Sudah terhitung satu bulan semenjak Ryoma bergabung dengan club ballet. Setiap hari dia berlatih dengan sungguh-sungguh dan semangat, karena memang ini merupakan hal baru baginya. Dan selama satu bulan itu pun dia sudah berhasil mengejutkan anggota club ballet lain dengan kemajuannya yang sangat pesat.
"Memang benar apa yang kamu katakan, Yuki."
"Aku tahu dia akan bisa berkembang dengan pesat. Karena seperti itulah Ryoma Echizen, dia bisa belajar dengan cepat."
"Bahkan kemampuannya bisa sejajar dengan anggota kelas dua."
Yukimura tertawa kecil. "Dia hanya butuh sedikit motivasi. Atau mungkin provokasi?"
Kini Fuji yang sedikit tertawa. "Apa kita harus berterima kasih pada Atobe?"
"Ya, kapan-kapan akan aku temui dia untuk sekedar memberi salam."
Dengan cepat pula, isu mengenai anak kelas satu yang jenius sudah tersebar di seluruh Teidai. Meski begitu Ryoma tidak mengharapkan hal itu terjadi. Dia hanya berharap dapat menjalani kehidupan sekolah dengan tenang dan melakukan kegiatan club dengan tenang pula. Meski kenyataannya, dia selalu tidak bisa melewati satu minggu tanpa ada keributan. Karena, club-club lain masih bersikeras ingin menariknya menjadi anggota. Padahal dia sendiri sudah mendeklarasi bahwa satu bulan lalu telah memutuskan untuk bergabung dengan tim ballet. Dia merasa kewalahan jika harus menghadapi senpai-senpai itu sendirian. Beruntungnya dia jika bisa selalu berada di dekat B4, karena aura keempat orang itu seakan bisa menjadi barrier baginya. Tapi sayang mereka tidak bisa selalu bersama karena berada di kelas yang berbeda.
Sekitar pukul lima, latihan pun selesai. Ryoma sudah bersiap untuk pulang. Dia bergegas berjalan menuju gerbang sekolah. Sembari meneguk ponta terakhir dalam tasnya, dia pun berjalan dengan santai. Tiba-tiba, sebuah bola tenis melayang, membuat kaleng ponta harus terjatuh ke atas tanah.
"Ups, maaf, maaf, aku pikir tidak akan kena," ujar seseorang yang menjadi dalang dari semua itu. Ryoma bergegas menengok ke arahnya. "Kupikir akan mengenai wajahmu, eh meleset," tambah Shishido lagi. Ketiga temannya hanya tertawa.
"Mau apa kalian?" tanya Ryoma sinis.
"Uh, seramnya. Padahal karena hari ini panas, kami sengaja ingin membantumu mendinginkan badan," timpal Sengoku.
Tiba-tiba, sebuah bola air melayang, mengenai tubuh Ryoma tanpa bisa dihindari. Keempat anggota club tenis itu mulai bertubi-tubi melakukan serangan sembari terus tertawa menikmati keadaan. Sementara Ryoma sendiri tidak bisa berkutik, melawanpun tidak akan ada gunanya, pikirnya. Jadi, dia segera berlari ke arah belakang sekolah karena jalan ke arah gerbang terhalangi oleh keempat orang tadi.
"Hei, mau kemana kamu? Kami belum selesai!" teriak Akaya.
Mereka adalah salah satu alasan kenapa hari-hari Ryoma tidak bisa dilewati dengan tenang. Sejak mendapatkan note merah, mereka tidak pernah berhenti mengerjainya. Padahal siswa yang lain sudah lama berhenti karena sudah tidak berani, berkat Ryoma yang semakin sering berada di dekat B4.
Kaki Ryoma masih terus melangkah dengan kesal. Di belakang sekolah, dia berbelok ke arah tangga menuju beranda. Dia berlari dan berhenti pada beranda lantai dua. Memegangi pagarnya dengan kesal sembari memandang ke arah langit yang mulai menguning. "Baka na ano yaro!" teriaknya dengan segenap tenaga.
Ryoma menghela napas panjang. Perasaannya sudah menjadi lebih ringan akibat teriakan barusan. Tapi dia masih belum beranjak dari tempat tersebut.
"Apa kamu tidak berpikir kalau berteriak seperti itu akan mengganggu orang lain?" tiba-tiba sebuah suara mengejutkan Ryoma. Dia menengok ke sumbernya dan menemukan Tezuka ada di sana. Lelaki berkaca mata itu tengah tertidur pada tangga yang menuju lantai tiga, jadi wajar saja Ryoma tidak sadar. Tapi, kini dia tidak sengaja membuat senpainya itu terbangun.
Tezuka bangkit dari tidur. Dia menyingkirkan buku yang semula dipakai untuk menutupi wajah, lalu memasangkan kacamatanya yang bertengger pada kantung baju.
Meski Tezuka tidak pernah memiliki masalah apapun dengan Ryoma, tapi anak bertopi itu tetap tidak menyukainya yang merupakan anggota dari F4. "Salahmu sendiri tidur di tempat seperti ini," jawabnya dengan dingin.
"Hoo. Kalau tidak salah tempat ini sudah menjadi markasku selama ini."
Ryoma masih diam tidak menanggapi Tezuka. Dia lebih fokus untuk mencari cara agar tidak perlu masuk angin.
"Maaf, mereka memang sudah keterlaluan," tambah Tezuka lagi. Ryoma sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan permintaan maaf dari orang yang tidak pernah bersalah padanya. Ditambah lagi Tezuka menyodorkan sebuah sapu tangan ke arahnya. Meski kesal, tapi Ryoma tidak pernah bisa mengabaikan kebaikan orang lain.
"Terima kasih," ucap Ryoma sembari mengambil sapu tangan dari tangan Tezuka.
"Kelihatannya kamu berkembang pesat sekali di club ballet."
"Lantas kenapa?"
"Apa kamu menikmatinya?"
Ryoma sedikit terdiam. Entah kenapa dia mulai tidak suka ke arah pembicaraan yang seakan berusaha mengorek hal pribadinya. "Jika tidak begitu, aku akan sudah keluar."
"Lalu kenapa aku tidak pernah melihatmu tersenyum bahkan tertawa bersama anak-anak club itu?"
Kali ini emosi Ryoma benar-benar kembali naik. Meski tidak berekspresi sama sekali, tapi Tezuka berhasil membuat adik kelasnya itu kesal berkat perkataannya. Tapi, Tezuka hanya berusaha mengatakan sesuatu yang benar-benar terlihat oleh matanya. Entah kenapa dia merasa Ryoma hanya sedang berusaha membuat kegiatannya terasa menyenangkan. Padahal sebenarnya dia belum merasa nyaman.
"Kau berkata seakan tahu semua tentangku. Tapi itu salah!"
"Lantas kenapa wajahmu tidak pernah memperlihatkan ekspresi ketertarikan selama latihan?"
"Maaf, ya. Wajahku memang seperti ini! Tidak selamanya orang tertawa pun benar-benar menikmati kegiatannya. Bukankah hal itu lebih cocok kamu katakan kepada diri sendiri?"
"Kamu hanya belum tahu." Tezuka terdiam sesaat. Begitu pula dengan Ryoma yang masih membelakanginya. "Ada waktu sebentar? Aku akan membantumu agar tidak masuk angin."
Ryoma menoleh ke arah Tezuka yang mendekat ke arahnya. Tentu saja dia bermaksud menolak, tapi ada sebuah perasaan yang membuatnya menerima ajakan Tezuka. Meski dia sendiri tidak tahu kemana Tezuka akan membawanya.
.
"Sudah kubilang, sampai kapanpun aku tidak akan bergabung dengan club tenis!"
"Aku hanya mengajakmu main, bukan sedang berusaha merekrutmu."
Tezuka dan Ryoma saling berhadapan di tengah lapang tenis Teidai. Tempat itu sudah sepi, sangat berbeda dengan beberapa menit yang lalu karena kini para anggota telah pulang. Oleh karena itu pula Ryoma tidak menolak ajakan Tezuka. Tapi lain cerita jika ternyata Atobe ada di sana, dia pasti tidak akan mau melangkah satu kali pun ke dalam lapangan.
"Aku penasaran setelah melihat permainanmu melawan Atobe tempo hari."
"Huh, kamu bersalah karena sudah menghentikan kemenanganku?"
"Ya," ucap Tezuka langsung. Cukup untuk membuat Ryoma sedikit terkejut karena tidak menyangka senpainya akan menjawab seperti itu. "Aku rasa ada kemungkinan kamu akan mengalahkan Atobe."
"Kalau begitu, kamu pun ingin kukalahkan?" Ryoma sedikit tersenyum. Entah sejak kapan dia jadi mulai bersemangat dan ingin tahu seperti apa permainan tenis Tezuka.
"Coba saja."
"Baiklah, akan kukabulkan. Semoga kamu tidak menyesal!" ucap Ryoma sesaat sebelum memulai service dengan tangan kiri.
Permainan pertama antara Ryoma dan Tezuka pun dimulai. Dalam waktu sekejap, mereka benar-benar terbuai oleh permainan tersebut. Ryoma merasa semangat meraih kemenangannya kembali muncul setelah sekian lama terkubur. Belum pernah dia merasakan perasaan seperti itu lagi sejak lama. Kini, seakan pertandingan dengan Tezuka telah mengembalikan semuanya. Perasaan yang tanpa sadar telah dia rindukan.
Sekitar delapan belas menit, permainan pun berakhir. Ryoma tergeletak di atas lapang tenis sembari terengah-engah. Rasanya kaos sekolahnya tidak kunjung kering dan justru semakin basah oleh keringat. Tapi, dia tidak mempedulikan semua itu dan justru mulai tertawa.
Tezuka yang masih berdiri di lapangan bagian satunya memandangi Ryoma yang tengah terbaring sembari tertawa seorang diri. Dia pun sedikit tersenyum karena tahu bahwa Ryoma telah mengerti maksud perkataannya saat di beranda. Karena sedikitnya, dia bisa mengerti seperti apa perasaan anak bertopi itu.
"Permainanmu bagus juga," ucap Tezuka sembari membantu Ryoma berdiri.
"Cih, apanya yang bagus jika belum bisa mengalahkanmu!" balas si anak bertopi. Namun dia berkata tanpa kemarahan sama sekali, bahkan terlihat sangat puas akan permaiannya.
"Kau tahu? Orang-orang yang mendirikan club adalah mereka yang berusaha menawarkan kegembiraan pada semua orang. Mereka ingin mengumpulkan orang yang memiliki minat sama dalam satu tempat agar bisa merasakan kegembiraan bersama. Meraih prestasi tinggi memang bagus, tapi yang terpenting, apakah kita bisa menikmati semua itu bersama teman-teman yang lainnya?"
Ryoma terdiam sejenak memikirkan kata-kata Tezuka. Perkataan tersebut sedikit mengena pada dirinya. Tapi, dia masih tidak tahu apa yang sebaiknya dia lakukan setelah ini.
"A-aku tetap tidak akan pindah ke club tenis!" ucap Ryoma dengan sedikit keterpaksaan. Bagaimanapun dia masih tidak ingin bertemu dengan musuh terbesarnya.
"Sudah kubilang, aku tidak sedang berusaha merekrutmu," balas Tezuka sembari membereskan barangnya dan pergi menjauh. Meninggalkan Ryoma yang masih terdiam sesaat.
.
Sejak mulai bertanding, kedua orang tersebut tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang tengah mengamati permainan mereka dari kejauhan.
"Kenapa Tezuka tiba-tiba mengajak anak itu bertanding?" komentar Mizuki.
"Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa anak itu memang hebat," jawab Sanada. "Bagaimana menurutmu, Atobe?" Dia melirik ke arah temannya yang hingga sekarang masih melongok ke luar jendela dengan tatapan serius. Masih belum bisa melepaskan pandangan dari arah si anak bertopi. "Atobeā¦"
Di tempat lainpun, empat orang siswa terdiam menyaksikan pemandangan yang sama. Namun mereka sedang berusaha menahan rasa kesal. Oshitari mendengus keras. "Mereka masih belum menyerah rupanya."
"Tapi, ini tidak biasa," timpal Fuji. "Dari club-club yang selalu berusaha merekrut Ryoma, F4 tidak pernah sekalipun melakukannya. Tapi, kini Tezuka bahkan sampai turun tangan."
"Apa memang ini tidak ada sangkut pautnya dengan club tenis?" Shiraishi turut penasaran.
"Yang pasti, kita tidak bisa menyerahkan anak itu. Jangan biarkan siapapun mengambil Ryoma dari club kita." Akhirnya sang ketua klub menutup perbincangan sebelum mereka melangkan pulang.
Sementara Ryoma sendiri masih terus berpikir hingga sampai di rumah. Tekadnya masih bulat untuk menjauhi club tenis berkat keberadaan Atobe di sana. Tapi, permainannya dengan Tezuka tadi membuatnya sadar, bahwa tenis ternyata memberikan kesenangan yang belum pernah dia dapat sebelumnya. Bahkan Ryoma benar-benar bisa tertawa bahagia seusai pertandingan tadi. Apa itu artinya dia memang menyukai tenis? tanyanya dalam hati.
'Apa aku harus mencoba untuk bergabung dengan club tenis?'
