Title : REPEATING

By : Baby vee

Main cast : Do Kyungsoo x Kim Jongin x (Kim) Taerin

Rate : T

Happy Reading :*

.

.

.

.

.

Taerin meremas tangan Jongin digenggamannya. Gadis itu gugup. Jongin tau seperti apa rasanya karena dia juga tengah merasakannya sekarang.

Dihadapannya kini berdiri Kyungsoo dan seorang gadis kecil lainnya menggandeng wanita itu. Kyungsoo tersenyum dengan cantik seakan wanita itu tak memiliki beban apa pun. Bahkan Jongin bisa melihat bagaimana Kyungsoo yang memandangnya dan Taerin seakan-akan mereka tidak mengenal bahkan memiliki hubungan yang dekat.

Padahal kemarin lusa Jongin sudah mempersiapkan diri dan menanti moment ini. Dia bahkan bermaksud memperbaiki hubungan keduanya. Tapi setelah melihat Kyungsoo... Jongin tidak tau apa yang harus dia lakukan. Lidahnya seakan kelu hanya untuk menyapa wanita itu.

Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, jika Jongin bahkan berani menguntitnya kini dia seakan segan. Lihat bagaimana Kyungsoo berubah hanya dalam waktu hitungan bulan. Wanita itu bahkan tak terlihat sudah berkepala tiga ataupun memiliki anak remaja. Jika saat masih di Busan bahkan Kyungsoo terlihat seperti lebih tua dari umurnya. Mungkin inilah perbedaan keadaan keuangannya sekarang dan dulu. Dan hal itu semakin membuat Jongin semakin merasa bersalah karena pernah membuat Kyungsoo hidup dengan serba kekurangan.

"Taerin-ah kenalkan ini auntie yang biasanya aku ceritakan. Dan auntie kenalkan ini Taerin teman pertamaku disekolah, lalu yang disebelah Taerin itu ayahnya." Jessy yang pertama kali membuka suara karena Taerin hanya diam saja menatap sendu kearah auntienya —Kyungsoo.

Kyungsoo mengulurkan tangannya dengan senyum yang manis.

"Senang bertemu denganmu Taerin, Jessy banyak bercerita tentangmu dan aku berterimakasih karena kau mau menjadi teman pertama Jessy."

Taerin menyambut uluran tangan Kyungsoo gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya keras tanpa mengucapkan kata apapun. Saat tiba-tiba air matanya mengalir Taerin menyekanya cepat-cepat agar tidak ada yang menyadarinya. Dan dal itu membuat tautan tangannya dengan Kyungsoo terlepas. Saat dia sadar tangannya terlepas dari tangan ibunya, Taerin sudah hendak menggapainya lagi namun ibunya itu malah menarik tangannya dan beralih menyapa ayahnya.

"Senang bertemu dengan anda juga ayah Taerin."

Yang bisa Jongin lakukan hanya menatap sendu Kyungsoo. Dia dan Taerin seolah kompak menutup mulut didepan wanita itu padahal banyak hal yang mereka ingin ucapkan. Ini sulit. Jongin benar-benar bingung harus bagaimana jika seperti ini.

Taerin hendak mencoba berbicara dengan ibunya. Namun ucapannya terpotong terlebih dulu dengan Jessy yang langsung mencuri perhatian dari Kyungsoo.

"Auntie aku akan mengenalkanmu dengan temanku yang lain. Kajja!"

Kyungsoo hanya balas tersenyum dan ngusak pucuk kepala Jessy sebelum menuruti Jessy yang menyeret tangannya. Dia pergi lagi meninggalkan sepasang ayah dan anak yang hanya bisa menatap sendu kearahnya. Merasa teramat berdosa karena pernah meninggalkannya tanpa berpikir seperti apa mereka membutuhkannya.

"Ayah.." panggil Taerin sembari menggoyangkan lengan ayahnya pelan. jongin menunduk dan mendapati anaknya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Hati Jongin mencelos melihat bagaimana bagaimana kesedihan putrinya yang terlihat sangat amat kentara.

"Aku merindukan ibu, yah.."

Dan hanya perlu satu kalimat itu Jongin langsung membawa Taerin kedalam pelukannya. Membelai punggung anak itu membuatnya tenang.

"Hei tenanglah, jangan menangis. Kita pasti akan menemui ibumu nanti dan bisa hidup bersama."

Taerin hanya mengangguk, menikmati kasih sayang dari ayahnya.

.

.

Jongin mendudukkan dirinya dibangku sebelah Kyungsoo. Setelah tadi Jessy membawa Kyungsoo keliling dan memperkenalkannya kepada wali murid lainnya, wanita itu lalu memutuskan duduk saat panitia pekan olahraga mengumumkan bawa para siswa diperkenankan untuk bersiap-siap dan orangtua ataupun wali muridnya dipersilahkan untuk duduk dikursi yang sudah disiapkan.

"hai.." sapa Jongin ketika Kyungsoo meliriknya sekilas. Namun saat mengetahui itu dirinya, Kyungsoo langsung melengos begitu saja tanpa membalas sapaan dari Jongin.

Jongin menghembuskan nafas, ternyata ini benar-benar Kyungsoo-nya. Lihat bagaimana wanita itu yang mengabaikannya, yang berarti semua senyum manisnya saat pertemuan pagi tadi kepura-puraan. Palsu. Jongin sudah memperkirakan itu.

"Bagaimana kabarmu." Ucap Jongin lagi, meski dia tau dia diabaikan namun dia tetap berusaha berbicara dengan Kyungsoo.

Hening. Tidak ada jawaban apapun dari Kyungsoo. Jongin tersenyum miris sebelum kembali berucap.

"Taerin merindukanmu. Kembalilah Soo, kasihan Taerin jika terus menerus bersedih karena kau abaikan seperti itu. Bagaimana 'pun dia itu juga anakmu."

Jongin diam sebentar, "Kumohon. Seberapa besar kesalahannya kepadamu maafkanlah, dia masih kecil dan belum bisa berfikir mana yang baik dan buruk jadi kumohon jangan seperti ini Soo."

Keduanya diam sebelum terdengar suara kursi bergesekan dengan lantai. Jongin menolehkan kepalanya dan mendapati Kyungsoo yang sudah berdiri hendak beranjak pergi.

Dengan cepat lelaki itu mencekal tangan Kyungsoo dan menahannya agar tidak beranjak pergi.

"Jangan menghindar. Kita benar-benar butuh berbicara."

Kyungsoo memandang Jongin dengan nyalang. Wanita itu tak habis pikir bagaimana lelaki didepannya itu dengan beraninya mencekal tangannya didepan umum, membuat beberapa orang mulai memperhatikan mereka.

Dengan sekuat tenaga, Kyungsoo menghempaskan tangan Jongin. "Maaf tuan. Tapi menurut saya tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita. Permisi."

Dengan berakhirnya kata itu, Kyungsoo pun beranjak pindah kekursi dua deret dibelakang Jongin. meninggalkan Jongin yang lagi-lagi memandang sendu kearah Kyungsoo.

.

.

"Auntie~" seru Jessy berlari kearah Kyungsoo yang sudah mendekat dipinggir lapangan tempat pekan olah raga dimulai.

"Auntie lihat? Aku dan kelasku tadi mengalahkan tim dari kelas lain. Lihat kami mendapat peringkat pertama dipermainan ini."

Kyungsoo mengangguk dan mengusap peluh disekitar dahi Jessy.

"Auntie sudah melihatnya, kau dan timmu benar-benar hebat sayang." Jessy tersenyum senang mendengar bagaimana Kyungsoo memujinya.

"Hei kau tidak lapar? Bukankah bagianmu sudah berakhir, tidak ingin makan siang dulu?"

"Ya, aku sudah lapar. Lagi pula lomba untuk anak laki-laki masih dimulai tiga puluh menit lagi, jadi kurasa lebih baik kita makan dulu."

Dan setelahnya mereka berdua pergi untuk makan siang bersama tanpa menyadari tatapan cemburu dari gadis lainnya.

"Hei sayang, kenapa diam saja disini?"

Taerin mendongak dan menemukan ayahnya yang sedang tersenyum penuh dengan sayang kepadanya.

"Ayah, aku hanya.."

"Ayah tau, sabar sayang. Nanti pasti kasih sayang ibumu akan kembali lagi kepadamu. Kita hanya perlu bersabar sedikit."

Taerin hanya mengangguk sebelum kembali memandang kearah Kyungsoo dan Jessy yang sedang asik makan siang bersama.

"Ayo makan siang." Ajak Jongin. taerin menggeleng, "Aku tidak lapar ayah."

"Hei, tidak boleh seperti itu. Nanti jika kau sakit bagaimana? Ibumu tidak akan suka jika melihat anak cantiknya ini sakit karena tidak mau makan."

"Mungkin jika aku sakit ibu akan mau kembali lagi kepadaku."

Jongin menatap Taerin dengan raut wajah tidak terbaca, "Taerin-ah... jangan berbicara seperti itu. Kau hanya perlu bersa-"

"Ya-ya-ya. Aku tau jika aku hanya perlu bersabar. Tapi sekali lagi ayah, sabar itu juga ada batasnya." Potong Taerin dan langsung beranjak pergi dari tempatnya dan Jongin berdiri.

Jongin hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar dan pergi menyusul ketempat Taerin pergi.

.

.

Taerin memanting pintu mobil dengan kasar setelah mobil yang dikendainya berhenti didepan rumahnya. Gadis itu langsung berlali begitu saja meninggalkan ayahnya yang memanggil-manggilnya di mobil.

"Taerin-ah..." panggil Jongin untuk kesekian kalinya namun yang didapat hanya angin lalu karena Taerin tidak menggubrisnya sama sekali dan malah lari kedalam rumah.

Jongin dengan sigap juga langsung turun dan mengikuti Taerin menuju kamarnya. Langkahnya semakin dipercepat ketika mendengar suara bantingan pintu yang sangat jelas. Itu jelas perbuatan Taerin.

Bahkan para maid yang berada dibelakang langsung berbondong-bondong mengintip melihat siapa gerangan yang berbuat sekasar itu. Dan Jongin yang tau langsung mengusir mereka agar kembali kepekerjaan masing-masing.

Langkah kaki Jongin memelan ketika berada didepan pintu kamar Taerin. Lelaki itu mengetuk pintu sebanyak tiga kali dan saat tidak mendapat jawaban apapun dari dalam Jongin memutuskan untuk masuk sendiri kedalam.

Hal pertama yang didapati Jongin adalah Taerin yang tengkurap dengan bantal yang menutupi kepalanya. Samar-samat dia mendengar suara tangisan yang teredam dari dalam bantal itu. Setelah menutup kembali pintunya Jongin berjalan mendekati Taerin dan duduk disebelah Taerin yang tengkurap.

Disentuhnya pundak gadis itu yang bergetar. "Taerin-ah..." panggilnya. Namun Taerin tidak merespon apapun. Untuk itu Jongin menarik bantal Taerin membuat Taerin mendongak sedikit kearahnya.

Hati Jongin mencelos melihat bagaimana keadaan anaknya. Wajah putih gadis itu memerah dengan aliran air mata dimana-mana, belum lagi bibir bawahnya yang bergetar itu digigit kuat-kuat berharap tangisannya mereda.

Diangkatnya gadis kecil itu sebelum membawanya kepelukannya.

"Menangislah. Jangan ditahan. Menangisnya dipelukan ayah." Dan hanya butuh satu kalimat itu untuk Taerin menumpahkan air matanya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya dipelukan Jongin dan sesekali memukul ataupun mencengkaram dada ayahnya.

Taerin berulang-ulang kali mengucapkan kata-kata 'sakit.. sakit.. dan sakit'. Jongin tau yang dimakasud Taerin disini bukan sakit tubuhnya namun sakit hatinya. Jadi lelaki itu hanya bisa membiarkan Taerin sesukanya hingga hatinya lega. Dia hanya butuh tempat bersandar saat ini dan Jongin siap menjadi tempat bersandar itu untuk putri kecilnya.

Setengah jam berlalu, akhirnya Taerin terlelap karena kelelahan menangis. Diusapnya air mata yang mulai mengering dipipi gadis itu. Lalu Jongin mulai menempatkan Taerin tidur ditempat yang benar karena Taerin tidur dipelukannya tadi.

Setelah selesai dan menyelimuti tubuh Taerin. Jongin memandang dalam kearah gadis itu. Dia jadi teringat tentang kejadian beberapa jam yang lalu yang membuat Taerin menangis seperti ini. dia tau jika anaknya itu jelas sakit hati jika diperlakukan seperti itu oleh ibunya sendiri. Jongin sendiri juga tidak habis pikir bagaimana Kyungsoo bisa memperlakukan Taerin seperti itu.

Kejadian ini terjadi saat akhir acara pekan olah raga disekolah Taerin akan berakhir. Saat itu Taerin dan keponanakan Kyungsoo –Jessy– jalan bersama dengan bergandengan. Kedua gadis cantik itu terlihat begitu senang karena kelas mereka keluar sebagai pemenang pertama diacara pekan olahraga tahun ini.

Entah bagaimana ceritanya, Jongin kurang paham karena dia tidak begitu memperhatikan. Tiba-tiba yang dia tau adalah Taerin dan Jessy jatuh dan Kyungsoo berada disana menghempaskan tangan Taerin dan memarahinya menyalahkan Taerin tentang Jessy yang terluka dikaki dan sikunya, padahal jelas Taerin sendiri juga mendapat hal yang serupa. Malah Taerin terluka dibagian sudut bibirnya.

Jongin yang melihat itu buru-buru menghampiri mereka dan hendak ganti memerahi Kyungsoo yang memperlakukan hal seperti itu kepada anaknya sendiri. Namun saat lelaki itu sampai disana Kyungsoo sudah berlalu dengan memapah Jessy. Saat dia hendak menghampiri wanita itu, tangannya dicekal oleh Taerin.

"Ayah ayo pulang sekarang." Ucap gadis itu sebelum berlalu dengan kaki sedikit pincang menuju mobil mereka. Jongin tentu langsung mengikuti dibelakang Taerin dan saat dia ingin membantu Taerin berjalan, anaknya itu menolak dan berusaha berjalan sendiri.

Bahkan dimobil Taerin tidak bicara apapun. Gadis itu hanya menggigit bibirnya dan melempar pandangannya kejendela sebelahnya.

Jongin menghembuskan nafasnya kasar saat mengingat kejadian disekolah Taerin tadi. Kepalanya sakit melihat tingkah Kyungsoo yang keterlaluan seperti itu. Mungkin Jongin bisa memaklumi Kyungsoo yang belagak tidak kenal kepadanya namun jika sampai berbuat kasar terhadap Taerin itu adalah hal yang benar-benar kelewatan karena bagaimanapun Taerin itu anaknya.

Jongin memanjukan tubuhnya sebelum mengecup pucuk kepala Taerin yang tertidur.

"Apapun yang terjadi, ayah akan selalu menyanyangimu Taerin-ah."

.

.

"Nah sekarang lukamu sudah bersih." Ucap Kyungsoo sembari membereskan peralatan p3k kedalam kotaknya kembali.

"Auntie aku tidak apa-apa. Bahkan Taerin terluka lebih banyak dariku." Ucap jessy yang membuat Kyungsoo menghentikan pergerakannya beberapa detik sebelum kembali kepada kegiatannya.

Kyungsoo tersenyum kearah Jessy setelah selesai dengan peralatan ditangannya dan memasukkannya kedalam laci sebelah tempat tidurnya.

"Auntie hanya menghawatirkanmu."

"Ya aku tau, tapi auntie seharusnya tidak perlu seperti itu kepada Taerin. Aku yang salah dan Taerinlah yang menolongku saat aku jatuh tapi malah dia ikut jatuh."

Bukannya menjawab, Kyungsoo malah ngusak rambut Jessy.

"Kembalilah kekamarmu dan bersihkan tubuhmu Jessy."

Jessy mengangguk, "Ya, selamat sore auntie aku kembali kekamar dulu."

Setelahnya Jessy keluar dari dalam kamar Kyungsoo. Mereka memang tadi langsung kekamar Kyungsoo untuk membersihkan luka-luka dikaki dan tangan Jessy.

Kyungsoo menghempaskan tubuhnya keranjangnya setelah melihat Jessy benar-benar menutup pintu kamarnya. Tangannya meraba-raba bagian bawah bantalnya. Setelah menemukan apa yang dia cari Kyungsoo segera membawa menarik tangannya.

Ditangannya kini terdapat sebuah foto gadis yang tengah tersenyum cantik kearah kamera. Tanpa sadar air matanya tiba-tiba jatuh. Kyungsoo tiba-tiba saja teringat perlakuan kasarnya kepada Taerin tadi sewaktu disekolah.

Jujur saja hatinya sakit ketika berbuat seperti itu kepada anaknya. Hatinya makin sakit ketika melihat tatapan terluka dimata putri kecilnya itu. Demi tuhan, Kyungsoo tidak bermaksud seperti itu tapi entah bagaimana bisa jadi seperti itu.

Kyungsoo membawa sebelah tangannya lagi untuk ngeraba kefoto Taerin tersebut. Tangisnya semakin pecah ketika dirinya membayangkan bahwa itu benar-benar anaknya yang berada didepannya. Dia benar-benar merindukan Taerin terlepas dari rasa kesalnya.

"Taerin-ah.. maafkan ibu."

.

.

.

Taerin berdiri didepan sebuah bagungan dengan pagar tinggi menjulang didepannya. Dia baru saja turun dari taksi, dengan kertas ditangannya dia berhasil sampai dialamat yang dia cari. Rumah ibunya.

Ini sudah sebulan lewat dari saat terakhir kali Taerin bertemu ibunya di pekan olahraga disekolahnya dan selama itu juga dia tidak pernah bertemu ibunya saat menjemput Jessy. Saat Taerin bertanya kenapa, Jessy hanya menjawab jika auntienya sedang sibuk dan tidak bisa mengantar jemputnya lagi.

Bermodal tekat, Taerin mendatangi bagian tata usaha disekolahnya dan mencari tau alamat rumah Jessy. Sebenarnya hal itu tidak diperbolehkan namun berhubung Taerin adalah cucu pemilik yayasan jadi hal itu sangat mudah untuk Taerin.

Dan untuk itulah Taerin berada disini. Dia ingin bertemu ibunya. Dia ingin semuanya kembali kesemula. Dia ingin meminta maaf dan mengakhiri drama menyedihkan ini. dia tidak bisa mengandalkan ayahnya karena segala upaya yang ayahnya lakukan hanya berakhir sia-sia jadi dia berinisiatif untuk kemari sendiri.

Tidak ada yang tau tentang rencananya ini dan entah sebuah keberuntungan lain karena ayahnya sedang berada di Jepang untuk perjalanan bisnis sehingga tidak ada yang akan mencarinya jika dia keluar diam-diam.

Taerin merapatkan mantelnya ketika merasakan angin dingin yang berhembus. Gadis itu mendongak keatas dan mendapati langit yang berwarna kelabu. Sepertinya akan hujan. Untuk itu Taerin segera menekan bell yang disediakan didepan gerbang 2 kali. Beberapa detik kemudian dia bisa melihat seseorang lelaki dengan tampang sangar mengintipnya melalui celah kecil digerbang. Taerin segera mendekat kearah lelaki itu.

"Selamat siang paman." Sapa Taerin. Dia bisa melihat lelaki itu mengangguk.

"Ya ada apa adik kecil? Ada yang bisa saya bantu?"

"Apa ini benar rumah Jessy Do?"

"Maksudmu nona Jessy? Jika iya, benar ini memang kediaman nona Jessy Do."

Taerin tersenyum ketika mendapat jawaban benar dari alamat tujuannya.

"Ah saya Kim Taerin teman Jessy disekolah paman. Saya ingin bertemu dengan Jessy untuk membicarakan tugas dari guru kami yang tadi diberikan. Jadi apa Jessy ada dirumah sekarang?"

"Tunggu sebentar, saya akan tanyakan orang didalam terlebih dahulu."

Taerin mengangguk dan diam menunggu didepan gerbang. Gadis itu menggosok-gosokkan tangannya kerena udara yang berhembus semakin dingin. Ini hampir musim dingin jadi jelas udara terasa mulai dingin. Tak beberapa lama kemudian, gerbang didepan Taerin terbuka dan menambilkan seorang penjaga tadi yang menanyai-nanyainya.

"Nona Jessy ada didalam dan saya disuruh untuk mengantarkan nona masuk kedalam."

Taerin hanya mengangguk dan mengikuti langkah paman penjaga tadi setelah memasuki gerbang. Taerin melihat sekeliling dan hal yang dia dapat adalah pemandangan yang tidak jauh berbeda dari rumah ayahnya. Semua terlihat hampir sama bedanya disini terdapat banyak bunga mawar itu saja.

Jarak lima meter Taerin bisa melihat Jessy yang berdiri didepan teras rumah sembari melambai kearahnya. Dan saat dia sudah sampai didepan Jessy paman penjaga yang mengantarnya tadi meminta untuk kembali ketempatnya bertugas.

"Taerin-ah, bagaimana kau bisa kemari? Dan apa yang membawamu kemari?" tanya Jessy penasaran.

"Aku.."

"Oh ayo masuk dulu, tidak baik bicara diluar." Potong Jessy sembari menyeret tangan Taerin untuk ikut masuk kedalam.

Setelah sampai didalam Jessy langsung membawanya duduk diruang tamu dan menawarkannya segelas minuman. Setelah beberapa saat kemudian Jessy kembali dengan dua gelas jeruk ditangannya.

"Jadi katakan bagaimana kau bisa tau alamat rumahku?" tanya Jessy setelah menaruh gelas didepan Taerin.

Taerin mengucapkan terimakasih sebelum menjawab pertanyaan yang Jessy ajukan.

"Aku mencari tau alamatmu dari bagian tata usaha disekolah kita."

Jessy melebarkan matanya mendengar penuturan Taerin. "Mwo? Sampai seperti itu? Memang ada apa sampai kau harus mencari alamatku dari bagian tata usaha Taerin-ah, apakah ada yang benar-benar penting?"

Taerin mengangguk, "Memang apa?"

"Aku ingin bertemu ibuku."

Jessy diam sebentar, "Ibu... mu? Maksudmu, aku tidak mengerti kenapa kau mencari ibumu kemari Taerin-ah."

Taerin menghembuskan nafas sebelum memandang sendu kearah Jessy.

"Jess... aku tau kau tau siapa ibu yang aku maksud."

"a-aku benar-benar tidak tau taerin. Sungguh.."

"Jessy kumohon kau temanku kan? Aku hanya ingin bertemu dengan ibuku. Kumohon, aku hanya ingin meminta maaf kepadanya Jess."

Jessy menggigit bibir bawahnya gelisah. Sungguh dia tidak tega melihat tatapan memelas yang Taerin berikan kepadanya namun disisi lain dia juga tidak bisa mengatakannya karena dia juga sudah berjanji kepada auntienya.

Namun Jessy sepertinya harus mengingkarinya janjinya kepada auntienya ketika sekali lagi Taerin memohon kepadanya.

"Jessy... kumohon, sekali saja."

Dan jessy hanya bisa menghembuskan nafas dan jujur kepada Taerin.

"Taerin-ah.. sebenarnya auntie_"

"Jadi ini si anak durhaka yang tega meninggalkan ibunya untuk hidup mewah dengan ayahnya? Dan untuk apa anak durhaka ini kemari?"

Ucapan Jessy terpotong oleh seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik dinding. Jessy melebarkan matanya ketika tau jika itu adalah neneknya. Segera saja jessy berdiri dan mencoba mencegah neneknya untuk berbuat yang macam-macam kepada Taerin.

"Halmonie_" Jessy langsung diam ketika neneknya memandang tajam kearahnya. Jessy hanya bisa menundukkan kepalanya karena bagaimana pun dia tidak berani melawan kepada neneknya.

Nyonya Do semakin berjalan mendekat kearah Taerin membuat Taerin memandang takut kearahnya karena wanita paruh baya yang secara tidak langsung adalah neneknya itu menatap tak suka kearahnya.

Dengan ragu Taerin membungkukan badannya sopan kepada wanita paruh baya tersebut untuk memberi salam.

"Se-selamat siang hal_"

"Jangan panggil aku halmoni karena aku bukan nenekmu." Potongnya.

Taerin meremah baju bagian bawahnya mendengar nada ketus dari wanita itu. Sungguh Taerin ingin menangis karena neneknya enggan mengakuinya sebagai cucunya.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya wanita itu masih dengan nada ketus yang sama.

"Saya hanya ingin bertemu dengan ibuku."

Taerin bisa mendengar neneknya itu mendecih seolah meremehkan ucapannya.

"Kau ingin bertemu ibumu? Cih, apa kau masih pantas memanggilnya ibu sekarang? Bukankah kau sendiri yang membuang ibumu?"

Taerin sekali lagi menekan batinnya agar tidak menangis dihadapan neneknya karena bagaimanapun dia benar-benar harus bertemu ibunya sekarang.

Taerin sudah hendak membuka suara sebelum tangannya dicekal dan dia merasa tubuhnya diseret kearah pintu. Dia bisa mendengar Jessy yang memekik terkejut. Dia juga bisa merasakan tangannya yang sakit karena wanita paruh baya didepannya ini menarik tangannya dengan kasar.

Taerin merintih sakit ketika merasakan tubuhnya yang dihempaskan dengan kasar dihalaman depan rumah keluarga ibunya itu.

"Kau pergi dari sini sekarang. Jangan harap kau bisa bertemu dengan ibumu lagi." dan setelah mengucapkan kalimat itu neneknya tadi pergi berlalu meninggalkannya sendirian dan menangis.

.

.

Jessy berkali-kali melihat kearah jendela rumahnya. Taerin masih duduk bersimpuh didepan halaman besar rumahnya. Dia ingin menolongnya namun neneknya terus berada dibelakangnya untuk mengawasinya.

Jessy dibuat semakin khawatir ketika langit mulai memutahkan isinya sedikit demi sedikit dan lama kelamaan semakin deras. Sungguh dia bisa melihat Taerin yang menggigil disana. Gadis itu terus berfikir hal apa yang perlu dilakukan untuk menolong Taerin.

Dia tidak bisa menolong Taerin langsung karena pasti dia akan mendapat hukuman dari neneknya. Hingga sebuah nama lewat diotaknya. Orang itu jelas bisa menolong Taerin jadi untuk itu Jessy segera berlari menuju lantai dua setelah neneknya pergi kekamarnya.

Tanpa mengetuk pintu Jessy langsung masuk dan membuat seseorang yang tengah berbaring diranjang dibuat kaget bukan main.

"Auntie sudah bangun?"

Kyungsoo mengangguk sebelum membetulkan posisi tidurnya dengan duduk menyender kekepala ranjang.

"Ya, demam auntie sudah turun setelah meminum obat dan tidur. Ada apa? Kenapa kau terlihat terburu-buru?"

Jessy menggigit bibir bawahnya sebelum menjelaskan semuanya kepada Kyungsoo.

"Sebenarnya..."

.

Kyungsoo berlari dengan terburu-buru menuju bawah. Tubuhnya yang tadi pagi tadi terkena demam dan tak bertenaga kini dia paksakan untuk bekerja dengan tergesa-gesa.

Difikirannya hanya terdapat Taerin, Taerin dan Taerin. Dia menangis ketika mendengar cerita dari Jessy tadi. Dia semakin khawatir ketika melihat kejendela dan menpati hujan turun dengan derasnya sementara Taerin berada diluar sedang hujan-hujanan.

Saat tangannya sudah sampai diatas hendel pintu tiba-tiba saja ada yang menghentikannya. Kyungsoo menoleh dan menemukan ibunya yang berdiri disampingnya.

"kau mau kemana?" tanya ibu Kyungsoo.

"Eomma, aku..."

"Kau tidak perlu menemuinya. Biarkan saja dia disana dan pergi sendirinya. Apa kau lupa dengan apa yang dia lakukan kepadamu dan kenapa kau dengan mudahnya akan memaafkannya. Ingat Soo dia sudah berbuat jahat kepadamu."

"Tapi aku akan jelas lebih jahat lagi jika aku mengabaikannya dan membiarkannya kehujanan diluar sana eomma."

Ibu Kyungsoo menggeleng, "Tidak. Kau akan tetap disini."

"Eomma kumohon. Mau bagaimanapun perlakuannya dia tetap anakku eomma. Aku akan berdosa jika membalasnya seperti itu."

"Tapi soo kau_"

"Kumohon... eomma juga seorang ibu, eomma pasti bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Jadi kumohon eomma jangan halangi aku."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

No coment! Tau dah chap ini gaje tau-tau tau.

Baby vee Cuma mau mintak maap aja karena telat up. Ffn lagi bermasalah dan baby vee gak bisa ngebuka selama seminggu ini bahkan baby tiap masuk ke story langsung balik lagi. sedih sumpah.

Sedikit pengumuman ini ff bakalan berakhir di chap ke-10, yeyyyy... karena baby vee punya ff baru lagi jadi pin cepet-cepet akhirin ini ff. Capek sedih-sedih muluk.

Terakhir, thank's buat yang udah review chap sebelumnya. See you next chap, love you :*