Tittle :: Waiting For You
Main Cast :: Lee Donghae / Lee Hyukjae
Other Cast :: Hanchul, Kangteuk, Yewook, Onkey, Kyumin, Yunjae, Sibum
Author :: Kang Rae Mi
Annyeonghaseyo Readers ku sayang~~~ /tebar cipok/ hahahaha XD ayo, ayo, yang kangen FF ini, yang bilang selalu WAITING FOR YOU, RAEMI-SSI, angkat ketek! hahahaha XD hadeuh hadeuh... Raemi itu gimana sih ngga buru-buru update XD mianhae ya, ngga cepet update :" sampe ada yang bilang nunggu sebulan, aigoo... jeongmal mianhae /bow/ semoga updatean kali ini ngga bikin eneg dan mual :D typo(s) itu kece, jadi mohon maaf jika ada typo dikit-dikit :D
seperti biasa, rules yang harus dipegang, DON'T LIKE DON'T READ, NO BASHING MY PREND :D bashing aja Authornya, jangan castnya :) COPAS WITH PERMITION :) makaseeeehhhh... /tebar kolor Choi Minho/ XD
HAPPY READING ^_^
.
.
WAITING FOR YOU
CHAPTER 7
.
.
Hyukjae Pov
"Untukmu."
Donghae menyodorkan buket bunga itu padaku. Jantungku berdebar kencang. Donghae berubah, ia lebih menawan daripada saat terakhir aku bertemu dengannya. Sebernanya yang berubah aku atau dia. Aku yang terlalu lama pergi atau memang Donghae yang semakin dewasa.
Donghae masih setia menyodorkan buket padaku. Aku harus bagaimana. Aku ragu utnuk mengambilnya. Kalau kuambil, apa yang harus ku lakukan selanjutnya. Memberikannya pada Key seperti janjiku, tidak itu akan menyakiti hati Donghae. Kusimpan? Nanti dia mengira aku masih menyukainya –padahal aku memang masih menyukainya. Kuambil lalu ku buang? Aish, kau kejam Hyukkie. Kutolak, bukan pilihat tepat. Dibelakang ku ada gerombolan yeojya histeris. Kami sedang jadi tontonan mereka saat ini. Aish, rasanya ingin ku tending mereka semua.
"Hyukkie?" panggil Donghae.
"Eh? N-ne?" semoga suara ku tidak bergetar. Akan memalukan jika Donghae mendengar suaraku bergetar.
"Bunganya bagaimana? Kau ambil atau tidak?"
Ambil tidak, ya? Ayo Hyukkie, Donghae menunggumu. Ambil keputusan cepat.
"Aku ambil." Senyum, Donghae tersenyum mendengar jawabanku. Dia senang. Dia berharap aku mengambil bunganya. Donghae semakin menyodorkan bunga itu padaku. Tanganku terulur untuk mengambilnya. Aku beranikan memandang senyuman Donghae. Ugh, menyilaukan. Senyuman Donghae terlalu menawan. Lututku serasa mati rasa. Jangan sampai aku jatuh.
"Gomawo." Ucapku. Donghae menarikku ke pelukkannya. Ommo! Ya Tuhan, jantungku. Astaga jantungku. Aish, kenapa berdebar seperti ini. Jangan sampai Donghae mendengarnya. Suara yeojya dibelakang kami semakin keras pula. Aduh, aku malu.
"Senang kau sudah pulang. Jangan pergi lagi, ne?" gumamnya di telingaku. Aku mengangguk canggung. Donghae melepas pelukannya. Ia menyodorkan lengan kanannya padaku. "Ayo."
Ku lingkarkan tangan kiriku ke lengannya dan mulai berjalan menjauhi kerumunan yeojya. Seperti inikah perasaan Kibum saat menggandeng tangan Siwon.
Hyukjae Pov End
.
.
Author Pov
"Sebenarnya ini pernikahan siapa? Kenapa sedari tadi yang jadi pusat perhatian kalian?" tanya Kibum saat sedang berkumpul bersama semua temannya.
"Ini pernikahan kita, Chagi. Tapi pestanya milik mereka." Siwon menunjuk Donghae dan Hyukjae bergantian. Semua tertawa mendengar jawaban Siwon. Kecuali Hyukjae, gadis manis itu hanya tersenyum canggung.
"Dasar kuda." Cibir Hyukjae lirih tanpa suara. Sayang, Siwon melihat pergerakan bibir Hyukjae.
"Kau bilang apa, Hyukkie?" selidik Siwon.
"Ah, aniyo, aku tidak bilang apa-apa." Hyukjae menunjukkan gummy smilenya.
"Kukiran kau mengataiku Kuda."
Memang iya.
Hyukjae tersenyum.
"Hyukkie, aaa..." Donghae menyuapkan seseondok ice cream pada Hyukjae.
"Eh?" seru Hyukjae kaget. Donghae tetap mendekatkan sendok ice cream itu pada Hyukjae. Dengan perlahan Hyukjae membuka mulutnya dan memakan suapan Donghae. Walau ice itu mencair di dalam mulutnya, tapi debaran di jantungnya tidak mencair semudah ice yang ia makan.
"Enak?" tanya Donghae. Hyukjae mengangguk. Donghae gemas melihat Hyukjae. Ia tersenyum dan mengusap puncak kepala Hyukjae perlahan. "Ah, tunggu, ada yang belepotan." Donghae mengusap noda ice cream yang belepotan di sudut bibir bawah Hyukjae dengan tangannya. Wajah Hyukjae merona merah karena malu.
"Katanya tidak pacaran. Kenapa suap-suapan? Sampai usap-usapan juga." Sindir Onew. Semua orang dewasa di tempat itu kaget mendengar ucapan Onew.
Anak ini berbahaya, pikir Hyukjae.
"Kata siapa kami tidak pacaran?" tanya Donghae.
"Hyukkie ahjumma."
"Kami memang tidak pacaran." Sahut Hyukjae.
"Memang tidak." Hyukjae tersenyu mendengar jawaban Donghae. "Tapi belum." Ralat Donghae. Senyum Hyukjae memudar. Rasanya ia ingin menyumpal mulut Donghae dengan taplak meja agar tidak memberi jawaban yang mengundang pikiran aneh dari Onew.
"Benar, ya, tidak pacaran. Kalau pacaran kalian harus mentraktir kami." Kata Sungmin.
"Benar. Kami semua. Ada—" Ryeowook menghitung jumlah semua orang yang duduk mengitari meja makan. "Kami berdua belas."
"Aku setuju." Ujar Donghae.
"Ya! Kalian ini apa-apaan? Kenapa membuat taruhan aneh seperti itu? Dan kau, kenapa menyetujuinya? Memangnya kita akan pacaran?" sungut Hyukjae.
"Apa salahnya? Kau tidak ingin pacaran denganku? Kau tidak menyukaiku?" tanya Donghae.
"Bu-bukan-bukannya begitu. Hanya saja, ba-bagaimana jika kita ti-dak pa-pacaran?" Hyukjae sedikit tergagap.
"Kau takut kita tidak akan pacaran? Tenang saja, kita pasti pacaran."
"Hah? Percaya diri sekali kau."
"Sudahlah, Hyukkie. Pacaran itu tidak seinstan membuat ramen. Semua butuh waktu." Kata Henry.
"Benar. Mau menunggu lima tahun pun tidak masalah. Yang penting kalian akan bersama." Tambah Ryeowook.
"Sepertinya kalian sangta ingin aku pacaran dengannya." Tanya Hyukjae sambil emmicingkan mata.
"Tentu saja!" jawab semua yeojya dewasa secara bersamaan.
"Yang penting itu bukan ingin atau tidaknya kau pacaran. Tapi perasaanmu padanya." Bisik Kibum pada Hyukjae.
Author Pov End
.
.
Hyukjae Pov
"Haaah..." desahan lega meluncur dari bibirku saat pantatku menyentuh empuknya sofa ruang tengah apatemenku. Menghadiri pernikahan Kibum memang menyenangkan, walau sedikit melelahkan. Aku bahkan tidak menyangka akan bertemu dengan Donghae. Donghae semakin tampan saja. Kalau di ingat-ingat, terakhir aku bertemu Donghae, adalah saat ia ke rumahku setelah mengatakan perasaannya pada Kibum. Ah, jangan di pikirkan lagi. Kibum sudah menikah, bukan saatnya mengungkit masa lalu.
Ngomong-ngomong tentang pernikahan Kibum, buket bunga yang dilempar Kibum tadi akhirnya kubawa pulang juga. Buket itu sekarang tergeletak di meja dihadapanku. Buket yang indah. Aromanya juga wangi.
"Wangi." Ujarku setelah menghirup aroma yang menguar dari buket. Entah itu aroma slinya atau aroma parfum Donghae.
Degh!
Parfum Donghae? Aku menjauhkan buket itu dan meletakkannya kembali. Aku menelungkupkan kepalaku. Apa yang kupikirkan? Kenapa tiba-tiba memikirkan Donghae? Hanya dengan memikirkannya saja, jantungku sudah mencoba lari marathon.
"Guuuk!" suara gonggongan Choco membuatku kembali mengangkat kepala. Choco bergelung di dekat kakiku. Aku mengangkat Choco dan memandangnya.
"Wajah Umma merah, ya? Umma pasti sakit."
TING! TONG!
Siapa yang bertamu? Apa Sungmin? Atau Umma? Yang mengetahui apartemenku, kan, baru Sungmin dan Umma. Kuletakkan Choco di karpet ruang tengah dan berjalan ke pintu depan untuk membuka pintu.
"Kau?" seruku saat melihat Donghae berdiri di depan pintu apartemen. Bagaimana Donghae bisa tahu apartemenku. Hanya ada dua kemungkinan, dia bertanya ada Sungmin, atau dia mengikutiku sampai kemari.
"Sudah belum bengongnya? Ya sudah, aku masuk, ya." Tanpa permisi Donghae nyelonong masuk.
"Ya! Siapa yang menyuruhmu masuk?!"
"Di luar dingin, Hyukkie. Kau mau membuatku mati kedinginan di luar? Lagipula kau malah bengong saja di depan pintu. Ya sudah, aku masuk saja." Ujarnya santai. Aku berjalan memasuki apartemen mengikuti Donghae.
"Wah, ada anjing manis." Tangan Donghae terulur untuk mengambil Choco yang sedang rebahan di sofa. Tapi beruntung karena aku lebih gesit.
"Mau apa kau dengan anakku?" ck! Sial, seharusnya aku tidak mengatakan hal seperti itu. Ah, sudahlah.
Donghae menunjuk Choco, "Dia anakmu?"
"I-iya!"
"Kalau begitu ayahnya." Tangan Donghae kembali terulur ingin menyentuh Choco. Tapi aku segera berbalik. "Ck! Hyukkie."
"Tidak boleh!"
"Wae?"
"Kau tidak boleh jadi Appa-nya!"
"Mana bisa begitu. Mana ada anak tanpa ayah?"
"Ada!"
"Tapi tidak kalau kau ibunya :p"
BLUSH!
Aku yakin wajahku pasti memerah. Donghae, hanya dengan kata-kata seperti itu, ia berhasil membuatku merona. Aku membiarkan Donghae menggendong Choco dan mempersilahkannya duduk. "Mau minum apa?"
"Tidak perlu repot-repot, Hyukkie."
Tidak perlu repot-repot versi Donghae sama dengan keluarkan semua isi kulkasmu. Ku buatkan cokelat panas saja. Udara di luar sedikit dingin.
OoOoOoOoOoOo
"Silahkan" kuletakkan segelas cokelat panas di hadapan Donghae. Choco tidak bersamanya. Pasti ada dikamar.
"Gomawo, anjingmu manis. Kau membelinya saat di Jepang?"
"Ani, aku menemukannya saat pulang sekolah. Kau menyukai anjing?"
Donghae mengangguk beberapa kali, "Yah, bisa dibilang begitu. Dulu aku sempat memelihara satu. Tapi akhirnya dia meninggal."
"Kurasa kau kurang baik dalam merawatnya." Candaku, tapi Donghae malah nyengir aneh.
"Karena aku seorang suami, bukan istri. Tugas merawat dilakukan oleh seorang istri, bukan suami. Bukan begitu, Hyukkie?" Tenggorokanku terasa kering. Entah mengapa kata-kata itu sengaja ditujukan untukku, bukan untuk kalangan universal. "Apartemenmu bagus, kenapa pindah?" lanjutnya.
"Entahlah, mungkin karena aku terbiasa hidup sendirian di Jepang setelah Appa dan Umma kembali ke Seoul."
"Kau bohong!" ucapan Donghae membuatku sedikit terlonjak kaget. "Kau tidak pernah bisa tinggal jauh dari Jungsoo ahjumma. Walau mungkin kau terbiasa hidup sendiri, tapi aku yakin bukan itu alasannya. Apa karena aku?"
"Kau ini bicara apa? Tentu saja bukan karena dirimu." Aku meneguk cokelat panasku untuk mengurangi rasa gugup yang mendadak menyerang diriku.
"Jangan mencoba membohongiku, Hyukkie. Aku sudah tidak bisa di tipu lagi, sama saat kau mengatakan tidak akan meninggalkanku."
"Aku tidak meninggalkanmu, Hae. nyatanya aku ada di depanmu sekarang." Jawabku mencoba tenang. Donghae berdiri dan menarik tanganku, mencoba memaksaku untuk berdiri. Aku berdiri di hadapannya. Donghae memandang tepat ke dalam mataku.
"Kau menipuku, Hyukkie. Kita saling menipu satu sama lain." Desisnya dengan suara pelan. "Bukankah kau menyukaiku? Karena itulah kau selalu memisahkan ku dari Kibum. Karena itu kau selalu terlihat sedih setiap aku membicarakan tentang Kibum. Karena itu kau menangis saat aku menyatakan perasaan ku pada Kibum. Apa aku benar?"
Aku balas memandang Donghae, haruskah ia membicarakan ini saat kami baru bertemu? Haruskah ia membuka luka lama lagi. Ya, kuakui selama delapan tahun ini aku tidak pernah melupakannya, tidak sedetikpun. Aku masih mencintainya, sangat.
"Apa kau kemari untuk membicarakan hal ini? Ya, aku mencintaimu. Ya, aku memang tidak rela kau bersma Kibum. Karena ku harap kau bersamaku!" ku hempaskan tangan Donghae. "Apa kau mengerti perasaanku saat itu? Kau tidak tahu, kan? Dan jika kau mengetahui perasaanku, apa itu mengubah sesuatu? Kau tetap tidak menyukaiku, kan?"
"Kau salah, itu mengubah sesuatu, itu mengubahku. Aku memang awalnya tidak mengetahui perasaan ku, tapi sekarang, semenjak kau pergi, hanya kau yang hatiku inginkan, bukan Kibum. Terlambat memang, tapi lebih baik begitu daripada tidak sama sekali. Aku menunggumu, aku selalu menunggumu selama delapan tahun ini. mempersiapkan diri untuk bertemu denganmu. Tidakkah itu mengubah sesuatu? Itu mengubah banyak hal." Donghae menggenggam tanganku lembut. "Pikirkan ini, Hyukkie. Apa kau membenciku?" tanyanya lembut.
Tidak, sekalipun tidak pernah aku membencimu.
"Pulanglah, kita bicarakan ini lain kali. Kau tahu dimana bisa menemukanku."
Sebelum pergi, Donghae mengecup keningku, lama dan lembut. Sangat lembut. Mataku terpejam merasakan sentuhan hangatnya. Tanpa terasa mataku memanas. Donghae menempelkn keningnya di keningku dan memandang mataku lembut.
"Jangan menangis, aku benci melihatmu menangis. Tapi aku lebih membenci diriku. Karena dirikulah penyebab mata ini, selalu menangis." Donghae mengecup kedua mataku bergantian.
"Jangan benci dirimu, pulanglah."
"Aku pulang, saranghae." Donghae berjalan ke pintu.
"Hae," panggilku tepat saat Donghae akan membuka pintu. Donghae berhenti atapi tidak berbalik. "Jangan lagi perlakukan aku dengan lembut."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka. Aku merasa tidak nyaman." Aku bergidik saat mengatakannya.
"Tapi aku suka. Jangan perintahkan aku untuk berhenti, Hyukkie." Donghae menghilang di balik pintu. Kakiku lemas, lututku serasa hilang, aku jatuh di lantai dan menangis. Entah apa yang kutangsi. Tapi aku sangat ingin menangis.
Hyukjae Pov End
.
.
Author Pov
Seminggu setelah kedatangan Donghae. Keadaan Hyukjae tak kunjung membaik. Terkadang ia teringat Donghae dan berakhir dengan menangis semalam suntuk. Imbasnya, mata Hyukjae terlihat seperti mata panda sekarang. Minggu siang itu Hyukjae hanya duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya dan memandang keluar. Ia tidak terlalu bersemangat melakukan apapun. Tapi sayang, perutnya yang belum ia isi sejak tadi pagi sudah berteriak meminta jatah. Jadilah Hyukjae bangkit dan melangkahkan kakinya ke dapur.
Hyukjae membuka kulkasnya. Tidak banyak bahan makanan di kulkasnya. Semenjak ia pindah kemarin, ia memang belum sempat mengisi kulkasnya. Hanya saja sehari setelah kunjungan Donghae, Jungsoo datang dan mengisi kulkas Hyukjae dengan beberapa bahan makanan standar. Hyukjae menganbil dua butir telur dan beberapa sayuran. Ia sedang malas memasak, jadi aia hanya akan membuat omelet saja. Hyukjae memotong sayuran dengan telaten dan melamun memikirkan Donghae.
"Aaaw!" ringisnya saat jarinya tak sengaja tergores pisau. Darah segar segera mengucur. Lumayan banyak darah yang mengucur keluar. Sepertinya ia tergores cukup dalam. "Aish! Kenapa aku melamun."
Hyukjae segera menyalakan kran wastafel untuk mencuci jarinya. Tapi bunyi bel pintu yang terus berdering membuat Hyukjae mengurungkan niatnya dan membuka pintu. Hyukjae membuka pintu apartemennya dan sedikit terkejut melihat Donghae berdiri di depan pintunya.
"Ada apa?" tanya Hyukjae.
"Hai, Jungsoo ahjumma memintaku mengantarkan ini untukmu." Donghae menyerahkan sebuah kotak makanan yang cukup besar. Lupa dengan lukanya, Hyukjae mengulurkan kedua tangannya untuk menerima kotak makanan itu. Sial bagi Hyukjae, Donghae melihat jarinya yang masih kotor dengan darah yang mengucur.
"Jarimu! Ada apa dengan jarimu?" tanya Donghae dengan nada panik sambil meraih jari Hyukjae.
"Bu-bukan apa-apa." Hyukjae menarik tangannya. "Ini hanya tergores sedikit."
"Sedikit? Ini bisa jadi parah, Hyukkie. Ayo kita obati." Donghae menarik Hyukjae memasuki apartemennya. Donghae menendang pintu apartemen dengan kakinya utnuk menutup pintu.
.
.
OoOoOoOoOoOo
.
.
"Apa yang kau lakukan hingga bisa tergores?" tanya Donghae sambil dengan telaten mengobati luka Hyukjae dengan obat-obatan di kotal P3K yang ada di apartemen Hyukjae. Kotak makanan yang ia bawa, ia letakkan di meja makan.
"Aku hanya sedang memasak tadi." Jawab Hyukjae jujur.
Donghae melirik Hyukjae sebentar. "Lain kali berhati-hatilah saat memasak. Sudah selesai." Donghae membereskan kotak P3K Hyukjae.
"Ne, gomawo." Jawab Hyukjae. Donghae tersenyum dan mengacak rambut Hyukjae pelan kemudian berdiri. "Mau kemana?"
"Pulang. Aku kemari hanya untuk mengatarkan makanan saja."
"Tapi kau mengobati lukaku." Hyukjae mencoba menahan Donghae, entah mengapa ia belum ingin Donghae pulang.
"Itu hanya tambahan kebaikan saja, Hyukkie." Donghae tersenyum dan berjalan menuju pintu.
"Gajima!" seru Hyukjae. "Jangan pulang dulu. Tinggallah, untuk makan siang."
Donghae berbalik dan memandang Hyukjae dengan sebelah alis terangkat.
"Bukankah dulu kita biasa makan siang bersama?" lanjut Hyukjae.
"Baiklah." Jawab Donghae dengan senyum terkembang.
Author Pov End
.
.
Donghae Pov
Sedari tadi aku memperhatikan Hyukjae yang sedang mempersiapkan makan siang kami. hyukjae menahanku saat aku akan pulang. Senang? Tentu saja senang. Delapan tahun tidak bertemu dan sekarang aku bisa kembali bertemu dengannya, bagaimana aku tidak senang. bahkan selama delapan tahun aku sangat merindukannya. Hyukjae sekarang sedikit berubah, jika dulu ia terlihat cantik dan manis, kini ia terlihat luar biasa cantik dan manis. Rambutnya dulu tak pernah ia biarkan panjang, paling panjang hanya sebatas bahu. Tapi kini rambut Hyukjae sudah sepanjang punggungnya. Walau begitu, ia tetap terlihat cantik. Hyukjae duduk di hadapanku, aku masih setia memandanginya.
"Kenapa memandangiku terus? Apa ada yang aneh?" tanya Hyukjae.
"Ani," aku menggeleng. "Kau cantik."
"Ooh, ehm, gomawo." Hyukjae menyelipkan seberkas rambutnya di belakang telinganya, terlihat manis jika aku melihatnya. Kami makan dan aku masih sesekali melirik wajahnya. Rasanya tak akan bosan aku melihat wajah Hyukjae.
"Kau senang pulang ke Seoul? Tidak merindukan Jepang?" tanyaku mencoba memulai pembicaraan.
"Hmm.. senang bisa pulang. Aku tidak terlalu merindukan Tokyo, mungkin karena hampir sama dengan Seoul. Oh iya, apa kabar Heenim ahjumma? Maaf aku belum sempat mampir. Ku usahakan segera mampir."
"Kabar Umma baik, kau tidak menanyakan kabarku?"
"Untuk apa aku menanyakan kabarmu jika kau saja ada di hadapanku." Hyukjae sedikit terkikik. Kurasa ia sudah melupakan kejadian beberapa hari lalu. "Maaf, untuk kejadian kemarin. Kurasa aku terlalu berlebihan."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Kita semua berlebihan saat itu." aku menggenggam tangan Hyukjae dan mengusap jemarinya. Kurasakan perban di jari Hyukjae basah.
"Hyukkie! Lukamu!" seruku sambil melihat perban Hyukjae yang sedikit memerah. Ya ampun, lukanya terbuka lagi. Aku berdiri dan menarik tangan Hyukjae. Tapi ia menahannya. "Kenapa? Kita harus ke Rumah Sakit."
Hyukjae menggeleng kencang. "Andwaeyo, aku tidak mau."
Tunggu, jangan bilang kalau Hyukjae masih takut dengan jarum suntik Rumah Sakit. "Hyukkie, apa kau masih takut dengan jarum suntik dan Rumah Sakit?"
"Eung..." Hyukjae mengangguk kecil.
"Lukamu terbuka lagi, Hyukkie. Kau harus ke Rumah Sakit. Yesung hyung harus melihat lukamu." Ujarku pengertian. Aku bersiap menelpon Yesung hyung tapi lagi-lagi ditahan oleh Hyukjae. Aku memandang Hyukjae penuh pengertian.
"Aku takut disuntik." Ujarnya lirih.
"Tidak akan disuntik, Hyukkie. Aku janji."
"Baiklah, aku ganti baju dulu."
"Tidak perlu. Tutupi saja dengan ini." kupakaikan jaketku pada Hyukjae. Lalu ku gandeng ia menuju mobilku.
.
.
OoOoOoOoOoOo
.
.
Hyukjae meggenggam tanganku erat saat di ruang tunggu. Yesung hyung termasuk dokter yang hebat. Maka dari itu ku bawa Hyukjae ke Rumah Sakit tempat Yesung hyung bekerja. Tangan Hyukjae sedikit mengeluarkan keringat dingin. Ini masih lebih baik daripada dulu ia terlihat gelisah. Kurasa dia sedang menahan rasa gugupnya.
"Gwaenchana, Hyukkie. Tidak akan disuntik."aku berusaha menenangkan Hyukkie.
Dari dalam ruang periksa, keluar seorang suster membawa papan daftar pasien. "Nona Lee Hyukjae." Panggil suster itu. Aku dan Hyukjae memasuki ruang periksa. Yesung hyung duduk di kursinya dengan senyum terkembang.
"Kurasa kalian salah mendatangi dokter." Ujar Yesung hyung setelah kami duduk di hadapannya.
"Maksudnya, Hyung?" tanyaku.
"Untuk pasangan pengantin baru seperti kalian, dokter kandungan berada di lantai dua. Bukan disini." Jawabnya. Aku memukul kepalanya pelan.
"Jangan bercanda, Hyung. Jari Hyukkieterluka."
"Benarkah? Kemarikan jarimu, Hyukkie, coba kulihat dulu."
Hyukjae menjulurkan jarinya yang terluka. Yesung hyung membuka perban yang kupasang dan memeriksanya dengan teliti.
"Cukup dalam juga. Kenapa bisa begini?" tanya Yesung hyung meminta penjelasan.
"Aku tergores pisau saat sedang memasak." Terang Hyukjae. Yesung hyung mengangguk dua kali kemudian melepaskan jari Hyukjae.
"Arraseo, jahit." Vonis Yesung hyung.
"Mwo? Jahit? Apa... tidak ada cara lain?" tawar Hyukjae.
"Tidak, Hyukkie. Kalau tidak, akan semakin parah. Suster Kang, tolong siapkan jarum suntik dan obat bius lokal." Perintah Yesung hyung pada suster yang tadi memanggil kami.
"Suntik?! Aku tidak mau disuntik! Hae, ayo kita pulang saja. Aku tidak apa-apa." Hyukjae merajuk padaku.
"Tidak apa, Hyukkie. Tidak akan sakit." Sekali lagi aku mencoba memberi pengertian pada Hyukjae. Yesung hyung mendekati Hyukjae dengan jarum suntik di tangannya. Jaketku yang dikenakan Hyukjae disingkapnya agar ia bisa menyuntik lengan Hyukjae. Aku berdiri dan memeluk Hyukjae agar ia tidak melihat saat Yesung hyung menyuntiknya nanti. Tangan Hyukjae meremas pelan kaos bagian belakangku. Wajahnya tidak menempel di perutku, sehingga aku bisa melihat wajahnya yang menyerngit menahan ngeri saat Yesung hyung menyuntiknya.
"Rileks, Hyukkie." Ujarku. Hyukjae semakin meremas kaosku dengan kencang, dahinya berkerut menahan ngeri. Ia berusaha tidak berteriak. Yesung hyung mancabut suntikannya dan Hyukjae kembali membuka matanya perlahan. "Tidak sakit, kan?"
"Siapa bilang. Rasanya mengerikan." Hyukjae memandang Yesung hyung dengan tatapan sebal. "Aku marah padamu, Oppa." Ujarnya pada Yesung hyung.
"Kau tidak akan berani marah lagi padaku setelah ku sembuhkan lukamu." Ujar Yesung hyung sambil mendekati Hyukjae, kemudian duduk di dekatnya. "Bagaimana tanganmu?"
"Aku tidak bisa merasakan apa-apa, itu artinya obatnya sudah bekerja, kan?"
Yesung hyung mengangguk dan menarik jari Hyukjae yang terluka ke pangkuannya. "Kalau kau takut, jangan melihatku."
Yesung hyung mulai menjahit jari Hyukjae. Luka Hyukjae memang cukup panjang dan dalam. Hyukjae sendiri lebih memilih memaninkan jari tanganku agar tidak melihat Yesung hyung. Hampir enam menit dan Yesung hyung baru menyelesaikan tigaperempatnya.
"Kenapa lama, Oppa?" tanya Hyukjae tidak sabaran.
"Sebentar lagi selasai. Kubuat aga tidak berbekas." Gumam Yesung hyung. "Sudah selesai. Tunggu, biar kuperban dulu."
Hyukjae mengamati Yesung hyung yang mebalutkan perban ke lukanya, kurasa ia sudah mulai berani melihat lukanya. Setelah selesai, kami berpamitan dan membayar administrasi di depan. Selama aku membayar, Hyukjae terus emperhatikan perbannya sambil duduk di kursi tunggu.
"Kenapa di lihat terus?" tanyaku.
"Ani, kajja kita pulang. Gomawo, Hae." Ujar Hyukjae sambil tersenyum. Aku mengacak rambutnya pelan dan mengantarnya pulang.
Donghae Pov End
.
.
Author Pov
Donghae memasuki rumahnya dengan langkah pelan. Tapi sepelan apapun ia melangkah, Heechul tetap bisa mendengarnya.
"Donghae-ya!" seru Heechul mengagetkan Donghae yang baru memasuki ruang tengah. Donghae menghela nafas sebentar.
"Ada apa, Umma?"
"Kenapa lama sekali di tempat, Hyukkie? Kalian melakukan apa saja?"
Donghae memicingkan mata mendengar pertanyaan ibunya, bagaimana ibunya bisa tahu ia baru saja dari apartemen Hyukjae. "Tahu darimana aku baru sjaa dari apartemen Hyukkie? Apa Jungsoo ahjumma yang cerita?"
Heechul mengangguk bersemangat. "Jadi ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, Umma. Kami hanya makan siang bersama dan berbincang sebentar. Itu saja." Donghae berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia tidak berniat menceritakan kecelakaan yang Hyukjae alami. Karena jika ia ceritakan, Heechul pasti akan memberitahu Jungsoo dan Jungsoo akan panik dan berpikir yang tidak-tidak.
Dikamarnya Donghae langsung melepas jaketnya yang tadi ia pinjamkan pada Hyukjae dan menggantungnya di belakang pintu kamar, lalu bergegas mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, Donghae berjalan menuju beranda kamarnya dan memperhatikan kamar Hyukjae yang tertutup dan gelap.
"Bukankah kita selalu dekat, Hyukkie? Tapi kenapa aku merasa kau jauh dariku? Bisakah aku menangkapmu? aku mencintaimu, Hyukkie. Maaf karena aku terlambat menyadarinya." Guman Donghae entah pada siapa. Ia berjalan mendekati pinggir beranda dan berdiri memandang langit dari sana. "Malam ini langit berbintang. Apa kau melihatnya, Hyukkie?"
Sementara itu di apartemennya, Hyukjae duduk di beranda apartemennya. Angin dingin malam meniupkan udara dingin malam yang meniup helaian rambut Hyukjae dengan lembut. Sebuah selimut hangat membungkus tubuh mungilnya. Mata Hyukjae tertuju pada langit. Ingatannya melayang saat ia duduk berdua dengan Donghae di beranda kamarnya. Kala itu ia memberanikan diri menanyakan arti dirinya pada Donghae.
"Bisakah kita melangkah selangkah lebih jauh? Bisakah kita melewati batas toleransi kita?" gumam Hyukjae lirih sambil memandang langit. Jarak diantara mereka memang jauh. Tapi langit mereka satu. Tatapan rindu yang ditujukan untuk masing-masing akan langit sampaikan melalui awan yang bergerak.
Tanpa pikir panjang, Hyukjae bangkit lalu menutup pintu berandanya dan berlari mengambil kunci mobilnya. Dipikirannya hanya satu, menuju ke tempat itu. Tempat dimana ia bisa menemukan Donghae biasa menunggunya.
Tak jauh beda dengan Hyukjae, Donghae segera berlari menyambar jaketnya dan dan berlari keluar rumah. Ia berlari menuju tempat ia bisa menemukan Hyukjae biasa menunggunya. Dua insan ini, dengan pikiran yang sama walau di temoat yang berbeda, bergegas menuju tempat dimana mereka bisa menemukan satu sama lain. Dibawah pohon yang terukirkan nama mereka berdua.
"Hyukkie."
"Hae."
"Tunggu aku!"
.
.
OoOoOoOoOoOo
.
.
"Hae... Hae... Hae dimana?" teriak seorang yeoya mungil yang tengah bingung mencari sahabatnya.
"Disini, Hyukkie!" teriak seorang namja mungil nan tampan dari balik pohon menjawab teriakan si yeojya mungil. Yeojya manis yang merasa terpanggil itu segera mengarahkan langkahnya kebalik pohon besar dimana sang namja sedang berdiri disana.
"Hae cedang apa?" tanya yeojya itu cadel.
"Mengukir nama kita disini." Jawab si namja santai.
"Untuk apa?"
"Supaya aku bisa bersama dengan Hyukkie selamanya."
"Kenapa Joumi oppa tidak diukil juga?"
"Aku maunya Cuma dengan Hyukkie. Kau mau, kan, bersamaku selamanya."
"Ne, aku mau." Jawab si yeojya dengan gummy smile-nya.
"Gomawo, Hyukkie. Aku sayang Hyukkie." Ujar si namja sambil menggenggam tangan sang yeojya.
"Ne, Hyukkie juga sayang Hae."
Author Pov End
TBC
RAEMI CURCOL AREA
hwahhahahahaha XD gimana gimana? memuaskan ngga?
engga? ya derita lo :P #plak!
hahahaha :D mian lama banget updatenya, sampe sebulan lebih ya?
Mi aja sampe kaget pas baca review beberapa hari lalu, ada yang bilang nungguin sampe jamuran, XD
mianhae chingu sampe jamuran ya nunggunya..
sekarang udah update kan... :) semoga ceritanya ngga ngebosenin :)
kalo bosen, Mi hapus aja story ini :D serius...
mian, Mi belum bisa bales review, :) yang mau review terus langsung dibales, review aja lewat PM,
Mi sering cek PM, jadi nanti bisa langsung dijawab reviewnya :)
terakhir, wanna review now? :)
yang review dapet kolornya Minho SHINee XD #plak! /dirajam Taemin/
Oh, iya, ngomong ngomong tentang SHINee, Mi punya fict 2min judulnya SOMEDAY :)
itu terinspirasi kisah Mi sama seseorang :"
kalau berkenan, silahkan dibaca :D kalo ngga, ya udah gapapa :)
makaseeeeehhhh... XD
