Apapun yang menyangkut HSDXD, fate series, Toaru series, Fairy tail, mahouka koukou no rettosei kore wa zombie desuka, grisaia series, Naruto dan anime lainnya yang tidak saya sebutkan karna lupa atau apa, baik dari segi chara, kekuatan dan sebagainya, itu bukan punya saya.
Bab 2.4 Tiga Fraksi
Part 1: Rapat antar petinggi Maou
Hari-hari setelah badai menerjang Kuoh Academy sudah berakhir, namun tidak semuanya berakhir. Akibat dari penyerangan ini membuat gencatan senjata tiga fraksi menjadi retak. Pihak Iblis sudah mengirim surat kepada pihak malaikat dan malaikat jatuh. Sementara itu, pihak Iblis mengadakan rapat dadakan yang membahas beberapa agenda penting.
Kini, terdapat empat sosok penting di Fraksi Iblsi yang duduk di meja bundar. Di sisi barat ada Sirzech selaku pemimpin tertinggi menatap dingin tiga sosok lainnya yang bernama Falbium, Ajuka, dan Serafal. Ajuka dan Falbium saling tatap karena bingung dengan alasan dibalik pemanggilan rapat darurat antar Maou yang diajukan oleh Sirzech.
"Jadi… bisa kau jelaskan alasan memanggil kami, Sirzech?" tanya Ajuka dengan raut wajah yang terlihat jelas sedang jengkel kepada sosok pria berambut merah crimson tersebut. Bagaimana tidak kesal, ketika sedang asik melakukan penelitian, malah dipanggil dadakan .
"Pertemuan membahas dua pokok pembicaraan, pertama sosok jendral malaikat jatuh mencuri Excaliburn dan menggunakan senjata itu untuk melakukan serangan kepada daerah kekuasaan kami san Sitri." Sirzech merasakan suhu ruangan menurun dratis. Dia melirik pelaku yang menyebabkan suhu udara menurun dratis. Sirzech paham dengan perasaan Serafal yang khawatir dengan keadaan adiknya yang diserang oleh Kokabiel.
"Konoyarou, kenapa mesum pemalas sialan itu tidak menghentikan bawahannya, dia ingin mengorbankan perang kah?" desis Serafal yang mulai menurunkan suhu udara menjadi minus derajat. Tangannya mengepal erat, seakan dengan mengepal emosinya mereda.
Sedangkan Ajuka hanya diam mengamati jalannya rapat petinggi Fraksi iblis tersebut.
Disisi lain, Falbium yang jarang memasang wajah serius, kini terlihat serius walaupun ada aura pemalas yang menyelimuti tubuh Falbium. Dia sesekali menguap dikarenakan mengantuk.
"Jadi… apa mau kalian, Sirzech, Serafall?" tanya Falbium menatap malas kepada Sirzech dan Serafal . Tatapan serius terpancar dibalik tatapan malasnya. Menandakan Falbium juga serius. Dia menggebrak mejanya. Menatap garang Sirzech dan Serafall.
"Aku tidak peduli apa yang kalian inginkan, tapi jika kalian mengobarkan bendera perang kepada salah satu fraksi, jangan salahkan aku apabila mereka membantai fraksi kita karena mengobarkan bendera perang." Sirzech, Serafall dan Ajuka sedikit terkejut melihat Falbium yang pertama kalinya bertindak tegas dan melupakan hobinya untuk tidur dimanapun, bahkan jika rapat petinggi fraksi Iblis.
"Siapa yang kau maksud dengan 'Mereka', Falbium. Jelaskan padaku!" ujar Sirzech dingin meminta penjelasan kepada Falbium. Dengan aura intimidasi yang menguar dari tubuhnya, dia serius menuntut jawaban dari pertanyaannya itu. Serafall dan Ajuka sedikit ketakutan, namun berbeda dengan Falbium yang hanya menguap melihat Sirzech mengancamnya dengan aura yang tidak membuatnya gentar.
"ANBU, Ansatsu Butai. Organisasi misterius yang anggotanya menyebar ke penjuru dunia, organisasi yang berjalan diantara hitam dan putih, atau bisa kita sebut abu-abu, organisasi yang dipimpin oleh Kiiro Senkou, si kilat. Tidak ada yang mempunyai informasi ANBU tersebut." Ujar Falbium seakan mengetahui seluk beluk ANBU, Ansatsu Butai. Di dalam hatinya dia ketawa dengan ekspresi Sirzech yang mengeras setelah mendengar informasinya.
"Apa maksudmu, Falbium? Kenapa kau tidak memberitahu informasi sepenting itu?" tanya Sirzech yang menghilang dan muncul di depan Falbium lalu menarik kerah bajunya. Falbium hanya santai diperlakukan seperti ini, dia menatap Sirzech dengan pandangan menantang.
"Informasi ini sudah menyebar di kalangan dunia supernatural. ANBU merupakan organisasi yang keberadaannya sangat sulit dilacak. Mereka menunjukkan taringnya secara sembunyi-sembunyi untuk membunuh sosok yang menggangu manusia. Kini mereka beraliansi dengan Youkai dan Asgard."
"Ke-kenapa kau mempunyai informasi sepenting itu dan tidak memberitahuku, Falbium?!" Sirzech murka? Tentu saja siapapun murka apabila sahabatnya menyimpan rahasia yang penting. Perasaan itu kini Sirzech rasakan. Energy di tubuh Sirzech meledak-ledak. Tangannya mengepal erat dengan energy merah kehitaman yang merupakan energy power of destruction, siap meninju wajah Falbium yang menantang Sirzech.
"Cukup Sir-tan!" seru suara feminim yang dimiliki satu-satunya perempuan di ruangan ini, yang membekukan setengah badan Sirzech.
"Kenapa kau jadi emosian seperti ini, Sirzech? Kenapa reaksimu seperti ini hanya karena Falbium mengetahui informasi tentang Kiiro Senkou beserta organisasi yang diketuainya?" tanya Ajuka dengan tatapan dingin. Sirzech menundukkan wajahnya. Sirzech kali ini terdiam, tidak tahu mau menjawab pertanyaan Ajuka.
"A-aku hanya… Kalian tidak paham kenapa aku bersikap seperti ini! Para tetua sialan itu menekanku semenjak pembunuhan Diadora Astaroth yang diduga merupakan perbuatan ANBU." Teriak Sirzech frustasi sembari mengacak rambutnya. Raut wajahnya begitu tertekan karena desakan para tetua busuk bau tanah itu yang menyuruhnya mencari informasi ANBU lebih detail, separate tempat tinggal, kekuatan, pemimpin.
"Cih dasar tetua kolot, apa mereka ingin fraksi Iblis hancur?" desis Falbium yang marah dengan tingkah tetua sialan itu. Ucapan Falbium menarik perhatian Sirzech, Serafall dan Ajuka.
"Apa maksudmu, Falbi-tan?" tanya Serafall memiringkan wajahnya.
"ANBU beraliansi dengan Youkai dan Asgard, kemudian visi dan misi ANBU hanya menghentikan perang tiga fraksi yang kemungkinan besar manusia bisa terseret perang tersebut. Aku juga tahu alasan kenapa mereka membunuh Diadora Astaroth. Hal itu karena dua hal, pertama dia adalah anggota Chaos Brigade. Kedua, dia adalah mata-mata dari golongan Maou lama yang merupakan salah satu pillar Chaos Brigade yang ingin merebut kekuasaan yang kita duduki dan memulai perang lagi."
"Hey Falb-tani, entah kenapa kau sangat tahu tentang ANBU dengan sangat detail." Falbium yang mendengar pertanyaan Serafall.
"Aku kenal dengan salah satu pillar utama ANBU. Dia adalah perempuan bercode name Lavender. Kami mengadakan kerjasama karena aku ingin perdamaian yang membuatku bisa tidur sepuasnya." Ujar Falbium yang ternyata ingin dunia dalam demi keinginan yang membuat Sirzech, Serafall dan Ajuka sweatdrop.
"Dasar pemalas!" seru Sirzech, Ajuka dan Serafall yang kesal dengan Falbium. Mereka pun menghajar Falbium untuk melampiaskan kekesalan mereka. Bagaimana tidak, mereka benar-benar kesal karena Falbium kenal dengan salah satu personil ANBU, parahnya salah satu pillar utama pula. Ditambah lagi dia kerja sama dengan pillar ANBU tersebut hanya untuk alasan konyol?!
'Yang benar saja!' Batin Sirzech, Serafall dan Ajuka bersamaan. Mereka menyeringai menatap Falbium yang menutup matanya dengan wajah bangga. Tanpa sadar dirinya akan diberikan 'kado'cantik dari para sahabatnya.
"Serang pemalas itu!" Mendengar teriakan Sirzech, Falbium memasang posisi siaga karena mengira ada musuh. Namun dia cengo melihat mereka bertiga berlari mengarah ke arahnya?
"A-are? Gya!"
.
.
.
.
Beberapa saat setelah Falbium menerima 'kado' cantik dari sahabatnya, enam benjolan besar di kepalanya dan wajahnya yang bonyok. Sedangkan Sirzech, Ajuka dan Serafall memasang wajah watados dan duduk di tempat mereka masing-masing. Sedangkan Falbium menatap tajam Sirzech, Serafall dan Ajuka yang membuat wajahnya hancur.
"Yosh rapat kali ini sampai disini, jadi yang mewakili pihak kita adalah aku dan Serafall. Silahkan kembali ke rutinitas masing-masing. Dan untukmu Falbium, selamat menikmati hadiahmu.
Setelah mengatakan itu, Sirzech, Serafall yang terkikik melihat wajah Falbium, dan Ajuka yang tertawa keras melihat sahabat pemalasnya bonyok berkat 'karya' mereka bertiga, menghilang menggunakan sihir teleportasi dengan lambang clan mereka.
"Sialan kalian bertiga!" teriak Falbium menggema di ruangan rapat. Burung gagak yang bertengger di atap ruang rapat langsung terbang menjauh karena terkejut dengan aura membunuh yang pekat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC :v Bercanda neng :v lanjut kok
.
.
.
.
Part 2 Kazami Yuuji dan ramalan
Sesaat setelah pertarungan hidup-mati, menurut Rias dan Sona serta peeragenya, kini sekolah kembali lancar. Pertarungan yang menghancurkan sebagian bangunan langsung kembali sediakala, berterimakasihlah kepada Sona serta peeragenya yang mengembalikan sekolah yang hancur separate sedia kala. Seperti biasa, teriakan histeris memenuhi indera pendengaran Hanabi dan kawan-kawan. Mereka menatap bosan siswa-siswi yang berteriak tidak jelas saat Rias dan peeragenya.
"Mereka tidak bosan-bosannya berteriak gaje," ujar Vali yang menatap ke bawah, tepatnya gerbang pintu sekolah yang megah ini. Dia menyeruput es jeruk yang dia beli di kantin.
"Kau benar, namun sepertinya kau berhasil menghapus ingatan mereka, Lavender." Kata Toshiro memandang datar sosok Rias dan peerage yang tingkah lakunya seperti tidak terjadi apapun. Lihat saja mereka, Rias membalas sapaan para siswa dan siswi yang mengagumi mereka, Koneko tetap dengan wajah datarnya sembari memakan cemilan kesukaannya, Kiba yang selalu tebar pesona, Akeno yang menggoda Menma, Menma yang membalas godaan Akeno yang diakhiri canda tawa,
Hanabi duduk di lantai sembari menatap awan, tidak menghiraukan rekannya yang mengobrol. Dia merindukan keluarga kecilnya. Ditambah hari ini merupakan hari ulang tahun anaknya. Dalam hatinya ia pun berharap, agar bisa menemui anaknya serta suaminya di alam mimpi.
'Ne Ayumi-chan… bagaimana kabarmu di alam sana ya? Hiiks… apa kau merindukan kaa-chanmu ini? Kau tahu Ayumi-chan, aku hanya berharap, aku bisa berkumpul dengan kalian, bermain bersamamu. Namun apadaya, rupanya takdir berkata lain. Dan Anata, apa kau tahu, aku merindukan cengiranmu, sifat jahilmu dan sifatmu yang membuatku memilihmu, yaitu perasaan akan melindungi orang yang berharga. Berkatmu, kini aku paham alasan Nee-san tetap bersikukuh memilih Naruto, walaupun rintangan selalu menghadang mereka. Begitupun denganmu, aku masih ingat saat-saat itu, yang membuatku menyukaimu.' Batin Hanabi memegang kalung lotion love yang berisi gambar Konohamaru dan Ayumi serta dirinya yang berfoto saat kemping. Samar-samar di langit terbentuk sosok Konohamaru dan Ayumi yang tersenyum tipis, dan Konohamaru yang memegang kepala Ayumi dan mengacaknya dengan lembut sembari menatap dirinya dengan bibir yang bergerak membentuk kalimat, 'Aku tahu, janganlah bersedih, kau memegang peranan berat di masa depan, lebih berat dari kami, tolong… lupakan saja kami apabila itu membuat hatimu tenang dan fokus dengan misimu.'
Hanabi mengukir senyuman paling indah, saat menatap bayangan yang memudar dan menghilang. 'Seperti biasa, kau pasti tidak memperdulikan perasaanmu dan mengutamakan perasaan orang lain. Itulah yang membuatku menyukaimu,
"Hanabi, oy Hanabi…" Hanabi pun sadar dari lamunannya dan melihat Laxus yang melambaikan tangannya di depan wajahnya. Air mata yang tanpa sadar keluar membasahi pipinya ia hapus dengan kasar. Dia bisa melihat raut wajah khawatir dari rekannya. Sekali lagi ia bersyukur diberikan kesempatan kedua, walaupun tanpa kedua orang terkasihnya.
'Terima kasih Kami-sama, kau memberikan kesempatan kedua untuk meluruskan masalah di dunia ini.' Batin Hanabi menatap langit sejenak, dan tersenyum tipis saat sahabat-sahabatnya, Vali, Issei, Toshiro, Laxus dan Natsu yang bertanya kenapa dia menangis. Dia senang karena ANBU, tempat dia bernaung sekarang ini, membuatnya sangat nyaman berada disini.
"Jadi… apa langkah kita selanjutnya, Lavender-Hime."
Hanabi berdiri dan bersender di dekat pintu. Dia menutup matanya sebentar, kemudian membuka matanya dan mengaktifkan Byakugan. Mereka yang melihat Hanabi yang mengaktifkan Byakugannya, memasang wajah serius. Mereka tahu, bahwa Hanabi yang mengaktifkan Byakugannya, tandanya perbincangan kali ini sangatlah serius.
"Sebenarnya aku bingung langkah kita selanjutnya, mengingat aku masih belum mendapat informasi dari salah satu sahabatku di fraksi iblis yang aku perkirakan akan menindaklanjuti peristiwa ini di tiga fraksi. Mata-mata Taka mengatakan bahwa mereka akan menyerbu pertemuan tiga fraksi. Namun belum ada informasi baru mengenai siapa yang menyerang 3 fraksi pada saat pertemuan tersebut berlangsung. Namun besar kemungkinan pertemuan tersebut akan berlangsung disini, tempat kejadian perkara. Tapi, langkah selanjutnya kita pastikan pergi…" Hanabi menghentikan penjelasan yang dia berikan kepada sahabatnya. Dia yang berada paling dekat dari pintu yang menghubungkan tangga yang menuju lantai dua dan atap sekolah, melakukan tendangan berputar dengan chakra yang melapisi kakinya.
Berkat tendangan tersebut, sosok dibalik pintu itu terjepit. Suara jeritan memasuki indera pendengaran mereka yang bersiaga memandang datar sosok yang dibalik pintu itu, kecuali Vali. Kenapa? Karena dia mengenal sosok tersebut, teman sebangkunya, Yuuji Kazami.
Sosok laki-laki bertubuh tinggi tegap diseret Hanabi dengan tidak berperikemanusiaan, kemudian melempar sosok itu ke atap sekolah.
"Jadi… Yuuji Kazami, kenapa kau menguping?" tanya Hanabi menatap datar sosok laki-laki yang memiliki wajah datar namun tatapannya tajam bagaikan elang menerkam mangsanya. Rambut hitamnya berkibar-kibar diterpa angin.
"Ugh… Nona, tendanganmu mengerikan sekali. Kedua tanganku yang menahan laju pintu itu sampai terasa tanganku terasa hancur. Siapa kalian sebenarnya? Aku mendengar kata ANBU, Iblis, 3 fraksi, dan semacamnya" Yuuji Kazami menatap tajam keenam sosok yang mengelilinginya. Dia terlihat tidak terancam, namun dia dalam posisi siaga penuh. Kemudian pandangannya mengarah ke Vali dengan pandangan menyelidik. "Terutama kau, Vali. Aku tahu kau adalah sang Hakuryuukou."
"Kau… tau tentang Sacred gear?" tanya Hanabi
"Tentu saja, namun sekali lagi, kalian sebenarnya siapa? Terutama kau nona, aku tahu kau seorang Hyuuga, terlihat jelas dari urat yang bermunculan di sekitar matamu, kau mengaktifkan Byakugan, bukan? Jika kau bertanya dimana aku menemukan informasi Hyuuga, maka aku akan menjawab, aku menemukan peninggalan desa Konoha." Hanabi langsung menendang Yuuji hingga menghantam dinding pembatas. Yuuji langsung muntah darah karena tendangan Hanabi begitu kuat. Hanabi mendekatkan wajahnya ke Yuuji.
"Apa maksudmu, Kazami-san? Kenapa kau mengatakan omong kosong semacam itu," ujar Hanabi dengan nada dingin. Killing Intens sedikit menyelimuti tubuhnya.
"Ohok… ohok… organisasiku yang… ohok menemukan… peninggalan desa Konoha… Disitu… ada… ramalan… dari… Hokage ke-8, Uchiha Sasuke, yang mengatakan Hyuuga, Uzumaki, para naga di masa depan, dan bayangan akan menghadapi sesuatu yang besar. Matahari akan bersinar berwarna ungu, kejahatan semakin merajalela, munculnya sosok penghancur beberapa generasi, termasuk, hancurnya desa Konoha…" Sebelum Yuuji menyelesaikan ucapannya, Hanabi yang menitikkan air mata, menampar Yuuji, yang kembali teringat kepedihan tentang hancurnya Konoha dan kematian dua orang tercintanya. Dia pun sangat sedih dengan kehancuran desa Konoha.
"Tahu apa kamu tentang kehancuran desa Konoha, Hah?!"
"Huh… Hokage ke-8, Uchiha Sasuke, mendatangiku di alam mimpi. Dia menggenjutsu aku, memperlihatkan memori di masa lalu, kehancuran Konoha. Dia mengatakan, 'Carilah Hyuuga, Ootsutsuki dan Uzumaki serta naga disekelillingnya serta bayangan yang berada disisi mereka, beritahu mereka… ini pesan dari Hokage ke-8 yang didapat dari Miko dari negeri iblis, Shion, yang mengatakan, akan ada sesuatu yang besar di masa depan. Disaat hati diselimuti kegelapan, disaat kejahatan dimana-dimana. Akan ada beberapa fase sebelum sesuatu yang besar itu. Kematian, kepedihan, kesedihan, pengkhianatan, akan mewarnai fase-fase tersebut. Musuh lama akan memperparah kehancuran disini dan juga sosok penghancur beberapa generasi akan menyertai kehancuran tersebut."
Namun Kazami menundukkan wajahnya. Dia terlihat sedih, walaupun tampangnya tetap datar. "Tapi, kami sudah menghubungi pihak Iblis, Malaikat, dan Malaikat jatuh. Aku dikirim kesini untuk meyakinkan pihak Iblis tentang ramalan ini. Namun, aku merasakan Chakura ketika kalian menginjakkan kaki disini."
Hanabi menutup matanya. Dia bersyukur bahwa mereka memenangkan peperangan. Namun yang dia heran, kenapa sosok yang membantai para Shinobi, yang bahkan Naruto yang merupakan shinobi terkuat yang memenangkan perang dunia Shinobi keempat, dan merupakan reinkarnasi Ashura tersebut bisa dikalahkan, namun Sasuke memenangkan pertarungan tersebut. Hanabi menatap Kazami dengan intens, berusaha mencaari setitik kebohongan yang dia lihat dari gerak gerik tubuh dan matanya. Namun, dia tidak menemukan setitik kebohongan tersebut.
"Jadi… apa langkahmu selanjutnya, Kazami-san?" tanya Hanabi. Dia menyodorkan lengannya untuk membantu Kazami berdiri. Sempat sebelumnya ia menyembuhkan Kazami dengan medic ini yang dia kuasai. Sembar menyembuhkan, sesekali ia melirik Yuuji Kazami yang menatap senju tangannya, tepatnya energy hijau yang membungkus kedua tangannya. Kazami menerima uluran tangan Hanabi, walaupun lukanya sudah sembuh, tetapi badannya masih susah digerakkan.
"Melanjutkan misiku, untuk mempersatukan umat manusia yang memiliki kekuatan."
Dengan langkah tertatih-tatih, Kazami berjalan menuju pintu. Sebelum menghilang di balik pintu, Kazami memalingkan wajahnya ke Hanabi dan kawan-kawan seraya berkata, "Selamat berjuang, Minna!"
Setelah Kazami menghilang dari balik pintu, bel tanda masukan pun berbunyi. Vali dan Hanabi menghela nafas pendek. Sedangkan Natsu memasang wajah malas, dan Toshiro tetap dengan wajah dinginnya, sedangkan Laxus memasang wajah malasnya.
"Yah… mumpung bel tanda masukan sudah berbunyi. Mari kembali ke kelas. Jam istirahat nanti, datang ke sini. Kita lanjutkan rapat tadi." Mereka mengangguk mendengar titah Hanabi yang memasang wajah serius.
Part 3: Sekiryuutei menunjukkan taringnya!
Jam kini menunjukkan pukul 10.20 pagi. Bel sekolah berbunyi dengan merdunya di telinga siswa yang menantikan bel tersebut yang pertanda jam istirahat tersebut dimulai. Issei, Vali, dan Toshiro langsung melangkah keluar. Namun, Issei menghentikan gerakannya dikarenakan bajunya ada yang narik. Issei memutarkan badannya dan menatap datar perempuan bertubuh mungil yang memiliki rambut putih dengan wajah yang imut dan menggemaskan bagi para siswa.
"Issei-san, bisa ikut aku sebentar?" tanya Koneko dengan wajah memelas dengan kedua bola matanya yang membesar, bagaikan kucing memelas. Namun Issei tetap memasang wajah datar. Dia hanya menganggukan kepalanya. Koneko tersenyum kecil. Issei menatap Vali dan Toshiro yang menatap khawatir dirinya, namun ia menganggukkan kepalanya, dan menatap mereka berdua dengan serius, seakan menyuruhnya pergi saja tanpa aku. Setelah itu, Vali dan Toshiro melangkah ke atap sekolah.
Setelah mendapat persetujuan dari Issei, Koneko melangkahkan kakinya keluar sekolah. Tepatnya pergi ke halaman belakang sekolah. Issei menyusul Koneko dan berjalan di sampingnya. Koneko menatap rindu dan sendu Issei tanpa Issei sadari.
Setelah beberapa menit berjalan, halaman sekolah yang ditumbuhi rumput-rumput tipis dan terdapat pancuran air di tengahnya. Di sekitar pinggiran halaman, ditanami aneka macam bunga. Di depan tanaman bunga itu, terdapat dua buah kursi panjang. Issei dan Koneko duduk disana.
"Jadi… ada apa, Koneko-san?"
Issei melihat pandangan Koneko menjadi sendu. Membuatnya berkeringat dingin. Batinnya bertanya-tanya, apa Koneko di hadapannya adalah Koneko masa depan? Hati Issei gelisah. DIa berharap, semoga Koneko di hadapannya ini bukanlah Koneko dimasa depan
"Issei-san, apa kau… dari masa depan?" tanya Koneko yang terdengar ragu-ragu. Mata Issei melebar, terkejut karena Koneko mengetahui Identitas dirinya.
"Ke-kenapa … "Sebelum Issei melanjutkan ucapannya, Koneko memeluk Issei dengan erat. Issei terkesiap karna dipeluk oleh sosok Koneko. Namun yang membuatnya terdiam adalah, Koneko menangis… Bahagia.
"Tak mungkin… Kau juga…"
"Ya… aku juga." Seakan tahu apa yang ingin pria berambut coklat di depannya ini, Koneko langsung memotong ucapan Issei.
"Jadi… tolong jangan kasih tahu siapapun ya, bahkan Buchou atau Rias sekalipun. Belum saatnya aku membuka kedokku." Ujar Issei mengetuk pelan dahi Koneko dengan senyuman tipis.
"Tolong juga… jangan mati seperti dulu, Koneko-chan. Cuma kau yang kali ini melindungi Buchou. Sedangkan aku melindungimu, Akeno dan Kiba serta Rias Senpai dari balik layar." gumam Issei menatap ke langit dengan tatapan sedih.
"Kali ini… aku pasti bisa melindungimu, Koneko." Ujar Issei lirih, tanpa sadar, Issei mengingat saat dirinya tidak mampu melindungi Rias dan semuanya Mata Koneko melebar saat melihat Issei pertama kali menangis. Koneko tahu, hanya ada satu hal yang mampu membuat Issei menangis, kematian orang yang paling ia sayangi.
"A-apa yang terjadi setelah kematianku, Issei?" tanya Koneko.
"Se-setelah kematianmu yang melindungi Rias saat penyerbuan…" Issei pun bercerita tentang kejadian setelah kematian Koneko dengan nada bergetar dan sedih. Koneko shock dengan cerita Issei. kedua tangannya menutup mulut mungilnya. Dia hampir tidak percaya ucapan Issei. Tubuhnya melemas dan dia terduduk. Air mata pun akhirnya keluar dari matanya.
Hening pun mewarnai suasana diantara mereka berdua kali ini. Sesaat setelah Issei menceritakan apa saja yang terjadi setelah kematian sosok didepannya, Koneko, tidak ada yang membuka pembicaraan kembali.
"Ne Koneko-chan, bagaimana kau… bagaimana caramu kembali ke masa lalu?" tanya Issei menggaruk belakang kepalanya. Pertanyaan yang daritadi membuatnya penasaran. Koneko menjawab pertanyaan Issei dengan sedikit isak tangis. Dia pun menceritakan sesaat sebelum kematiannya.
"Jangan kabur kalian, Rias Gremory!" seru salah satu dari 14 sosok yang terbang menggunakan sayap yang sama dengan sayap yang dimiliki oleh Rias dan Koneko dan sosok yang selalu berada disampingnya, sebagai bidak benteng. Laser-laser demonic power melesat menuju mereka berdua. Kekuatan Koneko yang masih belum kembali penuh karena sebelumnya dia bertarung habis-habisan menerjang ruang bawah tanah markas Maou yang merupakan penjara penjahat tingkat tinggi. Dimana penjara itu melewati beberapa fase dulu, seperti menghisap habis energy demonic power, menyegel sihir yang dimiliki penjahat tingkat atas. Kenapa Rias bisa yang dipenjara di tempat tersebut bisa menggunakan sihir. Berterimakasihlah pada Naruto yang sebenarnya ikut bersama Koneko. Namun, dia tumbang dikarenakan melindungi Koneko. Tetapi Naruto yang bersama Koneko merupakan Chibunshin.
Koneko dan Rias terbang sembari menghindari serangan 14 sosok yang merupakan pasukan khusus Maou. Namun, perlahan-lahan kecepatan terbang Koneko berkurang. Walaupun kapasitas sihirnya besar, ditambah senjutsu, tetapi staminanya terbatas, ditambah pertarungan selama 5 Jam penuh, ditambah pula luka-luka yang mengukir di kulit putih susu Koneko.
"Buchou… hah… hah… Kau duluan saja. Aku yang menahan mereka.. hah… hah…" Rias melebar mendengar ucapan datar Koneko. Dia bisa mendengar nafas Koneko yang tidak beraturan. Dia juga sempat melihat tubuh Koneko penuh dengan luka. Hatinya sakit melihat 'keluarganya' dalam kondisi seperti ini hanya karna ketidakberdayaannya dirinya. Dia juga sedih karna dirinya pula, Issei, sekarat karena menggunakan Juggernaut Drive karena melindungi dirinya saat penyergapan yang dilakukan saat rating game iblis muda berlangsung, yang dilakukan oleh salah satu Maou, yaitu ********. Dia pun keluar dari lamunannya ketika mendengar jeritan dari sosok yang menyelamatkannya, Koneko. Dia langsung memalingkan wajahnya ke asal suara tersebut. Dia melihat Koneko menjadikan tubuhnya sendiri tameng untuk melindungi dirinya. Sayap Koneko terlihat terbakar parah akibat demonic power dari salah satu sosok yang melempar dirinya.
"Koneko-chan!" Rias memalingkan wajahnya ke sumber suara yang sangat ia kenal, sosok yang dia cintai, menatap penuh harap ke sosok armor merah yang sangat terkenal di kalangan di dunia supernatural. Dialah Sekiryuutei. Sosok Sekiryuutei yang merupakan salah satu anggota keluarganya, Hyoudo Issei.
Baru beberapa detik dia memalingkan wajahnya dari sosok perempuan bertubuh mungil yang dia anggap adik tersebut. Suara ledakan pun terjadi. Disaat bersamaan, Issei, sosok berarmor merah tersebut berteriak memanggil sosok perempuan bertubuh mungil tersebut.
"Koneko!" Bohong jika dia tidak khawatir dengan Koneko yang dalam keadaan buruk. Dia sangat khawatir, ditambah dia tidak merasakan aura Koneko. Namun disaat bersamaan dia merasakan energy Senjutsu yang begitu kental dari tempat Koneko berada. Asap pekat menutupi tempat Koneko berada. Iblis-iblis yang mengejar dirinya tertawa bahagia melihat salah satu musuh mereka yang menyelamatkan penjahat tingkat atas, Rias Gremory, itu mereka duga sudah mati karena terkena serangan mereka. Tawa merendahkan mereka tunjukkan kepada Rias yang down karena menduga bahwa Koneko meninggal.
"Aku masih hidup, Rias-senpai. Aura ini… Issei-senpai, akhirnya kau telat. Selanjutnya tolong jaga Rias-senpai, ya? Dan ini bidakku, selamatkan orang yang menurutmu pantas diselamatkan, Rias-Senpai." Sembari mengucapkan hal tersebut, Koneko melempar bidak yang dia ambil dari tubuhnya dan ia lempar ke Rias yang refleks ditangkap oleh Rias. Setelah beberapa saat, asap tersebut menghilang dihembus oleh angin. Mata Rias melebar saat melihat Koneko yang tersenyum tipis seolah dia mampu melawan mereka semua.
"Kau hebat juga Iblis kecil, bagaimana kalau kita bermain-main dulu sebelum membunuh mereka semua, termasuk Sekiryuutei merepotkan itu." Mereka menganggukkan kepalanya mendengar pria yang berdiri paling depan yang bertubuh kekar dan memegang pedang dark sword. Mereka semua menyeringai menakutkan, namun tidak membuat Koneko takut.
"Issei-senpai, pergilah. Biar aku yang mengatasi mereka." Tanpa membalikkan badannya, Koneko tahu, Issei mengangguk mendengar permintaannya, tepatnya permintaan terakhirnya. Dia juga tahu Issei sangatlah sedih. Dia juga mendengar Rias memanggil namanya berkali-kali yang makin lama makin kecil.
.
.
.
Sementara itu, Rias menangis di pelukan Issei. Dia sangat sedih karena meninggalkan Koneko, adik tercintanya. Dia memukul armor Issei sembari berteriak menyalahkan Issei.
"Hiiks… Kenapa Issei… Kenapa… Hiiks Kenapa kau meninggalkan… Hiiks… Koneko? Kenapa Issei? Dia temanmu Issei… Hiiks… Kenapa kau tidak menyelamatkan dia, Issei? Hiiks… Koneko…. Huwaa!" Tangisan Rias pun tambah menjadi-jadi setelah mengatakan itu. Issei menatap Rias sedih. Dia sangat paham perasaan sosok yang kini ia gendong. Tetapi dia harus mundur karena kondisinya sangat buruk untuk melanjutkan pertarungan, dan Koneko menyadari keadaan tersebut. Dia juga merutuki kelemahannya karena harus membuat Koneko. Dia tidak mau menuruti egonya dan bertindak gegabah, yang mengakibatkan semuanya … mati. Dia pun mengingat nasihat Naruto setelah melatihnya.
"Ne Issei, ingatlah satu hal ini. Dalam pertarungan, bahkan peperangan, terkadang untuk mendapatkan sesuatu, memerlukan pengorbanan. Begitupun dalam pertarungan, ada kalanya kau harus mengorbankan sesuatu, entah itu nyawamu atau temanmu atau bahkan orang yang kau sayangi. Memang menyakitkan. Aku yakin kau pasti paham saat mengalaminya langsung."
Awalnya Issei tidak mengerti maksud perkataan Naruto. Namun sekarang dia mengerti. Jika dia tetap memaksa egonya untuk melawan mereka dengan kondisi buruk, maka mereka semua, termasuk dirinya mati.
Issei kembali mengingat saat pertama kali dia direinkarnasi menjadi Iblis. Mengingat hal itu membuatnya tertawa miris bercampur sedih. Dia baru sadar bahwa dirinya yang dulu sangatlah naif, terutama begitu dia tahu bahwa ia memegang sacred gear longinus, Boosted Gear. Dia yang dulu bertekad untuk menyelamatkan temannya, apapun yang terjadi. Tetapi… kini? Ia terpaksa mengorbankan satu temannya, demi menyelamatkan orang yang ia cintai. Issei menatap tempat Koneko berada yang kini dipenuhi asap yang sangat tebal dan disertai ledakan yang besar yang terjadi beberapa kali. Dia juga merasakan hembusan angin yang sangat kencang, padahal jaraknya sudah jauh, sekitar 1 kilometer jauhnya. Hatinya kini diliputi perasaan bersalah yang sangat besar. Terutama melihat keadaan psikologi Rias yang begitu buruk. Ia melirik sedih Rias yang kini tertidur dipelukannya setelah beberapa saat menangis dan memukul dadanya.
"Maafkan aku, Rias-senpai… maafkan aku Koneko-chan." Setelah bergumam kecil, Issei melesat dengan cepat, menuju lubang hitam yang dibuat oleh Sirzech.
.
.
.
Sementara itu, Koneko terengah-engah menatap tajam enam sosok iblis yang kini masih bernafas. Mukanya memucat dikarenakan kekurangan darah. Tangan kirinya dipotong oleh salah satu Iblis yang ia bunuh, hingga darah merembes deras karnanya. Sementara itu, enam sosok iblis yang masih bernafas tertawa jahat melihat Koneko yang terlihat kelelahan.
"Kenapa Iblis-chan, tidak bisa bertarung lagi? Menyerahlah… kau tidak akan menang."
Koneko hanya diam. Pandangannya menjadi buram. Keadaannya betul-betul buruk. Kehabisan energy sihir, banyaknya luka di tubuhnya, kekurangan darah, bebrapa tulangnya patah, stamina berkurang habis. Koneko tersenyum sedih.
'Hanya sampai disini kah? Kaa-chan, Tou-san, nee-chan, sebentar lagi… sebentar lagi kita akan berkumpul kembali di alam sana.'
Pandang Koneko pun mulai menggelap, sebelum kesadarannya direngut oleh kegelapan, dia melihat energy demonic melesat menuju dirinya. Dia pun hanya pasrah menerima serangan tersebut. Namun… tiba-tiba bayangan hitam melesat menuju Koneko dan melayang tepat di depan Koneko dengan tangan kanan mengarah ke bola energy tersebut.
Divide divide divide
Energy demonic yang melesat menuju Koneko mengecil dan mengecil lalu menghilang tanpa sisa. Enam sosok yang tersisa dari pertarungan melawan Koneko melebarkan matanya mendengar suara mekanik yang mereka kenali.
Karyuu No Houkou!
Tenryuu No Houkou!
Ice Cannon!
Fuuton: Rasenshuriken!
Ledakan besar pun terjadi. Keenam sosok itu mati seketika karena kelengahan mereka yang mengira pertarungan telah usai, walaupun tahanan berhasil meloloskan diri. Ledakan tersebut sangatlah besar. Hingga seluruh pelosok Underworld bisa mendengarnya.
"Sepertinya kita terlambat."
"Kau benar, Igneel."
"Dimana sosok Nekoshou tersebut, Devil Slayer?"
"Dia terurai menjadi debu."
"Sebaiknya kita pergi, Hakuryuukou, Igneel, Grandine, Devil Slayer, Ice Prince."
"Ha'I Kiiro Senkou-Sama"
.
.
.
Koneko melayang di tempat yang serba putih. Dia mengeram rendah, kemudian perlahan membuka matanya.
"Ini… dimana?" Koneko menatap sekitarnya dengan raut wajah kebingungan. Di dalam hatinya, dia selalu bertanya-tanya, apakah dia sudah mati, ataukah belum.
"Ini diperbatasan hidup dan mati. Dan kau sudah mati, Koneko-chan." Tiba-tiba muncul cahaya yang sangat terang menerangi tempat Koneko berada. Cahay tersebut sangatlah terang, sehingga Koneko meringis dibuatnya.
Mata Koneko meredup. Sedih karena dia sudah mati, dan disisi lain dia senang karena bisa menyelamatkan sahabat dan orang yang dia sukai, walaupun dia menyembunyikan perasaannya begitu mengetahui Rias menyukai orang yang ia sayangi, Hyoudou Issei.
"Apakah kau… kami-sama?" tanya Koneko ragu-ragu. Ketika mendengar jawaban yang dilontarkan cahaya yang sangat terang itu, dia langsung bersujud di depan cahaya tersebut.
"Berdirilah Koneko. Aku akan mengirimkanmu ke masa lalu, untuk menemani salah satu sahabatmu yang juga kembali ke masa lalu. Tetapi, akan terjadi perubahan besar-besaran yang tidak kau sangka, apa kau bersedia?"
"Ya… aku bersedia." Disaat bersamaan setelah mengatakan itu, tubuh Koneko bersinar terang dan tubuhnya perlahan menghilang. Sebuah cahaya biru memasuki tubuh Koneko sebelum menghilang.
"Oh ya… aku memberikan DNA sosok legenda di rasmu… dia adalah ********. Gunakan kekuatan itu untuk kebaikan."
Mata Koneko melebar tatkala mendengar ucapan sosok cahaya itu yang disebut Kami-sama. Koneko belum sempat mengatakan terima kasih, dikarenakan tubuhnya menghilang sepenuhnya.
"Setelah itu. Aku bertemu dengan Koneko yang zaman sekarang di perbatasan hidup dan mati. Dia masihlah berumur 7 tahun, itu saat pembantaian clan Nekoshou. Saat aku bertanya kenapa dia berada di sini. Dia hanya menjawab dengan senyuman kecut."
"Aku sudah mati. Kau pasti diriku di masa depan, entah kenapa kau terlihat sehat, berbeda denganku. Clan Nekoshou dibantai oleh Iblis, karena diriku adalah reinkarnasi ********." Ujar Koneko mengulangi ucapan Koneko kecil di zaman ini. Issei mengeram mendengar Koneko di masa ini sudah mati. Dan sosok yang mendiami tubuh Koneko masa ini adalah Koneko masa depan. Issei hanya mengangguk paham. Tiba-tiba dia menundukkan kepalanya.
"Gomen Koneko-chan." Issei melesat ke belakang Koneko dengan sangat cepat. Bahkan Koneko tidak dapat mengikuti gerakan Issei. Tubuh Koneko menegang, dia terkejut dengan kecepatan Issei yang bahkan dia tidak dapat merasakan energy sihir yang mensupport kecepatannya. Koneko tersenyum tipis. 'Kau sudah bertambah kuat Issei, semoga kita bukan musuh di masa depan.' Pandangan Koneko menggelap, tubuhnya lemas seketika. Tubuh Koneko linglung karena kesadarannya mulai menghilang. Tubuhnya jatuh ke belakang. Sebelum punggung Koneko 'mencium' tanah yang keras, Issei menahan punggung Koneko lalu menggendongnya. Issei berjalan beberapa langkah menuju kursi panjang dan merebahkan Koneko dengan lembut di sana. Issei dapat merasakan bahwa Kekkai menyelimuti halaman belakang sekolah. Issei menatap sendu Koneko, dia merapikan poni Koneko yang sedikit berantakan, lalu mengecup pelan dahi Koneko.
"Oyasumi, Neko-chan… Semoga dipertemuan berikutnya kita bukan musuh."
Sebelum Issei melangkah meninggalkan halaman sekolah dengan menghancurkan Kekkai yang menyelimuti halaman sekolah yang mengurungnya, muncul delapan lingkaran sihir yang mengelilingi Issei dan Koneko. Melihat lingkaran sihir yang sangat ia kenali, Gremory dan Sitri, membuat Issei mendecih kesal karena telat pergi dari halaman sekolah. Dari delapan lingkaran tersebut muncullah Akeno, Rias, Kiba, Sona, Tsubaki, Rosseweiss, Saji dan Menma. Mereka menaatap marah ke Issei.
"Apa yang kau lakukan pada Neko-chan, Hyoudo Issei?!" bentak Menma menatap tajam. Issei hanya diam menatap datar Menma. Di dalam hati Issei, dia bertanya-tanya, 'Apakah sosok di depannya ini merupakan pengganti posisinya?'
Namun untuk sementara ini, dia buang jauh-jauh segala pertanyaannya tersebut. Issei menggigit sedikit jarinya hingga sedikit berdarah. Kemudian menggoreskan darah tersebut di punggung tangannya. Ledakan kecil terjadi, asap mengepul pergelangan tangan Issei. Semua yang ada disana kebingungan, kecuali Menma yang terkejut dengan apa yang dilakukan Issei.
"Kau… bisa Fuinjutsu?" tanya Menma ragu. Issei hanya mengganguk kecil. Kini tangan kanannya terdapat sebuah tanto yang panjangnya tidak lebih dari 35 cm.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Menma yang raut wajahnya berubah dratis. Tak ada tekanan emosi di dalam kalimatnya. Kedua kunai yang ia genggam erat.
"Aku hanyalah manusia…" Sebelum Issei menyelesaikan ucapannya, Kiba melesat dan menebaskan pedangnya yang ditargetkan ke dirinya. Namun berkat refleks yang dilatih oleh Dragon Team, dia selamat. Issei mengambil sesuatu di kantong celananya yang membuat Rias dan Sona serta peerage mereka siaga. Mereka tambah siaga saat Issei melemparkan sesuatu itu ke lantai.
Boff
Asap mengepul menghalangi pandangan Rias, Akeno, Sona, Kiba, Rosseweiss, Menma, Saji dan Tsubaki. Kiba memegang erat senjatanya, Akeno yang tetap berdiri tenang, berbeda dengan petir yang menjalar sekitar tubuhnya, Rias yang tubuhnya diselimuti armor Power Of destruction, Menma yang memegang dua kunai di kedua tangannya dengan erat, Tsubaki yang memegang Naginata, Sona yang dikelilingi naga es ciptaannya untuk melindungi titik vital tubuhnya.
"Teknik ini…" gumam kecil Menma, mengingat masa kecilnya saat pertama kali menjalankan misi yang ternyata rank A. Teknik yang mirip dengan Silent Kill milik Zabuza.
"Oh kau mengenal teknik ini? Ya, ini adalah teknik Silent Kill."
Menma dan Akeno yang merupakan sensorik terbaik diantara delapan orang yang mengepung Issei pun mencoba melacak Issei, namun mereka shock karena tidak dapat merasakan aura selain demonic mana yang merupakan ciri khas mereka.
"Bagaimana bisa?" gumam Menma Shock.
"Walaupun asap ini tidak bertahan lama, yah aku masih bisa menumbangkan hal yang paling merepotkan."
Raut wajah Menma mengeras. Tubuhnya berkeringat dingin begitu mendengar suara bisikan dari belakang badannya.
Jrash Jrash Jrash Jleb
Punggung Menma terukir tiga luka memanjang dan satu tusukan tepat di perutnya. Sontak Menma menjerit kesakitan karena luka dan tusukan tersebut. Menma menjerit kecil saat pedang yang menembus tubuhnya ditarik paksa, hingga darah merembes keluar dengan cepat.
Rias dan lainnya terkejut mendengar Menma yang merupakan anggota terkuat yang dia miliki dengan mudah dikalahkan oleh Hyoudo Issei. Asap yang menghalangi pandangan Menma menghilang. Mereka kembali terkejut ketika melihat Menma tersungkur di atas genangan darah.
"Balance Breaker!" seru Issei. Muncul gauntlet dengan kristal hijau di tengahnya, yang dimana kristal tersebut bersinar terang. Sona yang melihat gauntlet itu, sontak terkejut. "Sekiryuutei." Berkat pendengaran yang diatas rata-rata, mereka dapat mendengar bisikan kecil Sona yang diam seribu bahasa menatap tajam sosok Issei yang diselimuti armor merah di langit.
"Tak mungkin… Issei adalah Sekiryuutei. Aku kira dia hanya mempunyai sacred gear twice critical karena rendahnya aura yang berada di dalam tubuhnya." Jerit Rias yang terkejut karena prediksinya jauh melenceng.
Issei memandang rendah mereka bertujuh. Suara mekanik yang berseru 'Boost' memecah keheningan diantara mereka.
"Terkejut? Seharusnya kalian mencari info dulu tentang target kalian lebih jauh lagi. Salah informasi fatal loh akibatnya, kalian bisa mati karena informasi yang salah tersebut." Tubuh Issei merapat, dia menukik ke bawah dengan sebilah pedang yang dia genggam erat. Dia terbang dengan kecepatan tinggi menuju Kiba. Issei menebaskan pedangnya dengan sangat kuat, bahkan pedang Kiba pun tidak mampu menahannya.
Kiba menghindar ke belakang untuk menghindari tebasan itu, walaupun sedikit mengenai wajahnya, tetapi dia masih selamat. Namun…
"Kau salah langkah Kiba-san," tangan kiri Issei yang menganggur pun digunakan untuk mencekik Kiba dan menyeretnya di tanah.
Issei terbang rendah, dengan mencekik leher Kiba dan menyeret wajah yang dielu-elukan di Kuoh Academy tersebut harus bergesekan. Setelah lima puluh meter ia menyeret Kiba, Issei melempar Kiba dengan kekuatan penuh hingga terpental sejauh lima meter.
Boost Boost Boost
Explosion!"
Mata Sona melebar melihat serangan Issei melesat menuju Kiba yang masih terlempar dan belum bisa menyeimbangkan tubuhnya. "Kiba… cih, kenapa kita tidak bisa bergerak?"
Tidak bisa bergerak? Salahkan mereka semua yang terjebak dengan perangkap fuinjutsu Issei. Seluruh badan mereka terikat rantai dan dipaksa telungkup di tanah. Mereka tidak bisa berontak karena setiap mereka berontak, ikatan rantai tersebut tambah mengencang dan disaat bersamaan energy sihir mereka dihisap ketika ingin mengeluarkan sihir mereka.
Serangan Issei melesat menuju Kiba yang masih terseret berkat lemparan Issei. Kiba yang melihat serangan mengarah padanya pun hanya bisa pasrah. Tetapi…
Prang
Kekkai yang menyelimuti halaman sekolah pecah, disertai kilatan putih yang melesat menuju Kiba.
Divide divide divide
Serangan Issei perlahan mengecil lalu menghilang.
"Va—ah bukan, Hakuryuukou, kenapa kau berada disini?" tanya Issei dingin karena sosok Hakuryuukou Menyerap habis serangannya hingga tak tersisa satupun.
"Ayolah Sekiryuutei jangan marah begitu karena menggangu permainan yang kau lakukan dengan mereka. Lavender-sama memanggil kita segera untuk melaksanakan misi," ujar sosok berarmor putih yang merupakan rival Sekiryuutei,dengan kata lain sosok tersebut adalah Hakuryuukou.
"Hn. Baiklah, kalian beruntung karena Lavender-sama memanggilku, semoga dimasa depan kita bukanlah musuh." Issei pun terbang ke langit dan menghancurkan kekkai yang menghalanginya dengan sekali serangan. Diikuti oleh sosok Hakuryuukou yang juga ikutan terbang.
Setelah Issei pergi dari kekkai, lingkaran fuin yang menyebabkan Rias dan lainnya tidak bergerak menghilang, termasuk rantai yang mengikat mereka yang berubah menjadi debu. Rias langsung menghampiri Menma dan menyalurkan energy iblisnya untuk mempercepat regenerasi Menma. Sementara itu Tsubaki berlari menuju Kiba yang dalam kondisi mengenaskan dan melakukan hal yang sama dengan Kiba, tetapi bedanya Tsubaki menyalurkan energy iblisnya melalui … ciuman.
.
.
Part 4: Apa yang kamu sembunyikan, Issei?
Semenjak kepergian Issei dan sosok Hakuryuukou, Sona menghembuskan nafas panjang. Dia memijit pelipisnya karena rasa sakit dikepalanya yang diakibatkan oleh kebanyakan berfikir kemungkinan terbesar kenapa Issei yang merupakan sang Sekiryuutei berteman dengan Hakuryuukou yang merupakan lawan abadinya. Dia sedikit tersentak ketika bahunya dipegang oleh seseorang. Dia membalikkan kepalanya dan menatap Rias yang khawatir dengan dirinya.
"Kau kenapa, Sona?" tanya perempuan berambut merah panjang dengan tubuh yang mampu membuat lelaki tunduk kepadanya. Sona tersenyum tipis, mencoba menghilangkan perasaan khawatir sahabat kecilnya itu.
Sementara itu, Menma yang terbaring tak berdaya di sofa panjang pun hanya bisa mendecih. Dia kesal karena mereka semua, termasuk dirinya, terjebak di lingkaran fuinjutsu: chain chakra absorb. Serangan kecil seperti itu, seharusnya ia bisa menghindar dengan mudah.
Menma yang mencoba mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk pun meringis kecil. Perban yang mengikat badannya yang terluka itu kembali memerah, lukanya kembali terbuka. Rias dan Tsubaki hanya menutupi sebagian luka Menma dan Kiba. Luka tusukan belum mereka sembuhkan sepenuhnya, dikarenakan energy sihir mereka habis diserap rantai sialan tersebut.
Sona merasakan energy sihir yang familiar dari pintu masuk ORC, tempat mereka sekarang berada. Pintu terbuka dan masuklah sosok perempuan berambut putih dengan body yang hot, dan mengenakan pakaian maid yang pas di badan, sehingga memperlihatkan lekukan badannya, termasuk dadanya yang besar pun tercetak sempurna.
"Grayfia?"
"Rias-sama, ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada kalian," kata Grayfia to the point menatap seluruh penghuni di ORC. Ia meringis melihat dua peerage adik dari suaminya ini dalam kondisi memprihatinkan. Bahkan salah satu dari mereka adalah didikan dari salah satu iblis tingkat tinggi.
"Kenapa dengan Menma-sama dan Kiba-sama." Menma yang mendengar ucapan formal Grayfia memasang wajah cemberut. Namun ketika mendengar pertanyaan Grayfia, tangannya mengepal erat. Rias menatap khawatir Menma yang sepertinya masih kesal dengan Issei. Sedangkan Akeno yang baru saja keluar dari dapur karena membuat minuman untuk mereka bersembilan.
"Sekiryuutei dan Hakuryuukou menampakkan diri mereka di hadapan kami. Salah satu dari mereka menyerang kami." Ujar Sona yang mewakili para iblis yang di ORC yang tidak kunjung menjawab pertanyaan Grayfia.
Sona bisa melihat secercah ekspresi terkejut di wajah cantik Grayfia. Ia bisa menebak Grayfia terkejut karena kemunculan Hakuryuukou dan Sekiryuutei dalam waktu yang bersamaan.
Melihat tak ada perbincangan yang lagi, Grayfia berdehem pelan, mengulangi ucapannya yang sebelumnya ia ubah menjadi pertanyaan pribadi tentang peerage Rias, Menma dan Kiba, yang menurutnya termasuk iblis tingkat menengah.
"Saya lanjutkan, Sirzech-sama berpesan kepada kalian, untuk mempersiapkan ruang pertemuan tiga fraksi, yang akan berlangsung selama satu minggu lagi. Jadi, Rias-sama, Sirzech-sama meminta kau dan peeragemu serta Sona dan peeragenya untuk mempersiapkan semuanya semaksimal mungkin."
Beberapa saat kemudian setelah Grayfia pergi dengan lingkaran sihir Gremory. Mereka semua tenggelam dalam fikiran mereka sendiri. Akeno berjalan mendekati Koneko. Dia tersenyum miris melihat Koneko yang belum sadarkan diri selama enam jam. Tangan Akeno mengepal erat, dia sangat marah dengan Issei yang entah melakukan apa dengan Koneko hingga dia tidak sadar sampai saat ini.
"Issei…" Suasana menjadi hening ketika Koneko menggeliat sembari mengigau nama Issei, yang membuat seluruh ruangan ORC kebingungan. Matanya terbuka perlahan. Seluruh penghuni di ruangan ini senang melihat Koneko sadar. Mereka langsung mendekat ke Koneko yang sedang membiasakan cahaya yang memasuki matanya. Tubuhnya masih lemas untuk digerakkan. Rias memeluk Koneko sambil menangis.
"Akhirnya kau sadar Koneko-chan, aku khawatir denganmu." Koneko sedikit melebar karena membuat khawatir sosok king yang dia anggap kakaknya. Koneko membalas pelukan Rias dan mengelus pelan punggung Rias sembari berkata, "Maaf Nee-san, aku telah membuatmu khawatir."
Koneko menatap lembut Rias. Setelah puas menatap Rias, dia menatap Akeno, Tsubaki, Sona, Kiba dan Menma yang terkapar di sofa dengan penuh balutan kain putih. Mereka semua khawatir dengan dirinya
"Kau kenapa, Menma-san, Kiba-san?" Koneko memiringkan wajahnya ketika melihat ekspresi kesal disertai decihan yang sukses keluar dari bibir mereka. Akeno yang melihat tingkah Kiba dan Menma terkikik geli.
"Sekiryuutei mengalahkan kami dengan telak." Cuma dengan satu kalimat tersebut, Koneko terkejut. Dia tahu Issei kuat, tapi mengalahkan mereka berdelapan yang dua diantaranya merupakan iblis tingkat tinggi, dua merupakan iblis ting at menengah, satu merupakan ninja yang kekuatannya diatas mereka dan satu merupakan didikan iblis tingkat atas. Koneko tersenyum di dalam hati. Berbeda dengan raut wajahnya yang menjadi datar kembali. Dia mengingat permohonan Issei agar tidak membocorkan rahasianya. 'Tenang aja, Issei-kun. Aku akan menjaga rahasiamu.'
Tapi Koneko sedih, sebelum pingsan, senyap-senyap dia mendengar perkataan Issei. Dia pun berharap, mereka tidak bertemu dengan status musuh. Dia tidak ingin bertarung dengan Issei. Sangat tidak ingin menghunuskan senjatanya ke Issei.
'Aku juga berharap pertemuan kita selanjutnya bukan musuh, Issei-kun.' Mohon Koneko dalam hati.
.
.
.
Malam harinya di Villa ANBU. Issei menatap datar Hanabi yang membentak dirinya karena membongkar statusnya sebagai Sekiryuutei. Sebuah tamparan keras ia terima dengan lapang dada. Dia tahu, tindakannya ini menimbulkan pro dan kontra yang mengakibatkan terompet perang berbunyi.
"Kau paham Issei?!" bentak Hanabi yang memijit kepalanya karena kebodohan temannya.
"Hah… kau membuat semua ini menjadi runyam, Issei," komentar Toshiro menghela nafas. Dia tak habis fikir dengan tindakan sembrono Issei, ditambah dia tidak mengenakan seragam samaran apapun untuk menyamarkan identitas aslinya.
"Aku tahu apa yang aku lakukan, mereka menyerang duluan."
Hanabi menatap penuh selidik kepada Issei. Dia berusaha mencari kebohongan di mata dan gerak gerik sang Sekiryuutei di zaman ini. Tetapi dia tidak menemukannya. Kemudian pandangannya beralih ke Vali yang membaca novel. Merasa ditatap, Vali menghentikan kegiatannya dan menatap penuh heran ke Hanabi dan lainnya yang juga menatap Vali.
"Ada apa?" tanya Vali dengan wajah tanpa dosa. Hanabi menepuk dahinya keras-keras setelah mengetahui Vali tidak mendengarkan ucapannya. 'Senista ini kah kaisar naga putih dan juga keturunan Lucifer.'
Lucifer? Ya, Hanabi mengetahui rahasia Vali yang disimpan erat oleh tiga pillar utama ANBU. Kenapa hanya tiga pillar utama ANBU? Karena mereka bertiga yang menemukan Vali sewaktu kecil yang sekarat terkapar di tengah jalan. Naruto memasuki memori Vali untuk mengetahui alasan kenapa sosok tersebut sekarat. Setelah mengetahui alasannya, Naruto merasa Iba dengan Vali. Kemudian, mereka mengadopsi Vali dan merawatnya, sebelumnya Naruto menggunakan salah satu kemampuan Eternal Mangekyou Sharingan miliknya, Koto Amatsukami, dia mengubah ingatan Vali yang kelam serta keinginan untuk balas dendam.
"Apa benar kata Issei tentang mereka menyerang duluan?"
Vali mengangguk. Dia merutuki nasib buruknya karena terseret masalah Issei.
"Kiba menyerang Issei duluan. Ku fikir cukup untuk menjadikan alasan Issei untuk membela dirinya." Issei menghela nafas lega mendengar pembelaan sosok yang seharusnya menjadi rivalnya.
Hanabi mengangguk mendengar penjelasan Vali. Yeah memang alasan itu bisa dijadikan alasan Issei membela diri, tetapi…
Plak
Sebuah tamparan yang membuat Issei kembali meringis, kemudian menatap tajam Hanabi.
"Apa maksudmu untuk tamparan ini, Hanabi?" tanya Issei dengan raut wajah datar. Tetapi jika diteliti, sedikit pancaran keterkejutan di pancaran matanya. Issei mendumel dalam hati. Dia kira masalahnya sudah selesai setelah penjelasan singkat dari Vali.
"Walaupun kau membela diri, kau hampir membunuh salah satu dari mereka Issei, dan pada akhirnya saling bunuh diantara kita karena dendam pun terjadi. Kemungkinan perang pun bisa terjadi. Hah… kau membuat semuanya menjadi rumit, Issei. Terpaksa aku menghadiri rapat tersebut, karna bagaimanapun kau adalah anggota teamku," Hanabi kembali menghela nafas panjang. Issei yang melihat Hanabi kerepotan karena dirinya pun merasa kesal dan malu dengan dirinya sendiri yang bertindak tanpa memikirkan masalah yang akan terjadi akibat perbuatannya.
.
.
.
Keesokan harinya. Sang mentari menampakkan batang hidungnya, menyinari setiap sudut kota Kuoh. Semua orang melakukan rutinitas pagi, seperti Jogging, mandi, sarapan, bersiap-siap pergi ke sekolah. Jalan raya kini mulai dipenuhi oleh pria atau wanita segala usia yang sedag berjalan menuju tepat tujuan mereka masing-masing
Kuoh Academy yang merupakan tempat Rias dan peeragenya serta personil Dragon team itu mulai dipenuhi siswa/siswi untuk menimba ilmu. Rias dan peeragenya sedang berdiri di dekat pintu gerbang, seakan menunggu seseorang.
Rias yang melihat orang yang mereka tunggu pun menghela nafas pendek. Dia memberi isyarat kepada Menma, Akeno, Kiba, dan Koneko untuk mengikutinya. Mereka yang melihat isyarat itu mengangguk patuh. Rias menghampiri sosok yang mereka tunggu, yaitu pria berambut coklat yang dulunya termasuk trio mesum. Sosok yang ditunggu Rias tersebut menatap datar Rias. Para siswa/siswi yang melihat itu, mengira bahwa Issei melakukan hal yang tidak senonoh kepada Rias. Walaupun Issei keluar dari perkumpulan trio mesum, sosok tersebut tetap dicap mesum karna perbuatannya dimasa lalu.
"Hyoudou-san, bisa ikut kami?" tanya Rias menekan kata 'ikut kami' seakan tidak menerima penolakan. Issei, sosok pria berambut coklat tersebut menghela nafas. Dia menatap Hanabi dan kawan-kawannya, meminta persetujuan. Mereka mengangguk.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tantang Issei menatap tajam Rias yang sedikit terkejut mendengar nada Issei yang seakan menantang dirinya. Koneko yang melihat sifat Issei pun sedih, karna dia tahu alasan Issei bersifat seperti itu.
Rias yang terkejut melihat sifat Issei yang dingin terhadapnya, terlebih lagi dia menggunakan sihir untuk membuat Issei patuh kepadanya, tetapi sihir tersebut seakan tidak terpengaruh oleh Issei. Rias yang ingin menjawab pertanyaan Issei terpaksa mengurungkan niatnya.
Hanabi yang melihat Issei bersifat kurang ajar menurutnya, langsung menjitak kepala Issei dengan keras. Issei yang tidak siap menerima jitakan dengan (tidak) senang hati mencium tanah.
"Ittai… Hanabi-san, kenapa kau menjitakku?" Issei memasang wajah cemberut lalu berdiri sembari mengelus kepalanya yang keluar asap berkat jitakan penuh 'kasih sayang' dari Hanabi. Rias yang sebelumnya takut dengan Issei sweatdrop seketika, termasuk Koneko yang tersenyum miris melihat Issei yang dinistakan.
'Baka,' batin Koneko.
'Siapa kalian sebenarnya, sihirku tidak terpengaruh kepada kalian,' batin Rias menatap intens Hanabi, Vali, Laxus, Toshiro, dan Natsu. Dia tahu bahwa mereka memiliki aura yang membuatnya tertarik, namun hati kecilnya menjerit untuk tidak mendekati mereka, seakan mereka sosok yang berbahaya.
"Baiklah aku ikut kalian." Issei pun akhirnya menyerah. Rias yang mendengar perkataan Issei pun tersenyum tipis.
"Baik, Hanabi-chan, aku pinjam Issei ya."
"Bawa aja sana, atau perlu tidak usah dikembalikan." Rias sweatdrop melihat ucapan Hanabi yang ditambah wajah tanpa dosa. Issei sedikit meringis mendengarnya, seakan dia dibuang dari Dragon Team.
'Jahatnya kau Hanabi-sama!' batin Issei yang menangis. Dia mengikuti Rias dan peeragenya berjalan ke suatu tempat.
.
.
.
Sudah beberapa menit Issei mengikuti Rias berjalan. Entah mengapa firasatnya buruk. Benaknya menjerit untuk tidak mengikuti Rias. Issei melihat Rias tiba-tiba berhenti di ruangan OSIS. Issei membeku melihat ruangan itu.
'Oh tidak… aku masuk ke kandang singa.' Batin Issei nista. Walaupun dia kembali ke masa lalu, dia tetap takut sama sosok ketua Osis, Sona Sitri. Bukan kekuatan yang dia takutkan, bukan nama keluarganya yang dia takutkan, tapi kepintarannya yang Issei takutkan. Oh tidak, Issei mulai merinding ketika berimajinasi dimana dia diintrogasi habis-habisan.
'Kami-sama, tolong aku!' jerit Issei dalam hati, berharap sosok kami-sama menolongnya keluar dari masalah rumit ini satu kali saja.
"Ja Issei, mari masuk." Ujar Akeno membuka pintu ruang Osis. Issei meneguk salivanya karna gugup bercampur takut. Pintu perlahan dibuka oleh Akeno. Aura intimidasi serasa lehernya sehingga Issei terdiam seribu bahasa.
Rias, Akeno, Kiba dan Menma memasuki ruang Osis dengan tenang. Hanya Koneko yang menunggu Issei masuk.
"Ayo masuk, Issei-kun," ajak Koneko yang berjalan ke hadapan Issei lalu mengulurkan tangan kanannya. Issei sedikit tertegun melihat Koneko yang berbeda dari ingatannya selama ini. Issei tersenyum kecil, dia menerima uluran tangan Koneko, membiarkan dirinya ditarik oleh Koneko.
Ketika memasuki ruang Osis, mata Issei membulat. Cewek cantik berambut putih yang berdiri dengan anggun sedang menghampiri mereka berenam. Cewek tersebut berjalan ala seorang bangsawan.
"Irrashaimase, Rias-sama, Akeno-Sama, Koneko-sama, Ero-senpai, Kiba-sama." Ucap perempuan itu. Rias menghela nafas pendek melihat cewek di depannya, yang merupakan peerage Sona bersikap formal yang sangat ia benci.
"Momo-chan, jangan bersikap formal dong, aku paling benci keformalan tahu." Rias cemberut mendengar dia diperlakukan bagaikan orang penting. Yah walaupun dia anggota bangsawan, tetapi di sekolah, semua orang derajatnya sama, sama-sama menuntut ilmu, tidak peduli dia manusia, iblis, malaikat, malaikat jatuh dan sosok supernatural lainnya.
Perempuan tersebut yang ternyata bernama Momo itu menggeleng pelan, kemudian dia menuntun Rias ke sofa panjang yang disana terdapat sosok perempuan berambut hitam dengan potongan bob pendek yang memakai kacamata berwarna merah yang sedang meminum teh dengan pelan-pelan. Dibelakangnya merupakan peeragenya Sona.
Penerangan di ruang Osis menjadi redup, menambah kesan mistis dan menegangkan suasana. Issei yang juga mengikuti Momo berjalan menuju sofa tempat para tamu biasanya duduk untuk membicarakan hal yang serius.
Raut wajah Issei menegang. Dia merasakan atmosfer di ruangan ini menjadi sesak akibat tekanan energy iblis-iblis di ruangan ini. Dalam hatinya, ia menjerit frustasi, berharap bahwa keberuntungan berada dipihaknya.
"Ero-senpai, silahkan duduk disini," Issei hanya mengangguk, walaupun hatinya meraung-raung karna panggilan ero tersebut. Dia berjalan ke sofa yang hanya untuk satu orang. Posisi sofa tersebut berseberangan dengan sofa panjang yang muat 3-4 orang itu yang dibatasi meja panjang yang sebagai jarak mereka.
"Silahkan diminum tehnya, Hyoudou-san, Rias-san." Ujar suara lembut namun dingin yang berasal dari perempuan yang duduk kanan di sebelah Rias. Issei mengangguk, ketika dia mau mengambil gelas kecil yang berisi teh tersebut, dia mencium aroma mencurigakan. Dia berterimakasih kepada Ddraig yang memberikan rahasia cara host Sekiryuutei mempunyai indera penting yang sedikit dibawah para naga, seperti dari penciuman, pendengaran, penglihatan, dan juga insting.
"Bisa kita mulai segera pembicaraan ini, Sona Sitri?" saran Issei menatap tajam Sona sambil mengeluarkan sedikit aura intimidasi.
"Bisa kau turunkan auramu, Issei-san, atau bisa aku panggil Sekiryuutei?" perintah Sona dengan tenang, walaupun sebenarnya sedikit takut. Dia sudah memikirkan seribu cara agar bisa melumpuhkan Issei ketika dia mengamuk atau mau kabur.
Issei tahu, peerage kedua sosok king di depannya ini sesak nafas karena beratnya tekanan di ruangan ini. Dia juga merasakan suhu di ruangan ini berkurang dratis, sekitar lima derajat derajat celcius. Dia menaikkan satu alisnya, pura-pura bingung.
"Apa maksudmu, Sona-san?"
Binggo
Issei menangkap sedikit kekesalan yang terukir di raut wajah dan gerak-gerik Sona. Dia tahu sifat sosok iblis berkacamata tersebut. Diam-diam Issei bersorak dalam hati ketika berhasil meruntuhkan sedikit wajah tembok sosok iblis yang merupakan ketua Osis tersebut.
"Kau—" Issei memotong ucapan Sona, "Bukannya kalian duluan yang memulai perang dingin?" tanya Issei dengan wajah tanpa dosa. Sona menghela nafas panjang, dia sedikit setuju dengan perkataan Issei, tetapi egonya yang tidak mengizinka dirinya mengakui kesalahannya.
"Baiklah bisa kita mulai pembicaraan singkat ini. Waktu kita sisa sepuluh menit sebelum bel masukan dibunyikan." Issei mengangguk cepat, karena dia tidak mau terlambat karna mereka, ditambah guru yang masuk pada jam pertama adalah guru killer.
"Baiklah, siapa kau sebenarnya Issei?" tanya Sona dengan nada datar.
Issei menatap dengan tatapan menusuk yang ditunjukkan Sona yang sedikit terkejut dengan perubahan raut wajah Issei. "Seperti yang kalian ketahui, aku adalah Sekiryuutei di zaman ini. Aku juga adalah manusia murni."
"Jangan berbohong, bangsat! Bagaimana caramu menguasai fuinjutsu yang hanya dikuasai oleh ninja di dimensiku?!" seru Menma yang ingin maju untuk menghajar wajah Issei yang menurutnya berbohong. Kiba dan Koneko yang melihat Menma ingin menerjang Issei, menahan kedua tangan Menma sembari menggelengkan kepalanya. Menma menghela nafas, mencoba mengendalikan emosinya.
Issei memandang Menma dengan tatapan menusuk. Dia menundukkan kepalanya. Beberapa detik setelahnya, Issei tertawa pelan dan lama-kelamaan tertawa keras.
"Pffft… hahaha… hahahahaha… Pertama kalinya aku bertemu orang bodoh yang bertanya hal yang sudah lazim bagi makhluk supernatural seperti kalian. Menma-san, omae wa baka da ne. Gyahahahaha." Issei berdiri setelah puas menertawai Menma. Rias pun mencegahnya.
"Tunggu, kenapa kau menyerang kami? Apa salah kami?" tanya Rias yang memegang lengan Issei untuk mencegah keluar dari ruang Osis. Issei tidak menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak pantas dijawab karena sudah jelas alasannya. Dia menepis lengan Rias seraya menatap jijik Rias. "Jangan sentuh lenganku, jalang."
Bagaikan ditusuk tombak cahaya, rasa sakit menyerang hati Rias. Tubuhnya membeku mendengar nada yang pertama kali orang lain gunakan saat berbicara dengan dirinya. Sehari-hari dia selalu dibanjiri pujian, entah karena tubuhnya yang montok, kecantikannya, kepintarannya ataupun karena gelar kebangsawanan yang dia miliki. Lamunan Rias pun terpecah karena siluet hitam melesat di sampingnya, menuju Issei.
"Jangan menyebut Rias dengan sebutan jalang, bangsat!" teriak sosok yang tadi melewati Rias. Sosok itu pria berkulit tan dengan rambut jabrik berwarna hitam yang mengenakan pakaian sekolah. Sosok itu merupakan Menma Uzumaki. Dia melesat dengan kunai yang digenggamnya dengan sangat erat. Dia menghunuskan kunai tersebut ke punggung Issei.
"Baka." Issei bergumam pelan setelah mendengar Menma berteriak tepat di belakangnya. Saat beberapa senti jarak diantara mereka berdua. Issei memutar badannya dan mendaratkan tendangan saat Menma melewatinya. Tendangan Issei yang dilapisi energy merah tak kasat mata tersebut sukses membuat Menma menempel di dinding hingga menimbulkan retakan berat.
"Gremory-san, jawaban pertanyaanmu yang tadi, bisa kau temukan di insiden ini." Setelah mengatakan itu, Issei membuka pintunya dan keluar dari ruang Osis. Saat satu langkah keluar dari ruang Osis, bel berbunyi menandakan kegiatan belajar mengajar di Kuoh Academy sudah dimulai.
.
.
Setelah beberapa saat setelah kepergian Issei. Mental Rias down. Dia sangat terpuruk karena pertama kalinya ada yang menyebutnya jalang. Bukan sebutan Issei yang membuatnya down, tapi tatapan menjijikan, namun tersembunyi cahaya pada pancaran matanya redup. Cahaya redup yang menandakan terdapat luka batin yang sangat berat yang pernah dialami seseorang. Rias tahu, Issei menghindari kontak mata darinya, malah lebih condong menatap Sona, atau Koneko.
"Ne Sona, tatapan itu… apa kau menyadarinya?" Dengan nada yang sangat pelan, Rias bertanya kepada sosok perempuan disampingnya. Sona menatap khawatir sosok sahabat masa kecilnya tersebut. Dia tahu bahwa tindakan Issei yang menyerang mereka tidaklah salah. Seharusnya mereka yang disalahkan karena menyerang Issei duluan. Mengingat kejadian waktu itu, membuat Sona merasa bersalah dengan Issei. Selain itu, banyak hal yang disembunyikan Issei. Tatapan matanya, gerak geriknya, dan tindakannya. Awalnya Sona mengira Issei berada di salah satu pihak dari tiga fraksi, tetapi tatapannya yang membuatnya membuang opsi tersebut.
"Kau menyadarinya juga ya… tatapan itu… seakan merindukan seseorang dan tatapan tersebut mengarah pada kita, tepatnya kau dan peeragemu, Rias." Sona terdiam. Dia juga menyadari ada yang janggal dari Issei. Dia kembali mengingat seluruh gerak gerik Issei yang mempunyai makna khusus, terutama tatapannya.
'Namun hanya Rias yang menerima tatapan jijik dan penuh akan amarah bukan karna dendam atau apa, tapi karna hal lain yang tidak ia pahami. Apa yang sebenarnya terjadi?'
"Kalian tidak mengetahui tentang Issei, Sona, Rias." Sona memalingkan wajahnya ke sosok perempuan berambut putih sebahu, asal suara tersebut.
"Kono sekai ni wa… anata ga shiranai mono ga ippai aru. Tatoeba, Issei no seikatsu(1)" Koneko memandang pintu tempat Issei baru saja keluar dari ruang Osis.
'Aku yakin, Issei-senpai. Masih banyak yang belum kau ungkapkan kepadaku apa yang terjadi sesaat setelah kematianku.' Batin Koneko. Dia menatap iba yang ditunjukkan kepada sosok ninja yang menggantikan posisi Issei.
Part 5: Pertemuan tiga fraksi.
Sudah satu minggu telah berlalu. Banyak hal yang terjadi selang waktu satu minggu tersebut. Mulai dari aktivitas mencurigakan di perbatasan Grigory dan Underworld. Sirzech yang semakin pusing karena bawahannya tidak menemukan aktivitas mencurigakan tersebut.
Beberapa hari yang lalu, Sirzech yang mengerjakan rutinitas yang biasa ia lakukan setiap harinya di kantor kerjanya ditemani sang istri tercinta yang mengenakan baju maid yang ketat.
Sirzech yang sedang mengerjakan laporan yang kian menumpuk tersebut menghela nafas. Dia melirik manja Grayfia yang mengawasinya tersebut. Entah kenapa hari ini dia sangat bergairah melihat tubuh molek nan indah tersebut. Mulai dari bibir merah yang minta dicipok, lekuk tubuh yang minta dijelajahi lalu dibelai dengan lembut, dan ehemdadaehem besar tersebut membusung seakan minta diremas, dipijat, dan sebagainya. Tanpa Sirzech sadari, setetes darah keluar dari hidungnya. Grayfia memicing matanya melihat ekspresi Sirzech yang seakan menerkamnya. Melihat itu, Grayfia menghela nafas.
"Sirzech-sama, tolong jangan melamun. Jika kau terus melamun, kapan kerjaanmu kelar?" Bagaikan mendengar alunan melodi musik yang sangat merdu itu membangunkan Sirzech dari fatarmogana yang sangat indah dan menenangkan hati. Sirzech pun tersadar dari fatarmogana itu dan menatap horror tumpukan kertas yang kian menggunung. Dengan secepat kilat, Sirzech mengerjakan tugasnya untuk membasmi kertas tersebut. Dia sempat kepikiran untuk menghancurkan kertas laknat tersebut yang telah merengut kebebasannya tersebut.
'Kalau tahu kerjaan Maou semerepotkan begini, mending aku tidak menerima jabatan ini dan menolak usulan tetua untuk menunjuknya menjadi Maou setelah menjadi pahlawan. Cih, kertas terkutuk.' Umpat Sirzech mengingat saat ditunjuk menjadi Maou oleh tetua yang dengan senang hati dirinya yang lalu menerima jabatan Maou.
Saat sibuk menghabisi paperwork yang menumpuk di depannya, Sirzech merasakan energy sihir familiar tiba-tiba muncul di ruangannya. Sirzech berdiri dan melihat lingkaran sihir Gremory bersinar terang di ruangannya. Di tengah lingkaran sihir tersebut muncullah seorang perempuan berambut panjang dengan kaos hitam yang membungkus tubuhnya, memiliki pupil hitam dan sebilah pedang bertengger di punggung rampingnya. Saat lingkaran sihirnya hilang, tubuh perempuan tersebut langsung ambruk. Beruntung kemunculan perempuan itu disamping Grayfia yang sukses menangkap tubuh ramping perempuan tersebut.
"Ren!" seru Sirzech khawatir dengan salah satu peeragenya yang ambruk ke tanah. Dia beranjak dari kursinya dan berlari menuju tempat sosok yang Sirzech panggil Ren Ashbell tersebut.
Grayfia menyalurkan energy iblisnya ke tubuh Ren. Di punggung Ren terdapat banyak luka sayatan dan luka tusukan yang tidak dalam dan tidak menembus tubuhnya, tetapi Ren kekurangan darah. Terlihat jelas dengan tubuhnya yang memucat dan bibirnya yang juga memucat seperti zombie. ketika menyentuh tangan Sirzech, tangan Ren sangat dingin.
"Kekurangan darah dan Racun berbahaya. Grayfia", cepat bawa Ren ke rumah sakit, segera!" perintah Sirzech dengan raut wajah mengeras. Tidak dapat dipungkiri lagi, kakak-adik tidak jauh berbeda, mereka menyayangi budak mereka layaknya keluarga. Ditambah lagi, Ren Ashbell merupakan Knight yang paling hebat di Underworld, bahkan dirinya sebagai king ragu bisa menang jika bertanding seni berpedang melawan Ren.
'Siapapun yang melawan Ren Ashbell bukanlah musuh sembarangan' batin Sirzech yang berusaha tenang, sembari berjalan menuju jendela dan membukanya. Hembusan angin menerpa wajah Sirzech, seakan memberikan pijat refleksi. Raut wajah Sirzech yang sebelumnya mengeras, kini melembut. Tangan kanannya mengepal erat.
"Siapapun yang menyakiti keluargaku, tidak akan aku maafkan." Sumpah Sirzech di depan cahaya rembulan yang bersinar dengan eloknya.
.
.
.
Setelah insiden tersebut, korban makin banyak berjatuhan. Para tetua iblis frustasi dan mendesak Sirzech untuk menemukan pelakunya. Selama dua hari, tiga puluh iblis kelas atas yang merupakan 36 pillar iblis, menjadi korban. Mereka rata-rata menderita hal yang sama dengan Ren Ashbell.
Sirzech yang terus ditekan selama dua hari tambah geram. Dia juga frustasi karna 36 Pillar iblis lah yang menjadi korban. Dia juga sudah mengirim pasukannya untuk melakukan pencarian petunjuk, tetapi, mereka pulang dengan tidak utuh, setiap mereka pulang, mereka pasti kehilangan setengah anggotanya. Dengan bayaran nyawa tersebut, mereka tetap minimal info. Salah satu petunjuknya, para pasukan yang selamat tersebut selalu mengatakan monster dan monster. Walaupun mereka selamat, tetap saja, psikologi mereka yang terluka. Sirzech menghantamkan dinding sedikit keras tanpa diselimuti energy apapun, tetapi pukulan Sirzech sangat kuat, hingga dinding tersebut retak.
Suara ketukan pintu sukses menurunkan amarah Sirzech. Dengan berwibawa, Sirzech mengatakan masuk dan kembali ke tempat duduk dimana dia bekerja. Seorang perempuan berambut putih panjang yang diikat dengan model twintail yang mengenakan pakaian maid. Perempuan itu menaikkan ujung roknya sambil menunduk, hormat ala bangsawan. Sirzech menghela nafas kesekian kalinya melihat perempuan itu yang merupakan istrinya, Grayfia Lucifuge atau sekarang bisa disebut Grayfia Gremory.
"Ada apa, Grayfia-chan?"
"Sirzech-sama, pasukan kita kembali. Tetapi, mereka menemukan petunjuk siapa yang menyerang para iblis 36 Pillar tersebut." Lapor Grayfia sembari melangkah menuju samping pintu. Setelah berada disana, Grayfia mengintruksikan mereka masuk. Mereka adalah Rias dan peerage, Sona dan peerage dan sosok pria bertubuh kekar dengan rambut hitam yang melawan gravitasi namun sedikit mengarah ke kanan dan mempunyai sepasang mata yang menunjukkan tekad seorang petarung sejati.
"Yo Maou-sama, masih bertarung dengan paperwork? Kenapa tidak dihancurkan saja?" tanya Sairorg menatap polos Sirzech.
"Aku sudah pernah melakukannya dan hasilnya tubuhku menjadi es." Jawab Sirzech yang sengaja mengejek Grayfia yang terlalu kaku dan tidak segan-segan membekukan dirinya saat melakukan kesalahan.
Grayfia tersenyum sangat manis mendengar perkataan Sirzech, yang mampu membuat Sirzech meringis melihatnya. Bagi Sirzech, Grayfia tersenyum saat dalam status maid pribadi dirinya, sama saja dengan senyuman Shinigami yang meminta nyawanya. Tubuh Sirzech merinding jadinya. Grayfia berjalan ke tempat Sirzech dengan sangat anggun tanpa menanggalkan senyuman yang bagaikan malaikat maut itu. Suhu udara di sekitar ruangan ini menurun dratis.
'Oh tidak!' jerit Sirzech dalam hati. Dia sudah menyiapkan lingkaran sihir dibawah kakinya. Tetapi, tubuhnya tiba-tiba membeku setengah badan. Akibat setengah badannya membeku, Sirzech sangat kedinginan.
"Grayfia- neesama, Sirzech niisan oyamete yo!" teriak Rias yang sudah bosan dengan melihat tingkah mereka berdua yang bagaikan anak kecil. Aura kegelapan menyelimuti tubuh Rias. Rambut merah crimsonnya berkibar-kibar ditiup angin yang muncul entah dari mana, hingga membentuk sembilan ekor.
Sirzech ketakutan melihat Rias dalam mode tidak boleh dibantah, atau dia sebut Akai Chishio no Habanero. Rias tersenyum tipis, berbeda dengan aura yang berkobar dengan ganasnya, walaupun aura tersebut belum levelnya, tetapi baginya yang mengidap Siscon itupun menjerit ketakutan.
"Rias-tan!" sosok perempuan berambut hitam yang memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi, namun lekukan tubuhnya mampu menggoda para lelaki. Rambutnya dikucir menjadi dua, atau bisa disebut twintail. Sosok itu hampir memeluk Rias.
"Serafall…" Belum sempat Sirzech memperingati sosok yang bernama Serafall itu, Rias membalikkan badannya dan meninju wajah Serafall hingga terlempar ke belakang menembus dinding yang tebal itu.
"Jadi… bisa hentikan pertengkaran konyol ini?" Grayfia dan Sirzech mengangguk cepat. Mereka tidak mau berurusan dengan harimau betina yang dalam masa 'datang bulan'.
Sirzech berdehem untuk mengembalikan imagenya sebagai raja iblis. Dengan cepat Sairorg berkomentar setelah melihat Sirzech berdehem, "Percuma berdehem, imagemu sudah jatuh di depan kami."
Seketika, dalam satu detik, Sirzech berada di pojokan ruang kerjanya, bermain dengan kucing dan sesekali curhat. Sairorg ngakak melihat sosok Sirzech yang tidak ditampakkan di publik.
"Jadi petunjuk apa yang kalian temukan?"
Rias yang mendengar pertanyaan Grayfia pun menatap Sairorg dan Sona untuk meminta persetujuan. Mereka mengangguk melihat Rias. Sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul di depan Rias. Di tengah lingkaran sihir tersebut, terdapat sesosok mayat.
"Baiklah pertama…
"Sama… Zech-sama, Sirzech-sama!" Grayfia mengibaskan tangannya memanggil sosok laki-laki yang mengenakan seragam kebangsawanannya. Rambut merahnya berkibar dihembus angin yang sepoi-sepoi. Grayfia menghela nafas melihat Sirzech yang lagi-lagi melamun, semenjak insiden penyerangan 36 pillar iblis muda.
"Anda melamuni apa, Sirzech-sama?" tanya Grayfia menaikkan satu alisnya. Dalam hatinya, ia sedikit khawatir dengan Sirzech yang akhir-akhir ini melamun, entah karena apa. Sirzech menggeleng pelan seraya tersenyum kecil.
Lingkaran sihir muncul di ruangan Sirzech yang tersenyum kedatangan sosok yang ia tunggu daritadi. Lingkaran sihir tersebut menghilang dan disaat bersamaan seorang perempuan berambut hitam twintail yang mengenakan seragam cosplay penyihir yang membuat mulut Sirzech terbuka lebar. Sadar dirinya OOC, Sirzech langsung memasang wajah facepalm.
"Kenapa kamu memakai seragam seperti itu saat pertemuan besar nanti?" Serafall, sosok yang ditunggu Sirzech hanya menjulurkan lidahnya sambil terkikik. "Pertemuannya nanti malam, bukan?" Sirzech menepuk jidatnya. Dia betul-betul lupa.
"Sir-tan, jangan bilang kau lupa?" tanya Serafall menatap penuh selidik Sirzech yang tertawa gugup.
"Hahaha… aku lupa. Sekarang kita mau mengunjungi Rias dan Sona, bukan? Dalam tujuan kunjungan orang tua."
Serafall mengangguk semangat. Yah Sirzech bisa menduga kenapa Serafall begitu semangat. Dia tahu bahwa Serafall menyayangi adiknya, melebihi dirinya sendiri. Yah bisa Sirzech sebut… Siscon Akut.
"Mari kita berangkat… nyan!"
Sirzech berharap Sona telah menyimpan cadangan sesuatu yang bernama kesabaran. Bencana—bagi Sona—akan datang memporak-porandakan hidup Sona yang sifatnya berbeda 180 derajat. Bagaikan menghadap cermin, semua begitu berbanding terbalik.
'Semoga kau tabah menghadapi cobaan ini, Sona-chan.' Harap Sirzech dalam hati menyusul Serafall yang pergi duluan.
Grayfia menatap datar kepergian mereka berdua. Kemudian dia menghela nafas pendek melihat Sirzech meninggalkan tumpukan kertas laknat tersebut yang diserahkan ke dirinya.
'Terkutuk kau tomat sialan!' umpat Grayfia yang sangat kesal terhadap suaminya tersebut. Dengan tidak senang hati, Grayfia yang merupakan istri Sirzech mengerjakan tugas suaminya.
.
.
.
Sementara itu di kelas 3-C, Koneko khawatir karena tidak melihat Issei akhir-akhir ini. Dia tidak fokus dengan pelajaran yang dijelaskan guru. Bahkan dirinya ketangkap basah melamun ditengah pelajaran .
'Kau dimana Issei?' batin Koneko penuh dengan kekhawatiran. Bagaimana tidak khawatir, Issei tidak hadir selama 5 hari. Bahkan kawannya, Vali dan Toshiro, tidak mengetahui dimana Issei. Berbagai spekulasi di dalam otaknya, spekulasi tentang alasan Issei tidak hadir.
Hyoudou Issei memang tidak hadir selama lima hari, beberapa orang yang sangat akrab padanya khawatir dengan ketidakhadiran Issei. Kenapa Issei tidak hadir? Mari kita kembali 5 hari yang lalu.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari yang sama saat Issei diinterogasi oleh Sona dan Rias.
Bel istirahat berbunyi dengan merdu di telinga para siswa. Beban di pundak mereka terasa lenyap tak tersisa. Raut wajah frustasi yang terpampang jelas di wajah mereka, kini berubah menjadi raut wajah penuh bahagia, bagaikan mendapatkan jackpot 100 juta Yen.
Begitupun dengan kelas 3-C, tempat Issei, Vali, Toshiro, Yuuji dan Koneko berada. Pelajaran kali ini membuat otak mereka terasa mau meledak, kecuali Issei yang terlihat memperhatikan pelajaran tadi, namun fikirannya entah kemana. Issei tersentak kaget ketika Vali memegang bahunya. Tetapi raut wajah terkejut tersebut berubah menjadi datar. Vali mengajak Issei pergi ke kantin bersama Toshiro, namun dengan halus Issei menolak.
Setelah menolak ajak Vali, Issei berdiri dan berjalan keluar kelas. Koneko yang melihat gelagat aneh Issei berniat menyusulnya. Dia bisa mengetahui kebimbangan di dalam benak Issei, detak jantungnya terdengar tidak beraturan iramanya, itu alasan Koneko mengetahui gelagat aneh Issei.
Koneko terus mengikuti Issei berjalan. Dia tidak peduli Issei mengetahui dirinya membuntutinya. Dia terus mengikuti Issei hingga Issei berbelok ke kanan, dimana tangga yang menghubungkan lantai tiga, tempat kelas 3 belajar, dan atap sekolah. Koneko bersembunyi di balik pintu. Dia bisa mendengar suara Issei yang lirih.
"Kenapa cerita sebelum Koneko berbeda dengan ingatanku?"
"Apa Koneko-chan berbohong kepadaku?"
"Ataukah ingatanku yang salah?"
Koneko tersentak kaget mendengar ucapan Issei yang ia dengar. Kini dia tahu masalah yang dipendam Issei. Dia bisa mendengar erangan frustasi yang berasal dari sosok pemuda berambut coklat yang merupakan Sekiryuutei. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya setelah mendengar perkataan Issei. Tetapi, hal yang paling membuatnya penasaran adalah, "Kenapa?" gumam Koneko dengan suara sangat kecil. Tanpa sengaja, Koneko membuat suara bising yang membuat Issei tersentak kaget. Koneko menghilang dengan lingkaran sihir. Sesaat kemudian, Issei membuka pintunya dan tidak menemukan apapun.
.
.
.
"Tidak salah lagi, ingatanmu diubah oleh leader kami, Naruto Uzumaki."
Hanabi pun keluar dari tempat persembunyiannya. Issei membalikkan badannya dan menatap tajam Hanabi. Hanabi tersenyum melihat reaksi Issei.
"Apa maksudmu? Sejak kapan ingatanku diubah oleh leader?"
"Koto Amatsukami."
"Koto… Amatsukami?" beo Issei. Tiba-tiba gauntlet berwarna merah dengan kristal hijau ditengahnya bersinar terang.
"Apa maksudmu, Hanabi?" Gauntlet itu yang merupakan wujud Sacred gear Issei yang didiami oleh seekor naga yang bernama Ddraig itu.
Hanabi mengangguk. "Ya, Koto Amatsukami. Salah satu genjutsu yang paling berbahaya didunia kami, dimana lawannya bahkan tidak sadar berada di dunia genjutsu. Salah satu keunikan genjutsu ini juga adalah, mampu mengubah ingatan seseorang. Jika kau nanya kapan ingatanmu diubah oleh Naruto, maka aku akan menjawab, saat hari dimana kematian orang tuamu."
Mata Issei melebar saat mendengar pernyataan Hanabi. Dia mengeram marah. "Kenapa` Naruto mengubah ingatanku—" Hanabi memotong ucapan Issei, "—Ralat, bukan hanya kamu yang diubah ingatannya, termasuk Ddraig."
Di alam bawah sadar Issei, Ddraig shock mendengar penjelasan sosok perempuan yang merupakan ketua dari hostnya sekarang ini. Tetapi, Ddraig masih diam, karena dia tahu, sosok perempuan itu belum selesai berbicara.
Issei yang hendak menghajar Hanabi karena mengira sosok leader di Dragon Team tersebut hanya bualan belaka, tetapi sebuah suara serak khas monster menegurnya, "Issei berhenti. Dengarkan penjelasannya dulu sampai selesai."
Hanabi yang mendengar ucapan Ddraig tersenyum kecil.
"Naruto, leader dari tiga pillar utama, yang merupakan Aku, Toneri dan Naruto, mempunyai sepasang doujutsu yang menakutkan bagi shinobi di dunia kami, atau bisa dibilang zaman kami. Sharingan merupakan doujutsu terkuat kedua dari tiga doujutsu yang diketahui oleh shinobi di zaman kami. Naruto mempunyai sepasang mata Shisui, shinobi yang berasal dari clan Uchiha, yang merupakan pemilik doujutsu sharingan tersebut. Kemampuan Mangekyou Sharingan, yang merupakan evolusi dari Sharingan, yang dimiliki Shisui sangatlah mengerikan, seperti yang aku jelaskan tadi, manipulasi ingatan. Naruto mendapatkan mata tersebut dari pahlawan dibalik layar, Itachi Uchiha yang merupakan pembantai clan Uchiha, dan Sasuke Uchiha yang merupakan rekan satu team Naruto.
Setelah berhasil mengalahkan kau yang mengamuk, tepatnya jiwa pemilik tubuh itu, pemilik tubuh itu menghembuskan nafas terakhir. Mataku yang mampu melihat organ dalam manusia, melihat detak jantung yang seharusnya berhenti, kembali berdetak lagi walaupun pelan. Aku memberitahukan informasi mengejutkan tersebut. Naruto pun memeriksa ingatanmu, dan dia terkejut dengan isi memorimu yang waktunya sangat jauh berbeda dengan waktu saat itu. Naruto yang tidak ingin kau jatuh ke dalam kegelapan, dengan terpaksa dia mengubah ingatanmu."
Issei terdiam. Otaknya memproses informasi yang membuatnya terkejut.
"Setelah mengubah ingatan kami, kemudian Naruto menghapus ingatannya sendiri dan ingatanku yang mengetahui masa depan, menghapus ingatan tentang memorimu saja, agar tidak terjadi alur waktu yang benar-benar tidak terduga. Setidaknya itu yang aku ketahui."
"Sosok yang kau sebut leader tersebut merupakan sosok yang bijak, eh, Hanabi." Komentar Ddraig. Issei mengangguk setuju dengan komentar Ddraig.
"Yah… dia merupakan sosok yang paling bijak menurutku."
Issei tersenyum kecil ketika mendengar penjelasan Hanabi. Dia tidak salah masuk organisasi ini yang bahkan pemimpinnya yang mempunyai kemampuan melihat memori orang lain, langsung menghapus memorinya sendiri tentang memori masa depan yang dimiliki Issei.
.
.
Hening.
Setelah pembicaraan mengenai memori Issei yang berbeda dengan cerita Koneko, keheningan pun terjadi diantara kedua insan berbeda jenis kelamin tersebut. Semilir angin menerpa wajah mereka. Suara burung menyanyi dengan riang di udara memecahkan keheningan yang terjadi di atap sekolah.
"Hyoudo Issei, anggota Squad Dragon, Code name The Red. Apakah kau siap menerima misi solo?"
"The Red siap, Lavender-sama!"
"Baiklah. Ini rincian misinya." Issei menerima sebuah gulungan, dia baca sebentar isinya dan terkejut karena misinya merupakan cerita yang dia anggap dongeng.
.
.
.
Setelah Issei menerima misi tersebut, sorenya dia langsung terbang ke Yamato dengan mode balance breaker. Tidak ada yang mengetahui kemana Issei pergi, bahkan anggota Dragon Team juga tidak tahu kemana perginya. Koneko pun sedikit khawatir dengan sosok pemuda itu yang pergi tanpa memberi kabar sekalipun. 'Sepertinya dia kecewa padaku, yang dia kira aku bohong padanya.' batin Koneko murung.
Koneko berniat pergi ke atap Sekolah untuk menenangkan diri. Ketika dia mau berjalan menuju atap, sebuah suara serak khas pria dewasa menyapanya, "Ohayou Koneko-chan."
Koneko yang mengenal suara ini membalikkan badannya, dia terkejut dengan sosok kakak Rias yang berada disini. Sontak Koneko langsung menundukkan kepalanya, melakukan ojigi sambil membalas sapaan sosok di depannya itu.
"Kenapa kau murung begitu, Koneko-chan?" tanya sosok pria berambut merah itu yang bernama Sirzech. Koneko hanya bisa diam seribu bahasa. Sirzech yang melihat Koneko tidak menjawab pertanyaannya hanya bisa menghela nafas. Sirzech kembali melangkahkan kakinya, ketika posisinya sejajar dengan Koneko, Sirzech menepuk pundak Koneko.
"Jangan terlalu memaksakan diri ya, Koneko-chan."
.
.
.
.
Sementara itu, kantin sekolah dipenuhi oleh para murid yang menghabiskan uang jajan mereka di kantin tersebut. Terlihat di bagian pojok meja, terdapat tiga siswa, satu siswi dan satu guru. Mereka adalah Natsu, Laxus, Toshiro, Vali dan Hanabi. Meja tempat mereka makan penuh dengan piring kotor. Salahkan Natsu yang perutnya seperti karet, dia nambah hingga enam kali. Kini perutnya kembung.
"Hanabi-hime, Issei sedang ada misi kah?" tanya Vali memecah keheningan. Pandangan mereka terfokus pada Hanabi yang menghela nafas.
"Ya, Issei sedang menjalankan misi solo, di Kota Yamato."
Vali yang menyeruput teh langsung menyemburkan tehnya ke muka Natsu yang tentu saja marah karena dia yang kena semburan teh.
"Kau ngajak kelahi kah, Vali?" tanya Natsu menatap tajam Vali yang memasang wajah tanpa dosa. Natsu menarik kerah baju Vali, seolah menantang sosok pria berambut uban, eh bukan, berambut putih itu.
Toshiro yang tidak terganggu dengan keributan tersebut tetap menyeruput kopi miliknya dengan tenang. Hanabi yang kesal melihat bawahannya membuat keributan terpaksa turun tangan.
"Vali, Natsu, jangan buat keributan disini." Nasihat Laxus dengan raut wajah tenang. Tetapi tatapannya menatap takut Hanabi yang sepertinya sangat marah.
"Berisik kau otak otot!" teriak Vali dan Natsu bersamaan. Mereka kembali saling hajar.
Laxus yang sabar karena diejek oleh Vali dan Natsu pun kembali menasihati mereka berdua, "Cepat hentikan pertarungan ini, sebelum—" Laxus menahan nafas melihat Hanabi berdiri diantara Vali dan Natsu yang ingin menghajar lawannya. Sontak Laxus berteriak, "Hanabi, menunduk!"
Seakan merespon teriakan Laxus, Hanabi menunduk, para murid meneguk saliva mereka melihat tinjuan Natsu dan Vali yang melewati atas kepala Hanabi.
Hanabi menunduk, kemudian meninju perut Natsu lalu menggunakan tangannya menumpu badannya dan menendang dagu Vali. Mereka berdua terlempar ke belakang karena tak siap dengan serangan tersebut. Para siswa yang merupalan fansboy Hanabi pun heboh setelah melihat aksi Hanabi yang menumbangkan Vali dan Natsu yang sedang baku hantam.
"Ugh… sepertinya tulangku patah." Komentar Natsu sembari mencoba berdiri sambil memegang perutnya. Para siswa bergidik ngeri mendengar komentar Natsu. Mereka menatap horror Hanabi yang menatam tajam Vali dan Natsu.
"Berhenti berkelahi seperti anak kecil, Vali Rushifa dan Natsu Dragneel." Vali dan Natsu mengangguk cepat. Mereka tidak mau membuat Hanabi marah. Ekspresi horror Hanabi berganti menjadi ekspresi lega dan puas.
Laxus berdiri dan berjalan menuju ruang guru, "Aku duluan ya." Hanabi menolehkan kepalanya ke sumber suara, dan tersenyum tipis, "Ya Laxus-sensei."
Setelah itu, Hanabi berjalan keluar kantin. Melihat Hanabi pergi, seringai terbentuk di bibir Natsu dan Vali. Mereka menatap tajam satu sama lain. "Mari kita—"
"Vali, Natsu, Toshiro, kita ketemu di tempat biasa." Setelah mengatakan itu, Hanabi berjalan menuju tempat mereka biasa mengadakan pertemuan jika berada di sekolah.
Sambil berjalan, Hanabi membaca SMS yang ia terima saat dikantin. Dia tersenyum kecil saat membaca pesan tersebut.
.
.
.
Malam harinya. Kuoh Academy terlihat sepi, kecuali di gedung lama yang merupakan salah satu tempat club ORC berada. Gedung lama tersebut sangatlah senyap, tidak ada suara satupun yang terdengar. Gedung lama diselimuti sesuatu yang kasat mata.
Di dalam club ORC yang merupakan tempat rapat para petinggi tiga fraksi akhirat, Da-tenshi, Tenshi dan Akuma. Di pihak akuma diwakili oleh seorang pria berambut merah yang mengenakan seragam kebangsawanan yang terkesan mewah dan perempuan bersurai hitam yang diikat twintail yang mengenakan seragam Mahou Shoujo, yang membuat perempuan bersurai hitam dengan model bob pendek yang mempunyai mata berwarna ungu menahan rasa malu. Di pihak Tenshi diwakili oleh pria yang mengenakan seragam kebangsawanan berwarna putih dan memiliki tanda lingkaran di atas kepalanya. Di pihak Da-tenshi diwakili oleh pria yang memiliki rambut berwarna hitam dan sedikit berwarna kuning, yang mengenakan seragam santai. Para wakil tiap fraksi meruakan pemimpin di fraksi mereka.
"Sirzech, Michael. Hisashiburi." Ujar pria yang merupakan wakil Da-tenshi. Sirzech mengeram marah melihat Pria yang bernama Azazel tersebut terlihat santai dan tidak merasa bersalah. Dengan emosi, dia menggebrak meja bundar itu.
"Teme! Jangan paksa wajah sok polos tersebut!" murka Sirzech yang siap menyerang Azazel, namun Michael pun mengeluarkan suaranya.
"Tahan emosimu, Sirzech." Ujar Michael dengan tutur kata lembut.
"Sir-tan, jangan emosi. Kau adalah pemimpin, bersikaplah seperti pemimpin." Ujar Serafall.
Sirzech yang sudah mengeluarkan aura intimidasi yang sangat besar, hingga membuat iblis muda yang berada di ruang ORC hampir pingsan karena tak kuat menahan aura tersebut. Mendengar penjelasan Serafall, Sirzech mengendalikan emosinya.
"Bisa kau jelaskan apa alasanmu menyuruh Kokabiel menyerang daerah kekuasaan Gremory dan Sitri," tanya Serafall memasang raut wajah yang serius. Dia sama emosinya dengan Sirzech jika menyangkut adik tercinta mereka.
Azazel menaruh kedua tangannya di belakang kepala, dia menjawab pertanyaan Serafall dengan nada terkesan santai, "Aku tidak menyuruh Kokabiel menyerang adik tercintamu, Serafall, Sirzech. Kokabiel sendiri yang menyerang mereka. Bahkan Kokabiel tidak—" Suara yang sangat asing bagi Azazel dan para petinggi lainnya masuk indera pendengaran mereka.
"Hahahaha… daerah kekuasaan kalian?!"
Azazel memasang posisi siaga, walaupun wajahnya masih terlihat santai. "Siapakah kau?"
Setelah Azazel bertanya kepada sosok asing yang belum menampakkan batang hidungnya, dinding bagian barat hancur dengan dahsyat. Muncullah pria yang mengenakan armor emas dan surai kuning yang tertata dengan rapi, mempunyai sepasang mata yang mampu mengintimidasi lawan. Di belakang sosok pria tersebut, terdapat dua sosok berbeda gender. Salah satunya adalah sosok Issei yang dalam mode Balance Breaker, dan satunya adalah perempuan yang mengenakan armor tipis dan pakaian mirip dress lengan pendek berwarna biru yang melapisi armor putih yang menutupi tubuh rampingnya.
Sona melebarkan matanya karna dia kenal dengan sosok tersebut. Begitupun dengan Serafall yang juga kenal dengan sosok tersebut, ditambah pedang tanpa wujud yang auranya sangat menakutkan bagi bangsa iblis, yang dipegang oleh perempuan tersebut.
"Arthuria Pendragon… Gilgamesh." Gumam Sona dan Serafall dengan nada ragu-ragu.
.
.
.
Part 6: Kemunculan pahlawan masa lalu, raja dari semua raja, Gilgamesh dan Sang raja pemegang Excaliburn, Arthuria Pendragon
"Gilgamesh… Tak mungkin… kau… raja dari para raja?!" tanya Azazel sembari mengingat nama Gilgamesh dan saat mengingatnya, dia terkejut, dan sedikit merinding mendengarnya.
"Anda betul, malaikat kotor." Gilgamesh menatap datar sosok Azazel menatapnya penuh dengan ketertarikan. "Jangan menatapku seakan kau menyukaiku. Maaf, aku masih normal." Ejek Gilgamesh yang membuat Azazel hampir jatuh dari kursi.
Michael menatap pedang tanpa wujud yang digenggam oleh sosok perempuan itu, dia merasakan aura yang sangat familiar baginya dan bertanya dengan tutur kata sopan, "Nona, apakah pedang tersebut excaliburn? Aku bisa merasakan aura suci yang sangat kuat dan stabil."
Sosok Arthuria sedikit tersenyum dengan ucapan sosok pria berambut pirang dengan lingkaran yang terbuat dari cahaya di atas kepala, yang dia duga merupakan sosok pemimpin dari malaikat, Michael.
"Anda benar, seperti yang anda sebutkan tadi, ini merupakan pedang Excaliburn."
Sirzech dan Serafall sekarang paham, kenapa insting mereka berteriak jangan mendekati pedang tanpa wujud tersebut. Pedang yang mampu membunuh iblis, tak peduli dia kuat ataupun lemah, kini dihadapan mereka berdua.
"Baiklah, kembali ke topik. Nona berambut hitam yang disebelah pria berambut merah, bisa anda jelaskan, mengapa kalian mengklaim daerah ini yang merupakan milik manusia?" tanya Gilgamesh yang sudah mengeluarkan puluhan pedang di belakangnya. "Jawab aku!" seru Gilgamesh lagi.
Sona yang berada di belakang pihak iblis sesak nafas menahan energy yang bergejolak liar di sekitar Gilgamesh. Begitupun dengan Rias yang kini tertunduk karna tidak kuat menahan energy yang membanjiri ruangan ini dengan ganasnya. Hal itupun terjadi kepada peerage mereka berdua, kecuali Koneko yang kini diselimuti api berwarna kebiruan.
'A-aura macam apa ini?' tanya Sona dan Rias ketakutan. Mereka tidak bisa menyembunyikan ketakutan mereka. Sirzech yang melihat Rias dan Sona tersiksa mentalnya, membuat lingkaran sihir yang menutupi tempat Sona dan Rias serta peeragenya berada. Pandangan Rias mengarah ke sosok yang mengenakan armor berwarna merah itu.
"Dia… Issei… Sekiryuutei yang menyerang kami!" seru Rias tiba-tiba yang membuat seluruh ketua Fraksi mengalihkan pandangannya ke Rias. "Bukan hanya itu, dia membuat Koneko-chan pingsan dan Menma serta Kiba terluka." Teriak Rias menunjuk sosok Sekiryuutei yang tetap pada posisinya. Dalam hati, Rias menyeringai melihat Sekiryuutei tidak berkutik, 'Mampus kau!'
Dengan tenang, Issei menjawab, "Anda jual, saya beli. Aku tidak menyerang Koneko, Cuma membuatnya pingsan dengan memukul tengkuknya, dengan alasan agar percakapan kami tidak berlangsung lama yang bisa membongkar identitas asliku. Selain itu, aku yang belum sempat memberikan penjelasan seperlunya, langsung diserang oleh Ninja itu dan pria itu." Sambil menunjuk Menma dan Kiba secara bergantian.
"Benarkah begitu Kiba, Menma-kun?" tanya Sirzech dengan raut wajah tenang. Berbeda dengan hatinya yang panas ketika mendengar perkataan adiknya bahwa ia diserang oleh sosok Sekiryuutei. Kiba dan Menma mengangguk yang membuat Rias melotot.
'Bohong itu dosa.' Batin Kiba dan Menma, walaupun mereka iblis, sebelumnya mereka adalah manusia dan tahu akan dosa. Beda kasusnya dengan Menma, dia sering melihat dampak dari sebuah kebohongan, mulai dari perang, pertarungan dan lainnya. Tidak peduli Rias menyuruh Kiba dan Menma berbohong, tetapi mereka sadar, bahwa mereka salah, dan mereka tidak mau mencoreng harga diri mereka sebagai Ninja/Ksatria karna berbohong atas kesalahan mereka.
.
.
.
"Hohoho, ternyata di pihakmu ada sosok Reinkarnasi Nekomata legenda, Matatabi." Di pojok utara, sosok perempuan bersurai hitam mengenakan topeng bermotif bunga lavender yang keluar dari balik kegelapan, yang diikuti sosok laki-laki bertubuh kekar yang mengenakan topeng dengan motif petir, sosok pria bertubuh pendek yang mengenakan topeng dengan motif es yang memiliki surai putih dan sosok pria yang mengenakan topeng dengan motif lingkaran api yang mempunyai surai pink, serta sosok yang mengenakan armor putih yang sangat melegenda di dunia supernatural, Hakuryuukou.
"Jadi kau yang mempunyai energy misterius yang kuat?" tanya Azazel mengelus jenggotnya memandang tertarik sosok yang memiliki aura yang dia rasakan beberapa saat yang lalu. Sosok perempuan yang memakai topeng lavender itu menatap Azazel. "Memangnya kenapa?"
Sekiryuutei menghampiri kelima sosok tersebut dan melaporkan keberhasilan misi kepada pemimpin timnya. Setelah berdiri tegak di depan pemimpinnya, Sekiryuutei bersujud ala ksatria. "Lapor, misi menghentikan perang Holy Grail dan membuat para pahlawan masa lalu berada di pihak ANBU terlaksana dengan baik."
Bagaikan disambar petir, Koneko yang melihat Issei bersujud ala ksatria tersebut shock setelah mengetahui Issei tidak berada di pihak salah satu 3 fraksi, tetapi berada di pihak organisasi misterius yang bernama ANBU. Bahkan Hakuryuukou berada di pihak ANBU.
"ANBU? Jadi kau pemimpinnya?" tanya Sirzech yang berusaha membuat Gilgamesh lupa dengan apa yang sosok pahlawan masa lalu tersebut melupakan pertanyaannya. Dia juga penasaran dengan organisasi ANBU yang membuat Falbium yang pemalas menjadi semangat membicarakan mereka.
"Bukan aku pemimpin ANBU, aku hanyalah wakil ANBU dan pemimpin dari team kecilku, Dragon Team," ucap sosok Lavender yang tersenyum kecil karna fraksi Iblis mengetahui keberadaan mereka.
Azazel dan Michael menatap meminta penjelasan yang ditunjukkan kepada Sirzech yang gugup karna ditatap. Sirzech menyerah dan menjawab pertanyaan ANBU sesuai informasi yang ia dapat dari Falbium, "ANBU, Ansatsu Butai. Organisasi misterius yang anggotanya menyebar ke penjuru dunia, organisasi yang berjalan diantara hitam dan putih, atau bisa kita sebut abu-abu, organisasi yang dipimpin oleh Kiiro Senkou, si kilat. Tidak ada yang mempunyai informasi ANBU tersebut."
"ANBU diduga membunuh Diodora Astaroth," timpal Serafall yang menatap tajam sosok ANBu yang mengaku dirinya wakil ANBU
"Owh, jadi kau wakil ANBU yang dibicarakan oleh sosok pria berarmor merah itu?"tanya Gilgamesh menatap sosok perempuan satu-satunya sekaligus pemimpin di team Dragon.
"Anda benar sekali, Gilgamesh-dono. Selamat datang di ANBU," ujar Lavender yang pandangannya tertuju ke sosok pria yang mengenakan armor emas. Gilgamesh menyeringai melihat tutur kata wakil ANBU tersebut sangatlah sopan.
Pandangan Lavender kembali terfokus menuju Serafall dan menjawab dengan nada yang tegas, "Kami yang membunuh Diadora Astaroth karna terbukti anggota Chaos Brigade." Sirzech menatap tajam sosok Lavender. Dia tidak percaya Diadora Astaroth memihak organisasi teroris yang keberadaannya sulit dilacak. Dia tidak percaya bahwa sosok murah senyum itu merupakan anggota Chaos Brigade.
"Bagaimana bisa?"
Bukan Lavender yang menjelaskan, tapi Hakuryuukou yang menjelaskan semuanya karna dia menyusup Chaos Brigade dan menjadi anggota disana untuk memuluskan tujuannya, dan dia bergabung dengan Maou lama dengan kedok keturunan Lucifer dan menyegel kekuatan aura dan kekuatan Hakuryuukou. Beberapa informasi yang masih samar-samar kebenarannya masih dia simpan.
Sirzech merenung, dia lengah dan ceroboh karena ternyata di Fraksinya terdapat mata-mata. Hal itupun juga berlaku untuk Serafall. Dia merenung tentang pengkhianatan Diadora Astaroth. 'Aku kecolongan.' Mereka berbatin bersamaan. Mereka menundukkan wajahnya, bukan hanya Serafall dan Sirzech, Michael juga merasa menyesal karena kecolongan karena tidak bisa menjaga gencatan senjata.
"Hohoho… lihatlah, para petinggi menundukkan wajah mereka. Bukankah itu hal yang mustahil terjadi, benar begitu, Arthuria-chan" tanya sosok pria berambut emas menoleh ke belakang, tepatnya sosok perempuan dibelakangnya yang bernama Arthuria itu.
"Jadi bisakah anda menjawab pertanyaan kami, Sirzech-sama?" tanya Gilgamesh menekankan kata 'Sirzech-sama' seakan mengejek sosok pria berambut merah itu yang mengabaikan pertanyaan mereka. Lamunan penyesalan Sirzech pun sirna, menatap Gilgamesh dan menjawab pertanyaan Gilgamesh dengan nada tenang.
"Tentu saja. Pertama, kami menempati tanah ini lebih dulu. Serta melindungi manusia tanpa membongkar—" Gilgamesh memotong penjelasan Sirzech dengan nada keras, "Jangan bercanda!? Disini… " Gilgamesh menghentakkan Kakinya sebanyak tiga kali seakan menekankan disini yang dia maksud merupakan kota Kuoh. "… merupakan pemerintahan cabang kota Babilonia! Aku, raja diantara para raja, menyebar para pahlawan di seluruh pelosok di dunia ini. Kalian pasti kenal Oda Nobunaga, Bukan? Sosok yang rupanya seperti pemimpin di negara zaman ini, merupakan pemimpin di masa lalu. Peradaban kami yang merupakan peradaban 8830-an tahun yang lalu dengan peradaban sosok bersurai pink tersebut, telah dibantai setelah pusat komunikasi, yaitu pusat komando yang merupakan kota yang bernama Babilonia, hanya karena satu alasan, yaitu mengetahui keberadaan kalian!" teriak Gilgamesh yang emosi. Dia teringat dengan kematiannya yang disebabkan oleh iblis.
"Kalian juga… yang menyebabkan ras manusia kehilangan 89 persen dari total jumlah penduduk di dunia!"
"Berhenti, Gilgamesh!" teriak Arthuria yang berlari ke hadapan Gilgamesh dan membalikkan badannya.
"Gate Of Babylion!" teriak Gilgamesh penuh dengan dendam dan amarah yang memuncak. Di belakangnya ratusan senjata muncul dan melesat menuju Arthuria dan para fraksi serta ANBU. Arthuria menghancurkan satu per satu pedang yang dilesatkan Gilgamesh. Namun dia bukanlah sosok manusia yang sempurna, beberapa pedang menggores badan, wajah, kaki, dan lengannya, tetapi tidak sampi menembus tubuh Arthuria karena dia menghancurkan pedang yang mengarah ke organ vitalnya.
"Gudoudama!" teriak sosok perempuan berambut Lavender. Bola hitam melesat di depan Arthuria dan membentuk perisai yang melindungi mereka semua. Para tiga fraksi terkejut dan tidak sempat bereaksi hanya terpana melihat skill pedang sosok perempuan yang disebut Arthuria dan sosok misterius yang mengenakan topeng lavender.
Ratusan pedang terus melesat menuju mereka semua. Rias dan Sona ketakutan karna mengira pelindung ini tidak tahan lama, bahkan Rias berteriak ketakutan.
"Nii-sama! Lakukan Sesuatu?!"
Sirzech dengan nada lesu menjawab pertanyaan Rias yang menggigil ketakutan, " Mustahil Rias-chan. Walaupun aku menggunakan sihir power of destruction, tetap saja, senjata-senjata itu yang menjad sihir tameng bagi pemiliknya yang membuat lawan terkurung dan tidak bisa menyerang sekaligus sihir pemusnah massal. Otousama pernah menceritakan tentang pertarungannya dengan salah satu manusia yang membuatnya hampir mati? Dialah sosoknya, aku yakin itu?"
Sementara itu, Gilgamesh berteriak-berteriak menyumpahi para iblis, "Hahaha… mati kalian… mati kalian… iblis!" Lavender tersenyum sedih dari balik topengnya. Dia tahu, Gilgamesh terjebak di lingkaran setan.
Beberapa menit serangan ini terus berlangsung, Sirzech dan pemimpin lainnya memikirkan cara ampun tanpa korban yang membuat mereka pusing tujuh keliling.
"Apa yang harus kita lakukan?!" seru Serafall yang panik.
"Buat pelindung berlapis pun tidak membuat kita aman!" teriak Sirzech karna jika suaranya pelan, maka tidak terdengar karna suara benturan dan ledakan yang sangat keras.
"Ide yang bagus tuh," seru sosok bersurai putih yang memiliki tubuh pendek. Pandangannya mengarah pada Serafall dan ketiga pemimpin lainnya. "Tetapi aku minta bantuan kalian!"
Lavender tersenyum puas melihat anggotanya yang ia anggap paling jenius, membuat rencana dengan para fraksi. Tetapi setelah beberapa saat berdiskusi, pandangan mereka menuju ke arahnya yang membuat dirinya kebingungan. Dia pun bertanya dengan nada tinggi.
"Kenapa?"
"Kau adalah eksekutor dari rencana ini. Kita tidak memiliki opsi lain. Satu-satunya opsi, bunuh Gilgamesh." Lavender tau sosok yang memiliki tubuh paling pendek itu sudah memikirkan semua opsi. Sebelum ia memfokuskan kembali menuju Gilgamesh yang tertawa gila, sebuah suara bising seperti suara jet memasuki pendengaran mereka.
"Fuuton: Rasenshuriken!" seru sosok berambut pirang berantakan yangmenghantamkan rasengan dengan bentuk seperti shuriken menuju punggung Gilgamesh. Arthuria menatap sedih sosok raja diantara para raja yang dulu ia kenali sebagai sosok yang baik hati tersebut menjerit kesakitan akibat serangan Rasenshuriken sosok pria berambut pirang itu. Secercah rasa penasaran menghinggapi hatinya, mengenai seberapa kuat damage Rasenshuriken tersebut yang mampu membuat sosok raja diantara para raja menjerit kesakitan.
"Argh!"
"Kiiro Senkou-taichou!" seru Lavender melesat menuju sosok pria yang dia panggil Kiiro Senkou tersebut. Beruntung lesatan senjata aneka ragam bentuknya tersebut sudah berhenti. Lavender membentuk satu lagi bola berwarna hitam yang melesat dengan kecepatan yang hampir menyamai kilat itu dan menyelimuti seluruh tubuh Kiiro Senkou tersebut tanpa celah sekecil apapun.
"Perkuat perisai kalian!" teriak sosok yang diduga pria karena suaranya khas remaja pria memperingatkan para pemimpin Fraksi untuk memperkuat perisai. Mereka menuruti perisai milik mereka, termasuk milik sosok pria cebol yang daritadi sudah dipertebal.
Duar!
Ledakan besar terjadi akibat serangan sosok Kiiro Senkou tersebut. Perisai lima lapis yang dibuat oleh tiga fraksi serta pria cebol yang memiliki code name Ice Princes itu hancur satu per satu karena kuatnya ledakan tersebut. Hembusan angin yang begitu dahsyat dapat mereka rasakan walaupun terlindungi perisai itu.
"Serangan yang mengerikan." Komentar Sona Sitri. Kini dia tidak penasaran kenapa sosok misterius yang disebut Kiiro Senkou begitu terkenal di dunia supernatural. Dia pernah menerima rumor, bahwa Diadora Astaroth, dibunuh oleh ANBU, dan ternyata rumor itu sepertinya benar, karna dia telah mendapat klarifikasi dari wakil ANBUsendiri yang menurutnya sudah sangat kuat jika dilihat dari tekanan energy.
Bruk
Bunyi suara orang terjatuh dapat mereka dengar. Setelah ledakan itu berakhir, mereka menghilangkan perisai terakhir yang masih utuh. Mereka menghampiri sosok Gilgamesh.
"Ohok… apa yang terjadi… ohok… padaku?" gumam lirih Gilgamesh yang tersirat kebingungan sembari memuntahkan cairan merah. Gilgamesh merasakan seluruh organ vitalnya hancur.
"Gilgamesh-sama!" teriak Arthuria sembari terduduk lemas melihat sosok yang ia kagumi tergeletak tak berdaya. Dia menangis melihat Gilgamesh dalam keadaan yang menyedihkan begini.
"Apakah kau tidak mengingat perbuatan yang membuat kita kerepotan, Gilgamesh-dono?" tanya Serafall dengan wajah serius. Dia menatap penasaran sosok Gilgamesh.
"Aku… ohok… tidak… ohok ingat… ohok… apapun… ohok… semuanya… terasa… gelap." Pandangan Gilgamesh tertuju kepada Arthuria yang menangisi keadaannya, dan dia tidak suka melihat perempuan menangis. Dengan sekuat tenaga, tangan kirinya ia gerakkan ke dahi Arthuria. Saat berhasil menyentuh dahinya, cahaya kecil menyelimuti tangan kiri Gilgamesh dan bergerak masuk ke dalam diri Arthuria yang terkejut karena memori yang dia dapatkan.
.
.
.
Tiba-tiba waktu terhenti. Beberapa orang tidak bergerak karenanya. Hanya beberapa orang, seperti para ANBU—Sekiryuutei, Hakuryuukou, Ice Princess, Igneel, Bolt—, Kiiro Senkou, Arthuria, Gilgamesh, dan para petinggi fraksi serta Menma dan Rias yang memegang Menma yang kini diselimuti armor berwarna kuning.
"Waktu berhenti, Gasper?!" Rias terkejut ketika dia mengingat keberadaan sosok laki-laki yang menggunakan seragam perempuan. Dia merutuki kebodohannya ketika tidak mengingat sosok Gasper berada di sekolah ini, tepatnya di gudang.
"Oh, vampire yang waktu itu kau temukan ya, Rias Gremory?" tanyaAzazel mengelus jenggot kesayangannya dengan lemah lembut.
"Are? Mana Sekiryuutei?" tanya Hakuryuukou entah pada siapa. Mereka yang masih bisa bergerak tak kuasa menahan keterkejutan ketika tidak menyadari sosok Sekiryuutei.
'Sepertinya rencana sudah dijalankan.' Batin Hakuryuukou.
Boom… Duar Duar
Ledakan pun terjadi terjadi dua kali dari arah barat dan utara yang menghancurkan dinding dan atau tersebut. Pemandangan langit berwarna merah menyapa mereka semua, begitupun dengan bulan yang menyinari cahaya merah yang redup. Lingkaran sihir yang sangat besar terbentuk udara yang diduga merupakan sihir teleportasi, hal ini diperkuat dengan kemunculan para peyihir yang keluar dari lingkaran sihir tersebut. Gilgamesh menatap tajam sosok tersebut dengan pandangan benci. Dengan nafas yang sudah semakin lemah, dia berkata, "Dialah… yang membuat ras manusia hampir punah. Tolong balaskan dendam, bukan, tapi dendam para manusia yang dibantai oleh dia." Setelah mengatakan itu, Gilgamesh terurai menjadi ratusan cahaya.
"Mari kita lihat, seorang petinggi terlihat lemah mengadakan pertemuan tidak berguna ini. Bahkan mereka bersama-sama membentuk sihir perisai. Menyedihkan"
.
.
.
Part 7: Penyerangan!
Semua orang mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara. Para petinggi Fraksi mengenal /sosok tersebut, terutama Serafall. "Katerea-chan. Kenapa… kau…" Serafall tidak mampu berkata-kata lagi.
"Jangan sebut namaku seakan kau mengenalku, jalang!" umpat Katerea yang sangat membenci Serafall karena gelar Leviathan yang seharusnya menjadi miliknya direbut oleh sosok yang kini berada di depannya, berdiri diantara para pemimpin. Tongkat yang dia pegang erat itu seakan menyalurkan emosinya. Energy Demonic Power meningkat dratis, merespon amarah Katerea. Dia menembakkan bola energy ke Serafall yang tidak menghindar.
Duar
Katerea menyeringat meremehkan menatap Serafall yang terkena serangannya, "Apa Cuma segini kekuatanmu, Serafall? Mana sosok Serafall yang mengalahkanku saat perebutan gelar Leviathan!"
Asap yang mengepul diterpa angin. Mata Katerea melebar saat melihat Hakuryuukou berdiri di depan Serafall yang terduduk sambil menangis.
"Kisama… Kenapa kau menyerangnya, Katerea-san? Bukannya kalian bersahabat?" teriak Hakuryuukou yang memasang perisai untuk melindungi Serafall yang keluar dari perisai yang dibuat para pemimpin. Katerea terkejut dengan kehadiran sosok Hakuryuukou.
"Vali? Kenapa kau ada disini? Bukannya kau dan teammu dapat misi dari Ophis untuk mencari data tentang ANBU? Atau kau juga ingin merebut title Lucifer dari para Lucifer palsu tersebut?" Hakuryuukou atau Vali tertawa keras mendengar pertanyaan bejibun yang dilontarkan Katerea. Sirzech sedikit terkejut mendengar pertanyaan Katerea, kemudian pandangannya menyipit, menatap penuh kecurigaan sosok Hakuryuukou. 'Apa benar dia keturunan Lucifer, kenapa aku tidak bisa merasakan demonic power?'
"Hahahaha… Aku ingin merebut title Lucifer, katamu? Biar ku jawab disini sekarang juga, Katerea-chan, pertama, aku tidak berminat dengan title Lucifer, yang kerjaannya hanya duduk dan melawan paper work yang tiada habisnya. Kedua, aku dan teamku keluar dari Chaos Brigade karena informasi yang kami butuhkan sudah lengkap. Ketiga, aku adalah personil ANBU, dengan code name White. Aku yang menyerang markas cabang organisasi kalian, sendirian!"
Sirzech yang mendengar perkataan Vali sangat setuju. Dia sedikit terkejut mendengar pernyataan Hakuryuukou yang memiliki codename White.
"Jalankan plan 2." Teriak Katerea entah pada siapa. Dia tidak memperkirakan sosok White yang membantai markas cabang yang anggotanya sangat kuat tersebut dibantai oleh sosok white yang ternyata adalah Hakuryuukou. Begitupun dengan Azazel yang menerima informasi markas cabang yang akan ia serbu bersama anggotanya itu yang ternyata sudah hancur tak tersisa ketika sampai disana dengan mayat bertebaran di sekitar markas tersebut yang dibantai oleh orang yang sangat kuat yang ternyata adalah Hakuryuukou.
"Rencana untuk menembakkan meriam sihir, kah? Percuma, rencana kalian sudah bocor di tangan kami." Dengan nada mengejek, Vali memberitahukan bahwa rencana Katerea sudah bocor dan berada di genggaman mereka, para ANBU.
"Ka-kalian… selalu saja menghalangi rencana kami!" teriak Katerea menembakkan api hitam ke Vali yang dengan mudah dihindari oleh Vali. "Seharusnya kau belajar menembak dulu, Katerea-chan. Masa tembakanmu tidak ada yang mengenaiku?" Vali menembakkan lima bola cahaya ke Katerea yang terpaku karena semua jalur menghindarnya ternyata diincar oleh Vali. Jalur kanan, atas, bawah, kiri bahkan tempat dia berdiri juga. Mundur pun percuma, asumsi Katerea. Dengan terpaksa, dia membuat lingkaran sihir pelindung.
Ledakan pun terjadi. Bola cahaya Vali berbenturan dengan lingkaran sihir Katerea hingga asap akibat ledakan tersebut mengepul menghalangi pandangan para penonton, Vali dan Katerea.
Dua sosok melesat dengan cepat itu yang ternyata Hakuryuukou dan Katerea yang raut wajahnya mengeras karena dalam situasi terpojok. Dia pun memutuskan untuk terbang menjauh sembari melesatkan bola energy ke Vali.
.
.
.
Kembali ke tempat pertemuan 3 fraksi yang hancur tak tersisa. Hakuryuukou atau Vali bertarung dengan sengit di udara dengan Katerea. Berkali-kali Vali menembakkan bola cahaya yang ditargetkan ke Katerea yang menghindar berkal-kali. Begitupun dengan Katerea yang berkali-kali juga menembakkan bola demonic power ke Vali. Tak jarang dua energy tersebut berbenturan dan menciptakan ledakan yang lumayan besar. Kecepatan mereka berdua tidak bisa dilihat oleh Sona dan peeragenya serta Rias, Gasper dan Menma—yang telah kembali setelah menyelamatkan Gasper— serta peerage mereka.
"Pertarungan yang gila." Komentar Kiba yang merasa malu karena bangga dengan kecepatannya. Kini dia merasa tertantang untuk melebihi kecepatan yang ia lihat. Koneko mengangguk setuju melihat kecepatan yang tidak bisa dilihat tersebut, kecuali hanye percikan yang merupakan akibat benturan dua senjata ataupun ledakan akibat pertemua dua bola energy.
Menurut para iblis muda, mereka hanya melihat garis putih dan garis hitam yang saling kejar dan saling bertubrukan. Gelombang kejut dapat mereka rasakan dari tempat mereka berdiri, padahal jarak mereka sangatlah jauh.
"Hakuryuukou zaman sekarang pantas disebut Hakuryuukou terkuat sepanjang masa. Aku yakin, dia masih menahan diri."
Michael menatap Azazel dengan pandangan bingung. "Apa maksudmu, Azazel?"
"Aku pernah melawan Hakuryuukou. Dia sangatlah kuat. Bahkan dia menguasai sihir kuno yang sangat mena—, ah lihat itu. Tujuh lingkaran sihir yang sangat besar disatukan oleh garis." Pandangan Azazel menatap tujuh lingkaran sihir yang tersusun membentuk pola tertentu. Michael dapat merasakan energy cahaya yang sangat pekat yang keluar dari lingkaran sihir tersebut. "Bukannya Hakuryuukou merupakan iblis? Kenapa dia memiliki energy cahaya untuk membuat sihir tersebut?"
"Itulah menariknya, seakan dia memiliki banyak jenis energy sihir, termasuk cahaya." Azazel menyeringai ketika melihat titik hitam terlempar ke bawah karena hantaman Hakuryuukou atau Vali tersebut. Kini Katerea memasuki radius serangan Vali
.
.
.
Katerea meringis ketika dihantam oleh Hakuryuukou. Serasa nasib sial belum usai karena melawan Hakuryuukou tanpa mengetahui batas kekuatannya, energynya pun dirampas oleh Hakuryuukou dengan teknik Divine-nya. 'Cih… aku terpojok…" Matanya melebar saat merasakan energy cahaya yang pekat tepat diatasnya. Sebuah pola sihir yang terbentuk oleh tujuh lingkaran sihir yang tersambung oleh garis cahaya.
"Grand Chariot!" teriak Vali. Hujan senbon cahaya terjadi dengan kecepatan setara dengan petir dalam jumlah yang tak terhitung jumlahnya. Para penyihir yang memasuki radius Grand Chariot terkena imbasnya. Satu per satu penyihir menjerit kesakitan karena serangan tersebut menembus kulit mereka dan ternyata menyerang syaraf musuh. Katerea menatap remeh serangan Hakuryuukou yang menurutnya lemah. Dia mengarahkan kedua tangannya ke atas, membentuk perisai pelindung. Serangan senbon cahaya itu terus menghujani perisai buatan Katerea yang makin lama jumlah senbon cahaya itu makin berkurang. Tetapi serangan itu membuat perisai Katerea sekarat.
"Hanya segini kah seranganmu, Hakuryuukou. Aku heran kenapa kau dijuluki…" Tidak memberi Katerea kesempatan untuk berbicara, Vali melesat dengan cepat menuju Katerea yang masih memasang wajah sombong yang memuakkan. Katerea terkejut karena Vali di depan matanya. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menahan serangan Vali yang siap dengan kepalan tangan yang erat. "White Punch!" teriak Vali lalu menendang wajah Katerea. Dalam hati, Katerea mengumpat yang tertipu ketika mengira Vali meninju perutnya karena berdasarkan ucapan yang diucapkan Vali.
'Kamvret kau Hakuryuukou, itu bukan tinjuan, tapi tendangan.' Umpat Katerea dalam hati sembari terlempar ke belakang. Dia mencoba mengendalikan keseimbangannya. Tubuh Katerea menegang saat mendengar suara serak dibelakangnya.
"Rasakan sentuhan mautku!" seru Vali menyentuh pant*at Katerea dan meremasnya hingga Katerea sedikit mendesah. Albion sweatdrop melihat Vali menyentuh salah satu tempat sakral bagi perempuan. Saat ditanya, dengan wajah polos Vali menjawab, "Hahaha… maaf Albion, tanganku bergerak sendiri. Lagipula aku penasaran dengan bokong perempuan, jadi tidak ada salahnya, bukan?" Albion menghela nafas melihat alasan absurd Vali. Dia tahu Vali sengaja.
Divide Divide Divide
Energy Katerea kembali dirampas oleh Vali. Staminanya juga diserap habis. Tubuh Katerea melemas, hingga tubuhnya ditarik oleh Gravitasi bumi. Sayap miliknya juga terlihat lemas. Dalam hati, Katerea mengutuk perbuatan Vali karna meremas bokongnya, seakan belum puas meremasnya, Vali merampas energynya. 'Dasar Hakuryuukou mesum yang serakah' teriak Katerea dalam hati.
"Saatnya penutup Katerea-chan. Sebelum kau lenyap, terima kasih karna membiarkanku menyentuh bokong kenyalmu."
Half Dimension!
"Argh!" Katerea berteriak kesakitan setelah tubuhnya serasa ditekan paksa untuk mengecil dan mengecil. Rasa sakit tak mampu diucapkan oleh sosok Leviathan tersebut.
"Itulah hukuman yang pantas untuk pengacau perdamaian." Dengan tubuh Katerea yang sebesar ukuran bayi dan masih terus dikompres. Vali menciptakan bola cahaya dari tangan satunya, dia lempar bola tersebut yang besarnya 10 kali dari tubuh Katerea yang sekarang. Dengan tenang, Vali pergi ke tempat para penyihir masih hanya bisa pasrah ketika melihat bola cahaya melesat menuju dirinya yang tidak bisa bergerak karena terus mengecil dan mengecil. Hal itu ditambah dengan sihirnya yang diambang sekarat.
.
.
.
"Rencana yang sederhana tapi efektif. Membuat stamina dan sihir lawan sekarat untuk melancarkan serangan penutup." Komentar Sona menatap datar pertarungan yang disajikan oleh Vali. "Rencana sederhana saja bisa membuat Katerea kalah, apalagi dengan kekuatan penuh, Sacred gear dan Lucifer form. Betul-betul menakutkan." Mereka semua mengangguk mendengar pendapat Azazel yang pernah melawan Vali, walaupun sosok Hakuryuukou tersebut tidak mengenakan 100 persen kekuatannya. Mereka kecuali Rias dan peeragenya yang pergi keluar untuk melawan para penyihir di langit
"Kuharap kita semua tidak berurusan dengan ANBU."
Meskipun Azazel tetap memasang raut wajah santai, dia merasakan energy yang meluap-luap di atap gedung sekolah lama tersebut. Jumlahnya tidak main-main, sekitar lima orang. Tidak termasuk satu orang yang energynya diatas mereka berlima. Azazel menatap penuh terkejutan ketika melihat para penyihir dibantai dalam waktu yang sangat singkat. Dia hanya bisa melihat kilatan kuning sejenak. Kini Azazel tahu, kenapa sosok Kiiro Senkou menggunakan code name tersebut. Kiiro Senkou atau kilat kuning, sesuai dengan namanya, setiap Kiiro Senkou menghilang, meninggalkan jejak kilatan kuning sejenak. Kecepatan yang sedikit dibawah kecepatan cahaya. Azazel yang merupakan pemimpin fraksi malaikat jatuh tidak berani mengakui kecepatannya setara dengan kecepatan cahaya tersebut tentu tidak akan bisa mengalahkan kecepatan yang sedikit dibawah cahaya itu.
.
.
.
Sementara Rias dan peeragenya sedang melawan para penyihir tersebut. Mereka saling bahu membahu untuk mengalahkan penyihir yang jumlahnya menang telak dari mereka. Dengan perbandingan 1:55, mereka mampu mengubah perbandingan yang semula 1:55 menjadi 1:35. Koneko menggunakan energy Senjutsu berwarna biru yang perlahan membentuk dua ekor di bokongnya. Dia beberapa kali menembakkan bijuudama ke para penyihir. Ledakan besar pun terjadi ketika bijuudama Koneko dan perisai gabungan yang dibuat para penyihir bersamaan. Tetapi, jeritan para penyihir menandakan mereka tidak mampu menahan damage bijuudama.
Sementara itu, Menma menggunakan teknik unik yang mirip kuchiyose. Dia memanggil Kyuumenjuu yang lima diantaranya adalah binatang ghaib dan empat diantaranya merupakan pertapa ghaib. Bersama mereka bersembilan, Menma membantai para penyihir dengan sangat muda, semudah membalikkan telapak tangan. Setelah itu, mereka kembali ke tubuh Menma dan tubuh Menma dilapisi oleh kyuubi mode berekor satu. Dia memuntahkan bola hitam yang disebut bijuudama ke para penyihir yang bergerombolan.
Akeno yang menyerang para penyihir dengan kelihaian skill sihir yang ia miliki tersebut. Dia juga dibantu oleh Rias yang menjadi back upnya, sehingga musuh terbantai lebih cepat pula. Mereka berdiri saling memunggungi, sehingga tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh para penyihir.
Namun, walaupun mereka iblis, mereka tetap ada , Rias, dan Kiba terengah-engah. Hanya Koneko, Menma dan Rosseweis serta Gasper yang kini mendekat ke mereka dan membentuk posisi persegi panjang, dengan menempatkan diri mereka masing-masing di tiap titik dari empat titik yang ada.
"Gila, mereka tidak ada habisnya," komentar Rosseweis menatap tajam para penyihir yang tetap tidak berkurang walaupun telah mereka bantai. Pandangannya tertuju ke lingkaran sihir besar tersebut, tempat sumber masalah berasal.
"Apakah kau sefikiran denganku, Rosseweis-san?" tanya Akeno yang melihat Rosseweis menatap lingkaran sihir yang sangat besar tersebut. Dia mengabaikan baju miko miliknya terkoyak habis, hingga payudaranya menyembur karena seragam miko bagian dadanya lenyap karena terkena serangan para penyihir
Deg
Tiba-tiba Akeno terkejut ketika merasakan energy yang meningkat dratis, hingga energy tersebut sangatlah tinggi. Dia mendengar seseorang membaca mantra, namun dia tidak tahu membaca mantra apa. Dia mencari ke segala arah, dan melihat Hakuryuukou dari arah jam tiga, dengan jarak 100 meter, tengah terbang dengan gagahnya.
Waga, mezameru wa
Ritsu no zettai o yami ni duou to su hakuryuu sumeragi nari
Para penyihir yang kenal dengan mantra itu berteriak ketakutan, dia menunjuk Vali dengan tubuh bergetar hebat. "He-hentikan Hakuryuukou mengucapkan mantra… sebelum… dia berhasil mengucapkan mantra tersebut! Mantra Juggernaut Drive"
Mugen no hametsu to reimei no yume o ugachi te hadou o yuku
Roseweiss yang mengingat mantra yang diucapkan Hakuryuukou, kini dia ingat. "Minna, lindungi Hakuryuukou untuk mengucapkan mantra! Serang para penyihir agar perhatian mereka terpusat kepada kita!" teriak Roseweiss kepada temannya. Mereka mengangguk dan terbang menuju para penyihir. Akeno menyerang dengan petirnya, Koneko dengan bola api biru dan bijuudama, Kiba dengan kecepatannya untuk menebas lawan, Rias dengan Power of Destruction, Rosseweiss dengan serangan sihir nordicnya, Menma dengan Rasenringu dan Katon element. Mereka sukses membuat para penyihir geram, dan sukses fokus mereka yang awalnya Hakuryuukou, kini mengarah pada mereka. Saling serang pun terjadi. Ledakan dimana-dimana. Banyak korban berjatuhan, tetapi tidak dengan pihak Rias yang dengan lihai menghindari tiap serangan para penyihir.
Waga, muku naru ryuu no koutei to nari te
Nanji o hakugin no gensou to madou no kyoukuchi e to shitagaeyou
Sacred gear Vali yang terletak di sayap pun berseru dengan nada ala mekanik, "Juggernaut over drive!" Cahaya terang menyinari Vali.
.
.
.
Sementara itu, Sona takjub dengan energy Hakuryuukou yang meledak-ledak. Tetapi, dia penasaran, kenapa para petinggi tidak juga bergerak, dia pun bertanya, "Sirzech-sama, Serafall-sama, Michael-sama, Azazel-sama, kenapa kalian tidak membantu mereka?"
Azazel tertawa pelan, kemudian lama kelamaan tertawa terbahak-bahak, "Malas Sona-chan, sekaligus kita mencari info tentang kekuatan mereka, jika kelak mereka menjadi musuh kita, dengan bekal gaya bertarung mereka, kita bisa menang." Sona mengangguk mendengar jawaban Azazel.
Dia kembali memandang khawatir sahabatnya yang kewalahan. Dia ingin membantu, tetapi, Serafall menahannya, "Jangan bantu mereka, Sona. Mereka pasti bisa menghadapi musuh kacangan tersebut."
.
.
.
Vali yang kini dalam mode Empireo Juggernaut Drive pun melayang dengan gagahnya, menatap rendah para penyihir. "Matilah kalian, penggangu!"
Setelah mendeklarasikan kematian untuk para penyihir, Vali menggunakan Compression Divider ke para penyihir yang menghalangi jalannya. Tubuh mereka mengecil karena efek kekuatan Compression Divider. Mereka tak kuasa menahan efek kekuatan tersebut karena tubuh mereka bagaikan ditekan untuk dipaksa membentuk bola raksasa dan dilemparkan ke para penyihir yang masih mengecil tersebut. Ledakan besar pun terjadi, para penyihir yang berada di radius 100 meter terlempar terkena gelombang kejut ledakan tersebut. Dengan kecepatan kilat, Vali melesat menuju lingkaran sihir super besar tersebut. Setelah di depan lingkaran sihir tersebut, dia menggunakan Compression Divider untuk mengikis ukuran lingkaran sihir tersebut, hingga eksistensi lingkaran sihir tersebut menghilang. Dia beruntung karena Rosseweiss berhasil mengetahui rencananya untuk menghilangkan lingkaran sihir tersebut.
"Terima kasih, Rosseweiss-Hime." Rosseweiss yang mendengar Hakuryuukou menyebut dirinya putri dengan nada sopan, membuat wajahnya memerah. Sebelum Hakuryuukou pergi, Rosseweiss bertanya nama Hakuryuukou tersebut.
"Namaku katamu, baiklah akan aku kasih tahu." Vali mendekat ke Rosseweiss. Wajahnya mendekati wajah Rosseweiss yang tambah memerah. Dia membisikkan dengan sangat pelan kepada Rosseweiss yang melebarkan matanya, yang membuat Rias dan kawan-kawannya bingung. 'Massaka… kau masih hidup.' Setelah itu, Vali menghilang. Rosseweiss tersenyum senang setelah mengetahui orang yang dia sayangi yang dia duga mati karena kabar tentang clan Lucifer musnah dibantai oleh keluarganya sendiri.
"Ada apa, Rosseweiss-sensei? Kenapa kau begitu bahagia?" tanya Menma penasaran. Rosseweiss yang tersadar dari lamunannya, menggelengkan kepalanya, dan tersenyum. "Tidak apa-apa Menma."
Mereka kembali ke sisi para pemimpin 3 fraksi
.
.
.
Part 8: Demi perdamaian
Setelah invasi dari pihak golongan Maou, para pemimpin 3 fraksi, Sona dan peeragenya, Rias dan peeragenya, serta Dragon Team dan ketua ANBU, Kiiro Senkou. Mereka kembali duduk, sedangkan Rias dan Sona serta peeragenya mengembalikan ruangan ini yang hancur kembali seperti sediakala.
"Sial, kita seperti pembantu saja." Keluh Menma yang membuat Rias menjitaknya dengan penuh kasih sayang.
Sirzech menatap sosok Kiiro Senkou yang mengenakan topeng dengan motif tiga magatama. Dia sangat penasaran dengan sosok Kiiro Senkou. "Kenapa kalian membantu kami, Kiiro Senkou?"
"Siapa yang bilang kami membantu kalian? Kami tidak membantu kalian, kami hanya melindungi umat Manusia dengan berbagai cara, termasuk pemusnahan eksistensi yang sangat berbahaya bagi keselamatan umat kami." Kiiro Senkou membalikkan badannya, memunggungi para petinggi fraksi. Dengan tangan mengepal, dia mengarahkan tangannya ke bulan yang bersinar redup, menyinari gelapnya malam hari.
"Kami bagaikan bulan, bersinar redup ketika kegelapan mulai menyelimuti dunia ini." Para pemimpin tiap Fraksi terdiam mendengar perkataan ketua ANBU tersebut.
"Maksudmu…" Kiiro Senkou membalikkan badannya dan memandang para pemimpin ketiga. "Ya, demi umat manusia, kami membuat kalian berdamai. Jangan sampai terjadi perperangan lagi di masa depan. Jika ada yang membuat perdamaian ini retak, maka…" Kiiro Senkou menghentakkan kakinya dengan chakra yang besar dialirkan ke kaki tersebut hingga tanah melengkung ke dalam.
"Apa maksudmu bo—" Azazel menutup mulut Sirzech rapat-rapat dengan tangannya. Dia membisikkan sesuatu yang membuat Sirzech terdiam.
"Kenapa kalian bersikeras ingin mendamaikan kami?" tanya Azazel yang kini sudah tidak menutup mulut Sirzech. Dia penasaran hingga berbagai spekulasi kemungkinan jawaban yang dilontarkan oleh sosok misterius yang terkenal di dunia supernatural tersebut. Hal yang sama juga berlaku untuk Sirzech dan Serafall.
"Karena…" Kiiro Senkou menatap Lavender untuk melanjutkan ucapannya. Entah kenapa tubuhnya terasa lemas. Ice princess menyadari energy pemimpinnya melemah pun bertanya, "Kiiro Senkou-sama, kenapa energy anda berkurang perlahan-lahan?"
Kiiro Senkou tersenyum lemah dibalik topengnya. Dia terduduk lemas membuat Lavender yang ingin melanjutkan ucapannya pun batal dan menghampiri Lavender.
"Anda kenapa, Kiiro Senkou-Sama?!"
"Sepertinya… terjadi sesuatu di 'sana'. Lavender, setelah ini, aku perintahkan kalian pergi ke 'sana' untuk melihat keadaan. Mustahil originalku mengambil chakraku tanpa alasan, yang padahal perbandingan chakraku dengan original adalah satu banding seribu." Setelah mengatakan itu." Setelah mengatakan itu, Kiiro Senkou menghilang. Beberapa tetes darah jatuh di lantai.
"Lavender-sama, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Igneel menatap Lavender. Terdengar suara helaan nafas dari Lavender, kemudian dia menjawab, "Terjadi sesuatu di Kyoto. Seperti perkataan Kiiro Senkou, sosok orginalnya yang merupakan Kiiro Senkou asli mempunyai kapasitas chakra seribu kali lebih banyak dari milik Kiiro Senkou yang merupakan bayangan."
"Untuk pertanyaanmu, Azazel-ero-teme, kami sudah lelah berperang dan melihat saudara kami semua merenggang nyawa hanya karena perang. Apa kalian juga tidak lelah berperang? Kalian semua yang pernah melalui perang yang bernama Great War, tentu paham, bukan? bagaimana sakitnya melihat sahabat kita merenggang nyawa, membalaskan dendam sahabat kita yang mati, hingga lingkaran setan tanpa ujung tersebut. Setiap pertarungan, tiap detiknya banyak nyawa melayang, tiap detik pasti ada kesedihan. Hanya itu saja yang bisa aku jawab."
Azazel mengangguk menanggapi ucapan Lavender, begitupun dengan Michael, Sirzech dan Serafall.
"Kau benar. Aku sudah lelah berperang, aku ingin mencicipi perdamaian lebih lama lagi, dan melakukan hobiku sampai akhir hayatku."
"Ya, memancing di sungai dangkal." Mereka pun tertawa mendengar guyonan Sirzech, Michael bahkan sedikit tertawa.
Yah, begitulah akhir dari pertemuan 3 fraksi hari ini. Ada kalanya mereka memiliki faham yang sama. Faham atas dasar yang sama, pengalaman akan pahitnya perang yang dimana banyak pengorbanan yang diperlukan hanya untuk sebuah kata 'Menang'. Dengan berakhirnya pertemuan ini dengan penandatanganan surat perjanjian aliansi 3 fraksi, maka terputuslah lingkaran setan yang selalu meminta nyawa. Tetapi, dimana ada yang menginginkan perdamaian, maka ada juga yang menginginkan kehancuran, seperti organisasi dari berbagai ras yang menamakan dirinya Chaos Brigade yang dipimpin oleh sang Ouroboros, Ophis. Disamping itu, ada juga para pengkhianat yang akan 'menusuk' para petinggi fraksi dari dalam. Apakah yang terjadi?
TBC
Yosh :v bab 2 part 4 sekaligus penutup bab 2 sudah selesai. Sebenarnya chapter ini masih 60 persen(rencana mau dipisah dan bab 3 merupakan 40 persennya) :v tapi karna bab 3 yang merupakan lanjutan bab 2.4 ini sudah rampung, mending digabung aja deh. Dan bab 3 merupakan pembuka ARC 2 yang bertemakan pengkhianatan. Untuk bab 3, fokus ke Kyoto.
Voting yuk :v bab 3 lanjut cerita ini atau Flashback misi Issei yang menyangkut Holy Grail(Special chapter)? Pilih mana? Waktunya hanya 2 hari setelah cerita dipublish
Nih translate nya
"Kono sekai ni wa… anata ga shiranai mono ga ippai aru. Tatoeba, Issei no seikatsu(1)"
Di dunia ini ada banyak hal yang tidak kamu ketahui, contohnya kehidupan (masa lalu) Issei
Yang nanya kekuatan Naruto, baru beberapa yang aku tunjukkan, secara tak langsung
-Sharingan, Mangekyou Sharingan(Shisui), Eternal Mangekyou Sharingan(?)
-Fuinjutsu
-Jurus sesuai Cannon, Senjutsu juga
-?
-?
-?
-?
Aliansi:
-Asgard
-Youkai
-?, ?, ?, ?, ?, ?(Tebak, ini siapa? Clue: dari fraksi Iblis)
-?(Manusia)
Musuh:
-Maou ?
-Fraksi Iblis(Kenapa bisa musuh? Tanyalah kepada rumput yang bergoyang)
-?(Ciptaan Maou ?)
-?
-?
-?
Sekian
Kekuatan Toneri seperti Canon, itu saja sudah mengerikan, apalagi teknik Kinbou tensei baku, yang menyerap energy sampai habis(jika Ninja seharusnya mati karna kehabisan chakra :v )
Kekuatan Hanabi seperti teknik khas Hyuuga dan Tenseigan
Kekuatan Issei
-Sacred Gear
-Fuinjutsu
-?(Pemberian Rias dan peeragenya di masa depan :v )
-?
Naruto tidak menampakkan diri di awal cerita :v hidangan utama biasanya belakangan :v
