Ketrin: Aah! Akhirnya saya kembali setelah hiatus sejenak..

Miwa: =_= Kamu tak ada bilang bakal hiatus..

Ketrin: G-Gomen.. oh ya! Sudah berapa bulan ya tak update? Hmm.. 2 ya?

Kai,Aichi,Miwa: 8 BULAN KETRIIINN! LEBIH MALAH!

Ketrin: Sorry bro~ Sengaja

Aichi: #facepalm

Kai: #tahanAmukan

Miwa: #maulemparkursi

Ketrin: Nah, kita lanjut! ACTION!


"Perang dunia II disebabkan oleh pengeboman markas AS di Hawaii oleh Jepang, dan.."

Pelajaran dimulai dengan normal hari itu. Tapi satu orang murid tidak memperhatikan satupun yang dijelaskan oleh gurunya. Dia hanya menatap kosong ke arah bukunya yang masih belum dihiasi oleh tulisan apapun, sambil mengetuk-ngetuk pulpennya dengan tempo acak.

30 menit yang lalu

"Oi, Kenai!" Kai cepat-cepat menghampiri gadis itu. "Gimana Aichi?"

Kenai menggeleng pelan. "Emi bilang Aichi tidak mau keluar-keluar dari kamarnya. Dia juga mogok makan. Kata Emi, kondisinya sama seperti dulu ketika dia dibully. Malah lebih buruk."

Kai mengerang pelan, merasa kesal akan jawabannya. "Ini merepotin. Serius.."

"Emangnya kamu aja yang berpikir gitu?!" sentak Kenai. "Kalau besok dia masih tak datang, aku harus datang menghampirinya."

"Aku ikut." Pinta Kai.

Kenai mendengus. "Oh, kamu ikut? Bagus sekali, jagoan! Aku tidak perlu orang yang membuatnya syok di lorong sekolah sendirian ikut bersamaku."

Kai terdiam seribu bahasa ketika Kenai berkata itu padanya.

"Aku pergi sendiri. Masalah ditutup. Kalau kau memang menyesal, maka menyesal sendiri saja. Aku benar-benar tak ingin melihatmu, Kai."

-Present time-

"Sudah 2 minggu sejak kejadian itu.. Apa dia segitu syok karena aku.." gumam Kai, sambil mengacak pelan rambutnya.

Miwa, yang merupakan teman sebangkunya sedari tadi memperhatikan Kai dengan kasihan.

"Hey, Kai. Cerialah sedikit. Kau tidak akan menyelesaikan apapun dengan lemas seperti itu." Hibur Miwa.

"Ceria gimana?" tanya Kai. "Aku baru reuni dengan sepupuku, dan dia sudah marah padaku. Aku akhirnya bisa dekat dengan cewek yang kutaksir, tapi dia sudah membenciku."

Miwa awalnya terdiam tiba-tiba langsung memutar kepalanya ke arah Kai dengan cepat. Kai yang menyadari perkataanya sendiri langsung menampar mulutnya.

Miwa menunjukkan cengiran khasnya. "Cewek taksiran, eh? Kai~ Kamu baru saja membuka rahasiamu kepadaku~"

"Aku tidak berkata apapun." Balas Kai cepat-cepat.

"Ohohoho~ Jangan seperti itu, anak manis~ Aku mendengar semuanya dengan jelas~" goda Miwa.

Kai memicing tajam ke Miwa. "Taishi Miwa, kusarankan kau tutup mulut."

Miwa terkekeh pelan. "Tenanglah, jagoan! Tapi kau harus cepat-cepat menggaetnya lho. Dia manis dan dia itu tipeku. Aku ini cowok jomblo, jadi jangan salahkan aku jika aku juga mengejarnya~"

Tangan kiri Kai refleks menarik kuat kerah Miwa. Untungnya guru mereka tidak menyadari ini.

"Kutantang kau katakan itu sekali lagi, Taishi." Ucap Kai dengan nada gelap.

"Pfftt, oi! Bercanda~ Bercanda~ Aku tahu kok dari dulu kau mengejarnya~ Aku ini bukan penikung woy!"

Kai mendengus. "Terserahmu saja, Taishi."

"Gimana kalau nanti kita berkunjung ke rumah Aichi? Ajak Kenai sekalian, sebagai tanda minta maaf. Akan kubantu kau bicara padanya dan Aichi. Gimana?" tawar Miwa.

Kai terdiam sesaat sebelum menghela nafas panjang. "Kurasa kau benar. Lebih cepat lebih baik."

Miwa tersenyum lebar. "Heh.. Kenapa baru sekarang bilangnya, Kai?"

-Pulang Sekolah-

Kenai menutup lokernya dengan pelan. Dia menarik nafas panjang, memikirkan kembali apa yang dikatakannya pada Kai tadi pagi.

'Aku tidak serius ketika mengatakan itu..' batinnya menyesal. 'Dia begitu senang melihat aku pulang dari Miami.. Tapi ini caraku membalas perhatiannya?'

Kenai masih berdiri di depan lokernya, tanpa menyadari area sekitarnya mulai kosong. Hanya tinggal dia sendirian disana, menatap ruang hampa. Setidaknya itu sebelum seseorang berdiri dibelakangnya.

"Kenai.."

Gadis itu mengenali suara itu dimanapun. Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya untuk melihat pemuda brunette itu disana.

"Kai.." gumam Kenai.

"Dengar.. Aku bersalah. Aku benar-benar bersalah dan aku sangat menyesalinya." Ujar Kai. "Kau teman Aichi.. Aku tak bisa minta maaf sendirian padanya.. Kumohon.. biarkan aku ikut."

Kenai tak berkata apapun, dia masih menatap Kai dengan sedikit mengernyitkan dahinya.

"Kenai, aku terkadang bisa jadi bodoh! Aku tahu itu! Kau tentu juga tahu kan?! Tapi aku ingin meluruskan keadaan ini! Jadi tolong biarkan aku i-"

Kai langsung berhenti bicara ketika Kenai memeluknya tiba-tiba. Dia memeluk Kai dengan erat, seakan tak ingin melepaskannya lagi.

"Maaf, Kai.. Aku benar-benar minta maaf.."lirihnya diantara isakannya yang halus. "Aku yang bodoh karena mengatakan itu tadi.. padahal itu tak pantas.."

Kai tersenyum pelan. "Sudahlah. Aku tak apa kok. Berhentilah menangis. Kamu tambah jelek seperti itu."

Persimpangan merah langsung muncul di dahi Kenai. "Sialan kau, Toshiki!" serunya sambil memukul pelan dada Kai.

"Kamu juga Toshiki kan? Berarti kamu juga sialan?" ejek Kai.

"Oh, diamlah kau.." Kenai memutar kedua bola matanya sambil tersenyum.

"Ayo kita kunjungi, Aichi."


Flashback

Gadis berambut cream itu menangis diam-diam di bawah bayangan pohon rindang itu. Tak ada yang menyadarinya sedari tadi. Kalaupun ada, dia hanya dibiarkan saja seperti itu.

"Papa.. Mama.. Hiks..Onii-chan.." isaknya pelan.

Isakannya terhenti ketika sebuah tangan kecil menepuk bahu kanannya.

"*sniff sniff* A-Aichi..?"

Gadis kecil yang dipanggil Aichi itu tersenyum sambil duduk disamping Kenai.

"Aku mencarimu di rumah pamanmu. Tapi katanya kamu sudah pergi duluan." Ucapnya sambil tersenyum.

"M-Maafkan aku, Aichi.. Aku hanya mau sendirian saat ini."

Aichi mengangguk maklum dan larut dalam keheningan itu.

"Siapa yang akan melindungi kita sekarang, Aichi..?"

Aichi memiringkan kepalanya heran. "Apa maksudmu, Kenai?"

"Onii-chan yang selalu melindungi kita dari orang-orang yang jahat itu.. Tapi sekarang...?"air mata mulai mendesak keluar dari mata Kenai. "A-Aku.. Aku tak mau diapa-apakan oleh mereka lagi... Aku perlu Onii-chan.. kamu juga kan, Aichi?"

Aichi tersenyum dan memegang kedua bahu Kenai. "Jangan khawatir, Kenai! Kini aku yang akan melindungimu!" seru Aichi mantap.

Kenai cengo sesaat. "Mana bisa.. Aichi kan kecil.."

#JLEB

"Aaah! Kenai kejam!" seru Aichi kesal. "Tapi aku bisa kok!"

"Gimana coba? Hayoo.."

"Aku akan bertumbuh kuat dan melindungi kita berdua!" seru Aichi.

"Tapi kan Onii-chan itu cowok.. Aichi aja cewek.. mana bisa dong.."

"Kalau begitu, nanti aku jadi cowok!" seru Aichi.

"..."

"..."

"Aichi bego ah.."

Aichi menampar dahinya sendiri. "Kenai yang bego kok. Tapi pokoknya percaya deh! Aku akan tumbuh jadi cowok yang kuat! Lalu aku bakal melindungi Kenai!"

Kenai menatap sahabatnya untuk sesaat, kemudian dia tersenyum sambil menghapus air matanya. "Baiklah. Itu janji ya." Ujarnya.

Aichi mengangguk mantap. "Itu janji kita berdua..!"

-skip time, a month later-

"KAU AKAN PINDAH?!"

Kenai menatap ke bawah, tak berani melihat wajah Aichi yang teramat kecewa.

"Pamanku yang lain menawariku pindah bersamanya ke Miami.. Mereka tak punya anak.. Jadi aku setuju.." jelas Kenai. "Maafkan aku Aichi.."

Aichi terlihat sangat kecewa, namun akhirnya dengan paksa dia tersenyum dan menggenggam tangan Kenai. "Jangan minta maaf! Bahagia dong! Pasti keren bisa ke luar negeri!"

"T-Tapi Aichi.. kamu gimana? Nanti kamu sendirian.." ucap Kenai khawatir.

"Kita bisa kirim surat kan? Tenang, aku tak apa kok!"

"Kenai! Ayo pergi! Taksinya sudah datang." Panggil pamannya.

Kenai menatap pamannya lalu menatap Aichi. Perlahan air mata mulai keluar dari matanya. "Tunggu aku disini ya, Aichi." Ucapnya sambil menarik Aichi dalam pelukan kuat.

"Uhn! Aku akan tetap disini! Tunggu saja!"

-skip time-

Aichi berjalan dengan lemas sambil memegang tali ransel yang bersarang di kedua bahunya. Perban melekat di pipinya dan ada beberapa goresan di anggota tubuhnya yang lain.

Dia kembali bertemu dengan anak-anak nakal yang selalu mengganggunya dan Kenai. Tapi kini dia sendirian. Lagi.

"Hey! Cerialah sedikit!"

Aichi mendongakkan kepalanya keatas, melihat seseorang yang lebih tua darinya. Anak berambut coklat dengan model spike.

"Aku..?" Aichi menunjuk dirinya sendiri.

"Ya iyalah kamu, gak mungkin hantu." Celetuk anak itu.

"... Kalau kamu mau memukuliku, silahkan lakukan sekarang. Mumpung nggak ngantri."

Anak itu langsung sweatdrop. "H-Hei, aku bukan orang yang gituan juga."

"Ooh.."

"Kamu dibully ya? Kenapa tidak melawan balik?"

Aichi menggeleng. "Aku tidak kuat.. Aku belum cukup kuat."

"Hee begitukah?"

Tiba-tiba sebuah kartu tersodor dihadapan Aichi. Aichi melihatnya dengan heran.

"Ambil saja, tak apa."

Aichi menerima kartu itu dengan ragu-ragu.

"Blaster..blade?" gumamnya.

"Dia adalah pejuang yang kuat! Bayangkan dirimu sebagai pejuang sekuat itu! Kau pasti bisa!"

Aichi menatap terus kartu itu. Perlahan semuanya mulai kabur.. kabur..

Akhirnya gelap..

Aichi tersentak sedikit. Dipandanginya sekitarnya. Dia kembali di kamarnya.

'Tadi itu mimpi ya..?' gumam Aichi.

Dia barusan terbangun dari tidur siangnya yang singkat.

"Janji itu masih kutepati.." bisik Aichi. "Tapi kau kembali hanya untuk melukaiku.."

Samar-samar didengarnya suara bel berbunyi. Suara yang membangunkannya tadi.

"Aku penasaran itu siapa.." gumamnya sambil kembali berbaring dan memeluk bantalnya yang empuk.


-Ting Tong- -Ting Tong-

Pintu kediaman Sendou perlahan dibuka dan menunjukkan sosok ibu Aichi yang menggendong Yukkiro dengan jelas.

"Kenai-chan! Kai-kun!" ibunya terkejut melihat keduanya. "Astaga, aku tidak tahu kalian akan berkunjung! Ayo masuk~"

Kai dan Kenai masuk bersamaan.

"Anu.. Apakah Aichi ada?" tanya Kai.

Tatapan ibu Aichi mulai menyiratkan kesedihan. "Dia diatas tapi dia tak mau keluar-keluar sejak 2 minggu lalu. Kami sudah menanyakan padanya berkali-kali ada apa, tapi dia tak mau bicara sedikitpun. Tiap saat aku mengantarkan makanan untuknya, piring yang sebelumnya masih penuh dengan makanan."

Ibu Aichi menghela nafas berat. "Aku takut dia akan sakit seperti itu."

"Tak apa, Sendou-san." Ujar Kenai tersenyum. "Kami berdua akan naik kesana. Kami akan meluruskan sedikit keadaan. Apakah itu tak apa?"

Ibu Aichi mengangguk. "Semoga beruntung. Kalian naik ke atas, lurus terus dan kamarnya ada di kanan. Kalian pasti bisa langsung mengenalinya."

Kai mengangguk mengerti. "Terima kasih. Kami permisi dulu."

Kedua sepupu itu berjalan perlahan menaiki satu persatu anak tangga. Tiap langkah diiringi kekhawatiran tetapi juga kesenangan. Mereka akan bertemu dengan sahabat mereka setelah 2 minggu penuh tanda tanya. Tapi mereka sama sekali tidak ingin gadis malang itu menjerit ketakutan ketika mereka tiba didepannya.

Keduanya kini berdiri di depan pintu yang bertuliskan 'AICHI' dengan warna dan gaya yang cukup cerah. Kenai mengambil nafas panjang sebelum memutar kenop pintu itu.

Dia tak mengetuk pintunya karena sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Meski kasar, mereka melakukan ini demi kebaikannya.

Aichi yang sedari awal meringkuk berbalut selimut yang menutupi semua tubuhnya mengira kalau itu hanya ibunya atau Emi. Dia tetap tak bergerak, namun masih terjaga di bawah selimutnya.

Kai melirik ke arah piring berisi makanan diatas meja belajarnya. Dia menggeleng pelan.

"Aku tak ingat pernah menyuruhmu diet, Aichi."

Aichi tersentak dalam selimutnya dan langsung memberontak keluar dari balutannya. 2 mimpi terburuknya tiba, dengan senyum menawan masing-masing.

"Keluar.." lirihnya.

Kai menghela nafas. "Aichi, tolong dengarkan aku.."

"KUBILANG KELUAR!"

"Tidak." Jawab Kai tegas. "Sampai kamu mau menutup dugaan salah itu dan mendengarkan kami."

Aichi semakin pucat. Tubuhnya tidak menerima apapun selama 2 minggu ini selain air dan beberapa suap nasi saja, itupun karena dipaksa oleh Emi. Kepalanya terlalu berdenyut untuk memikirkan cara agar mereka keluar. Dia akhirnya diam pasrah.

Kai menghela nafas lega. "Pertama.. Maaf."

Aichi melirik sedikit karena tak menyangka kalau Kai mau mengatakan itu.

"Aku keterlaluan. Kau berusaha menjadi cowok selama ini.. Jadi tolong maafkan aku saat di lorong sekolah." Ujar Kai.

"Poin kedua." Sela Kenai. "Kai bilang kamu iri padaku.. Kumohon setidaknya mengangguklah atau menggeleng. Apakah itu benar..?"

Perlu sesaat sampai akhirnya Aichi mengangguk pelan. Kai dan Kenai bertatapan sejenak. Kenai langsung duduk di kasur, disamping Aichi dan memeluk gadis itu dengan erat.

"Kamu tak berubah Aichi.." gumam Kenai. "Dari dulu selalu saja bego."

Aichi tidak bereaksi. Kenai memang selalu berkata seperti itu padanya tapi tentu bukan dalam arti yang buruk.

"Baiklah, mari kita mulai dari awal saja. Oke, Aichi?"

Aichi langsung menatap Kenai seakan meminta penjelasan dari perkataannya. Kenai tak berkata apapun. Dia tersenyum

"Kai. Perkenalkan dirimu."

Kai juga tak mengerti, tapi pada akhirnya dia menurut.

"Kalian sudah tahu aku. Toshiki Kai."

"Baiklah giliranku~" seru Kenai.

Dengan lembut dirangkul kembali tubuh Aichi yang lemas.

"Aku ini sahabatmu sejak kecil. Aku mempercayaimu dan kau juga mempercayaiku. Aku Toshiki Kenai."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Tunggu, kalian berdua Toshiki?"

Kenai dan Kai menghela nafas panjang.

"Itulah yang mau kami jelaskan, dasar Bakaichi.."

"Kami ini sepupu.."

...

"SEPUPU?!"


Miwa: Update lama tapi isi sedikit! Gimana mau dapat fans coba?!

Ketrin: Gue gak minta fans kok. Alaaaah, bilang aja pengen lebih sering nongol!

Miwa: ...

Ketrin: Yak! saya masih tetap akan sibuk karena ini tahun ke-3 saya di SMA dan harus siap-siap untuk SNMPTN dan SBMPTN, juga UN! Jadi.. err yah begitulah.. Ja nee!