"Sekarang, saatnya mencari tahu siapa kau sebenarnya." Ujar Kaguya di depan sosok yang berlutut itu.
~vunnng!~
Sebuah vorteks tercipta di belakang sosok itu dan mengeluarkan Kaguya yang lainnya. Kaguya itu'pun kemudian memegang hoodie sosok itu dan menariknya dengan kuat, menyebabkan hoodie itu robek karena tergesek oleh tanduk sosok itu dan juga menampakkan rambut berwarna putih jabrik dengan dua mata yang tertutup.
Kaguya yang berada didepan sosok itu kemudian memasukkan kedua jarinya pada masker sosok itu dan menariknya hingga terlepas. Seketika kedua matanya melebar.
"Ne, Kaguya-chan, apa kau tidak merasakannya?"
~pyar!~
•••
••
•
.:::::Rise of Ootsutsuki Clan:::::.
••
•
NARUTO DAN HIGH SCHOOL DXD BUKAN MILIK SAYA, TETAPI MILIK PEMBUAT MEREKA.
••
•
Rated: M {Tidak ada lemon (atau mungkin?)}
••
•
O. Naruto x O. Kaguya
•••
••
•
~Sring!~
Sebuah portal tiba-tiba muncul di depan sebuah tembok besar yang beberapa saat lalu menjadi arena pertarungan antara empat desa Shinobi, atau lebih jelasnya 3 desa shinobi melawan 1 desa shinobi yang berhasil dimenangkan oleh 1 desa shinobi itu, Uzushio.
Dari dalam portal itu, seorang perempuan berpakaian kimono putih, bersurai putih, dan berwajah cantik walaupun datar dengan tenang berjalan keluar sambil menyeret sebuah pedang besar berwarna hitam kelam dengan kedua mata yang tertutup. Bukan, bukan karena penyakit tidur sambil berjalan, melainkan menenangkan pikirannya.
~sring!~
Sesosok makhluk berpakaian serba hitam dengan dua tanduk dikepalanya dan bermanik putih riak air tiba-tiba muncul beberapa meter didepan perempuan bernama Kaguya itu. "Jika kau ada disini, berarti kau sudah mengalahkanku di dalam sana benar kan? Kaguya-chan?" Tanya sosok itu menebak apa yang terjadi didalam. Padahal, tanpa bertanya'pun ia telah mengetahui apa saja yang terjadi didalam sana.
Mendengar pertanyaan itu, ketiga mata Kaguya dengan perlahan-lahan dan sangat dramatis terbuka, menampilkan dua mata amethyst tanpa pupil dan sebuah mata berwarna merah dengan pola riak air yang dikelilingi 3 tomoe di setiap riaknya. "Tanpa bertanya kau pasti tahu jawabannya." Jawab Kaguya datar.
~sring! sring! sring!~
Satu persatu Shinobi Uzushio bermunculan didepan Kaguya dengan formasi yang melindungi Kaguya dibelakang mereka. "Kaguya-sama, anda baik-baik saja?" Tanya salah satu Shinobi itu.
"Aku baik-baik saja dan lebih baik kalian pergi dari sini! Ini adalah urusanku dengannya! Dan juga, rawat seluruh orang yang terluka!" Perintah Kaguya.
"Tapi, Hime-sama." Sebagai seorang bawahan, bukankah sudah hal yang mutlak jika ia harus melindungi pemimpinnya? Itulah yang saat ini dipikirkan oleh shinobi-shinobi itu.
"Ini perintah!"
"Baiklah." Namun apalah daya. Sebagai seorang bawahan jugalah menjadi hal yang mutlak untuk mematuhi setiap perintah yang diberikan oleh pemimpin mereka.
"Kau tidak pernah berubah ya, Dewi kejam." Gumam sosok itu sembari menciptakan sebuah katana dari salah satu bola hitam yang ada dipunggungnya. "Baiklah, aku tidak akan segan-segan kali ini." Ujarnya sambil memainkan katana hitamnya itu seperti seorang psykopat yang hendak memotong-motong tubuh mangsanya.
"Apa kau yakin kalau kau kali ini bisa mengalahkanku?" Dan dengan itu, Kaguya menghilang dan kembali muncul di belakang sosok itu sambil mengayunkan pedangnya keleher sosok itu.
~crash! pyarr!~
Kepala dan tubuh sosok itu'pun terpenggal dengan kepala yang jatuh terlebih dahulu ketanah disusul tubuhnya namun, selang beberapa detik kemudian, kedua bagian itu tiba-tiba pecah menjadi ceceran darah.
"Ne~ Sepertinya kau tertipu lagi, Kaguya-chan." Ujar sosok itu yang kini tengah berdiri dengan jarak sekitar 100 meter dari Kaguya.
~sring!~
"Sayangnya aku sengaja melakukan ini."
~crash! pyarr!~
Hal yang sama'pun kembali terjadi dan begitulah seterusnya, seakan menimbulkan kesan bahwa makhluk itu memiliki darah yang unlimited. Dilihat dari banyak makhluk yang setahu Kaguya adalah blood clon yang jika diakumulasikan dari jumlah klon yang telah ia kalahkan, dan jika makhluk itu adalah manusia normal, bukankah ia seharusnya saat ini sudah mati? Atau setidaknya sekarat.
"Begitu rupanya, kau terlalu membuang-buang tenaga, Dewi kejam."
"Kau sendiri, berapa banyak darah yang telah kau keluarkan?"
"Sebanyak yang kubisa keluarkan tentunya."
~trank!~
Kaguya'pun melepaskan genggamannya pada pedang besar itu sehingga pedang itu jatuh menghantam tanah, menimbulkan bunyi yang khas logam.
~sring!~
Setelah itu, Kaguya kembali menghilang dan muncul di depan sosok itu.
~bugh!~
Dan ia'pun langsung mengahantamkan tinju yang penuh akan energi chakra nya, menyebabkan sosok itu terpental jauh kebelakang.
~sring! bugh!~
Kaguya kembali menghilang dan kini, ia kembali muncul dibelakang sosok yang belum berhenti itu, menendang punggung sosok itu sehingga mengubah arah terbang sosok itu menjadi kedepan.
~sring! bugh!~
Kaguya kembali menghilang dan muncul di depan sosok itu, menghantamkan tinjunya pada dagu sosok itu sehingga kembali mengubah arah terbang sosok itu menjadi keatas.
~sring! bugh! blarrr!~
Kaguya kembali menghilang dan muncul di depan sosok itu, menghantamkan ujung tumitnya pada dada sosok itu sehingga ia kembali mengubah arah terbang sosok itu menjadi kebawah, dan akhirnya ia'pun jatuh dengan keras menghantam kerasnya tanah, sebuah kawah kecil tercipta karenanya.
"Maaf, kukira kau adalah bayangan mu." Ujar Kaguya dengan datarnya, bagaimana'pun juga ia telah mengetahui hal itu sejak awal sehingga ia tidak menggunakan senjata. Entah karena alasan apa.
Sosok itu terlihat bersusah payah untuk kembali berdiri, pakaiannya'pun telah robek disana-sini, hoodie dikepalanya'pun juga telah robek, memeperlihatkan rambut jabrik berwarna putih.
~Sring!~
Kaguya kembali menghilang dari tempatnya berdiri dan...
~grep!~
Menubruk dan memeluk tubuh sosok itu hingga menyebabkan sosok itu terhuyung kebelakang karena kuatnya hantaman yang diberikan Kaguya. Jika kalian memiliki pendengaran yang tajam dan penglihatan yang jeli, maka kalian pasti akan mendengar isakan tangis khas perempuan dan melihat tubuh Kaguya yang bergetar. Sungguh, ini adalah momen yang langka yang bahkan mungkin saja tidak akan pernah terjadi jikalau tragedi malam berdarah itu tidak ada.
"Kukira kau akan langsung memelukku." Ujar sosok itu. "Tapi setidaknya, hilangkan dulu tandukmu sebelum memelukku." Sosok itu membalas pelukan Kaguya dengan eratnya dan menempelkan dagunya dipucuk kepala Kaguya. Jika dilihat-lihat, sosok itu seakan tidak ingin melelaskam Kaguya, dan begitu pula sebaliknya. Entah ini hanya perasaan dari yang melihat mereka atau mungkin itu memang benar.
"Ten-tentu saja tidak." Balas Kaguya dengan isakan tangis di setiap katanya seraya melepaskan wujud 'dewi' nya itu.
Semua orang yang melihat momen langka itu hanya bisa diam, hanya bisa membisu, hanya bisa bertanya pada diri mereka sendiri yang tentunya tidak akan bisa menjawab pertanyaan mereka. Namun, dibalik itu semua, mereka semua hanya tak menyangka bahwa pemimpin mereka yang jarang berekspresi bisa menangis di pelukan seorang pria. Bahkan empat hewan besar yang tengah berlari menghampiri Kaguya'pun langsung menghentikan langkah kaki mereka saat melihat itu. Berspkulasi sendiri mulai mereka jalankan di benak mereka masing-masing tentang sebuah pertanyaan, yaitu apa yang sedang terjadi?
"Apakah ini sebuah kenyataan? Apa kalian juga melibatnya." Ujar singa berbulu putih dengan nada tidak percaya yang sangat kentara di setiap katanya. "Apakah ini mimpi?" Sambungnya.
"Sayangnya ini bukanlah mimpi, Byako, Kaguya-hime memang sedang menangis." Jawab seekor burung berselimut api di seluruh tubuhnya yang baru saja turun dari langit.
"Berarti, dia,,,,,,,,," Ujar seekor kura-kura dengan tempurung berwarna hitam.
"Naruto-sama." Sambung seekor naga berwarna biru.
|Kembali ketempat Kaguya|
"Ku kira kau juga ikut terkena jebakan itu." Ujar Kaguya masih dengan nada yang sama, diiringi isakan tangis dan dengan wajah yang masih berada di dada sosok itu. Mungkin memang benar, ia tak ingin melepaskan sosok bernama Naruto itu barang seditik'pun.
"Jebakan seperti itu tidak akan pernah bisa menjebak seorang Ootsutsuki Naruto."
•••••
•••••
•••••
•••••
Diatas gedung tertinggi yang langsung menghadap kearah matahari terbenam, disanalah Kaguya dan sosok berpakaian serba hitam itu berada, dimana saat ini Kaguya tengah berbaring diatas pangkuan sosok yang telah membuka topengnya dan memlerlihatkan identitas aslinya, Ootsutsuki Naruto.
"Kaguya-chan, apakah aku boleh bertanya padamu?" Tanya Naruto sambil menyisir surai putih panjang milik Kaguya menggunakan jari-jarinya. Hal yang sangat disukai oleh Kaguya sejak zaman Underworld sampai sekarang.
"Tentu saja, memang apa yang ingin kau tanyakan, Naruto-kun?" Jawab dan tanya Kaguya sembari mengalihkan pandangannya kekedua mata Naruto.
"Hm, kenapa kau bisa sampai
di tempat ini?"
"Itu, ya. Sebenarnya, pada malam itu, Otou-sama berhasil bertahan dari racun yang diberikan padanya, ia'pun segera mencariku dan mengirimku bersama Suzaku, Byako, Genbu, dan Seiryuu ke dunia ini dengan taknik dimensinya, dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi disana."
"Lalu, kenapa kau tidak kembali kesana?"
"Aku tidak bisa menggunakan jurus perpindahan dimensi, Naruto-kun, yang kubisa hanyalah keluar dan masuk kedalam dimensi buatanku sendiri."
"Bagitu, ya. Kalau begitu, maukah kau pulang bersamaku?"
"Tapi, bagaimana dengan mereka semua? Desa-desa itu pasti akan datang kembali dan kembali menyerang." Kaguya mengucapkan itu dengan sedih seraya memandangi desa kecil yang ia pimpin itu. Sebagai seorang pemimpin, ia tidak bisa begitu saja meninggalkan desa yang ia pimpin dan meninggalkan rakyat yang tengah dalam kesusahan untuk kepentingannya sendiri.
"Benar juga. Aku tak mungkin bisa berada disini untuk waktu yang lama. Jadi, satu-satunya cara untuk membawamu kembali adalah dengan membawa mereka semua kedimensi kita. Hanya itu satu-satunya cara. Kau setujukan?"
Kaguya mendudukkan dirinya dengan mata yang masih tetap menatap mata Naruto dengan tajam. "Dimana kau akan menempatkan mereka? Kau tidak berencana untuk menempatkan mereka di Underworld kan?"
"Tentu saja iya."
Kedua mata Kaguya langsung melebar, memperjelas penampakan manik amethyst tanpa pupil miliknya. Dalam benaknya ia berpikir. 'Apakah kau bodoh?' Hal itu tidaklah bisa disalahkan karena kita tahu bahwa Underworld adalah tempat kekuasaan para Iblis. Tapi, hal itu akan menjadi sangat disalahkan jika dia—Naruto telah berhasil mengambil alih Underworld kembali.
Sementara itu, Naruto yang ditatatap seperti itu menjadi bingung. Ia tahu tatapan itu. Tatapan yang dulu selalu di gunakan oleh Kaguya pada saat mengatainya dengan kata-kata, 'Apa kau bodoh? Apa kau tidak berpikir? Apa kau dungu?' Salah satu kata itu pasti akan keluar beberapa saat lagi.
"Apa kau bodoh?" Betul bukan. Kata itu pasti akan keluar dalam jeda waktu beberapa detik setelah Kaguya memberikan tatapan itu.
"Setelah aku mendapatkan Underworld kembali tentunya."
Kaguya mengehembuskan nafas lega saat mendengar jawaban itu. "Lalu, kau akan menempatkan mereka dimana?" Tanya Kaguya kembali.
Naruto tak kunjung menjawabnya. Ia malah manatap kedua mata Kaguya dengan intens. Ia bingkai kedua sisi wajah Kaguya dengan kedua tangannya dan dengan perlahan menariknya mendekat kewajahnya yang juga tengah bergerak mendekat ke wajah Kaguya. Kedua mata Naruto dengan perlahan-lahan mulai tertutup. Sedangkan Kaguya yang mengerti akan apa yang akan dilakukan oleh Naruto, ia'pun juga menutup kedua matanya dengan perlahan seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Wajah mereka semakin lama semakin mendekat dan dengan kedua mata yang telah tertututup, secara dramatis bibir mereka bertemu. Menciptakan sebuah momen romantis, haru, sekaligus dramatis diwaktu yang bersamaan dengan latar belakang matahari yang terbenam.
Beberapa saat kemudian. Mungkin karena faktor kebutuhan oksigen, mereka berdua memutuskan untuk menarik kembali bibir mereka tapi tak sampai menarik wajah mereka. Dengan kening yang menempel dikening Kaguya, Naruto mengatakan. "Percayakan padaku."
•••••
•••Seminggu kemudian•••
•••••
"Apakah ini sudah semua, Kaguya-chan?" Tanya Naruto pada Kaguya yang berdiri disampingnya seraya memandangi orang-orang berambut merah yang berbaris rapi didepannya.
"Sudah."
Naruto maju beberapa langlah kedepan. "Baiklah. Aku ada satu pertanyaan untuk kalian. Apakah kalian yakin ingin ikut bersama kami ke dimensi tempat asal kami dengan bayaran, kalian tak akan bisa kembali kedimensi ini." Tanya Naruto kepada Uzumaki-Uzumaki didepannya itu guna meyakinkan keputusan mereka.
"Kami yakin. Dimanapun itu, jika disana ada Kaguya-sama maka kami semua juga harus berada disana." Seru seorang pria berbadan paling besar diantara mereka semua.
"YAAA!" Seru yang lainnya, tanda bahwa mereka semua sependapat dengan pria itu.
"Baiklah, jika itu keputusan kalian. Kaguya, masukkan mereka!"
"Baiklah." Dua buah tanduk dengan perlahan mencuat dikepala Kaguya, surai putihnya yang semula hanya sepinggang tiba-tiba menjadi panjang yang bahkan melebihi tinggi tubuhnya. Selain itu, kelopak mata di kening Kaguya juga mengalami pergerakan membuka secara perlahan, memperlihatkan mata berwarna merah darah berpola riak air yang dihiasi oleh 3 magatama di setiap riaknya.
~vuuuung!~
Sebuah vorteks berukuran besar tiba-tiba muncul didepan para Uzumaki itu. "Masuklah." Ujar Kaguya. Barisan pertama Uzumaki itu segera memasuki vorteks Kaguya, diikuti oleh barisan ketiga, keempat, dan kelima hingga barisan terakhir dan kemudian vorteks itu menghilang, disusul dengan Kaguya yang berubah kembali kewujud normalnya.
~poft! poft! poft! poft!~
Empat buah ledakan asap tiba-tiba muncul disekitar Kaguya dan Naruto, memunculkan empat hewan yang sebelumnya ikut berperang. "Naruto-sama, mereka dalam perjalanan dan menuju gerbang timur."
"Mereka juga tengah menuju gerbang barat."
"Juga gerbang utara."
"Dan gerbang selatan."
Keempat hewan itu silih berganti memberi tahukan apa yang mereka lihat di pos mereka masing-masing.
"Begitu. Mereka ingin menyerang desa ini dari berbagai arah ya."
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Kaguya setelah memasukkan keempat hewannya kedalam dimensi miliknya. Melihahat gerak-gerik Naruto yang terus menatap lurus keatas benar-benar membuatnya bingung. Apa yang sedang dia pikirkan?
Naruto berjalan mendekati Kaguya. "Aku akan memperingatkan mereka." Jawab Naruto. "Jika mereka tak ingin kembali, kau tahukan apa yang kulakukan."
"Aku tahu." Perempuan bersurai putih itu berjalan dengan pelan menuju gedung paling tinggi dan mendakinya dengan berjalan secara vertikal.
"Hey, Kaguya-chan, kau mau kemana?" Tanya Naruto sambil menyusul Kaguya.
"Melihat-lihat." Jawabnya singkat tanpa menoleh kebelakang dan kebawah. Hanya lurus keataslah ia fokuskan pandangannya. Tak berapa lama kemudian, ia'pun akhirnya sampai di puncak gedung itu disusul dengan Naruto beberapa saat kemudian. Ia menoleh kebelakang dengan waktu yang singkat guna memastikan bahwa Naruto telah berada dibelakangnya.
"Apa kau marah, padaku?" Tanya Naruto membuka kembali sesi percakapan mereka.
"Marah? Ya, aku sangat marah padamu. Kau tahu kenapa? Karena kau pasti akan menghancurkan desa kecilku ini, kan." Balas Kaguya.
~greb!~
Tanpa sepengetahuan Kaguya, Naruto tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Maaf. Tapi, jika kau mau, aku akan membawa desa ini." Kaguya langsung menggeleng pelan mendengar pernyataan itu.
"Tak perlu. Lagi pula ini hanya desa. Yang kuinginkan adalah kau. Aku ingin kau terus berada bersamaku."
"Lalu, bagaimana jika aku meninggalkanmu?"
"Aku tak akan memaafkanmu, aku akan mencarimu dan menyiksamu. Jika'pun kau meninggalkanku karena kau mati, aku akan menghidupkanmu kembali dan menyiksamu hingga mati kemudian menghidupkanmu dan menyiksamu lagi." Sesaat setelah Kaguya membahasnya, ia yakin bahwa ia mendengar suara tegukan ludah dari orang dibelakangnya itu.
"Dasar."
~drab! drab! drab!~
Suara langkah kaki menggema dari segala penjuru mata angin seolah mengurung kedua pasangan itu didalamnya. "Sepertinya mereka telah datang." Ujar Naruto.
Kaguya tak membalasnya. Ia melonggarkan dekapan tangan Naruto pada pinggangnya dan berbalik memeluk Naruto. "Apa kau yakin ingin melawan mereka sendirian?"
"Yah, selama ini kau sudah berjuang sendirian membela mereka jadi, untuk saat ini biarkan aku yang melawannya. Kau istirahatlah."
~vuuung!~
Sebuah vorteks tiba-tiba muncul didepan mata Naruto dan dengan perlahan menghisap tubuh Kaguya. "Jangan membuatku menunggu diantara balok-balok suram itu." Ujar Kaguya sesaat sebelum ia benar-benar masuk kedalamnya.
"Balok-balok suram heh."
•••••••
•••••••
Sementara itu di luar gerbang Uzushio bagian empat arah mata angin, terlihat kelompok besar Shinobi dengan pakaian yang berbeda-beda. Dibagian Utara, disana terlihat segerombolan shinobi berpakaian putih yang dipimpin oleh seorang pria tua berotot.
Dibagian timur, terlihat segerombolan Shinobi memakai rompi berwarna abu-abu yang dipimpin oleh seorang pria bepakaian biru berambut pirang tanpa alis.
Dibagian selatan, segerombolan Shinobi berompi coklat telah menunggu aba-aba dari seorang pria yang telah dimumikan.
Dan dibagian barat, terlihat segerombolan Shinobi berompi abu-abu dengan topeng yang menutupi wajah mereka dan dipimpin oleh seorang pria dengan mata bagian kanan yang ditutupi oleh perban.
Yeah, benar. Mereka semua adalah orang-orang yang sebelumnya menyerang Uzushio dan kini mereka berusaha menghancurkan Uzushio kembali dengan jumlah pasukan yang bertambah dan persenjataan yang lebih banyak. Membalaskan dendam atas dipermalukannya mereka pada penyerangan sebelumnya dengan meminta bantuan desa lain.
"SERANG!" Ujar keempat pemimpin pasukan itu hampir dalam waktu yang bersamaan.
~whuusss! Duarrr! DUAAARR! DUARRR!~
Berbagai macam jurus tingkat tinggi berbasis chakra dengan berbagai elemen memghantam tembok kokoh Uzushio hingga menyebabkan tembok pelindung itu hancur. Memberikan jalan yang amat lebar bagi seluruh pasukan itu untuk bergerak masuk kedalamnya.
~DUAARR! DUARR! DUARRRR!"
Shinobi-shinobi itu tanpa pikir panjang lagi langsung menembakkan jurus-jurus terkuat yang mereka miliki keberbagai arah. Menghancurkan rumah-rumah penduduk yang mereka lewati, menghancurkan gedung-gedung yang menjulang tinggi tanpa memikirkan apakah ada orang atau tidak didalamnya. Merobohkan pohon-pohon besar yang telah ditanam ratusan tahun lalu, meluapkan sungai-sungai, menerbangkan batu-batu besar keudara dan menjatuhkannya kembali. Dan akhirnya, dalam waktu yang kurang dari 30 menit, desa indah nan makmur yang bernama Uzushio kini telah resmi dihilangkan dari peta. Hanya satu bangunan yang tersisa. Dari ratusan bangunan yang dimiliki Uzushio, kini hanya tinggal gedung tertingginya yang entah kenapa tak bisa dihancurkan oleh berbagai jurus.
"Dimana mereka semua?" Tanya mumi bernama Mu itu.
"Hn~~ Kemungkinan ada didalam gedung itu, mengingat gedung itu tak sedikit'pun retak terkena serangan kita." Balas pria dengan perban yang menutupi mata kanannya. Shimura Danzo, pemimpin sekaligus pendiri organisasi ANBU hitam bernama ROOT yang ada di desa Konoha.
"Benar juga. Tapi~~~"
~whusss!~
Gelombang angin yang cukup kuat tiba-tiba saja menghantam tubuh keempat pemimpin itu dan shinobi-shinobi yang berada disekitar gedung. Memaksa mereka untuk menyilangkan kedua tangan mereka didepan muka dan bertahan untuk tidak terhempas.
~brakh! brakh! brakh! brakh! BRAKH!~
Entah karena apa, gedung tertinggi itu tiba-tiba saja mulai hancur dan roboh mulai dari lantai paling dasar, seolah diatas gedung itu terdapat beban yang amat berat sehingga menghancurkan setiap pilar yang menyangga gedung itu. Semua Shinobi yang berada disekitar gedung itu segera melompat jauh kebelakang, mencari batas aman sehingga meminimalkan resika untuk tertimpa material gedung.
Namun, apakah benar mereka telah berada dizona aman?
~deg!~
Semua pasang mata Shinobi-shinobi itu melebar tatkala melihat sesuatu yang sangat-sangat besar berwarna emas dengan dua sayap merpati yang terkatup perlahan turun seiring hancurnya gedung itu.
"A-apa i-itu?" Tanya shinobi-shinobi itu dengan tubuh yang bergetar hebat karena saking kuatnya aura dari raksasa itu.
~Sring!~
Raksasa itu terlihat menarik pedang yang ia bawa secara perlahan dari sarungnya, menciptakan sebuah symphoni indah nan merdu tetapi terdengar sebagai alunan kematian bagi yang mendengarnya bagi yang telah menjadi targetnya.
"Kalian semua adalah orang-orang yang serakah. Dan orang-orang yang serakah tak pantas hidup diatas bumi milik Kami-Sama."
~whuusss! BRAAKKHH!~
Raksasa itu langsung menghantamkan pedangnya ketanah, menyebabkan orang-orang yang berada disekitarnya terpental jauh dan menciptakan retakan yang menganga lebar di tanah.
~BRRAAKHH!~
Raksasa itu kembali mengangkat pedangnya dan menghantamkannya lagi di sisi lain tempat itu dan begitulah seterusnya. Ia terus saja menghantamkan pedangnya dan menebaskan pedangnya keberbagai arah dimana orang-orang serakah itu berada.
"AAAARRRGGGHHH!~
Teriakan pilu menggema disana-sini. Shinobi-shinobi yang tak mau mati dengan bersusah payah mencoba untuk melarikan diri namun, itu semua sia-sia saja karena raksasa itu langaung mengejar mereka dan mengirim mereka menuju tempat dimana seharusnya orang-orang serakah seperti mereka berada.
Tempat yang sangat jauh dari bumi tetapi bisa saja sangat dekat dengan bumi.
Tempat yang dikelilingi oleh api yang berkobar ganas.
Tempat yang didalamnya selalu terdengar alunan musik merdu memilukan. Teriakan kesakitan!
Tempat yang dikenal sebagai penyiksaan tanpa batas, tanpa henti, dan tanpa belas kasih.
Neraka.
••••••••
•••••••••
•••••To Be Cintinued•••••
•••••••••
••••••••
A/N:
Maaf bila anda merasakan kesan aneh dan maaf karena update terlalu lama.
Terima Kasih
