Disclaimer : Masashi Kishimoto - sensei
Warning : AU, Semi-hurt, T* untuk bahasa dan tema yang digunakan, SasuHina.
.
.
.
Chapter 7
Mereka sempurna, harta, pangkat dan kehormatan seakan berada dalam genggaman keduanya. Namun mereka sama sekali tak tahu, semuanya hanya alur skenario yang diatur. Kehidupannya hanya sebuah pentas Opera. Dan pernikahan ini, hanya gagasan dari sebuah drama. Hinata ditarik masuk dalam kehidupan baru.
.
.
.
"Dokter sudah membawanya ke ruang bedah. Untuk sementara mungkin Arata akan berada di ruang ICU. Kondisinya semakin memburuk, diperburuk karena Arata masih seorang balita."
Sasuke melirik Hanabi yang duduk berseberangan dengannya di kantin rumah sakit. Sasuke mengambil cangkir ocha hangat di depannya untuk ia minum. Kemudian mengembalikannya lagi ke meja. Sementara itu lemon tea milik Hanabi masih utuh seperti sedia kala. Sasuke dapat memperhatikan pandangan Hanabi yang tidak fokus.
"Cih, kemana aktor terkenal itu di saat-saat seperti ini? Dia bahkan tidak menunjukkan suaranya. Terlalu sibuk dengan dunia entertain? Heh." Hanabi bergumam. Ia memegang keningnya pusing. Ayahnya sendiri belum sadarkan diri hingga sekarang, masalah Sakura juga malah membuatnya bertambah khawatir.
Sasuke hanya diam tak merespon. Tak tahu saja bagaimana hancurnya Naruto di tempat lain. Kondisi Naruto jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan Sakura di sini. Sasuke tak tega melihat sahabatnya begitu mengenaskan. Karena itu pula Sasuke menanggalkan pekerjaannya untuk datang ke Konoha.
Kembali Sasuke melirik Hanabi sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu. Hanabi yang menyadarinya langsung merespon.
"Nee-sama saat ini sedang tidak cukup baik."
Samar-samar terlihat tubuh Sasuke yang sedikit menegang. Sesaat kemudian ia mengembalikan ekspresi wajahnya seperti biasa.
Hanabi tersenyum sinis. "Aku tahu Uchiha-san oh maksudku Nii-san ingin menanyakan tentang Nee-sama bukan? Dia sepanjang waktu hanya bekerja dan bekerja. Kadang dia terlalu asik bekerja sampai melupakan dirinya sendiri. Seperti itulah Nee-samaku dari dulu tidak pernah berubah." Hanabi menjelaskan, kali ini sambil meminum lemon tea miliknya.
Sasuke bisa merasakan nada kurang suka Hanabi terhadap dirinya dari cara gadis ini bicara, seolah hendak menyindir telak bahwa Sasuke lah yang merenggut kehidupan kakaknya. Sasuke mengerti jika Hanabi tidak menyukai dirinya sebagai kakak ipar, Sasuke tidak bisa melakukan apa pun untuk membawa Hinata ke dunianya yang dulu, dunia dimana Sasuke sangat menentangnya sepanjang ia hidup.
"Bagaimana kabar Tou-sama?" Sasuke mengalihkan topik pembicaraan.
"Tou-sama belum sadarkan diri. Dari mana Nii-san tahu Tou-sama sakit?"
"Aku mendengarnya dari Sakura kemarin malam. Maaf aku belum sempat menjenguk."
"Tak masalah. Kau bisa menjenguknya bersama Nee-sama lain waktu."
Sasuke sedikit tidak percaya kalau Hyuuga Hanabi lebih komunikatif dari kelihatannya. Sangat bertolak belakang dengan Hinata yang antisosial. Hanabi tampaknya lebih terbuka dan bersahabat. Sasuke bahkan belum pernah mendengar Hinata memiliki sahabat dekat layaknya persahabatan antara Hanabi dan Sakura. Bagi Sasuke, dibandingkan Hanabi, Hinata itu sungguh sesuatu yang rumit dan juga misterius. Terlalu banyak hal yang tidak bisa dengan mudah Sasuke ketahui dari isterinya itu.
Sesaat Hanabi meminum kembali lemon tea hangat miliknya hingga habis. Ia melihat wajah Sasuke yang datar, sungguh tidak bisa ditebak jalan pemikirannya.
"Terima kasih." ungkap Hanabi kemudian. Raut wajahnya melembut. Sasuke merespon dengan mengalihkan pandangannya pada Hanabi. "Terima kasih karena telah mengizinkan Nee-sama pulang. Aku tidak tahu harus bagaimana jika saja ia tidak di sini." Meskipun sekilas nada sinis masih terdengar jelas dari kalimatnya. Namun Sasuke tak ambil pusing.
Hanabi berdiri dari duduknya. "Jika kau mau, aku bisa mngantarmu bertemu dengan Nee-sama."
.
.
.
.
"Masuklah." Hanabi mengajak Sasuke masuk kedalam kediaman Hyuuga. Beberapa maid menyambut dengan memberikan hormat pada keduanya.
Rumah Hyuuga tak kalah besar dengan rumah milik Uchiha di Suna. Juga tak kalah sunyi dan dingin. Sasuke bisa merasakan aura kesepian yang sama yang selalu dirasakannya setiap kali ia memasuki kediaman Uchiha. Suasana dimana rumah lebih sering ditinggalkan sang tuan.
Hanabi membawa Sasuke menuju ruang tengah, kemudian menaiki satu dari dua tangga rumah yang menuju ke atas. Sasuke terus mengikuti. Melewati ruangan yang sangat luas dan kemudian melalui lorong yang cukup panjang. Sampai di depan sebuah pintu, Hanabi menghentikan langkahnya.
"Masuklah. Nee-sama mungkin sudah tidur."
Sasuke mengangguk mengerti. "Aku akan kembali ke rumah sakit." Hanabi melenggang begitu saja setelah mengatakannya.
Sasuke mengetuk pintu. Beberapa saat. Tak ada yang menyahut. Ia mengetuk kembali. Namun tetap tak ada jawaban.
"Hinata, ini aku, Sasuke."
Beberapa menit lamanya Sasuke menunggu hingga ia putuskan untuk membuka pintu. Pintu kamar Hinata tak dikunci. Ia masuk. Kamar Hinata tak jauh berbeda dengan kamar Sasuke di kediaman Uchiha. Bedanya, kamar Hinata didesain khusus untuk seorang pekerja kantor sepertinya. Ada lemari kaca besar menutupi nyaris tiga perempat lebar ruangan yang di dalamnya sengaja ditaruhi beberapa benda pajangan. Sementara sebagian kecil dai ruang yang tersisa membentuk sebuah jalan menuju ruangan lain di kamar tersebut. Rupanya lemari itu adalah sebuah sekat penghalang yang menjadi pemisah antara tempat tidur dan ruang kerja. Sasuke tahu itu ruang kerja karena jelas dindingnya membentuk rak berisi ratusan buku yang di tengahnya terdapat meja kaca super besar dengan komputer dan kertas-kertas berserakan di atasnya.
Sasuke melangkah mendekat. Dilihatnya Hinata tengah lelap dengan menyandarkan kepalanya pada permukaan meja. Beberapa daun rambut Hinata jatuh menyentuh wajah putihnya. Sasuke memperhatikan, mungkin bukan kali pertama ini ia memandangi wajah tidur sang isteri, namun wajah itu selalu tampak damai. Meskipun kadang tampak garis-garis kecil dari kening Hinata yang menunjukkan kerisauan hati sang tuan.
"Kalau tidur begini nanti lehermu sakit," gumam Sasuke.
Sasuke perlahan mengangkat tubuh Hinata dari kursi. Dengan tenaganya ia bawa Hinata menuju tempat tidur yang berada di balik lemari kaca besar. Udara hangat nan segar menyambut penciuman Sasuke begitu memasuki ruangan tempat tidur. Ada foto pernikahan dirinya dan Hinata terpampang besar di dinding dan beberapa dipajang di atas meja. Hal itu sedikit membuat senang paling tidak Sasuke tidak pernah dilupakan meskipun pada kenyataannya ia berniat membawa Hinata menjauh dari dunianya dahulu.
Hinata mengerang tatkala Sasuke membaringkan tubuhnya. Dengan erat tangannya menarik Sasuke seolah suaminya adalah sebuah guling. Sasuke menelan ludah begitu sadar posisinya dengan Hinata sangat berbahaya.
"Jangan nakal Hinata. Aku harus menyembuhkan Arata dulu." Sasuke bergurau sendiri.
Hinata tetap lelap dalam tidurnya. Sasuke mencoba melepaskan cengkeraman Hinata. Sesaat sebelum dirinya bangkit, Sasuke mengecup lembut bibir Hinata, berpindah ke kedua matanya dan berakhir di keningnya.
"Tidur yang nyenyak. Kau pasti lelah seharian bekerja."
.
Rumah ini selalu terasa sepi. Selalu seperti ini setiap kali Hinata berada sendirian di kediaman besar Hyuuga. Suasana yang tak jauh berbeda dengan suasana di rumah Uchiha. Anehnya, ia yang harusnya terbiasa dengan keadaan seperti ini kenapa malah merasa tak nyaman dengan kesepian. Ia yang harusnya tak asing dengan semua ini kenapa justru tak tahan dalam situasi begini. Ia ingin keluar. Mencari keramaian. Hinata menutup laptop yang sejak tadi menjadi rekannya selama bekerja. Ruangan ini begitu besar, tapi hampa. Hinata tidak tahu kenapa ia baru menyadarinya sekarang padahal selama bertahun-tahun ia bekerja di ruangan ini. Ia menoleh pada jam besar yang terpampang menjadi hiasan dinding. Malam sudah sangat larut. Ia tak sadar telah bekerja sehari semalaman. Bahkan meski selama itu tidak satu pun anggota keluarga Hyuuga yang menunjukkan dirinya di rumah ini. Hanabi tidak lagi pulang sejak terakhir mengantar Hinata lusa malam.
Hinata menyandarkan punggung lelahnya pada sandaran kursi. Lusa adalah penentuan awal bagi Hyuuga Group dalam mengahadapi masalah yang sedang dialaminya. Untuk menarik para penanam modal dan untuk mengambil kembali kepercayaan perusahaan lain terhadap Hyuuga, lusa nanti Hinata dan Neji dituntut untuk mempresentasikan gagasan mereka dengan sangat baik. Semua itu harus Hinata lakukan demi kebangkitan perusahaan ayahnya yang kini dilanda krisis. Secara otomatis, kubu Hyuuga harus bekerja ekstra keras untuk memperoleh hasil yang maksimal.
Ingatan Hinata melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu di Kiri. Rasanya seperti mimpi ia dan Sasuke saling mengungkapkan perasaan. Hinata bahkan seperti masih merasakan manisnya bibir Sasuke. Hanya mengingatnya saja sudah membuat ia berdebar. Oh kami-sama, hal-hal semacam ini terasa tabu bagi Hinata, semua yang dialaminya bersama Sasuke adalah yang pertama kali bagi dirinya. Pipi Hinata seketika merona, ia malu sekali mengingatnya padahal tak ada siapa pun yang melihat. Sampai-sampai rasanya semalam ia memimpikan Sasuke datang padanya, dan untuk melepas rindu, Hinata menghambur pada pelukan suaminya. Terasa seperti nyata ciuman yang diberikan Sasuke di bibir dan kening Hinata. Rasanya seperti nyata. Nampaknya ia harus kembali melanjutkan pekerjaan sebelum pikirannya terbang tak karuan.
Hinata kembali membuka laptopnya. Melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat ia tanggalkan. Ah, tapi entah kenapa seperti ada sesuatu yang menggelitik perasaan Hinata. Mungkin membuat secangkir kopi bisa meredakan perasaan aneh itu.
"Aku tidak bisa konsentrasi bekerja. .." gumamnya.
Salah siapa mengingat hal-hal tidak penting saat sedang bekerja.
.
.
.
.
.
Sasuke berjalan keluar dari ruang ICU tempat Arata dirawat dalam keadaan koma. Diluar, ada Sakura yang masih tampak terkejut dengan situasi dan Hanabi yang bertugas menghibur di sampingnya. Suara derap langkah memenuhi keheningan lorong tempat kursi tunggu tersebut. Dua orang berjalan tergesa-gesa menghampiri Sakura. Mereka adalah satu pria paruh baya berambut kuning dan satu wanita paruh baya berambut merah. Dari tangan mereka penuh oleh jinjingan berbagai kantong.
"Sakura-chan?! Bagaimana keadaan Arata-kun?" serbunya panik. Ia langsung menghambur pada Sakura. Sasuke memperhatikan.
"Uzumaki-basan?" seru Sasuke.
Dua orang yang baru saja tiba tersebut langsung menoleh pada sumber suara bariton ala Uchiha yang begitu mereka kenal.
"Sasuke-kun?!" pekik si wanita yang merupakan ibu dari seorang Uzumaki Naruto.
Hanabi hanya memperhatikan heran sementara Sakura, jangankan menanggapi, gadis pink itu terlalu tenggelam dalam pemikirannya sendiri sehingga sama sekali tidak menyadari situasi di sekelilingnya. Tapi dari gaya bicara dan penampilannya saja, sudah dipastikan Hanabi menyimpulkan jika dua orang tua ini adalah orangtua Naruto, mertua Sakura. Ini pertama kalinya Hanabi melihat mereka.
"Anda baru saja tiba, tidakkah kalian beristirahat terlebih dahulu? Saya akan antarkan ke penginapan terdekat."
"Ah tidak perlu. Kami sengaja membawa banyak makanan dan pakaian karena kami berniat menginap di rumah sakit." kilah Minato beralasan.
Sasuke mengalihkan pandangan pada Kushina yang terlihat cemas melihat keadaan Sakura. Wanita berparas muda itu berusaha mendekatkan diri pada Sakura agar membuat ia lebih tenang. Minato kembali menatap Sasuke seolah meminta penjelasan mengenai seperti apa keadaan yang sedang terjadi saat ini. Sasuke yang mengerti maksud Minato langsung melangkahkan kakinya tanpa berbicara apa pun lagi ia membawa Minato bersamanya.
"Separah itukah?" tanggap Minato khawatir. Mereka duduk berdua saling berhadapan di taman dekat Rumah Sakit.
"Kita harus secepatnya mendapatkan donor hati."
Minato kembali mendesah tak karuan. Sayang sekali dirinya dan Kushina sebagai orangtua harus datang terlambat menemui Sakura. Sebenarnya Minato sudah mempersiapkan keberangkatan mereka sejak seminggu yang lalu dari Uzu. Namun penerbangan tertunda selama satu minggu karena cuaca yang buruk.
Sasuke bisa lebih leluasa menjelaskan pada Minato karena sifat Minato yang cerdas dan mampu mendengarkan dengan tenang. "Sakura awalnya sudah menawarkan agar mendonorkan hatinya," Minato sedikit menegang saat Sasuke mengucapkan kalimat tersebut. "Tapi bagaimana pun, ia adalah orang dewasa yang memiliki perbedaan dengan organ anak-anak. Lagipula kasus Sakura tidak memiliki kecocokan dengan hati anaknya."
Minato menunduk sedih. Seakan permasalahan cucunya tengah mengalami kebuntuan. Tapi ia juga harus menyadari, takdir Tuhan tidak bisa manusia ubah. Tapi paling tidak mereka harus berupaya keras untuk menyelamatkan satu nyawa balita tak berdosa yang bahkan belum mengenal baik seperti apa indahnya dunia.
"Aku tidak bisa menyalahkan siapa pun. Aku tahu teknologi kedokteran Jepang tidak kalah dari negara lain. Namun jika takdir berkata bahwa Arata harus pergi. Aku, Kushina, Sakura dan Naruto harus bisa menerimanya."
"Saya mengerti."
Di tengah perbincangan, seorang asisten dokter berlari mendekati Sasuke. Dua orang itu terperanjat dan langsung berlari menuju tempat dimana Arata dirawat. Beberapa dokter dan perawat tampak juga berlarian ke dalam ruangan. Kushina bersitegang menyaksikan hal tersebut. Pintu kaca ditutup rapat-rapat oleh perawat, alarm merah dinyalakan dan gorden ditutup. Sakura semakin terguncang. Ia nyaris saja jatuh jika tidak ada tangan Hanabi menahannya. Begitu pun Minato yang memegangi erat kedua lengan isterinya agar tak melorot ke lantai. Ia meminta Kushina untuk duduk dan menenangkan diri.
"Daijoubu... Semuanya pasti akan baik-baik saja." ucap Minato menghibur diri.
.
.
.
.
.
Salju kembali turun. Satu demi satu jatuh menyentuh permukaan mobil yang dingin. Langit pekat sewarna hitamnya waktu yang merantai kehidupan manusia. Udara menggigit setiap persendian tulang, menggigilkan keheningan malam. Pria itu menyeret langkah beratnya memasuki dinginnya lantai-lantai granit. Disambut sapaan hangat para maid yang berjaga di dalam rumah. Suara derit pelan terdengar tatkala lengan besarnya membuka pintu. Seseorang tampak lelap menyandarkan kepalanya di atas permukaan meja kerja. Pria itu terus mengambil langkah untuk mendekati sang wanita. Hingga dekat. Semakin dekat. Tangannya gemetar tak karuan ketika dengan lembut ia belai rambut indah si wanita. Hari ini begitu membuatnya lelah.
Kelopak mata Hinata perlahan terbuka. Jantungnya berdegup cepat begitu menyadari siapa yang berdiri tepat di hadapannya.
"S-Sasuke-kun?" lirihnya terlampau pelan. Berusaha mengumpulkan kesadaran.
"Gomen, aku membangunkanmu."
Hinata mengangkat kepalanya. Ini bukan mimpi. Suara itu, yang sangat ia rindukan kini terdengar dengan jelas di depannya. Ia mendongak memastikan bahwa pria di depannya bukan ilusi. Memastikan bahwa ia benar-benar suaminya yang Hinata tinggalkan di rumah, Uchiha Sasuke.
"Bagaimana Sasuke-kun bisa berada di sini?"
"Aku harus merawat anak Naruto yang sakit." Sasuke tersenyum simpul. "Kudengar Tou-samamu sudah siuman. Besok kita jenguk bersama-sama."
Hinata mengangguk. Ia hendak mengatakan sesuatu, menanyakan banyak hal. Sejak kapan Sasuke berada di Konoha? Bagaimana dengan pekerjaannya di Kiri? Semua hal yang ingin Hinata tahu. Tapi ia urung. Ia bangkit dan langsung menubruk tubuh Sasuke. Memeluknya erat. Tak dapat dipungkiri satu perasaan hangat menyeruak dari hati Hinata. Wajah dan aroma ini yang sangat dirinya rindukan, sampai mau mati rasanya jika Hinata ingat bagaimana lelahnya berjuang menyingkirkan sosok Sasuke yang selalu tiba-tiba muncul saat dirinya sedang konsentrasi bekerja.
"Sebegitu rindunya kah Nyonya Uchiha padaku?"
"Kau meninggalkan aku sendirian di kamar waktu itu." Hinata merengut kesal jika teringat hal itu. Ia tadinya berharap Sasuke bisa mengantar ia pergi ke Konoha.
"Gomen."
"Dan kenapa tidak memberi kabar apa-apa setelahnya padaku? Bahkan aku tidak tahu jika Sasuke-kun ada di Konoha."
Sasuke diam. Dia memang salah untuk hal meninggalkan dan tidak mengabari Hinata.
"Baiklah... Jadi isteriku ini marah? Gomen Hinata. Kau boleh menghukum aku." Sasuke tersenyum. "Mau apa? Aku akan melakukannya untukmu? Hn?"
"Sa-Sasuke-kun pasti lelah. A-ku akan buatkan air hangat." Masih malu-malu menanggapi candaan Sasuke, Hinata hanya menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia berusaha lepas dari pelukan dirinya sendiri, tapi Sasuke menahan agar tubuh Hinata tidak menjauh sedikit pun.
"Tetaplah seperti ini. Lebih lama lagi." Sasuke membalas pelukan Hinata. Merangkum tubuh mungil isterinya dalam dekapan penuh kasih dan perlindungan. "Aku sudah membersihkan diri sebelum tiba di sini. Aku sudah lama tidak memelukmu seperti ini."
Sasuke menjauhkan pundak Hinata. Menurunkan kepalanya untuk meraup bibir ranum sang isteri. Terasa manis seperti biasa. Ia terus memperdalam ciumannya berusaha menyingkirkan kegundahan hati setelah hari ini ia nyaris saja kehilangan nyawa Arata di meja operasi. Ia hanya tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Naruto jika semua itu terjadi. Naruto pernah memberikan kebebasan bagi hidup Sasuke, paling tidak saat ini, ia ingin menjadi berguna untuk sahabatnya. Ia ingin menyelamatkan Arata meski itu harus membuatnya kelelahan. Sasuke tak memberi ruang bagi Hinata untuk bernafas. Bukan ciuman lembut yang diberikan Sasuke seperti yang sudah-sudah. Bukan pula ciuman sekilas seperti yang terjadi di upacara pernikahan. Agresif dan penuh penekanan nafsu. Sasuke hanya ingin menyalurkan perasaan gundah dalam hatinya. Sampai pada batasnya, keduanya merasa sesak karena kehabisan oksigen, Sasuke melepaskan pagutannya.
"Apa sesuatu.. telah terjadi?" heran Hinata. Ia bisa merasakan emosi yang meledak-ledak namun tertahan dari Sasuke. Hinata bisa merasakannya.
"Aku hanya terlalu merindukanmu." dusta Sasuke.
Hinata tidak bisa memaksa jika kenyataannya Sasuke tidak mau bercerita. Yang bisa ia lakukan hanya menghibur hati Sasuke agar bisa merasa lebih tenang. "Menginaplah di sini Sasuke-kun," pinta Hinata.
"Hn," Sasuke sempat berpikir sejenak, "..Asalkan aku boleh menagih hakku kali ini." lanjutnya sambil tersenyum.
Hinata sedikit salah tingkah ketika Sasuke mengatakan syaratnya. Belum sempat Hinata menanggapi, Sasuke sudah mengangkat tubuhnya dengan mudah membawa ia menuju ke tempat tidur. Namun prasangka Hinata salah, sepertinya Sasuke tidak serius dengan kalimatnya. Pria itu hanya membaringkan Hinata kemudian membereskan tempat tidur untuk Hinata.
"Tidurlah. Kau pasti lelah seharian bekerja. Aku akan menemanimu." Sasuke menarik selimut hingga menutupi dagu Hinata agar Hinata merasa lebih hangat.
Sasuke hendak bangkit saat kemudian tangan Hinata menahannya agar tidak menjauh. Hinata meraih kemudian menarik tengkuk Sasuke dengan agresif menautkan kembali kedua bibir mereka. Sasuke kembali terbawa arus ciuman sang isteri. Ia tidak percaya Hinata rupanya bisa seberani ini. Hinata mengerang, tangannya merayap untuk mencari kancing kemeja Sasuke. Namun belum sempat ia lepaskan tautan kancing tersebut, tangan Sasuke menahan tangannya.
Sasuke melepaskan diri. "Haruskah... Kita melakukannya sekarang?" Suara Sasuke terlampau pelan nyaris menyamai bisikan.
Hinata tersenyum. Mengangguk. "Ini adalah kewajibanku."
"Tadi aku hanya bergurau."
"Aku mulai menyukaimu, Sasuke-kun. Aishiteru." ungkap Hinata.
"Kau jujur sekali Hinata."
"Kau yang mengajari aku untuk jujur." Hinata berkilah. "Tapi aku serius."
"Aku tahu."
Sasuke tersenyum. Hinata tersenyum. Salju pun turun semakin lebat. Udara menggigil tak membuat keduanya kedinginan. Udara kamar justru terasa panas dan gerah. Waktu bergerak, detik berjalan bersama irama rasa dua insan yang tengah dimabuk cinta. Hinata telah membuat keputusan besar bagi hidupnya, ia ingin hidup selamanya bersama pria ini. Membina keluarga kecil dan memiliki keturunan kemudian hidup dengan sederhana di rumah mereka. Itu adalah impian baru Hinata. Untuk satu kali ini, Hinata mempertaruhkan masa depannya pada Sasuke, ia mempercayakan kebahagiaannya pada pria Uchiha yang entah sejak kapan mulai menyusup masuk ke dalam hatinya.
.
.
.
To Be Continued
.
Author Note :
Wah.. Setelah tiga bulan dikubek sama bimbel yang asdfghjk banget haha akhirnya minggu ini selesai Ujian Praktek dan hari ini mulai UAS yay. Semangat buat saya.
Sedikit tanggapan buat review Kanayla-san :-D : Sebenernya saya sedikit menyimpulkan kalau sekiranya marga terlalu penting kadang marga istri tidak mengikuti suami di Jepang, misalnya marga Uzumaki yang dipegang oleh Kushina tidak berubah menjadi Namikaze bahkan Naruto anaknya bermarga Uzumaki. Kasus lain yaitu Uzumaki Mito yang juga tidak merubah marganya menjadi Senju. Saya pikir hal itu karena marga Uzumaki dianggap penting.
Dalam cerita ini Hyuuga dan Uchiha adalah dua keluarga bangsawan yang sama-sama punya kekuasaan dan sama-sama kuat. Saya pikir orang-orang akan lebih mengenal Hinata sebagai Hyuuga meskipun ia telah menikah dan berganti marga menjadi Uchiha. Hehe itu hanya sedikit pendapat yang subjektif. ..
Dan untuk Haekal Uchiha : Ehm sebenarnya kalo judul saya ambil dari situ, dari lagu itu karena saya suka hehe. Tapi tak satu pun unsur yang terinspirasi dari lagu itu, hanya mengambil judul karena suka saja.
Special thanks buat para reader yang log in maupun yang ngga : 6uchihyuu nagisa, dindachan06, Megami Yozora, 3Kimura Megumi, , kecoaidup2, 3Chikako Fujiki, ulvha, JojoAyuni, kumbangbimbang, keiKo-buu89, bitch, siskap906, hana37, semangart, Shiki, Shim Yeonhae, bylo, 3Clara Merisa, 5kirigaya chika, Haru3173, .5, sorry n goodbye, 4Chikako Fujiki, kensuchan, ann, virgo24, Katsumi, esuta, nn, Po chan, UName, hinatauchiha69, cika, Cahya Uchiha, re, Hikari No Aoi, hanhuw, winatabiyong, lolilo, Guest, Ajengg, Clara Merisa, re, nn, hana37, guiji, nay, Po, virgo25, kensuchan, dwi2, chipana, Ega EXOkpopers, dindachan06, Cahya Uchiha, nay, ANFaridha, kirigaya chika, Astia Morichan, Enischan, rahayup5, AprilliaSiska, Momo tomato, ucihagremory, Po mie, nn, hana37, hinatauchiha69, achan, RinZiTao, 2, lily hime, sushimakipark, Stupid Panda23, shinigami onyx, mimi1998, Po-chan, re, chan, Rini Andriani Uchiga, Mishima, , bebek kuning, Kanayla, sushimakipark, alta0sapphire, astia morichan, Cahya Uchiha, Arcan'sGirl, Jojo, semanggi, UcSaHyHi, za-chan, Chika Dragneel, TKsit, you, Haekal Uchiha, .
Pokoknya jangan kapok ngubek-ngubek biar Author nya mau lanjut... Jangan kapok ripiu...
