Irresistible

Sebuah FanFic oleh RavenYamazaki

Kuroko no Basket | Aomine Daiki x Kagami Taiga | Indonesia | Rated MA

=Irresistible, Chapter Seven: Enjoy the Ride

Gelap, dan aku tidak dapat menggerakkan tubuhku. Terasa di kedua pergelangan tanganku seperti tali tambang, yang mengikat kedua tanganku. Kedua kakiku juga tidak dapat kugerakkan, karena terdapat tali yang menggantung kakiku. Sial, apa-apaan ini? Kulihat sekitar dan kudapati jendelanya tertutup rapat, bahkan tirai menutup jendelanya. Di luar nampaknya sudah gelap, entah jam berapa sekarang. Pintu… aku tidak melihat pintu agar aku dapat keluar dari sini, karena saking gelapnya ruangan ini. Aku berada di atas tempat tidur. Apa aku tertidur? Tapi seingatku, aku tadi masih berada di mobil Daiki, dan ia ingin mengajakku ke rumahnya – apa ini rumahnya? Terdengar suaranya yang tiba-tiba berada di sampingku, "Taiga,"

Aku terkejut. "A…Ahomine! Kau ini ngapain sih!" teriakku, sambil tetap mencari-cari di mana ia bersembunyi. Ia memegang dadaku. Tangannya berasal dari samping kananku, reflekku langsung melihat ke kananku. Aomine berada di kananku, dan ia juga tidak memakai pakaian apapun, sama denganku. "Taiga, kau tau ini di mana?" tanyanya seketika. Aku tidak langsung menjawab, aku melihatnya baranjak dari tempat tidur, dan tiba-tiba aku merasakan kengerian ini dalam diriku. "A… Aomine…" entah mengapa aku melemah, dan ia juga mulai memposisikan dirinya untuk melakukannya. "Taiga," ia menyebut namaku, dan aku melihat tangannya yang membawa sebuah alat, entah apa itu, dan ia mulai memasukkannya ke dalamku. Aku mengerang, dan tiba tiba benda itu bergetar dengan hebatnya. "A…aaah… Aomine… H-hentikan!" protesku, karena getarannya terlalu cepat. "Kau menyukainya, ya?" pertanyaan serba salah, Ahomine sialan ini, apa yang ia mau?

"Aaah… Aomine… hentikan… kumohon…" ia tidak berhenti juga, malahan ia menambah kecepatan benda sialan itu bergetar. Ia memasukkan benda itu semakin dalam secara perlahan, getarannya mulai memenuhiku. "Aah!" aku mengerang agak keras, kesakitan, dan ingin benda apapun itu yang berada di dalamku segera keluar. "Aomine… hentikan… kumohon…" berulang kali aku memohonnya, tetapi ia bagaikan tidak mendengarkannya. "Diam, Taiga." Ucapnya, yang cukup untuk membuatku terdiam dan tunduk kepadanya. Aku menahan rasa sakitnya, ditambah lagi aku tidak dapat menahannya lebih lama lagi. Sepertinya ia mengetahuinya, lalu ia mencengkeram milikku sekuatnya, mencegahku mengeluarkannya. "Oh, Taiga, sejak kapan aku bilang kau boleh mengeluarkannya?" Aku menahannya sebisaku, namun sepertinya aku tidak dapat menahannya untuk waktu yang lama.

Ia mengeluarkan alat itu dariku, lalu ia memasukkan miliknya secara tiba-tiba. Aku sudah diikatnya dengan sebuah tali, sehingga aku tak dapat mengeluarkannya. Ia memaksakan miliknya masuk, dan jelas aku merasa kesakitan. Aku setengah menjerit, dan merasakan beberapa tetes air mata keluar dari mataku. Aku menahan rasa sakitnya, ia memasukkannya lebih dalam dan tanpa kusadari aku mendorongnya masuk jauh lebih dalam. Aku menyebut namanya, "Aomine…" dan ia menatapku sambil tetap melakukannya, keluar, masuk, ia membalas hanya dengan sebuah tatapan. "Hentikan… kumohon…" ia menyeringai. "Bakagami, panggil aku dengan Daiki!" di akhir kata 'Daiki' ia menyentak lebih dalam, aku terkaget karena ia belum pernah mencapai sedalam itu. Sial, aku tidak dapat menahannya lagi, aku menahan jeritan dan ikatannya pun terlepas, dan aku mengeluarkannya. Ia berhenti, wajahnya terkejut karena melihatku yang tidak dapat menahannya. Aku memerah, dan terengah-engah setelah mengeluarkannya.

Ia memejamkan mata, ia terlihat bagaikan mengeluarkan sebuah aura yang mengerikan. "Taiga… kau…" ia mengatakannya dengan suara agak geram. "D… Daiki-kun…" Apa yang akan ia perbuat padaku? Aku tahu aku salah, dan aku merasa harus menerima hukuman darinya. "A… Aku minta ma–" "Kau kira aku akan memaafkanmu?" Aku dalam bahaya. Ia mengeluarkannya, aku mendesah kecil. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan terhadapku, namun aku yakin, ia tidak main-main. Ia mengambil benda dengan bulatan-bulatan yang tergabung menjadi satu, lalu ia menaruhnya di depan lubangku. "Ah… Aomine…" Ia memasukkannya secara tiba-tiba, dan aku berteriak kesakitan. Ia memasukkannya dan mengeluarkannya bagaikan sedang menusukkan pedang berulang kali. Sakit yang tak tertahankan, namun benda itu mengenaiku dengan tepat. Entah bagaimana ia bisa mengetahuinya, karena dari tadi ia tidak mengenai tempat itu, atau mungkin ia asal mendorong masuk dan mengenainya?

Aku mendesah makin kencang tiap ia mengenaiku dengan benda itu. Aku terangsang kembali, walaupun aku barusan mengeluarkannya. Tangan satunya ia gunakan untuk menggodaku, meraba tubuhku dan menggigit leherku. Aku hanya bisa mendesah, mengerang, dan menahan rasa sakit yang diberikan benda sialan itu. Ia berhenti sejenak setelah memainkan tubuhku sekian lamanya, lalu ia kembali di posisinya. Apa yang akan ia lakukan? Ia belum mengeluarkan benda itu dari dalamku! Ia memposisikan dirinya di depanku, ia memaksakannya masuk.

"Aaah! D-Daiki… sstop please… aahn, it hurts!"

"Ngomong apa kamu, Bakagami! Mana mungkin aku ngerti bahasa aneh gitu!"

"D…Daiki… hentikan… s-sakit… kumohon…"

"Terus begitu hingga aku puas melihatmu menderita,"

"A… aah… M…Maafkan aku…"

"Mohonlah kepadaku hingga aku merasa senang, ini semua salahmu sendiri,"

Aku mencengkeram tali yang mengikat tanganku sekuat tenagaku, aku menahan sakit, dan aku menangis, menangis karena kesakitan, menangis karena kesalahanku sendiri. Aku hanya ingin ia memaafkanku. Akan kulakukan apapun untuknya, kecuali ini, bila ia memaafkanku. Kumohon, Daiki…

"Taiga…"

"A…aah… D-Daiki…"

"K-Keluar."

"Y…Ya…"

Bersama-sama. Kami terengah-engah, dan masih ingin melakukannya, namun tidak bisa. Ia tergeletak di atasku, dan aku yakin aku sempat tertidur juga, dengan benda yang ia gunakan dan miliknya yang masih berada di dalamku.

Aku terbangun karena ada yang menggigit leherku perlahan, tangan yang meraba tubuhku, dan cahaya yang silau. Di mana aku? Aku berusaha untuk menggerakkan tangan dan kakiku, sudah tak terikat. "Daiki…-kun?" Aku terbangun sepenuhnya setelah ia menciumku. "Taiga…-chan," nampaknya ia ragu-ragu dalam menambahkan '-chan', namun entah mengapa, aku menyukainya. Kami berciuman untuk waktu yang agak lama, ruangan yang dari tadi panas membuat tubuh kami basah oleh keringat, namun aku menyukai kita ketika berkeringat.

"Aomine… Uh, maksudku, Daiki-kun…"

"Ha?"

"Kenapa… tadi kau melakukannya?"

"Nggak boleh? Seru lho, ngeliat kamu ekspresinya gitu," ia mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.

"B… Berisik ah!" I'm blushing.

"Eeeh? Mukanya merah gitu? Ahahahaha," mukanya yang menghibur sekaligus menyebalkan, karena ia menggodaku.

"Berisik!"

"Aku berisik? Yaudah, deh, aku diemin,"

"A…Aaah, Daiki-kun,"

Tiba-tiba saja ia menciumku, dan aku tergeletak, dan ciumannya pun terlepas. "Selemah itukah?" ejeknya. Aku menutup sebagian wajahku dengan lenganku, lalu ia membisikkan sesuatu di telingaku, "Aku mencintaimu."

*The End*

=Author's Notes

Hai semua T-T)/ Kembali lagi di bagian paling tidak ditunggu-tunggu dari FFku (?), kali ini saya ingin mengucapkan 69x terima kasih yang sebesar-besarnya atas masukan dan dukungan reviewers serta readers sekalian~ Saya juga ingin mengucapkan 69x mohon maaf atas segala hal yang kurang berkenan dalam kokoro readers dan reviewers, mungkin saya terlalu egois, atau kurang ganteng (?)

Maaf juga karena ini chapter dengan jumlah kata paling sedikit, karena aku kasian Kagami dipermainkan sama Aomine, juga karena kalo dilanjutin, readers serta reviewers pasti bakalan bosen. Dengan ini, saya nyatakan bahwa serial "Irresistible" resmi tamat (?). terima kasih atas segala-galanya! See you on my next fictions!

=詳細余分なノート! [MORE Extra Notes!]

MORE Extra Notes! ^^ Kali ini aku mau me-reply semua review yang kalian tulis untuk FFku ini, review yang akan ku-reply adalah review yang ditulis di Chapter 6 ^^

1. 1. Kagami Tania

Terima kasih atas dukungannya! Btw ini chapter terakhir, maaf T-T

TAPI, aku bakalan nulis AoKaga lagi, dan lagi (dan lagi dan lagi *bergema) /abaikan ^^)/

2. 2. orang

I-Iya, aku author baru ^^) Terima kasih ya ^^)/