MENCINTAI ORANG YANG SAMA TAPI BERBEDA
By Itachannio
Vocaloid
Disclaimer: Yamaha, Crypton Future Media, and fans all over the world
Main Characters: Kaito Shion, Miku Hatsune, Kamui Gakupo, Megurine Luka.
Other Characters: Find by yourself
Author's Words:
Moshi-moshi, annyeonghaseyo, halo, hi Readers di mana pun anda berada!
Fanfic ini termasuk fanfic pertama saya, jadi pasti terdapat banyak kesalahan. Mohon bantuannya ya untuk para readers ataupun senior yang membaca fanfic ini. Dengan banyaknya saran dan kritik yang masuk pada kantung review saya, saya jadi bisa mengetahui seberapa banyak kesalahan saya, juga seberapa besar peluang saya untuk memperbaikinya.
Dari sini, saya akan menambahkan lagu-lagu dari luar Vocaloid, karena jika lagu-lagu ini berasal dari vocaloid, maka akan membingungkan bagi saya untuk menulis judul lagu dan juga penyanyinya.
Oh, dan tambah satu hal lagi! Saya menambahkan beberapa kata yang tidak dalam bahasa Indonesia, maupun bahasa Jepang. Ceritanya, kata-kata ini asli bahasa negara Voca tempat para karakter berada.
Terima kasih dan selamat membaca!
Enjoy
Chapter seven; Masih Belanjut; Misteri di Balik Cerita Hantu
Summary:
Aku bertemu dengan rambut indahmu di malam itu. Rambut itu begitu berkilau saat angin menerbangkannya. Rambut itu berwarna hijau gelap. Dia tergerai panjang menutupi punggungmu yang mungil.
Aku ingin melihatmu lagi, namun setelah hari itu aku tak pernah melihat sosokmu maupun rambut indahmu yang sempat membuatku terpesona.
Miku terus-terusan menangis sambil menatap Kaito. Di tubuhnya saat ini sedang terpasang beberapa selang infus yang berseliweran kesana-kemari. Sebenarnya Gakupo sudah meminta Miku untuk menunggu di luar saja, tapi gadis itu bersikeras untuk menunggui Kaito di dalam. Dia sudah tidak mau lagi pergi jauh dari anak itu.
Gakupo menatap Kaito dalam diam di samping Miku. Dia tidak tahu sedalam apa rasa sakit yang sedang dirasakan anak itu, tapi dalam hatinya, dia juga merasa sakit. Rasa sakit itu bukan hanya dia rasakan karena Kaito, namun juga Luka dan Len. Untunglah Luka sudah bisa bangun dari tempat tidurnya meskipun belum boleh meninggalkan ranjang. Len masih belum siuman, tapi dokter bilang anak pirang itu akan segera membuka matanya. Tadi dia sempat mengunjungi Luka dan Len sebelum mengunjungi Kaito.
Mengingat keadaan Kaito yang sangat kritis, Gakupo sedikit kesal dengan kedua orangtua anak biru itu. Semalam setelah kejadian, Gakupo sempat menelpon kedua orangtua Kaito dengan nomor telepon yang–entah dari mana bisa–didapatkan polisi, tapi dia tidak mendapat sambutan langsung dari orangtuanya. Yang ada adalah pelayan di rumah mereka–yang tentu saja berada di luar negeri.
Gakupo menghela napas berat. Ditatapnya Miku yang dari tadi tidak mau berhenti menangis. Anak itu menyentuh pundak Miku, membuat mata sembab Miku balik menatapnya.
"Sebaiknya kita tunggu di luar. Kaito juga masih perlu istirahat," ajak Gakupo, lembut–untuk yang kesekian kalinya. Miku menatap wajah Kaito lekat-lekat. Meskipun dengan berat hati, akhirnya gadis itu menyetujui ajakan Gakupo.
"Miku, Gakupo-kun," sapa Luka saat melihat Miku dan Gakupo masuk ke kamarnya. Miku langsung menghambur memeluk Luka saat melihat gadis itu sedang terduduk di atas ranjang.
"Senpai! Gomen baru menengokmu sekarang!" ucap Miku sambil menangis. Luka hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala Miku. Dia lalu melirik Gakupo sebagai isyarat untuk datang dan duduk di sampingnya.
"Bagaimana keadaanmu, Senpai?" tanya Gakupo, setelah dia duduk di kursi kecil yang tersimpan di pinggir ranjang Luka.
"Aku sudah membaik, jadi kalian tenang saja," balas Luka sambil menatap Gakupo dan Miku dengan senyumnya. Miku melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipinya.
"Luka-senpai, lain kali jangan melakukan hal sembrono begitu seorang diri," kata Miku sambil menatap Luka dengan tatapan 'kau-membuatku-khawatir'-nya. Gakupo menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu juga berlaku untukmu, Miku," kata Gakupo. Luka langsung mengerutkan dahinya sambil menatap Miku, meminta penjelasan atas ucapan Gakupo barusan.
"Ah... itu..." Miku bingung mau berkata apa.
"Apa kau sudah tahu semuanya...?" tanya Luka. Miku menatap Gakupo yang juga sedang menatap gadis itu.
"Kalian tahu semuanya?" tanya Luka lagi. Gakupo dan Miku mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, kita semua harus selalu berhati-hati-"
"Shitsureishimasu..." tiba-tiba seseorang mengetuk pintu yang sedang terbuka di kamar Luka. Itu adalah Kagamine Rin. Gadis itu berjalan ke dalam sambil membawa sebuah rangkaian bunga yang cantik.
"Aku mendengar kalau temannya Len juga dirawat di sini, jadi aku datang kemari." Rin menyimpan rangkaian bunga itu di samping meja Luka.
"Kau saudaranya Len ya? Maaf sudah merepotkanmu," sapa Luka sambil tersenyum ke arah Rin yang sedang berjalan ke arahnya.
"Bagaimana, apa Len sudah sadar?" tanya Gakupo. Rin menggeleng lemah.
"Tenang saja, Rin-san. Dokter bilang dia akan segera siuman," kata Miku. Rin mengangguk sambil menatap Miku. Sepertinya gadis itu baru saja berhenti dari menangis, terlihat dari matanya yang masih terlihat sembab.
"Namaku Miku Hatsune. Aku temannya Yukari," kata Miku tanpa diminta. Rin mengangguk sambil menyalami Miku.
"Baiklah, karena orang kita sudah bertambah, kurasa aku akan menemani Kaito. Rin, kau juga temani Len," suruh Gakupo, sambil berdiri dari kursinya.
"Sudah ada Neru. Aku juga ingin menjenguk Kaito," pinta Rin. Gakupo mengangguk.
"Baiklah. Luka-senpai, titip Miku ya," pesannya, sebelum pergi keluar ruangan. Luka menjawab dengan anggukan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Gakupo?" tanya Rin begitu melihat keadaan Kaito yang sedang kritis, "Len juga terluka di malam yang sama 'kan?"
Gakupo menggeleng cepat.
"Aku tidak tahu. Mungkin hanya kebetulan," jawab Gakupo. Rin menatap wajah Gakupo dengan tatapan menyelidik.
"Aku mendengar desas-desus yang tidak enak di sekolah," kata Rin kemudian, "Katanya Kaito dilempar bola basket di ruang musik."
"Lalu kenapa?" tanya Gakupo dengan alis terangkat sebelah. Rin menghela napas.
"Setahuku, Len ditikam seseorang di halaman depan rumah sakit. Lalu, aku bertanya pada para suster apa yang terjadi di rumah sakit saat itu. Mereka bilang ada seseorang yang menikam Kaito juga. Ini pasti berhubungan 'kan?"
"Saa," jawab Gakupo. Rin menatap Gakupo.
"Dengar, Len adalah saudaraku. Kaito dan kau adalah teman Len. Berarti kalian juga temanku," kata Rin, "Jadi tolong ceritakan apa yang sedang terjadi di sini."
"Kau ingin aku menceritakan apa?" tanya Gakupo.
"Aku curiga ada seseorang yang ingin mencelakai Kaito, lalu juga berdampak pada orang-orang di sekitarnya. Benar begitu?" tanya Rin dengan nada yang seolah-olah membenarkan perkataannya. Gakupo terdiam.
"Aku berpikir begitu karena sebelumnya Kaito terluka di sekolah, lalu..." Rin menatap Kaito dengan tatapan sayu, "Sekarang aku mendengar berita kalau keadaannya bertambah parah. Selain itu, Len juga mengalami hal yang sama."
Gakupo masih tidak berkomentar.
"Kaito dan Len itu berteman 'kan? Tidak aneh jika seseorang yang ingin mencelakai Kaito juga mencelakai temannya," Rin terus berbicara, "Tapi siapa pelakunya...?"
"..."
"Belum lagi, saat ini Luka-senpai yang terlihat lebih sering bersama dengan Kaito juga..." Rin berhenti sebentar, lalu cepat-cepat menatap Gakupo seolah-olah baru menyadari sesuatu, "Jangan-jangan Luka-senpai juga terluka gara-gara-"
"Rin!" Gakupo membentaknya pelan, membuat gadis pirang itu terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya.
Gakupo segera menarik lengan Rin dan membawanya keluar ruangan.
"Tolong jangan ceritakan apa pun pada Len. Dia tidak tahu apa-apa soal ini," pinta Gakupo pada Rin, "Dan kuminta agar kau tidak berjalan-jalan sendirian."
"Jadi semua itu benar..." gumam Rin, "Siapa yang melakukannya?"
"Untuk saat ini, kau belum boleh bertindak macam-macam. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah melindungi Len. Kau paham?" Gakupo mencengkram kedua bahu Rin yang hanya mengangguk pasrah.
"Sekarang, temani Neru menjaga Len. Biar aku yang menunggui Kaito," kata Gakupo. Rin menurut. Dia berjalan gontai meninggalkan Gakupo.
Miku menatap Luka yang saat ini tengah tertidur dengan tenang. Diliriknya hari yang sudah menjelang sore. Semakin gelap hari, semakin besar rasa khawatir Miku. Bisa saja Teto kembali mengintai di rumah sakit. Tapi karena ada kasus semalam, penjagaan di sekitar rumah sakit sudah diperketat. Meski begitu, tidak mustahil bagi Teto untuk memulai kembali aksinya karena dia sedang menggunakan tubuh seorang gadis manis yang tidak mungkin dicurigai petugas keamanan.
Dalam hal ini, tidak ada yang boleh mengetahui tragedi semacam ini kecuali orang-orang yang bersangkutan. Masalah akan bertambah luas jika 'rahasia tentang Teto' terkuak. Jadi pada dasarnya, mereka sedang berjuang sendirian.
Menjelang malam hari, Miku dan Gakupo mengusulkan pada petugas rumah sakit agar kamar tempat Len, Luka, dan Kaito dirawat disatukan. Para petugas awalnya menolak karena Miku dan Gakupo tidak menyertakan alasan logis untuk itu, tapi kemudian Rin datang dan menjelaskan kalau sang pasien sendiri yang meminta untuk disatu-ruangan-kan.
Setelah sekian lama membujuk, akhirnya Kaito, Luka, dan Len dipindahkan ke sebuah ruangan di lantai dua yang lebih besar. Ruangan itu didesain untuk menampung empat orang, tapi karena tidak ada yang mengisi lagi, jadi satu tempat dibiarkan kosong sampai ada pasien baru yang muncul.
Dengan ini, mereka bisa bernapas lega sejenak. Miku sempat meminta penjelasan pada Gakupo kenapa Rin ikut serta dalam pemindahan ketiga pasien tadi. Akhirnya Gakupo menceritakan semuanya. Miku bertambah panik setelah mengetahui kebenaran kalau Rin sudah tahu semuanya–kecuali siapa yang menyebabkan ketiga orang itu menjadi pasien saat ini. Itu artinya bisa saja Rin dijadikan sasaran Teto yang selanjutnya.
Sekarang sudah pukul delapan malam. Suasana menjadi tegang. Len yang sudah siuman dan Luka yang sudah kembali terjaga juga dibuat tidak bisa tidur mengingat kondisi keamanan mereka bisa saja terancam.
Gakupo melihat lorong rumah sakit yang masih ramai pengunjung dan para petugas yang sedang berlalu lalang. Dia tidak melihat gadis berambut ikal itu di mana pun. Setidaknya, sampai dia menutup pintu. Dia melihat sebuah bayangan berkelebat melewati pintu. Luka yang juga melihatnya langsung terhenyak kaget. Bayangan itu terlihat kecil, tapi di belakangnya terlihat ada dua bayangan lain yang mengikuti. Gakupo langsung membuka pintu untuk memastikan apa yang tadi dilihatnya.
"Konbanwa," di depannya, kini berdiri seorang gadis berbadan pendek ditemani dua orang petugas rumah sakit yang sedang memberi salam dengan sopan. Gadis itu tersenyum sambil membawa sebuah bingkisan. Gakupo terhenyak beberapa saat.
"Hampir saja kamar yang ini terlewat," senyumnya.
"Nona ini bilang ingin menemui Kaito Shion," ucap salah satu petugas.
Miku berjalan mendekati pintu untuk tahu siapa yang datang. Sedetik kemudian bola mata emerald-nya membulat dengan sempurna. Itu... Kasane Teto!
"Kenapa diam saja? Aku datang untuk menjenguk," kata Teto, memecah keheningan yang tiba-tiba menyeruak di ruangan itu.
"Baiklah Ojou-chan, kami permisi," para petugas yang mengantarnya tadi langsung pamit setelah yakin kalau gadis kecil itu tidak salah memasuki kamar yang dituju.
Tanpa bisa dicegah, Teto mendaratkan kakinya di kamar Kaito, Luka, dan Len. Gakupo mundur beberapa langkah saat melihat gadis berkuncir twintail itu menutup pintu dan menjatuhkan bingkisan yang tadi dibawanya begitu saja. Sekali lihat, anak itu tahu kalau itu adalah sisi lain Teto.
"Kau siapa?" tiba-tiba Rin memecah suasana tegang diantara mereka. Teto menyeringai lebar. Dia berniat mendatangi Rin, tapi Gakupo menghalanginya.
"Gakupo-kun..." Luka memanggilnya dengan khawatir. Saat mendengar suara Luka, Teto mendecih. Rin menatap Gakupo dan gadis di depan mereka dengan kebingungan.
"Kalian semua membuatku muak!" kata Teto, "Apalagi kau, terung tua! Berani-beraninya kau memasukanku bersama dengan lap-lap pel bau itu!"
Miku dan Rin sempat berpandangan, sedangkan Gakupo hanya melengos kesal. Dia masih ingat setelah Kaito dilarikan ke UGD, Teto sudah tidak ada lagi di tempat dia menyembunyikan gadis itu.
Teto lalu mengunci pandangannya pada Kaito yang masih belum tersadar dari koma. Terlihat dari kondisinya saat ini, rupanya luka yang semalam cukup dalam.
"Sayangnya itu belum cukup," kata Teto tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari Kaito.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Miku dengan gusar. Teto menatap tajam satu per satu orang-orang yang sedang ada di ruangan itu.
"Kalian semua adalah sampah yang harus menderita," geram Teto, "Sayangnya aku tidak bisa menjatuhkan kalian sekarang."
"Tentu saja, kau kalah jumlah," serobot Gakupo. Teto hanya mendengus sebal.
"Teto..." tiba-tiba Luka memanggil gadis itu. Yang dipanggil langsung memandang Luka dengan tatapan tajam.
"Benar juga, kalau dipikir-pikir kau pantas mati menyusul teman-temanmu," ucap Teto. Luka menggeleng pelan.
"Kau tidak seharusnya melakukan ini, Teto..." kata Luka, "Aku tahu kau bukan orang jahat."
"Kau berisik sekali, jangan memaksaku untuk 'melakukannya' sekarang!" ancam Teto.
"Membunuh tidak akan menyelesaikan masalah!" seru Luka, "Balas dendam juga tidak akan ada gunanya! Lukamu hanya akan semakin dalam!"
"Kau tahu apa tentangku?!" balas Teto sambil mengepal kedua tangannya.
"Teto, kau-" Miku mencoba membatu Luka, tapi Gakupo menghalangi gadis itu dengan tangannya, membiarkan Luka dan Teto menyelesaikan masalah mereka.
"Kau tidak tahu kalau selama ini kami semua mencemaskanmu!" kata Luka dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ya aku tidak tahu, dan aku tidak ingin tahu!"
"Kenapa?! Bahkan setelah semuanya pergi pun kau masih tidak peduli dengan perasaan mereka?!"
"Berisik!" Teto menatap tajam Luka, tapi gadis itu terus berucap tanpa mengindahkan tatapan Teto.
"Kenapa kau tidak mengerti kami, Teto?!"
"Diam!" Teto menutupi kedua telinganya rapat-rapat, tidak mau mendengar suara Luka.
"Aku tahu kau merasa kesepian," air mata Luka mulai berlinangan. Dia mencoba bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah Teto. Gakupo, Miku, Len, dan Rin hanya bisa terpaku di tempat.
"Jangan kemari," gumam Teto, tapi Luka terus saja mendekat ke arahnya. Teto bersiap mengeluarkan sesuatu dari bajunya, tapi dengan cepat Luka memeluk gadis itu sehingga membuatnya terdiam mematung.
Gakupo sempat maju beberapa langkah, tapi Miku menahannya. Gadis itu menggelengkan kepalanya. Gakupo terlalu cemas dengan Luka. Bisa saja gadis yang sedang dipeluknya itu melakukan suatu hal yang tak terduga.
"Kau... kena...pa?!" tanya Teto terbata-bata. Luka mempererat pelukannya.
"Maaf..." gumam Luka, "Maaf..."
Teto masih terdiam di tempatnya berdiri.
"Kami memang salah karena tidak bisa mengerti perasaanmu..." kata Luka, "Tapi kami ingin memperbaikinya meskipun semuanya sudah terlambat... kami tahu ini tidak akan cukup, tapi... kami ingin... minta maaf, Teto..."
Kata-kata terakhir Luka sukses membuat Teto tertegun. Kata-katanya sama dengan apa yang dikatakan Kaito padanya waktu itu.
'Kakakku tidak akan membiarkan seseorang membencinya. Jika dia melakukan sesuatu yang salah, aku yakin meskipun sudah terlambat tapi dia ingin memperbaikinya.'
'Itu benar!'
Teto mendengar sebuah suara di dalam kepalanya.
'Itu semua benar! Aku harus kembali!'
Teto menggelengkan kepalanya, sementara Luka mulai terlihat khawatir dengan wajah Teto yang tiba-tiba berubah pucat.
"Dasar sampah!" umpat Teto–entah pada siapa–sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa pening. Gadis itu lalu mendorong Luka sekuat tenaga hingga gadis itu jatuh terjengkang.
"Senpai!" seru Miku dan Gakupo berbarengan. Gakupo langsung berlari ke arah Luka dan membantunya berdiri.
"Urgh! Berhenti bodoh!" Teto memegangi kepalanya saat dia mulai kehilangan keseimbangan.
"Apa yang terjadi?" tanya Rin pada Len yang sedang menatap Teto dengan pandangan bingung. Miku mengerutkan dahinya sambil menatap Teto lekat-lekat.
"Mungkin... dia sedang berjuang dalam dirinya," kata Miku, sedikit tidak yakin.
"Berjuang dalam dirinya?" tanya Len, "Apa maksudmu?"
"Dia sedang melawan dirinya yang satu lagi," jawab Miku. Len dan Rin langsung menatap Teto dengan tatapan tidak percaya.
"Dia memiliki kepribadian ganda?" tanya Rin. Miku mengangguk.
"Dasar perempuan sial!" Teto langsung mengeluarkan sebuah pisau lipat, lalu berlari ke arah Luka. Tapi sebelum semua itu berhasil, Gakupo dengan sigap melindungi gadis itu. Tapi-
Trak!
Teto mengerang sambil memegangi kepalanya. Sepertinya terasa sakit sekali. Pisau yang tadi sedang digenggamnya terjatuh tepat di depan Gakupo.
"Kalian orang-orang sial!" umpat Teto sambil mengambil kembali pisau lipatnya di lantai dengan susah payah, lalu melemparkannya ke arah Kaito.
"Kaito!" seru Miku sambil memeluk Kaito.
"Miku!" seru Rin, mencoba mengambil sesuatu untuk menghalangi pisau itu. Tapi-
Buk!
Len yang memang berada di samping Kaito berhasil melindungi anak itu dengan bantalnya. Alhasil, si pisau lipat terlempar ke lantai karena memantul dari bantal Len.
"Berjuanglah, Teto-san!" seru Len. Miku dan Rin menghela napas lega. Rin menatap lekat-lekat gadis yang sedang berjuang itu. Entah apa yang menggerakkan hatinya, tapi dia ingin sekali melihat Teto menjadi anak yang baik meskipun telah banyak hal yang dilakukannya.
"Benar, berjuanglah Teto-san! Kami menunggumu!" Rin ikut menyemangati Teto.
"Berisik kalian orang-orang bodoh!" seru Teto dengan marah.
"Teto..." Luka memanggil namanya dengan suara bergetar, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Gadis itu sedang berjuang dalam dirinya.
Setelah sekian lama gadis itu terlihat sangat menderita, tiba-tiba dia menunjukkan tatapan kosong. Luka langsung menghampiri Teto, lalu mengguncang-guncang bahunya.
"Teto...?" Luka memanggil namanya, "Teto!"
Selang beberapa lama, sebuah air mata menitik dari sudut mata gadis itu. Sedetik kemudian dia tersenyum ke arah Luka yang langsung menyambutnya dengan tangis haru dan pelukan hangat.
"Luka-san, tadaima..." Teto balas memeluk Luka.
"Okairi..." balas Luka, lembut.
"Stop! Stop!" tiba-tiba Gakupo mengganggu suasana mengharukan di ruangan itu, "Kita tidak tahu kapan gadis tengik ini akan kembali jahat!"
BLETAK!
BUK!
Dua buah suara menyakitkan itu spontan membuat Gakupo merasa kesal. Yang pertama adalah jitakan dari Luka, yang kedua adalah timpukan bantal milik Len dari Miku.
"Maafkan aku..." Teto langsung terduduk di lantai. Dia menatap orang-orang di hadapannya satu per satu. Air mata langsung membanjiri kedua pipinya begitu melihat kondisi Kaito yang sepertinya paling buruk diantara yang lain.
"Bukan kau yang melakukannya," hibur Luka sambil merangkul kedua bahu Teto.
"Tapi tetap saja..." Teto mencengkram rok yang sedang dipakainya, "Tetap saja aku..."
"Ssssh..." Luka menariknya kedalam pelukan, membiarkan Teto menangis sepuasnya di sana.
"Maafkan aku," gumam Teto pada Miku dan Rin. Sekarang mereka sedang berada di taman rumah sakit untuk membiarkan Luka, Len, dan Kaito beristirahat di kamar, sedangkan Gakupo tetap menunggui mereka di dalam.
Menanggapi permintaan maaf Teto, Miku menggeleng pelan sambil tersenyum lembut, sedangkan Rin hanya menunjukkan ekspresi tenang.
"Kalian..."
"Ini semua bukan salahmu, Senpai," kata Rin. Miku mengangguk. Teto tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis lagi.
"Aku takut sekali seandainya kalian tidak mau memaafkanku," kata Teto sambil menunduk, "Apalagi aku sudah melibatkan orang-orang yang tidak bersalah..."
"Sudahlah senpai, kami tahu itu semua bukan senpai yang melakukannya," kata Miku.
"Tapi aku-"
"Senpai, mulai sekarang dan seterusnya kita semua berteman. Tidak ada alasan lagi bagi 'dia' untuk keluar karena celah dalam hati senpai telah tertutup," kata Miku sambil melirik Rin yang segera mengangguk sambil tersenyum. Teto menatap kedua gadis itu dengan bingung.
"Tertutup dengan cinta," Rin menambahkan.
Teto tersenyum haru. Benar, dia tidak akan muncul lagi, kata Teto dalam hati.
"Aku benar-benar minta maaf! Aku pasti akan melakukan sesuatu untuk menebus semua kesalahanku!" kata Teto.
Miku dan Rin hanya saling pandang sambil tersenyum.
Semenjak hari itu, Teto selalu berada di rumah sakit untuk menjenguk Luka, Len, dan Kaito meskipun sudah tiga hari semenjak 'kepergian sisi gelap Teto', Kaito belum siuman juga. Sementara Luka sudah boleh meninggalkan rumah sakit dan Len masih memerlukan beberapa hari lagi untuk perawatan. Akhirnya, kamar untuk Len dan Kaito kembali dipisahkan mengingat keadaan Kaito yang belum kunjung membaik.
Miku juga masih terus mengunjungi Len dan Kaito di rumah sakit. Saat berkunjung ke kamar Kaito, dia juga selalu melihat Teto di sana. Dia selalu kalah cepat. Mungkin karena Teto benar-benar merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Kaito.
Seperti halnya hari ini. Ini adalah hari keempat di mana Miku kembali melihat Teto sedang duduk di samping Kaito tanpa berhenti menatap wajah anak laki-laki itu. Tatapannya makin hari makin berbeda. Entahlah. Sepertinya ada sesuatu.
Karena takut mengganggu, akhirnya Miku memutuskan untuk menunggu di luar saja. Selang beberapa lama, Gakupo dan Luka datang dan menyapa Miku yang sedang berdiri sendirian di depan kamar Kaito.
"Hai Miku," sapa Luka, "Kenapa kau tidak masuk ke dalam?"
Miku hanya tersenyum lebar sambil mengusap-usap lehernya. Gakupo sedikit mengintip ke kaca pintu, lalu langsung bisa berasumsi penyebab 'terbuangnya' Miku dari tempat itu.
"Tch, rupanya anak itu. Seperti biasa," Gakupo memasang wajah kesal setelah melihat Teto di dalam. Semua orang tahu kalau anak jabrik itu masih merasa kesal pada Teto. Memang tidak ada yang bisa menyalahkannya.
"Lagi-lagi dia datang lebih awal," kata Luka sambil mengintip dari balik kaca pintu, "Ayo masuk, Miku?"
"A-ah... baiklah," senyum Miku.
"Oy, kalau kau tidak cepat-cepat, dia bisa diambil lho," Gakupo berbisik sebelum masuk ke dalam kamar. Miku sempat mendecak sebal mendengar perkataan anak jabrik itu.
"Ah, konnichiwa," Teto langsung berdiri setelah melihat Luka, Gakupo, dan Miku masuk ke dalam.
"Konnichiwa," balas Luka, lalu berjalan mendekati Teto. Sedangkan Gakupo dan Miku duduk di sofa yang tersedia.
"Apa dia masih belum sadar?" tanya Luka, sambil memperhatikan Kaito. Teto menggeleng lesu.
"Sebaiknya setelah anak itu sadar, dia tidak boleh langsung melihat wajahmu. Mungkin saja dia akan terkaget-kaget," kata Gakupo pada Teto. Gadis itu hanya menunduk. Ucapan anak itu memang benar, tapi dia terlalu kasar.
Luka memberi isyarat pada Gakupo agar anak itu sedikit menjaga ucapannya, tapi nampaknya dia tidak peduli. Miku juga menyenggol lengannya agar anak itu tidak terlalu kasar pada Teto.
"Kalau begitu, aku..." Teto berniat untuk pergi keluar ruangan kalau tidak segera dicegah oleh Miku.
"Senpai cukup duduk saja di sofa. Biar aku yang berada di sisi Kaito saat dia sadar nanti," kata Miku sambil tersenyum. Teto hanya mengangguk pelan.
"Aku mau menjenguk Len dulu," kata Gakupo, lalu pergi ke luar dengan cuek. Luka juga ikut pergi keluar setelah pamitan pada Miku dan Teto.
"Gakupo-kun," panggil Luka setelah dia menutup pintu kamar Kaito. Gakupo yang sedang berjalan di depan pun menghentikan langkahnya tanpa merespon. Luka berjalan beberapa langkah dan berhenti tepat di hadapan anak itu.
"Aku tahu ini belum saatnya bagimu untuk bisa memaafkan Teto, tapi..." Luka menatap mata amethyst Gakupo dalam-dalam, "Kau tidak seharusnya bersikap begitu kasar padanya."
"Kau pikir aku kasar?" tanya Gakupo sambil mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Luka menghela napas.
"Aku tidak bisa menyangkalnya," kata Luka. Gakupo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di matanya tersirat kebencian. Belum pernah Luka melihat anak itu mengeluarkan ekspresi sedemikian rupa. Dikiranya, Gakupo itu adalah seseorang yang enerjik dan periang. Rupanya anak ini juga memiliki sisi lain dalam dirinya.
"Kau terlalu mengkhawatirkan teman-temanmu," kata Luka dengan lembut. Gakupo menunduk kaku.
"Apa itu salah?" tanya Gakupo. Luka menggeleng sambil tersenyum.
"Sikap setia kawanmu memang tidak salah," komentar Luka, "Tapi untuk saat ini, aku bisa memahami perasaanmu. Setidaknya, rasa kesal yang ada padamu saat ini."
"Kau bisa memahami perasaanku?" Gakupo tertawa getir, "Yah, baguslah kalau begitu."
Setelah mengatakan hal itu, Gakupo beranjak dari sana, meninggalkan Luka yang hanya bisa memandangi punggungnya menjauh. Luka merapatkan tangannya ke dada. Entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang menjauh saat Gakupo pergi.
Kaito mendapati dirinya berada di sebuah ruang hampa. Semuanya berwarna hitam. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Kaito berjalan lurus di tempat yang tak menentu itu. Dia tidak tahu arah mana yang harus dia lewati untuk bisa keluar dari sana. Sebenarnya apa yang terjadi? Batin Kaito bertanya-tanya.
Disaat-saat membingungkan itulah dia melihat dua orang sosok manusia yang tengah memunggunginya. Yang pertama adalah seorang anak laki-laki. Rambutnya berwarna merah menyala, sedangkan yang sedang berdiri di sebelahnya adalah seorang gadis mungil berambut ikal yang rasanya sudah tidak asing lagi bagi Kaito.
Saat kedua orang itu berbalik, mata Kaito melebar dibuatnya.
"Hey..." Kaito tidak dapat mempercayai penglihatannya saat ini, "Kalian..."
"Yo! Bocah sampah," sapa si gadis ikal sambil meletakkan kedua tangannya di belakang kepala.
"Yah, Kaito," kali ini si rambut merah yang menyapanya.
"Nii-san..." gumam Kaito. Si rambut merah yang ternyata adalah Akaito itu tersenyum ke arahnya. Dia lalu mengajak gadis di sampingnya untuk berjalan mendekati Kaito yang masih berdiri mematung.
"Perkenalkan, ini Teto Kasane, temanku," kata Akaito sambil menunjuk si gadis ikal.
"Nii-san," panggil Kaito, "Kenapa... kau ada di sini?"
"Kenapa? Mungkin karena ini adalah perbatasan kita, Kaito," jawab Akaito sambil tertawa renyah, "Kau tidak boleh pergi lebih dari ini."
"Kau masih punya banyak waktu untuk diurus, bocah," kata Teto dengan nada cuek. Kaito teringat dengan gadis yang mencoba mencelakainya di rumah sakit. Wajahnya begitu mirip dengan 'Teto Kasane' yang sedang berhadapan dengannya.
"Jadi kau adalah gadis yang waktu itu di rumah sakit-"
"Benar!" Akaito memotong perkataannya, "Gadis ini adalah bayangan dari Teto Kasane yang sesungguhnya."
"Bayangan...?" tanya Kaito.
"Kau tidak tahu ya? Dulu, aku masih bersatu dengan kepribadianku yang satu lagi. Tapi karena sampah ini melakukan hal yang bodoh, jadi aku ditarik keluar dan menyebabkan banyak masalah," jelas Teto. Akaito hanya tertawa menanggapi perkataan Teto.
"Lalu... kenapa kalian bisa bersama?" Kaito masih belum bisa menangkap apa yang terjadi.
"Ceritanya agak panjang," Akaito melirik Teto, "Kita harus membicarakannya dengan santai. Termasuk alasan kenapa kau bisa bertemu dengan kami di sini."
Kaito mengepalkan tangannya. Entah sejak kapan, tapi sebuah rasa rindu sepertinya sudah menyeruak memenuhi rongga dadanya. Saat ini, dihadapannya, sang kakak sedang berdiri dan mengajaknya bercakap-cakap setelah sekian lama tidak bisa–bahkan tidak mungkin–bertemu. Ini... bukan mimpi 'kan?
"Hari ini pacarmu tidak datang?" tanya Gakupo, saat menemukan kamar Len kosong penjenguk. Gakupo yang baru datang langsung duduk di samping Len. Anak itu sedang memainkan game di handphone-nya.
"Dia sedang cuti menjenguk," sahut Len tanpa mengalihkan pandangannya dari game, "Rasanya benar-benar sepi dan aneh sekali. Semenjak aku sakit, tidak ada satu fans pun yang datang menjenguk."
"Ng? Benar juga," Gakupo menggaruk pipinya dengan telunjuk, "Kenapa ya? Kaito juga sepi penjenguk."
"Hey Gakupo," panggil Len sambil mematikan game-nya, lalu memandang serius ke mata Gakupo. Anak jabrik itu hanya merespon dengan dengungan.
"Kau masih kesal dengan Teto-senpai?" tanya Len. Gakupo tidak menjawab.
"Memang tidak ada yang bisa menyalahkanmu karena kesal pada Teto-senpai sih, tapi kupikir dia sudah melakukan banyak hal baik untuk kita," kata Len. Gakupo menatap anak pirang itu dengan pandangan heran.
"Melakukan banyak hal baik? Hal baik apa?" tanyanya. Seingatnya, semua yang dilakukan Teto hanyalah meneror teman-temannya dengan ancaman. Sisi mana yang baik dari itu semua?
"Kalau dipikir-pikir, Miku jadi semakin dekat dengan Kaito, hubungan Neru dan Rin yang dulu sempat ribut pun jadi berjalan lancar. Belum lagi, kau dan Luka-senpai juga jadi semakin dekat 'kan?" kata Len sambil nyengir. Wajah Gakupo langsung merona saat mendengar perkataan paling akhir yang diucapkan bocah pirang itu.
"Bodoh, jangan sangkut pautkan hal itu dengan hubungan kita semua!" serobot Gakupo. Len tertawa renyah.
"Tapi benar lho," kata Len, "Setelah kesempitan, pasti ada kelapangan. Yaah... setidaknya itu yang kurasakan saat ini. Koneksi pertemanan kita juga semakin meluas."
"Hah?" Gakupo memiringkan kepalanya tanda kurang mengerti dengan perkataan Len.
"Lihat, dulu kita hanya bertiga. Tapi sekarang?" Len mengacungkan delapan buah jarinya, "Setelah aku, kau dan Kaito, sekarang ada Neru, Miku, dan Luka-senpai. Setelah Luka-senpai, sekarang ada Rin dan Teto-senpai."
"Aku masih meragukannya," gumam Gakupo, "Ah, entahlah! Mungkin hanya masalah waktu."
"Hey, coba dengar, kau jadi seperti ini karena dia melukai Luka-senpai 'kan?" tanya Len, jahil. Gakupo langsung menggeleng.
"Itu karena dia melukai kalian semua. Bukan hanya Luka-senpai," jawab Gakupo, jujur.
"Bahkan keadaan Kaito jadi kritis seperti ini," tambahnya. Len mengangguk-angguk paham.
"Aku bersyukur mempunyai teman sepertimu," kata Len yang langsung membuat Gakupo salah tingkah. Tapi anak pirang itu segera menambahkan, "Tapi kadang-kadang, kau sering membuatku ingin muntah!"
"Dasar bocah jeruk!" Gakupo langsung menimpuk Len dengan bantal. Anak pirang itu hanya tertawa-tawa riang.
Tok! Tok! Tok!
Len dan Gakupo berhenti bercanda, lalu melihat ke arah pintu dengan Luka sedang berdiri di depannya. Matanya berkaca-kaca.
"Kaito..." ucap Luka. Mendengar nama Kaito, Gakupo dan Len langsung was-was.
"Ada apa dengan Kaito?!" tanya Gakupo, khawatir.
"Luka-senpai..." Len juga merasa sangat khawatir.
"Kaito... dia..." Luka mengarahkan telunjuknya ke kamar Kaito. Gakupo dan Len saling pandang sebelum bergegas ke kamar Kaito untuk melihat apa yang terjadi.
"Kaito!" Gakupo dan Len langsung meneriakkan nama Kaito setelah membuka pintu kamarnya.
"Kalian... berisik," Kaito tersenyum lemah kepada dua orang sahabatnya itu. Mata mereka langsung melebar melihatnya sudah siuman. Spontan keduanya berhambur ke arah anak itu.
"Kaito bodoh! Kenapa baru sadar sekarang?!" seru Len.
"Idiot, sampai kapan kau akan membuatku khawatir?" tambah Gakupo, "Cepatlah sembuh!"
Kaito hanya tersenyum menanggapi perkataan teman-temannya. Dia menatap mereka satu per satu. Gakupo dan Len. Ah, syukurlah mereka baik-baik saja sekarang. Matanya lalu beralih kepada gadis yang dari tadi tidak berhenti sesenggukan di sisinya; Miku.
Gadis itu terlihat memiliki kantung mata. Ditambah lagi sekarang matanya sembab. Meskipun begitu, dia masih terlihat sangat manis. Untunglah tidak terjadi sesuatu yang buruk kepadanya.
Kemudian, dia bertemu dengan sosok Teto yang sedang berdiri di belakang Miku, tersenyum ke arahnya. Gadis itu hanya menunduk menyembunyikan air matanya. Sebenarnya semua orang sempat khawatir dengan apa yang terjadi saat Kaito bertatapan dengan Teto, tapi ternyata anak berambut biru itu tenang-tenang saja.
"Aku sudah tahu semuanya," kata Kaito. Teto mendongak untuk menatapnya. Semua yang ada di sana juga spontan menatap Kaito dan Teto dengan bingung.
"Tahu... apa?" tanya Teto. Kaito hanya tersenyum.
"Minna," tiba-tiba Luka masuk ke dalam kamar, "Karena Kaito baru saja bangun, jadi sebaiknya kita membiarkannya istirahat dulu."
"Luka-senpai," Kaito tersenyum ke arahnya. Luka membalas senyumnya. Kaito sedikit memicingkan matanya melihat wajah gadis anggun itu. Matanya agak sembab. Apa gadis itu baru saja menangisi dirinya?
Gakupo dan Len saling berpandangan sebentar, lalu mengangguk bersamaan.
"Baiklah Kaito, istirahat yang cukup ya biar kau kuat kalau nanti kuhajar!" pesan Gakupo sebelum pergi dari sana. Len hanya mengacungkan sebuah tinju, memberinya isyarat untuk besemangat.
Luka juga memberi isyarat pada Miku supaya meninggalkan ruangan bersamanya. Miku menatap Kaito sekilas sebelum pergi keluar ruangan, tapi Teto yang juga berniat mengikuti Miku keluar ditahan oleh Luka.
"Bicaralah sebentar dengannya," bisik Luka sebelum dia pergi keluar ruangan.
"Kau... bertemu dengan diriku dan Akaito?" tanya Teto dengan nada tidak percaya saat Kaito menceritakan apa yang dilihatnya sebelum terbangun dari tidur panjang. Kaito mengangguk mantap.
"Benar, aku bertemu dengan mereka," Kaito tersenyum sambil memandang langit-langit, "Mereka berdua bilang ingin berterima kasih padamu."
"Eh...? Kenapa?" tanya Teto.
"Teto-senpai itu bilang kalau kau bukan hanya sudah menyelamatkanku, tapi juga sudah menyelamatkan dirinya," tambah Kaito. Teto mengernyitkan alisnya, masih tidak mengerti maksud pembicaraan ini.
"Baiklah, akan kuceritakan dari awal..."
Flashback
"Jadi... apa yang membawa kalian kemari?" tanya Kaito, setelah Akaito, Teto dan dirinya duduk melingkar di suatu tempat yang tidak jelas.
"Sebenarnya, bukan kami yang dibawa kemari, tapi itu kau," kata Teto. Akaito mengangguk.
"Percaya atau tidak, tapi ini adalah perbatasan bagi orang yang sedang berada di antara hidup dan mati," kata Akaito. Kaito mengerutkan dahinya.
"Itu berarti aku sedang sekarat?" tanya Kaito. Dia ingat saat terakhir kali membuka mata, Teto sudah menikamnya dengan sebuah pisau.
"Tepat sekali," kata Teto sambil tertawa. Kaito melotot ke arahnya.
"Kau 'kan yang membuatku datang kemari?" tuduh Kaito. Teto hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kalau dipikir-pikir, aku sudah mencelakai sekaligus menyelamatkanmu," kata Teto. Kaito dibuat bingung oleh gadis itu.
"Apa maksudmu?" tanya Kaito.
"Saat itu, aku memang berniat membunuhmu, tapi tiba-tiba gadis itu memaksa untuk keluar sehingga aku tidak bisa menggunakan semua kekuatanku saat terakhir. Dengan itu, dia sudah menyelamatkanmu," jelas Teto.
"Maksudmu, kau tidak bisa membunuhku karena Teto-san secara tidak sengaja sudah menghalangimu untuk melakukannya?"
"Kurang lebih begitu. Karena itulah kau hanya bisa pergi sampai di sini dan tidak bisa ikut dengan kami," kata Teto, "Aku masih ingat saat Luka menyebutkan kata-kata yang sama persis dengan yang kau ucapkan padaku tempo hari."
"Kata-kata?" tanya Kaito.
"Meskipun sudah terlambat, tapi semua masih ingin memperbaiki kesalahannya," Teto tertawa renyah, "Yah, aku bisa percaya itu sekarang."
"Kenapa kau bisa percaya? Padahal sebelumnya kau ganas sekali," kata Kaito sambil mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Teto langsung memukul kepala anak itu dengan kesal.
"Kau tidak sopan! Aku ini senpaimu tahu," dumel Teto, "Dengar ya, saat teman-temanmu berkata begitu, aku takut sekali."
"Kenapa?" tanya Kaito sambil mengusap-usap kepalanya yang terkena pukulan gadis itu.
"Aku takut akan pergi ke suatu tempat yang jauh jika dia kembali mengambil alih tubuhnya," terang Teto, "Tapi tepat setelah dia mendapat kendali atas tubuhnya, dia menyelamatkanku dan malah membawaku untuk menemui orang ini," Teto menunjuk Akaito yang hanya mengangguk-angguk.
"Karena ketulusan hatinyalah, aku akhirnya menyetujui perkataanmu dan Luka," tambah Teto.
"Benarkah? Tapi apa yang akan terjadi denganmu seandainya Teto-senpai tidak membawamu kemari?"
"Aku tahu saat itu keinginannya untuk kembali sangat kuat sehingga aku tidak mungkin lagi mengambil alih tubuhnya. Jika itu terjadi, aku akan dibuang ke suatu tempat yang lebih mirip neraka. Entahlah, aku tidak terlalu mengerti, yang jelas aku tidak ingin pergi ke sana meskipun aku sudah melakukan banyak hal yang buruk."
"Jadi dia menyelamatkanmu ya. Ternyata Teto-senpai itu sangat baik hati," kata Kaito sambil tersenyum.
"Yah, aku hanya ingin bilang terima kasih pada gadis itu," kata Teto, "Mungkin untuk itulah kau ada di sini. Tolong sampaikan rasa terima kasihku padanya."
"Matte yo," tahan Kaito, "Lalu apa hubunganmu dengan semua kekacauan itu? Maksudku, apa hubunganmu dengan ruang musik dan kakakku? Kenapa Teto-senpai sampai membawamu menemui kakakku?"
"Yah, dulu aku adalah anggota Aka Band," jawab Teto, "Kau pasti tahu hubungan kami 'kan? Akaito adalah ketuanya, dan aku adalah anggota."
"Lalu? Kau pernah menyebutkan sesuatu tentang kesalahan kakakku. Sebenarnya apa itu?"
Teto sedikit melirik Akaito yang sedang tersenyum sambil mengusap-usap belakang kepalanya.
"Mattaku, orang bodoh ini merepotkan sekali," desah Teto, "Dia berubah menjadi ganas saat sudah kehilangan kesabaran," Teto menunjuk Akaito.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Kaito.
Teto menceritakan saat awal mula dia bermain musik bersama Aka band, bagaimana dia dan teman-temannya memulai perjalanan mereka bermain musik, soal Gumi-sensei yang sangat ganas, dan terakhir tentang pertikaian yang terjadi sebelum dan setelah Aka band berhubungan dengan Gumi-sensei, termasuk pertikaian yang sempat dia lalui saat melihat 'adegan pernyataan Akaito' saat itu.
Hanya dua hal yang membuat kaito bertanya-tanya: Apakah Teto begitu menyukai kakaknya sampai-sampai gadis itu berhenti latihan sampai sehari sebelum mereka pentas hanya karena melihat Akaito penyatakaan perasaannya pada gadis lain? Lalu, seganas itukah kakaknya saat dia benar-benar sudah kehilangan kesabaran sehingga bisa membuat kepribadian ganda Teto terbangun?
"Jadi begitulah ceritanya," kata Teto, mengakhiri cerita panjangnya. Kaito langsunng memicingkan matanya menatap Akaito.
"Nee Kakak, seingatku wajahmu itu tidak cocok untuk dikerubungi para gadis," kata Kaito dengan nada mengejek. Akaito langsung berurat.
"Kau! Memangnya wajahmu cocok untuk dikerubungi para gadis?!" semprot Akaito.
"Berisik kalian berdua!" seru Teto. Setelah mendengar suara Akaito, telinganya langsung sakit.
"Begini-begini, warna rambutku tidak terlalu mencolok! Berbeda dengan punyamu!" Kaito balik menyerang Akaito tanpa menghiraukan teriakan Teto.
"Warna rambutku lebih baik dari punyamu!"
"Oh ya?! Menurutku, kepalamu itu lebih terlihat seperti strawberry!"
"Apa?! Diam kau, dasar sissy!"
"Berisik! Aku tidak sissy!"
"Sissy!"
"Tidak!"
"Sissy!"
"Tidak!"
"Sis-"
"KUBILANG BERISIK, DASAR SAMPAH!"
Buagh! Buagh!
Teto dengan sukses membuat dua orang berisik itu tumbang dengan dua tonjokan kerasnya.
"Dee, karena sepertinya waktumu akan habis, aku hanya ingin kau menyampaikan rasa terima kasihku pada gadis itu," kata Teto. Kaito dan Akaito mengusap-usap pipi mereka yang terasa sakit setelah terkena tonjokan maut Teto.
"Tapi, masih ada yang ingin aku bicarakan," sela Kaito.
"Kalau begitu cepat," kata Teto. Kaito mengangguk. Dia lalu menatap kakaknya.
"Ngomong-ngomong, aku mengenali Luka-senpai," kata Kaito.
"Benarkah?" tanya Akaito, mulai antusias, "Bagaimana kabarnya sekarang?"
"Aku yakin dia baik-baik saja sekarang..." Kaito sedikit melirik Teto yang dengan cueknya malah melengos. Akaito mengerti keadaannya. Teto sudah menjelaskan semuanya sebelum Kaito muncul. Teto juga bilang kalau Luka sudah mulai sembuh setelah kejadian itu.
"Yang penting kau sudah bertemu dengannya," Akaito tersenyum, "Baguslah..."
"Kakak, kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat-" kata-kata Kaito terpotong saat Akaito menepuk kepalanya dengan lembut.
"Yang penting sekarang kau sudah mengenalnya. Aku senang," anak berambut merah itu tersenyum, "Aku menitipkannya padamu, Kaito."
"Lalu, sampaikan permintaan maafku pada Teto yang di sana," sambung Akaito, "Juga dari teman-teman kami, anggota Aka band."
"Lalu, kami juga berterima kasih padamu dan Teto, karena berkat kalian, akhirnya kami bisa beristirahat dengan tenang," tambahnya.
Kaito tidak bisa berkata-kata. Tiba-tiba rahangnya mengeras. Tangannya terkepal. Kaito benci mengakuinya, tapi saat ini dia benar-benar ingin bersama lebih lama dengan kakaknya. Setelah bertengkar tadi, hal itu terasa begitu nyata. Dan dia benar-benar merindukan saat-saat seperti itu.
"Kakak..." gumam Kaito.
"Ngomong-ngomong, kau sudah tambah tinggi ya," cengir Akaito, "Sekarang tinggi kita hampir sama. Yaah, meskipun kau masih lebih pendek dariku."
Kaito hanya bisa menunduk.
"Yah, Kaito..." Akaito menepuk kepala Kaito, "Ini mungkin terakhir kalinya aku bisa mengejekmu habis-habisan. Kuharap kau tidak membalas."
Kaito menatap kakaknya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Aku tahu kau sedang mencari seseorang," kata Akaito sambil berlagak seperti sedang memikirkan sesuatu, "Etto... kalau tidak salah, kau menyebutnya 'Hime-sama'. Benar 'kan?"
"Dari mana kau-"
"Seorang kakak seharusnya bisa mengetahui rahasia yang dimiliki adiknya, hehehe..." Akaito terkekeh-kekeh, "Kupikir aku bisa mengetahuinya karena aku terus-terusan berada di sini dan mendengarkan segala kata hatimu. Jadi, jangan sembunyikan apa pun."
Kaito hanya terdiam. Hanya tangannya semakin terkepal kuat. Akaito tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala adiknya. Meskipun Kaito tidak berkata apa pun, tapi dia yakin kalau saat ini anak itu tidak ingin dia pergi.
"Jaga dia baik-baik," kata Akaito, "Aku juga bilang kalau aku menitipkan Luka padamu. Setidaknya, buatlah dia mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku."
Kaito menatap Akaito dengan serius, lalu mengangguk. Akaito tersenyum.
"Yah, kalau sudah begitu, ini saatnya kami pergi," kata Akaito, lalu berbalik memunggungi Kaito. Teto berdiri di sampingnya.
"Sore ja," Teto melambaikan tangannya sebelum berjalan menjauh dengan sang kakak. Tapi, sebelum mereka benar-benar menghilang, Akaito berhenti melangkah, lalu berbalik menatap Kaito.
"Jaga juga dirimu baik-baik," pesan terakhirnya sebelum pergi.
Kaito hanya mengangguk sambil terus memperhatikan punggung keduanya yang semakin menjauh.
"Hai..."
End of Flashback
"Begitu ya, aku senang," Teto tersenyum setelah Kaito menceritakan semua yang dilihatnya dalam mimpi. Kaito mengangguk.
"Sebenarnya, ada satu hal yang ingin kusampaikan pada Akaito dari dulu," ungkap Teto sambil memainkan jarinya. Kaito jadi penasaran.
"Apa itu?" tanyanya.
"Suki," jawab Teto sambil tersenyum lebar. Kaito langsung melebarkan matanya, tidak percaya dengan perkataan Teto barusan.
"Aku bercanda," kata Teto sambil terkikik kecil, "Aku hanya sangat berterima kasih padanya. Dia sudah memberiku berbagai macam hal."
"Haaa... baguslah," desah Kaito, lega, "Sebenarnya aku takut Teto-senpai dan Luka-senpai bertengkar hanya karena kalian menyukai orang yang sama. Senpai sudah tahu 'kan soal hubungan Luka-senpai dan Kakak?"
Teto hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Karena sepertinya pikiranmu sudah tenang, sekarang kau istirahat ya," Teto merapikan letak selimut Kaito sambil tersenyum menatap wajahnya.
Anak ini benar-benar mirip dengan kakaknya, batin Teto.
"Len! Apa yang sedang kau lakukan? Kupikir kenapa kau tidak ada di kamarmu?!" Rin yang baru datang ke rumah sakit langsung memarahi Len karena anak itu–yang masih dengan piyama khas rumah sakitnya–malah berkeliaran di koridor rumah sakit dengan teman-temannya.
"Aku sudah sehat kok! Lihat!" Len menunjukkan ototnya yang sama sekali tidak kelihatan, "Daripada itu, ada berita yang lebih bagus."
"Berita apa?" tanya Rin. Dia melirik pintu kamar Kaito. Jangan-jangan semuanya berada di sini karena...
"Kaito sudah siuman?" jerit Rin tertahan. Semua yang berada di sana mengangguk.
"Haah, syukurlah," desah Rin, "Len, lalu kapan kalian bisa keluar dari rumah sakit?"
"Dokter bilang, besok aku sudah boleh pulang," jawab Len.
"Kalau Kaito, berhubung anak itu baru siuman, mungkin masih butuh beberapa hari lagi di rumah sakit," ujar Gakupo.
"Eh, ngomong-ngomong, kau tidak membawa fans kita kemari?" tanya Len sambil memperhatikan lorong di belakang Rin.
"Haah, dasar bodoh!" Rin meninju bahu Len, "Di rumah sakit tidak boleh ribut-ribut. Jadi mereka yang berniat mengunjungi kalian semuanya sudah kuurus!"
Gakupo, Len, Luka, dan Miku langsung saling pandang. Lalu mereka bersama-sama menatap Rin dengan pandangan segan.
"Apa?" Rin mengeluarkan sebuah aura tsundere yang sangat tajam. Benar juga. Dengan aura yang seperti itu, dia bisa dengan mudah mengusir kutu-kutu yang berdatangan ke rumah sakit.
"Ngomong-ngomong, sedang apa kalian di sini? Kenapa tidak masuk?" tanya Rin, heran melihat teman-temannya malah berkumpul di luar.
"Pokoknya kau tunggu saja di sini," Luka menarik lengan Rin untuk ikut duduk di bangku.
Teto keluar dari kamar Kaito dan langsung disambut dengan berbagai pertanyaan dari orang-orang yang sedang ada di luar. Siapa lagi kalau bukan Len, Rin, dan Miku. Luka dan Gakupo tidak ambil bagian mengerubungi Teto.
Luka hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum sedangkan Gakupo tampak tenang dengan wajahnya yang datar.
"Gakupo-kun," panggil Luka. Gakupo langsung menoleh.
"Apa kau ada waktu sebentar?" tanya Luka. Gakupo berpikir sebentar sebelum mengangguk mengiyakan.
"Dee...?" Gakupo membuka percakapan setelah dia dan Luka sampai di taman rumah sakit yang terlihat agak sepi. Mereka duduk di atas sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu.
"Aku tak menyangka, ternyata semua orang itu memiliki banyak kepribadian ya," tawa Luka sambil menatap Gakupo. Anak jabrik itu hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena bingung membalas perkataan senpai-nya ini.
"Kau tahu, saat pertama kali bertemu denganmu, aku merasa kalau kau adalah seorang anak yang periang, adik kelas yang menyenangkan," Luka tersenyum lembut. Merasa dipuji, wajah Gakupo langsung memerah. Tapi anak itu buru-buru mengalihkan wajahnya dari Luka.
"Yah, pada dasarnya aku memang seperti itu," balas Gakupo. Luka tersenyum sambil menatap rambut jabriknya.
"Tapi sekarang aku melihat ekspresi lain," kata Luka. Gakupo hanya menunduk.
"Aku tahu, pasti sulit bagimu menerima kenyataan ini," kata Luka sambil menerawang ke atas langit, "Tapi, bukankah kenyataan itu kebanyakan menyakitkan?"
"Senpai..." Gakupo menatap senpainya yang sedang tersenyum lembut ke atas langit. Anak itu yakin kalau saat ini Luka sedang membicarakan tentang dirinya sendiri.
"Kau tahu, saat aku menerima berita yang tidak kuinginkan, dunia serasa runtuh buatku," kata Luka, "Aku tidak bisa menerima kenyataan yang ada, tapi aku punya banyak orang di sekelilingku yang terus membuatku berdiri hingga saat ini."
"Senpai, maaf," gumam Gakupo, "Aku sudah mendengarnya."
"Ya, aku tahu," balas Luka tanpa berhenti tersenyum.
Gakupo menatap mata Luka dalam-dalam. Ya. Memang benar. Matanya terlihat cerah. Dia tahu kalau gadis ini sudah melewati berbagai macam hal buruk, tapi dia bisa bangkit karena ada teman-teman di sisinya. Dia juga bisa seperti Luka.
Kalau dipikir-pikir, penderitaan yang dialami Luka jauh lebih buruk daripada apa yang dialaminya. Luka memiliki banyak teman yang sangat berarti dalam hidupnya, lalu dia kehilangan mereka. Jika dia tidak punya penopang, gadis itu mungkin sudah jatuh ke dalam jurang kesedihan.
Gakupo mengepalkan tangannya. Dibanding jurang milik Luka, jurang miliknya masih bisa dibilang dangkal. Benar. Agar jurang itu tidak semakin dalam, dia harus berhenti terpuruk. Memahami dan menerima kenyataan adalah kuncinya. Saat dia membuka pintu, di sana sudah ada banyak teman-teman yang siap menghiburnya.
"Senpai..." panggil Gakupo sambil menatap Luka dengan serius.
"Hm?"
"Arigatou na," Gakupo tersenyum lembut.
Luka terperanjat kaget. Senyumnya kali ini berbeda. Dia terlihat begitu hangat dan lembut. Seperti bukan Gakupo saja, tapi Luka tahu kalau ini adalah Gakupo yang sebenarnya. Hangat dan bersahabat. Entah mengapa rasanya ada yang bergerak dalam hatinya. Menyadari hal itu, wajah Luka langsung memanas.
"Ah, eh... sono..." Luka agak tergagap, "Iie..."
Gakupo tertawa lepas saat memperhatikan wajah senpainya yang terlihat sangat imut saat merona. Luka hanya bisa mengusap-usap lehernya karena merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan.
Semenjak hari itu, hubungan Gakupo dan Teto mulai berjalan lancar. Mereka sering terlihat bercanda meskipun sedikit canggung, tapi semua orang yakin kalau suatu saat mereka bisa menjadi akrab.
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, hingga tiba saatnya mereka membicarakan tentang ruang musik. Kaito dan Len sudah bersekolah seperti biasa. Keadaan kembali normal.
Setelah sekian lama, akhirnya Kaito yang ditemani Miku bisa kembali berdiri di ruang musik. Segala sesuatunya sudah mereka persiapkan. Lantai sudah dipel dengan baik, jendela sudah dilap dengan bersih, dan segala peralatan musik sudah disusun dengan rapi. Tapi, bukan hanya mereka yang ada di sana. Gakupo, Len, Luka, dan Teto juga ikut datang ke ruang musik untuk membantu mereka berdua.
"Nah, jadi, masalahnya adalah..." Kaito mencubit dagunya, "Siapa yang mau menjadi pembimbing club ini?"
Semua yang ada dalam ruangan saling pandang.
"Benar juga," kata Len, "Ngomong-ngomong, sepertinya para guru masih terpengaruh isu ruang musik."
"Ah! Itu dia!" Miku memukulkan tinjunya ke telapak tangan, "Ada yang bilang kalau semenjak diadakannya 'rapat pemusnahan ruang musik', seorang guru terluka karena kecelakaan!"
"Rapat pemusnahan ruang musik?" Gakupo bengong mendengar perkataan mematikan yang diutarakan Miku. Teto dan Luka saling pandang sambil menertawakannya.
"Benar! Mungkin itu akan memperkecil peluang kita," kata Kaito, "Tapi..."
Mata birunya langsung menatap Teto.
"Senpai, kau tidak melakukan apa-apa 'kan?" tanya Kaito. Semua yang ada di sana langsung menatap Teto dengan pandangan curiga.
"Ah, benar juga..."
"Mungkinkah...?"
"Teto-senpai..."
"ARIENAI!" Teto menggebrak meja dengan sadis. Semua yang ada di sana langsung tertawa keras. Teto jadi kebingungan dengan sekitarnya.
"Mana mungkin senpai bisa melakukan hal itu!" tawa Len.
"Kami hanya bercanda!" timpal Kaito, masih sambil tertawa. Wajah Teto langsung memerah dibuatnya. Ugh, ternyata mereka semua sedang mengerjainya!
"Mou..." Teto menyilangkan kedua tangannya, "Mungkin itu hanya kebetulan. Ah, sudahlah! Bagaimana kalau kita tanya langsung pada setiap sensei agar mau menjadi pembimbing club ini?"
"He?" semua langsung berhenti tertawa. Mereka serempak menatap Teto.
"Aah, sepertinya ini akan jadi panjang," ujar Gakupo, "Dan lagi, belum tentu semua yang ada di sini akan ikut ke dalam club musik 'kan?"
Kaito dan Miku langsung saling pandang. Benar juga katanya. Mereka bahkan belum sempat berpikir untuk mengajak seorang pun. Aneh ya?
"Kita juga tidak boleh mengikuti lebih dari satu kegiatan eskul 'kan?" tambah Luka.
"Tapi jadi menjaga ruang kesehatan bukan termasuk kegiatan eskul 'kan? Kalau begitu, Luka-senpai bisa menjadi manajer kami!" kata Miku sambil menggenggam tangan Luka penuh harap.
Gakupo dan Len langsung saling pandang.
"Hey, kita semua memang mengikuti kegiatan eskul yang berbeda-beda," kata Gakupo, "Tapi siapa bilang kita tidak bisa membentuk sebuah band?"
"Benar juga!" seru Teto, "Kita tidak usah masuk ke dalam club musik, cukup membuat sebuah band saja!"
"Kalian..." Kaito memandang satu per satu teman-temannya. Dia bahkan belum pernah membicarakan hal ini dengan siapa pun; menentukan orang-orang yang akan masuk ke dalam band. Rupanya, perjalannya menuju impian hanya tinggal sedikit lagi. Orang-orang yang selama ini berada di sekitarnya ternyata sudah siap membantu dari dulu.
"Baiklah!" seru Miku, "Aku mau jadi vocalis!"
"Aku jadi gitarist!" kata Gakupo.
"Aku memang pernah belajar bermain drum meskipun tidak tahu kapan akan terpakai," senyum Len, "Ternyata sekaranglah waktunya!"
"Kalau begitu, aku tidak keberatan menjadi manajer," kata Luka.
"Aku..." Teto masih terdiam sambil memperhatikan teman-temannya.
"Tenang saja, Teto-senpai," Miku menepuk pundaknya, "Jadilah pemain bass kami!"
Semua yang ada di sana mengangguk pada Teto. Dia lalu menatap Kaito yang juga sedang tersenyum ke arahnya.
"Baik!" seru Teto. Semuanya bersorak gembira.
Kaito tersenyum melihat kehangatan yang dirasakannya saat ini. Berada di antara orang-orang itu benar-benar membuat segalanya menjadi indah.
Diam-diam, Miku memandang Kaito yang sedang tersenyum lembut. Gadis itu berjalan ke arahnya, lalu duduk di sampingnya. Sekarang, orang-orang yang berada di ruang musik itu sedang sibuk mencoba-coba alat musik yang akan mereka mainkan. Luka juga sibuk mencoba memainkan sebuah biola.
"Indah ya?" gumam Miku. Kaito langsung menatap gadis di sampingnya, lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Ya..."
"Eng, tapi Kaito," Miku mendekatkan wajahnya ke telinga Kaito, lalu berbisik, "Mereka belum sadar sesuatu."
"Apa itu?" bisik Kaito.
"Apa sih, kau juga belum menyadarinya ya?!" Miku menarik telinga Kaito yang hanya bisa berteriak kesakitan.
"Ah, tapi serius," Miku kembali berbisik, "Kalau kita membentuk band sendiri, itu artinya kita tidak bisa menggunakan ruang musik sebagai tempat latihan."
"Eh? Benar juga," kata Kaito, "Kalau kita berbeda-beda club begini, itu artinya kita membentuk band sendiri dan bukan band dari club musik. Kalau sudah begitu, kita tidak bisa menggunakan ruangan ini untuk latihan ya?"
Miku mengangguk-angguk. Kaito mencubit dagunya sambil berpikir keras.
"Ah, masalah itu tenang saja," kata Kaito, setelah menghabiskan beberapa menit dalam pikirannya.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Miku. Kaito menyeringai. Miku langsung merasakan firasat buruk tentang ini.
"Aku punya ide," kata Kaito, lalu membisikkan sesuatu pada Miku yang langsung mangut-mangut paham. Kaito dan Miku lalu saling memukulkan tinju mereka sambil tersenyum. Tiba-tiba-
"Se~no!" Len memukul drum-nya dengan semangat, tanda kalau mereka akan menyanyikan sebuah lagu. Semuanya sudah bersiap dalam posisi masing-masing. Mereka mulai menyanyi di depan Miku dan Kaito.
Tomodachi to shabetteru sono ko no egao ha amari ni karen de
Sono sugata ha omoiegaita manga no HIROIN no you da
Hitome mite koi ni ochita
HONKI no HONKI de suki ni natta
Demo ne boku no youshi ja kitto kirawareteshimau
Hora mata da kusu kusu warau koe
Iinda sonna no narekko dakara
Wasureteshimae dakedo mune ha harisake sou da
Wajah Kaito langsung memerah dibuatnya. Yang menyanyikan lagu ini adalah Supercell, judulnya Hero. Kaito langsung salah tingkah. Kalau mendengar lagu ini, dia langsung teringat dengan sang hime.
Dia melihat Gakupo mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum. Sial, ini pasti idenya. Tapi, tunggu! Apa dia tahu sesuatu... tentang cerita sang hime dan dirinya? Seingatnya, dia belum pernah menceritakan hal itu pada siapa pun. Dia harus menanyakannya nanti!
Shounen ha soshite deau
Sore ha kitto guuzen nanka janakute
Negatta KIMI ni deaemasu youni
Nanbankai datte nagaou
Itsuka kanarazu!
Keredo hito ha sonna kiseki
Shinjirareru wake nai to itta
Shoujo-tachi ha sasayaita
"Ano ko sakki kara kocchi miteru nanna no are
kimiwaruiwa chikadzukanaide nekura-san"
Sumimasen sonna tsumori ja
Utsumuku boku ni kanojo no koe "Watashi kono hito shitteru!"
Mawari ha azen boku mo bouzen
Miku menatap Kaito yang dari tadi sepertinya sibuk dengan kegelisahannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi sih. Tapi gadis itu cukup terharu menyaksikan teman-temannya menyanyikan sebuah lagu untuk mereka.
"Michattanda na ano tsukue no e wo ne
zenbu kimi ga egaitari suru no?"
Aa! mata warawareru
Dakedo kimi wa
"Aaiu no suki nandesu!"
Shounen ha soshite deau
Tatoe nanokunanban kounen hanareteiyou ga sa
Zettai hikareaukara
Soko ni donna shougai ga attemo norikoeteiku
Sore wo unmei to yobu nara kare wa masa ni HI-RO- da
Setelah itu, permainan berhenti karena Len secara tidak sengaja melempar salah satu stick drum-nya ke belakang. Luka yang sedang menyanyi spontan ikut berhenti karena setelah suara drum berhenti, otomatis yang lain juga berhenti. Gakupo langsung melempar Len dengan sepatunya. Luka dan Teto hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"Hora, Kaito! Jangan hanya diam saja, bagaimana penampilan kami tadi?" seru Gakupo.
"Ehm..." Kaito mengusap-usap kepalanya, "Permainan kalian bagus."
Luka menatap Miku yang sedang kebingungan sambil tersenyum. Dia lalu berjalan ke dekat Miku, lalu duduk di sampingnya.
"Suara senpai bagus sekali," puji Miku. Luka tersipu mendengarnya.
"Arigatou."
"Saa, karena sepertinya kita sudah memenuhi syarat, bagaimana kalau sekarang kita langsung mencari guru pembimbing?" usul Teto, yang langsung disambut meriah oleh Len dan Gakupo.
"Ah, baiklah..." kata Kaito sambil menatap Miku. Gadis itu lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Etto..." Miku menggaruk-garuk kepalanya saat mereka semua sudah berada di depan ruang guru. Di sana, para guru terlihat sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
"Kita mulai dari mana?" bisik Gakupo pada Kaito.
"Kita bagi tugas," putus Kaito, "Kita bagi jadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok harus berkeliling untuk mencari guru yang mau menjadi pembimbing club musik."
"Kalau begitu, baiklah," semuanya sepakat. Tim pertama beranggotakan Miku dan Kaito, lalu Gakupo dan Luka, terakhir Len dan Teto.
Semuanya lalu berpencar ke semua pelosok ruang guru untuk menemukan seorang saja yang mau menjadi pembimbing club musik.
"Aaaah, kita tidak berhasil menemukan satu pun guru yang mau menjadi pembimbing club musik!" rutuk Len, saat mereka semua sudah berkumpul di depan ruang guru.
Semua tim mengalami hal yang sama, yaitu gagal menemukan seorang guru pembimbing sampai mereka melihat Kiyoteru-sensei sedang berjalan dengan santai menuju ruang guru.
"Aku punya ide," gumam Kaito. Gakupo dan Len langsung melotot.
"Kau mau berurusan dengan orang itu?!" Gakupo berbisik pada Kaito. Kaito hanya menyeringai.
Kiyoteru-sensei sedikit mengangkat alisnya ketika melihat segerombolan siswa-nya sedang berkumpul di depan ruang guru. Tapi beliau menghiraukan mereka dan langsung masuk ke dalam.
"Miku, ikut aku!" ajak Kaito. Miku langsung ber-eh-ria dengan bingung. Kenapa harus dia?
Gakupo dan Len langsung bergidig begitu Kaito berhasil menyeret Miku untuk masuk ke dalam dan berhadapan dengan Kiyoteru-sensei. Teto dan Luka yang memang belum pernah belajar bersama beliau hanya bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.
"Ano, sensei..." panggil Kaito pada Kiyoteru-sensei yang saat ini sedang duduk santai di kursinya. Miku berlindung di balik punggung Kaito, merasa cemas dengan apa yang akan terjadi padanya. Entah hanya firasat atau bukan, tapi Miku merasa kalau hal ini akan menyangkut masalah nilainya.
"Ada urusan apa, Kaito-san?" tanya Kiyoteru-sensei yang memang sudah mengenal Kaito karena anak itu pandai dalam pelajarannya.
"Sebenarnya, kami ada permintaan..." kata Kaito, "Tapi sebelum itu, kami ingin menanyakan sesuatu pada sensei."
"Apa itu?" tanya Kiyoteru-sensei dengan santai.
"Ano, sensei... apa sensei percaya cerita hantu?" tanya Kaito yang langsung menimbulkan pandangan heran di wajah Kiyoteru-sensei. Miku mencubit pinggang Kaito karena menanyakan hal bodoh pada guru terkejam di sekolah itu.
"Tidak," jawab Kiyoteru-sensei.
'Ternyata dia menjawab!' seru Miku dalam hati.
"Kalau begitu, maukah anda menjadi guru pembimbing club musik, Kiyoteru-sensei?" tanya Kaito tanpa perantara.
"Yattaka?!" Gakupo dan Len yang mengintip dari balik jendela langsung ribut ketika Kaito maju selangkah ke depan Kiyoteru-sensei yang nampak cuek dan santai di kursinya.
"Tidak. Saya tertarik sama sekali," Kiyoteru-sensei spontan menolak. Kaito dan Miku langsung membisu. Kaito langsung berniat menggunakan 'senjata'-nya untuk melawan Kiyoteru-sensei.
"Kalau begitu, bagaimana dengan ini, sensei?" Kaito langsung menarik lengan Miku agar gadis itu mau berdiri di sampingnya. Kiyoteru-sensei sedikit menaikkan alis menatap Miku.
"Kenapa dengan Miku-san? Apa dia ingin diberi pelajaran tambahan lagi?" tanya Kiyoteru-sensei dengan nada mengejek. Miku langsung kesal dibilang begitu.
"Bukan sensei," jawab Kaito. Dia lalu menatap Miku sambil tersenyum, "Kalau gadis ini bisa mendapat nilai yang bagus saat mid test nanti, apakah anda bersedia menjadi guru pembimbing club musik?"
Kiyoteru-sensei langsung memicingkan matanya sambil menatap Kaito dengan tajam. Sedangkan Kaito tetap berdiri tegap sambil tersenyum penuh percaya diri dengan Miku yang sudah terlihat seperti bangkai busuk yang terbuang.
"Jangan remehkan aku," gumam Kiyoteru-sensei sambil membetulkan letak kaca matanya.
"Apa maksud anda?" tanya Kaito.
Atmosfir di sekitar mereka berubah menjadi lebih serius dan mencekam. Bahkan beberapa guru yang sempat mendengar obrolan mereka pun terlihat sibuk memperhatikan pergulatan yang terjadi antara Kaito dan Kiyoteru-sensei.
"Hm," Kiyoteru-sensei tersenyum tipis, "Kalau gadis ini berhasil mendapat nilai lebih dari 90, maka kau mendapatkanku."
"NA-!"
Tep! Kaito menutup mulut Miku dengan tangannya sebelum gadis itu sukses menghancurkan gendang-gendang di telinganya.
"Angka yang bagus untuk sebuah permulaan," ucap Kaito, masih sambil terus memasang senyum percaya diri. Kiyoteru-sensei dan Kaito sempat berpandangan sengit selama beberapa detik sampai akhirnya Kiyoteru-sensei tersenyum puas.
"Jika dalam dua minggu ini kau bisa membuatnya mendapat nilai lebih dari 90, kau menang," kata Kiyoteru-sensei, "Sampai saat itu, berjuanglah."
Kaito tersenyum lebar. Yap. Ujian tengah semester memang akan diadakan dua pekan lagi, dan itu adalah sebuah mimpi buruk bagi Miku untuk mendapatkan nilai setinggi 90 hanya dalam waktu dua minggu.
Tapi Kaito tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya memberi salam pada Kiyoteru-sensei sebelum pergi meninggalkan ruang guru sambil menyeret Miku bersamanya.
"JANGAN BERCANDA!" Gakupo, Len, Teto, dan bahkan Luka berteriak Kaget pada Kaito saat mereka tahu kalau Kaito merencanakan hal se-tidakmungkin itu–maaf untuk Miku–agar dia bisa membangkitkan ruang musik.
Mereka sudah tahu kemampuan Miku yang rendah dalam bahasa Inggris sebelumnya. Tentu saja mereka merasa sangat syok saat diberitahu Kaito kalau anak itu berencana membuat Miku 'cerdas dalam sehari'. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Sedangkan Miku sendiri masih terlihat kosong tanpa jiwa saat dibawa ke ruang musik.
"Hey Kaito, kau harus bertanggung jawab," kata Len sambil menatap iba pada Miku yang sedang depresi di pojokan ruangan.
Kaito menghela napas pendek sebelum berjalan mendekati Miku.
"Ayo kita keluar," ajak Kaito pada Miku sambil mengulurkan tangannya. Tanpa menunggu lama, Miku menyambut uluran tangan itu, lalu pergi keluar bersama Kaito. Semua orang yang di dalam hanya saling pandang dengan wajah serius. Sepertinya mereka sedang memikirkan sesuatu.
"Kau jahat Kaito," kata Miku sambil melipat kedua tangannya di dada, merasakan angin lembut menyibak poni-poninya. Mereka sedang berada di atap bangunan untuk sedikit mencari angin.
"Kau ini pikun ya," kata Kaito sambil menatap rendah Miku. Gadis itu langsung cemberut.
"Memangnya apa yang kulupakan?" tanya Miku sambil melotot. Kaito mendesah panjang sebelum menjawab,
"Aku masih punya hutang padamu."
Miku mengerukan dahinya. Hutang? Hutang apa?
"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Miku, bingung. Kaito menarik sebelah rambutnya yang diikat dengan kesal.
"Apa kau lupa pada syarat yang dulu pernah aku ajukan?" tanya Kaito, "Aku masih punya hutang mengajar padamu."
Miku mengingat-ingat tentang syarat yang memang pernah mereka bicarakan sebelumnya.
Syaratnya gampang. Kau harus benar-benar berhenti menjadi bodoh setelah aku membantumu.
"Kupikir kau selalu ingin lepas dari syarat itu. Kalau begitu, inilah saatnya," kata Kaito sambil tersenyum. Miku spontan melebarkan matanya. Benar juga. Dia benar-benar tidak ingat soal syarat Kaito yang belum juga bisa dia penuhi. Tiba-tiba otaknya dipenuhi rasa jengkel tanpa sebab.
"Baiklah!" Miku mengepalkan tangannya, "Aku tidak akan kalah darimu, Kaito!"
"Bagus!" Kaito tersenyum puas meskipun dalam hati dia benar-benar merasa khawatir dengan Miku. Bisa-bisanya dia melibatkan gadis itu dalam hal ini. Bagaimana jika hasilnya kurang memuaskan? Tapi... Kaito segera menggelengkan kepalanya. Dia harus optimis!
Dia memang sudah terlalu gegabah. Nilai yang melebihi angka 90 adalah 91, sedangkan nilai sehari-hari Miku yang sudah dicampur nilai tugas berkisar 35. Bagaimana caranya agar gadis ini bisa mengejar nilai 91 dalam waktu yang hanya dua minggu lagi?
Kaito harus berpikir keras mulai dari sekarang. Lagi pula, dia tidak sendiri.
Chapter Seven's finished.
By Itachannio
Aish, jadi berkepanjangan lagi ini nih ceritanya kekekeke... demooo, RnR?
Next Chapter
Ujian Tengah Semester
Reviews reply:
Kagami Kagusa: Iya bersambung, jadi manjang ini ceritanya . hahahahaha :D arigatou sudah menungguuu :D
Park Hyesung - YWDK: Yaaaah memang banyak adegan ngenes di sini itu soalnya saya kebetulan seorang penggemar anime, manga, atau cerita horror begitulah hehehe... :D
Dokorode, kejadian Teto itu memang hampir mirip dirasuki sih,tapi sebenarnya bukan. Lebih ke sisi gelap yang ada dalam diri Teto *ceileh*
Eng... btw bin bay de wei saya baru di dua-duanya XD, terus yg vanaN'Ice itu... yap! Saya juga udah ngerti wkwk tapi kalau Len gak pake baju cewek jadinya bukan vanaN'Ice ya? Eh-hahahahaha
Siiiip arigatou sudah merekomendasikan video yang bagus dan sudah menunggu terapdetnya chapter ini! XD
vermiehans: Iya jadi agak bloody gimana gitu ya *.*d Hahaha!
Terus di sini Gumi dan Akaito dibuat kejam dikit ckckck biar menambah kesan tertentu *.*, lalu penderitaan Kaito bertambah lagi bertambah lagi, hahaha! Memang mengasyikan membuat tokohnya tersiksa *bohong deng :D*
Okee, arigatou sudah menunggu apdetaan ini! :D
Harv: Iya jadi terkesan bloody dikit *dikit? #plak* hehe...
Oh, iya arigatou sudah mengingatkan! XD Cuma saya belum bisa membenarkan dikarenakan kelemotan modem, hehe..
Btw bin dokorode, memproduksi typo adalah salah satu penyakit saya yang memang sangat sulit untuk disembuhkan, tapi bukan berarti tidak bisa. Beruntung saya punya teman seperti kimi yang ikut membantu dalam menyembuhkan penyakit ini. XD
Akhirnya, saya bisa mengucapkan "Arigatou gozaimasuuu..!" and see you on the next chapter~! b^^d
