.
Chapter 7 : The Beginning Of Nightmare
.
Maria's POV…
Setelah dimasukkan dalam satu kamar, kami dibimbing oleh Labrador-san, Castor-san dan Frau. Hari pertama ini, kami berempat dibimbing oleh Frau dan Castor-san. Setelah Castor-san dan Frau memperkenalkan diri mereka, kami diminta saling memperkenalkan diri beserta type zaiphon kami. Hakuren dan Wieda offensive-type zaiphon, sedangkan Lime healing-type zaiphon. Saat giliranku, aku hanya mengaku bahwa aku pengguna offensive-type.
"okay, sekarang silakan tembak para boneka yang saya sediakan dengan bascule kalian dan jangan ragu, kalau perlu hancurkan saja" ujar Castor yang menunjuk ke arah para boneka, walau aku sempat merasa takut karena boneka yang dibuat Castor-san menyerupai Frau.
"kok bikin kaya gadunganku gitu sih!".
"kelihatan berbahaya kalau dibiarkan berkeliaran kan? Jadi insting mereka bisa terasah juga".
"Castor-san, apa tidak bahaya? Di dalam boneka itu ada Kor, kan?" potongku.
Hakuren, Wieda, dan Lime langsung melirik ke arahku dengan tatapan heran karena aku bisa tahu bahwa di dalam boneka itu terdapat Kor. Setelah Castor berkata bahwa mereka berdua akan tetap di sini untuk mengawasi kami, kami bisa lega. Setelah Frau memberi aba-aba untuk mulai, kami mulai memasukkan zaiphon kami ke dalam bascule dan menembak boneka itu. Baru saja latihan kami dimulai, aku sudah selesai karena boneka berisi kor yang kutembak berhasil hancur lebur beserta kor yang ada di dalamnya, padahal Kor in boneka itu cukup lincah. Ketiga temanku itu terbengong-bengong melihatku.
"kenapa malah kau hancur leburkan gitu!" teriak Frau.
"kan kata Castor-san hancur leburkan aja".
Mendengar jawabanku yang mengatakan itu dengan wajah tanpa dosa, Castor dan Labrador mati-matian menahan tawa sementara Lime dan Wieda tertawa terbahak-bahak (Hakuren just speechless dengan wajah masam).
Beberapa Hari Kemudian…
Tidak terasa, sudah setengah bulan lebih aku bersama mereka bertiga. Sampai saat ini aku belum bisa mengakrabkan diri dengan ketiga teman sekamarku itu, walau sebenarnya mereka bertiga berusaha mengakrabkan diri denganku (terutama Hakuren). Entah kenapa, sejak kemarin sore aku merasa Hakuren sering melihatku dengan tatapan yang cukup menusuk. Bicara soal kemarin sore, aku teringat peristiwa kemarin sore.
(flashback begin)
Saat hendak kembali ke kamar karena hari sudah sore, segerombolan anak-anak mengikuti Maria dkk dari belakang. Setelah meminta ketiga temannya untuk kembali duluan, Maria menghampiri mereka dan menanyakan keperluan mereka. Anak-anak itu meminta Maria untuk kembali mengajari mereka dan bermain bersama mulai besok, meskipun Maria menolak permintaan mereka dengan alasan akan mengikuti ujian. Anak-anak itu pergi dengan wajah kecewa.
"maafkan aku, anak-anak" gumam Maria dengan tatapan sedih karena ia menolak permintaan anak-anak itu dengan berat hati. Tanpa diketahui Maria, Hakuren yang bersembunyi di balik pilar melihat dan mendengar semua pembicaraan mereka.
(flashback end)
Well, tapi aku berusaha untuk tidak menghiraukannya. Kali ini pun aku harus pergi ke ruang makan bersama mereka karena Hakuren yang menyeretku. Saat mereka bertiga makan, aku memilih untuk menunggu di luar ruang makan karena aku masih tidak nafsu makan. Saat aku melihat bintang, beberapa anak-anak yang menggenggam rokku. Mereka anak-anak yang kuajari kemarin. Entah ini sudah yang keberapa kalinya mereka memintaku untuk kembali mengajari mereka dan bermain bersama mulai besok. Aku terus menolak permintaan mereka walau mereka meminta padaku berulang kali dengan alasan bahwa aku akan menjalani ujian Millitia dan Uskup. Dengan wajah memelas mereka meninggalkanku.
"kau yakin dengan keputusanmu? Kenapa tidak kau kabulkan saja keinginan mereka?".
"memang kasihan anak-anak itu. Tapi biarlah begini, sebelum mereka lebih dekat denganku".
"aku mengerti kau masih sedih, tapi…".
"Maria…", Hakuren menepuk pundakku dan aku menoleh ke arahnya "apa yang kau lamunkan?".
"tidak ada apa-apa. Karena kalian sudah selesai, bisa kita kembali?", aku menggelengkan kepala dan mengikuti mereka, kembali ke kamar kami dan kuberharap dalam hati, mereka tidak mendengar percakapanku dengan anak-anak barusan.
Maria's POV End…
Saat mereka berempat hendak kembali ke kamar, tiba-tiba Maria berhenti dan menoleh ke arah gerbang.
Hakuren melirik ke arah Maria "kenapa, Maria?".
Tanpa menjawab pertanyaan Hakuren, Maria langsung lari menuju gerbang "Eve, suara teriakan tadi dan perasaan ini…".
"ya, ada penghuni kegelapan yang menyusup kemari. Kegelapan yang pekat ini… mungkinkah Warsfail?".
"bukan hanya itu, Eve. Aku juga mencium bau darah".
"…ini pertanda, Maria. Hati-hatilah".
"Maria, tunggu!" teriak Hakuren yang mengejar Maria "cepat sekali lari anak itu?! Apa karena tubuhnya yang mungil, ya?".
Walau tidak tahu apa yang terjadi, Wieda dan Lime menyusul Maria dan Hakuren. Saat mereka berempat sampai di depan gerbang, terlihat sekelompok orang-orang yang berkerumun. Dari kerumunan itu, terlihat suster Athena memapah suster Rosalie yang pingsan.
"suster Athena, apa yang terjadi?" tanya Hakuren.
Suster Athena menggelengkan kepala "lebih baik kalian tidak melihat kesana, anak-anak".
Maria tak menghiraukan ucapan suster Athena dan menerobos kerumunan, disusul ketiga teman sekamarnya itu. Betapa terkejutnya mereka saat mereka sampai di sumber keributan.
"Lime, jangan lihat!". Wieda menutup mata adiknya, sementara wajah Hakuren menjadi pucat.
Wajar saja, sebab mereka berempat melihat si penjaga gerbang, Aldo si (mantan) pembunuh sudah tergeletak menjadi seonggok mayat yang berlumuran darah meski bagi Maria yang terlatih sebagai budak perang, ini bukan pertama kali baginya melihat mayat, jadi ini tak terlalu membuatnya shock.
"ini pasti perbuatan 07-ghost. Mereka tidak akan memaafkan kejahatan" ucap salah seorang yang menemukan mayat Aldo.
"daripada mengatakan hal yang tidak pasti seperti itu, lebih baik anda membawa jenazah Aldo ke ruang mayat. Kasihan dia, kan?" ucap Maria sambil menutupi jenazah Aldo dengan kain putih yang ia buat dari control type-nya secara diam-diam.
"yah, walau terlihat dingin, sebenarnya hatinya lembut. Eh, tapi dapat darimana dia kain putih itu?" pikir Hakuren yang ekspresinya semula tersenyum berubah menjadi heran.
"anak ini benar. Biarkan Aldo beristirahat dengan tenang" ujar suster Libelle terhadap para petugas sambil mengelus kepala Maria.
Tiba-tiba, Maria merasakan tatapan yang dingin dan menusuk dari suatu tempat. Saat Maria menoleh kebelakang, ia melihat Frau di atas salah satu bangunan sambil menggenggam sabitnya. Tatapannya begitu dingin dan kejam.
"ada apa?" ujar Hakuren yang mendekatinya dan menepuk bahu Maria.
"ah, tidak apa-apa", Maria menggelengkan kepala dan saat ia kembali melihat ke arah bangunan tadi sekali lagi, Frau sudah tak ada di sana. Mereka berempat kembali ke kamar dan segera tidur.
Maria's POV…
Aku berlari dalam hutan yang lebat bersama kakakku. Kami berdua menangis karena sedih, meski aku tak tahu sebabnya, sambil terus berlari.
"bertahanlah, dik. Jangan melihat ke belakang lagi. Jangan berhenti berlari".
"tapi, kak... Father… Father sudah…".
"aku tahu! Hanya tinggal kita berdua dan kita harus hidup dan terus bersama! Apapun yang terjadi, jangan lepaskan genggaman tanganmu dariku!".
Tiba-tiba, sebuah peluru yang melesat menembus bahu Maria, membuat tubuh kecil Maria terlempar ke arah jurang di samping mereka. Setelah pemandangannya gelap untuk beberapa saat, aku terbangun di atas tempat tidur.
"syukurlah, akhirnya kau sadar. Kepalamu terluka karena kau jatuh dari tebing dan tersangkut di pohon" seorang wanita dengan mata dan rambut coklat duduk di sampingku.
"perkenalkan, namaku Kurena. Namamu siapa?".
"…Maria Klein".
Saat Kurena-san menanyakan asal-usulku, aku hanya bisa menangis di pelukannya karena yang bisa kuingat hanya kematian orang-orang saat perang.
"kalau memang menyakitkan, tidak usah diingat. Mulai sekarang kau boleh tinggal disini".
Aku yang tak ingat apa-apa selain namaku akhirnya diasuh olehnya.
Pada malam hari, semua peserta ujian tengah terlelap di ranjang mereka (seharusnya), aku terbangun dari tidurku dan melihat hari masih malam "pertanda apa ini? Kenapa tiba-tiba aku memimpikan Kurena-san?".
Akibat mimpi yang kulihat, aku terjaga. Karena kupikir percuma tidur lagi, dan aku tidak mau melihat mimpi buruk itu lagi, aku jalan-jalan keluar. Ini berlangsung tiap malam. Saat aku jalan keluar, kadang aku bertemu dengan Uskup Agung Zio-Sama dan kami mengobrol.
Maria's POV End…
Tanpa diketahui Maria, Hakuren menyadari bahwa tiap malam Maria keluar dari kamar, dan kali ini Hakuren mengikutinya dari belakang karena penasaran. Saat Maria masuk ke ruang misa, ia bertemu dengan uskup agung Zio.
"kenapa, nak? Tidak bisa tidur lagi?".
"ah, selamat malam, uskup agung Zio-sama. Maaf, lagi-lagi saya menyusup ke sini tengah malam begini".
"hahaha, tidak apa-apa. lagipula dewa tidak punya waktu untuk tidur kan?".
Hakuren yang bersembunyi di balik pintu terkejut melihat keakraban Maria dengan uskup agung.
"omong-omong, kudengar kau dan partner ujianmu sempat minta tukar. Kenapa begitu?".
"oh, itu karena partner saya tidak suka perempuan. Sore itu saat saya di kamar mandi, saya tak sengaja mendengar percakapan antara dia dengan Wieda".
"aduh, jadi dia dengar toh" pikir Hakuren sambil menepuk kepalanya.
"apa itu tidak memberatkanmu?".
"Zio-sama, saya sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Saya pikir, pasti Hakuren punya alasan kenapa ia jadi begitu, sama seperti saya. Saya malah bersyukur, sebab dengan begini saya tidak perlu repot-repot membuat tembok penghalang di antara kami".
"nak, aku tahu tragedi yang kau alami telah membuatmu trauma dan takut untuk berhubungan secara dalam dengan orang lain, tapi tak bisakah sekali saja, kau coba lagi untuk mempercayai orang lain, meski hanya satu orang?".
"itu…" Maria menundukkan kepalanya dan tak menjawab pertanyaan uskup agung Zio.
Uskup agung Zio hanya bisa menghela napas. Sebelum pergi, uskup agung Zio memberitahu Maria "oh iya nak, seminggu sekali diadakan kelas praktek penggunaan bascule di akuarium kor. lusa malam kelas itu akan dibimbing oleh wakilku, Bastien. Bagaimana kalau kau dan temanmu itu ikut? Aku dan beberapa uskup akan melihat sekaligus menginspeksi bibit tahun ini".
Hakuren yang membuntuti Maria dan kini berada di balik dinding mendengar ucapan uskup agung Zio-sama. Saat di pintu keluar, uskup agung berbelok arah tepat di arah Hakuren bersembunyi. Di tikungan dekat ruang misa, Hakuren meminta maaf pada uskup agung Zio karena telah menguping pembicaraan. Uskup agung Zio tidak marah, malah ia meminta Hakuren untuk membantunya agar Maria mau membuka hatinya pada orang lain.
Saat Hakuren menanyakan apa yang terjadi pada Maria, uskup agung Zio menggeleng kepalanya "maaf, tapi hal ini adalah privasi Maria. Saya sekalipun tak bisa mengungkapnya pada sembarang orang. Hanya satu hal yang bisa kuberitahukan padamu, gadis itu memiliki luka yang sangat besar dan saat ini Frau berusaha menyembuhkannya".
Maria's POV…
Keesokan harinya…
Sudah 3 minggu lima hari aku meninggalkan militer dan 2 minggu lima hari sejak Mikage pergi dari sisiku. Seperti kemarin, aku mengunjungi perpustakaan bersama Hakuren, Wieda, dan Lime untuk belajar bersama di perpustakaan. Sementara Wieda dan Lime melakukan evaluasi soal, aku dan Hakuren sibuk membaca buku yang kami pilih padahal kami duduk bersebelahan. Aku menutup buku yang kubaca dan menutup mataku dengan tanganku.
"kamu ngantuk atau pusing?".
"dua-duanya, Eve".
Aku berdiri dari tempat dudukku dan mengambil buku yang kubaca barusan.
"mau kemana?".
"hanya ingin menaruh buku-buku ini".
Hakuren mengikutiku dari belakang. Sementara Hakuren menaruh bukunya, aku naik ke atas tangga yang letaknya tak jauh dari rak buku yang dilihat Hakuren.
Saat menaruh buku, Eve masih mengajakku berbicara "wajar saja, sejak kematian Mikage kamu jadi susah tidur dan makan kan?".
"apa itu berpengaruh padamu? Kalau iya, maafkan aku".
"nggak kok, tapi aku khawatir, sudah 2 minggu lima hari ini kamu hampir tidak tidur dan makan sedikit, kan? Kalau ada apa-apa, gimana?".
"buat apa kamu hitung segala? Lagipula aku masih bisa ber…".
Tiba-tiba, keseimbanganku hilang karena kesadaranku yang memudar.
Maria's POV End…
Lime yang melihat hal ini, berteriak pada Hakuren sembari beranjak dari kursi "Hakuren-san! tangkap Maria-san!".
Sebelum Hakuren, sudah ada seseorang yang lebih dulu menangkap tubuh Maria yang terjatuh. Antara sadar dan tidak, Maria berusaha memfokuskan pikirannya. Suara yang tak asing di telinganya memanggil namanya berkali-kali.
"Maria? hei, gadis kecil, sadarlah hoi? Kalau kau sudah sadar sepenuhnya, sebutkan nama gentleman tampan yang menolongmu ini".
"narsis juga ada batasnya, Frau-san! Perkataanmu barusan membuatku tambah pusing saja!".
"hm, kalau bisa ngomong begitu, berarti kau masih sadar sepenuhnya".
"terima kasih banyak telah menolongku. Sekarang, bisa tolong turunkan aku?".
Bukannya langsung menurunkan Maria, Frau malah menggendongnya ala bridal dengan senyum usil.
"hei! Turunkan aku!".
"iya, iya. Sekarang duduk dulu ya".
Setelah meletakkan Maria di salah satu kursi, lagi-lagi Frau menatapnya dengan lembut sambil mengelus kepalanya, membuat Maria merasa malu. Lime dan Wieda yang duduk di samping Maria memeriksa keadaannya, sedangkan Hakuren mengajak Frau bicara "Frau-san…".
"iya, kenapa, Hakuren?".
Hakuren menyerahkan satu buku pada Frau "ini sebagai salah satu tanda hormat saya kepada anda".
Begitu Frau membuka buku itu, ekspresinya langsung berubah.
"i, ini… hebat, kau bisa tahu kesukaanku" ujar Frau sambil memasukkan buku itu ke dalam jubahnya.
"sama-sama" ujar Hakuren menjabat tangan Frau sambil tertawa bersama Frau.
"sogokan!" spontan gumam Maria dan Lime bersamaan.
Tiba-tiba, dari belakang Frau muncul seorang uskup yang langsung memukul kepala Frau dengan buku yang cukup tebal "…Frau".
Setelah Frau menjerit kesakitan, setumpuk buku berjatuhan ke lantai dari dalam jubah Frau (meskipun Maria dan Lime tak sempat melihat buku apa itu karena Wieda menutup mata mereka berdua).
"pantas kamu ada di perpustakaan, ternyata… buku-buku ini kusita!".
"…aah…".
Lucu juga melihat Frau yang memelas pada uskup itu untuk mengembalikan kumpulan buku pornonya yang disita uskup itu. Setelah menaruh buku-buku tadi (entah dimana), uskup yang nampak akrab dengan Frau tadi menghampiri mereka. Setelah memastikan Maria baik-baik saja, uskup itu memperkenalkan diri sebagai wakil uskup agung Bastien.
Frau berlutut di depan Maria dan memegang wajahnya "tadi kau kenapa lagi?".
Maria memalingkan wajahnya yang memerah "…cuma kurang darah, sudah biasa kok".
"biasa apanya! Entah apa yang terjadi padamu yang jatuh dari ketinggian 5 meter kalau tidak kutangkap tadi. Satu lagi, bukan hanya tidak makan dengan benar karena tak nafsu makan, kamu juga tidak bisa tidur dengan benar karena insomniamu sama sekali belum sembuh, kan?".
"i, itu… darimana…".
"darimana aku tahu? Ketahuan dari garis hitam di bawah matamu dan saat aku menggendongmu tadi, kau jauh lebih ringan dibandingkan saat terakhir kali aku menggendongmu. Aku paham, kau begini karena peristiwa ke…".
Maria spontan menutup mulut Frau sebelum Frau bicara lebih banyak dengan sorot mata tajam "jangan pernah katakan privasiku di depan orang lain, Frau-san!".
Tiba-tiba, Bastien berdehem "ehem, maaf mengganggu pembicaraan kalian tapi aku baru ingat barusan. Frau, tadi Castor memanggilmu".
"hah, gawat!".
Setelah Frau pergi, Bastien duduk di depan mereka berempat.
"namamu tadi, Maria kan? Ada yang ingin kau tanyakan tadi pada Frau, tapi karena Frau terburu-buru, kau tidak jadi mengatakannya, benar begitu?".
"iya, darimana anda bisa tahu, Bastien-sama?".
"terlihat dari tatapan matamu. Maafkanlah sikapnya tadi ya, dia hanya terlalu cemas, lalu apa yang ingin kau tanyakan?".
Maria menanyakan perihal pelaku pembunuhan Aldo yang terjadi tadi malam. Menurut Bastien, mereka akan mengadakan rapat lebih lanjut, dan dugaan sementara ini Aldo dibunuh oleh orang luar yang berpura-pura meminta pertolongan pada Aldo.
"kenapa anda bisa bilang kalau itu perbuatan orang luar?" ujar Hakuren.
Maria menoleh ke arah Hakuren "tunggu?! jadi, kamu mencurigai orang dalam?".
"aku tidak bilang begitu, kan?".
Lime menyela pembicaraan Hakuren dan Maria sambil memeluk Maria "sudah dong, jangan berantem terus".
Setelah Bastien meyakinkan mereka untuk tidak perlu khawatir sebab penjagaan akan diperketat, Maria mengelus kepala Lime yang sejak tadi memeluknya "sudah, tidak apa-apa".
Karena masih ada yang ingin ia tanyakan pada Frau, Maria bertanya pada Bastien mengenai tempat yang dituju oleh Frau. Sebelum pergi, Bastien berbisik pada Maria "Frau pasti menganggapmu istimewa sampai ia sangat peduli padamu".
"terima kasih banyak, Bastien-sama", Maria menundukkan kepala dengan anggun sebelum berlari secepatnya menuju tempat Frau berada untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
