Jongin menatap pantulan dirinya dicermin. Senyumnya tidak hilang sedari tadi.

"Ah Jongin!" panggil Kang ssaem membuatnya menoleh dan berlari pelan kearah ssaemnya. "Ini orang pencari bakat yang ssaem katakan."

Jongin membungkukkan badannya sopan.

"Jadi ini ya yang namanya Kim Jongin?" tanya orang asing itu ramah. "Kenalkan aku Park Jung Soo atau lebih baik kau memanggilku Leeteuk dari agensi SM Entertaiment." Ucapnya dengan menyodorkan sebuah kartu nama berwana pink muda.

Jongin menerimanya senang, membolak-balik kartu itu dan membaca tulisan yang tertera disana.

"Ku harap kau mau masuk ke agensi. Sayang sekali kalau bakatmu itu disia-siakan."

"Bolehkah aku membicarakannya dahulu dengan kedua orang tuaku?" tanya Jongin setelah menatap kagum kartu tersebut.

Leeteuk mengangguk, "Tentu saja, tidak usah terburu-buru."

.

.

.

Uap putih keluar dari bibir tipis Sehun. Ia berdiri di depan gerbang setelah bertemu kedua orang tuanya yang kini sudah kembali dengan pekerjaan masing-masing. Kedua tangannya ia masukkan kedalam coat coklat itu supaya tangannya tidak membeku.

Ia menengok kedalam lapangan sekolah, berharap orang yang ia cari muncul. Kemudian ia tersenyum, berjalan sedikit menjauh dari gerbang ketika orang yang ia tengah cari berjalan kearahnya.

"Sehun, kau masih disini?" tanya Jongin melihat Sehun tersenyum tipis kepadanya.

Sehun mengagguk, "Kau tidak pulang dengan keluargamu?"

Jongin menggeleng pelan, "Dari tadi aku sedang mencari mereka. Tapi kulihat mobil mereka sudah tidak ada."

Kesempatan Bagus!

"E-e Jongin." Sehun merasa gugup. Tangannya terasa sedikit basah. "Kau mau pergi bersamaku?"

Jongin tampak berfikir sejenak. "Baiklah!" pekik Jongin senang dengan tupuk tangan kecil. "Kau mau pergi kemana?"

"Ke Lotte World, bagian indoor."

"Kau mau main ice skateing?" tanya Jongin terlihat sumringah. Bahkan kedua matanya berbinar-binar ketika Sehun mengangguk sebagai jawabnya. "Tapi aku tidak bisa main."

"Akan kuajari," Sehun mengusak rambut Jongin seperti biasa dan mendapatkan tatapan menggemaskan dari Jongin serta omelan yang menurutnya tak bermutu itu. "ayo cepat. Kita tidak bisa menjelajahi semuanya kalau kita terlambat beberapa menit." Sehun memutar matanya malas. Menarik tangan Jongin pelan dan berlari pelan.

"Memang harus tepat waktu ya?" tanya Jongin yang berusaha menyamakan laju larinya, deru nafasnya yang mulai terasa berat terdengar.

Sehun hanya tersenyum, "Molla."

Bibir Jongin maju, merasa kesal. Langkah lajunya juga ia buat pelan dan berhenti ditengah-tengah taman yang biasa mereka lewati.

Sehun menoleh kebelakang, "Kenapa berhenti?" tanya Sehun begitu menyadari bahwa Jongin tidak ada disebelahnya lagi.

Jongin pura-pura tidak mendengar, kemudian ia berjongkok. Menuliskan sesuatu di tumpukan salju dengan jarinya. Sehun mendekat, membaca deretan tulisan hangeul yang tidak terlalu jelas sambil mengejanya.

"Karena aku mau menghabiskan satu hari ini denganmu."

Jongin mendongak, menatap Sehun dengan wajah cemberutnya. "Kau tidak akan menyesal setelah ini." Yakin Sehun dengan uluran tangan. "Aku sudah berjanji untuk mengajarimu main ice skating bukan?"

Dengan lemas Jongin meraih tangan Sehun, "tanganmu dingin sekali Sehun!" Jongin buru-buru menggenggam erat kedua tangan Sehun. "Kau tidak membawa sarung tanganmu?"

Sehun menggeleng, "tertinggal di mobil." Ujar Sehun santai. Jongin mendecak pelan, mencoba menyalurkan panas dari tangannya ke tangan putih Sehun, sesekali menggosoknya lembut.

"Hangat?"

Sehun mengangguk senang, "Panas kalau kau mau tahu." Canda Sehun dan mendapat injakan manis di kakinya. "Appo Jongin!"

"Sudahlah, kita jadi pergi atau tidak?"

"Tentu saja. Kau akan kagum dengan apa yang kupunya nanti."

"Terserah katamu lah albino."

"Beruang gendut!"

.

.

.

Setelah menaiki subway dan turun di Jamsil subway station, mereka keluar lewat exit 4. Gedung-gedung tinggi menjulang sudah ada di depan mata mereka, dan Mall Lottle World juga terlihat.

Mereka berdua tersenyum, menyusuri daerah selatan sungai Han itu dengan langkah ringan, bercampur menjadi satu dengan kerumunan orang-orang yang beralu lalang.

"Sebenarnya apa sih yang ingin kau pamerkan itu?" tanya Jongin sembari mengantri membeli tiket.

"Nanti kau akan melihatnya sendiri."

Mereka terdiam, menikmati suasana sekitar dengan keheningan. Suara kebisingan yang terbuat seakan-akan sudah menjadi lagu favourite mereka.

Setelah mengantri cukup lama, mereka berhasil masuk ketika tiket sudah berada ditangan mereka. "Ice skating, ice skating." Gumam Sehun senang berkali-kali dapat didengar oleh Jongin. Jongin hanya mengendikkan bahunya, sudah terbiasa dengan tingkah Sehun kalau bersemangat seperti ini.

Mereka meminjam sepatu khsus ice skating dengan dua ukuraan yang berbeda. Milik Sehun sedikit lebih besar darimilik Jongin. Tapi itu tidak masalah, asalkan nanti Sehun benar-benar mau mengajarnya.

Dengan langkah hati-hati Jongin berusaha memasuki wilayah lantai yang terbuat dari es itu. Sedangkan Sehun yang ada didepannya, sudah terbiasa melangkah dengan lancar.

"Sehun tunggu aku," rengek Jongin kesusahan dengan langkahnya. "Ish, dasar tuli!" ucap Jongin pelan karena Sehun tidak mendengarkannya, memilih berdiri tegap di pinggir lapangan dengan sebuah senyuman.

"Kau ini tuli atau apa sih Sehun, " Jongin sudah berdiri di sebelah Sehun. Menatap sahabat yang jailnya keterlaluan ini sengit.

Wahana ice skating tidak terlalu ramai seperti wahana lainnya. Bahkah masih terdapat tempat-tempat kosong yang lebar.

"Ayo, aku ajari." Sehun membalik tubuhnya. Menghadap Jongin yang tengah takut-takut mencoba. "Kupegangi."

Kedua tangan Sehun memegang tangan Jongin, merariknya pelan dengan Jongin yang tengah berusaha menyeimbangkan tubuhnya.

"Tidak akan kau lepas, kan?" tanya Jongin sedikit hati-hati ketika mereka sudah berada di tengah-tengah lapangan es. Orang-orang yang sedang bermain di sekitar mereka membuat Jongin sedikit takut, karena speed yang mereka mainkan itu cepat.

"Bisa tidak latihannya di pinggir-pinggir saja? Kau lihat ada pegangan besi untuk pemula bukan?"

"Tidak seru nanti. Lebih enak latihan ditengah-tengah seperti ini."

Dalam hati Jongin meruntuki sifat jahil Sehun yang terlihat di wajahnya. "Sudah bisa menyeimbangkan tubuhmu?"

Jongin mengangguk, "Tapi jangan dilepas." Jongin semakin mengeratkan genggaman tangannya, tubuhnya sedikit gemetar walau tidak kentara.

Dengan telaten Sehun mengajari Jongin meski Jongin akan berteriak heboh kalau ia mencoba melepaskan genggamannya.

"Kenapa kau suka ice skating?" tanya Jongin setelah merasa cukup untuk latihannya.

"Kenapa?" jeda, Sehun menatap orang-orang yang ada di tengah ring dengan tatapan sendu. "Karena disini kedua orang tuaku bertemu."

"Kedua orang tuamu?"

"Eomma kandungku dengan appa."

Jongin kaget mendengarnya, "Eomma?"

Sehun mengangguk, "Mereka bertemu ketika bermain ice skating. Eommaku dulu atlet ice skating di sekolahnya, sedangkan appa sedang belajar bermain ice skating. Salah satu teman appaku kenal dengan eomma dan kau tahu apa selanjutnya,"

"Saat diceritakan oleh eomma aku jadi suka dengan ice skating. Kuharap aku juga bisa mendapat kejadian seperti itu." Sehun menatap lurus dikedua iris hitam Jongin. Tangannya terangkat, mengusap pelan surai hitam itu.

Jongin menundukkan kepalanya. Mencoba menepis tangan Sehun tetapi tidak bisa. Entah kenapa ia merasa aneh ketika Sehun menatapnya seperti itu.

"Ayo ke wahana lainnya!" suara Sehun berubah menjadi semangat daripada sebelumnya. Melepas ikatan tali sepatu miliknya dan milik Jongin. "Kau mau kemana?" tanyanya dengan menenteng sepatu pinjaman mereka. "Kita bisa jalan-jalan dulu kalau kau belum minat."

Jongin mengekor di belakang Sehun ketika mengembalikan sepatu. Berjalan santai melihat sisi mereka masing-masing. Tiba-tiba saja Sehun menarik tangan Jongin dan berjalan cepat menuju salah satu wahana yang membuat nyali Jongin menciut.

Tomb of Horror

"Tidak ada penolakan." Jongin yang ingin memberontak tidak jadi melakukannya karena Sehun telah memperingatinya.

Dengan susah payah Jongin menelan salivanya. Mencoba memberanikan diri meski ia berlindung di balik tubuh tinggi Sehun.

"Jangan di belakangku. Nanti kalau ada yang mencolekmu bagaimana?"

Semakin susah, Jongin menelan salivanya. Ini adalah wahana terburuk dan terahkir Jongin masuki. Suasana menakutkan dan gelap menambah beban Jongin, rasanya ia ingin pergi ke toilet.

"Jalan disebelahku," Sehun menarik kerah coat hitam Jongin ke sebelahnya.

"Aku bukan anak kucing!"

Jeritan Jongin dengan pengunjung yang lainnya menggema di setiap koridor, saling bersusulan dan seperti adu suara teriakan yang paling kencang. Jongin tahu kalau hantu-hantu yang ada di sini palsu, tapi entah kenapa Jongin malah takut.

"Kau mau membuat telingaku tuli?" ejek Sehun sambil mengorek-orek telinganya.

Jongin menatapnya sebal, "Salahmu sendiri mengajakku kemari. Kau tahu kalau aku ini penakut, menonton film saja aku memilih tidur awal saat kita menginap di rumah Baekhyun hyung." Jongin semakin mengeratkan pelukannya di lengan Sehun.

Tiba-tiba saja Sehun melepaskan pegangan Jongin pada lengannya. Menggenggam tangan yang ukurannya sedikit kecil darinya itu erat. Menuntun Jongin keluar dari wahana menyeramkan ini hingga mereka melihat pintu dengan sinar terang didepan mereka.

Jongin menghembuskan nafas panjang dan mengelus dadanya untuk menetralisir degup jantungnya.

"Ini terahkir kalinya aku bermain denganmu."

Sehun tertawa pelan, menepuk bahu Jongin sesekali menggoncangkannya. "Kuharap kau akan menrindukanku setelah ini." Jongin menatapnya sebal, ingin menginjak sepatu Sehun tetapi ia sudah ditarik Sehun ke salah satu cafe.

"Kita makan dulu, aku lapar."

Jongin menurut, duduk disalah satu kursi bagian pojok dekat dengan kaca besar milik cafe. Jongin menidurkan kepalanya, menatap orang yang berlalu lalang diluar sana. Ada rasa sedih dihatinya karena sebagian besar pengunjung adalah anggota keluarga.

Dulu Jongin juga memiliki kenangan tentang keluarganya saat liburan kelulusan. Menghabiskan liburan di pulau Jeju bersama dengan halmonienya disana. Sudut bibirnya terangkat begitu mengingatnya. Perasaan hangat yang dulu diterimanya menghilang entah karena apa. Jongin sendiri bingung apa dirinya memiliki kesalahan kepada keluarganya hingga seperti ini?

Semakin memikirkannya semakin membuat Jongin bertambah sedih. Ia ingin kembali seperti dulu, bisa tertawa dan tersenyum dengan keluarganya.

"Kau melamunkan apa?"

Jongin menegakkan tubuhnya, tersenyum kecut saat melihat Sehun sudah duduk di depannya dan meletakkan beberapa pesanan mereka.

"Tidak ada." Jongin meraih minuman berwarna biru disebelahnya. Memainkan sedotan berwarna putih dengan bengkokan itu dengan malas.

"Kalau tidak ada, kenapa wajahmu sedih seperti itu? Ah pasti kau merindukanku karena setelah ini kau tidak akan bermain denganku lagi." Canda Sehun.

"Meski kau tidak mau bermain dengankku lagi," Sehun mengambil dua kentang goreng di depannya, "aku akan terus mengganggumu." Dan kentang goreng itu berahkir di hidung Sehun.

"Ya, kau menjijikan Oh Sehun! Kau tidak malu dilihat orang." Jongin menatap jijik Sehun. Menyodorkan tisu miliknya kepada Sehun.

"Aku juga masih mau bermain denganmu." Ucap Jongin jujur. "Kalau bisa seperti ini terus juga tidak apa-apa."

Sehun menyeruput bubble teanya tenang. "Jangan melankolis seperti itu, seperti mau mati saja. Ini bukan pesan terahkirmu bukan?"

"Aku serius Sehun! Ish dasar tidak peka!"

Peka? Batin Sehun menatap Jongin yang tengah mengunyah kentang gorengnya kesal.

"Maaf," Sehun menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. "Aku tidak bermaksud—

"Diamlah, kau akan menambah moodku jadi jelek." Jongin juga ikut menyangga kepalanya. Menyeruput minumanya untuk membasahi kerongkongannya.

Diluar sana ratusan orang berlalu-lalang, namun yang membuat Jongin kaget adalah

"Appa," suara Jongin seketika serak, melihat appanya tengah menggandeng tangan Luhan. Bahkah eommanya juga ikut menggandeng tangan Luhan yang lainnya. Tapi yang membuat hatinya sakit adalah senyum yang terpasang diwajah mereka.

Senyuman yang sudah lama tidak pernah Jongin lihat selama hampir tiga tahun ini. Sehun yang mendengar Jongin memanggil ayahnya ikut menoleh. Memincingkan pendangannya ketika ia melihat satu keluarga itu tengah berjalan kearah cafe yang mereka singgahi.

Otomatis Sehun melihat Jongin. Menggenggam tangan hangat itu dan segera pergi dari sana. Mencoba mengalihkan pandangan Jongin dari keluarganya dengan membisikkan sebuah kalimat.

Langkah Jongin memelan dan terhenti. Ia menundukkan kepalanya dan menatap lantai mall itu kosong. Kepalanya terasa pusing, anggota geraknya seakan tidak mau menurut dengan perintah otaknya.

Sehun menatap cemas Jongin. Ia menarik tubuh Jongin dalam pelukannya, mengusap-usap punggung yang terlihat rapuh itu. Sehun tidak tahu harus berbuat apa, tenggorokannya juga ikut terasa kering.

"Aku baik-baik saja," suara serak itu menyapa telinga Sehun. "Aku baik-baik saja." Ulangnya. "Ayo kita pergi main." Suara itu serasa menyayat hati Sehun, begitu datar tidak seperti suara aslinya.

"Kau mau kemana?"

"Aku—" Jongin menatap sendu wajah Sehun, "Aku ingin pergi ke aquarium."

.

.

.

Suasana tenang begitu terasa ketika mereka berdua melangkahkan kakinya masuk kedalam aquarium terbesar di Seoul. Warna biru mendominasi dengan ratusan jenis-jenis ikan dan tumbuhan laut sebagai hiasan.

Kedua mata Jongin berbinar, karena pada ahkirnya Jongin bisa pergi kesini. Ia menatap kagum ketika seekor ikan pari berenang melewati mereka. Puluhan-pluhan ikan dengan warna-warna yang berbeda berkelompok dan pergi berlalu lalang di samping dan diatas kepala mereka.

"Kau suka?" tanya Sehun menggenggam tangan Jongin.

Jongin mengangguk senang, masih setia memberi tatapan kagum. "Sudah lama aku ingin kesini," Jongin menatap lembut Sehun. "Terimakasih sudah mau menemaniku disini."

"Aku juga baru pertama kali kesini," Sehun mengayunkan genggaman tangan mereka. "Awalnya aku tidak tertarik, tapi ternyata menyenangkan juga berada disini."

Jongin menatap tangan Sehun , lalu membolak-baliknya. "Ukuran tanganmu lebih besar dariku ya?" tanya Jongin yang baru merasakan perbedaan antara telapak tangannya dengan milik Sehun.

"Kau baru sadar?" Jongin mengangguk, mencoba mempaskan ukuran tangan mereka tetapi tetap saja milik Jongin sedikit lebih kecil dari Sehun. "Tentu saja, aku akan melindungi orang yang kucintai dengan kedua tanganku ini." Ucap Sehun bangga dengan menepuk dadanya dan seulas senyum lebar diwajahnya.

"Orang yang kau cintai?" gumam Jongin dengan suara pelan. Ia menatap kembali Sehun yang masih tersenyum. Tanpa ia sadari ujung bibirnya juga ikut tertarik.

"Jongin," Sehun menghentikan langkahnya. "Aku mencintaimu."

Cepat ucapkan bodoh! Batin Sehun merasa gugup.

Jongin menatapnya penuh tanya, kemudian ia tersenyum "Aku juga mencintaimu," Sehun tersenyum, sepertinya tidak perlu diungkapkan kalau ia benar-benar mencintai sahabatnya ini lebih.

"Sebagai sahabat."

TBC


AAAA! Ahkirnya chap 7 udah update!

Jujur aja lama nggak update rasanya ada yang hilang ==", salahin aja sama tugas-tugas anak SMA yang numpuk kayak gunung, orang-orang resek dan bla bla bla yang bikin mood nulis ilang.

Tapi masih ada yang nunggu ff ini kahn #berharap

Ada yang ngerasa bosan sama flashback yang nggak tau kapan hilangnya?

Tunggu-tunggu ada yang ngerasa aneh sama bahasa di chap ini? Menurutku rasanya agak aneh, apa lagi nggak ada adegan Jongin yang tersakiti, rasanya... ya beda lah. Mungkin efek dari kebanyakan nonton drama korea kali ya?

Aku minta maaf baru update sekarang dan rasanya ff ini agak aneh.

Buat kalian yang penasaran Jongin itu beneran anak kedua orang tuanya itu, memang Jongin anak kandung mereka. Tapi ada sisi gelap yang nggak Jongin tahu tentang kedua orang tuanya. Nanti bakalan dikupas kok, kalo sekarang kan nggak seru.

Btw, aku seneng banget baca-baca ulang review kalian. Sumpah ada review yang bikin aku ketawa dan senyum-senyum sendiri. Aku menghargai review kalian semua, karena lewat review kalian aku bisa ngembangin cerita ini. Jujur aja kalo nggak ada yang tanya Jongin itu anak kandung apa bukan, mungkin nggak kepikiran tentang sisi gelapnya orang tua Jongin. Dan yang minta lanjut bikin aku semangat nulis meski kadang aku males dan niatnya nggak bakalan aku lanjutin

Dari pada ngoceh panjang dan ngebosenin, terimakasih sudah mau membaca ff ini ^^! #bow

Big Thanks For You Guys!

Silviana | | Xinger XXI | ariska | Ike686 | ren chan | k1mut | Nadia | jonginisa | Jun-yo | tokisaki | sayakanoicinoe | Kamong Jjong | lustkai | jidix | | kthk2 | ucinaze | Dhara432 | Guest | Hun94Kai88 | cute | bubbleosh | kimkai88 | mira-ah | | Sung208 | yuvikimm97 | kkamjongindy | Guest | jumee | youngimongi | novisaputri09 |

NishiMala (untuk chap 1) dan Mery (untuk chap 5)

terimakasih untuk review kalian dari awal ff ini ada atau beru-baru ini ^^. Dan buat kalian yang udah ngefollow/favor terimakasih banyak, aku jadi seneng kalau makin banyak yang ngefavor/follow

Sampai jumpa di chap selanjutnya~ Pai Pai~