I DON'T OWN ONE PIECE!
Chapter 7 : I Need You Like a Heart Need The Beat
"Usopp, Chopper, Luffy coba lihat senjata terbaruku, AW SUPEEEERRR!"
"Waaaaah, sugooooii!"
"Kereeeeeeenn!"
"Kalian berempat berisik sekali! Sana sudah aku siapkan makanan untuk kalian di dapur! Nami-swaaaan, Robin-cwaaaaan makanan sudah siaaap."
"Robin masih tidur Sanji-kun."
"Hmmm kok tumben? Kalau begitu Nami-swan makan duluan saja yaaaa, aku sudah siapkan makanan spesial untuk cintaku Nami-swaaaan."
"Kenapa diluar berisik sekali?," Robin baru saja terbangun dari tidurnya, dia sontak terkejut dan langsung duduk tertegun di atas ranjangnya. "Aku mendengar suara mereka! Jangan-jangan…" Robin berlari keluar membanting pintu kamar dan tersenyum sumringah melihat pemandangan di depan matanya, ya teman-teman dan kapalnya telah kembali.
"Robiiiiin-chwaaan kau kenapa? Apa yang terjadi padamu? Katakan padaku jika ada sesuatu yang mengganggumu!" Sanji pun memasang posisi sigap berlari dan menuju kearah Robin.
"Robin, kau sudah bangun rupanya, tumben sekali jam segini baru bangun," Nami menyapa Robin dari duduk santainya sambil membaca Koran.
"Robin, jangan sembarangan membanting pintu, bagaimana kalau nanti rusak?," Luffy menyilangkan kedua lengannya sambil memandang ke arah Robin.
"Iya dia benar" "Iya benar! Benar!" saut Usopp diikuti oleh Chopper.
"Sudah tidak apa-apa, Sunny tidak mungkin rusak hanya karna bantingan kecil seperti itu, Sunny adalah kapal yang supeeerr!" Franky mengacungkan jempolnya ke arah Luffy, Usopp, dan Chopper.
"Yohoho selamat pagi Robin, maukah kau menunjukan celana dalammu?" Brook menuju ke arah Robin dan langsung saja mendapatkan tendangan dari si koki Sanji.
"Fufufu," "syukurlah jadi semuanya hanya mimpi."
"Robin-chwan ayo kita sarapan dulu, aku sudah menyiapkan masakan spesial untukmu," Sanji menggandeng tangan Robin dan berjalan menuju dapur.
Kemudian langkah Robin pun terhenti karena melihat sesuatu yang mengejutkan. "A-Apa? I-Itu? Itu bukannya topi milik Law yang dia letakan di bawah kemarin malam, kenapa tempatnya masih tetap di situ? Jangan-jangan…"
"Sanji! Di mana Law?"
"Law? Aku belum melihatnya dari tadi, ada apa Robin? Kenapa kau terlihat panik?"
Sontak Robin memungut topi Law dan berlari menuruni tangga dan melihat di sekitar dek, tapi dia tak melihat sosok seorang pria bermata abu-abu itu disana, Robin naik lagi ke dapur namun tetap tidak ada, dia memeriksa kamar pria juga tidak nampak sosok dari pria yang di cintainya itu, kemudian dia naik menuju ruang pengawasan.
"Zoro? Kau ada di sini rupanya! Apa kau mel…"
"Dia ada di bawah, di ruang akuarium."
"Zo-Zoro?"
"Kau mencari Law kan? Cepatlah kesana, mungkin dia sedang menunggumu."
"Terima kasih Zoro," Robin memeluk Zoro erat sambil meneteskan air mata.
"Oi Oi! Kenapa kau malah menangis! Sudah pergi sana temui pangeranmu!"
"Fufufu baiklah," Robin tersenyum sambil menghapus air matanya kemudian berlari meninggalkan Zoro.
"Wanita itu, sangat menyebalkan! Aku mencoba membencinya namun aku malah makin mencintainya, sial!"
Robin pun berlari cukup kencang menuju ke ruang akuarium. "Apa benar dia ada disana?," dia terus berlari dengan senyum dan air mata yang membasahi pipinya perlahan-lahan, dia menuruni tangga bawah dan sampailah di ruang akuarium.
"Huff huff huff," Robin sedikit membungkuk untuk mengatur nafasnya setelah berlarian kesana-sini.
"Nico-ya?"
Robin pun terkejut mendengar seseorang memanggil namanya, kemudian Robin mengalihkan pandangannya ke orang tersebut, dan ternyata "L-Law?!"
"Nico-ya? Kau kenapa? Sepertinya terlihat sedang buru-buru," Law berdiri dan menghampiri Robin.
"Law.. Trafalgar Law! Aku membencimu!" Robin menangis sangat kencang kemudian memeluk Law dengan sangat erat.
"Kau bodoh! Kau bodoh! Kau bodoh! Aku sangat membencimu."
"Ni.. Nico-ya? A-apa yang terjadi?," Law terkejut dan wajahnya mulai memerah.
"Aku menghawatirkanmu bodoh! Mengertilah sedikit."
Pelukan Robin semakin kencang, tangisannya pun semakin menjadi-jadi. "Aku bersyukur itu ternyata hanya sebuah mimpi, aku takut kehilanganmu, aku membutuhkanmu seperti jantung membutuhkan detaknya," tiba-tiba tangan Law mulai melingkar di tubuh Robin, Law mulai membalas pelukan Robin.
"Jadi kau juga bermimpi kejadian yang sama, aku juga sangat takut Nico-ya, aku juga sangat takut kehilanganmu."
Robin yang terkejut dengan ucapan Law pun sontak melepaskan pelukannya.
"Law? Ma-maksudmu?"
"Disaat sebelum aku menghembuskan nafas terakhir aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi saat itu tiba-tiba mulutku sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, mungkin sekarang saat yang tepat."
Law menggengam kedua tangan Robin "Nico-ya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu! Sama sepertimu aku juga sangat membutuhkanmu Nico-ya."
"L-Law.. aku juga.."
"Kau juga mencintaiku bukan? Aku sudah mendengar semuanya saat kau mengatakan padaku ketika aku sedang sekarat."
Robin menundukan kepala dengan wajah memerah dan mencoba mengalihkan topik.
"Hmmm Law ini aku bawakan topimu."
"Wah terima kasih, sampai-sampai aku lupa dengan topiku hehe."
"Hmmm jadi kau sudah mendengar semua perkataanku waktu itu?"
"Iya semuanya."
"Hmmm…."
"Terima kasih Nico-ya, aku sangat senang sekali ketika mendengarmu juga memiliki perasaan yang sama denganku, pada saat itu aku pikir aku sudah siap untuk pergi dengan tenang."
"Sudah hentikan Law! Jangan bahas itu lagi!," Robin menangis sambil tertunduk.
Law pun mengangkat dagu Robin dan mulai mengecup lembut bibirnya.
"Sudahlah jangan menangis, sekarang kan aku ada disini, ayo kita mulai dari awal."
Robin pun melingkarkan tangannya ke leher Law dan membalas ciuman dari Law, Law juga melingkarkan tangannya ke pinggul Robin dan mereka berdua berciuman sembari menjadi tontonan para ikan yang ada di akuarium.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi, Law?"
"Aku berjanji."
"Fufufu," Mereka berdua menyilangkan jari kelingking mereka.
"Terima kasih telah mencintaiku, Nico Robin," Law tersenyum sembari memandang senyuman manis Nico Robin.
"Ngihihi jadi misiku berhasil lagi?"
"Iya kau berhasil, terima kasih telah membantu Law menemukan cinta dalam hidupnya."
"Tidak masalah, ini adalah janjiku sejak dulu, aku akan membantu sebisaku untuk membahagiakannya."
"Terima kasih banyak, kamu masih yang terbaik, selamat tinggal."
"Aku sangat merindukanmu, aku masih sangat mencintaimu, kumohon jangan pergi, Rocinante."
-THE END-
YOOOOOSSH! Akhirnya selesai jugaaaaaaa :"D
Terima kasih buat yang sudah bacaaa :")
Terima kasih buat yang nyempatin nge-review :")
Terima kasih buat semuaaaaaa hehehe :"D
Maaf ya kalau ceritanya kurang greget :") newbie hihi tapi bakal berusaha lebih bagus lagi kok di next story :)
SEE YOU ON THE NEXT STORY!
