seperti biasanya. Ia pun pergi dari tempat itu lalu masuk ke dalam tenda di mana Baekhyun berada.
"Baek, kau tidak makan?" Tanya Chanyeol saat dia dan Baekhyun hanya berdua di tenda itu. Baekhyun menggeleng. "Akan ku panggang ikan bakar untukmu. Kau mau?" Tawar Chanyeol.
"Tidak, aku sedang tidak selera."
"Kenapa? Apa karena Sehun?" Baekhyun langsung mendongak menatap pada double eyelid Chanyeol. Sedangkan Chanyeol beralih memegang tangan Baekhyun dan menggenggamnya. "Atau.. karena aku tidak bersamamu?" Baekhyun bisa saja mengiyakan kedua kalimat dari perkataan Chanyeol itu tapi ia hanya terdiam. "Ayo, kita keluar." Ajak pria yang lebih tinggi.
"Um..Chanyeol.. aku disini saja." Ucap Baekhyun. "Aku tidak dengan mereka. Aku lebih nyaman disini." Chanyeol yang tadinya akan melangkah keluar kembali masuk ke dalam tenda.
"Tapi kau belum makan. Kau harus mengisi perutmu." Chanyeol menarik paksa lengan Baekhyun untuk ikut dengannya dan Baekhyun tidak bisa menolak ketika teman-teman Chanyeol melihat ke arahnya.
Malam itu turun hujan sehingga semuanya cepat-cepat mengungsi di tendanya masing-masing. Jong In salah masuk tenda jadi ia berakhir dengan tidur di tempat temannya. Atau mungkin Jong In sengaja kabur dari Chanyeol dan Sehun karena ia tidak ingin terlibat dalam love triangle. Sehun ingin sekali mengusir Chanyeol untuk tidur di tempat lain karena ia ingin berdua saja dengan Baekhyun. Tapi ia tidak bisa melakukan itu karena disini ia tahu kondisi dan tahu posisi. Mendadak suasana menjadi canggung. Hanya terdengar suara rintik hujan dari luar.
"Kalian berdua cepat tidurlah, besok kita pulang dan bangun pagi." Chanyeol berbicara pada Sehun dan Baekhyun.
Sehun yang sedang tiduran, menatap pada Baekhyun yang ragu-ragu untuk tidur bersama di sisinya. Baekhyun tetap duduk seperti Chanyeol. "Aku tahu kau lelah, berbaringlah." Sehun menepuk bagian kosong di sampingnya yang diperuntukan untuk tempat tidur Baekhyun. Baekhyun pun menurut dan Sehun berbagi satu bantalnya dengan Baekhyun. Baekhyun merasa Sehun tidak bersikap dingin lagi padanya. Ia pun tersenyum.
"Bagaimana denganmu Chanyeol, kau tidak tidur?" Baekhyun bertanya pada pria bertelinga lebar itu. Sehun kini beralih menatap Chanyeol.
"Iya, aku akan tidur." Chanyeol berbaring ke sisi Baekhyun. jadi urutan tidurnya adalah Sehun – Baekhyun – Chanyeol.
Saat tengah malam, Baekhyun terbangun karena mendadak rasa takutnya kembali. Ia tidak bisa tidur saat itu. ia melihat Sehun dan Chanyeol tertidur di kedua sisinya. Baekhyun menghela nafas dan ia merasa sedikit sesak. Baekhyun kembali pada saat-saat paling menyakitkan. Baekhyun berjuang melawan rasa takut itu dan ia harus menemukan tempat persembunyiannya. Baekhyun melihat pada Sehun. Tapi itu hanya akan membuatnya semakin gugup. Jadi ia beralih menghadap ke arah Chanyeol. Baekhyun memegang erat tangan Chanyeol saat itu dan membenamkan kepalanya di dada Chanyeol bermaksud untuk membuatnya tenang. Ketika itu pula Chanyeol terbangun melihat perubahan sikap Baekhyun yang memeluknya seperti itu.
"Baek? Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol pelan. Baekhyun menggeleng. "Apa kau.."
"Chanhh yeolhhh...ahh...ahh..." Baekhyun mendesah sambil terpejam dan ia semakin merapatkan tubuhnya.
"Tidak apa Baek, kau akan baik – baik saja. Tahan itu."
"Aku tidak kuat Chanyeol. Ini sudah klimaks. Arrgghh.." Baekhyun mengeluarkan liquid beningnya karena rasa takut itu berhasil menguasai dirinya. Baekhyun merasa kalah dalam bertarung dan ia kesal pada dirinya sendiri. Chanyeol mengusap air mata Baekhyun dan kembali memeluknya. Ia tidak peduli Sehun mengetahuinya atau tidak yang jelas Chanyeol dan Baekhyun tahu kalau Sehun sedang tertidur. Tapi mereka benar-benar salah mengira, Sehun hanya pura – pura tertidur dan ia mendengarnya.
.
.
.
.
To be continue..
...
Sebelumnya author mau ngucapin makasih sama readers yang udah nyempetin buat ngetik di kotak review :- ) author sengaja memperlambat hubungan ChanBaek disini supaya bikin kalian gemes aja. Apalagi di tambah HunBaek yang lagi masa pacaran. Aduhh.. kapan masanya ChanBaek jadian? Okehh ini bukan sinetron yang chap atau episodenya lama sampai bejibun. Jadi author mau segera HunBaek pisah disini. Mungkin harus nunggu di chap next. *Ditabok Sehun -_- eits Hun mangapin author, bukan maksudnya mau misahin abang, Tapi ini FF milik ChanBaek jadi terpaksa abang Sehun harus author ralat disini :3 Buat yang nanya ada HunHan moment, pasti dong :D secara di dunia nyata mereka kan lagi LDR-ran cieeee yang udah dating ke Jepang Mei lalu. 'Harap Diam dan Terimakasih' what the hell ? HunHan juga saling ngasih kode yang berarti hubungan mereka real ! Ohh iya Author seneng banget pas tahu couple OTP kesayangan author udah Go Publik hihi :D *Lirik ChanBaek. Mungkin itu juga yang bikin author semangat publish FF hari ini. YEHET~ #ChanBaek_Is_Real
...
Jangan lupa ninggalin jejak ya readers...
[YEOLVIN]
?
...
