Skylark VS Skylarks

.

.

Dua buah tonfa ia genggam. Ia sudah memasang kuda-kuda untuk menggigit si nanas biru berseragam Kokuyou itu sampai mati.

"Oya, oya, jangan marah, Kyouya… Aku hanya mengajari Yuuya-chan mist illusion"

"Simpan oya, oya-mu yang menjijikkan itu sampai ke alam baka Mukuro! Apa yang kau lakukan pada Yuuya?!"

Yuuya berjalan maju, berdiri di antara Mukuro dan Kakaknya. Ia keluarkan tonfanya untuk melindungi Mukuro. Langkah Kyouya terhenti. Ia mendeathglare sang adik.

"Kau benar-benar sudah dicuci otak oleh si nanas busuk itu rupanya…" Kyouya sebal sekali melihat dua nanas biru berdiri di hadapannya. Terlebih lagi, salah satunya adalah Yuuya, adiknya sendiri, seorang Hibari, dan sekarang dia malah memakai rambut ala nanas biru itu di kepalanya. Penjelasan apa lagi yang bisa menjelaskan perilakunya kalau bikan 'ia sudah dicuci otak oleh Mukuro'?

"Minggir Yuuya! Kau seorang karnivore bukan? Karnivore tidak membutuhkan orang lain. Karnivore hidup sendiri."

"Tidak semua karnivore hidup sendiri Kyouya! Termasuk aku!"

Mereka berdua saling melempar deathglare. Tiga detik kemudian, suara tonfa beradu dengan tonfa terdengar. Mukuro hanya menonton sambil tersenyum-senyum.

"Roll! Needle Sphere Form!"

"Kupiiiii~!"

Landak awan itu membengkak menjadi bola duri yang besar, bertambah banyak, dan melayang-layang di udara. Yuuya melompat mundur beberapa meter untuk menghindari serangan Kyouya.

"Ame! Kumo! Big Wave!"

Skylark biru itu mengeluarkan rain flamenya untuk menetralisir cloud flame Kyouya, ditambah dengan kemampuan propagation Kumo, kekuatan Ame membesar, menghentikan duri-duri Roll. Yuuya melompat maju begitu ada celah, kembali menyerang dari jarak dekat.

"Arashi!"

Skylark merah melesat, menghantam bola-bola duri Roll dengan storm flame yang menyelimutinya. Api merah membakar bola duri itu. Yuuya tersenyum, namun begitu pula dengan Kyouya. Ia ingat akan kemampuan Roll untuk mengubah flame dari atribut lain menjadi cloud flame, bagai awan yang terbentuk dengan mengondensasikan partikel-partikel yang ada di atmosfer. Roll mengubah flame Arashi menjadi cloud flame dan menggunakannya untuk kembali tumbuh membesar, melawan efek tranquility rain flame Ame. Roll dan bola-bola duri lainnya melayang ke arah Yuuya .

"Kaminari! Shield!" burung berwarna kuning membentuk sebuah perisai dari lightning flame, menghalau hantaman duri Roll. Yuuya melanjutkan perkelahiannya dengan Kyouya.

"Kau benar-benar sudah dicuci otak oleh Mukuro."

"Oh ya? Aku mengharapkan ini sejak dulu Kyouya."

"Wao. Sekarang kau bahkan menirukan 'oya, oya' menjijikkan si nanas busuk itu"

"Aku tidak mengatakan 'oya' bodoh!"

Tonfa Yuuya yang dikelilingi api berwarna jingga memukul keras tonfa Kyouya hingga tangan kirinya terasa kebas.

"Rupanya kau tak main-main. Roll, cambio-forma!"

"Kupiiiii!"

Kyouya pun berubah, ia mengenakan chouran hitam panjang dengan motif bulu burung di bagian dalamnya. Handband fuuki-iinchounya bergelanyut di lengan kanan. Gerakan Yuuya terhenti sejenak. Ia melongo.

"Norak sekali kyouya..." ia berkomentar singkat dengan wajah mengejek.

Urat2 kemarahan muncul di dahi sang fuuki-iinchou. Flame ungunya bertambah besar. Ia membuat tonfanya mengeluarkan rantai yang kemudian berayun dan membelit tubuh si Skylark kecil. Yuuya merasakan tenaganya tersedot seiring dengan meredupnya flame di tonfa dan ketujuh burung kecilnya. Tubuhnya melemas. Ia jatuh terjerembab menghantam lantai kayu aula Kokuyou itu.

Yuuya menengadah, melirik ke arah Kyouya dengan penuh amarah.

"Cih"

Kyouya menarik rantainya dan menonaktifkan cambio-forma nya. Tubuh Yuuya terasa lemas. Rantai berbalut cloud flame tadi mengubah flamenya menjadi cloud flaeme Kyouya, seperti kemampuan cloud flame yang Kyouya tahu dari ingatan TYL Kyouya ketika melawan Gamma.

Yuuya bangkit perlahan. Rambut nanasnya menghilang karena kehabisan energi. kembali ke rambut hitamnya yang pendek. Kyouya menarik tangan gadis itu hingga ia berdiri. Dengan sisa-sisa tenaganya, Yuuya berusaha menopang beban tubuhnya.

Raut cemberut menghiasi wajahnya. Ia mengibaskan tangan Kyouya hingga terlepas dan berdiri sendiri.

"Oya, oya, pertarungan kalian berdua cukup menarik, tapi sekarang sudah saatnya bagiku untuk undur diri. Arrivederci..." sosok Mukuro menguap, kemudian perlahan menghilang.

"Cih. Si nanas busuk itu..." Kyouya mendecakkan lidahnya. Ia kemudian melirik ke arah Yuuya yang masih berdiri limbung di sebelahnya.

"Sudah sadar eh? Akhirnya kepalamu kembali seperti semula. Ayo pulang. Tidak baik berada di istana nanas ini terus-menerus" dia menggamit pergelangan tangan yang lebih kecil darinya. Menariknya keluar dari aula Kokuyou.

Yuuya tidak menjawab. Nafasnya memburu karena marah. Namun, dia masih belum mengumpulkan kekuatan untuk mengalahkan tarikan itu.

Kyouya mengomel sepanjang jalan. Tidak seperti dirinya yang biasanya berbicara ringkas, kali ini omelan panjang lebar dikeluarkannya. Soal betapa kecewanya ia melihat Yuuya berguru pada Mukuro, soal karnivore, herbivore, dan hal-hal tak penting lainnya. Yuuya jengah mendengarnya. Ketika ia merasa tenaganya sudah kembali terkumpul, ia mengibaskan tangannya hingga terlepas dari genggaman Kyouya.

"Cukup Kyouya!"

Yuuya mengeluarkan boxnya, dan membukanya lagi.

"Ame! Kiri! Arashi!"

Ilusi kabut tebal mengaburkan pandangan sang Skylark. Rain flame yang menyelimutinya membuat gerakannya tertahan. Kelebatan bayangan merah yang menyerangnya bertubi-tubi menyita perhatiannya.

Yuuya segera melarikan diri dari pandangan kakaknya itu sebelum sang kakak sempat beraksi. Kyouya berhasil menangkap Kiri, Ame, dan Arashi, mengurung mereka dalam penjara bola awan berdurinya. Namun ketika ia berpaling, Yuuya sudah menghilang.

-xXx-

"Dasar Kyouya bodoh! Dia tak akan bisa menangkapku." Yuuya berlari melintasi jalanan yang berhias salju putih berkilau. Ia kemudian berbelok, melewati jembatan yang melintasi sungai yang tepiannya mulai membeku.

Tiba tiba saja air sungai itu meluap naik secara tidak wajar, Membuat arus berbentuk lingkaran berdiameter sekitar 2 meter, meliuk-liuk sejenak di udara, menyerupai naga air, sebelum kemudian meluncur cepat ke arah Yuuya yang berdiri terpana di atas jembatan. Dengan sigap Yuuya melompat dan bergulung ke kiri. Aliran air itu menghantam lantai beton jembatan yang keras dan kokoh, menyebabkannya bergetar keras.

Yuuya mengerjap. Ia baru saja menyadari bahwa sekelilingnya telah tertutup kabut tebal. Ia tak bisa melihat kedua ujung jembatan. Rasa panik mulai menyelimutinya. Naga air itu kembali menyerangnya, Ia kembali menghindar dan jembatan itu kembali bergetar. Si naga air meliuk-liuk tinggi ke udara, kemudian kepalanya terbelah menjadi dua, Badannya mengikuti. Mereka menyerang bersamaan dari arah berbeda. Yuuya tak bisa menghindar, air itu menggulungnya, berputar-putar, Membuatnya mual dan pusing. Ia tak bisa bernafas.

Ia merasakan punggungnya menghantam batangan besi yang keras. Ia terbatuk, membuat air itu tertelan, beberapa masuk ke saluran pernafasannya. Aliran air bergerak cepat melewati tubuhnya yang tertahan pagar jembatan, meninggalkan rasa beku yang menusuk di setiap jengkal kulitnya.

Ia terbatuk keras, memuntahkan air, ketika aliran itu telah berlalu melewatinya. Dada dan rongga hidungnya serasa terbakar. Nafasnya tersengal-sengal. Ia mencengkeram bajunya, memberikan tekanan untuk mengurangi rasa sakit di dadanya.

Sesosok pria berjas hitam muncul di hadapannya. Pria itu tertawa pelan. Yuuya bangkit dan mengeluarkan tonfanya. Dadanya naik turun, menyesuaikan ritme nafasnya.

"Siapa kau?" Yuuya berusaha membuat suaranya terdengar mengintimidasi. Namun pria itu hanya tertawa.

"Jawab!" Yuuya berteriak. Kemudian rasa panas kembali menyeruak di tenggorokannya dan ia pun kembali terbatuk keras.

"Tenanglah nona manis. Paman tidak akan menyakitimu." Pria itu tersenyum aneh. Senyum yang akan membuat gadis berusia 12 tahun langsung tidak mempercayai setiap kata-katanya.

"Paman akan membuatmu bahagia gadis kecil!"

"Menjijikkan!" dia berkomentar dengan wajah jijik.

"Jadi kau tidak mau ikut dengan Paman ya? Hmmm..."

Dia menggaruk janggutnya yang berantakan. "Kalau begitu, Paman harus memaksamu untuk ikut" senyumya berubah menjadi seringai seram yang penuh dengan aura membunuh.

"Coba saja kalau bisa!"

"Kau tidak banyak berubah ya..." katanya sambil memasang wajah acuh dan mengorek telinganya dengan jari kelingking. Yuuya bergegas berlari menerjangnya. Ia menghantamkan tonfanya ke tubuh pria itu. Namun, serangannya bisa ditahan hanya dengan satu tangan. Pria itu menggenggam tonfanya, menahan gerakannya. Dengan tenaga yang jauh lebih besar, pria itu mengangkat tonfa beserta tubuh mungil Yuuya, kemudian membantingnya keras di permukaan jembatan yang keras.

"Ghk!" Badannya terasa kebas. Ia mengabaikan rasa sakit itu, berusaha menarik tonfanyanya. Namun, malah tubuhnya yang tertarik, melesat ke arah pria itu. Si pria mengayunkan tangannya yang satu lagi dan meninju perut Yuuya keras2.

"Ughk!"

Tubuh kecil itu terpelanting dan kemudian membentur lantai dengan suara berdebuk. Ia terguling beberapa kali sebelum berhenti dan terbatuk keras. Darah dan liur menetes-netes dari bibirnya. Ia bangkit dari posisi telungkup, bertumpu pada lengan kiri dan kedua lututnya. Tangan kanannya memegangi perutnya yang nyeri. Tonfanya tergeletak beberapa puluh senti di hadapannya.

Yuuya dapat mendengar suara langkah pria itu mendekat perlahan. Ia berusaha berdiri sekuat tenaga. Tubuhnya gemetar. Ia merasakan tendangan keras menghantam tulang belikatnya dari sebelah kiri, membuatnya terguling beberapa kali.

Nafasnya terasa sesak akibat tendangan tadi. Ia merasa sepertinya ada beberapa rusuknya yang patah. Langkah pria itu kembali terdengar, kemudian berhenti tepat di samping kepalanya. Pria itu berjongkok. Tangan besarnya menarik rambut ebony yuuya, menghadapkan mata Skylark kecil itu ke arahnya.

"Di mana harmony ring?"

Suara serak dan berat pria itu bergetar di telinganya. Yuuya tidak menjawab. Kedua matanya onyxnya menantang mata emas pria itu.

"Jawab!" pria itu berteriak kencang, menimbulkan suara berdenging di telinga Yuuya. Gadis itu mengernyit sejenak, kemudian memandang pria itu lagi dan meludahi wajahnya. Seringai mengejek muncul di bibirnya. Si pria mengerjapkan mata. Ia mengusap ludah bercampur darah yang menempel di pipinya itu dengan tangannya yang lain.

"Jadi itu jawabanmu nona…"

Pria itu mengangkat kepala Yuuya sedikit lebih tinggi, kemudian menghantamkannya keras-keras ke permukaan jembatan. Ia bisa merasakan darah hangat mengucur dari pelipisnya. Matanya berubah kosong dan menggelap. Tubuhnya lemas. Kesadarannya perlahan menghilang.

"Onii-sama… tolong aku…"

-xXx-

"Kemana dia...?" Kyouya berjalan sambil menebar aura kegelapan ke sekelilingnya. Ia mencari sang skylark kecil yang menghilang entah kemana. Tiba2 ia merasakan adanya penggunaan flame dalam jumlah yang besar Dari arah jembatan. Ia merasakan firasat buruk, Tapi tak tahu mengapa. Entah itu karena kedamaian Namimori terancam, atau karena mungkin keselamatan yuuya sedang terancam. Tapi itu tidak penting, tanpa membuang waktu, ia segera berlari ke arah jembatan, melewati gang-gang lebar Dimana pagar-pagar rumah berdiri di sisinya.

Setelah berlari beberapa saat, ia keluar dari deretan rumah dan beralih menyusuri tepian sungai. Ia merasakan keanehan terhadap kabut yang menyelimuti. Ini sudah siang hari dan cuacanya cerah, namun, mengapa ada kabut yang menggantung di atas jembatan itu. Ia bergegas menuju ke sana. Langkahnya terhenti ketika seorang wanita berambut merah menghadangnya ditengah jalan. Kedua tangan wanita itu tersilang di dadanya. Seringai jahat terukir di wajahnya.

"Halo Kyou-kyun!" suaranya terdengar genit dan manja.

"Siapa kau herbivore?"

"Aaah! Manisnya!" dia memegang kedua pipinya dan bergoyang-goyang dengan wajah terpesona. "Aku tidak rugi datang ke sini!"

"Minggir herbivore!"

"Ahihihihi… kau tak banyak berubah Kyou-kyun!"

Alis Kyouya bertaut. Ia tak habis pikir dari mana wanita ini tahu namanya dan mengapa ia bicara seolah mereka telah lama saling mengenal. Kyouya sama sekali tidak memiliki ingatan tentang wanita ini.

"Siapa kau?" tanya Kyouya ketus.

"Aku? Namaku Q-Ra, Kyou-kyun sayang. Calon istrimu di masa depan. Ahihihihi…" wanita itu kembali terkikik sambil menutupi bibirnya yang semerah darah.

"Omong kosong! Minggir atau kugigit sampai mati!" urat kemarahan muncul di dahinya. Alisnya makin bertaut.

"Q-Ra!"

Suara berat seorang laki-laki terdengar di belakangnya. Mereka menoleh ke arah asal suara. Seorang pria, dengan jas hitam berdiri di sana. Mata Kyouya terbelalak nanar ketika ia melihat apa yang dibopong pria itu di pundaknya. Sosok tubuh Yuuya yang terkulai lemas menggantung di pundaK pria itu dalam posisi telungkup. Darah dan air tampak menetes-netes dari ujung jarinya. Seluruh tubuhnya basah dan kotor, dihiasi bercak-bercak darah yang memudar terkena air.

Amarah Kyouya memuncak. Flame ungunya membesar tanpa dikomando. Tanpa banyak bicara ia segera menyerang pria Itu dengan kalap. Namun, belum sempat ia berbuat apa-apa, ia merasakan tubuhnya tak bisa bergerak, membatu. Flame ungunya yang membara menghilang dalam sekejap. Matanya bergerak2 nyalang ke arah wanita merah dan pria sialan itu.

"Hmm... Jadwal kita terbatas Q-ra. Ayo kita pergi! Aku tidak mau naik kapal hanya gara-gara menungguimu bermain-main dengan bocah itu. Naik kapal selalu membuatku mabuk laut. Pesawat kita akan berangkat 30 menit lagi tau!"

"Yaaa~ yaaa~." matanya beralih ke arah Kyouya, kemudian kembali ke arah Svein. "Hei Svein, tidakkah kau mau membopong Kyou-kyun untukku? Aku ingin membawanya ke markas juga." Q-Ra merengek manja.

"Tidak. Aku tidak tertarik menyentuh pria. Apalagi orang yang tidak moe seperti dia." Svein menunjuk Kyouya yang membatu dalam posisi menyerang, dengan kepalanya.

Pikiran Kyouya meronta. Meski dia cukup berpengalaman dengan ilusi, namun dia tak sanggup melepaskan diri dari paralysis yang membuat tubuhnya tak bisa bergerak itu. Ia mengerang penuh amarah. Amarah akan betapa lemahnya dirinya di hadapan kedua herbivore itu, terlebih lagi, amarah akan ketidakberdayaannya untuk menyelamatkan Yuuya.

"Sayangnya kita harus berpisah di sini Kyou-kyun. Adios!"

Q-Ra meniupkan sesuatu dari tangannya ke arah Skylark yang membatu itu. Kabut putih menyelimuti pandangannya. Tubuhnya lemas. Kesadarannya mulai menghilang. Ia mendengar suara yang tak asing lagi memanggil-manggil namanya dengan cemas. Namun ia tak sanggup lagi membuat dirinya terjaga. Meski enggan ia terpaksa menyerah pada ketidakberdayaannya.

-xXx-

Suara seseorang yang berbincang terdengar di seberang ruangan. Ia membuka mata tampak lagit-langit yang disinari cahaya merah mentari sore hari. Ia bangkit dari tempatnya tergeletak, mendapati dirinya berada di atas kasur empuk, kamar apartemennya.

"Haneuma..." ia mengerang lirih ketika melihat Dino berdiri di ambang pintu, memunggunginya. Ia sedang berbicara dengan seseorang di telepon dan tidak mendengar suaranya yang cukup lirih. Kepalanya masih berkunang-kunang. Kesadarannya masih belum kembali sepenuhnya namun ia memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri dari tempat tidurnya.

Ia berdiri limbung, keseimbangannya belum sempurna.

Dino yang kemudian menyadari adanya gerakan di belakangnya langsung berbalik dan menjauhkan telepon genggamnya dari mulut.

"Kau tidak apa-apa Kyouya?" ia bertanya cemas. Ia berjalan mendekat beberapa langkah ke bocah limbung di hadapannya itu.

"Yuuya..." dia berjalan gontai ke arah pintu. Kepalanya terasa sangat sakit, seperti dihantam palu tanpa henti.

"Kyouya, istirahatlah dulu! Kau masih belum pulih benar." bujuk Dino sambil menahan langkah Kyouya dengan memegang kedua pundaknya.

"Minggir Haneuma!" tangan Dino ditempisnya dengan kasar. Ia kembali berjalan, namun tiba-tiba, kekuatan seakan menghilang dari kakinya. Tubuhnya terjatuh mengikuti gaya gravitasi. Tubuhnya pasti sudah menghantam lantai jika saja Dino tidak menahan tubuhnya. Namun keseimbangan mereka kurang terkoordinasi sehingga Kyouya pun jatuh menimpa Dino. Kyouya baru saja akan kembali berdiri ketika ia mendapati Dino mendekap kepalanya.

"Tenanglah Kyouya! Yuuya akan baik-baik saja. Dia seorang Hibari. Dia seorang karnivore juga kan?"

Itu hanya bujukan kosong yang seharusnya tidak dipercaya bahkan oleh Hibari Kyouya sekalipun. Bagaimanapun juga ia telah melihat Yuuya dan dia tidak baik-baik saja. Namun rasa sakit di kepalanya dan dekapan hangat Dino membuatnya menyerah. Ritme jantung Dino yang terdengar lirih di telinganya, membawa efek yang menenangkan. Ia pun jatuh tertidur dalam dekapan sang Cavallone Decimo, melepaskan diri dari segala beban di kepalanya.

-to be continued-