Sehun menatap lurus dengan memainkan gelas yang berisi cairan berwarna biru tersebut. Pikirannya dipenuhi oleh sesuatu, yang bahkan tidak ada orang tau. Ada sebuah nama yang sedari tadi berkeliling memutari pikirannya. Seketika raut wajahnya berubah, memikirkan perasaan aneh pada seseorang itu.
Luhan…
. . .
Berbeda dengan hari sebelumnya, Luhan kini senang karena memiliki teman baru. Hal baiknya lagi, mereka sama-sama dari China. Mereka banyak bercerita apapun, bahkan hingga pulang sekolah pun mereka masih asik bercerita. Namun kali ini, mereka dipisahkan paksa oleh Chanyeol yang seenak dahinya menarik pergelangan tangan Luhan.
"Yak! Apa yang kau lakukan Chan?!" teriak Luhan pada Chanyeol.
"Oh, beginikah kau. Jika bertemu dengan teman baru, kau melupakanku," kata Chanyeol.
"Bukan urusanmu dan biarkan aku pulang, bus ku sudah tiba," keluh Luhan.
"Ayo ikut aku dan tidak ada penolakan," kata Chanyeol kembali menarik pergelangan tangan Luhan.
Luhan masih mengerucutkan bibirnya selama perjalanan. Tangannya pun masih melingkar indah di pinggang Chanyeol dan kepalanya disandarkan ke bahu lebar pemuda bermarga Park itu. Batinnya berteriak, bagaimana bisa ia berteman dengan lelaki pemaksa seperti Chanyeol.
"Berhenti menyumpahiku dalam hatimu dan turun. Kita sudah sampai," kata Chanyeol seolah tahu apa yang ada dipikiran Luhan.
Indera penglihatan Luhan melihat sekeliling dan perlahan mulutnya membuka. Sungguh pemandangan yang indah sekali. Mereka berada di dataran tinggi dan di depan mata tersaji pemandandangan kota yang sangat indah. Belum lagi udara segar yang berasal dari pohon besar yang ada disekitar pagar yang terbuat dari bambu.
"Seharusnya akan lebih indah jika dilihat malam hari," kata Chanyeol menatap lurus kedepan.
"Ini begitu indah. Kau mengetahui tempat ini dari mana, Chan?" tanya Luhan penasaran.
"Aku juga baru tahu ada tempat seperti ini," kata Chanyeol.
Luhan memukul lengan Chanyeol dengan kekuaatan penuh hingga membuat Chanyeol mengaduh kesakitan dan berkata, "Bohong!"
"Oh, baiklah. Kumohon hentikan, pukulanmu sangat menyakitkan," kata Chanyeol memegangi lengannya.
"Mungkin saja ini tempat spesialmu dengan kekasihmu. Sok romantis sekali kau," kata Luhan menyilangkan tangannya.
Dengan tiba-tiba, Chanyeol membalikkan tubuh luhan dan menghimpitnya di batang pohon besar. Mata Chanyeol menatap tajam Luhan yang melebarkan matanya. Jantung Luhan berdegup begitu kencang. Dengan kurang ajarnya, Chanyeol semakin mendekatkan wajahnya dan menjauhkannya begitu saja. Luhan menarik napas dalam dan matanya mengerjap lucu.
"Eottae?" tanya Chanyeol dengan menyunggingkan smirk.
"Yak! Kau menyebalkan Chanyeol!" teriak Luhan.
Chanyeol mengantar Luhan hingga di depan rumahnya. Tanpa mengucapkan apapun, Luhan berjalan cepat mengabaikan Chanyeol yang memandangnya dengan mengangkat sebelah mata. Ketika Luhan sudah masuk rumah, Chanyeol memakai helm nya lagi dan segera bergegas. Namun, ia mengurungkan niatnya ketika melihat Luhan yang berlari keluar rumah dengan berlinang air mata.
'Apa yang terjadi padanya?' batin Chanyeol.
"Bawa aku pergi kemanapun! Aku tidak ingin pulang!"
Chanyeol dengan cepat menghidupkan mesin motornya yang sempat mati. Mendengar seorang lelaki yang berteriak memanggil nama Luhan, Chanyeol menoleh. Namun dengan cepat, Luhan memutar kembali kepala Chanyeol dan melingkarkan tangannya pada pinggang Chanyeol.
. . .
Sehun dan Tao memutuskan untuk pulang terlebh dahulu dari pertemuan. Sebelum pulang, mereka berhenti di sebuah butuk yang memperlihatkan model gaun dari ruangan berkaca bening. Ada sebuah gaun dari jajaran lima gaun disana yang menarik perhatian Tao. Sebuah gaun dengan rok diatas lutut dan bahu yang terbuka.
"Permisi, bisa aku mencoba gaun itu?" tanya Tao sambil menunjuk gaun yang berada di tengah.
Pegawai butik memberikan gaun dan Tao langsung berlari menuju ruang ganti. Sehun pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakan Tao. Sehun duduk di sofa dan membuka surat kabar. Sesekali Sehun melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, itu berarti sudah waktunya Luhan untuk pulang sekolah.
"Sehun, bagaimana dengan model ini?" tanya Tao yang tampak menawan dengan gaun mungil berwarna peach itu.
"Hmm, kau tampak menawan. Tapi, mungkin lebih bagus jika itu berwarna putih," saran Sehun.
"Memang aku ingin yang berwarna putih, Sehun. Akan terlihat aneh jika aku mengenakan gaun ini. Baiklah, aku akan memesan yang ini berwarna putih. Akan aku ambil 4 hari kedepan bisa?" tanya Tao pada pelayan toko.
"Bisa, silahkan tanda tangan disini nona," kata pelayan ber-name tag Kei tersebut.
"Kau ingin kemana lagi?" tanya Sehun ketika mereka sampai di pertengahan jalan.
"Kita kerumahmu."
Mendengar permintaan Tao, Sehun menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba. Pikirannya terbang ke seseorang yang mungkin sudah menunggunya dirumah. Ia pun berkata, "Mungkin sebaiknya kita tidak ke rumahku. Kau tau? Rumahku begitu berantakan, aku bahkan tidak memiliki waktu untuk membersihkannya. "
"Benarkah? Baiklah, aku akan membersihkannya untukmu. Kita juga bisa membuat cokelat hangat bersama, mengingat di musim semi ini udaara masih sangat dingin," jawab Tao dengan menyunggingkan senyum.
Dengan berat hati, Sehun memperbolehkan Tao untuk mengunjungi rumah milik Sehun. yang ia harapkan hanya satu, Luhan tidak pulang sekarang atau belum pulang hingga nanti Tao sudah pergi. Sesampainya di depan rumah, Sehun menghembuskan napasnya lega karena Luah belum pulang sekolah. Bisa-bisa gadis itu salah paham melihat Sehun bersama Tao.
"Huh, rumahmu sudah rapi begitu. Baiklah, aku akan membuatkan makanan untukmu," kata Tao.
"Sudahlah, kita memesan makanan saja. Kau tidak boleh kelelahan, sayang," bisik Sehun tepat di telinga membuat gadis itu menggeliat.
Dengan tiba-tiba, Tao mendorong Sehun dan menghimpitnya di tembok. Tao menyerang bibir Sehun begitu ganas. Tentu Sehun tidak ingin kalah dari Tao. Ia membalik posisi mereka dan sehun mulai menerjang bibir mungil Tao. Sapuan lidah Sehun turun hingga leher Tao dan membuat gadis itu memekik pelan ketika dengan sengaja Sehun menggigit leher mulus Tao.
Kegiatan mereka terhenti, Sehun menolehkan kepala kearah pintu yang tebruka. Ia melihat Luhan di gawang pintu dengan mata bulat berair dan mulut terbuka. Jantung Sehun berdetak begitu cepat, pikirannya berkecamuk. Sehun segera mengejar Luhan yang keluar dengan air mata yang mengalir deras.
"LUHAN!" teriak Sehun yang tak dihiraukan Luhan.
Sehun melihat Luhan berboncengan dengan seorang lelaki yang ia yakini sebagai teman sekolahnya karena mengenakan pakaian yang senada. Sepertinya, Sehun sudah menyakiti hati Luhan yang rapuh.
"Sehun, kau kenapa? Siapa dia?" tanya Tao.
"Kau bisa pulang sendiri kan, Tao? Kumohon tinggalkan aku sendiri," kata Sehun masuk rumah.
. . .
Sudah hampir pukul sepuluh malam, namun Luhan belum juga sampai rumah. Sehun sudah mencoba menghubungi ponsel Luhan. Nihil, yang menjawab panggilannya hanya seorang operator wanita. Sehun merentangkan tubuhnya di atas ranjang, mengambil napas dalam, dan memejamkan matanya. Tiba-tiba ia terbangun ketika mendengar suara pintu terbuka. Sehun segera meloncat dari atas ranjang dan menghampiri alas bunyi itu.
"Kau tak apa? Kau kemana saja?" tanya Sehun khawatir.
"Bukan urusanmu," kata Luhan langsung menuju kamarnya.
Sehun mau tak mau membiarkan Luhan. Ia tahu jika Luhan berada dalam keadaan yang buruk. Tapi yang ingin ia lakukan hanya menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada Luhan. Jujur, ia juga mencintai Luhan. Itulah alasannya Sehun rela membiayai hidup dan sekolah untuk luhan. Sehun mendudukkan pantannya di sofa.
Di dalam kamar, Luhan langsung menghempaskan tubuhnya diatas ranjang tanpa melepas seragam sekolahnya. Luhan kembali menangis dengan membungkam mulutnya agar tidak terdengar oleh siapapun. Hatinya sungguh tercabik melihat siang tadi.
'Tuhan, apakah aku salah jika mencintainya? Aku tau, jika aku ialah seseorang yang tidak pantas untuk menerima cinta. Tapi seburuk itukah diriku? Aku juga ingin merasakan apa itu sepertinya aku menyukai orang yang salah. Seharusnya aku berterima kasih karena ia sudah mau membiayai segala keutuhanku. Tapi- aku tidak bisa. Perasaan ini terus saja tumbuh. Aku harus bagaimana?'
Itulah yang Luhan curahkan kepada Tuhan melalui pengakuan hatinya bersama dengan butiran air mata yang membahasi bantal. Lelah menangis, Luhan tertidur. Ia tidak menyadari jika seseorang ikut menangis bersama didepan kamar Luhan.
Ketika Sehun tidak mendengar suara isakan dari dalam, Sehun masuk kamar Luhan dan tidur disamping Luhan dengan memeluknya erat, seakan tidak ingin kehilangannya. Luhan menggeliat kecil ketika tidurnya terganggu. Ketika ia berbalik dan membuka matanya, Luhan melihat manik mata sehun yang menatapnya. Tanga Sehun terulur mengusap pucuk kepala Luhan.
"Maafkan aku. Aku tau, aku sudah memeberimu harapan tetapi malah menyakitimu. Kumohon maafkan aku," kata Sehun masih megusap kapala Luhan.
"Tidak Sehun. aku yang terlalu berharap padamu. Maafkan aku, mungkin aku sebaiknya tidak tinggal disini, aku hanya menjadi penghalang hubunganmu," kata Luhan menenggelamkan kapalanya pada dada Sehun.
"Stt, tidak. Kau tidak akan pergi kemanapun. Ini rumahmu, aku akan berbicara baik-baik pada Tao," kata Sehun.
"Dia wanita yang cantik dan menawan Sehun, kau pantas memilikinya," kata Luhan.
"Tidurlah, aku tau kau lelah. Aku akan menemaimu disini."
. . .
TBC
. . .
A/N: Haiiiiiii. Mianhaeeeeeeee. Lama update aku. Sebenernya udah jadi seh, tapi aku lupa buat update. Belum lagi, ini musimnya ujian. Btw, bagaimana dengan ini? Suka? Ini aku sudah ngebut buatnya ya. Haha. Please review supaya aku memiliki semangat untuk melanjutkan cerita ini. Btw, Chanyeol dikemanain ya? Penasaran? Stay tune terus ya. Paypay!
171203
