Disclaimer: INUYASHA belongs to Takahashi Rumiko

Enjoy, Minna!


.

.

Aku Dalam Hatimu 7

:: Nakazawa Ayumu ::

.

.


Uap hangat membumbung di udara, menghantarkan rasa nyaman yang berbanding terbalik dengan udara malam yang dingin di sekitarnya. Kolam air panas yang menyenangkan di alam terbuka.

Naraku tersenyum simpul melihat Kagome yang berdiri di tepi kolam. Yukata putih tipis yang dipakainya tidak sanggup membentengi tubuhnya dari hawa dingin yang menusuk dan membuatnya sedikit menggigil. Dua iris matanya tak lepas memandang langit malam berbintang.

"Kemarilah, Kagome,"

Kagome menoleh dan mendapati uluran tangan Naraku padanya.

"Kemarilah, bersamaku…"

Naraku kembali tersenyum saat Kagome menerima uluran tangannya. Setengah siluman itu menuntunnya turun masuk ke dalam kolam air panas, tempat mereka akan berendam bersama. Kagome berjengit saat merasakan panasnya air menyentuh ujung kakinya. Perlahan ia menenggelamkan setengah tubuhnya. Namun, tarikan cepat Naraku membuat gadis itu terjatuh tepat di pelukannya.

Naraku mendekapnya erat, "Bagaimana? Nyaman bukan?" tanyanya.

Suara Naraku berdesing samar di telinga Kagome. Karena ketegaran gadis itulah, kekuatan Naraku tidak lagi sepenuhnya bisa mengontrol pikirannya. Jiwanya tak lagi kosong, hanya saja, pecahan shikon no tama di dalam tubuhnya begitu sulit ia murnikan, membuat tubuhnya tak bisa bergerak dengan bebas sekehendak hatinya. Kenapa bisa begini? Tanyanya dalam hati.

"Apa kau menyukainya, Kagome?" Naraku menatap wajah cantik gadis itu yang mulai memerah karena panas. Kagome menatapnya dalam diam. Ia ingin bergerak, ia ingin lepas dari Kontrol Naraku sepenuhnya!

Naraku menyikap bagian atas yukata Kagome sebatas bahu. Dikecupnya lembut kulit halus miliknya. Jemarinya menyentuh perlahan memperlakukannya bagai sebuah porselen indah, bibirnya bergerak meminta lebih dan sampai pada perpotongan leher Kagome.

"Kau benar-benar membuatku.. gila, Kagome" ucap Naraku tepat di telinga gadis itu.

Tubuh Kagome gemetar menerima sentuhan Naraku di tubuhnya, merasakan nafas berat lelaki itu di sisi wajahnya. Dan saat Naraku bergerak ingin menciumnya, entah kekuatan darimana, Kagome menolehkan wajahnya ke arah lain, mencoba menghalangi apa yang akan Naraku lakukan terhadapnya.

Mata Naraku berkedut dan kemudian menyipit, "Kau ini memang keras kepala!"

Tangan kiri Naraku menggapai dagu Kagome dan menarik wajah gadis itu agar ia menghadap ke arahnya kembali dengan paksa. Tangan kanannya yang lain mempererat pelukannya di pinggang Kagome, menarik tubuhnya mendekat, membuat riak air menggelombang.

"Kita lihat nanti. Saat Shikon no tama kembali utuh , apa Kau bisa keras kepala lagi seperti ini?" kata Naraku tajam.

Wajah mereka semakin mendekat dan begitu dekat, hingga keduanya dapat saling merasakan hembusan nafas masing-masing. Dan itu membuat Naraku menyeringai. "Aku akan membuatmu mencintaiku… Kagome," ucapnya sekali lagi dan lalu mencium Kagome tepat di bibir merahnya.

.

.

Inuyasha memusatkan pandangannya pada api unggun di hadapannya, setelah berkeliling dua desa seharian, ia dan yang lainnya memutuskan untuk beristirahat. Pencarian shikon no tama tanpa Kagome sama sekali tidak mudah. Mereka tidak tau dimana pecahan itu, dan tidak menemukan petunjuk sama sekali.

"Kagome.."

Memikirkan gadis itu kini bersama Naraku, membuat rasa marah bergemuruh di dadanya, memberontak ingin keluar. Ia rindu Kagome, ia merindukan gadis itu di sisinya. Bukan sebagai partner untuk mencari shikon no tama, tetapi sebagai seorang wanita yang selalu bersamanya, menerima dia apa adanya. Ingin sekali ia menghajar habis Naraku dan merebut Kagome kembali paksa.

Ia akan merebut kembali Kagome. Tidak, Ia pasti bisa membawa Kagome pulang kembali kepada mereka, kepada keluarganya, teman-temannya, dan dirinya. Inuyasha bertekad bulat untuk memegang teguh pendiriannya, untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak akan pernah lagi meninggalkan sisi gadis itu.

Inuyasha menghela nafas berat dan kemudian mendongak menatap ke arah langit malam berbintang. Begitu indah berkilauan, bercahaya menyinari gelapnya malam.

"Apa yang kamu lakukan di sana…. Kagome?" suaranya begitu lirih hingga terbawa angin.

.

.

Wanita cantik itu bersandar di sebuah pohon besar di tengah hutan. Kedua matanya menutup memikirkan sesuatu sementara beberapa Shinidama memasukkan beberapa roh ke dalam tubuhnya. Wajahnya yang terlihat lelah, mau tidak mau membuat seorang anak lelaki yang mengikutinya khawatir.

"Kau baik-baik saja, Nona Kikyo?" tanya Kohaku.

Perlahan, Kikyo membuka matanya dan menatap anak yang sudah mengikutinya selama beberapa hari terakhir. Sejak kejadian terjatuhnya Kagome, Kikyo tersadar bahwa Kohaku mengikutinya dan mengizinkan anak itu untuk menemaninya. Tanpa diduga, Kohaku tersentak dan merintih kesakitan. Rasa panas menyebar dalam tubuhnya begitu cepat.

"Shikon no tama di tubuhmu tercemar, Kohaku," ucap Kikyo yang masih memperhatikan keadaan tubuh di depannya.

"Kemarilah, biar kumurnikan," Kohaku tak lagi banyak bicara dan segera mendekati Kikyo. Begitu Kikyo menyentuhkan tangannya pada tengkuknya, dengan cepat rasa hangat mulai menyelimuti tubuhnya. Tak ada lagi rasa sakit yang menyerangnya.

"Terima kasih, Nona Kikyo," kata Kohaku seraya tersenyum.

Kikyo terdiam. Semakin hari pecahan shikon no tama semakin terkumpul. Kikyo bisa merasakannya, pecahan-pecahan itu hampir bersatu kembali. Naraku menggunakan Kagome untuk mengumpulkannya, ia tahu kabar ini. Shikon no tama sudah tercemar. Hanya itu yang bisa Miko itu simpulkan. Waktunya sudah semakin dekat dan ia masih terlalu ragu untuk menentukan sesuatu yang akan menjadi pilihannya.

Ia tidak menyalahkan Kagome. Gadis itu adalah reinkarnasinya. Kikyo yakin sangatlah tidak mungkin bahwa Kagome hanya kebetulan saja datang ke masa lalu dengan melewati sumur pemakan tulang. Pasti ada suatu alasan yang bisa menjelaskan semuanya. Tentang shikon no tama, tentang Naraku dan Onigumo…

"Apa.. Aku terlalu egois?" tanya Miko itu entah pada siapa.

Kohaku menatapnya tak mengerti, dan betapa terkejutnya ia saat melihat air mata mengalir di sisi wajah cantik Sang Miko. Kikyo menangis, dan Kohaku tidak tahu apa yang harus ia perbuat, ia tidak mengerti sama sekali.

"Inuyasha…" bisik Kikyo seraya menggenggam busurnya erat.

.

.

Inuyasha dan kawan-kawan menatap tak percaya pada apa yang ada di hadapan mereka, sebuah padang rumput luas di bawah kaki gunung hakurei. Ratusan mayat prajurit terbujur kaku sembarang arah, di tengahnya seorang lelaki dengan pedang besar tertawa penuh kemenangan.

Puluhan prajurit yang tersisa kembali menyerang maju. "Hentikan!" teriak Sango memperingatkan, namun terlambat, dengan satu sabetan pedang, angin panas mmembunuh mereka semua. Siluman itu kembali tertawa.

"Bankotsu!" geram Inuyasha.

Bankotsu menatapnya. "Ah.. setengah siluman," katanya ringan seraya memandang Inuyasha dengan pandangan meremehkan.

Kesal, segera saja Inuyasha menarik tessaiga dan menyerang Bankotsu. "Kaze no Kizu!" Angin penyayat menerjang menyerang, namun Bankotsu dengan cepat melawan balik dengan serangan miliknya, tenaganya begitu kuat hingga Inuyasha terhempas mundur.

"Huh? Rupanya seimbang!" ujar Bankotsu.

Inuyasha menyipit marah, 'Brengsek!' geramnya dalam hati. Kenapa Bankotsu bisa menjadi begitu kuat? Terakhir kali ia melawan siluman itu, tessaiga bisa melukainya.

"Kau memakai tiga pecahan lain dari saudaramu? Hei, Bankotsu!" teriak Inuyasha kepadanya.

"Itu artinya, sekarang ia memiliki empat pecahan shikon no tama?!" Miroku begitu terkejut, sama halnya dengan Sango yang berada di sampingnya.

Bankotsu terdiam dan tersenyum sinis. Tanpa berkata apapun lagi, ia kembali menyerang Inuyasha. Pertarungan hebat terjadi di antara mereka. Serangan Miroku dan Sango yang mencoba membantu Inuyasha dihempaskan Bankotsu begitu saja. Entah sudah berapa lama, pertarungan itu berlangsung, Bankotsu sama sekali tak terluka, berbanding terbalik dengan keadaan Inuyasha dan yang lainnya.

"Sialan!" umpat Inuyasha. Matanya menatap tajam pada Bankotsu dan mempererat genggamannya pada Tessaiga.

"Huh! Kalau begini… Aku bisa menjadi kuat dan mungkin saja bisa mengalahkan Nara-!"

'SRAAATT!'

Satu tusukan pedang terhujam dalam ke tubuh Bankotsu. Pedang itu tertekan hingga menusuk semakin dalam dan akhirnya menembus dadanya, membuat dua pecahan shikon no tama di dalamnya terpantul keluar terjatuh ke atas tanah. "Uuukkh!" Bankotsu memutar kepalanya mencoba melihat siapa yang berani melakukan hal seperti ini pada dirinya.

Inuyasha terpana. Begitu juga dengan Miroku, Sango dan Shippo. Sosok itu tak bergerak dari posisinya semula. Ia masih berdiam diri di belakang Bankotsu dengan menusukkan pedang ke arah siluman itu.

"Kagome…,"

Kagome tak mengindahkan pandangannya dari Bankotsu yang menatapnya murka. Kagome melompat mundur membiarkan pedangnya masih menusuk Bankotsu. Bankotsu berbalik dan berjalan ke arah Kagome, ingin membunuhnya. Pedang besar miliknya terangkat ke atas,

"Berani-beraninya! Kau gadis sialan! Berani-beraninya!"

"KAGOMEE!" bergegas Inuyasha berlari . Namun, belum sempat ia berada di dekat Kagome, dua sulur beracun menusuk leher Bankotsu cepat, mengoyaknya kasar dan mengeluarkan dua pecahan yang tersisa dari dalamnya. Semua tercekat saat detik kemudian Bankotsu berubah menjadi tulang dan abu.

"Empat pecahan ini milikku.." suara berat Naraku menggema. Dengan sulurnya ia mengambil dua pecahan yang tergeletak begitu saja di tanah. "Dengan ini, tiga pecahan lagi, Shikon no tama akan lengkap sempurna dan Kagome akan menjadi milikku.." Naraku tersenyum senang.

Inuyasha terbelak, apa yang Naraku katakan?! "Aku tak akan menyerahkan Kagome padamu, Brengsek!" seru Inuyasha menerjang Naraku. Seringai Naraku bertambah lebar. Dengan mudah, ia menghempaskan Inuyasha.

"Uggh!"

Naraku menoleh kea rah gadis di sampingnya. Masih dengan senyuman terlukis di wajahnya, "Kagome.. lakukanlah, habisi dia…". Kagome melangkah maju dan merunduk mengambil busur dan panah dari salah satu jasad prajurit di bawah kakinya.

"Kagome-chan, jangan lakukan! hentikan!" teriakan Sango terdengar begitu keras.

Gadis itu kembali berdiri tegak dan menarik panah kuat-kuat dengan tali busur dan mengarahkannya tepat pada Inuyasha.

"Inuyasha! Pergi dari situ!" Miroku ikut berteriak mengingatkan.

Kagome semakin menarik kuat panahnya. Shippo menutup mata, menyembunyikan wajahnya di punggung Kirara. Semua di sana menanti dengan tegang. Namun entah kenapa Kagome tak juga melepaskan anak panahnya pada Inuyasha.

Semua menatap gadis berkimono hitam itu dengan heran saat Kagome hanya terdiam seraya tetap menarik panah. Wajahnya menunduk, dan tubuhnya gemetar.

"R.. ri… sha.."

Suara bisikan Kagome membuat semuanya terdiam tak mengerti, mencoba menunggu apa yang akan dikatakan gadis itu.

"La..ri… … ya.. sha.." tangan Kagome gemetar. Gadis itu mencoba melepaskan ikatan tubuhnya dengan Shikon no tama yang tercemar.

"LARI, INUYASHA!" dan dengan segala kekuatannya, Kagome berteriak, membuat Inuyasha terbelak dan Naraku menggeram marah.

"Kagome..?"

.

.

To Be Continued...


A/N: Apa kabar? kuharap kalian baik-baik saja. Apakah cuku memakan waktu lama untuk chapter ini publish? Maaf untuk Typo-nya dan maaf tidak bisa membalas satu-persatu review Kalian... Aku ngebut sekali buat cerita ini. Kuharap kalian puas.
Semua istilah dan nama-nama di cerita ini kuambil langsung dari komiknya.

Kuucapkan terima kasih banyak untuk kalian yang MENGHARGAI karyaku dengan MENINGGALKAN JEJAK! terima kasih juga untuk Silent Readers dan untukmu yang membaca ini.. :)

PS: Apakah semakin ke sini, cerita membosankan atau bagaimana? aku takut sekali kalian jadi bosan... aku berniat tidak melanjutkannya kembali kalau memang begitu..

Semoga hari Kalian menyenangkan!

RnR, onegai?