Dear No One
By Biacht
Main Cast : Park Chanyeol & Byun Baekhyun
Other Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Genre : Romance
Rated : M
Warning : Gender-Switch
Dont like? Dont Read. No bashing and Flaming.
Enjoy!
Baekhyun tidak bisa menebak apakah ini hanya delusi atau tubuhnya yang bereaksi secara berlebihan. Mengapa hati terasa bergetar ketika bersentuhan dengan Park Chanyeol? Rasanya seperti ada berjuta – juta volt listrik yang menyengat tangannya ketika kulitnya bersentuhan dengan telapak tangan lelaki tinggi itu.
'Apakah mungkin...ah tidak tidak!' Baekhyun segera menggelengkan kepalanya berusaha menepis pikirannya yang mulai tidak masuk aka. Sepertinya ia kelelahan.
"Baekhyun, kau tidak apa-apa?" suara berat Sehun membuyarkan lamunan Baekhyun.
Baekhyun memang tadi berencana pulang mengingat hari sudah cukup larut dan ada lelaki yang menunggunya di apartemennya –okay ini ambigu, ia hanya tidak mau membuat Chanyeol terganggu dengan kedatangannya jadi dia berusaha pulang secepat mungkin- namun melihat Sehun yang sudah mau meluangkan waktunya untuk menengok keadaan cafe barunya membuatnya tidak enak. Lagipula ini Sehun. Pria sibuk sepanjang masa dengan jadwal padat berlebihan. Jadi Baekhyun sangat menghargai niat baik sahabat baiknya itu untuk setidaknya berkunjung ke cafenya walaupun sepertinya memang agak terlambat. Baekhyun harap dengan secangkir latte yang ia buat dapat membuat rasa lelah di tubuh Sehun menghilang. Setidaknya sedikit.
"Kau okay?" Sehun mendekati Baekhyun dan meletakkan tangannya di dahi yang lebih pendek. Tidak panas.
"Ah? Tidak apa-apa Sehun-ah. Aku hanya sedang lelah saja." Baekhyun tersenyum kecil. Sehun mengalihkan tangannya ke puncak kepala Baekhyun dan mengusak rambutnya gemas.
"Apa hari ini berjalan lancar?" Sehun meraih cangkirnya. Aroma latte yang menusuk indra penciumannya membuat ia merasa sedikit lebih rileks. Baekhyun memang yang terbaik.
"Ya, kurasa lancar." Baekhyun menggigit bibirnya ragu. Lancar? Bahkan semuanya kacau.
"Benarkah?" Sehun memicingkan matanya curiga melihat reaksi ragu dari Baekhyun. Ia meletakkan cangkirnya dan menatap Baekhyun sedikit lebih tajam.
"Astaga, hentikan tatapanmu itu aku benar – benar benci!" Baekhyun memutar bola matanya kesal. Sehun terkekeh pelan.
"Hari ini benar – benar baik Sehun-ah. Semuanya berjalan dengan lancar walaupun memang cukup ramai."
Sehun menganggukan kepalanya.
"Aku lelah sekaliii ~" Baekhyun merengek dan memijat pergelangan tangannya sendiri.
"Aigo, lihat kelakuan putri kecil ini hm? Mau pulang sekarang?"
Sehun meraih cangkirnya lalu segera mengahabiskan lattenya. Ia berdiri lalu meletakkan cangkir tersebut di meja kasir agar besok bisa dicuci oleh pegawai Baekhyun.
"Ayo kuantar pulang ke apartemen tuan putri ~" Sehun meraih tangan Baekhyun sekaligus tas tangannya.
Baekhyun dan sifat 'tuan putri' nya ini benar – benar mengkhwatirkan.
.
.
.
Chanyeol menatap kedipan cursor pada layar laptopnya. Ia benar – benar tidak bisa berfikir dengan benar. Kemana otak cerdasnya? Logika jeniusnya?
Mengapa ia bisa begitu terjerat kepada wanita yang bahkan baru ditemuinya sehari?
Bahkan ia menginap diapartemennya.
Demi Tuhan!
Chanyeol mengusap keningnya lelah. Logika dan cinta memang tidak pernah bisa disejajarkan.
Karena terkadang cinta tidak membutuhkan logika, dan tidak ada cinta yang dapat dilogika. Dan sepertinya logikanya sudah dibuang jauh – jauh oleh seorang wanita bernama Byun Baekhyun. Ia bahkan tidak memperdulikan harga dirinya sebagai seorang lelaki. Tidak memperdulikan Luhan.
Luhan...LUHAN?!
"Shit." Chanyeol mengumpat dan segera melompat meraih telefon genggam. Ia mendial nomor yang sudah ia hafal luar kepala dan menunggu selama beberapa saat.
Ah betapa bodohnya dia sampai bisa lupa menelfon kekasihnya itu. Bahkan ia lupa jika sudah mempunyai kekasih. Benar – benar bajingan ulung.
"Halo? Dengan siapa saya berbicara?"
"Halo? Luhan? Ini aku Chanyeol!"
"Masih ingat jika mempunyai kekasih bernama Luhan disini, CEO Park Chanyeol?" suara lembut dan juga kelewat tenang itu membuatnya bergidik. Luhan yang lembut dan juga tenang seperti ini mengindikasikan Luhan yang sedang menahan emosinya habis - habisan. Dan itu jelas pertanda buruk.
"Maafkan aku Lu. Aku terkena jetlag. Badanku tidak enak dan ada beberapa urusan kantor yang membutuhkan perhatianku. Dan untuk nomor baru ini, aku menjadi korban copet hari ini. Ponsel lamaku hilang dan aku harus membeli ponsel baru. Semua data – data penting di dalamnya hilang. Untung saja aku hafal nomormu diluar kepala. Jadi jika kau ingin marah denganku, kumohon simpan lebih lama lagi amarahmu itu karena aku benar – benar sedang lelah Lu."
Telefon tiba – tiba terputus dan Chanyeol m=kembali mendesah lelah. Luhan murka. Fix dan tidak bisa diganggu gugat. Memang ia terdengar brengsek ketika merengek untuk tidak dimarahi padahal jelas – jelas dia sudah berbohong. Namun ketika ia mengatakan bahwa ia lelah itu sama sekali tidak berbohong. Ia benar – benar lelah. 100% tired and exhausted.
Kepalanya pusing dan rasanya ingin meledak. Ia butuh sesuatu untuk menyegarkan kembali pikirannya. Ketika ia sibuk dengan kepala penatnya, terdengar suara pintu terbuka dari arah depan. Ia melihat Baekhyun masuk dengan wajah yang sama lelahnya. Rambut tercepol tingi dengan anak rambut yang menjuntai tidak teratur. Polesan make upnya yang sudah luntur sehungga menampilkan wajah pucatnya. Bibir yang tidak semerah tadi siang ketika mereka bertemu.
Namun anehnya semua itu masih terlihat cantik di mata Park Chanyeol.
"Oh, hai! Kupikir kau sudah tidur Chanyeol-ah." Baekhyun melepaskan sepatunya dan menghempaskan badannya tepat disamping Chanyeol.
"Selamat malam Baek ~" Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun terkikik.
"Ini bahkan sudah dini hari Chanyeol. Mengapa belum tidur? Tidak terbiasa dengan Seoul di malam hari ya?" Baekhyun menutup matanya, berusaha mengistirahatkan padangannya yang mulai buram karena lelah.
Chanyeol tertegun melihat wajah malaikat yang tersaji didepannya. Ingin rasanya ia melarikan jarinya untuk mengusap pipi pucat itu. Namun sebisa mungkin ia tahan karena biar bagaimanapun ia dan Baekhyun baru kenal hari ini. Dan akan sangat tidak sopan apabila ia sudah berani menyentuh – nyentuh Baekhyun seenak jidatnya.
"Entahlah, kepalaku pusing rasanya." Chanyeol mengela nafas, masih betah memandang wajah Baekhyun dari dekat.
"Pusing?" Baekhyun membuka matanya, memandang wajah Chanyeol yang cukup dekat dari wajahnya.
Chanyeol mengangguk dan tersenyum kalem.
"Ikut aku. Chanyeol-ah!"
Baekhyun tiba – tiba melompat berdiri dan berlari menuju dapur. Chanyeol mengernyitkan alisnya heran dan memilih berdiri mengikuti wanita mungil itu.
Ia melihat Baekhyun sedang memanaskan air di dalam panci. Lalu wanita itu berjalan lagi menuju kulkas mengambil lemon dan juga teh dalam kemasan.
"Baek, kau sedang apa? Aku semakin pusing melihatmu berjalan kesana kemari seperti itu." Baekhyun terkekeh geli.
"Duduklah dulu Chanyeol, jangan cerewet!" Chanyeol dengan patuh mengambil tempat duduk dibelakang bar dapur dan memperhatikan Baekhyun yang sedang asyik memeras lemon yang dimasukkan ke dalam secangkir teh panas. Baekhyun lalu menambahkan dua sendok kecil gula dan mengaduknya. Bau lemon yang asam langsung menguar bercampur dengan aroma teh yang masih panas. Benar – benar menyejukkan.
"Jika sedang lelah, biasanya aku membuat ini. Lemon yang rasanya asam dapat membuat pikiran kita menjadi lebih fresh. Dan lebih nikmat lagi jika dicampurkan dengan teh panas. Aku biasanya lebih suka meminum ini sebelum tidur daripada susu. Susu membuat pipiku membengkak." Baekhyun menggeleng – gelengkan kepalanya ngeri membuat Chanyeol tertawa.
"Untukmu ~" Baekhyun meletakkan cangkir itu dihadapan Chanyeol dan tersenyum manis.
"Terima kasih Baekhyun-ah." Chanyeol tersenyum lebar. Tampan.
" Sama – sama. Habiskan ya, semoga pusingnya bisa cepat hilang. Aku ke kamar duluan oke? Rasanya sudah tidak kuat. Jangan tidur terlalu pagi. Selamat malammm!" Baekhyun menguap dan segera melangkah masuk ke kamarnya.
Chanyeol terdiam menatap cangkir di hadapannya. Jemarinya memainkan pinggiran cangkir. Ia membiarkan aroma minuman tersebut terus merangsek masuk kedalam hidungnya. Ia berusaha menemukan kesejukan itu. Dan lagi – lagi ia dibuat merasa nyaman.
"Lemonnya memang menyejukkan Baekhyun-ah. Tapi kau kembali membuatku pusing. Mungkin malah gila." Lirih Chanyeol.
Chanyeol dan segala pikiran paginya.
.
.
.
Wanita itu tidak bisa menahan senyumannya sejak kejadian tadi siang. Ia terus – terusan menampilkan aura bahagia sehingga membuat sang suami terheran.
"Sepertinya kau sedang bahagia ya? Menang arisan hm?" Sang suami meletakkan majalah otomotif yang sedak tadi dipegangnya dan beralih melihat istrinya yang sedang sibuk menyisir rambut.
"Memangnya terlihat sekali ya?" sang istri memegang kedua pipinya secara tiba – tiba.
"Mmm, sangat!"
Sang istri lalu berdiri dan naik keatas kasur, membaringkan tubuhnya tepat disamping sang suami.
"Siang tadi aku bertemu dengan seorang wanita di toko." Sang istri mengawali.
"Aku mendengarkan." Sang suami menggengam telapak sang istri dan mengusapnya pelan.
"Wanita itu sangat baik dan juga anggun. Sepertinya ia juga dididik dengan baik oleh orang tuanya. Semuanya terlihat sangat sempurna, wanita itu sangat cantik dengan rambut bergelombang warna emasnya. Kedua bola mata yang berbinar – binar seperti rusa. Dan kau tahu jelas bahwa ia sangat mendekati seleraku untuk dijadikan menantu."
"Ck, sayang ~"
"Aku ingin dia menjadi pendamping Chanyeol." Rengek sang istri.
Sang suami berdehem membersihkan tenggorokannya, "Bukannya Chanyeol sudah berjanji akan membawa kekasihnya menemui kita? Bersabarlah sayang. Kita harus melihat seperti apa dulu pilihan Chanyeol. Pikirkanlah juga perasaannya. Ini bukan cinta antar anak remaja yang bisa seenaknya mengatakan putus jika sudah bosan. Chanyeol sudah dewasa, dan memilih pendamping baginya bukan lagi untuk dijadikan bahan pamer dan juga bersenang – senang. Pendamping hidup baginya sekarang adalah wanita yang tidak lama lagi akan ia peristri. Pilihan Chanyeol tetap harus kita nomor satukan sayang. Karena yang menikahkan Chanyeol, kau sudah menikah dengaku." Sang suami terkekeh ketika melihat sang istri merengut sebal.
"Kau ini benar – benar pandai ya merusak hariku. Baiklah, kita lihat bagaimana pilihan Chanyeol. Namun jika pilihannya tidak cocok untuknya, maka aku akan tetap menjodohkan Chanyeol dengan wanita itu. Percayalah sayang, aku tidak mungkinkan memilih wanita yang salah untuk anakku sendiri? Kau pasti akan menyukai wanita pilihanku ini."
"Baiklah – baiklah terserah kau saja. Ayo sekarang kita tidur."
.
.
.
Chanyeol menggeliatkan badannya ketika merasakan ada sinar matahari yang menusuk matanya. Ia membuka matanya dan melihat Baekhyun sedang membuka tirai yang berada tepat di depan kasurnya.
"Hai, selamat pagi! Maaf apakah kau terganggu?" Baekhyun menyapanya dengan riang membuatnya mengerang pelan.
"Sangat Baekhyun-ah." Gerutu Chanyeol pelan. Baekhyun tertawa lebar.
"Maaf, bukannya aku lancang masuk ke kamarmu Chanyeol. Tapi daritadi kuketuk pintu kamarmu tidak ada jawaban. Dan sekedar informasi saja, ini sudah jam sembilan. Apa kau tidak telat berangkat ke kantor?"
Chanyeol dengan sigap menyibak selimut dan melirik jam dinding yang tergantung di sudut kamar.
Sialan ia terlambat!
"ASTAGA BAEKHYUN-AH! AKU TERLAMBAT!"
Dan pagi itu tawa Baekhyun menjadi pengiring Chanyeol pergi ke kamar mandi.
.
.
.
Chanyeol keluar dengan kemeja yang sudah rapi ia masukkan ke dalam celana namun jas dan juga dasi yang masih ia bawa di lengannya. Baekhyun menggelangkan kepala. Ia bangkit dan menuju dapur.
Disaat – saat seperti ini pasti Chanyeol tidak akan sempat terpikir untuk sarapan. Jadi ia mengeluarkan sembuah termos kecil yang ia isi dengan kopi hitam. Sandwich ayam yang sudah ia buat untuk Chanyeol ia masukkan ke dalam kotak makan transparan. Baekhyun lalu mengepaknya dengan rapi dan dengan cepat menghampiri Chanyeol yang sedang berperang dengan dasinya.
"Sarapanmu ~" Baekhyun menaruhnya tepat disamping tas kerja Chanyeol. Ia lalu memutar badan Chanyeol menghadap ke sofa. Chanyeol melihatnya heran.
"Baekhyun-ah, aku sudah telattt ~" Chanyeol merengek.
"Aku tahu." Baekhyun menjawabnya singkat. Wanita itu lalu naik ke tas sofa di depan Chanyeol dan mulai membenahi pola dasi Chanyeol yang tidak beraturan.
"Excuse my height sir ~"
Chanyeol tersenyum dan memilih diam, memperhatikan Baekhyun diam – diam. Andai saja setiap hari ia bisa mendapatkan pemandnagan seperti ini sebelum berangkat kerja.
"Nah, sudah! Sana berangkat!" Baekhyun menyengir lucu. Ia lalu melompat turun.
Baekhyun baru akan melangkahkan kakinya ke meja makan ketika ia mendengar ucapan Chanyeol, "Baekhyun-ah, kau terlihat seperti istriku."
Chanyeol tersenyum geli lalu menghampiri Baekhyun yang masih terbengong karena ucapannya.
"Terima kasih istriku ~" Chanyeol berbisik lalu sesegera mungkin berlari keluar apartemen. Baekhyun yang masih mencerna keadaan, memiringkan kepala dan bergumam "Memangnya aku terlihat seperti itu ya?"
Semu merah dipipi mulusnyapun tidak dapat dihindari lagi.
.
.
.
Sehun melangkahkan kaki jenjangnya cepat menuju ke ruangan rapat. Sekertarisnya dibelakang tampak terburu – buru menyamai langkahnya. Hari ini ia ada jadwal rapat dengan Park Enterprise. Dan semua pebisnis pun tahu jika Park Enterpise bukanlah perusahaan yang main – main. Mereka sukses di segala bidang. Proyek yang mereka pegangpun bukan proyek sembarangan.
Sehun sedikit excited mengingat ia masih baru dalam dunia bisnis namun sudah berhasil mencapai keberhasilan setinggi ini. Apalagi jika nanti ia membuat agreement dengan petinggi Park. Sudah jelas perjanjiann ini akan bernilai jutaan dollar. Selain itu ia juga penasaran dengan petinggi Park ini. Sososknya sudah terkenal di kalangan karyawan kantornya semenjak pebisnis muda itu masuk ke jajaran pebisnis yang paling diincar tahun ini dan menempati urutan pertama. Bukannya iri, karena Sehun juga masuk ke dalam jajaran itu. Namun entahlah, ia tidak tertarik dengan gelar itu. Tetapi ada secercah rasa ingin tahu dalam dirinya yang membuat dirinya begitu penasaran dengan sosok Park itu.
Pintu ruang rapat terbuka, Sehun beserta sekertarisnya masuk. Dan sosok yang mencuri rasa ingin tahunya selama ini sedang berdiri tegap dihadapannya. Gagah dan juga sama tingginya dengan Sehun. Bahkan mungkin malah lebih tinggi.
"Park Chanyeol."
"Oh Sehun."
.
.
.
"Pasal 7 ayat 2, kurasa hanya itu yang akan direvisi dalam perjanjian kita hari ini tuah Oh." Chanyeol meletakkan kertas perjanjian itu dan tersenyum.
"Selamat datang di Park Enterpise. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Chanyeol menjabat tangan Sehun erat.
"Sebuah kehormatan bagi saya bisa bekerja dengan perusahaan sebesar Park Enterprise." Sehun membungkuk dan balas menjabat tangan Chanyeol.
"Jangan terlalu kaku tuan Oh. Bagaimana jika makan siang? Aku yang traktir?"
Sehun melirik sekertarisnya, sekertaris itu segera memeriksa agenda dan mengangguk.
"Baiklah, aku tahu cafe baru yang enak di dekat sini tuan Park."
"Chanyeol saja, tuan terasa kaku. Atau mungkin Hyung? Aku rasa aku lebih tua darimu, Sehun-ah."
Sehun mengangguk setuju, "Baiklah, Hyung."
"Berangkat sekarang?"
"Call."
Sehun mengeluarkan telefon genggamnya dan mengirim sebuah pesan singkat
To: Baekhyun
From: Sehun
Baekhyun-ah, aku akan kesana dengan kolegaku untuk makan siang. Dandan yang cantik mm? /wink emoticon/
TBC
Singkat dan Typos everywhere. Hehe -_-
Selamat tanggal 8! (?)
Read and Reviews, good night!
Ps: should i change my username? Saran maybe?
Xoxo,
Biacht
