Kamar itu tampak hening walau ada empat eksistensi yang mengisi. Dua orang berambut merah menunggu pria berambut hijau yang menggunakan seragam dokter memecah keheningan. Satu pemuda bluenette masih terbaring tak sadarkan diri. Stetoskop dimasukannya kedalam tas saat pria berambut hijau bersuara.
"Keadaannya tak bisa dibilang baik-baik saja, Tetsuya bisa dibilang sehat dan cukup normal jika hanya dipermukaan. Tapi keadaannya sekarang ini dikarenakan tertekan, atau bisa dibilang dia mengalami depresi.
Saya tak bisa berbuat banyak tentang ini. Saat ini yang terbaik adalah jangan terlalu memberinya beban pikiran berlebihan."
"saya merasa bersalah, mungkin penyebab keadaannya sekarang karena tindakan saya." Masaomi menatap putera tirinya dengan sendu.
"Saya tahu anda hanya berusaha melakukan hal-hal yang terbaik untuk keluarga anda, Akashi-san." Midorima Shinryuu tersenyum tipis.
"Iya, apapun akan saya lakukan untuk kebahagiaan keluarga ini." Masaomi mengelus surai bluenette Tetsuya lembut.
.
.
.
Disclaimer.
KnB. Tadatoshi Fujimaki
Story by. Hyra Z
Genre: Sho-ai, yaoi, Drama, Romance, Hurt/Comfort
Rated: T
Character: [Kuroko. T, Akashi. S] Amane Shiori (OC)
WARNING::
Cerita ini mengandung unsur boys love, dan beberapa kesalahan dalam penulisan. Saya tidak menerima Flame. Saya tidak memiliki jangkauan waktu untuk kapan saya akan mengupdate cerita ini.
.
.
Precious 6
.
Tetsuya mengerang pelan saat kesadaran menariknya, rasanya kepalanya dihantam kencang. Samar dia teringat jika tadi dia jatuh pingsan saat sedang sarapan. Beban mental. Kondisi yang menjelaskan betapa seringnya dia pingsan beberapa hari belakangan.
Oh, tidak mustinya hal yang sudah dialaminya selama beberapa tahun belakang, tapi intensitasnya kini terlalu sering datang. Tekanan internal dan eksternal, pengendalian diri dan emosi yang terlalu dipaksakan, membuat tubuhnya seperti mengshut down dirinya secara otomatis.
― Sayang, tidak bisa membuatnya lupa ingatan.
"Kau sudah sadar?" suara bass familiar, Tetsuya menoleh kesamping dan menemukan Seijuurou duduk dibangku tepat di sebelah kasurnya. Tetsuya mengernyit tidak suka, salah seorang mahluk yang tidak diharapkan masuk keruang pribadinya dan kini duduk santai di teritorinya.
"Jangan menatapku seperti itu, kau kira aku suka harus menemani mu disini." Seijuurou berkata dengan nada datar. "Aku hanya disuruh menjaga mu, kaa-san sedang mengantar dokter kedepan."
Oh, ternyata ada satu orang lagi yang tidak diharapkan masuk wilayahnya.
"Tadi Seiyuna juga disini, dia menangis tanpa henti karena mengira kau mati. Kami sampai kewalahan menanganinya,"
Oke, ternyata ada tiga orang yang masuk ke kamarnya...
"− jadi otou-sama membawanya keluar untuk jalan-jalan."
…Ah, tenyata empat.
Tetsuya diam menunggu, mungkin saja ada mahluk kelima yang tidak diinginkan masuk ke kamarnya, tapi Seijuurou tidak mengatakan apa-apa lagi. Lagipula ada berapa orang yang tak diharapkannya masuk ke kamarnya didalam rumah ini? Semuanya baru saja masuk ke wilayah pribadinya karena pingsan konyol itu.
Seijuurou bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar tanpa berbasa-basi sama sekali. Apa yang diharapkan dari interaksi mereka yang selalu dingin, perginya Seijuurou dari kamarnya sudah mengatakan kalau keberadaannya di sana sudah tidak dibutuhkan, atau begitu menurut kesimpulan dari pemikiran Tetsuya.
Tak berapa lama pintu kamarnya kembali terbuka, seorang wanita bersurai bluenette terpaku di depan pintu menunggu ucapan mengajak masuk dari bibir Tetsuya. Pemuda bermata aquamarine itu hanya membuang muka, untuk apa izinnya jika beberapa waktu yang lalu mereka sudah masuk begitu saja. Langkah ragu mendekatinya, Tetsuya masih menatap jendela.
"Tetsuya, apa kau sudah merasa lebih baik? Dokter bilang kau terlalu banyak pikiran. Jangan terlalu memposir diri untuk tugas sekolah, kesehatan mu lebih utama."
Suara wanita yang diabaikannya menyapa telinga, ada perasaan rindu dan takut dalam diri Tetsuya setiap mendengarnya. Tak di palingkan wajahnya untuk menatap mata yang sama dengan miliknya. Kepedulian itu nyata. Tetsuya bisa merasakan, tapi itu tak bisa menyentuh hatinya.
"Apa kau ingin makan? Ini sudah waktunya makan siang." Tetsuna kembali bertanya, dan kembali di abaikan.
"Lebih baik Kaa-san meminta Riko membawa makanan mu kemari, agar kau bisa kembali beristirahat ya." Tetsuna tersenyum sendu sebelum keluar dari kamar Tetsuya.
Tetsuya menghela nafas, menekukan lututnya dan menopang dagu diatasnya. Sorot matanya hampa dan bulir-bulir air mata mengalir membasahi pipi pucat tersebut. Dia lelah, sangat lelah. Dia ingin bahagia, mengerti arti dari kata bahagia. Tapi masa lalunya tak pernah membiarkannya pergi dari kenangan akan rasa sakit tersebut. Dan sekarang mereka menggalinya, menggali sesuatu yang ia kubur.
Dia tak sekuat itu untuk menimbun setiap hal yang keluarga Akashi cari.
Ingin mati rasanya Tetsuya, mungkin saatnya dia yang menguburkan dirinya sendiri. Tapi sekali lagi dia tak bisa, bukan dia takut akan kematian itu. Tetsuya berusaha meyakinkan dirinya, dia tak selemah itu hingga memilih kematian sebagai penyelesaian. Jauh di dasar hatinya Tetsuya berharap. Entah berharap apa, dia pun tak tahu.
Apakah dia kini harus pasrah saja ya. Dia tak ingin melibatkan setiap orang cukup jauh kedalam masa lalunya. Hanya teman dekatnya saja yang cukup banyak tahu tentang dirinya, dan dia tak ingin ada yang tahu lagi. Dia merangkum kisah hidupnya seperti kisah Cinderella kepada yang lain dan menutupi hal menjijikan yang menodai setiap tubuhnya.
Ya, mungkin lebih baik saat ini dia membiarkan keluarga Akashi menggali setiap hal yang bisa mereka temukan. Mereka hanya akan menemukan kisah anak kecil yang malang saja…
Bukan Kuroko Tetsuya si boneka dildo tusuk mainan kesukaan Kuroko Ringo.
Walau Tetsuya masih suka menusuk-nusuk dirinya sendiri untuk merasakan sakit, dan untuk menyadarkan dirinya. Dia itu menjijikan. Tak pantas untuk mencintai Akashi Seijuurou. Tetsuya tahu diri, saat merasakan denyutan rasa sakit pertama kali di kediaman Akashi. Di rumah kaca itu, Akashi Seijuurou bukan untuknya.
Dia tak layak untuk Akashi Seijuurou…
.
oOo oOo
.
Seijuurou memasukan smartphonenya kedalam kantung kemejanya saat pintu ruang kerja sang ayah terbuka. Menampilkan sosok yang serupa dirinya, tapi lebih tua berjalan menuju sofa tunggal didepannya.
"Aku menyuruh Ketagora untuk tinggal di hotel sementara waktu ini." Masaomi membuka percakapan. "Kerabat Tetsuna yang merawat Tetsuya sudah meninggal dunia, tapi Kategora belum menyelidiki lebih jauh kapan wanita itu meninggal."
"Ayah ingin meminta ku untuk menyelidiki kapan kematian wanita itu?" Seijuurou menatap ayahnya dengan datar.
"Semua tentang wanita itu, Seijuurou. Semua. Dan kali ini kau harus licin dan transparan. Ayah tak ingin penyelidikan ini mempengaruhi Tetsuya."
"Ayah mengatakannya seakan hal itu akan mudah saja." Seijuurou mendengus sebal. "Akan kuusahakan sebaik keinginan mu, otou-sama."
"Ayah merasa bersalah kepada Tetsuna. Melihat foto kamar Tetsuya di rumah itu… banyak cerita yang bisa digambarkan dari ruangan tersebut." Masaomi mengusap wajahnya kasar.
"Jika reaksi Ayah saja seperti ini, apalagi Ibu. Dia pasti orang yang akan menyalahkan dirinya lebih parah."
"Tetsuna belum boleh mengetahui hal ini. Belum sampai ayah bisa memutuskan yang terbaik. Dengan kondisi Tetsuya yang seperti ini saat kita menyelidiki kehidupan masa lalunya, ayah merasa ada hal yang lebih buruk lagi."
"Ayah, lebih baik jangan terlalu memikirkan hal yang bahkan entah apa itu. Aku akan menyuruh Nijimura untuk penyelidikan kali ini. Dia itu kenalan ku yang paling ku percaya." Seijuurou berdiri dan keluar dari ruang kerja ayahnya.
.
oOo oOo
.
Kise dan Takao melotot kesal pada Kagami. Himuro hanya menggeleng pasrah melihat adik tirinya di sidang oleh kedua sahabatnya.
"Ini karena para penjaga villa Kagamicchi tidak becus ssu!"
"Tetsuya tidak masuk sekolah hari ini, kata Sensei dia sakit. Kalo Aida-san tidak kabur, pasti Tetsuya tidak sakit." Takao menunjuk-nunjuk Kagami dengan emosi.
"Uh, maaf." Kagami hanya menggaruk kepalanya. Toh, mau bagaimanapun dia membela diri kenyataannya memang Aida Ketagora sudah berhasil meloloskan diri karena ketidak becusan pekerjanya.
"Meminta maaflah pada Tetsuyacchi ssu!" Kise mendecak sebal. "Padahal Hanamiyacchi sudah meminjam―"
"mencuri." Potong Himuro.
"…diam-diam senjata dari Kiyoshi untuk bisa bawa Aida-san kesini. Padahal aksi Kirisaki dan Sakuraicchi kemarin udah keren ssu! Sia-sia sudah."
"Seto-san sudah merekam adegan mereka kemarin kok. Jadi kurasa tidak akan sia-sia." Ujar Kagami pelan.
"YA! BAKAGAMI!" Teriak Kise kesal.
"Sudah… sudah… Kise, mau kau omelin Kagami pun sekarang tak guna. Lebih baik kita pergi menjenguk Tetsuya." Ujar Takao.
"Ayo ssu!" Seru Kise semangat. "dan kau, Kagami renungkanlah kesalahan mu."
Kise, Takao dan Himuro keluar dari kediaman Kagami menuju mobil Takao. Butuh waktu empat puluh menit hingga mereka sampai di kediaman Akashi. Mereka disambut beberapa pelayan, wajah mereka sudah tak asing hingga dibiarkan masuk begitu saja. Langkah Kise terhenti saat melihat para Devil's berada di aula tengah mansion yang memiliki tangga bercabang dua untuk menuju ke kamar Tetsuya.
"Daikicchi!" teriak Kise, melihat sosok kekasihnya sedang bersandar di sofa. Bermalas-malasan sambil mengganti-ganti channel tv, mencari acara yang menarik.
Aomine menoleh kesamping, tersenyum saat melihat kekasihnya yang manis masih mengenakan seragam. Kise baru ingin melangkah ke sang navy sebelum tangannya ditahan.
"Eits… tidak ada peluk-pelukan, dan mesra-mesraan segala. Kita mau menjenguk Tetsuya. Inget, bukan nganterin kamu pacaran disini." Dumel Takao.
"Ih, Kazunaricchi… Cuma peluk sebentar aja ssu."
"Enggak, gak ada itu. Tetsuya lagi butuh kita." Takao menyeret Kise. Kise pasrah diseret pergi Takao menuju tangga sambil memberi ciuman jarak jauh pada kekeasihnya. Aomine hanya terkekeh melihat tingkah menggemaskan si pirang.
Pintu kamar Tetsuya diketuk perlahan, sebelum dibuka. Kise, Takao dan Himuro melangkah masuk. Tetsuya tampaknya tak menyadari kehadiran mereka karena telinganya mengenakan headset.
"Tetsuya." Panggil Himuro sambil melepas headset dari telinga sang bluenette. Tetsuya menatap ketiga temannya dengan pandangan lelah.
"Kurokocchi!" Terjang Kise memeluk Tetsuya erat. "Aku sudah memarahi Bakagami itu ssu. Jadi Tetsuya jangan sakit lagi…"
"ha'i, Kise-kun. Besok juga aku sudah bisa masuk ke sekolah."
"Tapi besok minggu ssu." Kise melepas pelukannya pada Tetsuya.
"Kau pernah ditusuk cutter, Kise-kun." Ujar Tetsuya datar.
"heh?! Eh! Salah ku apa ssu?! Tetsuyacchi hidoi!" Jerit Kise sebelum kepalanya dipukul oleh Takao.
"salah ku apa ssu?!" Kise mengelus kepalanya tak terima.
"Salah mu itu kau berisik sekali, Kise." Ujar Himuro sambil tersenyum manis.
"Heh?! Hidoi ssu!" Kise berdiri dari duduknya, lalu keluar dari kamar Tetsuya. "Daikicchi!"
Takao mengurut pelipisnya pelan melihat tingkah teman pirangnya. "Dasar, paling dia hanya mencari alasan agar bisa bermesraan dengan Aomine saja."
"Aomine-san ada disini?" tanya Tetsuya.
"Midorima dan Murasakibara juga ada." Jawab Himuro.
"Kau tak mengganggu, Midorima-san?" tanya Tetsuya ke Takao.
"Aku kemari untuk melihat keadaan mu, Tetsuya."
"Aku baik-baik saja."
"Yeah, baik-baik saja hingga bisa jatuh pingsan." Ujar sebuah suara dari arah pintu. Sosok bersurai merah memasuki kamar itu tanpa meminta izin.
"Errr… Kurasa aku dan Takao akan menunggu dibawah."Ujar Himuro. Tetsuya mengangguk pelan.
"Aku akan menyusul nanti." Ujar Tetsuya sambil menatap datar Seijuurou.
Pintu kamar itu tertutup, meninggalkan Seijuurou dan Tetsuya dalam keheningan. Tak ada yang bersuara, hanya suara langkah kaki Seijuurou yang mendekati Tetsuya.
"Aku membawakan air dan vitamin yang harus kau minum." Suara Seijuurou memecah keheningan saat dia sudah berdiri disamping ranjang Tetsuya.
Tangan Seijuurou terulur, menyentuh kening Tetsuya dengan telapak tangan. Tindakan Seijuurou yang tak biasa membuat muka Tetsuya merah padam. Dengan cepat ditepis tangan sang scarlet sebelum merah dimukanya merambat hingga telinga.
"A-apa yang kau lakukan?!"
"Memeriksa apa kau demam saja. Kau tidak demam, tapi wajah mu merah padam." Ujar Seijuurou tak acuh.
"Keluar kau dari kamar ku!" bentak Tetsuya kesal, sambil melempar bantalnya kearah Seijuurou yang langsung dihindari pemuda itu.
Mengangkat bahunya tak peduli, Seijuurou keluar dari kamar Tetsuya dan menutup pintunya. Tak lama terdengar jeritan kesal Tetsuya, dan Akashi Seijuurou yang masih berdiri didepan pintu terkekeh pelan. senang rasanya sekali-kali menggoda si muka datar.
.
.
oOOo
.
Puas berteriak kesal, Tetsuya merengut sebal menatap semua bantalnya yang sudah jatuh dan berserakan kemana-mana karena dia lempar. Biarlah nanti juga ada pelayan yang merapihkannya. Tetsuya meminum vitaminnya dan turun dari ranjang, menatap sekilas pantulan dirinya sebelum keluar dari kamar dan menuju lantai bawah.
Saat sampai dibawah Tetsuya menyadari bukan saja ada para Devil's dan sahabatnya, tapi disitu juga ada Ogiwara berserta Amane. Huh, apakah hari ini semua orang berkonspirasi membuat moodnya makin down. Tetsuya enggan, tapi memaksakan kakinya melangkah kearah para sahabatnya.
"Tsuya." Panggil Takao saat menyadari kehadiran pemuda bluenette tersebut. Menyeret Tetsuya untuk duduk disofa panjang yang ditempati para Angels
"Hay, Tetsuya." Sapa Ogiwara, tersenyum lebar, "Tak ku kira kau bisa sakit juga."
"Aku ini masih manusia, Ogiwara-kun." Datar Tetsuya.
"Domo, Akashi-san. Ano.. ini untuk Akashi-san." Ujar Amane sambil menyodorkan sekeranjang buah apel.
Tetsuya membeku. Enggan menerima pemberian Amane. Ditambah itu adalah sekeranjang apel, bukannya Tetsuya membenci buah apel. Tapi buah apel (Ringo) yang diberikan langsung oleh Amane Shiori seakan mengejeknya. Amane Shiori memberikan Ringo. Kehadiran Amane Shiori mengantarkan pertemuannya dengan Kuroko Ringo. Ingin Tetsuya tertawa histeris sekarang. Dirinya sedang kacau sekarang, dan pikirannya yang berdialog tak membantu sama sekali.
"Terima kasih, Amane-san." Ujar Himuro, mengambil keranjang tersebut dan menyerahkannya pada salah satu maid. Menyadari kediaman Tetsuya terlalu lama, Takao mengguncang pelan tubuh mungil tersebut. Tak ada respon.
"Tetsuya." Guncangan yang lebih keras. Tetsuya mengerjapkan matanya, menghilangkan sorot hampa tersebut dari manik aquamarine itu.
"Maaf." ujar Tetsuya pelan.
"Jika kau masih lelah lebih baik kembali istirahat di kamar saja." Kata Himuro lembut.
"Tidak apa. Aku hanya melamun tadi."
"Siapa yang melamun?" ujar suara feminim tiba-tiba, lalu sosok bersurai sakura muncul. "Daiki kau melamun jorok ya."
"Siapa yang kau bilang melamun jorok Satsuki! Dan juga bukan aku yang melamun." Berang si tan. Perempuan bersurai pink itu tiba-tiba muncul dan menuduhnya tak jelas. "Dan kau ngapain kesini?"
"heh, kalian tega sekali! Sudah ku bilang jangan tinggalin aku, aku juga ingin ikut menjenguk Tetsuya tahu. Teman macam apa kalian!" kesal Momoi kepada Aomine, Murasakibara, dan Midorima.
"habis Momochin lama. Minecchin juga bilang Momochin sedang memasak sesuatu yang mencurigakan, jadi lebih baik kami pergi saja." Ujar Murasakibara polos.
"Aku bukan memasak sesuatu yang mencurigakan! Aku sedang membuat bubur untuk Tetsuya tahu." Tetsuya memucat di tempat saat mendengarnya.
"Lalu dimana bubur buatan mu itu Satsuki. Serahkan benda berbahaya itu pada ku, aku akan menghancurkannya. Tetsuya memang sakit, tapi bukan berarti dia ingin cepat ke akhirat." Ujar Seijuurou tak berperasaan.
"Kau jahat sekali, Akashi." Momoi cemberut. "Tak ku bawa, saat aku ingin keluar Otou-san menahan ku dan menyuruh menyerahkan keranjang makanan itu."
"Aku berterima kasih pada ayah Momoi-san kalo begitu." Ujar Tetsuya lega.
"Yaa! Kalian tega sekali!" Teriak Momoi sebal. Lalu semua disana tertawa geli. Tetsuya tersenyum tipis.
Lantunan lagu The wold's end milik Horie Yui mengalun di sela tawa mereka. Amane masih dengan senyum geli mengambil smartphone nya yang masih berbunyi, seketika wajahnya pias lalu merejected panggilan masuk tersebut.
.
oOo oOo
.
Ogiwara melirik Amane yang lebih banyak diam. Perlahan Ogiwara menggenggam jemari Amane. "Kau tak apa? Wajah mu terlihat pucat."
"Ah, aku baik-baik saja Ogiwara-kun."
"Yakin?"
Amane mengangguk sembari tersenyum tipis, berusaha meyakinkan Ogiwara. Tak berselang lama smartphonenya bergetar, jemari Amane meremas smartphonenya usai dia membaca sebuah pesan.
"Kau yakin, kau baik-baik saja? Jika ada masalah ceritalah. Walau kita belum kenal terlalu lama, tapi kita ini berteman kan." Ogiwara bertanya sekali lagi. Dia khawatir dengan perubahan raut wajah gadis itu saat membaca sesuatu di smartphonenya.
"Aku tidak ingin merepotkan dan membuatmu khawatir."
"Kita ini teman, jadi tidak apa-apa jika merepotkan satu sama lain itu hal yang wajar. Dan jika kau tak bercerita justru aku makin khawatir."
"Sebenarnya beberapa hari ini ada seseorang yang mengirimkan ku pesan, terkadang juga menelephone ke rumah atau handpone ku dengan nomor pribadi. Jika telephone yang terdengar sebuah lagu London bridge dengan suara anak kecil yang terdengar menakutkan, biasanya panggilan dari telephone rumah berdering jika hanya ada aku serta adikku di rumah sedang di handpone saat aku sedang di luar rumah atau tengah malam. Seolah sang peneror tahu sedang berada dimana aku.
Jika pesan isinya berbeda-beda, aku yakin dari orang yang sama karena di tiap pesan dia selalu menyisipkan kata 'My Fair Lady', seperti penggalan lirik lagu London bridge ditambah jarak waktu pesan dan telephone hanya beberapa jam saja."
"Apakah boleh aku melihat isi pesan tersebut?"
Amane mengulurkan smarthponenya ke Ogiwara, dilayar smartphone terbuka sebuah pesan yang baru masuk beberapa menit yang lalu.
.
E-mail: DAngrevenge google. com
Subject: -
Dear My Fair Lady,
Sudah sampai berapa banyak nyawa dibawah jembatan London agar dia tetap kokoh menopang nyawa diatas jembatan tersebut?
#Sang pencari kebebasan
.
"Apa aku boleh membaca pesan yang lainnya?" tanya Ogiwara
"Tentu saja."
.
E-mail: DAngrevenge google. com
Subject: -
Dear My Fair Lady,
Jangan menangis, jangan menangis. Kau takkan jatuh, takkan jatuh. Tapi jembatan akan runtuh! Fair lady, Fair lady kau harus jatuh, harus jatuh. Agar jembatan tak runtuh.
#Nebula tak bernama
.
E-mail: DAngrevenge google. com
Subject: -
Fair Lady,
Pagi itu berkabut, kau secara tidak langsung mengetuk pintu. Mata ini masih mengantuk, tapi riuh disekitar membawa kesadaran. Kau mengambil, tanpa niat mengembalikan.
#Tak Berwarna
.
E-mail: DAngrevenge google. com
Subject: -
Dear My Fair Lady,
Kau mekarkan bunga ditanah tak bernama, menyiramnya dengan tetesan yang kau sebut cinta.
Kau tak tahu apa yang membuatmu terpikat saat mata mu jauh menerawang kedalam Eden. Sosok sang Adam atau Lucifer.
Kau tak tahu sampai bunga bermekar indah dan kelopaknya terbang jauh tersapu angin, meninggalkan tanah yang telah kau beri nama.
#Di tanah tandus
.
.
E-mail: DAngrevenge google. com
Subject: -
Dear My Fair Lady,
Tes…
Itu bukan bunyi tetesan, hanya uci coba.
Tes…
Kalo kali ini beneran suara tetesan.
Kau tak penasaran suara tetesan apa?
Ups, itu tetesan darah ternyata. Hahahahha…
#Tak semanis coklat
.
"Kya! Ogiwara-kun jadi kekasih possessive, periksa-periksa handpone Amane-chan~" teriak Momoi heboh. Membuat Ogiwara teralihkan dari kegiatannya membaca pesan, begitupula semua yang ada disitu jadi memperhatikan dirinya.
"Eh, bu-bukan!" elak Ogiwara. "Aku hanya membaca pesan yang sedang meneror Amane saja."
"Apa? Amane di terror! Kenapa kau tak cerita pada kami? Biar ku beri pelajaran orang yang berani mengganggu sahabat sealiran dengan ku ini." Maki Momoi
"Aku tidak apa-apa kok." Amane menepuk pundak Momoi, menenangkan.
"Tapi bisa saja orang itu akan makin kelewatan. Lebih baik dicegah dari sekarang dengan mencari tahu pelakunya."
"Benar apa yang dikatakan Satsuki. Sebelumnya boleh aku juga melihat pesan tersebut?" Ujar Seijuurou.
Ogiwara memberikan smartphone Amane yang tadi dipegangnya kepada Seijuurou, sedikit tidak ikhlas sebenarnya. Bisa-bisa Seijuurou yang akan jadi pahlawannya jika sampai pemuda bersurai scarlet itu mencari tahu sang peneror dan menemukannya. Lalu Amane jadi jatuh hati kepada sang Akashi! Tidak, Ogiwara takkan membiarkannya. Pokoknya tidak boleh!
"Kurasa ini bukan ancaman, tapi lebih terlihat seperti gangguan. Orang yang mengirimi pesan-pesan ini hanya ingin membuatmu resah, walau memang kita tidak tahu apa tujuannya sebenarnya. Tapi memang lebih baik kita mencari tahu orang ini, dan membuatnya berkata apa tujuannya." Ujar Seijuurou.
"Tapi bagaimana kita bisa mencari orang yang bahkan ada di dunia maya?" tanya Amane.
"Tenang saja, Amane-chan. Akashi-kun memiliki kenalan yang bisa membantu untuk hal tersebut."
"Benarkah? Terima kasih Aka-Seijuurou-san, Momoi-chan."
Ogiwara menatap Seijuurou tidak suka, apa ini yang namanya saingan cinta? Batin Ogiwara kesal. Ditambah lagi dia mendengar Kise berkata pada Tetsuya bahwa bukan hal wajar Seijuurou memberikan bantuan pada Amane. Menyebalkan!
oOo oOo
.
From. Langit tak berwarna
Kau dengarkan mereka ingin mencari jejak e-mail tersebut. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.
Ps. Jangan terlalu banyak makan manis saat kau melakukan tugasmu.
Pss. Aku baru membaca ulang e-mail yang kita kirimkan, pesan mu itu bukan terinspirasi dari tindakanku di rumah kaca kan?
.
From. Tak semanis coklat
Tenang saja aku akan mengatasinya~
Ps. Aku tak bisa bekerja dengan baik tanpa benda manis tersebut, kau tahu itu.
Pss. Are, entahlah~
.
"Tidak biasanya kau membantu orang lain Akashi, dan meminta bantuanku pula." Ujar Mayuzumi.
"Aku merasa ini langkah yang tepat saja."
"langkah yang tepat apa~ Untuk dekat dengan gadis bernama Amane itu?" ejek Mayuzumi.
"Tidak, aku tidak memiliki minat seperti itu."
"hoh, lalu maksud kebaikan mu ini apa?"
"Aku hanya memiliki intuisi saja kalo ini akan terhubung dengan sesuatu. Jadi bagaimana Chihiro?" tanya pemuda bersurai scarlet kepada pemuda berambut kelabu dihadapannya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Maaf, Akashi. Aku tak bisa membantu. E-mail itu sudah di non aktifkan dan jejaknya sudah dihilangkan, aku tak bisa menelusuri darimana pesan-pesan itu di kirimkan. Ada seorang hacker lain yang terlibat dan menghalangiku. Pekerjaannya cukup bersih, aku kalah start. Bahkan dia sempat menyerang ku, dia cukup mengganggu belakangan ini. Kemampuannya pun sedikit lebih baik dari ku."
"mengganggu belakangan ini?" ulang Akashi
"Iya, dia orang yang sama yang mengganggu pekerjaanku saat mencari hal berkaitan dengan catatan kematian orang yang mengasuh Tetsuya. Makanya aku menyarankanmu meminta tolong langsung pada Nijimura-san melewati jalur dalam. Kurasa intuisi mu itu tepat, dan mengerikan."
"Hn, menarik sekali bukan." Seringai Akashi. "lalu bagaimana tentang penculikan Kategora-san. Bagaimana mereka bisa mengetahui informasi kedatangan kembalinya?"
"Menurut informasi dari Momoi, bandara Haneda bekerjasama dengan Perusahan keamanan swasta milik Kiyoshi Teppei. Kiyoshi Teppei sendiri merupakan kekasih dari Hanamiya Makoto, orang yang ditemui oleh Tetsuya di Rose Eden."
"Jadi Kiyoshi Teppei itu tidak bersikap professional?"
"Aku rasa tidak, Kiyoshi bukanlah pengusaha yang mencampurkan urusan pribadinya. Saat aku meretas sistem perusahannya dengan susah payah, aku mendapati backdoor di sana tampaknya hal itu belum diketahui oleh pihak perusahaan."
"Bagaimana bisa?"
"Perusahaan Kiyoshi itu baru mencakup perusahaan penyedia jasa keamanan, belum merambah hingga ke pengawasan sistem keamanan. Dilihat dari hal ini tampaknya Perusahaan itu memang belum memiliki pengawasan sistem yang baik, walau Perusahaan itu memiliki ancang-ancang untuk bergerak di bidang tersebut.
Bisa jadi Chocolates ini bekerja di Perusahaan Kiyoshi, atau Hanamiya sendiri mengenal Chocolates secara pribadi dan bekerjasama dengannya."
"Chocolates?"
"Oh, backdoor yang kutemui di sistem Perusahaan Kiyoshi itu milik Chocolates. Dia menyembunyikannya dengan baik, tapi aku ini kan memang jenius jadi tentu saja aku bisa menemukannya."
Dan darimana kau mengetahui itu Chocolates,huh."
"Aku diserangnya saat ingin menelusuri backdoor tersebut untuk mencari asalnya. Satu laptop ku ngehang dan terus menampilkan gambar topeng setengah wajah berwarna emas. Itu lambang identitas Chocolates, saat dia berhasil meretas atau melumpuhkan sistem."
"Kalian para hacker memang suka pamer ya."
"Kau tahu kenapa dia memakai nama, Chocolates. Apa mungkin hacker itu adalah seorang gadis mungil imut, dengan rambut pirang berkuncir twins tail, yang mengemut lollipop dengan bibir mungil merahnya saat di depan layar." Mayuzumi mengulas senyum yang dianggap Akashi adalah senyum mesum.
"Atau dia adalah laki-laki obesitas pencinta makanan manis. Oh, atau dia adalah Atsushi versi lain yang pintar meng hack." Ujar Seijuurou.
"Uhk, kau menghilangkan bayangan indahku Akashi." Mayuzumi langsung tertunduk pucat. "Jika laki-laki pun kuharap dia lelaki yang manis, setidaknya."
"Semoga kau tak kecewa jika berhasil menemuinya langsung. Dan Mayuzumi hubungi Reo dan Kotaro untuk mengawasi pergerakan Hanamiya, dan mencatat siapa saja yang dia temui dalam dua puluh empat jam. Suruh mereka focus dan bukan berpacaran walau aku mempekerjakan mereka di satu tempat.
Lalu suruh Eikichi melamar bekerja di perusahaan Kiyoshi, proses penerimaannya tolong kau urus jika bisa ditangani secara online." Ujar Akashi sebelum keluar dari ruangan meninggalkan Mayuzumi yang menekuk wajahnya sebal.
'Kapan dia bisa istirahat sejenak dan membaca novelnya hingga tamat?!'
.
oOo oOo
.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Himuro pada pemuda didepannya.
"Tenang saja, sudah beres~" ujar pemuda didepan Himuro sambil menggigit coklat batang yang dipegangnya.
"Kalo sudah selesai berhentilah makan-makanan manis, kau bisa terkena gula atau obesitas."
"Aku senang Tatsuya perhatian padaku, tapi aku ini bukan baby Atsushi mu~"
"Aku melarangmu memakan coklat karena kau harus mengendalikan sifat asli mu, atau kau akan mengacau."
"Tidak akan~ tidak akan~ aku janji. Aku takkan mengacaukan semua ini setelah sejauh ini kok."
"Iya, atau aku akan membakar semua koleksi foto pemuda yang kau untit itu."
"Jangan! Kau tak tahu betapa aku harus mencinta dalam diam demi mengemban tugas ini. Peranku disini ini yang paling susah tahu, kalian tega ya."
"Bersabarlah, Chocolates. Kau kartu joker kami, kartu dua wajah kami. Identitasmu lah yang paling kami jaga, bahkan kita sekarang harus bertemu diam-diam." Ujar Himuro menenangkan pemuda manis dihadapannya.
"Kalo begitu aku pulang dulu." Himuro berdiri dari duduknya. "Kau lebih baik pulang besok pagi saja, aku sudah menyewa kamar ini untuk satu malam. Besok keluarlah lewat pintu belakang menuju gang. Haizaki yang akan menjemputmu menggunakan motor."
"hoh, bukankah Aniki ingin kembali ke London?"
"Iya, besok sore Haizaki akan ke London. Kalo begitu sampai berjumpa lagi, Chocholates." Pamit Himuro, meninggalkan pemuda dengan kode name Chocolates itu yang kini berguling-guling bosan.
Hah, dia ingin makanan manis lainnya, sepertinya meminta layanan hotel untuk mengisi perutnya dengan kue-kue tidak buruk juga. Sambil menunggu kue-kuenya datang dia ingin menatap gambar wajah si Invisibe, hacker yang berusaha menyerangnya lewat backdoor yang dia pasang di komputer ruangan Kiyoshi.
"Chihiro-san memang hebat berhasil membuatku harus bersusah payah dan menyerangnya dengan virus cinta. Aaaa~ sekarang tandaku akan terukir selamanya di layar milik Chihiro, tanda cinta." pemuda itu lalu mengecup foto Chihiro sebelum menyimpannya kembali. Tak lamaterdengar suara ketukan pintu.
"Nah, sekarang waktunya makan~"
.
I'm thinking of nothing but you,
To the point I can't see anything else
I'm gonna win your heart, now matter what (I swear it!)
The days I wasn't cool are long gone
I've made every effort possible,
And (I'm sure) I've grown out of asking for too much!
The confidence to move forward (springs forth),
But once I'd just gotten warmed up...
I get knocked down like this every time;
Your oppressive, serious voice comes stabbing at me!
I gave form to my feelings thousands... tens of thousands of times,
Driving them in, tossing them through... but all you do is run away!
QUESTION QUESTION: What,
QUESTION QUESTION: On Earth,
QUESTION QUESTION: Did I even know...
about you?
QUESTION QUESTION: Why,
QUESTION QUESTION: Do you feel,
QUESTION QUESTION: So close...
Yet so far?
You're the only one I want to always accept me;
I want to be special to you alone
I refine my best aspects, for a full power (appeal).
My rivals have been increasing lately -
Snipers aiming for a surprise attack;
Someone's going to end up taking you away from me!
Once again, amid my (delusions), anxiety (recklessness)
Just when I was starting to get depressed...
[Question]
To be Continued
.
AN. Uhk, ini pengetikan yang termasuk lama. Oke paling lama sejauh ini, sejak mulai republish malah /meringis/. Beberapa kali mengetik, lalu hapus semua.. ketik lagi, gak puas gak ada feel, hapus. Terlalu rumit, revensi kurang, hapus ganti problemnya. Dan ini hasil pengetikan yang lumayan menurutku walau masih berasa gak sreg, mungkin ini bukan chapter terbaik dibanding chap yang lain. Yeah, ini masih banyak kurangnya, bahkan revensinya juga masih kurang. Beberapa kali kena WB. Tapi ini yang terbaik yang bisa Zy ketik saat ini, well semoga berkenan~
Ps. ada yang mau memberi revensi tambahan seperti mengenai hal bidang IT dan seputar hacker? Atau juga ada yang bisa memberi masukan di psikologi juga?
Oh, mengenai pasangan ReoKotaro jangan terlalu dipikirkan ya~ mungkin ada yang suka NebuyaReo, tapi yha… aku rasa Nebuya itu lebih mirip cowok lurus mesum macam om-om yang suka melakukan pelecehan di kereta /seberapa nista Nebuya dalam bayanganmu nak/
Di sisi lain aku lagi ke doktrin sama seme yang sedikit lembut, tapi saat sisi sejatinya keluar dan hanya didepan pasangannya dia bisa jadi seorang seme sejati. Dan ukenya ya, aku sukanya yang macam Kotaro gitu, ceria dan bawel kesannya tapi manis bikin lumer~
Aku jatuh hati sama Kotaro pas dia senyum, kok manis banget sih~ perasaan aku doang, atau Kotaro itu berasa tipe cowok yang punya gigi gingsul jadi kalo senyum manis sekali :*
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^^
