Title : Menghitung Hujan

Cast
- Do Kyungsoo [Girl]
- Kim Jongin [Boy]
- Kris Wu [Boy]
- Xi Luhan [Girl]
- Oh Sehun [Boy]

Other Cast
- Byun Baekhyun [Girl]
- Kim Joonmyeon [Boy]

Genre
- Romance
- Drama
- Sad

THIS IS GENDERSWITCH

THIS IS REMAKE SANTHY AGATHA'S NOVEL

DLDR

DON'T BE SIDERS


semua nyawa mengharap asa yang sama
saat dua hati mulai terbelenggu romansa
menjulang doa ke langit Tuhan
berucap syukur karna cinta

ah dahulu memang cinta sangat bermurah hati padamu, kemudian padaku
cinta...dahulu pernah merangkai jalanmu kepadaku.
hingga sekarangpun...aku masih tertinggal di masa itu
masih meratap punggungmu berlalu dari ujung mataku
dari hidupku yang entah mengapa...selalu butuh sapamu saat pagi membuka hari.
dan senyummu temaram saat petang merangkul malam
kau dan cinta para dewamu...terlalu mewah untukku menghamba

Luhan melangkah turun dari bus menuju ke pintu keluar bus. Sejenak dia berdiri, dalam hening dan diam, menatap ke sekeliling. Menghirup udara di sebuah kota yang sering dikunjunginya semasa kecil.

Jongin ada di kota ini, menghirup udara yang sama. Batin Luhan terasa pedih. Seharusnya kalau hubungan mereka baik-baik saja, Jongin ada di sini untuk menjemputnya. Tetapi yang terjadi sekarang adalah dia melangkah sendirian di sini, dalam kesepian yang mencekik, merasa sedih dan ironi.

"Hannie? sudah lama menunggunya?"

Luhan menoleh mendengar panggilan itu, Lalu tersenyum ketika menyadari siapa yang menjemputnya.

"Hai Sehun." dengan cepat dia menghampiri sepupunya itu, meninggalkan tas nya di lantai dan memeluknya.

Sehun membalas pelukannya dengan sayang, Luhan akan selalu menjadi adik kesayangannya, Sehun adalah anak tunggal, dia tidak punya saudara dan satu-satunya orang yang bisa dekat dengannya adalah Luhan.

Diambilnya tas Luhan lalu mengerutkan keningnya, "Mana Jongin?"

Pertanyaan Sehun itu membuat mimik wajah Luhan berubah, meskipun dia berusaha menyembunyikannya di balik senyumnya yang pahit. Ya... keluarga besar mereka memang belum tahu tentang pembatalan pertunanagan sepihak yang dilakukan oleh Jongin.

Hanya ayah ibunya yang tahu dan Luhan melarangnya untuk memberitahukan kepada keluarganya yang lain. Itu semua karena Luhan masih berharap bahwa Jongin akan kembali kepadanya, bagaimanapun caranya.

"Jongin sedang sibuk." Luhan mengarang dengan cepat, "Lagipula aku kemari karena merindukan halmonie."

Sehun tertawa, "Dan halmonie juga merindukanmu. Dari kemarin beliau sibuk menyiapkan kamarmu, dan menyuruh kami menyiapkan cemilan kesukaanmu, bahkan sekarang beliau sedang memasak makanan kesukaanmu." Sehun mengedipkan sebelah matanya, "Kedatanganmu kemari benar-benar membuat halmonie bersemangat..." Wajah Luhan kemudian terlihat sedih, "Biarpun begitu kami tetap bisa mengerti kenapa bertahun-tahun kemarin kau tidak bisa mampir ke Seoul, apalagi mengingat kondisi Jongin waktu itu yang begitu sakit, kami mengerti betapa kau mencintainya dan ingin tetap berada di sampingnya kalau-kalau yang terburuk terjadi."

Luhan merenung dengan sedih. Ya, demi Jongin dulu, dia telah mengorbankan seluruh waktunya, keluarganya, hari-harinya dihabiskan untuk mendampingi Jongin dan merawatnya.

Sehun memperhatikan ekspresi sedih Luhan lalu menepuk punggungnya, memberikan semangat, "Hei.. kenapa kau murung? Sekarang keadaan sudah lebih baik bukan? Transplatasi jantung Jongin yang sukses tentunya telah merubah hidup kalian, seperti sekarang, kau bisa main ke Seoul dan menengok kami lagi."

Ketika Sehun berjalan sedikit di depannya, Luhan meringis, makin pedih. Transplatasi jantung itu memang telah merubah kehidupan mereka. Tetapi bukan ke arah yang Luhan inginkan.


MENGHITUNG HUJAN


"Bagaimana penampilanku?" Kyungsoo menatap ke arah cermin, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Baekhyun dengan cemas.

Sementara Baekhyun sendiri tampak tersenyum geli melihat polah tingkah Kyungsoo.

"Kyungie.. kau itu cantik memakai baju apapun dan berpenampilan apapun. Lagipula Jongin mencintaimu, jadi kau memakai kertas koran sebagai bajupun dia akan bilang kalau kau cantik." gumam Baekhyun, tidak mampu menyembunyikan kegeliannya.

Pipi Kyungsoo memerah dia lalu duduk di tepi ranjang, menatap Baekhyun dengan malu, "Mungkin memang aku sedang gugup." Kyungsoo mengangkat bahunya, "Kau tahu ini adalah kencan pertamaku... sejak... sejak..."

"Sejak dengan Kris?" Baekhyun melanjutkan dengan penuh pengertian. "Aku mengerti Kyung. Tetapi bagaimanapun juga, kau masih muda, kau harus melanjutkan hidup. Aku yakin Kris di sana pasti akan tersenyum bahagia melihat keadaanmu sekarang."

Kyungsoo mengangguk, tersenyum sayang ketika membayangkan Kris.

Kris nya pasti akan tersenyum karena Kyungsoo sudah bangkit dari kesedihannya, berani melangkah, memasuki cinta yang baru.

"Kau tidak apa-apa kutinggal di sini?" Kyungsok melirik ke arah Baekhyun yang sekarang sudah tiduran di ranjangnya sambil membaca koleksi novel milik Kyungsoo.

"Aku kemari kan bukan buat menemuimu, tetapi mau mengicipi masakan eomma mu yang enak." Baekhyun mengangkat alisnya dan tertawa, "Jangan pikirkan aku, aku akan bersenang-senang di rumahmu."

Baekhyun memang selalu kesepian di rumah, ibunya sudah meninggal dan dia tinggal bersama ayahnya yang selalu sibuk, bahkan di hari minggu. Karena itu Baekhyun lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Kyungsoo, dia sudah dianggap seperti anak sendiri di sini.

Ketukan di pintu membuat Kyungsoo terlonjak kaget. Baekhyun tersenyum geli dan menepuk pundak Kyungsoo dengan novel di tangannya, "Taruhan.. itu pasti eomma mu yang bilang kalo Jongin sudah datang."

Eomma nya memang yang ada di balik pintu itu dan mengatakan kalau Jongin sudah menunggu di ruang tamu.

Kyungsoo menoleh gugup ke arah Baekhyun, "Aku... aku pergi dulu ya."

Baekhyun mengedipkan matanya, "Bersenang-senanglah."

Nyonya Do menyapa Jongin dengan ramah, sepertinya ibunya itu cukup senang dengan kedatangan Jongin, selain karena Jongin cukup santun dan baik, Nyonya Do juga menyadari bahwa Jongin adalah lelaki pertama yang diajak Kyungsoo ke rumah setelah Kris, hal itu berarti anak perempuannya ini sudah mampu bangkit dari keterpurukannya karena ditinggal Kris.

Setelah berbasa-basi sejenak, Nyonya Do meninggalkan dua muda-mudi itu duduk berdua di ruang tamu.

"Eomma menyukaimu." Kyungsoo berbisik pelan sambil menatap kepergian eommanya, lalu tersenyum malu-malu, "Terima kasih sudah mau datang menjemputku kemari."

"Aku senang melakukannya." Jongin tersenyum tulus, "Aku juga berterimakasih karena kau mau mengundangku datang ke rumah, berkenalan dengan eomma mu."

Kyungsoo tersenyum, tetapi kemudian ganjalan di hatinya itu muncul, kemarin dia masih ragu menanyakannya karena dia terlalu bahagia ketika menyadari besarnya perasaannya kepada Jongin, dan takut merusak suasana.

Tetapi sekarang dia harus menanyakannya, karena semua hal harus diluruskan sebelum mereka melangkah maju.

"Jongin." Ekspresi Kyungsoo berubah serius, "Ada yang ingin aku tanyakan..."

"Tentang apa?" Jongin terlihat tenang, tetapi matanya bersinar waspada.

"Aku menerima telepon pada suatu malam." Kyungsoo menatap Jongin dalam-dalam, "Katanya dari ibu mu, dan kalau dia memang benar-benr mamamu, dia bilang aku harus membujukmu agar mau pulang menemui tunanganmu yang sakit.." Kyungsoo menghembuskan napas panjang, "Katanya semua akan dijelaskan... tetapi kemudian aku datang ke resroran yang telah disepakati, menunggu sampai dua jam dan tidak ada siapapun yang datang." Kyungsoo menatap Jongin penuh pertanyaan, "Kau bisa menjelaskan tentang itu semua?"

Jongin menghela napas panjang. Dia tahu pertanyaan ini akan datang juga dari Kyungsoo, telepon ibunya memang tidak mungkin bisa diabaikan begitu saja. Haruskah Jongin menjelaskan semuanya kepada Kyungsoo? Tetapi dia masih merasa belum waktunya. Ikatan perasaan antara dia dan Kyungsoo harus lebih diperdalam sebelum pada akhirnya dia membuka seluruh rahasianya kepada Kyungsoo.

"Itu memang ibu ku." Jongin akhirnya berkata, "Tetapi yang dia bicarakan adalah mantan tunanganku."

"Mantan tunanganmu?" Kyungsoo mengeryitkan keningnya kaget.

"Ya... aku sudah memutuskan hubunganku dengannya karena aku sampai pada suatu titik kesadaran bahwa aku tidak mencintainya lagi." Jongin menatap Kyungsoo dengan sedih, "Kemarin dia sakit jadi ibu ku yang merasa ikut bersalah memutuskan menghubungimu, dia tahu bahwa aku mencintaimu dan berpikir bahwa kau mungkin bisa mengetuk nuraniku untuk menjenguk mantan tunanganku itu. Eomma mungkin membatalkan niatnya untuk menemuimu karena aku saat itu sudah pulang untuk menjenguk mantan tunanganku."

Kyungsoo menelan ludahnya, "Apakah kau memutuskan pertunanganmu karena aku?" Rasa bersalah menyergap perasaannya, kalau Jongin sampai memutuskan pertunangannya karena jatuh cinta kepadanya, dia tidak akan sanggup menahan rasa bersalahnya. Bayangan dirinya bersenang-senang di atas penderitaan perempuan lain sungguh tidak tertahankan.

Jongin menggelengkan kepalanya, "Tidak Soo, aku memutuskan pertunangan itu bahkan sebelum aku pergi ke Seoul, sebelum aku bertemu denganmu, dan sebelum aku jatuh cinta kepadamu." Jongin tidak bohong dalam hal ini, dia memang memutuskan Luhan sebelum dia bertemu Kyungsoo.

"Aku memutuskan pertunangan itu karena menyadari bahwa sudah tidak ada cinta untuknya, jantungku tidak berdebar karena bersamanya, dan aku rasa tidak baik mempertahankan sesuatu yang hambar, apalagi sampai dibawa ke jenjang pernikahan."

Kyungsoo tercenung memikirkan penjelasan Jongin, dia memang tidak bisa menyalahkan Jongin kalau itu memang yang menjadi alasan keputusan Jongin. Sedikit banyak dia lega karena Jongin memutuskan tunangannya bukan karena dirinya.

Ditatapnya Jongin dengan hati-hati, "Apakah mantan tunanganmu itu baik-baik saja sekarang?"

Jongin menganggukkan kepalanya, "Kemarin aku pulang untuk menemuinya, dia perempuan yang kuat, aku yakin dia akan bangkit dan bisa menemukan seorang laki-laki yang bisa mencintainya dan dicintainya dengan sepenuh hati." Jongin lalu beranjak, mencoba mengalihkan percakapan dari suasana yang membuat murung itu,

"Kajja kita pergi. Jangan dibahas lagi ya, itu masa lalu dan sekarang aku sudah melangkah maju." Jongin mengulurkan tangannya kepada Kyungsoo, "Bersamamu."

Sejenak Kyungsoo ragu, lalu dia membalas uluran tangan Jongin.

"Jadi setelah ini kita kemana?" Mereka hendak keluar dari gedung itu, setelah menonton film pilihan mereka. Ternyata hujan sedang turun dengan derasnya di luar, membuat benteng segaris air yang kelabu menutup pemandangan saking derasnya. Langit gelap bahkan di jam sore pun sudah tampak seperti tengah malam yang pekat.

Akhirnya Jongin mengajak Kyungsoo kembali masuk ke gedung itu, mereka duduk di Cafe di lantai empat yang berdinding kaca bening, sehingga pemandangan hujan yang menghantam-hantam kaca tampak begitu jelas. Kyungsoo dan Jongin memilih tempat yang langsung berdekatan dengan dinding kaca itu.

Seharusnya Kyungsoo tidak menyukai suasana ini, seperti kebanyakan orang yang menggerutu karena hujan telah merusak hari mereka. Tetapi tidak, dia malahan merasa senang, karena hujan baginya telah menciptakan aura yang membungkusnya, aura melankolis yang membuatnya semakin yakin bahwa dia telah jatuh cinta.

Kyungsoo tersenyum kepada Jongin, "Kita di sini saja dulu, menghitung hujan."

"Menghitung hujan?" Jongin mengernyitkan keningnya, "Bagaimana bisa?"

"Aku selalu melakukannya kalau sedang sedih.. Kau lihat itu?" Kyungsoo menunjuk ke arah kaca di sebelahnya.

"Lihat apa?" Jongin mendekatkan tubuhnya dengan tertarik ke arah yang ditunjuk Kyungsoo.

"Buliran-buliran air hujan yang menempel di kaca. Ketika aku melamun aku selalu menghitungnya, mengamatinya sampai buliran itu meleleh dan hilang... lalu mengitung lagi dan lagi." Kyungsoo menatap Jongin yang melihatnya sambil mengangkat alis, lalu menundukkan kepalanya malu, "Maafkan aku, aku aneh ya."

Jongin tergelak, mengulurkan jemarinya untuk mengacak rambut Kyungsoo, "Ya kau memang aneh, tapi kau orang aneh yang kucintai."

Mereka bertatapan, saling bertukar pandang, penuh cinta. Hati mereka diliputi oleh kebagagiaan yang luar biasa, jantung Jongin berdegup ringan, merasa bahagia. Tetapi bukan hanya jantungnya saja yang berbahagia, Sekujur tubuh Jongin seolah bernyanyi, mengucap syukur atas kebahagiaan yang telah lama diimpikannya ini. Kebahagiaan karena bisa ada di dekat Kyungsoo, kebahagiaan karena bisa memiliki hati Kyungsoo.

"Aku dulu juga suka menghitung hujan tanpa sadar." Jongin bertopang dagu, menatap ke arah kaca itu, "Dulu aku sempat sakit dan dirawat di rumah sakit lama."

"Kau sakit apa?" sela Kyungsoo dengan cemas.

Jongin tersenyum samar, "Bukan sakit yang penting." Elaknya, "Dan aku sering merasa hujan di rumah sakit. Saat paling menyenangkan buatku adalah ketika hujan turun, lalu aku akan menatap tetesan demi tetesannya yang berjatuhan dari jendelaku yang terbuka." Dia tersenyum menatap Kyungsoo, "Sepertinya kita sama."

Kyungsoo terkekeh lalu membiarkan jemarinya direngkuh ke dalam genggaman tangan Jongin, "Kita bisa duduk dan menghabiskan waktu diam berdua tanpa bosan, sambil menghitung hujan."

"Ide yang bagus." Jongin mengangkat alisnya, "Mari kita lakukan."

Dan demikianlah Jongin dan Kyungsoo. Duduk berdua, bergenggaman tangan, menghitung hujan bersama-sama.


MENGHITUNG HUJAN


Kyungsoo sedang mengunjungi toko buku kecil langganannya di lokasi dekat kampus, Baekhyun tidak ada bersamanya karena sahabatnya itu sedang kuliah tambahan. Dengan asik Kyungsoo menelusuri barisan buku-buku yang tertata rapi di bagian fiksi, mencari kisah romantis baru untuk di bawa pulang.

Ketika tidak menemukan apa yang dicarinya, Kyungsoo berbalik, hendak menuju bagian new release di sudut lain toko itu, ketika kemudian dia menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan buku-buku hingga yang dibawanya itu jatuh berserakan di lantai.

"Oh mian." Kyungsoo dan orang yang ditabraknya itu sama-sama berjongkok untuk mengambil buku itu, Kyungsoo mendongak dan menatap orang yang ditatapnya, seorang perempuan.. sangat cantik.

Dengan cekatan Kyungsoo mengambil buku-buku yang berserakan itu lalu berdiri diikuti perempuan itu, dan menyodorkan buku-buku itu kepada perempuan itu. "Mianhae aku ceroboh, aku tidak tahu ada orang di belakang."

Perempuan cantik itu menerima buku-buku dari Kyungsoo dan memeluknya di tangannya, "Tidak apa-apa, aku juga tadi berjalan lurus saja, tidak melihat ke kanan dan ke kiri."

"Itu Jane Eyre." Kyungsoo tidak bisa menahan diri ketika melihat sampul salah satu buku yang berada di bagian depan di pelukan perempuan itu, "Aku juga punya satu di rumah."

"Oh ya?" perempuan itu melirik ke arah bukunya dan tersenyum malu-malu, "Aku sedang berlibur di Seoul, dan sengaja membeli buku-buku yang banyak sebagai teman kebosananku. Dari sinopsisnya di bagian belakang buku, sepertinya ini buku yang menarik."

"Sangat menarik. Ini adalah buku romance dari tulisan sastra lama inggris, diterbitkan pertama kali tahun 1847 dan kisah cintanya masih bertahan sampai sekarang." Kyungsoo memutar bola matanya, "Ketika Charlotte Brontte menerbitkannya pada tahun itu, buku ini menuai banyak kontroversi."

"Kenapa?" Perempuan itu tampak tertarik.

"Karena kisah cintanya yang tidak biasa. Jane Eyre adalah perempuan mandiri dari keluarga kaya, ketika ayahnya meninggal dia terusir begitu saja dengan hartanya dikuasai oleh ibu dan adik tirinya, mirip kisah cinderella yah." Kyungsoo terkekeh, "Tetapi kemudian dia menjadi guru untuk mengajar seorang anak kecil, anak dari bangsawan kaya yang sudah menjadi duda, dia harus tinggal di sebuah kastil gelap, dimana kabarnya kastil itu berhantu dan sang pemilik adalah bangsawan yang sangat menakutkan, tetapi tidak pernah ada di rumah karena begitu sibuknya dengan bisnisnya. Dia mengajar anak bangsawan itu, seorang gadis kecil yang sangat mencuri hatinya sehingga Jane sangat menyayanginya. Tetapi kemudian bangsawan itu pulang ke kastilnya, dan Jane melihat bahwa bangsawan itu sangat tampan meskipun sikapnya misterius dan menakutkan."

Kyungsoo mengedipkan sebelah matanya, "Ada begitu banyak misteri di kastil itu dibalut kisah romance yang sangat menarik antara sang guru pribadi dengan sang bangsawan, kisah misterinya digambarkan dengan baik, bahkan aku sampai merinding membacanya, tetapi begitu membacanya kau tidak akan bisa berhenti, karena kau pasti sangat ingin tahu rahasia gelap dan mengerikan apa yang tersembunyi di kastil itu.. aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut kepadamu karena nanti akan merusak kejutannya."

Perempuan itu terkekeh, "Kau membuatku ingin cepat-cepat pulang dan membacanya untuk mengetahui rahasia gelap apa yang ada di sana." Lalu perempuan itu mengulurkan tangannya, "Kita sampai lupa berkenalan. namaku Lu..", perempuan itu berdehem, "... panggil aku Hani."

Kyungsoo tersenyum ramah dan membalas uluran tangan itu, menjabatnya dengan hangat, "Dan aku Kyungsoo."


TBC


Next to Chapter 8