Created by : jitan88 | 2013 |

Genre : Sci-Fi & Romance

Rating : T | Alternate Universe & OOC |

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya adalah fiktif dari hasil pemikiran penulis.

.

.

"Kalau begitu, pilihannya jatuh pada kandidat kedua; pria yang 'menguasai seluruh kehidupan umat manusia di Konoha'. Dia juga menguasai hampir 70% produk robot pekerja dan AI di Konoha. Kurasa kau bisa menebak siapa orangnya, Uzumaki-san?" tanya Hinata.

Segaris senyum tipis melengkung dari sudut bibir Naruto Uzumaki, "Tch, tentu saja aku tahu. Siapa lagi orangnya … selain si jenius kaya raya yang mengumpulkan pundi-pundi terbanyak se-Konoha? Secara teori, dia memang kandidat yang paling memungkinkan."

Hinata mengangguk.

"Shikamaru Nara, si jenius yang menciptakan Dextrale."

.

.

.


HEGEMONY

CHAPTER 7 : NUMB

.

.

Uchiha's Residence

"MATI! MATI! Matilah kau, SAI!" aku berteriak saat menghujaminya dengan pukulan, namun sayangnya berakhir sia-sia. Pria murah senyum itu hanya terkekeh kecil sambil menghindari semua seranganku. Sedetik kemudian, dengan mudahnya Sai membalikkan keadaan. Ia mengecoh dan dalam gerakan kilat tubuhnya sudah berada tepat di belakangku, sebelah tangannya terulur—menyentuh punggungku—lalu masih dengan wajah tenang, ia melancarkan serangan terakhirnya.

"Maaf … Sakura," gumamnya.

Alhasil, aku terpental jauh di udara dan jatuh berdebam di atas permukaan tanah.

"K.O! We have the winner!"

"Arrgghhh! Kalah lagi, aku membencimu, Sai!" aku berteriak frustasi akibat berkali-kali dikalahkan dalam fighting game yang kumainkan bersama Sai setelah kami selesai menonton serial The Warrior. Saking kesalnya, aku nyaris membanting joystick yang berada dalam genggamanku ini! Fyuuh … untungnya wajah cemberut si pantat ayam tiba-tiba terlintas dan membuatku urung melakukannya.

Oh iya—biar kujelaskan, aku tidak benar-benar berniat membunuh Sai kok, kami hanya sedang asyik bermain game. Awalnya aku tergiur memainkan permainan ini karena fiturnya yang memungkinkan para pemain merasakan sensasi "mempraktekkan ilmu bertarung yang sesungguhnya", dimana tubuh ditempeli pengenal sensor dan benda tersebut akan merespon tiap gerakan saat pemain melancarkan serangan. Apabila terkena pukulan lawan, kita hanya akan merasa kesemutan, jadi ini bukan permainan yang bisa melukai para gamers. Sayangnya Sai melarangku untuk mencoba fitur ini karena keadaan tangan pasca operasi, akhirnya kami hanya bisa memainkannya dengan joystick … yah, cara klasik.

"Penasaran untuk mengalahkanku? Bagaimana kalau kau mencoba satu ronde lagi, Sakura?" senyumnya terkesan jahil, sementara aku hanya melirik Sai dengan tatapan menusuk. Ugh sialan, mau dua puluh kali mencoba pun hasilnya pasti tetap seperti ini!

"Nggak, aku capek! Bisa-bisa aku stress karena permainan ini. Lagipula, kenapa kau hebat sekali sih, Sai?! Kau tidak mengasihaniku sama sekali!" ketika melihat wajah Sai berseri-seri menahan tawa, aku hanya bisa mencibir, "Huh, sepertinya kau senang sekali melihatku menderita dalam kekalahan …."

"Hahaha, jelas saja … bagaimana kau tidak capek kalau main dengan penuh emosi seperti tadi? Menekan tombol-tombolnya sekuat tenaga, lalu berteriak frustasi," pria bersurai hitam ini lagi-lagi tertawa, "kalau ada orang luar yang mendengarmu, mereka akan menyangka kau psikopat yang berniat membunuhku, Sakura."

"SIAPA YANG MENYEBABKAN AKU SEPERTI TADI KALAU BUKAN KARENA KAU, HAH?!" habis sudah batas kesabaranku, dengan sekuat tenaga aku mengamuk seraya mengguncang-guncang tubuh Sai. Sementara pria ini hanya tertawa lepas … sama sekali tidak memberi perlawanan, "Lihat saja, sebelum si pantat ayam pulang, AKU AKAN MENGHABISIMU!"

.

.


"Siapa yang kau sebut si pantat ayam, hn?"

DEGG!

Suara itu sontak membuatku membatu.

Masih dalam posisi pembalasan dendam—dengan sebelah tangan mencengkeram pundak Sai—aku menoleh. Mendapati Sasuke Uchiha berdiri angkuh sambil melipat kedua tangannya di depan dada, lalu tersenyum penuh arti. Melirik jam yang tertera pada Dextrale, aku baru menyadari jika ini sudah sore. Kami keasyikan bermain sampai melupakan waktu. Saat itu, sungguh … jantungku serasa hampir copot. Gyaaa, dia pasti dengar kalimatku barusan, ini gawat! Senyuman pemilik onyx itu justru membuatku merinding. Habis sudah … ini hari kiamat bagimu, Sakura!

"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya dengan intonasi super datar namun menusuk.

"A—Eh … Maaf, Sasuke-san! Ta—tadi aku—" ucapku terbata-bata. Bagus sekali, dalam situasi genting seperti ini mendadak aku berubah menjadi makhluk gagap.

"Oh, Uchiha-sama … Anda sudah pulang? Selamat datang," berbeda dengan reaksiku, Sai bangkit dari posisinya untuk memberi bungkuk hormat pada sang tuan, "Maaf jika kami membuat keributan, kami hanya mencoba memainkan salah satu fighting game."

"Suara kalian terdengar sampai ke garasi," Sasuke memiringkan kepalanya ke samping, "lalu, siapa pemenangnya?"

Dengan penuh harap aku melirik ke arah Sai, berharap kali ini dia tidak berkata jujur.

"Dari hasil sepuluh ronde, sayangnya Nona Sakura belum bisa menang melawan saya, Tuan."

Jujur itu kadang menyakitkan. Tch, fakta rekor kekalahan yang menyedihkan itu membuatku kesal! Apalagi saat ini, Sasuke malah melirik ke arahku dengan pandangan mengasihani … Huaaa—sialan!

"Sudah kuduga hasilnya akan seperti itu," tanpa aba-aba Sasuke malah berjongkok dan mengambil tempat di sebelahku, "kau terlihat frustasi, Sakura. Saat kau berteriak, kukira ada penyusup masuk dan kau berniat membunuhnya."

"Hee—kalau kau mengalami kekalahan dalam sepuluh ronde berturut-turut, kau pasti mengerti bagaimana perasaanku saat ini, Sasuke-san," aku hanya bisa meringis.

.

"Benarkah? Sepertinya menarik," Sasuke malah duduk dan mengambil joystick yang tergeletak, lalu menoleh, "aku ingin mencoba permainan ini ... apa kau mau coba melawanku, Sakura?"

Aku melongo. A—Apa barusan aku salah dengar? Seorang direktur TAKA yang gila kerja dan otaknya hanya dipenuhi oleh strategi bisnis, sekarang bisa-bisanya duduk dan mengajakku bermain game?! Kami-sama … jangan-jangan ini indikasi Sasuke Uchiha mengidap gegar otak ringan!

"Kenapa diam?" Sasuke menaikkan satu alisnya, "Kau takut?"

"Hah? Ooh—tidak kok! Aku hanya heran, langka sekali melihatmu berkutat dengan hal selain pekerjaan," mengesampingkan semua rasa bingung, aku meraih joystick untuk menerima tantangannya, "Baiklah, ayo kita main! Aku tidak akan segan-segan mengeluarkan semua jurus lho, Sasuke-san!"

"Hn … gertakan yang bagus, kita lihat bagaimana kemampuanmu," mata Sasuke sudah mulai menyeleksi pilihan karakter dalam layar raksasa di hadapannya. Aku pun segera melakukan hal yang sama, yosh … kali ini aku tidak boleh kalah! Sepuluh kali kalah melawan Sai bisa jadi pengalaman untuk menghabisi si pantat ayam … aku akan berusaha! Kapan lagi kau dapat kesempatan untuk menjatuhkan sang direktur TAKA selain dalam game, Sakura?!

Tapi, belum sempat memilih karakter jagoan untuk melawanku, Dextrale milik Sasuke berkedip berulang kali—menandakan sebuah panggilan masuk—dan perhatian pria ini langsung teralih.

.

.

"Ya, Uchiha di sini," jawabnya datar, dan seketika itu juga keheningan terjadi. Awalnya kupikir urusan pekerjaan, namun ketika sang penelepon baru menyampaikan beberapa patah kata … raut wajah Sasuke langsung berubah tegang, "baiklah, akan kulihat. Terima kasih atas informasinya, Yamanaka."

Firasatku berkata sepertinya ada yang tidak beres. Dan benar saja, tepat setelah ia menutup panggilan telepon dari Ino, Sasuke mendengus, "Sepertinya permainannya harus ditunda, Sakura. Ada berita penyerangan baru terhadap Children of Konoha."

A—APA?! Pupilku otomatis melebar ketika mendengarnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sasuke menjentikkan jari dan membuat tampilan "layar Iron Man" di hadapan kami berubah menjadi biru. Lalu masih dengan wajah tanpa ekspresi, ia memilih sebuah saluran televisi. Dalam sekejap mata tampilannya berubah menjadi saluran berita yang menayangkan gambar seorang pria tampan yang berdiri tegap di antara kerumunan para wartawan.

Pria yang dibalut dengan busana formal serba putih itu tampak kontras dengan rambutnya yang merah menyala. Meskipun dikelilingi oleh wartawan dan jepretan blitz kamera dari berbagai sisi, pria beriris hazel ini tetap menunjukkan senyum penuh wibawa. Bagaimana menjelaskannya ya … bagiku, pria ini seperti memiliki kharisma yang mampu membuat orang-orang hormat padanya. Lalu, pada bagian headline caption di bawah layarnya tertulis sebuah kalimat dalam ukuran besar, "AKASUNA NO SASORI DISERANG! APAKAH INI ANCAMAN UNTUK CHILDREN OF KONOHA?"

Emerald-ku mengerjap … apa pria ini juga salah satu anggota dari Children of Konoha?

.

"Sekitar satu jam yang lalu, telah terjadi penyerangan terhadap Akasuna no Sasori; yang dikenal sebagai salah satu anggota Children of Konoha. Mobil yang biasa dikendarainya mengalami gangguan fungsi GPS, yang mengakibatkan kendaraan berpindah rute tanpa sepengetahuan sistem dan berakhir pada kecelakaan lalu lintas. Namun saat kejadian berlangsung, Sasori tidak berada di lokasi kejadian. Jadwal lembur membuatnya luput dalam kecelakaan tersebut. Nasib malang justru menimpa nyawa sang bodyguard yang bernama Lee, anggota Secret Service itu bermaksud menukar kendaraan milik Sasori dan menjadi korban tunggal dalam kecelakaan yang terjadi satu jam yang lalu."

Aku menoleh, secara bergantian menatap ekspresi Sai dan Sasuke yang terus terpaku pada layar, terhipnotis pada isi berita. Ekspresi keduanya tetap tenang, namun dari aura yang menguar di sekitar ruangan ini … sepertinya mereka cukup terkejut dengan berita penyerangan tersebut. Jelas saja, ini juga menyangkut nyawa Sasuke selaku sesama anggota Children of Konoha. Selesai memperhatikan mereka, pandanganku kembali teralih menatap layar televisi.

Para wartawan yang mengelilingi tubuh si pria berambut merah mulai mengajukan beberapa pertanyaan, meminta keterangan yang bisa dikaitkan dengan kecelakaan yang menimpa sang bodyguard. Beberapa di antara mereka juga bertanya apakah pria bernama Sasori ini punya musuh, atau orang yang patut dicurigai sebagai pelaku penyerangan. Namun, lagi-lagi … dengan gestur sederhana dan senyum tipis, Sasori berhasil meredakan luapan pertanyaan para pemburu berita.

"Rekan wartawan, saya tidak memiliki musuh atau seseorang yang dibenci. Mengenai orang yang patut dicurigai atas kejadian ini, semua akan saya serahkan pada penyelidikan Secret Service," ujarnya dengan tenang, "untuk sekarang, saya hanya ingin berduka untuk rekan saya, Lee; pengawal yang telah menjalankan tugasnya sejak tiga minggu yang lalu. Atas musibah yang telah menimpanya, saya turut berbelasungkawa dan berharap dapat menemui pihak keluarganya sesegera mungkin. Terima kasih."

"Siapa pria bernama Sasori ini, Sasuke-san?"

"Salah satu anggota Children of Konoha … sama sepertiku," Sasuke menjawab sekenanya, "apa Yamanaka sudah menjelaskan semua tentang Children of Konoha, Sakura? Termasuk siapa saja anggota yang tergabung di dalamnya?"

Aku menggeleng.

"Hn, kalau begitu ini saatnya kau mengenal mereka," lagi-lagi ia menjentikkan jari di udara. Suasananya mirip seperti pertama kali aku sadar di Konoha, di mana komputer canggih ini menjelaskan tentang Jepang dan bencana yang menimpa bumi beberapa dekade yang lalu. Hanya saja, keyword yang Sasuke gunakan untuk pencarian informasi kali ini berbeda. Bukan "Jepang", melainkan "Children of Konoha".

.

.


Setelah bencana besar yang menimpa bumi beberapa dekade lalu, seleksi alam dan perang berkepanjangan membawa dampak negatif pada kehancuran negara-negara, punahnya makhluk hidup dan rusaknya ekosistem dunia. Sebagian dari sisa-sisa dari ras manusia yang mampu bertahan hidup berpencar, mati-matian mempertahankan daratan yang belum tertutup oleh air. Di antara sebagian daratan yang tersisa tersebut, muncullah sebuah kedaulatan baru dengan nama Konoha. Daratan ini tidak hanya mementingkan besarnya wilayah kekuasaan namun ikut memperhatikan estetika dalam harmonisasi kehidupan rakyatnya. Mereka ingin menciptakan negara dengan titik balik kehidupan manusia sebelum bencana; dimana manusia dapat bekerja menurut talentanya masing-masing.

Jumlah populasi penduduk Konoha dari tahun ke tahun dapat dikatakan stagnan, hal ini dikarenakan adanya pergeseran pola pikir masyarakat; mereka takut tidak dapat memenuhi biaya hidup yang sangat tinggi. Keinginan untuk bertahan hidup membuat mereka mengesampingkan filosofi dasar manusia untuk berkeluarga dan memiliki keturunan. Sebaliknya, mereka tumbuh menjadi para workaholic, mengabdikan hidupnya untuk bekerja. Mayoritas masyarakat bekerja pada instansi negara atau perusahaan besar yang dikelola oleh beberapa anak-anak emas Konoha. Mereka dipercaya bisa membawa perubahan dalam kehidupan umat manusia.

Berjumlah tujuh orang dan semuanya pria, mereka dikenal dengan sebutan "Children of Konoha".

.

Kiba Inuzuka; kandidat termuda dari Children of Konoha karena usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun. Namanya diperhitungkan dalam dunia pertanian setelah berhasil mengatasi kesulitan bercocok tanam di tanah terbatas dengan mengembangkan beberapa media tanam. Sayangnya, ia tewas dalam kecelakaan lalu lintas beberapa minggu yang lalu.

Naruto Uzumaki; pria berusia dua puluh tujuh tahun yang berprofesi sebagai aktor, model, dan idola paling bersinar di Konoha. Ia mengukuhkan diri sebagai satu-satunya anggota Children of Konoha yang berasal dari dunia entertainment. Popularitasnya sangat tinggi, namanya menjadi jaminan sukses pada setiap karya-karya yang ia bintangi, termasuk mempromosikan kegiatan sosial pemerintah.

Sasuke Uchiha; pebisnis handal berusia dua puluh tujuh tahun yang mengendalikan TAKA Corporation. Bersama Itachi; sang kakak yang terpaut usia lima tahun darinya, Uchiha bersaudara mengukuhkan kedudukan perusahaannya sebagai pengembang alat bantu pernapasan bernama Zephyr. Bukan hal yang aneh jika keduanya tercatat menjadi anggota Children of Konoha dengan jumlah penghasilan terbanyak ketiga dari antara anggota lainnya.

Akasuna no Sasori; politisi ternama Konoha yang kini berusia dua puluh sembilan tahun. Pria yang dikenal ramah dan penuh wibawa ini merupakan ahli diplomasi yang bertangan dingin dalam menyelesaikan berbagai masalah kenegaraan. Sasori merupakan salah satu politisi yang memiliki akses eksklusif dengan Hokage—sebutan bagi pemimpin Negara Konoha. Sebagai individu yang bergabung dengan instansi pemerintah, Akasuna no Sasori merupakan opsi terbaik dari yang terbaik.

Tobirama Senju; adalah sosok yang berperan mengembangkan Konoha dari pusat hingga pelosok. Pria berusia tiga puluh tahun ini merupakan seorang seniman dan ahli tata kota yang seluruh proyeknya terlibat dengan pemerintah dalam hal pengembangan negara. Bersama perusahaannya; ANBU, Tobirama menguasai sebagian besar saham dari proyek-proyek yang dikembangkan oleh pemerintah. Kocek kekayaannya mampu membawa pria yang baru menjajaki kepala tiga ini menduduki posisi kedua dalam hierarki kemakmuran Children of Konoha.

Shikamaru Nara; adalah anggota terakhir dari Children of Konoha. Jangan terkecoh dengan usianya yang baru berusia dua puluh delapan tahun, pria ini dikenal sebagai pencipta gelang Dextrale. Sistem kehidupan umat manusia di Konoha dapat diatur menggunakan Dextrale, keberadaan gelang ini merupakan barang wajib yang harus dimiliki tiap individu. Bukan hanya menguasai seluruh kehidupan masyarakat dengan produknya, Shikamaru juga merupakan "pencipta" dari 70% populasi robot yang ada di Konoha. Atas kinerjanya, sejak bertahun-tahun yang lalu Shikamaru tercatat sebagai pria jenius yang berhasil mengumpulkan pundi-pundi terbanyak se-Konoha.

.

.


Terus terang, aku hanya diam ketika komputer canggih ini bercerita panjang lebar mengenai identitas anggota Children of Konoha. Bukannya tidak mengerti lho, hanya saja … bagiku, mereka tidak terlihat seperti manusia normal! Bagaimana tidak? Dari semua penjelasan tadi, jelas-jelas terasa bahwa kedudukan mereka terpaut jauh dengan penduduk lainnya. Keberadaan anak-anak emas ini bagaikan dewa yang diagung-agungkan masyarakat, dianggap akan membawa angin perubahan pada segala aspek kehidupan, dan pada kenyataannya … semua gerak-gerik mereka secara tidak langsung mempengaruhi setiap perkembangan yang terjadi di Negara Konoha.

Bukan hal yang mengherankan jika terjadi kecemburuan sosial atau timbulnya niat buruk dari pihak tertentu yang mengincar nyawa kumpulan para dewa kaya raya se-antero Konoha. Yah … siapa sih yang tidak tergiur untuk berada pada posisi makmur seperti yang mereka dapatkan saat ini? Bisa diibaratkan, Children of Konoha adalah pilar-pilar yang menopang kestabilan Konoha dari berbagai sisi. Sebagai produsen gelang ajaib dan alat bantu pernapasan yang wajib dimiliki warga, sebagian lagi merupakan ahli tata kota, politisi, ahli pangan, dan seorang entertainer yang memiliki ketenaran untuk menggerakkan massa ... tch, mereka adalah manusia kelas atas yang tergabung menjadi satu!

Hee—tunggu dulu, apa jangan-jangan ini perwujudan The Avengers versi dunia bisnis di masa depan?!

"Tampaknya hari-hari Anda ke depan akan sedikit sibuk dengan kedatangan para penyelidik, Uchiha-sama," perkataan Sai membuyarkan keheningan di ruangan ini. Dua pria di sampingku sedang bercakap-cakap dengan tenang, "terutama pria Hyuga yang seharusnya mengemban tugas untuk mengawal Anda ... kurasa dia akan datang kembali untuk melanjutkan investigasi."

"Hn, aku akan meminta Yamanaka menolak kedatangan pria itu," jawab sang direktur, "meski sepertinya cara itu tidak akan berhasil. Oh—aku lupa, sekarang aku sudah bisa mengandalkan peranmu, Sakura."

"Hah? A—Apa?" Aku menoleh, tidak mengerti dengan arah pembicaraannya.

"Mulai besok kau resmi bertugas menjadi robot bodyguard untuk menjagaku. Kau sudah mempelajarinya dalam simulasi, 'kan?"

"Eh? I—Iya, hanya saja … aku masih khawatir," aku menghela napas dalam-dalam, "sedikit khawatir bagaimana jika penyamaranku, ehm … terbongkar."

Berlainan dengan gumaman kecil yang kulontarkan melalui bibir, batinku menjerit protes. Huaaa—sial, kurasa ini awal mula derita dari pekerjaanku sebagai bodyguard gadungan Sasuke Uchiha!

"Tenang. Semua akan baik-baik saja," Sasuke menarik segaris senyum tipis untuk meyakinkanku, "biar aku yang mengurus penyelidik Secret Service keras kepalaitu, kau cukup melakukan apa yang sudah kau pelajari selama simulasi. Aku yakin kau bisa melakukannya, tidak perlu cemas."

.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, "Aku akan berusaha, Sasuke-san."

Ia mengangguk singkat sebelum mempersilahkan Sai pergi untuk menyiapkan makan malam. Namun detik berikutnya … pandanganku kembali bertemu dengan onyx-nya. Tampak dingin, datar, tanpa ekspresi, namun terlihat sedikit menerawang. Aku mengira-ngira apa yang sedang ia pikirkan saat ini.

"Sakura?"

Aku menaikkan kedua alisku sebagai gestur bahwa aku mendengarkan.

"Sebagai bodyguard, kau akan selalu mendampingiku, baik di TAKA atau ketika aku harus melakukan dinas ke luar. Kau akan berhadapan dengan dunia yang … mungkin cukup berbeda dengan negara asalmu dulu. Keadaan di luar mungkin lebih baik atau buruk dari bayanganmu, tapi yang jelas kau harus tetap waspada. Dan saat kita diharuskan meninggalkan Konoha, aku ingin kau melakukan satu hal," ia memberi jeda. Setelah aku mengangguk, Sasuke baru melanjutkan ucapannya, "pastikan kau tetap berada di sisiku, Sakura."

Hah? Aku … harus tetap berada di sisinya?

Sejujurnya aku tidak tahu, dan belum bisa membayangkan … memangnya seperti apa "dunia luar" yang dikatakan oleh Sasuke? Apakah sangat berbahaya? Namun, melihat ekspresinya yang begitu serius, tampaknya aku tidak punya pilihan selain mengangguk setuju, "Baik. Aku mengerti, Sasuke-san."

.

.


Konoha's Government Building - Central Konoha

Seluruh proses pembicaraan antara delegasi pemerintah Konoha dengan Naruto Uzumaki dihentikan untuk sementara waktu. Semuanya sibuk menatap layar televisi yang menampilkan bagaimana bentuk mobil Akasuna no Sasori mengalami kecelakaan tunggal, sementara pria berambut pirang ini sempat beberapa kali mencuri pandang ke arah belakang—tempat di mana Hinata berdiri—sekedar untuk melihat ekspresi wanita itu.

Beberapa menit sebelumnya, salah satu anggota Children of Konoha ini sedang mengadakan rapat mengenai program kampanye sosial, di mana pemerintah membutuhkan peran Naruto sebagai entertainer ternama untuk menarik animo masyarakat. Baik Hinata maupun Naruto, saat ini keduanya tengah berada di gedung pusat pemerintah Konoha. Gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan terletak di pusat kota ini merupakan tempat bekerja bagi sebagian besar karyawan yang tergabung dalam instansi pemerintahan Konoha, termasuk bagi Akasuna no Sasori.

"Sepertinya lobby penuh dengan kehadiran wartawan, untung Sasori-san bisa menghadapi mereka dengan baik. Oh ya, jangan sampai mereka tahu Uzumaki-san berada di gedung ini, bisa-bisa keadaan bertambah heboh," salah satu pria dari divisi promosi berkomentar, "yah, para pemburu berita paling tahu bagaimana memberi 'bumbu' dalam artikel surat kabar mereka."

Komentar tersebut ditanggapi dengan anggukan setuju.

"Uzumaki-san, apa benar kalian sedang diincar?" celetuk salah satu peserta rapat di ruangan itu. Secara otomatis, seluruh perhatian dari layar televisi pun teralih menuju Naruto, "Kudengar dari salah satu rekanku di Secret Service, keberadaan kalian sedang dilindungi. Itukah sebabnya Nona Hyuga ada disini mendampingimu? Apa kita harus menjadwal ulang proyek ini sampai keadaan dinyatakan aman?"

"Hee? Ahahahaha, itu gosip! Tidak ada ancaman yang berbahaya, kurasa Secret Service terlalu paranoid menanggapi hal-hal seperti ini!" dengan senyum lebar, Naruto berusaha mengelak sambil mengibas-ngibaskan tangannya, "Mungkin kendaraan Sasori-san memang sedang bermasalah sehingga mengacaukan sistem GPS, bisa saja terjadi, 'kan? Berita ini jangan dibesar-besarkan, aku siap bekerja kapan pun!"

"Benarkah? Kalau begitu Anda tetap bersedia untuk memulai kampanye sosial ini, Uzumaki-san?"

"Tentu! Aku siap membantu Konoha, apalagi program sosial ini juga ditujukan untuk mendirikan gedung perlindungan anak yatim piatu, 'kan? Tentu saja aku setuju!" pria itu memberikan senyuman lalu berjabat tangan dengan seluruh peserta rapat, mengakhiri pembicaraan hari ini.

.

Dari tempat ia berdiri, Hinata Hyuga hanya menatap punggung Naruto dalam diam. Berharap pria itu akan menoleh selama sepersekian detik untuk sekedar meminta pendapat. Namun, hal itu tidak terjadi. Ya, Hinata tidak punya hak untuk melarang semua keputusan Uzumaki Naruto mengenai pekerjaannya, sekalipun ia menjadi pengawal yang merangkap sebagai "manajer artis" bagi pria itu. Dia merasa pekerjaan utamanya tetap sebagai bagian dari Secret Service, dan dalam hal tersebut … ia tidak diperbolehkan terlalu mencampuri urusan pekerjaan sang klien.

Pemerintah Konoha—yang juga bekerja sama dengan Tobirama Senju—saat ini sedang berusaha mengembangkan lahan East Konoha agar layak huni. Proyek ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan penduduk di Central Konoha sehingga aktivitas perekonomian bisa berjalan dari semua sektor. Meskipun ini merupakan proyek pemerintah, Hinata harus mengakui bahwa sebagian daerah di East Konoha masih berupa "lahan terabaikan" akibat struktur tanahnya yang rapuh dan mudah amblas. Jika mengingat berbagai ancaman yang ditujukan terhadap para anggota Children of Konoha akhir-akhir ini, posisi Naruto yang akan mengadakan promosi di daerah tersebut akan cukup beresiko.

Masih menyimpan semua pemikirannya dalam hati, Hinata mengikuti sosok kliennya yang beranjak keluar dari ruangan. Ia membungkuk hormat pada anggota rapat yang lain sebagai gestur undur diri.

Keduanya diam membisu.

.

.


"Seharusnya tadi kau duduk di sampingku, bagaimana sih?" gerutu Naruto setelah mereka meninggalkan ruangan, "Kau 'kan manajerku, Hinata-chan? Mana boleh seorang manajer santai-santai di belakang dan tidak mengikuti jalannya rapat, sementara artisnya sibuk bernegosiasi?"

Sebaliknya, Hinata hanya membalas ocehan Naruto dengan tatapan malas, dan hal itu berlangsung beberapa kali. Meski sadar Hinata mengacuhkannya, pria berambut jagung ini masih berusaha menceriakan suasana, berharap keheningan di antara mereka segera berakhir. Namun tetap saja, lawan bicaranya tidak memberi respon seperti yang ia inginkan.

"Kenapa kau jadi pendiam sekali, Hinata-chan?" berjalan berdampingan di lorong kantor pemerintahan Konoha, Naruto menangkap keanehan pada wanita itu, "Hmm maksudku, kau memang tidak banyak bicara sih, tapi ini dua kali lipat lebih sunyi dari biasanya. Apa ada masalah?"

"Tidak ada, hanya perasaanmu, Uzumaki-san," jawab wanita itu dengan nada dingin.

Naruto hanya menatap Hinata dari samping, sebelum ia membuka sebuah pintu menggunakan Dextrale lalu mempersilahkan wanita itu berjalan beberapa langkah di depannya. Hinata Hyuga tetap tak bergeming saat melewati pintu itu dan berjalan mendahului sang aktor ternama.

.

"Kau marah padaku?"

Hinata tetap tidak menjawab.

"Apa karena proyek kampanye itu?" sambar Naruto dari belakang, menatap tubuh mungil Hinata yang kini terpaut satu meter di depannya.

"Tch, tentu tidak … lagipula itu bukan urusanku. Maaf, mungkin aku kelelahan dan—"

"Sebenarnya kau tidak setuju pada rancangan kampanye itu, 'kan?" potong Naruto, "Kau tidak mau berkomentar semata-mata karena menghargai 'posisiku' sebagai klienmu, juga karena tugasmu sebagai bodyguard-ku. Sudah kubilang, jangan anggap aku sebagai beban, Hinata-chan."

Wanita itu langsung menghentikan langkahnya, lalu berbalik.

"Beban? Kalau kau tidak ingin aku menganggapmu seperti itu, kenapa tadi kau tidak memikirkan posisimu sendiri, Uzumaki-san? Saat kau mengiyakan proyek tersebut di hadapan semua orang, apa kau sudah memikirkan konsekuensinya? Apa kau juga memikirkan keselamatanmu?" timpal Hinata. Lavendernya kini balas menatap Naruto tanpa rasa takut, "Apa kau tahu? Dari hasil pemeriksaan Secret Service, mobilmu dipasangi jammer yang membuat sirkuit jaringan elektroniknya kacau, pengendaranya bisa mengalami kecelakaan. Kalau tadi kita mengendarai mobil itu, mungkin saat ini yang berada di berita televisi bukan Sasori … tapi namamu."

Uzumaki Naruto terdiam ketika wanita itu menjelaskan soal jammer pada mobil kesayangannya.

"East Konoha itu daerah tanah resapan yang cukup rawan, orang-orang yang mengincar nyawamu bisa mendapatkan kesempatan emas di sana, Uzumaki-san! Ditambah lagi, daerah itu merupakan lokasi di mana Itachi Uchiha menghilang. Jika semua hal itu tidak terlintas di pikiranmu, kenapa kau tidak bisa setidaknya … tch, menoleh ke belakang? Aku bisa mengajukan opsi lain atau—"

"Karena aku tahu kau tidak akan setuju."

Jawaban itu sukses membuat Hinata mengerutkan alisnya, "A—Apa?"

"Aku tahu sebenarnya kau tidak setuju pada program sosial ini. Karena kita berbeda pendapat, makanya … saat memutuskan, aku tidak menengok ke arahmu. Maaf."

"Aku tidak setuju pada proyek ini? Jangan bercanda," Hinata mendengus tak percaya, "Bagaimana caranya kau tahu, Uzumaki-san? Bahkan kau sama sekali tidak menanyakan pendapatku, 'kan?"

Pria di hadapannya hanya bisa mengangguk pasrah.

"Yaah memang sih, hmm … bagaimana menjelaskannya ya? Sebenarnya, sejak rapat dimulai, aku terus memperhatikanmu," Naruto Uzumaki menyeringai, sebelah tangannya menggaruk rambut meski tidak terasa gatal, "Memang aku tidak bertanya langsung. Aku hanya berusaha membaca ekspresi wajahmu ... dan dari sana aku tahu; kau tidak setuju pada proyek ini. Apa salah?"

.

Hinata diam, merasa kecolongan. Kapan aktor ini menangkap ekspresi ketidak-sukaannya terhadap proyek East Konoha? Keduanya hanya saling bertatapan selama beberapa detik, dan berakhir dengan helaan napas panjang dari Naruto.

"Haah … sejujurnya, alasanku menyetujui proyek ini hanya karena mereka ingin membangun tempat perlindungan untuk anak yatim piatu. Kau tahu, mayoritas dari anak yatim piatu di Konoha adalah anak-anak malang yang ditinggalkan para orang tua tidak bertanggung jawab; yang menganggap kelahiran seorang anak adalah 'beban' yang tidak seharusnya mereka tanggung. Aku hanya ingin menolong anak-anak itu, Hinata-chan. Mungkin aku jadi terlalu bersemangat dan tidak memperkirakan konsekuensinya, juga tidak menanyakan pendapatmu sebagai seorang manajer," tampaknya pria bersurai pirang ini sedikit menyesal dengan sikapnya selama berada di ruang rapat, "jadi … tolong maafkan aku."

Takut menerima tatapan menusuk dari wanita dingin di hadapannya, Naruto menunduk, hanya memberanikan diri untuk melirik. Namun lain dengan apa yang ia takutkan, bukannya marah, Hinata justru menggelengkan kepala lalu menepuk ringan pergelangan tangan Naruto.

"Hei, kurasa aku yang salah paham dan mengira kau tidak pernah berpikir panjang, Uzumaki-san," mendengar itu, sekarang Naruto bisa bernapas lega, "Aku tidak tahu kalau itu alasannya, tentu saja aku ikut berharap semoga tempat perlindungan itu bisa segera didirikan. Lagipula kau sudah menandatangani surat kontraknya. Sudahlah, ayo kita lakukan proyek ini sebaik mungkin! Seharusnya sebagai manajer aku mendukungmu, bukankah begitu, Uzumaki-san?"

"I—Iya. Hmm, kau … tidak marah?"

"Marah?" Hinata langsung menggeleng, "Tentu saja tidak. Pada dasarnya aku hanya ingin memintamu lebih banyak berpikir dan mempertimbangkan baik-buruknya keputusanmu. Kita harus lebih berhati-hati dalam menghindari bahaya yang mungkin mengancam, Uzumaki-san."

"Hahaha itu benar, aku malas berpikir sih!" Naruto tertawa, "Ooh ya, aku punya ide untuk mengatasinya! Hinata-chan ... bagaimana jika mulai sekarang kau akan mendampingiku sebagai seorang manajer, bukan sebagai pengawal! Dan itu berarti, dalam tiap rapat kau akan berada di sampingku, tidak lagi berdiri di belakang. Setuju, 'kan?"

Pupil Hinata membulat tak percaya.

"Hah? Ta—Tapi …"

"Eits, tidak ada kata 'tapi', ini sudah jadi keputusanku lho! Aku tahu kemampuanmu lebih hebat dibandingkan semua fitur schedule-planner yang ada pada Dextrale. Mohon bantuanmu ya, partner?" ujar Naruto riang, tidak memberikan Hinata kesempatan untuk menyela perkataannya. Pria itu kemudian mengangkat sebelah tangan di udara, mengajak sang wanita melakukan high-five, "Yosh! Mari kita berjuang bersama, Hinata-chan!"

"Ah … ya, baiklah." Hinata menanggapi ajakan high-five dari pria itu, lalu tersenyum manis.

Senyuman itu … sebuah gestur sederhana yang mampu membuat jantung Naruto terasa bergejolak dua kali lipat. Perasaannya kian menghangat, hatinya berdesir tak menentu. Rasanya ia kembali melihat satu sisi manis seorang Hinata Hyuga; seperti yang pertama kali dilihatnya sebelum mereka terikat kontrak. Meski senyuman manis itu hanya berlangsung sepersekian detik, namun efeknya terlalu besar untuk dimengerti oleh akal sehat seorang Uzumaki. Aneh, entah bagaimana menjelaskannya.

Kalau bisa … pria ini ingin melihat senyuman itu sekali lagi. Ah tidak, tidak … rasanya tidak cukup hanya sekali. Dia berharap Hinata bisa selalu tersenyum.

Tapi senyuman itu tidak tertuju pada semua orang … ya, hanya untuknya.

.

.

.


TAKA Corporation

Suasana pagi ini tidak setenang yang kubayangkan. Sejak pagi si pantat ayam tampak tergesa-gesa, ia bahkan memintaku agar sarapan di kantor padahal Sai baru saja selesai membuatkan sepiring omelette. Alhasil aku harus berangkat pagi-pagi dengan perut kosong. Kenapa hari pertamaku bekerja sebagai bodyguard Sasuke Uchiha tidak bisa berjalan dengan keadaan tenang dan tenteram sih?! Meski sebenarnya dengan status baruku sebagai "robot", sarapan dimana pun tidak akan menjadi masalah.

Pada dasarnya AI dapat melakukan semua aktivitas yang dapat dilakukan oleh manusia, termasuk makan atau minum … hanya saja mereka tidak dibekali perasaan untuk menikmati apa yang mereka konsumsi. Secanggih apapun robot, mereka tidak pernah tahu bagaimana perasaan nyaman ketika menghirup aroma teh herbal yang menguap dari cangkir, atau bagaimana rasanya menyantap es krim saat musim panas. Robot juga tidak akan mengerti tentang status cinta bertepuk sebelah tangan, dan tidak perlu repot mengurusi urusan patah hati ... mereka memang tidak di program untuk mengenal "perasaan".

Meskipun secara fisik AI sulit dibedakan dengan manusia asli, namun tetap saja … mereka berbeda. Manusia tetap menjadi makhluk kompleks yang memiliki perasaan dan cara pandang masing-masing, juga memiliki akal budi yang tidak dikendalikan oleh mesin.

.

Aku mengikuti langkah Sasuke menuju ruang kerjanya, dengan langkah-langkah lebar yang kini tidak terlalu merepotkan bagiku. Ya, aku sudah cukup terbiasa mengikuti kecepatannya yang luar biasa. Dengan tak sabaran, Sasuke membuka pintu ruangannya menggunakan Dextrale lalu bergegas masuk, sementara aku masih mengikuti dengan tenang. Kami datang lebih awal, suasana masih sepi, bahkan batang hidung Ino sebagai sekretaris Sasuke pun belum terlihat dimana pun.

Dan di sinilah kami berada; ruang direktur yang megah namun terasa dingin. Menghempaskan tubuh ke sofa nyaman yang berada di tengah-tengah ruangan, irisku sesekali memperhatikan gerak-gerik Sasuke Uchiha. Sudah kuduga, pria workaholic itu langsung bergerak menuju meja kerja, membuka laci lalu mencari sesuatu dengan terburu-buru. Aku tidak mengerti … apa sih yang sedang dilakukannya? Lagipula, kenapa ia datang sepagi ini? Isi otak seorang direktur TAKA benar-benar membingungkan.

Setelah mengambil satu map berwarna putih, onyx-nya menangkap keberadaanku di sofa. Ia menaikkan kedua alisnya, "Luar biasa, Sakura. Di hari pertama bekerja sebagai bodyguard-ku, langkah pertama yang kau lakukan adalah duduk nyaman di sofa."

"Tch, apanya yang luar biasa? Aku sudah duduk di sofa ini puluhan kali, Sasuke-san," ujarku tak mau kalah, "hee—aku salah ya, apa seharusnya mulai sekarang kupanggil dengan sebutan Uchiha-sama?"

Sasuke menggelengkan kepala.

"Aku tidak pernah memintamu untuk memanggil namaku dengan sebutan yang sama dengan para pekerja," sepasang onyx-nya secara terang-terangan menatapku itu mampu membuat bibirku berhenti berkomentar. Sial, dia benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku bungkam!

Sejak kami sering makan bersama—dimana Sasuke selalu menghabiskan jatah tomat di piringku—yah, harus kuakui … hubungan kami jadi lebih dekat. Entah ini hanya perasaanku atau bukan, aku merasa sifat dan perlakuan Sasuke padaku sedikit berbeda. Ketika berhadapan dengan orang lain terutama para karyawannya, ia akan tampil sebagai sosok pemimpin yang tegas, dingin, dan pelit bicara. Menempatkan diri sebagai seorang direktur yang berkuasa dan tidak bisa digapai, seolah-olah antara dirinya dengan para pekerja terdapat sebuah dinding pemisah yang menjulang tinggi. Klise memang, tapi Ino sendiri sampai mengakui gambaran itu.

Namun anehnya, ketika kami hanya berdua seperti saat ini, entah kenapa aku merasa Sasuke lebih … terbuka? Meskipun sifat dingin—yang merupakan sifat bawaan si pantat ayam—masih terasa, Sasuke lebih leluasa bicara tanpa terkesan membangun tembok bertuliskan "direktur". Ditambah beberapa senyuman langka yang kutemui saat ia menertawai ocehanku, hmm … bagiku dia terlihat lebih manusiawi. Apa ini hanya perasaanku saja ya? Aku tidak mengerti, tapi juga tidak membencinya sih ….

.

.


Sasuke duduk tepat di sampingku, dan dari jarak yang hanya terpaut beberapa sentimeter itu aku bisa mencium aroma parfum maskulin yang selalu dikenakannya, "Oh ya, aku sudah meminta salah satu robot pekerja membawakan sarapan untukmu."

"A—Apa?" spontan aku terbelalak, terbangun dari lamunan, "Kapan kau memintanya?"

"Saat kita menaiki elevator, kau lapar 'kan? Oh, mungkin kau tidak tahu kalau aku punya satu robot yang khusus dipekerjakan untukku?" Sasuke menyeringai, "Lalu, sambil menunggu makanan datang, aku ingin kau membaca data-data yang ada di map ini, Sakura."

Setengah kebingungan, dengan hati-hati aku menerima sebuah map berwarna putih dari genggaman Sasuke. Baru ketika membuka map tersebut, secara otomatis pupilku melebar … sederet huruf kapital bertuliskan "CRYONICS BOX – 001" menjadi kata pertama yang kubaca. Ditambah dengan cap stempel merah CONFIDENTIAL yang terpatri di sudut kanan kertas, jantungku mulai berdegup kencang. Rasa lapar yang kurasakan langsung menghilang.

"A—Apa ini?" tanyaku.

"Kudengar dari Sai, kemarin kau telah membaca isi dokumen tentang cryonics?" ia melanjutkan setelah aku mengangguk, "Ini adalah data khusus tentang CSB-001; kotak hitam yang menjadi tempat tidurmu selama tujuh dekade. Data ini sengaja kupisahkan dari dokumen yang dimiliki Sai atau Karin. Jadi, selain aku … kau adalah orang kedua yang membacanya."

Aku terbelalak.

HAH—apa aku tidak salah dengar? Ternyata cap "CONFIDENTIAL" ini bukan sekedar isapan jempol belaka, bisa-bisanya Sasuke menyembunyikan dokumen ini dari Karin, bahkan Sai sekalipun?!

.

"Kenapa kau merahasiakannya, Sasuke-san?"

"Karena dokumen ini berkaitan dengan perjanjian kita," sambung Sasuke, "bacalah … memang datanya kurang lengkap, tapi mungkin kau akan sedikit mengerti tentang proyek cyronics ini."

Aku sekedar mengangguk sebagai respon, namun pikiranku sudah melayang menelusuri kata demi kata dari alinea pertama dokumen CSB-001. Prolognya serupa dengan apa yang kubaca dari data milik Sai kemarin; mengenai perkembangan ilmu cryonics dan gerakan pemerintah Jepang untuk menanggulangi punahnya ras manusia akibat bencana alam besar. Paragraf-paragraf berikutnya menceritakan tentang gagasan proyek CSB yang disambut baik oleh pemerintah termasuk perdana menteri, alinea demi alinea akhirnya membawaku menuju beberapa informasi penting yang tidak kudapatkan dari dokumen Sai, yakni daftar peserta CSB-001! Sayangnya, dokumen tersebut telah usang dimakan usia, aku harus bersusah payah membaca tiap nama yang tertera dalam daftar.

Dari lima puluh peserta, aku menemukan beberapa tokoh terkenal ikut termasuk sebagai peserta. Ada beberapa calon legislatif pemerintah, dokter spesialis dengan segudang gelar, musisi, bahkan artis. Persentase kegagalan yang mencapai angka 90% dari CSB-001 membawa dampak besar terhadap Jepang kala itu, apalagi setelah tersiar kabar bahwa tokoh-tokoh terkenal yang ikut serta sebagai peserta harus meregang nyawa dalam waktu hampir bersamaan. Proyek ini mendapatkan kecaman besar dari sejumlah aktivis dan tokoh-tokoh agama dari seluruh dunia. Namun tetap saja, animo masyarakat mengenai program ini tetap tinggi … terutama karena iming-iming kalimat "hidup di masa depan".

Aku hanya terfokus mencari tiga buah nama; yaitu nama kedua orang tuaku, dan tentunya … namaku. Tapi, setelah mengulang pencarian daftar ini hingga tiga kali, akhirnya aku memastikan bahwa TIDAK ADA nama Kizashi maupun Mebuki Haruno tercantum di sana. Nama mereka juga tidak tercantum dalam data CSB-003 yang kudapatkan melalui data dari Sai. Ya Tuhan … semua fakta ini membuat keyakinanku goyah. Artinya sudah pasti; ayah dan ibuku tidak terdaftar dalam proyek itu!

Sungguh, perasaanku berkecamuk, aku hanya bisa mengepalkan kedua tangan untuk melawan rasa nyeri yang kurasakan di ulu hati. Memang, di satu sisi aku sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk; bahwa harapan yang kubangun lewat pikiran positif atau untaian doa harus berakhir sia-sia. Bahwa aku harus mawas diri untuk menerima kenyataan "orang tuaku telah tiada akibat bencana". Namun di sisi lain, kekecewaan juga rasa kehilangan yang menjalar ke sekujur tubuh ini terasa begitu menyiksa! Apa benar-benar sudah tidak ada harapan? Apa setidaknya … aku bisa mengetahui kabar terakhir mengenai kondisi mereka sebelum tiada? Apa sama sekali tidak ada titik terang?!

Kami-sama … kenyataan ini membuat hatiku sakit seperti tercabik-cabik.

.

.

Lalu dengan berusaha sekuat tenaga mengendalikan emosi, aku melanjutkan pencarian. Secara urutan alfabetis aku mencari nama "Sakura Haruno" dalam daftar peserta uji coba cryonics tersebut. Dan tidak terlalu memakan banyak waktu, emerald milikku mendapatkan sederet kalimat bertuliskan :

"Haruno Sakura (春野サクラ), female, 22 years old. Birthdate : March 28, blood type : O."

Tch. Entah kenapa, menemukan nama sendiri dalam daftar terkesan begitu mudah. Benar-benar miris, mengingat aku tidak tahu apapun mengenai kotak hitam yang menjadi tempat tidurku selama tujuh puluh tujuh tahun. Aku memejamkan mata selama beberapa detik, mencoba mengatur napas dan mengendalikan perasaan campur aduk di dalam otakku. Sial. Kenapa setiap kali aku mencoba mengorek informasi tentang apa yang terjadi di masa lalu, semua fakta yang kutemui harus berakhir dengan senyuman pahit? Jadi, ternyata memang benar … secara resmi aku TERDAFTAR sebagai salah satu peserta proyek Cryonics Box type 1.

Dari surat yang ditinggalkan ibu, beliau berkata bahwa mereka yang mendaftarkanku pada proyek ini. Tapi sebaliknya, yang lebih membuatku terkejut adalah lampiran lembar pengesahan data peserta yang telah di legalisir pihak penyelenggara proyek cryonics Jepang. Bentuk kertasnya sudah rapuh dan menguning karena termakan usia. Entah ini dokumen asli atau bukan, tapi yang jelas ….

Aku mendapati tanda tanganku terpatri di atas meterai.

.

.

"Aku tidak pernah melakukannya," kata-kata itu tanpa sadar meluncur dari bibirku.

"Hn?" Sasuke menoleh, "Kau tidak pernah melakukan apa?"

"Tanda tangan." Kualihkan pandanganku dari kertas untuk bertatap mata dengan onyx-nya, seraya menunjuk-nunjuk sisi kiri bawah lembar pengesahan, "Ini, memang tanda tanganku. Tapi seingatku … aku tidak pernah melakukannya, Sasuke-san. Bagaimana mungkin aku menanda tangani surat perjanjian yang programnya sama sekali tidak kumengerti? Ini benar-benar aneh."

Sasuke tidak menjawab, justru mengambil dokumen itu dari pangkuanku. Sekilas ia melihat gurat coretan tanda tangan yang telah di sah-kan dalam meterai dan cap resmi pemerintah Jepang, lalu membolak-balik halamannya, seakan memeriksa isi lain dokumen yang luput dari pandanganku.

"Kizashi Haruno … apa itu nama ayahmu?"

Aku mengangguk.

"Apa pekerjaan beliau?"

"E—Eh? Ayahku?" aku bingung, "Beliau bekerja sebagai manajer di sebuah trading company, Sasuke-san. Beliau cuma karyawan swasta biasa, ke—kenapa kau bertanya soal ayahku?"

Saat aku menjawab, dengan santai Sasuke menaikkan kedua alisnya, "Kau yakin, Sakura?"

"Hah? Apa maksudmu, tentu saja aku yakin! Mana mungkin aku tidak tahu profesi—"

"Tch, ternyata sampai kau ditidurkan dalam cryonics, ayahmu tidak mengatakan apapun?" Sasuke menyambar omonganku, "Ayahmu berbohong, beliau bukan karyawan swasta biasa."

Aku mengerutkan alis.

Ayah berbohong? Apa maksudnya itu?! Apa sosok "ayah" yang sedang dia bicarakan itu benar-benar Kizashi Haruno; ayah kandungku?

Seakan menjawab pertanyaanku tanpa perlu mengeluarkan sepatah kata, pria bersurai hitam ini mengarahkan telunjuknya ke sudut kanan bawah kertas; lalu mengetuk-ngetukkan jarinya di sana, "Lihat ini, Sakura."

Mau tidak mau pandanganku tertuju pada apa yang ditunjuk Sasuke, dan melihat sebuah nama yang tertera di bawah tanda tangan seseorang.

.

Haruno Kizashi

(Head of CSB-001 Project)

.

Aku terbelalak, tanpa sadar meremas pinggiran dokumen tersebut.

Aku tidak percaya.

Seribu persen tidak mempercayai apa yang kulihat. Aku membolak-balik tiap halaman dan menemukan nama yang sama di tiap lembar pengesahan yang membutuhkan persetujuan kepala proyek. Nama "Kizashi Haruno", ayahku. Ini tidak mungkin! Ayahku adalah ketua dari proyek cryonics yang dilakukan oleh pemerintah Jepang? Tch, omong kosong. Mustahil, bohong, ma—mana mungkin?! Ini pasti lelucon April Mop yang terselip di antara semua dokumen mengenai CSB – 001!

"Tidak, tidak mungkin," aku mendorong kertas itu menjauh dari pandangan, "ini lelucon."

"Sakura—"

"Bohong! Tidak, tidak … pasti ada yang salah," dengan kasar aku memotong ucapan Sasuke juga mengalihkan pandanganku darinya, "INI MUSTAHIL TERJADI!"

Sasuke masih terlihat datar menghadapi sifatku yang berubah impulsif.

"Sakura, aku tahu … kau pasti terkejut," jemari pria itu seakan berusaha untuk meraih pergelangan tanganku, namun terhenti di udara, "aku tahu ini berat untukmu. Tapi tolong, tenangkan dirimu …"

"Apa kau pikir aku bisa menenangkan diri?!" Aku tidak bisa menerimanya, tanganku gemetaran. Seluruh tubuhku terasa begitu dingin menusuk dan jantungku terlalu cepat berdetak. Mendapati nama ayahku di sana membuat akal sehatku pudar, "PASTI TERJADI KESALAHAN DENGAN DOKUMEN INI!"

Tch, yang benar saja! APA-APAAN INI?!

Ayahku bukan seorang manajer yang bekerja di sebuah trading company, bukan seorang karyawan swasta biasa yang bekerja dalam siklus office hour dan terkadang harus melakukan lembur? Dia bukan sosok manajer yang tidak pernah mengeluh dalam menangani klien-klien bisnis dari negara A atau B?

Selama ini … apa semua cerita ayah tentang profesinya, adalah ilusi belaka? Dia … bohong?

Ternyata ayahku … mengepalai proyek cryonics yang dikembangkan Jepang untuk menyelamatkan ras manusia dari kepunahan? Seorang Kizashi Haruno adalah salah satu tokoh yang berperan dalam proyek CSB-001? Ayahku bertanggung jawab atas beban nyawa lima puluh peserta cryonics, yang empat puluh lima diantaranya mengalami kegagalan dan meninggal dunia? Apa ini sosok sebenarnya dari seorang pria yang kupanggil dengan sebutan "ayah" selama ini?!

Tidak. Dia bukan ayahku.

Dia BUKAN Kizashi Haruno yang kukenal!

Kalau ini merupakan rangkaian acara candid camera … kuucapkan selamat. Kalian berhasil membuatku jantungan, berhasil membuat sekujur tubuhku gemetaran seperti saat ini.

.

.


"Dokumen ini pasti keliru! Mungkin orang yang tertulis di sini adalah 'Kizashi Haruno' yang lain, pria dengan nama yang memiliki kesamaan nama dan marga dengan ayahku," tiba-tiba aku berdiri, menjatuhkan isi map putih hingga berserakkan di lantai, "katakan sesuatu, Sasuke-san?!"

Seorang ayah tidak mungkin membohongi anak semata wayangnya selama dua puluh dua tahun, 'kan?!

"Hn … kalau benar demikian, apa itu bukan tanda tangan ayahmu?" tanyanya lugas.

Aku terhenyak.

Perkataan itu semakin memperburuk perasaanku. Karena bagaimana pun juga, aku tahu bahwa itu memang tanda tangan milik ayah. Itu memang tanda tangan Kizashi Haruno; ayah kandungku. Berdiri sambil mengepalkan kedua tangan, emosiku meluap tanpa tahu harus berbuat apa. Aku bingung, kalut, panik, menyesal telah mengetahui fakta ini. Sementara Sasuke tetap terduduk, sedikit mendongakkan kepala, dan pandangannya … seperti mengasihaniku.

Jujur, saat ini aku membenci tatapannya.

Aku tidak butuh pandangan itu!

"Berhenti menatapku seperti itu," desisku. Tidak lagi mempedulikan posisinya sebagai seorang direktur TAKA yang agung, luapan emosiku tidak terbendung. Bahkan aku tidak menyadari kini kedua pelupuk mataku telah basah oleh air mata, "aku tidak butuh pandangan belas kasihan. Cukup katakan bahwa dokumen ini palsu. Pria dalam data itu … dia bukan ayahku, 'kan?!"

Rasanya aku ingin memutar-balikkan fakta, menghindari kenyataan.

"Dengar, Sakura—"

"Kenapa semuanya harus seperti ini?! Kenapa FAKTANYA selalu berakhir dengan kenyataan yang menyakitkan?!" rasanya benar-benar sesak. Aku tidak bisa mengatasi perasaan yang kurasakan saat ini, terlalu sakit. Aku ingin berteriak sekencang mungkin, tapi hanya berakhir dengan menutup kedua mata dan telinga diiringi banjir air mata.

.

.

"DIA PASTI BUKAN AYAHKU!" aku frustasi. Jika saja teriakanku bisa mengubah nama yang tertera pada dokumen menjadi nama selain "Kizashi Haruno", maka aku akan berteriak hingga suaraku hilang.

Kesepuluh jemari yang menutup masing-masing telinga terasa begitu dingin, gemetar, dan tanpa sadar aku menjambak rambutku sendiri sebagai pelampiasan. Menarik tiap helainya sekuat tenaga … berharap sakit dan sesak di dalam hatiku akan mereda. Tapi anehnya, tidak terasa sakit, bahkan aku tidak bisa merasakan apa-apa.

Mati rasa.

.

"Tenanglah, Sakura!"

Sekonyong-konyong aku merasa pria onyx ini ikut berdiri lalu menangkap kedua tanganku yang masih menjambak rambut dengan sekuat tenaga, menjauhkannya perlahan dan mencegahku menyakiti diri sendiri. Masih memejamkan mata dan berderai air mata, aku tidak tahu apa yang dilakukannya atau bagaimana raut wajahnya saat ini. Mungkin Sasuke sedang menatap keadaanku yang menyedihkan dengan onyx-nya yang selalu terlihat datar, yah … aku tidak tahu.

Tapi, aku bisa merasakan bahwa keberadaannya sangat dekat dengan tubuhku.

"Apa yang kau inginkan, Sakura?" bisik Sasuke.

Perlahan, tenaganya mendorong tubuhku agar jatuh terduduk ke atas sofa, dan aku tidak punya tenaga untuk melawannya. Tidak—bukannya tidak punya tenaga—tapi pikiranku terlalu kosong tanpa tahu apa yang harus kulakukan, pasrah.

"Apa yang kau inginkan? Katakan padaku," tanyanya sekali lagi, "kau ingin aku mengatakan bahwa itu bukan ayahmu? Bahwa semua dokumen dalam map itu palsu? Aku bisa melakukannya. Atau kau tidak ingin lagi melihat dokumen yang membuatmu sedih seperti ini? Aku bisa membakarnya sampai tak bersisa. Inikah yang kau inginkan, Sakura? Kau ingin aku berbohong padamu? Kau lebih memilih mendengar sebuah kebohongan manis dibandingkan kenyataan pahit?"

KEBOHONGAN MANIS dibandingkan KENYATAAN PAHIT. Tch, tepat sekali … kalimat itu terdengar begitu menusuk. Masih terhanyut dalam isakan, aku hanya bisa menggelengkan kepala, kebingungan. Tidak tahu, aku tidak tahu. Apa kenyataan pahit tetap lebih baik dibandingkan kebohongan manis?

.

Apa setelah mengetahui kenyataan ini perasaanku justru membaik? TIDAK.

Tapi sebaliknya, apa hasil kebohongan manis yang dilakukan ayah selama dua puluh dua tahun ini merupakan pilihan yang lebih baik? TIDAK, INI JUGA BUKAN YANG KUINGINKAN!

.

.

"Ke—Kenapa … ayahku—," ucapku terbata-bata, "dia … bohong?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu. Kita berdua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi puluhan tahun yang lalu," ia menghela napas dalam-dalam, "maaf, aku sudah membuatmu terkejut dengan dokumen itu."

Huh … Sasuke Uchiha minta maaf? Aku pasti salah dengar.

"Sakura, dengarkan aku," ujar Sasuke lembut seraya menepuk pundakku. Perlahan aku membuka mata, dan yang kulihat pertama kali adalah sepasang onyx yang begitu teduh, kali ini ia tidak melihatku dengan pandangan mengasihani. Sebaliknya, dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa terdefinisikan ... seakan-akan dia mengerti, seolah-olah dia pernah berada di posisi yang sama denganku, "Aku tahu dokumen itu membuatmu shock dan kau tidak bisa menerimanya. Tapi bagaimana pun juga, ini adalah konsekuensi dari keinginanmu. Kau ingat?"

Huh, yeah … aku ingat. Konsekuensi dari perjanjian antar kami di dapurdi mana "seharusnya" aku bersedia menerima tiap kenyataan demi mencari keberadaan orang tuaku. Membisu, aku bahkan tidak bisa menjawab apa-apa. Berderai air mata yang mengalir tak tertahankan, aku hanya bisa terisak sambil meremas ujung pakaianku hingga kusut. Bukan sekali-dua kali aku berharap tidak pernah menerima map berwarna putih itu dari Sasuke, rasanya begitu menyakitkan.

.

Kizashi Haruno; ayahku, adalah tokoh yang berperan dalam proyek cryonics. Beliau bertanggung jawab atas CSB-001, juga yang mendaftarkanku sebagai peserta.

Tapi yang paling menyakitkan adalah; ia berbohong. Ayah kandungmu telah membohongimu tentang profesinya selama dua puluh tahun, dan hingga saat ini tidak ada penjelasan yang bisa menjabarkan semua alasannya. Betapa mirisnya sebuah kenyataan yang harus kuhadapi tentang masa lalu, dan hingga saat ini semuanya masih terasa abu-abu.

.

.


"Aku bisa memanipulasi semua data, termasuk menghapus nama ayahmu, itu mudah. Tapi tentunya, kau tidak ingin tersadar di masa depan dengan kebohongan yang terulang, 'kan? Sampai kapan kau ingin hidup dalam kebohongan?" sebelah tangan Sasuke menggenggam erat tanganku yang bergetar, sementara jemarinya yang lain terulur menuju pipi … menghapus air mata yang membanjiri wajahku, "Betapa pun pahitnya fakta yang kau hadapi, itu adalah kenyataan … dan aku tidak mau membohongimu, Sakura."

Aku tahu kata-katanya benar, tapi rasanya terlalu naif untuk menerima semuanya begitu saja.

"A—Aku tahu … hanya saja … sulit. Rasanya sakit … bingung, sulit dijelaskan. Aku sulit menerimanya!"

"Ya," Sasuke menghela napas, "aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu, Sakura."

.

Masih dalam pikiran berkecamuk, aku merasa salah satu tangannya sudah berada di belakang kepalaku … dan tiba-tiba, Sasuke menarik tubuhku ke dalam dekapannya.

Aku terbelalak. Pikiranku terlalu kalut untuk menyadari bahwa saat ini aku sudah bersandar pada pundaknya, bersentuhan langsung dengan tubuh sang direktur TAKA yang hanya dilapisi serat kain dari kemeja branded-nya. Antara sadar atau tidak, secara spontan aku menahan napas. Jantungku berdetak dengan sangat cepat—mungkin sempat berhenti sepersekian detik karena terlalu terkejut?

"Sa—Sasuke …."

"Diamlah sebentar, Sakura," potong Sasuke.

Oke. Sekarang aku bukan hanya diam tapi membatu, tidak bergerak sedikit pun!

.

"Itachi-nii pernah berkata bahwa pelukan bisa memberikan sedikit ketenangan pada psikis seseorang," gumam Sasuke. Rengkuhan lengannya mendorong punggungku agar lebih merapat pada tubuhnya. Aku mengerjap, merasakan aliran listrik menjalar di sekujur tubuh yang membuatku merinding dan semakin berdebar, "huh, tidak kusangka, aku akan melakukan cara ini untuk menenangkan seseorang. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, aku melakukannya untukmu."

Aku tersenyum tipis; satu senyuman yang tidak bisa terlihat oleh Sasuke Uchiha.

Setelah lelah memikirkan kenyataan CSB-001 terlebih lagi fakta mengenai ayahku, mungkin akal sehat dan logikaku mendadak buntu. Tanpa pikir panjang aku ikut melingkarkan lenganku di sekeliling tubuh sang direktur TAKA, membalas pelukannya. Berharap rasa sakit ini bisa sedikit terobati dengan berada dalam dekapan pria dingin yang jalan pikirannya sama sekali tidak kumengerti. Perihal Sasuke akan mengusirku atau memperingati agar aku tidak berbuat lancang, untuk saat ini aku tidak peduli … aku akan memikirkannya nanti.

Setidaknya biarkan aku seperti ini selama beberapa detik ... rasanya cukup nyaman.

.

.


"Kuatkan dirimu, Sakura … karena dunia nyata tidak seperti semua dongeng fiksi pengantar tidur. Pada kenyataannya, hidup tidak selalu berakhir dengan tulisan 'happy ending'."

Aku mengangguk lemah, "Arigatou."

"Hn," Sasuke sama sekali tidak menyingkir atau menjauhkan tubuhnya dariku, "apa cara ini berhasil?"

"Sepertinya cukup berhasil. Aku sudah lebih tenang," jawabku dengan sedikit terkekeh. Perlahan-lahan aku melepaskan dekapanku dari sang pemilik onyx, dan Sasuke tampak melakukan hal yang sama. Ia melepaskan jemarinya dari tubuhku, memperlebar jarak hingga kami kembali bertatapan satu sama lain.

"Jadi, katakan padaku … apa yang kau inginkan, Sakura?"

Aku berpikir sejenak … apa yang aku inginkan? Tentu saja aku ingin mengetahui fakta, meski saat menemui kenyataan pahit seperti ini, rasanya seperti diiris berulang kali.

"Kebenaran," jawabku parau.

"Kau yakin? Meskipun kenyataan yang kau temui begitu menyakitkan? Meski kemungkinan akan berakhir seperti ini lagi?" pria Uchiha ini tampak memperjelas pertanyaannya.

"Aku tidak punya pilihan," aku hanya tertawa miris, "kau sendiri yang menasihatiku bahwa kebohongan manis bukan jalan penyelesaian. Toh tetap saja … suatu saat aku harus tetap menghadapinya, 'kan? Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah berharap semoga fakta berikutnya tidak sesakit ini. Berharap ada secercah harapan, bukan melulu kenyataan pahit."

Aku tersenyum lemah ke arahnya, berusaha sekuat tenaga agar tetap tersenyum sesuai pesan ibu.

.

.


Menyadari emosiku tidak lagi meledak-ledak seperti sebelumnya, akhirnya pria onyx itu mengambil tempat duduk yang terpaut beberapa sentimeter dari tubuhku. Namun tetap saja, pandangan Sasuke belum berhenti memperhatikan gerak-gerikku dari ujung kepala hingga kaki, seperti memastikan aku tidak akan bertindak impulsif.

Ia berdeham.

"Tapi, di balik semua 'kebohongan' yang baru kau ketahui hari ini, sekarang kita tahu bahwa ayahmu adalah orang yang cukup berperan pada proyek itu. Singkatnya; dia termasuk orang penting di Jepang. Dan kau tahu apa keuntungan dari orang-orang dengan kedudukan seperti itu, Sakura?" Sasuke menyeringai saat aku menggelengkan kepala, "Fasilitas. Aku yakin sekali, di belahan dunia manapun, uang dan kedudukan memiliki andil tersendiri. Dalam hal ini, posisi dan kedudukan ayahmu merupakan satu keuntungan ... karena kemungkinan besar pemerintah Jepang membuat rencana selain cryonics."

Hah? Apa maksudnya?

"Fasilitas apa? Maaf, aku tidak begitu paham maksudmu," aku masih mencoba mencerna kata-katanya.

"Hn, biar kujelaskan pemikiranku. Saat seluruh dunia dilanda ketakutan pada bencana alam besar, jiwa survival mereka bangkit. Mereka akan memikirkan semua cara yang bisa mereka lakukan agar selamat, apa kau sependapat?"

Aku langsung menganggukkan kepala.

"Atas dasar itulah, kurasa wacana untuk 'menyelamatkan ras manusia dari kepunahan' itu bukan sebuah hal sederhana yang bisa diwakili oleh satu proyek saja. Ini bisnis besar; mencangkup kehidupan umat manusia di masa depan. Apa kau pikir semua orang berkuasa itu mau begitu saja mati sia-sia karena tidak mendapat tempat dalam proyek cryonics? Tch, itu mustahil. Pemerintah Jepang tidak akan menggantungkan semua harapan hanya pada proyek cryonics, kemungkinan besar mereka juga membuat berbagai rencana cadangan. Misalnya saja, sebuah fasilitas khusus untuk melindungi orang-orang penting saat bencana itu terjadi."

Pola pikir yang jauh berbeda antara aku dan pria ini membuatku melongo; SASUKE BENAR. Pemerintah Jepang tidak akan menginvestasikan semua dana hanya untuk cryonics. Ya, pasti ada beberapa proyek lain yang mereka jalankan demi menyelamatkan umat manusia dari kepunahan. Mereka juga pasti sudah memikirkan langkah antisipasi untuk melindungi tokoh-tokoh penting seperti ilmuwan bahkan perdana menteri! Ya ampun, kenapa kemungkinan ini sama sekali tidak terpikirkan olehku?!

"A—Artinya, jika memang benar ada proyek semacam itu … ada kemungkinan ayah—" pupilku melebar, serasa mendapat setitik harapan, "berarti ada kemungkinan ayahku berada dalam salah satu 'fasilitas' itu? Mungkin terdengar mustahil jika saat ini orang tuaku masih hidup dan berusia ratusan tahun, tapi mungkin saja ... mungkin ada seseorang yang pernah mengenal mereka ketika hidup! Itu juga berarti, kita bisa menemukan petunjuk lain tentang keberadaan keluargaku. Benar, 'kan?"

Ketika Sasuke mengangguk, aku bisa sedikit bernapas lega. Mengesampingkan rasa kecewa atas kenyataan pahit tentang profesi ayah, ada segi positif yang mampu mengobarkan kembali semangatku. Belum selesai! Masih ada setitik harapan … setidaknya seluruh doaku belum benar-benar pupus!

.

.


Pembicaraan kami terhenti setelah mendengar suara pintu diketuk. Masuklah sesosok robot membawa nampan berisi makanan dan secangkir kopi hitam, mengucapkan salam sesuai yang telah di program dalam perangkat database-nya, kemudian menaruh isi nampan tersebut di atas meja.

"Sarapanmu datang, Sakura," dan sebelum sempat kusentuh, Sasuke lebih dulu mengintip menu makanannya, "tch, tidak ada tomat di dalamnya."

Spontan aku tertawa kecil ketika melihat raut wajah Sasuke yang tampak kecewa karena tidak menemukan tomat, dan lagi-lagi langsung berhenti ketika ia melirik tajam ke arahku. Bagaikan disambar petir, sedetik kemudian aku mengingat lagi bagaimana seharusnya aku bertingkah laku sebagai robot bodyguard-nya. Bukannya memastikan keamanan Sasuke, kenapa aku justru menangis histeris sampai me-memeluknya?! Astaga, ini kesalahan besar!

"A—Eh, tapi maaf sebelumnya … aku sampai melupakan tugasku sebagai pengawalmu, Sasuke-san!"

Tapi sang Uchiha tampak tidak mengerti, ia hanya menaikkan sebelah alisnya, "Tugas?"

"Huaaa bodohnya, aku sudah melakukan kesalahan fatal di hari pertama bekerja!" aku merutuki diri sendiri saat menatap penampilanku pada cermin Dextrale, "Robot memang bisa menangis, tapi mana mungkin sampai matanya bengkak seperti ini?! Sekarang mataku sembab dan terlihat seperti jelmaan ratu kodok, arrrgh menyebalkaan!"

.

"Jelmaan ratu kodok?"

.

Pertanyaan itu membuatku tersentak.

Begitu tersadar, aku mengatupkan bibirku seraya pucat pasi. GYAAAA! Ya Tuhan … saking paniknya, aku mengatakan semua isi hatiku secara langsung! LUPA bahwa di hadapanku masih berdiri si pantat ayam yang kini menatap dengan pandangan takjub … terutama setelah aku menjerit histeris saat bercermin.

"Suasana hatimu cepat berubah ya," Sasuke tidak bisa menyembunyikan seringainya, ia terkekeh, "tidak perlu khawatir. Aku bisa mencegah siapapun datang ke ruanganku, jadi kau tidak akan berhadapan dengan mereka. Lagipula hari ini aku sudah membatalkan semua urusan kerja, Sakura ... kita perlu bicara. Karena itu juga tadi aku menunjukkan isi map itu padamu."

Aku mengernyitkan alis.

"Kita perlu bicara?" Hee—apa aku salah dengar? Apa arti perkataannya barusan? Aku mencium ada rencana terselubung dari perkataan ambigu Sasuke. Dalam hati aku berdoa, jangan sampai pria ini memberikan dokumen-dokumen lain yang bisa membuatku histeris sampai bermata bengkak seperti tadi.

"Hari ini kita akan menyusun rencana pelarian," ujar Sasuke tenang sambil menghirup aroma kopi pekat yang menjadi menu sarapannya tiap pagi. Menyesapnya perlahan, lalu menoleh ke arahku, "tepatnya, kita berdua akan menyusun rencana keluar dari Konoha. Kau akan mencari soal keberadaan terakhir orang tuamu … sedangkan aku mencari keberadaan kakakku; Itachi Uchiha. Jadi, persiapkan dirimu dengan baik, Sakura."

Aku melongo.

JACKPOT. Sudah kuduga lagi-lagi berakhir dengan "ide gila" si pantat ayam.

Seandainya aku terkena serangan jantung, tanpa ragu aku akan menuntut Sasuke Uchiha untuk itu!

.

.

.

Bersambung

.

.


Author's Note :

Chapter tujuh selesai! Di sini semua anggota Children of Konoha sudah terbongkar ya nama-namanya, plus peranan mereka. Terus ada kemunculan Sasori yang nyaris mati karena mobilnya ada kerusakan GPS, Naruhina sempet cekcok sedikit karena kurang komunikasi … dan akhirnya Sakura yang tahu soal profesi asli ayahnya sebagai ketua proyek CSB-001.

Kizashi Haruno selama ini bohong, dan pastinya sebagai seorang anak … Sakura merasa dikhianati oleh ayahnya sendiri. Untungnya Sasuke bisa menenangkan Sakura, di sini juga terlihat kalau hubungan mereka memang jauh lebih baik dari awal chapter. Ini juga awal mula teamwork Sasusaku lho! (Btw, dari review dan request PM … ternyata SaiSaku-nya banyak peminat juga ya? Hahahaha xD). Buat yang tanya, cryonics itu dibaca dalam Bahasa Indonesia dengan pelafalan "krayoniks".

Kenyataan pahit atau kebohongan manis … readers lebih pilih yang mana?

.

Ngomong-ngomong, saya terima PM yang bilang kalau fanfic Hegemony ini masuk polling IFA 2013 (Indonesian Fanfiction Awards) sebagai nominasi Best Science-Fiction for Multichapter. WOW! O_o; Sejujurnya saya kaget dan nggak ngerti apa itu IFA (malah awalnya saya bacanya FIFA—federasi sepak bola dunia, LOL). Terima kasih banyak ya atas dukungannya *bungkuk hormat*.

Buat yang penasaran atau nggak tahu kayak saya, googling aja dengan keywords "indonesianfanfictionawards,wordpress,com" di POLLING IFA 2013 KATEGORI FANFICTION (kalo nggak salah pollingnya sampai tanggal 25 Desember). Nah, nama jitan88 beserta judul "Hegemony" akan nyempil di satu-satunya kategori minor yaitu Best Science-Fiction for Multichapter, hahaha.

Saya pribadi masuk nominasi aja super nggak nyangka, jadi kalau ada readers yang mau voting untuk cerita ini, tentunya saya sangat berterima kasih. :D

.

Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan ke depannya.

Dan ini balasan review chapter ke enam :

Kasih harumi : Children of Konoha udah dijelasin yaa siapa aja, mampir RnR lagi di chapter ini!

Gohara01 : thank you, saya update :D

airy : wah terima kasih sekali kalo romance mulai kerasa, saya lanjut kok tenang aja…

hanazono yuri : yuri-chan saya update nih, gimana kali ini? Semoga masih tetep menarik, RnR ya?

Namikaze ares : langsung chap 6? Hahahaha thank you reviewnya lho, saya sekarang lanjut dan semoga mau menyempatkan mampir lagi ya di cerita ini. Arigatou!

Alifa Cherry Blossom : Suka sama Naruto disini? Iya Hinata jadi dingin dan nggak gagap lagi, jauh beda sama karakternya di SM. Kisah Sakura makin rumit karena ternyata ayahnya Sakura itu pemimpin proyek CSB-001. Mampir lagi buat RnR oke?

Natsuyakiko32 : iya wordsnya banyak tapi semoga nggak membosankan karena per chapternya cukup panjang. Gimana dengan chapter ini, jangan lupa share di review yaa!

Siapaajalah : Berasa novel bayar yang ditranslate terus di publish gratisan? Wah itu berlebihan, tapi thank you kalau dibilang keren. Hahaha publish gimana, ini kan fanfic non-profit, menuangkan ide aja intinya. Thanks mau mampir, kalau ada kesempatan review lagi :D

Sofi as : nah ini dia salah satu penggemar Saisaku, hahaha… suka sama interaksinya disini? Udah ada SaiSaku lagi kok disini, semoga suka. RnR ya!

Tomat-23 : review ini udah saya balas secara langsung ya di PM? Thank you sekali lagi buat review dan sarannya, tenang aja itu sama sekali bukan flame! Saya berterima kasih malah kalau ada yang mau kasih tau typo dsb, supaya bisa diperbaiki. Saya update, semoga ceritanya kali ini juga menarik. Ditunggu reviewnya :D

guest : saya update!

GraceAnnesh : siap, saya update tiap tanggal 7 dan 20 kok! Cryonics saya tahu pertama kali dari artikel di internet tentang Simon Cowell (salah satu juri X Factor) yang investasiin sejumlah uang buat awetin kepalanya di cryonics, dia pengen bangkit lagi di masa depan, hahahaha. RnR yo?

Afrillia Haruno : waduh Sakura adiknya Afrillia? Berarti nanti tahun 2033 dia bakal diawetkan di cryonics lho, gantiin aja biar ketemu Sasuke. Tapi sekarang berhubung saya update, review dulu aja. :p

A first letter : thank you yaa, saya update nih!

Akatsuki Hotaru : kepala Ho lebih keras dari tembok, ckckck beneran keturunan alien. Daftar jadi Naruto Lovers? Ada biaya royaltinya ya nanti bayar ke saya, btw … spoilernya beneran keluar kan bukan bohongan? Hehehe. Saya tunggu lagi komentar dari tant—ehm, Ho. :D

Hikari Ciel : Mimpi yang dialamin Sakura nanti bakalan dibahas kok di chapter mendatang, tenang aja. Sekarang rahasia tentang ayah Saku dulu, gimana chapter ini? Semoga tetap oke, jangan lupa RnR ya!

Aka no Rei : Request dikabulkan; Sasori muncul nih! Hahaha Sasu makin keliatan OOC gimana, tapi memang OOC kok … apalagi Hinata-nya jauh beda sama karakter asli. Saya lanjut dong tentunya, RnR?

Childishpink : haloo, thank you sudah mampir dan senang sekali kalau ceritanya di bilang keren. Hubungan Sasuke dan Naruto belum dibahas di sini, semoga nanti bisa dibahas di chapter mendatang deh ... Suka karakter Naruto sisi keren atau bloon-nya? LOL. Sip, saya sudah update nih, saya tunggu komentarnya lagi untuk chapter ini. Thanks! :D

Guest 2 : hehehe thank you lho, oke saya lanjut. RnR yaa…

Universal Playgirl : saya update! Thank you reviewnya, mampir lagi oke?

Chichoru Octobaa : iya ga bisa disingkat, mau saya singkat juga susah, LOL. Udah dijelasin ya soal Children of Konoha siapa aja, kemunculan Shikamaru dan Tobirama tinggal menunggu waktu aja. Ya, saya juga bosen kalau Karin terus-terusan dibuat antagonis, thank you kalau suka karakternya. RnR?

Lhylia Kiryu : haha, Sakura "pura-puranya" jadi robot, semoga chapter ini berkenan juga buat di review. Saya tunggu yaa…

Seijuurou Eisa-chan: ini Ei-chan? Kekeke Sasukenya genit ya xD. Tentu saja yang rubah total karakter Hinata jauh beda sama SM adalah partner saya yang bertanggung jawab buat karakter cewek. Katanya pengen Hinata beda dari sebelumnya, jadi gini deh akhirnya. Saya lanjut, gimana chapter ini? RnR ya!

Guest 3 : Okeeee saya lanjut!

Fika : ooh iya saya ingat, halo Fika apa kabar? Semoga kali ini bukan Jake-Sherry aja tapi bisa suka Sasusaku dan Naruhina di sini. Hmm tapi ini OOC :D

: hehehe thank you reviewnya. Siap Naruhina disini lumayan banyak nih. RnR lagi yaa…

roquezen : astaga penggemar saisaku datang … makhluk kuning ala saya gimana itu ceritanya haha, oke saya update sist, saya tunggu reviewnya lagi ya :)

Unknown : thank you, oke saya lanjut nih. RnR?

Ricchi : yosh saya kembali, dengan words yang sama panjangnya juga. Untuk sekarang sudah terungkap siapa Children of Konoha, tentang Shikamaru akan dibahas di chapter depan. Thank you buat reviewnya, saya tunggu komentar Rima buat chapter ini lho ^^

Syidik NH : Bosen liat Hinata yang gagap ya? Huahaha adegan action sih tunggu waktu aja, itu pasti bakalan ada kok xD

Foetida : tapi cliffhangernya nggak nyambung kesini LOL, Sai memang karakternya dirubah dari SM dulu, beberapa wacana apaan Foe? Yah kalo nggak ada adegan romancenya juga nggak mungkin sih, nanti bakalan di-demo massa. xD

Blackcurrent626 : hehehe Children of Konoha udah terungkap semua … dan ngga ada ceweknya, LOL. Apa ayah Sakura ikut andil dalam pengembangan CSB? Sudah terjawab juga ya :D. Semoga ceritanya makin menarik, ditunggu komentarnya ^^

Sayaka Akira : mungkin aja sih ada adegan Sasuke cemburu, tapi mulai sekarang Sasusaku makin sering bareng … saya akan lihat dulu apa bisa disisipin atau nggak. Untuk sementara, requestnya ditampung ya!

cheinnfairy : wahh gimana UTSnya sukses? Saya tetap semangat kok lanjutinnya berkat review dari semuanya, RnR lagi oke?

Aipon : ooh Ai udah selesai baca SM ternyata, share siapa karakter favenya ya? Hehehe thank you untuk idenya, sepertinya menarik kalau Naruto ketemu langsung dengan Sasusaku ya, boleh aja. Tunggu chapter depan :D. Untuk sekarang RnR yaa… N.B : Wah suka sama Konan juga ternyata?

Selaladrews : halo lala-chan! Gimana ulangannya oke nggak? Hahaha berarti suka dengan karakter yang serem tapi keren? LOL, Itachi masih sembunyi… plus, cara baca cryonics itu "krayoniks". Saya update, Lala-chan mampir lagi dong?

Sampai jumpa di chapter depan! :D

-jitan-