Chapter 7: Negativity

swaggysuga presents…

.

.

.

The Postponed Victory

Cast: all BTS member, Bang PD, etc.

Cast punya Tuhan dan keluarganya!

Yaoi / T / Yoonmin / Minyoon

Uke!Yoongi, Seme!Jimin

slight!Vkook, Namjin. Crack!Yoonseok

Enjoy!

.

.

.

"Hyung, masih lama di Daegu?"

Yoongi menyesap cokelat hangatnya sebelum menjawab pertanyaan Jimin di telepon.

"Tidak tahu… semua persyaratan untuk pendaftaran belum selesai disini."

"Oh, baiklah. Aku mungkin akan pulang besok. Jeonghan hyung bisa ngambek kalau aku ada disini terus."

Sekedar informasi, Jimin sudah empat hari menetap di kota kelahirannya. Sementara Yoongi menghabiskan lima hari dari jatah cutinya selama seminggu. Yoongi masih harus mengurus semua persyaratan untuk tes PNS yang sebenarnya berlangsung sekitar tiga bulan lagi, namun semua persyaratan untuk pendaftaran dilengkapi sekarang.

"Aku bersyukur bosku baik sekali. Padahal jangka waktu kerjaku masih terbilang singkat."

"Anak baik sepertimu akan selalu bertemu orang-orang baik."

"Uh, bisa saja kau. Hampir saja aku tersedak," kekeh Yoongi.

Samar terdengar suara seorang perempuan memanggil nama Jimin dengan nada ceria di seberang telepon. Yoongi mengernyitkan kening, diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Setahu dirinya Ibu Jimin sudah berangkat kerja pada jam-jam segini.

Berbagai pertanyaan langsung hinggap di benaknya yang sudah dipenuhi kabut prasangka.

"Jimin, siapa itu?"

"Eh, ehm… itu tetanggaku, dia barusan lewat rumahku dan kebetulan memanggilku."

"Begitu?" mood Yoongi langsung turun drastis. Entah mengapa ia berpikir bahwa Jimin membohonginya. "Emmm… Jimin, aku harus pergi. Aku baru ingat kalau aku ada janji untuk mengambil berkasku yang masih diurus oleh Dinas Pencatatan Sipil."

"Baiklah, telepon lagi nanti kalau sudah selesai. Love you."

Tanpa babibu, Yoongi menutup teleponnya. Sifatnya yang mudah cemburu dan curiga membuatnya langsung berpikiran negatif kepada kekasih tampannya itu. Ia takut Jimin mempunyai orang lain yang disukainya. Lalu ia berusaha menepis semua firasat buruk di kepalanya. Dipijatnya keningnya yang sudah mulai menunjukkan denyut-denyut yang membuatnya tak nyaman.

"Mungkin aku butuh istirahat…"

.

.

.

Jimin menghela nafas, ia sudah menduga bahwa kekasih manisnya itu akan marah kepadanya. Namun ia berusaha untuk tetap tenang, membiarkan kepala kesayangannya itu dingin dulu.

"Maaf Jimin, aku mengganggumu, ya?"

Rasa tidak enak menghinggapi hati Seolhyun. Jimin menggeleng.

"Tidak apa. Pacarku orang baik, dia pasti mengerti."

"Ah, siapakah perempuan baik yang beruntung itu?" Seolhyun bertanya dengan mata berbinar.

"Dia laki-laki," ujar Jimin jujur. Seolhyun sedikit terhenyak, namun menghentikan sikapnya karena takut dianggap tidak sopan.

"Pasti dia sangat manis, ya?"

"Tidak manis sih…" Jimin meringis mengingat sifat Yoongi yang kadang bisa menjadi ketus luar biasa. "Tapi dia orang terbaik yang pernah kutemui. Aku beruntung mendapatkan malaikat sepertinya."

Seolhyun tersenyum kagum. "Wow. Tahukah kau, tidak banyak orang yang mau mengakui kekasihnya di hadapan orang lain, apalagi memujinya secara terang-terangan?"

"Terima kasih, kuanggap itu pujian," Jimin tersenyum sopan.

"Jadi bagaimana, kapan kita bisa ke Seoul?"

Jimin berpikir sejenak. "Besok aku pulang, tapi sepertinya aku harus mencari tempat untuk menginap untuk semalam saja. Aku tidak bisa bebas mengontakmu jika aku berada di rumah kontrakan, pasti salah satu dari temanku memberitahukan hal itu kepada pacarku. Kau tahu kan, kita masih harus mencari info tentang orang itu."

Anggukan Seolhyun menjadi jawabannya. "Kalau begitu kau menginap saja di rumah temanku. Masih di kawasan Seoul, kok. Biar kuhubungi dia sekarang."

Seolhyun merogoh kantong celana jeans-nya dan mengeluarkan ponsel, menghubungi seseorang.

"Yeoboseyo, Kyungsoo Oppa…? Apa kau sedang di rumah…? Bolehkah temanku menginap, hanya sehari saja... oh ya… terima kasih, Oppa!"

Setelah teleponnya ditutup Seolhyun langsung mengacungkan jempol kepada Jimin. Ia lalu pamit pulang dan berkata,

"Kau bersiap-siap saja, kita berangkat besok pagi. Jangan lupa dengan janjimu!"

"Oke!"

.

.

.

"Yoongi-ya, semua urusan sudah kuselesaikan, ini semua berkas-berkas yang kau butuhkan."

Yongguk meletakkan semua berkas yang dibutuhkan Yoongi di atas meja belajar Yoongi. Diliriknya jam analog di dinding yang menunjukkan angka dua belas. Dengan ogah-ogahan Yoongi mengangkat tubuhnya dari ranjang dan melihat-lihat kelengkapan berkasnya.

"Kau bisa daftar siang ini, lalu pulang ke Seoul," lanjut Yongguk.

"Kok hyung seolah mengusirku secara halus, sih?"

"Aigoo, tolong kurangi kebiasaan buruk untuk mencurigai orang lain itu, adikku yang manis."

Yoongi tersenyum kecil. "Kenapa kau menyebut kepergianku ke Seoul dengan kata 'pulang'? Rumahku kan disini."

Yongguk terkekeh.

"Dasar naif. Rumah itu tak selalu berarti tempat untukmu bernaung, tetapi tempat dimana kau merasa nyaman, tempat dimana kau merasakan kebahagiaan. Makanya kusuruh kau pulang ke Seoul. Aku tahu disana kau merasa nyaman dan bahagia bersama teman-temanmu, apalagi dengan kehadiran Jimin. Disanalah rumahmu, Yoongi. Kemanapun kau pergi, mereka adalah rumahmu, tempat untukmu pulang."

Rumahku? Di benak Yoongi terlintas Jimin yang sedang tersenyum sangat tampan kepadanya. Tapi tiba-tiba ia merasa sakit di dadanya karena teringat kejadian tadi pagi.

Ia mungkin menganggap Jimin adalah rumahnya.

Namun apakah Jimin menganggap dirinya sama sepertinya, menjadi rumah tempatnya berpulang?

Yoongi terdiam. Ia membereskan semua berkas-berkasnya, memasukkannya kembali ke dalam map plastik dan menatap Kakaknya.

"Terima kasih, hyung."

"Sama-sama. Sudah, mandi sana. Kita berangkat jam satu untuk mendaftar, tepat setelah jam istirahat berakhir."

Yoongi mengangguk pelan, lalu Yongguk keluar dari kamarnya, meninggalkannya sendirian.

.

.

.

"Annyeonghaseyo Seoul!"

Seolhyun membentangkan tangannya, menikmati angin Seoul yang berhembus menyapu wajahnya ketika ia turun dari kereta. Jimin menyusul Seolhyun turun dari kereta.

"Ayo, kita harus mencari taksi untuk ke rumah Kyungsoo Oppa. Rumahnya agak sulit dijangkau oleh bus."

Jimin mengangguk, manut saja ketika Seolhyun menghampiri salah satu taksi dan masuk ke dalamnya. Taksi itu membawa mereka hingga mereka sampai ke salah satu komplek perumahan yang cukup berkelas, bahkan mereka harus izin kepada sekuriti di gerbang perumahan itu, dan ditata dengan sangat rapi. Netra Jimin tidak mampu terlepas dari keindahan yang tersaji di hadapannya itu.

Kemudian taksi berhenti di depan salah satu rumah yang didesain minimalis namun terkesan mewah. Setelah membayar sejumlah uang, mereka turun dari taksi. Rasa ragu menghinggapi Jimin, dia menatap Seolhyun yang sedang menekan bel di gerbang rumah tersebut. Suara seorang wanita di interkom menyambut mereka.

"Anda mencari siapa?"

"Kami teman dari Kyungsoo Oppa. Apa Kyungsoo Oppa ada di rumah?"

Terdengar suara gumaman dari interkom. Tak lama pintu gerbang terbuka, menampakkan sosok Kyungsoo yang terbilang mungil, dengan mata besar yang menyambut mereka ramah.

"Seolhyun, kau sudah sampai!"

"Iya dong, hyung! Oh iya, ini temanku, Jimin."

Kyungsoo tersenyum melihat Jimin, mengulurkan tangannya kepada Jimin, yang kemudian disambut oleh Jimin.

"Aku Kyungsoo. Jangan sungkan-sungkan disini, ya!"

"Ah, aku Jimin. Terima kasih banyak, hyung."

"Ayo masuk!"

Ia mempersilakan mereka masuk ke rumah. Seolhyun berjalan masuk dengan langkah girang diikuti oleh Jimin.

"Kalian pasti capek, ya? Kita makan dulu, yuk. Sudah kusiapkan makanannya."

Kyungsoo membawa mereka ke ruang makan yang cukup luas dan mewah. Di atas meja makan sudah tersaji makanan yang sungguh menggugah selera, tampak seperti makanan di restoran mewah dengan plating yang tak biasa di setiap sajiannya.

"Seperti biasa, masakan Oppa selalu luar biasa. Betapa beruntungnya aku hari ini," Seolhyun menahan air liurnya agar tidak jatuh.

"Ini hyung yang buat?" tanya Jimin.

"Satu sertifikat pastissier dari Perancis, lulusan terbaik di sekolah chef La Dulce Vida di Italia dan pengalaman menjadi patissier di negeri yang sama sepertinya bisa menjawab pertanyaanmu, Jimin," Seolhyun tidak membiarkan Kyungsoo repot-repot menjawabnya.

Yang disebutkan prestasinya hanya tersenyum malu. "Kau berlebihan, Seolhyun. Ayo jangan sungkan. Makanlah."

Dengan tertib mereka makan dengan tenang sambil sesekali mengobrol ringan.

Setelah makanan yang mereka santap habis, Kyungsoo lalu menyajikan piring ke hadapan mereka masing-masing yang berisikan satu slice red velvet cake.

"Kyungsoo Oppa sedang tidak sibuk?"

"Tidak, aku sedang mencoba-coba resep original buatanku untuk kusajikan di restoranku sendiri. Aku sedang membangunnya dengan bantuan modal dari Appaku. Salah satu yang kalian makan tadi adalah resep yang kubuat sendiri."

Seolhyun dan Jimin manggut-manggut, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

"Oppa, tahu kan kalau Jimin mau menginap di sini?"

Kyungsoo mengangguk. "Iya. Kudengar kau hobi menyanyi, ya? Aku punya ruangan khusus untuk menyanyi dan menari, ruangan untukku dan Jongin berlatih, juga untuk teman-teman yang lain. Letaknya di dekat garasi, kau bisa pakai kapan saja kau mau."

Jimin mengangguk-angguk, orang ini terlalu sempurna untuk menjadi teman makhluk slebor seperti Seolhyun, batinnya.

"Kau masih bersama si hitam itu, Oppa?" selidik Seolhyun.

"Ya ampun, kau masih saja menyebutnya hitam," Kyungsoo memberengut. "Lagipula, kau berhutang penjelasan kenapa kau kemari. Kalau Jimin aku bisa mengerti karena ia tinggal disini. Tapi kau?"

Seolhyun menatap Jimin ragu, lalu beralih pada Kyungsoo.

"Selain untuk alasan aku yang mau bertemu dengan kawan lamaku, kami mau mencari seseorang."

"Oh ya? Siapa orangnya kalau aku boleh tahu?"

Seolhyun menggeleng. "Maaf, aku tak bisa memberitahu Oppa. Pada waktunya nanti Oppa pasti akan mengetahuinya."

"Kau akan menginap dimana?" tanya Kyungsoo.

"Aku akan menginap di kostan Eunha, mungkin aku akan kesana sore nanti. Rasanya tidak etis jika aku menginap di rumah lelaki, ujar Seolhyun cuek sambil memasukkan potongan red velvet cake terakhir ke mulutnya.

"Aku senang kau masih berpikiran kolot begitu di era rawan seperti sekarang," Kyungsoo terkekeh. "Jimin, nanti sore aku akan ke restoranku, mengontrol pembangunannya. Sebaiknya kau beristirahat saja di rumah ini, ya. Kalau ada apa-apa kau bisa panggil Bibi Ah In. Sekarang aku akan ke kamarku dulu."

Lalu Kyungsoo memanggil Bibi Ah In, wanita paruh baya yang dengan sopan mengantarkan Jimin dan Seolhyun ke sebuah kamar yang luas dengan tempat tidur yang besar dan lemari berukuran sedang. Cat putih, hitam dan abu diatur dengan ciamik melapisi dinding. Lantainya berkeramik putih, ditimpa karpet bermotif monokrom di salah satu sudut kamar. Tak lupa sebuah sofa hitam elegan tersampir gagah di sudut lainnya.

Jimin lantas mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur. "Aku yakin kalau aku berfoto disini dan mengatakan kalau aku sedang menginap di hotel kepada teman-temanku, mereka pasti percaya."

"Yak! Jangan aneh-aneh," Seolhyun melemparkan tasnya ke lantai. "Kyungsoo Oppa baik sekali, kan? Dia sahabatku ketika di China, waktu itu dia bekerja paruh waktu di salah satu restoran Italia disana sekaligus jadi penyanyi di beberapa acara pernikahan. Pacarnya adalah guru seni tari di salah satu SMA di Seoul, merangkap koreografer. Sama sepertimu, kekasihnya juga laki-laki."

Biografi singkat dari Seolhyun tentang Kyungsoo membuat Jimin merasa sudah mengenalnya lama. Kebisuan menyerang mereka.

Dalam situasi sepi seperti ini, Jimin tiba-tiba teringat Yoongi yang tak kunjung menghubunginya. SMS terakhir dari kekasih gulanya diterimanya sekitar tiga jam lalu, tepat sebelum ia berangkat ke Seoul dari Busan. Ia memandangi ponselnya dengan tatapan kosong. Dirinya paham betul kalau Yoongi sedang melaksanakan aksi merajuknya.

"Ya ampun, anak itu memintaku untuk bertemu dengannya sore ini, bukan besok seperti yang dijanjikan," Seolhyun memecah keheningan.

"Ya sudah, temui saja dia."

"Kau harus mengantarku sesuai janjimu kemarin."

"Iya, iya. Memangnya aku tampak seperti pengingkar janji?"

"Tidak sih. Aku akan minta izin kepada Kyungsoo Oppa untuk meminjam sepeda motornya sore ini."

"Hey, kita sudah terlalu merepotkannya…"

"Jangan khawatir, aku dan dia punya hubungan yang sangat baik sehingga dewa dewi pun tak bisa memisahkan persahabatan kami," ujar Seolhyun sambil berlari keluar kamar.

Jimin menggeleng-geleng melihat kelakuan Seolhyun. Peduli setan, ia hanya ingin tidur dan melupakan ke-tidak-jelasan Yoongi dalam sejenak saja, sebelum nantinya ia akan berusaha susah payah untuk memperbaiki mood kekasihnya itu.

.

.

.

Jimin meraih kemeja berwarna biru donker yang digulung sampai siku, pemberian Yoongi ketika ulangtahunnya setahun lalu. Tak diizinkannya siapapun mencuci dan menyetrika baju itu, selalu dicuci dan disetrikanya sendiri agar awet.

Dipandangnya ponselnya. Ia belum berani menghubungi kekasihnya, benar-benar menunggu agar kesayangannya itu melunak. Lalu ia keluar menemui Seolhyun dan Kyungsoo di teras, dengan sebuah motor model skuter warna putih di hadapan mereka.

"Aku pinjam motornya dulu, Oppa. Terima kasih banyak!"

Seolhyun melambaikan tangannya kepada Kyungsoo yang melepas mereka dengan senyuman. Jimin mengangguk sopan dan melajukan motor skuter itu berlalu dari hadapan pemiliknya.

"Kami janji ketemuan di Hongdae," ujar Seolhyun di tengah laju motor yang lumayan kencang.

"Hongdae? Apa temanmu itu maniak makeup perempuan?"

"Tidaklah! Dia kan laki-laki."

"Justru karena dia laki-laki makanya aku curiga," sahut Jimin cuek.

"Dia mahasiswa di Hongik University. Katanya dia baru pulang kuliah sore ini."

Jimin hanya manggut-manggut menerima perintah dari Seolhyun. Tak lama sampailah mereka di surga belanja para wanita, Hongdae, yang terletak di komplek Hongik University. Tiba-tiba Seoulhyun menepuk pundak Jimin, menyuruhnya berhenti. Seolhyun ingin membeli beberapa alat makeup. Setelah puas membeli, ia kembali naik ke motor Jimin. Namun helm-nya jatuh ketika ia hendak memakainya. Sontak Jimin menundukkan tubuh dan mengambil helm serta memakaikannya ke kepala Seolhyun.

"Hati-hati, nanti bukan helm saja yang jatuh tapi kepalamu juga."

"Khayalanmu terlalu tinggi, bodoh," Seolhyun terkekeh sambil menepuk lengan Jimin.

"Sudah, ayo naik. Pacar konyolmu itu mau bertemu di sebelah mana?"

Mereka terus melaju, mencari sosok orang yang dimaksud oleh Seolhyun yang katanya sudah menunggu di sebuah kafe dekat sana.

.

.

.

To: Jungkookie

Kook, aku pulang hari ini. Jangan bilang siapa-siapa ya, apalagi Jimin.

Sebuah SMS singkat terkirim ke ponsel Jungkook. Si pengirim lalu turun dari bus yang sudah tiba di terminal Seoul sambil menenteng ranselnya. Ia sengaja hanya memberitahu Jungkook agar yang lain tidak mendengarnya dan sampai di telinga Jimin.

Mood-nya masih tidak karuan, namun ia memutuskan untuk pulang diam-diam. Ia yakin dengan melihat wajah manis kekasihnya, kondisi perasaannya akan berangsur-angsur membaik. Lagipula, semua urusan pendaftarannya sudah kelar.

"Ah, pencuci wajahku ketinggalan di Daegu," ia menepuk keningnya. "Aku harus membelinya… lebih baik ke Hongdae saja, sekalian jalan-jalan," gumamnya pelan pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju halte bus menuju Hongdae.

Matanya menyusuri pemandangan sambil dirinya menghela nafas berat. Hatinya masih bertanya-tanya kenapa Jimin terdengar panik ketika ada suara perempuan di dekatnya kemarin. Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, berusaha mengusir semua pikiran buruknya terhadap Jimin. Bagaimanapun Jimin adalah orang yang seharusnya dia percaya lebih dari siapapun.

Bus berhenti. Ia menjejakkan kakinya tepat di depan Universitas Hongik, lalu masuk ke dalam dan pergi menuju Hongdae. Dia memasuki beberapa toko, membeli beberapa produk pembersih wajah dan melihat-lihat aksesoris untuk musik seperti headset dan aksesoris lainnya, termasuk beanie.

Setelah dirasa cukup, ia berniat untuk pulang. Namun langkahnya terhenti ketika tiba-tiba manik kembarnya menangkap sesosok pemuda berjarak sekitar dua puluh meter yang sedang memakaikan helm ke kepala seorang perempuan. Pemuda itu membelakanginya, wajahnya tak terlihat juga rambutnya ditutupi helm, namun Yoongi sangat mengenali kemeja biru yang melekat di tubuh si pemuda, juga bentuk tubuhnya yang sangat khas. Itu kemeja pemberiannya kepada Jimin. Jantungnya mendadak berpacu lebih cepat.

"Jimin?" gumamnya.

Hatinya yakin bahwa lelaki itu adalah Jimin. Perempuan yang bersama kekasihnya itu tertawa ketika Jimin usai memakaikan helm itu ke kepalanya. Dada Yoongi semakin sesak ketika Jimin sejenak berbalik dan memperlihatkan jelas wajah tampannya, namun ia tidak menyadari kehadiran Yoongi di tempat tersebut. Matanya memanas, ia ingin segera pergi, tidak sanggup melihat kebersamaan kekasihnya dengan perempuan yang tampak sangat akrab dengan orang selain dirinya. Namun kakinya seakan terpaku ke tanah.

Setelah Jimin pergi dengan motor bersama perempuan itu barulah Yoongi mendapat sedikit tenaga untuk melangkah. Kaki mungilnya berjalan pelan menyusuri sisi pertokoan dan membawanya ke penghujung jalan. Ia sungguh tak ingin pulang, jika pulang berarti mengharuskannya bertemu dengan Jimin.

Airmatanya mengalir pelan namun pasti di pipinya. Tak ada suara yang keluar dari bibirnya, tidak sedikitpun isakan. Menangis dalam sunyi, itulah yang Yoongi lakukan sekarang.

Ia lalu merogoh ponsel dari saku celananya dan menelepon nomor seseorang.

"Jihoon, bisakah aku menginap di apartemenmu?"

.

.

.

Mata Jihoon yang kecil semakin mengecil melihat sunbae-nya yang sangat akrab dengannya datang dengan wajah kuyu, seolah nyawanya sudah dicabut dari raganya. Matanya sembab. Gerakan tubuhnya lambat sekali. Langsung saja Yoongi meletakkan semua barang bawaannya di lantai, melemparkan ponsel ke meja, mengambil posisi di sofa lalu duduk dengan memeluk kedua kakinya dan menyembunyikan wajah di sela-selanya.

"Hyung, kau sudah makan?"

Yoongi diam saja, tidak mengiyakan ataupun menampiknya. Ribuan serangan negativitas menyerang kepalanya, menghilangkan semua akal sehatnya.

Jihoon menghela nafas. Tanpa banyak bicara ia segera pergi ke dapur, menyiapkan semangkuk nasi dengan dakgalbi di atasnya. Disodorkannya di atas meja di hadapan Yoongi. Tak ada respon berarti dari pemuda berkulit pucat itu.

"Hyung, sebenarnya ada apa?"

Yoongi semakin menyerukkan wajah ke sela lututnya. Jawaban tak diperoleh Jihoon. Ia sudah hapal mati kalau sunbae-nya sedang tidak bisa diajak bicara, maka dia pun mengambil keputusan akhir.

"Kalau hyung mau makan, makanlah. Kalau mau tidur, aku akan ambilkan selimut. Mau menangis, marah, apapun tidak masalah."

"Aku mau tidur saja," sahut Yoongi pelan.

Jihoon mengangguk. Ia beranjak ke kamar dan mengambil selimut juga bantal yang empuk, lalu diserahkannya kepada Yoongi. Sudah menjadi kebiasaan Yoongi untuk tidur di sofa tengah jika sedang berkunjung ke apartemen Jihoon.

Setelah menerima selimut dan bantal, Yoongi bergelung nyaman di atas sofa. Sungguh, hatinya serasa diremat oleh tangan tak kasat mata. Namun ia tak mampu menangis lagi. Sekarang ia butuh istirahat, mengantisipasi andaikan matanya mulai ingin mengeluarkan genangan air lagi.

.

.

.

Hari sudah malam. Jihoon sedang merapikan barang-barang Yoongi dengan sangat pelan—berusaha tidak menimbulkan suara yang mengganggu tidur sunbae-nya—saat ponsel Yoongi bergetar pelan. Nama Chimchim tertera di layar. Dengan cepat Jihoon mengambil ponsel itu, lalu berjalan ke luar apartemennya, karena nama tersebut sudah sekitar tiga kali memanggil nomor Yoongi. Jihoon mengantisipasi, andaikan itu adalah panggilan penting.

"Halo?"

"Halo, Yoongi hyung? Kok suaramu agak…"

Jihoon yakin ini adalah suara Jimin. "Maaf, apakah ini Jimin hyung? Aku Jihoon. Yoongi hyung sedang ada di apartemenku. Katanya dia mau menginap. Maaf sudah lancang mengangkat telepon di ponselnya."

"Ah ya, ini aku Jimin. Yoongi hyung sudah pulang?" Jimin terdiam sejenak. "Kenapa dia tiba-tiba ingin menginap? Apakah ia mengatakan sesuatu kepadamu?"

"Aku tidak tahu, Yoongi hyung datang dengan sangat lesu. Tapi ia tidak mau cerita apapun. Apakah Jimin hyung mau datang kemari? Aku sungguh khawatir dengan keadaan Yoongi hyung."

"Baiklah, aku akan kesana. Tolong berikan alamatmu, ya."

Jihoon langsung menyebutkan alamatnya lengkap dengan nomor apartemennya untuk Jimin catat, dan setelah berterima kasih Jimin memutuskan sambungan telepon. Kembali Jihoon masuk ke dalam rumah, menunggu Jimin datang ke apartemennya.

Tak lama terdengar suara ketukan di pintu apartemen Jihoon. Cepat-cepat Jihoon berjalan menuju pintu dan membukanya dengan perlahan. Jimin tersenyum, melepas sepatunya yang agak basah karena di luar gerimis. Diletakkannya payung basah di samping pintu masuk.

"Ayo masuk."

Jimin masuk diikuti oleh Jihoon di belakangnya. Matanya langsung menatap sosok Yoongi yang sedang tertidur tenang di sofa dengan selimut berwarna abu-abu yang menutupi sampai ke dagunya. Sontak Jimin duduk di dekat sofa, menikmati wajah yang dirindukannya dengan amat sangat yang kini sedang berada di depannya. Bisa dilihatnya dengan jelas mata kekasihnya yang sembab. Hatinya geram, brengsek mana yang berani membuat gula manisnya ini menangis?

"Apakah hyung tidak tahu kalau Yoongi hyung pulang hari ini?" ujar Jihoon pelan.

Jimin menggeleng lemah.

"Ketika sampai disini, keadaannya kacau, persis mayat hidup."

Hanya sunyi yang keluar dari bibir Jimin. Ia bersimpuh dalam diam, masih memandangi wajah Yoongi sambil terus menerka, kondisi apa yang dialami kekasihnya sampai ia seperti itu?

Mendadak kakinya menyentuh tas kertas bawaan Yoongi yang terletak di dekat sofa. Diambilnya dengan hati-hati. Di permukaan tas kertas itu tercetak nama salah satu toko, beralamatkan di Hongdae. Dirogohnya tas kertas tersebut untuk mengambil bon transaksi, ia tertegun melihat jam dan tanggal transaksi yang tertera di bon tersebut. Tubuh Jimin menegang.

"Jam berapa Yoongi hyung datang kemari?"

Jihoon menimbang-nimbang. "Sekitar jam lima sore tadi, hyung."

Otak Jimin seolah memutar film yang dibintangi olehnya, Yoongi dan Seolhyun. Kalau dugaannya benar, Yoongi pasti melihat dirinya yang sedang bersama Seolhyun. Padahal ia mengantar Seolhyun untuk bertemu dengan teman kecilnya; yang sudah lama disukainya.

Jimin mengusap wajahnya kasar. Ia sangat benci ketika tahu bahwa dirinyalah penyebab airmata hyung kesayangannya jatuh mengaliri pipi pucatnya. Ingin rasanya ia bunuh diri saat itu juga. Membayangkan rasa sakit yang dialami Yoongi membuatnya merasa sebagai pria paling bajingan di dunia. Memang Yoongi hanya salah paham, tapi bukankah itu tanggung jawab dirinya untuk menjelaskan segalanya?

"Jihoon, maaf, bisakah aku meminta waktu dengan Yoongi sebentar?"

Anggukan Jihoon berikan sebagai jawaban. Ia beranjak keluar dari apartemennya. Jimin mengusap pipi Yoongi yang masih menyisakan jejak airmata dengan sangat lembut menggunakan ibu jarinya, seolah Yoongi adalah berlian berharga yang tidak boleh cacat barang sedikitpun.

"Yoon, sayang, bangun…"

Yoongi menggeliat, tidak menggubris panggilan pelan Jimin.

"Yoongi-ya… ini aku, Chimchim. Bangunlah sayang."

Seperti mendapat sengatan listrik, Yoongi langsung tersadar dari tidur lelapnya. Matanya masih meraba-raba kondisi di sekelilingnya. Seketika ia menatap orang yang sedang tersenyum sangat manis tepat di hadapan wajahnya. Dengan pelan Yoongi mendudukkan dirinya di sofa. Jimin menangkup kedua tangan Yoongi yang terletak di pahanya. Tangan yang dingin, meskipun sudah dilapisi oleh selimut selama tidurnya tadi.

Senyuman hangat tak pernah lepas dari bibir Jimin, membuat pertahanan Yoongi semakin runtuh, hancur lebur. Ia paling menyukai senyum Jimin, sekaligus membencinya. Senyum lelaki itu adalah kelemahan sekaligus kekuatan terbesarnya. Ia terjebak di antara dua hal yang sangat kontradiktif. Yoongi pun mengalihkan pandangannya meskipun hatinya berontak, ingin menikmati wajah Jimin lagi dan lagi.

"Pulanglah, Jimin."

"Kenapa aku harus pulang ketika rumahku ada disini?" Jimin mengeratkan genggaman tangannya, mengecup punggung tangan kekasihnya pelan. "Rumahku adalah kau, hyung."

"Cih, omong kosong. Kau bahkan bersama orang lain dan kau merahasiakannya dariku. Persetan dengan semua ucapanmu, kau bahkan tidak bilang kalau kau mau pulang hari ini. Aku sengaja tidak bilang kepadamu, untuk memberi kejutan karena aku mau meminta maaf setelah marah kepadamu kemarin. Tapi kau? Apa kau pulang untuk berkencan dengan seseorang, dan memberitahu dunia bahwa kau baik-baik saja tanpaku? Hanya begitu artiku untukmu, Jim?" rentetan kata keluar dari mulut Yoongi dengan suara yang sedikit bergetar.

Dugaan Jimin benar. Yoongi pasti melihatnya sedang bersama Seolhyun. "Yoongi-ya, dengarkan aku dulu…"

"Cukup Jimin. Sekarang pergilah, kau sudah tidak membutuhkanku, kan? Dibandingkan dengan seorang gadis cantik yang pastinya lebih pantas untuk kau bawa kepada orangtuamu dan kau sebut 'rumah' tempatmu berpulang, aku jamin diriku ini hanyalah seonggok sampah yang nantinya akan kau buang jauh-jauh."

Jimin menggeram. "Hentikan omonganmu yang melantur itu hyung, aku—"

"YA! Aku memang berbicara asal saja, kau juga tahu itu dari dulu kan?! Lalu mengapa kau tetap bersikeras untuk bilang bahwa kau mencintaiku?! Seharusnya kau diam saja, jangan menciumku, jangan katakan apa-apa ketika aku menyatakan cinta padamu! Jangan buat aku berharap lebih kalau kejujuranmu saja tidak bisa kudapatkan!"

"HYUNG!" Jimin menatap Yoongi tajam, luka terpatri jelas di sorot matanya. Yoongi membalasnya, menantang tatapan kekasihnya.

"Aku punya alasan untuk semua itu. Dia Seolhyun, sahabatku sejak kecil yang kuantar untuk menemui orang yang disukainya di Hongik. Dia banyak membantuku sejak kecil, makanya aku membantunya untuk hari ini saja," pandangannya melembut. "Dan soal aku menciummu, mengatakan cinta padamu, itu karena aku benar-benar mencintaimu, benar-benar menyukaimu, sampai aku kehilangan segala akal sehatku ketika mengetahui bahwa kau tersiksa karena diriku. Maafkan aku yang bodoh ini, yang tidak jujur padamu, hyung. Caci maki aku seperti tadi, asal jangan kau menghilang dari pandanganku bahkan untuk sedetikpun. Jangan bungkam mulutmu terhadapku. Aku—aku tidak akan melukaimu lagi, hyung. Aku sangat mencintaimu, tolong mengertilah…"

Yoongi larut dalam diam, masih mencari kejujuran di mata kekasihnya. Ingin sekali bibirnya berkhianat, menyatakan cinta yang melebihi cinta Jimin kepadanya, mengatakan bahwa pemuda itu adalah nada dan melodi dalam kehidupannya. Namun gengsinya tetap mengambil peranan besar.

Jimin paham betul bahwa kekasihnya ini bukan orang yang mudah memaafkan, apalagi jika alasannya adalah kebohongan. Ia pun lalu bangkit berdiri.

"Aku pulang dulu, hyung. Semoga kau bisa memahami semua yang aku katakan. Tolong katakan padaku jika kau akan kembali ke rumah."

Tak ada jawaban. Jimin memegang kedua bahu Yoongi dan mengecup puncak kepala kekasihnya dengan kecupan panjang pelepas rindu. Kecupan yang seolah mengandung sihir karena amarah Yoongi perlahan menguar ke udara. Aroma maskulin Jimin menusuk hidung Yoongi, memberi efek dominasi sekaligus menenangkan.

Jimin berjalan perlahan keluar dari apartemen Jihoon. Tak lama Jihoon masuk ke apartemen. Ditatapnya Yoongi yang sedang terpekur di sofa, airmata kembali mengalir di pipinya, tanpa suara. Ia merasa sangat egois dan kesal karena tidak mampu mengalahkan keegoisannya itu. Yoongi lelah, takut kehilangan kekasihnya. Di satu sisi ia ingin sekali mendekap Jimin, mengatakan prasangkanya lah yang salah. Tapi ia tak mampu, tangannya seolah berkonspirasi untuk membuatnya semakin menjauh dari pemuda baik hati itu.

Jihoon yang tadi menyimak semua percakapan keduanya menarik nafas, ia memeluk tubuh Yoongi, mencoba menenangkan seniornya yang kini menangis sesenggukan dalam dekapannya.

"Tenanglah, hyung. Semuanya akan baik-baik saja…"

.

.

.

TBC

SIAP YANG UDAH NONTON MV SPRING DAY?! ASFSYGDHKLAQHJKS ANAK BANGTAN COGANS SEMUA KZL

Di behind the scene, Cimcim sempet nyebut kalo Yoongi itu boneka. Iye Cim iye boneka lu kan ye iye

Jiminnya so silit banget, aku pengen punya pacar kaya Jimin hehe~

Minyoonlovers: ahahaha aku gak janji lho yaa /authornyebelin/ thanks for your review, keep reading ^^ / sipesek: UDAH APDET NIH ELAAAH WKWKWKWK gak penting itu foto siapa, yang penting Jimin cogan wkwkwkwkwk