GS!

Rate T ke M

.

Baekhyun, gadis yang hidup dalam belenggu tradisi yang mengikat tanpa mempercayai semua tradisi yang telah mengekang. Namun, sejak sebuah takdir yang tak terbantahkan telah terkuak melingkupinya dan para sahabatnya. Entah mereka atau dia yang menjadi sang takdir para penguasa.

.

Selamat membaca ^^

.

.

Chapter 6

Dalam hentakan angin tak kasat mata membelai jiwa tenang yang selama ini terdiam dalam ketenangan sang kelam. Senyum tipis sirat kemenangan tersungging di bibir tipis sang pujaan malam. Tak sia-sia perjuangan yang selama ini ia berikan, tak sia-sia pengorbanan yang selama ini ia abdikan jika sang puncak telah berada di bawah kedua kakinya.

"Lună plină"

Wanita cantik bersurai pirang itu mulai menggumamkan sebuah kata-kata asing dari bibir indah miliknya, seakan ia melontarkan sebuah untaian cinta sehingga membuat bandul kalung yang ia genggam erat itu berputar dengan begitu cepat.

Hitam dalam selimut sang putih menusuk dalam kesendirian tiada henti

Meraung dalam kemarahan yang selama ini memberontak dalam diam

Sang rembulan

Merah bagai genangan darah

Merah bagai kemenangan

Wanita cantik itu menghembuskan napas perlahan sebelum ia melanjutkan untuk merapalkan kalimat-kalimat yang hanya dirinyalah yang patut merapalkannya.

Sang takdir penguasa. Belahan jiwa sang penguasa Latent. Sang ratu.

Sang merah yang telah dinantikan

Mengharap cahaya kepekatan yang engkau berikan

Merintih dalam gejolak murka yang telah terpendam

Lepaskanlah

Lepaskanlah

Chaterine—wanita cantik bersurai pirang itu menghirup napas dalam ketika angin malam semakin menusuk kulitnya. Tak terpungkiri bagaimana dinginnya Kota Latent ketika malam hari, bagai terbelenggu dalam selimut es. Bibir tipis Chaterine tak berhenti untuk mengulang kalimat-kalimat yang telah ia terima dari seseorang yang telah ia temui berulang kali itu. Seseorang yang telah memberitahu kepadanya bahwa ialah sang takdir penguasa. Seseorang yang telah menjadi perantara antara dirinya dengan sang penguasa. Jiwanya. Hidupnya. Obsesinya.

Bukan, dia bukanlah sang tetua agung yang selama ini dihormati dan ditakuti oleh penduduk Latent. Derajat, kedudukan, dan keagungan orang yang Chaterine temui melebihi apa yang dimiliki oleh tetua agung penduduk Latent—Mr. Court

Dalam diam, ingatan Chaterine menembus dan merefleksikan kejadian-kejadian sebelum ia melewati ritual kedewasaan. Kejadian tepat sebelum ia bertemu dengan seseorang yang telah meyakinkan dirinya bahwa ia adalah sang takdir penguasa.

-o0o-o0o-o0o-

Cahaya merah bercampur pekat sang hitam mengelilingi tubuhku ketika bibirku selesai merapalkan beberapa kalimat dari buku asing yang diam-diam ku ambil dari perpustakaan milik Mr. Court

Di balik batas—itulah judul buku bersampul merah darah dengan ukiran tangan-tangan tengkorak yang digunakan sebagai kunci penutup buku itu. Pertama kali aku melihatnya, detak jantungku berdetak begitu cepat, seakan buku itu menarik jiwaku untuk mengambilnya.

Tanpa pikir panjang apa yang akan terjadi padaku nanti, aku membawa buku itu pergi dari kediaman Mr. Court.

Kakiku terus melangkah menjauh. Setapak demi setapak, kakiku melangkah menuju hutan belantara yang selama ini menjadi tempat persembunyianku untuk mendalami beberapa mantra ilmu sihir yang sering diucapkan sebagai underground of magic—Sebuah ilmu berkekuatan besar dan tak terbantahkan. Ilmu yang selama ini telah membimbingku, ilmu yang selama ini telah membawaku ketingkat yang lebih tinggi. Ilmu yang mampu membuatku menguasai kemampuan terlarang yang telah dilarang untuk digunakan di dalam kota—Well, aku tau jika para penduduk menguasai ilmu ini, maka tak akan mampu menaklukan mereka. Oleh sebab itu, Mr. Court telah melarang dan membumihanguskan apapun yang bersangkut paut dengan ilmu-ilmu ini dalam peredaran di kalangan masyarakat Kota. Namun, semua itu tak akan berlaku untukku. Karena aku bukanlah penduduk bodoh seperti mereka. Aku Chaterine. Wanita yang ditakdirkan sebagai penguasa. Wanita yang ditakdirkan berada di puncak rantai makanan—

Underground of magic merupakan ilmu sihir yang membuatku memiliki kemampuan yang telah menembus batas kewajaran dan kerasionalan akal manusia. Ilmu yang telah menaikkan derajat yang telah ku miliki. Ilmu yang akan memenuhi keinginanku untuk menjadi sang takdir penguasa. Ilmu yang akan menuntunku ke dalam pelukan sang penguasa Latent.

Dengan usaha yang cukup lama, tengkorak tangan yang melingkup di buku yang telah ku curi dari perpustakaan Mr. Court itu masih belum juga terbuka.

"Apa yang salah?"

Otakku semakin berputar ketika tengkorak-tengkorak ini tetap mencengkeram begitu erat. Dahiku mengerut kira-kira apa yang diinginkan tengkorak-tengkorak ini agar jalinan yang mereka buat terlepas?

Aku terdiam

Mencoba memutar otak agar memahami apa yang diinginkan buku ini agar ia sudi memberitahu kebenaran yang tertuang di dalam kertas lusuh miliknya kepadaku. Dengan keadaan yang semakin penasaran, kedua tanganku kembali membolak balikkan buku yang aku pegang sebelum sebuah kenyataan telak menerpa pikiranku, "Bodohnya." Rutukku secara spontan

Ku letakkan buku bersampul merah darah itu di atas rumput hijau yang telah setia menjadi alasku selama ini. Ku rentangkan kedua tanganku tepat diatas buku itu. ku pejamkan kedua mataku untuk memulai mantra yang akan ku ucap

Wahai sang diam

Merintih dalam kekalutan yang tiada tara

Ungkaplah segala risau yang tengah terpendam

Kuaklah segala kepahitan yang selama ini tersimpan

Semilir angin mulai membelai bagai badai yang mengelilingi ketika bibirku selesai merapalkan mantra yang selama ini ku gunakan untuk membuka sebuah rahasia pelik yang tersimpan begitu rapat.

Namun, sepertinya buku ini memiliki pertahanan yang cukup kuat, hingga mantra yang ku ucapkan pun tak membuatnya terbuka bahkan seinci pun

Wahai sang diam

Merintih dalam kekalutan yang tiada tara

Ungkaplah segala risau yang tengah terpendam

Kuaklah segala kepahitan yang selama ini tersimpan

Terbukalah

Sang keinginan yang mulai merambat

Terbukalah

Kedua mataku kembali terbuka ketika sinar merah bercampur cahaya pekat keluar membentuk sebuah kumpulan asap yang membuatku mengernyit. Aroma amis khas dari pekatnya darah mulai membelai penciumanku

"Picături de sănge"

Gema suara tiba-tiba mengalun ketika asap-asap itu mulai menipis. Sungguh, sebenarnya otakku masih mencerna apa yang ku dengar, "Darah?" Tanganku mengulur berniat mengambil sang buku, namun tengkorak itu seakan tiba-tiba hidup dan mencengkeram tangan kananku

"Picături de sănge"

Gema suara itu kembali mengalun hingga membuat bulu romaku berdiri, "Buku ini membutuhkan darah untuk sekedar membukanya?" Dengan napas yang mulai terengah karena sesak amis asap yang telah dihasilkan sama sekali tak menghilang, kepalaku mengangguk mengerti seakan buku itu memiliki mata yang mampu melihat apapun yang ku lakukan. Ku tolehkan kepalaku untuk mencari benda tajam yang akan ku goreskan di telunjukku.

Namun, ketika kedua mataku kembali menatap tengkorak tangan yang melingkup itu memiliki kuku-kuku runcing nan tajam, dengan cepat kugoreskan telunjukku di kuku itu hingga darahku mengalir di kelima ruas jari tengkorak itu. Dapat ku saksikan ketika ruas-ruas jari tengkorak tersebut perlahan membuka dengan pasti, seakan tengkorak-tengkorak tersebut telah puas mendapatkan asupan darah dan bersembunyi di balik buku.

Tanpa sadar senyum sirat kepuasan dan rasa penasaran mengembang di raut wajahku ketika kedua tangan ini mulai membuka sampul buku di balik batas ini. Aku tak sabar atas pengetahuan dan ilmu-ilmu yang tersimpan di buku sacral ini.

Namun sayang, dahiku mengernyit tak mengerti ketika kedua mataku hanya disajikan oleh kertas lusuh berwarna kuning tanpa ada tinta yang mengotorinya. Dengan decakan kesal ku telusuri halaman-halaman selanjutnya dalam buku ini. Namun apa daya ketika hanya kertas lusuh berwarna kuning saja yang tersedia.

Tes

Tanpa kusadari, setetes darah mengalir dari telunjuk ku—yang telah ku gores ketika akan membuka buku di balik batas—ketika jemariku membuka kembali halaman pertama dari sang buku.

Darah itu mengalir dengan meliuk-liuk seakan darah itu terserap di dalam lusuhnya kertas kuning itu hingga menimbulkan sebuah huruf-huruf latin yang terasa tak asing

Sang darah telah kau persembahkan. Apa yang engkau inginkan wahai manusia?

Kedua mataku membola ketika sebuah kalimat mulai tertulis di tengah kertas kuning nan lusuh itu.

"Wahai sang penyerap ilmu, berilah aku petunjuk dalam peningkatan derajat untuk menjadi sang takdir penguasa."

Dapat ku saksikan tetes tetes darah yang semula terserap kini timbul lagi dan mulai membentuk sebuah kalimat baru yang ku yakini sebagi bentuk jawaban atas permintaanku.

Ketika sang hati mulai menggelap, keinginan tak terbantahkan. Sang kelam lah yang akan menjawab. Wahai manusia, berilah kesetianmu kepada kami.

Ketika kedua mataku menelusuri dan memahami makna yang tertuang di atas kertas lusuh itu, gema suara tiba-tiba mengalun dengan geraman dan sirat ancaman. Seakan ia tengah menunjukkan bahwa memanggilnya adalah sebuah kesalahan besar. Gema penuh tekanan dan alunan yang mengerikan.

"Wahai manusia." Dapat ku lihat sinar merah yang terpancar dari buku itu tengah membentuk sebuah bayangan tubuh seorang pria tegap dengan kain berwarna hitam berdiri dengan begitu gagah,"Kekentalan darah tak lagi dapat terurai dalam menghias sang ikrar yang telah terpatenkan. Sekali lagi ku tanyakan kepada engkau. Apa yang kau inginkan, wahai manusia?"

Aku mendongak untuk menatap pria tua yang gagah tepat di depan mataku

"Sang takdir penguasa." ucapku secara spontan

Namun, lelaki itu tertawa dengan begitu menyeramkan. Dapat ku rasakan tatapan tajam itu menelisik seluruh tubuhku seakan tatapan itu mampu menguliti tubuhku hingga ke inti.

Tanpa sengaja kedua mataku menatap seringai di bibir sosok itu, "Apakah kau yakin atas apa yang kau inginkan? Kau hanyalah manusia."

Mendengar pertanyaan yang seakan merendahkan itu mampu membuatku bergejolak, "Aku bukanlah manusia biasa. Aku mampu mengimbangi sang penguasa." Ku hembuskan napasku yang memburu tiba-tiba, "Kau menawarkan ku sebuah permintaan. Maka kabulkan permohonanku untuk menjadi sang takdir penguasa."

Tawa itu kembali menggema, tawa yang mampu membuat bulu romaku bergetar penuh kekalutan, "Apa yang akan ku dapatkan jika aku mengabulkan permintaanmu, wahai manusia?"

"Apapun yang kau inginkan."

Aku dapat melihat kepala sosok itu mengangguk sebelum ia berkata, "Ketika sang rembulan telah memanggilmu, hal yang sebenarnya akan tertutup."

Dapat ku rasakan hembusan angin semakin menusuk kulitku begitu keras. Seakan mereka mampu menyayatku dengan begitu mudah. Kedua mataku melihat ketika sosok berjubah hitam itu merentangkan kedua tangannya dan mulai mendongak menatap bulan sabit yang saat ini tengah bersembunyi di balik kumpulan sang awan, "Tekat yang mendayu dalam kekelaman malam akan menyertai dirimu selamanya. Sang takdir dan sang penguasa akan selamanya terikat. Tak dapat melangkah mundur atau melewatinya. Apakah kau mampu menyerahkan seluruh jiwa ragamu kepadaku?"

Tanpa perlu berpikir ulang ku anggukan kepalaku untuk menyetujui ucapan sosok tersebut

Sosok itu kembali bergumam dengan seringai tajam di bibirnya, "Keadilan akan mengalir menjauh, kau berikrar atas darah yang telah kau teteskan. Kau menginginkan sang penguasa menjadi belenggu. Apa kau yakin membelah kebenaran takdir yang telah tertulis?"

Kepalaku kembali mengangguk penuh keyakinan

"Wahai sang gelap. Kekekalaman telah terikrar dalam sumpah setia di setiap tetesan darah di dalam nadi. Mengaung dalam kepekatan keadilan yang tersembunyi. Keasingan yang akan terlindung dalam kebodohan yang abadi. Mereka miliknya, kita miliknya. Namun tiada abadi jika tercoreng hanya setitik noda"

Sosok itu kembali menatap ku untuk kesekian kalinya, "Wahai manusia. Setiap darah yang kau tuangkan telah terikat dalam kegelapan abadi. Kau miliknya dan tak mampu kembali." Ku putar kedua mataku untuk melihat keadaan kanan dan kiri yang entah sejak kapan mulai dihiasi oleh pekatnya merah darah dan bau amis yang semakin menyengat, "Hancurkan mereka yang menghalangimu. Ketika rembulan telah berpihak kepadamu, hantamlah seluruh kebenaran yang akan terjadi. Kau akan menjadi miliknya. Kau akan menjadi sang takdir penguasa secara utuh."

Senyum terpatri di bibirku. Lubuk hatiku bersorak gembira ketika keinginanku akan terkabul.

Sang takdir penguasa.

Chaterine—Wanita cantik yang akan menjadi pendamping abadi sang takdir penguasa

"Apa yang harus ku lakukan ketika ritual kedewasaan nanti?"

Lelaki itu kembali tertawa mendengar pertanyaanku, "Ketika sang darah terikat dalam kegelapan, tak perlu kau risau atas apa yang akan kau lakukan. Ia akan menuntunmu. Menuntunmu dalam pengabulan keinginan yang selama ini kau harapkan."

Ku tundukkan kepalaku dan ku bungkkukan badanku untuk menunjukkan bahwa aku menghormatinya. "Hamba tak sabar atas penantian yang selama ini menjadi tujuan hidup hamba, menjadi sang takdir penguasa."

"Wahai manusia. Yakinlah atas kegelapan yang akan membimbingmu. Karena sang penguasa akan datang dalam kegelapan yang abadi."

-o0o-o0o-o0o-

Chaterine kembali tersenyum atas keinginan yang telah terwujud dalam dirinya. Ritual kedewasaan telah menuntunnya untuk menjadi sang takdir penguasa. Sosok itu tak menipunya. Sosok itu membuktikan bahwa ia benar-benar tetua sang penguasa sehingga ia mampu merubah benang merah dari sang penguasa.

Dengan kekhusyukan yang semakin merambat, ia lontarkan mantra-mantra untuk membangkitkan cahaya merah yang membias dari kalung bundar pemberian sosok itu. Chaterine selalu mengingat ucapan sosok itu bahwa ketika cahaya merah pekat itu telah benar-benar memenuhi pandangannya, maka sang penguasa yang menjadi belahan jiwanya akan tergambar jelas di cahaya merah tersebut.

-o0o-o0o-o0o-

"Wahai manusia, ketika kedua mata mu telah berubah menjadi indahnya kental darah, maka lantunkanlah mantra-mantra yang telah ku ajarkan kepadamu." Sosok itu menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan

"Kalung emas yang telah dititipkan sang penguasa kepadamu akan menuntunmu untuk memahami siapa dia sebenarnya."

Belai rintik hujan menyapa kulitku dengan begitu sensual. Seakan mereka menyapa ku dengan penuh dambaan, "Kapan hamba akan bertemu dengan sang penguasa, tetua?"

"Ketika sinar sang rembulan merah melingkupi wilayah kekuasaannya. Ketika kau berhasil mengetahui sosok yang tergambar dalam cahaya pekat yang telah kalung itu munculkan. Ketika kau benar-benar berserah diri bahwa kaulah sang takdir penguasa."

Dapat ku rasakan bandul dari kalung itu berputar begitu cepat ketika sosok itu kembali merentangkan tangannya, "Tetesan darah yang telah kau ikrarkan kepada sang gelap akan membuatmu mampu mengikat sang penguasa secara utuh. Dengan segala pancaran tubuh serta perubahan dirimu yang akan mendekati sang penguasa akan terjadi ketika kau kembali mempersembahkan darahmu untuk sang kegelapan."

"Lakukanlah sekarang, wahai manusia." Sosok itu menunjuk bandul yang tetap berputar begitu cepat, "Berikanlah darahmu kepada bandul itu."

Tanpa perlu ucapan yang kembali terulang, ku teteskan darahku tepat diatas bandul yang semakin berputar cepat. Percikan-percikan darah terlontar ke setiap sisi yang ada hingga asap mulai timbul di sela-sela putaran sang bandul.

Asap itu semakin membesar dan membesar hingga tanpa ku sadari asap itu menampilkan sebuah tempat pemukiman yang terasa asing di dalam pandanganku. Tempat yang sangat indah dan begitu memukau. Terkesan penuh kemisteriusan dan tak tersentuh.

"Kau akan menapakkan kakimu di tanah sang agung ketika rembulan merah benar-benar memihakmu." Gema suara sosok itu kembali mengalun namun aku tau jika ketika asap mulai melingkupi pandanganku maka sosok itu akan menghilang, "Wahai manusia, ketika sang rembulan merah telah menyapamu, hancurkan segala hal yang menghalangimu Hancurkan tanpa tersisa."

-o0o-o0o-o0o-

Wahai sang kelamnya malam, tuntunlah hamba dalam sebuah kepastian.

Tunjuklah keagungan yang tak lagi tersirat dalam kepalsuan

Aku miliknya

Aku miliknya

Kedua mata Chaterine berbinar ketika melihat cahaya merah dari bandul kalung miliknya semakin membesar. Dengan samar ia menyaksikan punggung tegap dari sosok yang berdiri di dalam cahaya pekat itu. Meskipun samar dan terlihat seperti bayangan, gejolak bahagia tetap mengalir begitu keras di dalam hati Chaterine. Akhirnya hari ini tiba. Akhirnya ia berhasil. Akhirnya—

"Sang penguasa." tanpa sadar ia memekik penuh damba, "Sang penguasa. dia sang penguasa. Kekasih hatiku. Belahan jiwaku."

-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-o0o-

Note:

Terimaksih untuk kalian sayang-sayangku yang udah sempet nge follow, favorite, apalagi nge review. Ku harap dengan Chaterine PoV ini jalan ceritanya makin dimengerti ya, dan gak rumit lagi. Luv yu, bebs~ Semoga tidak mengecewakan