Ice Skating (c) aidaverdyky
Dong-Woo and You
Romance-Comedy
Teenager
Dong-Woo adalah milik Tuhan, keluarga, Woolim Ent., Inspirit, dan Wooniques \(^o^)/
Watchout of the typo(s), baper area!
...
Seharusnya sekarang aku sedang bersantai di rumahku. Mungkin bergulat dengan guling di balik selimut tebal, atau membaca novel di balkon kamarku sambil menikmati secangkir coklat panas dan sepiring cake buatan ibuku. Sialan, memikirkannya saja membuatku hampir meneteskan air liur. Yeah, itu yang seharusnya kulakukan. Bukannya malah menemani dinosaurus jejadian itu bermain ice skating.
Bukan masalah sebenarnya jika kami melakukannya tidak di pertengahan bulan Januari. Ya, bulan januari, di tengah-tengah musim dingin. Aku benar-benar tak mengerti apa yang ada di kepala Dong-Woo.
Dan lagi, menemani apanya?. Aku malah berdiri sambil memeluk diriku sendiri karena kedinginan di pinggir arena sambil menyaksikan 'pertunjukkan' tunggal Dong-Woo. Meskipun harus ku akui kemampuannya bermain ice skating benar-benar hebat. Aku sampai sempat terperangah saar tubuh tegapnya berputar-putar dengan gerakan luwes tapi tetap macho. Kali ini air liurku hampir menetes oleh alasan yang berbeda.
Sejujurnya tadi aku membayangkan kencan romantis dengan dinosaurus tukang ketawa ini. Ketika dia mengirimiku pesan "Chagi, ayo pergi bermain Ice Skating denganku.", aku berpikir dia akan membantuku meluncur di atas es lalu merapatkan mantelku karena aku kedinginan atau memeluk pinggangku untuk menghangatkanku dan kencan kami akan diakhiri dengan minum coklat panas di cafe dekat arena ice skating ini.
Sayangnya, itu hanyalah khayalan tingkat tinggiku. Khayalan yang luntur seketika saat dia berujar-
"Kau kan tidak bisa bermain seluncur es, menunggu di sini saja tidak apa-apa kan Chagi?."
-Lalu meninggalkanku sebelum aku sempat melempar bola salju ke arah cengiran khasnya.
Hampir satu jam terlewati. Arena yang awalnya sepi, nyaris kosong -sesungguhnya hanya berisi kami berdua-, kini mulai ramai, dan kurasa itu karena 'atraksi' kekasihku. Beberapa anak kecil mengekori Dong-Woo seperti anak-anak itik mengikuti induknya meskipun dengan sedikit kesulitan. Gadis-gadis remaja berdiri di pinggi sambil berbisik-bisik, kurasa membicarakan Dong-Woo mengingat tatapan mereka yang terus mengikuti pergerakannya. Aku merasa sedikit cemburu, tapi ya sudahlah toh mereka hanya mengagumi dari tepian -sepertiku. Bedanya, aku punya tempat khusus di hati Dong-Woo sementara mereka bahkan mungkin tidak dikenal oleh Dong-Woo.
Saat aku kembali memandang Dong-Woo, aku menemukannya sedang berjongkok di depan seorang bocah laki-laki yang mungkin usianya belum genap enam tahun. Dia membantu anak itu meluncur sambil berjalan jongkok mundur. Aku tersenyum melihat keakraban mereka. Senyumku melebar kala keduanya tertawa. Dan aku hampir menjerit saat bocah laki-laki itu hampir terjatuh, untung saja Dong-Woo dengan sigap menahan tubuhnya dan membawanya kembali berdiri membuatku menghela napas lega dan kembali tersenyum lebar.
"Waaah, mereka lucu sekali."
"Aku iri dengan bocah itu."
"Sepertinya menyenangkan, aku juga mau."
Aku mendengar bisikan yang semakin keras lalu menoleh. Beberapa gadis itu tak menyadari tatapan mengintimidasiku. Mereka terlalu sibuk mengagumi kehebatan permainan seluncur es Dong-Woo, juga keakrabannya dengan anak-anak kecil.
"Oppa, ajari aku berseluncuuur."
"Aku dulu, Oppa."
"Yak! Aku yang duluan."
Kali ini bukan sekedar bisikan yang ku dengar. Aku menoleh dan mendapati Dong-Woo tengah dikerubuti oleh beberapa gadis remaja. Orang-orang sudah mulai menghilang. Mungkin memilih kembali ke rumah mereka yang hangat karena di sini semakin dingin. Pemuda itu tampak menenangkan beberapa gadis remaja yang mulai ribut minta diajari berseluncur oleh kekasihku. Bibir tebal-seksinya terus menunjukkan cengiran khasnya yang unik. Juga manis. Ck!.
Hei, dinosaurus jejadian yang kalian kelilingi itu pacarku!
"HEI!." Aku sedikit berteriak saat mencoba mendekati mereka, aku bahkan lupa kalau aku payah dalam bermain seluncur es.
settt
bruukkk
Benar. Benar. Payah.
"Aww." Aku jatuh tersungkur dengan pose menyedihkan beberapa langkah dari tempat awalku berdiri. Kudengar suara tawa cempreng, kurasa dari para gadis yang mengerubuti pacarku semut disekeliling gula. Aku mencoba berdiri beberapa kali, tetapi terus saja kembali terjatuh. Pada akhirnya aku menyerah dan memilih duduk sambil menggosok lututku yang terbentur lapisan es.
Aku tidak peduli lagi dengan tawa mereka. Bertekad untuk segera pulang -bila aku sudah mampu berdiri dengan benar. Biar saja dinosaurus jejadian itu berputar-putar di arena ini bersama para gadis remaja labil itu sampai tungkainya patah, atau sampai tubuh mereka membiru karena kedinginan.
Mataku memanas. Aku masih menggosok lututku sambil menunduk menyembunyikan wajahku yang memerah karena malu, juga kemungkinan menangis. Kalau tahu begini, aku memang seharusnya tidak menerima ajakan Dong-Woo.
Lututku sudah tidak lagi sakit dan aku dapat memastikan tubuhku bisa berdiri dengan benar, tetapi aku masih belum hendak untuk sekedar menegakkan kepalaku. Mataku sudah benar-benar basah. Aku menangis karena kesal. Kugigit bibitku mencegah isakan. Tanpa kusadari suara tawa itu telah lenyap beberapa menit yang lalu.
"Apa kau masih tidak mau berdiri, Chagi?." Dia berjongkok di hadapanku. Aku tahu itu sejak dua menit yang lalu, hal itulah yang menyebabkan air mataku mengalir menuruni pipiku. Aku bergeming hingga kurasa sepasang tangan kekar mengangkatku.
"Maaf. Ayo. Aku akan membantumu berse-."
"Aku mau pulang." Lirihku.
"Apa?."
"Aku mau pulang, Oppa. Kalau kau masih ingin berada di sini silahkan. Tapi aku akan pulang." Aku menyeka kasar air mataku lalu berbalik hendak pergi sebelum aku lagi-lagi terpeleset.
grep
Dong-Woo membantuku kembali berdiri tegak lalu memelukku dari belakang. Aku mematung saat merasakan hembusan napasnya di sisi wajahku. Sepertinya dia benar-benar menyesal.
"Aku minta maaf. Ayo kita pulang." Dong-Woo membantuku menuju tepi arena. Melepaskan sepatu seluncurku dan menggandeng tanganku saat meninggalkan arena seluncur es. Aku tersenyum diam-diam. Dan saat aku menoleh, aku menemukan gadis-gadis itu mengerucutkan bibir mereka kesal. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum kemenangan. Tahu begini aku nekat meluncur dari tadi saja haha.
-fin-
...
A/N: Wooyoooo. Malam minggu ditemenin Dong-Woo Oppa nih. Asik gak? Kesel gak? Haha
DaGamma Frost: Yang dari chap 1 nungguin si happy virus. Nih, dong-woo oppa hadir. Gimana? Suka gak? Ehehehe
Okeee. Sisa aatu orang lagiii. Sampai ketemu rabu depan. Byeee
