Chapter 7 : 'Kenyataan Pahit'
Tidak semua cokelat itu manis. Begitu pun dengan hidup dan cinta. Namun, manis dan pahit dapat bergabung dan menghasilkan rasa yang begitu nikmat.
####
[ 04.00 - Asrama Shining Saotome ]
"Kkhh...S-Syo-kun...Ap-apa―umhh―yang kau lakukan..?!"
"Are? [Name]-chan?"
"S-Syo-kun―"
"[Name]-chan?"
"H-Hentikaann!"
"[N-name]-chan? Apa kau baik-baik saja?"
"H-Haruka? Akh...aku hanya bermimpi. Mimpi apa ini..."
Kau terbangun dari tidurmu dengan keringat yang mengucur deras di pelipismu. Astaga, apa ciumannya membawa dampak yang berkepanjangan hingga terbawa mimpi seperti ini? Di dalam mimpimu, kau mengalami hal itu lagi. Bahkan Syo lebih beringas saat menciummu. Dia benar-benar sudah keterlaluan. Sangat. Baru kali ini kau mendapat sebuah mimpi yang―err―sedikit mesum. Ah, mungkin lebih dari kata 'sedikit'.
"Dan sekarang, apa kau baik-baik saja? Kudengar tadi kau menyebut nama Syo-san berkali-kali. Apa Syo-san berbuat semena-mena di dalam mimpimu?"
BLUUSSHH~
Seketika wajahmu tampak sangat merona. Ternyata ada hal yang lebih buruk. Hal itu adalah― Haruka mendengar semua eranganmu saat bermimpi tadi.
"N-na-nandemonaiiii~!" Kau bangkit dari tempat tidurmu dan berlari ke arah balkon kamar. Kau beringsut dengan posisi duduk dan memeluk erat kedua lututmu. Terlihat jelas bahwa wajahmu masih menampilkan rona kemerahan sejak tadi.
'Kami-sama...ada apa denganku ini? Kenapa hanya dengan Syo-kun menciumku...aku bisa terbawa mimpi sejauh itu?!
Apa karena aku yang baru saja mengalami hal itu? Atau...
...apa ada hal lain yang tak kusadari?'
Kau menenggelamkan wajahmu di kedua lenganmu. Mencoba menenangkan diri dari perasaan yang sedang tidak nyaman saat ini. Tak lama kau membungkam wajahmu, kau menengadahkan wajahmu menghadap ke atas, menatap tenangnya langit di pagi hari. Membiarkan hembusan angin yang masih terasa dingin menyapu lembut kulit wajahmu. Perlahan, kau menghirup udara pagi yang sejuk itu dalam-dalam. Mencoba untuk memanjakan paru-parumu sebelum kembali berelaksasi. Manikmu membatu menatap gemerlap cahaya terang di langit yang masih tampak gelap. Bintang-bintang disana seakan menyapamu dengan senyuman mereka dari kejauhan. Tanpa sadar, kau pun menarik ujung bibirmu membentuk sebuah lengkungan kecil. Bermaksud membalas sapaan dari sang kejora. Oh, tapi sayang, para bintang yang malang. Sepertinya sang rembulan tidak hadir menemani mereka. Senyumanmu pun seketika berubah menjadi sendu.
"Ano...[name]-chan?" Panggil seseorang, membangunkanmu dari lamunan yang sukses mengambil alih kesadaranmu.
"Ah, Haruka."
"Kau sudah tidak apa-apa, kan?" Tanya Haruka. Ya, teman sekamarmu yang menyebalkan itu. Tersirat sedikit kekhawatiran dalam pertanyaannya itu.
"Hm, ya. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit...shock," jawabmu yang kemudian disusul dengan kekehan kecil yang lolos dari bibirmu.
"Ah, yokatta~ Aku sangat khawatir saat melihatmu tadi, [name]-chan. Kau berkeringat banyak sekali tadi."
"Haha, maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir. Aku pun juga merasa aneh dengan diriku sendiri."
"Na, Haruka. Apapun yang kau saksikan pagi ini, tolong segera lupakan. Itu tadi...memalukan," tukasmu. Kau beranjak dari posisimu dan menuju ke kamar mandi, bersiap untuk hari ini. Sedangkan Haruka, ia hanya menatapmu penuh arti dari balkon kamar.
.
.
.
GLUP GLUP GLUP
"Ahhh..." Kau menenggak banana smoothie mu hingga tandas tak bersisa. Disinilah dirimu, duduk di pojok salah satu kursi yang tertata rapi di kantin sekolah. Tak ada teman. Hanya dirimu. Tadinya Syo ingin menemanimu, namun kau masih shock dengan mimpi yang kau alami tadi pagi. Alhasil, kau diam-diam melarikan diri darinya dan menuju kantin sendirian. Yah, siapa tahu disini kau bisa bertemu dengan Shinomiya.
'Hm, Natsuki-kun...'
Raut wajahmu yang tadinya semangat membara karena banana smoothies yang telah mengaliri tenggorokanmu, sekarang berubah menjadi kisut. Tentunya, karena kau kembali teringat dengan lelaki yang menjadi cinta pertamamu, Shinomiya.
'Natsuki-kun...
...Natsu―kun...'
"Tch. Natsuki-kun bodoh!" Kau mendengus kasar sembari menghentakkan kepalan tanganmu ke meja, hingga menimbulkan suara yang cukup keras. Akibatnya, beberapa orang siswa memusatkan perhatiannya padamu. Namun, kau tak sedikitpun menghiraukan pandangan mereka terhadapmu.
Kau terdiam sejenak. Kali ini, pikiranmu terpenuhi oleh bayang-bayang masa kecil antara dirimu dengan Shinomiya. Hatimu terasa amat perih. Seperti terkoyak. Jika saja...saat itu kalian sudah mengerti apa arti dari perpisahan, maka tidak akan seperti ini jadinya.
"Aku membutuhkanmu...
...
...Doraemon.."
(Oh, [name]. Jangan katakan itu disaat seperti ini-,-) /abaikan.
Tiba-tiba...
"Ah! Aku akan menemui Natsuki-kun. Siapa tahu, dengan seringnya aku menemuinya, dia akan mengingat semua yang dikatakannya dulu. Bahkan janji yang telah ia buat denganku," gumammu pada dirimu sendiri. Dengan perasaan optimis yang begitu tinggi, tanpa menunggu lama kau pun beranjak dan bergegas menuju kelas A, kelas dimana Shinomiya dan sahabat karibmu, Tomochika berada. Oh ya, dan juga gadis yang menyebalkan itu. Jangan tanya siapa dia.
Kau berjalan melenggang dengan perasaan yang sepenuhnya ceria. Tepat, seperti cuaca pada hari ini. Jika kau berjalan keluar gedung dan menatap ke arah langit, pasti kau akan melihat dengan jelas bahwa sang mentari sedang tersenyum lebar pada dunia.
Senyummu mengembang semakin lebar saat papan kecil bertuliskan 'A Class' terpampang kukuh di ambang pintu masuk sebuah ruangan. Sebentar lagi, seseorang yang kau rindukan akan menyambut kehadiranmu, cinta pertamanya.
Yap, sampailah langkahmu di depan pintu ruang kelas tersebut yang sedikit terbuka. Dan―
DEG
DEG
DEG
"S-Shinomiya-san..."
"Haruka-chan...
...aku pernah bilang, kan. Kau imut seperti anjingku. Dan aku menyukainya."
"Eh? Ahaha, a-arigatou..."
"He, kau semakin imut saja jika tersipu seperti itu..."
CHUP
"..."
'Apa...itu?'
TES
'Kenapa...'
TES
TES
"Hiks..." Air matamu mengalir deras dari pelupuk mata. Mengalir membasahi pipi tirusmu. Kau tak percaya atas apa yang tengah menjadi pemandangan bagi matamu saat ini. Inilah...sambutan untukmu di kelas A.
Sakit.
Sakit sekali.
Kau mematung. Kau benar-benar ingin lari dari sini, namun kakimu terasa amat berat. Seperti tertarik oleh lantai yang berbahan magnet. Namun di saat yang sama, kakimu tiba-tiba terasa sangat lemas. Terasa berat sekali untuk menopang tubuh mungilmu. Di sisi lain, air matamu semakin deras mengalir. Kau semakin tak kuasa menahan gejolak dalam dirimu, menyaksikan apa yang cinta pertamamu dan gadis yang kau benci lakukan. Apa maksudnya?!
'Kau jahat...Natsuki-kun...
...aku melihatmu...
...apa artinya, ciuman yang kau berikan...pada dirinya?'
GREB
"..."
Tiba-tiba, seseorang menarikmu. Ya, seseorang telah menyelamatkanmu dari pemandangan busuk itu. Tapi tunggu dulu. Kenapa...orang itu memelukmu? Ah, sepertinya indera penciumanmu menangkap aroma yang tak asing.
"Kenapa kau terus berdiri disana?"
Bahkan, indera pendengaranmu pun menangkap suara yang sudah penuh tersimpan dalam memori otak.
"..."
"Pergilah jika kau tak ingin melihatnya."
"..."
"Seharusnya kau tidak datang kesini."
"..."
"Seharusnya kau tidak diam-diam pergi dariku, bodoh."
"Hiks...hiks..." Tangismu pecah. Kau menangis sejadi-jadinya di dalam rengkuhan sahabatmu. Syo, ia telah menyelamatkanmu.
"Hiks...Natsuki-kun baka! Baka! Baka!" Kau berteriak di dada Syo, hingga suaramu perlahan sulit untuk kau lontarkan. Kau meremas erat baju yang tengah Syo kenakan saat ini. Baju di bagian dadanya pun telah basah karena air matamu. Namun, ia masih bergeming dengan posisinya yang sedang memelukmu. Ia mempererat pelukannya. Lagi-lagi, ia kembali membuat perasaanmu menjadi lebih baik. Pelukan hangatnya yang begitu tulus, dapat kau rasakan. Sangat nyaman. Berat rasanya untuk melepaskan diri dari rengkuhannya saat ini.
"Sudah lebih baik?" Tanyanya saat menyadari tangismu yang sudah tak terdengar.
"Un," jawabmu lemas, masih dengan sesenggukan. Matamu terasa menebal, sembab karena terlalu lama menangis. Tenagamu pun terkuras habis. Ternyata, menangis memang lebih melelahkan ketimbang berlari sprint. Oh ya, jangan lupa kalau sedaritadi kalian berdua berada di ruang penyimpanan (sejenis gudang tapi bukan gudang). Saat mengetahui dirimu yang tengah menangis di depan ruang kelas A, Syo langsung saja menarikmu dan membawamu masuk ke dalam ruang penyimpanan.
"Hey..." Panggil Syo. Kau mendongak menatap sahabatmu dengan mata sembab dan wajah yang berantakan.
"Pfftt... Kau jelek sekali. Seperti bebek yang terjerembab ke dalam lumpur, tahu," ejeknya. Namun dalam arti, ia ingin menghiburmu.
"..." Kau masih saja terdiam. Tak berminat sama sekali untuk menanggapi lelucon lelaki nyentrik tersebut.
"Hm...mau kutraktir banana smoothie?"
Mendengar kalimat tersebut terucap dari bibir lelaki blonde nan nyentrik itu, kau pun menunjukkan senyuman kecil. Sangat kecil. Entah dia melihatnya atau tidak.
.
'Eh, tunggu. Apa aku pernah bilang padanya kalau aku sangat menyukai banana smoothie?
Dia stalker atau apa?'
#
#
#
-To be continue-
Hoooo gimana menurut kalian tentang chapter ini minna-chan? Kurang nyess gitu ya? XD aduh gomen, saya sendiri juga ga ada pengalaman XD /jangandengerin.
Jangan lupa reviewnya yaaa~ *winku*
Jaa na!
