proudly present

An EXO Fanfiction

ONE WEEK GIRLFRIEND

Cast : Oh Sehun, Kim Jongin

Remake dari Novel berjudul sama karya Monica Murphy

Happy Reading!

.

.

.

"Remember that great love and great achievements involve great risk."

.

Hari ke-2, 06:17 PM

Kim Jongin

"Ayahku membuat teleponku panas," Sehun memanggilku dari ruang santai. "Kau sudah siap belum? Mereka mengancam akan pergi tanpa kita jika kita tak siap jam 06:30."

Sialan. Tanganku gemetar ketika aku selesai memakai maskara dan aku khawatir aku akan mencongkel mataku keluar. Sehun terus menerus mengingatkanku kalau orang tuanya menunggu di luar, dan itu tak membantuku sama sekali. Aku tak pernah gugup memikirkan penampilanku sebelumnya. Bahkan ketika aku menghadiri pesta dansa ketika SMP dan SMA dan menghabiskan waktu bersiap-siap. Menabung semua uangku untuk membeli sebuah gaun murahan dari JC Penney, berpikir aku terlihat seksi ketika aku mungkin terlihat seperti gadis kecil yang baru belajar berdandan.

Sekarang aku mengenakan gaun, sepatu dan bermacam-macam aksesoris yang harga seluruhnya hampir mencapai seribu dolar. Sehun bahkan tak memprotes ketika Irene memberitahu jumlah itu dengan berisik. Irene hanya mengambil kartu kreditnya tanpa berkata-kata, walaupun dia memberiku pandangan mencela sekilas setelah transaksi usai.

Aku benar-benar berharap nenek sihir itu tak akan datang ke pesta di Country Club malam ini. Semua sudah cukup kacau tanpa dia harus menambah masalahku.

"Jongin." Sehun mengetuk pintu kamar mandi dengan kerasnya hingga pintu terayun terbuka dan syukurlah aku tidak sedang telanjang, walaupun dia tahu aku tak telanjang, jadi aku hanya mengkhawatirkan sesuatu yang tak penting. Dia berdiri di ambang pintu, telihat luar biasa menakjubkan dalam celana hitam dan kemeja abu-abu keperakan dan dasi hitam. Mulutku kering ketika aku menatapnya di cermin dan dia membalas dengan tatapan yang sama. Matanya melebar, menelanku bulat-bulat, menatap keseluruhan tubuhku dan aku merasakan pandangannya seolah dia benar-benar menyentuhku. "Uh, kau sudah siap?" dia bertanya, suaranya serak.

"Beri aku waktu dua menit lagi." Aku memaksa mataku beralih darinya dan mengambil lipgloss pink pucat dari dalam tas kosmetikku. Aku membuka tutupnya dan mengoleskannya di bibirku, dan mengusapkan kedua bibirku dan mengamati bayanganku di cermin.

Aku menata rambutku ke atas kepalaku agar bagian belakang gaunku kelihatan, dan sidikit rambut menjuntai membingkai wajahku. Aku menghias mataku dengan hiasan gelap tebal, pipiku berwarna merah muda dan bibir pucat, mencoba menampilkan hiasan wajah yang bersahaja. Gaunnya sangat sempurna, aku tak tahu bagaimana penampilanku ketika memakainya, dan aku memakai sepatu berhak sangat tinggi. Benar-benar berhak tinggi, mungkin kini aku setinggi bahu Sehun. Semoga saja aku tak akan jatuh mendarat di pantatku ketika berjalan nanti.

Anting berkilauan serta gelang berlian imitasi yang kukenakan melengkapi penampilanku malam ini. Aku hampir merasa penampilanku berlebihan, tapi Sehun tak pernah protes jadi aku tenang-tenang saja. Walaupun begitu, kini aku khawatir akan pendapatnya dan lebih fokus menutup tas kosmetikku. Semoga saja dia menyukai penampilanku. Menurutku dia kelihatan tampan, tapi kapan sih dia pernah kelihatan tidak tampan? Para cowok bisa memakai tas kertas untuk menutupi kemaluannya dan masih akan terlihat seperti rancangan desainer.

Tadi aku menelepon ibu temannya Taehyung dan dia meyakinkanku Taehyung ada di sana dan akan menginap di sana malam ini, dan aku merasa senang. Aku mencoba menghubungi ibuku, tapi tak ada jawaban. Aku mengirimkannya pesan singkat untuk memberitahunya aku baik-baik saja.

Tetap tak ada balasan. Mungkin dia sedang bersama dengan pacarnya bulan ini dan tak punya waktu untukku.

Menegakkan bahuku, aku berbalik dan menghadap Sehun. Dia menyandarkan tangannya di pintu dan agak mengarah ke kamar mandi, kemejanya meregang di dadanya, menegaskan posturnya di balik kain yang tipis. Aku bisa mencium wangi colonge nya, wangi yang bersih, berbau citrus dan wanginya sangat menyenangkan, aku ingin menekankan wajahku ke lehernya dan menghirupnya. Mungkin aku akan menjilat kulitnya hanya untuk merasakannya.

Pikiranku sudah mulai melantur tak terkendali dan ada masih banyak hari tersisa untuk kami. Aku akan menjadi sangat berantakan ketika Thanksgiving berlalu.

Kau bisa melaluinya. Dia hanya cowok biasa. Dan cowok tak pernah ada artinya bagimu.

"Kau siap?" dia akhirnya bertanya ketika aku hanya terdiam terlalu lama.

Mengangguk, aku menunjukkan teleponku. "Aku tak bisa membawa-bawa ini. Tas yang kubawa terlalu besar dan tak akan serasi dengan pakaianku."

Bibirnya yang penuh merenggang dalam senyum samar. "Apa kau harus membawanya? Kau bisa meninggalkannya di sini. Kita akan pergi paling lama beberapa jam."

"Well…" suaraku menghilang. Beberapa jam terlalu lama untukku berpisah dengan teleponku. "Aku harus membawanya. Bagaimana kalau adikku menelepon dan butuh bantuan? Atau ibuku?"

Pandangannya melembut, penuh dengan pengertian. "Kau bisa meletakkannya di… bramu?"

Aku benar-benar terkikik. Dan aku tak pernah terkikik sebelumnya. "Aku terkejut kau tahu trik bar kuno itu." Aku sadar seketika. "Tidak bisa, aku tak memakainya."

Dia terlihat seolah dia baru saja menelan lidahnya. Hanya dengan mengatakan hal itu sebanding dengan reaksinya. "Aku bisa menyimpannya di kantongku jika kau mau."

"Benarkah? Thanks. Aku sangat menghargainya." Aku mengatur teleponku dalam mode getar dan menyerahkannya, jemari kami bersentuhan. Gelombang listrik menyerang kulitku dan tanpa sadar aku menggosoknya ketika aku menyaksikan Sehun memasukkan teleponku ke kantongnya.

"Ayo pergi. Kita akan menemui mereka di mobil."

Aku mengikutinya meninggakan pavilion menuju ke garasi besar. Orang-orang ini tinggal pada sesuatu yang sangat berlebihan, dan membuat terperangah. "Kita akan berkendara bersama mereka?"

"Ayahku memaksa." Dia tak kelihatan senang dan itu membuatku yakin. Aku juga tak senang harus bersama mereka. "Menurutku kita bisa mengambil keuntungan dari hal ini, kita bisa minum sampai mabuk nanti."

Aku sering melihatnya di La Selle. "Aku tak pernah melihatmu mabuk. Dari apa yang pernah kau katakan padaku, kau bilang kau tak suka lepas kontrol. Menurutku, mabuk-mabukan sama dengan lepas kontrol."

Dia menatapku sekilas. "Kau benar. Kupikir kau sudah mengenalku dengan baik."

"Tidak juga." Aku bergumam ketika kami tiba di garasi. Aku berharap bisa mengenalnya lebih dekat, tapi dia menjaga rahasianya dengan sangat rapat.

"Kau tak bawa mantel?"

Aku menggeleng, menahan untuk tidak terkesiap ketika dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Reaksiku terhadapnya benar benar konyol dan aku benar-benar perlu belajar mengendalikannya. Semuanya yang ada diantara kami tak nyata dan aku harus mengingatnya. Tak peduli seindah apapun rasanya.

Dan jari-jariku terjalin dengannya dan rasanya benar-benar, benar-benar baik.

"Kau akan kedinginan," Dia mengatakannya ketika kami sampai di garasi. Sedikit rasa puas menyusup ke dalam dadaku karena orangtuanya tak berhenti mengomel sejak kami kembali ke rumah, dan kini kami yang menunggu mereka.

"Mungkin kau akan membuatku tetap hangat?" Dengan senyum yang khusus kutujukan untuknya, aku menyenggol lengan atasnya dengan bahuku, dan mengagumi ototnya yang sekeras batu. Aku benar-benar berharap bisa mengintipnya ketika dia menanggalkan bajunya, tapi hal itu belum terjadi hingga sekarang. Aku tahu di balik bajunya dia terpahat laksana dewa, dan aku ingin melihat keseluruhan ototnya itu.

Dia mengangkat alisnya. Aku benar-benar menyukainya ketika melakukan hal itu. "Kau sedang menggodaku, ya?"

Sepertinya aku tengah menggoda seseorang ketika orang tuanya muncul, keduanya berjalan buru-buru mendekati kami dan salah satu pintu garasi terbuka, memperlihatkan mobil Range Rovers hitam menakjubkan yang terparkir di dalamnya. Aku mencoba bertingkah acuh tak acuh ketika kami menuju ke mobil, Sehun membukakan pintu jadi aku bisa masuk ke kursi belakang pertama kali. Aku tak mengharapkannya masuk setelah aku, dan aku bersumpah aku merasakan tangannya menggelitik bagian belakang pahaku sekilas.

Tapi ketika kami telah duduk di bangku belakang, ekspresinya terlihat biasa-biasa saja jadi aku pikir aku pasti telah menghayal.

Orang tuanya tak banyak bicara dan itu membuatku gelisah. Aku menduga mereka sedang bertengkar. Atau mereka masih marah karena aku berdandan terlalu lama. Sehun sudah meyakinkanku bahwa makan malam itu tidak akan mulai sebelum jam tujuh malam jadi bahkan sekarangpun kami masih punya waktu setengah jam. Tapi mungkin saja mereka mereka senang tiba lebih awal agar bisa memilih meja yang bagus. Sialan, aku tak tahu apapun.

Aku akan sebuta ini dan aku gugup.

Sehun menggapaiku dan menggenggam tanganku lagi dan ketika aku mendongak menatapnya, dia tersenyum padaku di dalam kegelapan. Aku tiba-tiba saja merasa bahwa kami berdua sendirian melawan dunia. Kami bersama menghadapi hal ini dan satu sama lain harus saling bergantung untuk bisa melewati semua ini. Terdengar sangat dramatis dan konyol tapi aku tak bisa menahan perasaanku.

Aku juga tak bisa menahan untuk tidak memandangnya sedikit terlalu lama, mengagumi keindahan maskulin di wajahnya. Sangat tidak adil ketika seseorang terlihat begitu tampan dan itulah Sehun. Seharusnya dia membuatku jijik karena dia terlihat begitu tampan.

Alih-alih begitu dia malah membuatku hampir pingsan dan aku merasa bodoh sekali. Seolah kepalaku menjadi semakin ringan karena seluruh partikel otakku menguap selama aku memandangnya, dan aku menduga dia bisa menyadari aku sedang memandangnya.

Ketika dia berpaling dan memandangku, aku tahu dia menyadari kalau aku memandangnya. Dia tersenyum, pandangannya menenangkan keteganganku, membuat jantungku berdebar, dan aku menyerukan pertanyaan pertama yang terlintas di benakku. "D itu kepanjangan apa?"

Dia mengerutkan kening dan menggelengkan kepalanya. "D yang mana?"

"Nama tengahmu. Namamu di kartu kredit Oh D. Sehun." Aku berhenti, berharap orangtuanya tak mendengarkan. Ayahnya memundurkan mobil keluar dari garasi dan Sehun menggumamkan sesuatu kepadanya, tapi aku tak bisa menangkap kata-katanya.

"Ah." Dia mengangguk, seolah dia baru saja memecahkan misteri kuno. "Kenapa tak kau tebak sendiri?"

Hmm… dia juga mencoba menggodaku. Aku menyukainya. Membuat semuanya terasa lebih ringan, khususnya dengan adanya drama penuh ketegangan yang berasal dari kursi depan. "Dumbledore?"

Tertawa kecil, dia menggelengkan kepalanya. "Bukan."

Aku mengetukkan jari di daguku. "Daniel."

"Bukan."

"Dylan."

"Ah, nama itu memang cocok khususnya yang agak berbau Irlandia, tapi itu tebakan yang salah."

Aku kembali mencari nama yang tepat yang berawalan dengan huruf D, tapi semuanya menggelikan, ketika akhirnya aku menemukan satu yang sempurna.

"David," aku berbisik.

Senyumnya mengembang. "Akhirnya kau menemukannya."

"Apakah aku akan dapat hadiah?" aku membalas senyumnya.

"Tentu," dia menjawab ringan. "Apa yang kau inginkan?"

"Kau menanyakannya padaku? Bukankah seharusnya kau yang menentukan hadiahnya?"

"Kau bisa meminta apapun yang kau inginkan." Dia menggerakkan jemarinya melintasi telapak tanganku, membuatku menggigil. "Sebutkan saja dan kau akan memperolehnya."

Kami belum pernah berciuman. Well, aku memberinya ciuman singkat di dadanya semalam tapi selain itu, tak pernah. Dan itu adalah hal yang kuinginkan. Sebuah ciuman dari Sehun. Aku tak meminta ciuman yang lama, dalam, lidah yang bertaut dan sebagainya, walaupun itu kedengarannya menggiurkan.

Aku hanya ingin merasakan bibirnya menekan bibirku sekali saja. Aku ingin tahu selembut apa bibirnya, bagaimana rasa bibirnya, sehangat apa nafasnya di bibirku. Aku ingin menikmati saat ini, pertama kalinya dan sangat mendebarkan walaupun sementara…

Tapi, apakah aku cukup berani meminta hal itu?

.

Oh Sehun

Dia ragu-ragu dan aku tak tahu mengapa. Antisipasi mengalir melalui pembuluh darahku selama aku menunggu jawabannya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kepadaku, tapi aku menduga hal itupun akan terjadi padanya, dan kami sedang saling menggoda satu sama lain. Itu yang sebenarnya dan bukan karena kami harus melakukannya, tapi karena kami ingin melakukannya.

Itu membantu meringankan tegangan yang berasal dari kursi depan. Aku tak tahu apa yang di pertengkarkan mereka berdua, tapi aku tak akan membiarkan hal itu mempengaruhiku. Di sampingku duduk seorang gadis yang sangat cantik dalam kegelapan, memakai gaun paling seksi yang pernah kulihat. Gaun itu menutup keseluruhan tubuh bagian depannya tapi meliuk sesuai lekukan tubuhnya dan roknya benar-benar pendek, dan tak akan perlu waktu lama bagiku menyelinapkan jemariku ke bawahnya dan menyentuhnya.

Tapi bagian belakang gaunnya yang benar-benar menarik perhatianku, membuatku ingin melepas gaunnya dan melihat tubuh telanjang Jongin yang indah. Potongan V yang rendah dan bagaimana itu melekat hingga ke pertengahan punggungnya, bagaimana kulitnya yang lembut seperti sutra itu terekspos, dengan renda yang halus menggantung menutup kulitnya. Sialan, setiap melihatnya aku seolah sekarat. Tanganku sungguh-sungguh gatal ingin menyentuhnya di sana.

Menyentuh seluruh tubuhnya.

"Aku ingin kau menciumku," akhirnya dia mengatakannya, suaranya sangat lembut, aku hampir tak dapat mendengarnya. Jujur saja, sesaat aku merasa aku berhalusinasi karena tak mungkin dia baru saja memintaku menciumnya.

Menatap ke arah kursi depan, kuperhatikan mereka berdua tidak menghiraukan kami. Radio satelit masih berbunyi, memainkan music jazz lembut dan mereka bicara dengan suara rendah, berguman dengan muram. Keduanya terdengar marah kepada satu sama lain dan aku tak dapat menduga apakah pertengkaran mereka berkaitan denganku atau tidak.

Sekarang, aku bahkan tak peduli. Dan seharusnya aku tak pernah peduli. Apapun alasan mereka bertengkar bukanlah urusanku.

"Sehun." Suaranya yang lembut menyadarkanku lagi dan aku memandang Jongin, dan aku tenggelam dalam mata hijau gelapnya. "Kau mendengar yang kukatakan?"

"Ya," aku berbisik, menelan ludah dengan sulit. Sial, orang tuaku berada di sini. Jessica hanya perlu memalingkan kepalanya sejauh dua inchi dan dia akan melihat kami. Dia tak akan suka jika aku mencium Jongin di depannya. Dia mungkin akan murka. Aku tak tahu apakah aku ingin mengambil risiko ini.

Jangan cengeng, Bung. Cium dia, bajingan. CIUM DIA!

Membungkuk di atasnya, memandang ke matanya, aku merengkuhnya, melarikan jemariku di leher Jongin. Kulitnya sangat lembut dan dia menutup matanya, bibirnya terbuka. Lidahnya menyelinap keluar dan dia menjilat bibir atasnya. Hanya dengan melihatnya, aku langsung keras dan tanpa berpikir lagi aku menyentuhkan bibirku ke bibirnya. Hanya sekali. Dengan lembut, seringan sayap kupu-kupu, memainkan lidahku sedikit lebih lama, mencoba mencuri detik-detik itu sebelum akhirnya aku mengakhiri ciuman itu.

Matanya membuka dan terlihat bingung dan dia menatapku dengan pandangannya yang intens. Pandangan yang membuatku merasa seolah dia bisa melihat semua hal yang kusembunyikan di dalam diriku. Yang baik dan yang buruk. Keelokan dan kejelekanku.

"Hanya segitu yang kau punya?"

Dia menggodaku. Aku bisa melihat itu di binar matanya, dan bibirnya yang menyeringai sekilas. Sial, aku ingin menciumnya lagi, jadi kulakukan.

Kali ini, dia menyelinapkan tangannya di belakang kepalaku dan menahanku jadi aku tak akan bisa melepaskan diri. Dan aku memang tak ingin melepaskan diri. Jemarinya terjalin di rambutku, membelaiku selagi bibir kami bertemu lagi dan lagi. Sentuhannya terasa nikmat sekali. Erangan kecil lepas dari mulutku dan aku mengait bibir bawahnya dengan lidahku, menikmati rasanya yang manis dan lengket. Dia membuka bibirnya, membuka dirinya untukku dan aku mengambil seluruh keuntungan itu.

Dengan lembut aku menelusuri mulutnya. Seluruhnya. Rasanya luar biasa nikmat dan kurasakan kulitku mendadak mengencang, dan aku merasa tubuhku terbakar dari dalam. Aku begitu keras, dan itu menyakitiku, dan aku tak bisa mengingat kapan aku pernah merasa lebih terangsang dari ini, dan juga secepat ini. Ciuman kami yang tadinya menyenangkan dengan cepat lepas kendali, dan aku mulai khawatir orang tuaku juga akan kehilangan kendali jika mereka melihat kami menyatu seperti ini, bertingkah seperti remaja kebanyakan.

Selama dua detik aku tak peduli jika orang tuaku melihat kami atau tidak. Aku tersesat dalam sentuhannya, aku tersesat ketika tubuhnya meliuk di tubuhku, pada rasa bibirnya, pada bunyi nafasnya.

Tanganku berada di pinggangnya, jemariku menekan kain gaunnya. Jalanan ke arah pantai penuh dengan tikungan dan ayahku menyetir begitu cepat, jadi kami bergoyang terhadap satu sama lain di kursi belakang. Dan aku mengambil kesempatan lagi, menariknya mendekat, dan aku suka bagaimana dia mendekat padaku dengan mudahnya. Dia melilitkan lengannya di sekeliling leherku dan melahap bibirku, lidahnya yang mungil menjerat dan bertaut dengan lidahku.

Ciuman ini bukan untuk pertunjukan kasih sayang kami. Ini bukan untuk membuat orang terkesan. Kami berciuman karena kami ingin melakukannya. Dan kami juga tak menghentikannya.

Baru dua hari kami menjalani hubungan palsu sialan ini dan di sinilah kami sekarang, memeluk satu sama lain seperti remah Pretzsel dan berharap kami tak perlu harus melepaskan satu sama lain segera.

Setidaknya, itu yang kurasakan.

Mobil terbanting ke kiri dengan keras membuatku jatuh dan menimpa Jongin.

"Siwon!" Jessica marah dan ayahku menggumamkan maaf setengah hati dan dia memelankan mobil.

Aku mengakhiri ciuman terlebih dahulu, membuka mataku dan melihatnya menatapku. Dia kelihatan bingung, bibirnya lembab dan pipinya merona. Dia bahkan lebih cantik dari pertama kali aku melihatnya di kamar mandi tadi, ketika aku begitu terpesona melihatnya dalam balutan gaunnya yang seksi itu.

Dia kelihatan lebih cantik sekarang karena akulah orang yang membuat matanya berbinar dan pipinya merona.

"Kita—" dia menelan dengan susah payah, nafasnya makin cepat dan dia menjilat bibirnya lagi. Dengan cepat aku bersandar kepadanya lagi, menekan dahiku kepadanya. Aku menutup mataku dan menghitung sampai lima sebelum membukanya lagi, mencoba mengumpulkan pikiranku karena aku tak ingin terdengar tolol ketika akhirnya aku menemukan suaraku.

"Kita apa?" Aku bertanya, tak menjauh sedikitpun darinya. Aku tak ingin melepaskannya. Terasa begitu menyenangkan, menyentuhnya, telapak tanganku di setiap lekukan tubuhnya, bibirnya menyatu dengan bibirku.

Sialan, aku tak pernah berpikir seperti ini. Aku selalu melakukannya seperti orang gila. Ciuman, seks, dan semua hal keparat itu membuatku merasa… Entahlah, aku tak bisa menjelaskannya. Seks membawamu ke tempat yang buruk. Ke tempat dimana kau melakukan sesuatu yang tak ingin kau lakukan. Atau melakukan sesuatu yang terasa begitu nikmat, tapi kau tahu itu salah. Seks untukku selalu terasa… memalukan.

Aku membencinya. Aku benci merasa bersalah melakukan sesuatu yang begitu menakjubkan. Aku benci terlibat dengan seseorang yang tak seharusnya, dan mereka menghancurkan segala milikmu.

Itulah yang paling ku benci, dan yang paling membuatku marah. Aku penuh dengan kebencian, aku tergoda memberitahu Jongin, bahwa jika dia tahu yang sebenarnya, dia tak akan pernah mau jalan dengan orang sepertiku, bahkan jika hanya pura-pura.

Terutama jika semua hanya pura-pura.

"Kita harus melakukannya lagi. Bukan begitu?" Dia menjalankan jemarinya ke rambutku dan aku menutup mataku, menikmati sentuhannya. Tiba-tiba saja aku mendambakannya. Sentuhan manusia. Sentuhan Jongin.

"Maksudmu ciuman?" Aku bertanya karena aku bingung. Aku tak tahu apa yang sedang dia bicarakan, begitu tertarik dengan sentuhannya, juga dengan suaranya.

"Ya, kita harus menampilkan pertunjukan yang seru malam ini, kan?"

Tunggu sebentar, menampilkan pertunjukan yang seru? Jadi yang tadi itu ajang latihan atau semacamnya? "Ya, tentu saja."

"Kita buat para tetangga dan teman-teman orangtuamu, juga mungkin teman-temanmu, tercengang dan akhirnya mereka akan percaya kalau kita benar-benar bersama, bagaimana?" Dia menjauh dari rangkulanku dan lenganku tiba-tiba kosong. Dia diam di tempatnya, dia masih bernafas dengan cepat. Setidaknya aku agak membuatnya terpengaruh.

"Menurutku juga begitu." Aku mengangkat bahu. Aku merasa aku baru saja dimanfaatkan. Dan itu benar-benar menggelikan.

"Sempurna." Senyuman di wajahnya menerbangkan pikiranku. Aku tak pernah berpikir dia secantik ini seminggu yang lalu. Tapi, dulu juga aku belum mengenalnya. Dan kini aku sudah mengenalnya, mengenalnya lebih jauh dari hari ke hari. Aku ingin lebih tahu tentangnya. Dia masih menjadi misteri, begitupun denganku. Lagipula, aku belum bisa memberitahunya rahasiaku.

Rahasia-rahasiaku akan membuatnya menjauh.

.

Kim Jongin

Cowok ini tahu caranya berciuman.

Sehun tak akan pernah tahu, ciumannya telah benar-benar membuatku berantakan, aku merasa beku dan begitu terekspos. Rapuh. Aku benar-benar lelah melakukan ini, seolah kami berdua hanya pasangan muda-mudi yang sedang mabuk, tapi itu tidak benar. Ciuman itu tak ada kaitannya dengan hubungan kami yang hanya kepura-puraan.

Dan semuanya itu membuatku menginginkan sesuatu darinya, jauh lebih banyak dari yang bisa di berikannya padaku.

Seluruh badanku gemetar dan aku menarik nafas dalam-dalam. Mobil melambat dan berbelok ke jalan turunan dan aku tahu kami telah tiba di tempat tujuan. Country Club telah menanti, terlihat di penuhi oleh orang-orang sombong sialan yang dengki itu, dan aku masih luar biasa gugup. Dan juga masih terpengaruh ciuman tadi. Adrenalin berlari di dalam darahku dan membuatku gemetar dan aku melirik keluar jendela, menatap pemandangan di sekeliling kami. Aku ingin pemandangan itu memenuhi pikiranku agar aku berhenti memikirkan bibir dan lidah Sehun yang ajaib.

Jadi aku fokus pada segala sesuatu yang tak penting. Seperti bagaimana kami harus menempuh jarak sejauh 17 mil ke sini, jadi aku bisa mengerling ke arah rumah dan dan lautan dan mengingat seluruh keindahan dan kemewahannya. Tak mungkin aku akan rindu untuk melihatnya, terutama ketika kami sedang sangat dekat. Rumah yang luar biasa dan taman yang indah, semuanya begitu indah dan hampir-hampir terasa menyakitkan melihatnya terlalu lama. Ya, aku harusnya lebih fokus pada pemandangan yang indah dan lautan.

Bukannya lelaki tampan yang menciumku dan membuyarkan seluruh isi kepalaku dan membuatku gemetar, terangsang dan berantakan.

"Apa aku kelihatan baik-baik saja?" Aku meratakan rambutku, berharap rambutku tak terlalu kusut.

"Kau kelihatan menakjubkan." Ketulusan dalam suaranya menyentuhku begitu dalam. Aku begitu tolol jika berada di samping cowok ini dan dia bahkan tak menyadarinya.

Aku mengerling ke arahnya. Bibirnya bengkak, matanya berbinar dan rambutnya kusut di tempat tanganku mencengkramnya tadi. Selain itu, dia kelihatan tampan.

Benar-benar tampan. Tapi, apa ada yang baru?

Meraihnya, aku meratakan rambutnya, menyisirnya dengan jariku. Aku melakukannya sedikit lebih lama dari seharusnya tapi rambutnya begitu lembut dan aku suka caranya menempel di jariku. Dia tak mengucapkan apapun, dengan enggan dia bergerak, walaupun mata biru intens nya menatapku tajam sepanjang waktu. Ketika aku selesai, aku menjauh darinya, duduk di tempatku dengan helaan nafas lega.

"Begitu," kataku, membersihkan tenggorokanku ketika kusadari suaraku masih gemetar. Sialan. "Sekarang kau kelihatan rapi."

Mobil berhenti di depan sebuah gedung tua yang besar sekali, dan pintuku terbuka, seorang pria dalam seragam hijau tua-putih dengan senyum ramah menatap ke dalam mobil. "Boleh saya bantu, Nona?"

"Ya, terima kasih." Kuletakkan tanganku di tangannya yang mengenakan sarung tangan putih dan dia menarikku keluar dari mobil. Sehun membuka sendiri pintunya, begitu pula ayahnya sementara pelayan lain melayani Jessica.

Aku tak memperhatikan apa yang di pakainya tadi di rumah, jadi aku melihatnya sekarang. Gaunnya berwarna biru gelap, panjang dan dengan pas membalut tubuhnya yang ramping, dari leher hingga kakinya. Gaun itu tak terlalu menampakkan kulitnya, tapi memperlihatkan badannya yang jenjang, menunjukkan tak ada sedikitpun lemak di tubuhnya.

Rambutnya di kuncir rendah, segelap langit malam, dan menggantung hingga ke pantatnya dan akan melambai dengan sempurna jika dia berputar dan menyapa seseorang. Tempat ini begitu ramai, setiap orang merasa senang, tumpah ruah dalam ruangan. Dan kuharap kami sudah memesan meja dan sebagainya, walaupun akan sangat menyenangkan jika aku dan Sehun bisa duduk terpisah dari orangtuanya.

Kenyataannya, aku akan lebih memilih itu.

"Suka dengan yang kau lihat?"

Suara Jessica yang menghina mengejutkan aku dan aku menatapnya, menyadari bahwa dia memandangku dengan pandangan jijik dan bibirnya mencibir.

"Gaunmu sangat indah," jawabku dan dia tersenyum dingin sebagai jawaban tapi tak mengatakan apapun.

Tuhanku. Aku ingin menginjakkan kakiku di mukanya dan bilang padanya untuk menjauh. Tapi aku menahannya, memberinya senyuman samar ketika dia melihatku kembali. Walaupun tampaknya dia tak memandangku, dia memandang Sehun, yang datang dari arah belakangku. Aku tahu itu dia karena aku bisa merasakannya, menghirup aromanya yang lezat, merasakan kehangatan yang menguar dari badan yang besar.

Aku benar-benar telah tertarik pada cowok ini. Aku berada dalam masalah besar. Bagaimana jika dia tak merasakan hal yang sama? Bagaimana nantinya? Aku tak tahu harus bagaimana. Aku telah sepakat dengannya untuk melakukan ini, dan kini aku harus menerima konsekuensinya, apapun yang akan terjadi.

"Siap ke dalam?" dia meletakkan tangannya di bahuku yang telanjang dan sentuhannya mengejutkan sistemku, aku merasa seakan tak bisa bernafas, seolah paru-paruku membeku.

Memutar kepalaku ke samping, kusadari dia berdiri sangat dekat. Amat sangat dekat. Bibirnya tepat di pelipisku, seolah dia tengah menciumku disana, dan aku bisa merasakan nafasnya yang hangat meniup anak-anak rambut di dahiku. Posisi kami pasti terlihat sangat intim, kuyakin. Aku menduga ini karena kehadiran Jessica.

Aku tak memahami kontrol yang di miliki wanita itu terhadap Sehun. Sehun menggunakanku untuk membuatnya terganggu, juga tak ingin berada dekat-dekat dengannya. Tak satupun yang masuk akal.

Sebagian besar hidupku, aku selalu membiarkan diriku di pergunakan. Berulang-ulang kali, dan oleh siapapun yang berada di sekelilingku. Aku sudah sangat terbiasa melakukannya. Tapi tidak jika yang melakukannya adalah Sehun. Aku tak ingin dia memanfaatkanku untuk membuat orangtuanya marah. Aku tak ingin dia memanfaatkanku sebagai pelindung yang aneh jadi orang-orang dikehidupannya akan berhenti bertanya pertanyaan yang menyelidik tentang kehidupannya, dan membiarkannya sendirian.

Aku ingin dia benar-benar menyukaiku. Aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Menghabiskan waktu yang sebenarnya, bukan saat-saat palsu 'oh, ayo kita menghabiskan waktu bersama' itu.

"Ya," akhirnya aku menjawab pertanyaannya karena aku tak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Kami harus menghadapi kenyataan dan kerumunan yang menanti kami di dalam.

Dia meremas bahuku dan kami berjalan bersama, membuntuti orang tuanya, memperoleh tatapan tajam Jessica ketika kami melangkah memasuki pintu ganda.

Malam ini akan terasa seperti tak akan berakhir. Dan memang mulai terasa seperti itu.

.

END FOR THIS CHAPTER