6

Pion

.

.

.

"Ada sesuatu di ponselmu?" Sehun yang ada di balik kemudi bertanya pada Luhan yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Ini masih pagi dan Shia masih sibuk dengan kunyahan potongan buah dalam kotak bekal; mereka bertiga seakan membuat perjanjian untuk sama-sama terlambat bangun.

Luhan menggeleng. "Kemarin lusa aku mendapat banyak panggilan tak terjawab dari Nyonya Kim Na Young, saat aku balik menghubunginya dia tidak menjawab dan aku masih kepikiran sampai sekarang."

"Kim Na Young-ssi?" Kening Sehun berkerut mendengar nama itu, mobil berbelok memasuki jalan di mana sekolah Shia berada.

Luhan mengangguk. "Ibu dari Kim Na Ra, sahabat Shia yang memintaku membuat sesuatu untuk ulang tahunnya; kau ingat?"

Sejenak Sehun merasa santai. "Ah, saat kau masih sangat judes denganku itu?"

"Sehun." Luhan memicing dan Sehun mengulum senyum.

"Aku senang," Sehun melempar pandangan ke depan. "aku bisa berbagi banyak hal denganmu juga Shia sekarang."

Luhan mendapatkan semu pada tulang wajahnya dan ia memalingkan wajah. Sehun hanya diam dengan senyum kecil.

Mobil itu berhenti.

Luhan turun untuk membuka pintu belakang, menggendong Shia sampai gerbang depan dan memberi kecupan sayang. Luhan baru akan membuka suara sampai Sehun lebih dulu menyela.

"Baik-baik di sekolah, jangan belajar terlalu keras dan gunakan waktu istirahat Shia dengan baik, oke? Tidak boleh bertengkar dengan teman-teman dan jika ada anak lain yang membuat Shia menangis, hubungi Papa, oke?"

Luhan mengulum senyum mendengar kalimat itu sementara Shia mendapatkan banyak binar pada matanya. Shia mengangguk kuat sampai ponytail tingginya bergerak lucu. Sehun memeluk gadis kecil itu sejenak sebelum mencium keningnya.

"Eung!"

"Tunggu Papa menjemput Shia, ya?"

Shia mengangguk, memeluk ibunya sekilas sebelum masuk bersama gerombolan anak-anak lain. Luhan menatap langkah ceria putri kecilnya dengan seulas senyum. "Kurasa itu adalah langkah teringannya."

Sehun meraih bahu sempit Luhan, merangkulnya dengan erat. Abai dengan ekspresi terkejut dan malu yang Luhan tunjukkan. Sehun mengedipkan sebelah matanya. "Kurasa itu hal yang baik."

"Oh, Sehun… Hentikan itu dan antar aku ke restoran sekarang, aku tidak mau menyediakan celah bagi Kyungsoo untuk menggodaku."

Sehun tertawa.

.

.

.

"Hei, Luhan. Kau sedang menunggu panggilan dari Sehun atau bagaimana? Atau tiba-tiba ponselmu menjadi sangat menarik ketimbang beristirahat sejenak? Kau tahu pelanggan membludak dan ini benar-benar melelahkan."

Luhan yang saat itu tengah duduk sembari menatap ponselnya langsung mengangkat pandangan, memberikan wanita berpeluh keringat di seberang sofa dengan tatapan kesal.

"Sudah berapa kali kau menggodaku macam ini? Aku tidak sedang menunggu panggilan dari Sehun, astaga."

Kyungsoo mengulum senyum. "Aku kan hanya senang mendengar kabar bahagia itu, Luhan. Kapan lagi aku bisa melihatmu merona seperti remaja, heum?"

Luhan memalingkan wajah. "Kau pikir aku sudah setua apa?"

"Bukan tua, tapi terlampau dewasa untuk ukuran wanita duapuluh lima, kau tahu?"

Luhan melunakkan pandangan dan tersenyum tipis. "Kau berbicara tentang kita berdua?"

Kyungsoo terkekeh. "Aku serius dengan pertanyaanku; siapa yang kau tunggu?"

"Nyonya Kim, Kim Na Young. Kemarin lusa setelah pertunjukkan musim semi aku mendapat banyak panggilan tak terjawab darinya, dan saat aku menghubungi balik dia samasekali tak menjawab. Aku hanya khawatir, entahlah." Luhan memainkan ponselnya.

Sepersekian detik, Kyungsoo mengangkat punggungnya dari sandaran sofa dan menatap Luhan dengan tatapan sulit diartikan. "Kim Na Young? Apakah dia ibu dari gadis bernama Kim Na Ra?"

"Ya," Luhan mengangguk. "Nara adalah sahabat dekat Shia. Kyungsoo, ada apa?" Luhan mengerutkan dahi begitu Kyungsoo mulai tampak gelisah di atas sofa.

"Kau belum melihat berita? Sama sekali?"

"Kyungsoo, katakan ada apa?"

Kyungsoo menghela nafas kecil. "Aku melihatnya di berita sore, berita tentang penculikan gadis kecil bernama Kim Na Ra, tanggal duapuluh April, selepas pertunjukan musim semi di sekolah itu. Kau bisa melihatnya di portal berita elektronik, ini kasus yang cukup menggemparkan kurasa. Sesuatu tentang sindikat penculikan dan perdagangan manusia atau, entahlah, itu terdengar mengerikan untukku."

Luhan langsung membuka portal berita dan matanya membelalak ketika mendapati berita itu menjadi berita teratas. Ia membuka tautan itu dan membaca saksama, raut wajahnya seketika gelisah dan ketakutan.

"… pihak kepolisian kota Seoul mengklarifikasi bahwa pelaku penculikan gadis bernama Kim Na Ra ini adalah salah satu buronan internasional, sebuah sindikat penculikan dan perdagangan manusia yang disinyalir telah memasuki Korea sejak bulan Desember tahun lalu. Deretan korban yang telah diketahui mencapai belasan dan belum dapat dipastikan berapa korban yang tidak dilaporkan. …"

Dengan foto Nara yang terpampang di bagian atas halaman berita bersama fakta-fakta lain yang membuat Luhan dilanda ketakutan.

"Kudengar ini kasus ketiga yang terpublikasi setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan."

Kalimat itu hanya membuat Luhan gemetar. Hanya satu yang ia pikirkan, putrinya, matahari kecilnya.

"Oh tidak…"

Kyungsoo mengerti kekhawatiran ibu satu anak itu. Kyungsoo pindah ke sisi Luhan, menepuk bahu Luhan menenangkan. "Jangan terlalu khawatir, ada penjagaan di sana."

"Penjagaan? Aku sama sekali tak melihat aparat kepolisian atau sejenisnya kemarin saat menjemput Shia maupun saat aku mengantarnya tadi pagi?" Dahi mengerut Luhan membuat Kyungsoo tersenyum kecil.

"Mereka tidak mencolok, kurasa. Apapun yang terjadi, Shia akan baik-baik saja. Percayalah. Bukankah sekarang ada Sehun yang tak akan membiarkan hal buruk menimpa Shia maupun dirimu?"

Luhan kehilangan separuh kegelisahannya mendengar kalimat yang diucap bersama senyum kecil itu. "Aku sendiri masih takjub bagaimana nama pria satu itu bisa membuatku sedikit lebih tenang."

Kyungsoo mengulum bibir dengan mata berkilat menggoda. "Ouh, apakah ini sesuatu tentang belahan jiwa?"

Luhan menahan kekehan, mencubit pipi Kyungsoo yang berisi dengan gemas. "Sekarang, giliranmu menceritakan tentang kekasihmu."

Wajah Kyungsoo berubah mendung seketika, tapi Luhan tak berniat untuk menarik ucapannya sama sekali. Terlalu banyak menanggung beban sendirian akan membuat seseorang nyaris gila, dan dirinya adalah contoh terbaik untuk itu, Luhan tahu benar.

"Apa maumu sih, Luhan?"

"Sampai saat ini aku sama sekali tak tahu seperti apa wujud kekasihmu itu. Sama sekali, kau sahabatku atau bukan?" Luhan bermain dengan kerutan alis, mencoba memaksa Kyungsoo bercerita.

"Sudah aku bilang, hubungan kami ini menyedihkan. Bahkan, aku sendiri ragu kalau kami memiliki hubungan. Dia makin sibuk dari hari ke hari, dan aku semakin enggan menghubunginya… Aku hanya," Kyungsoo menghela nafas. "Kau tahu, Luhan? Aku lelah, dan sejujurnya aku tidak dalam keadaan baik untuk membicarakannya."

Luhan sama sekali tak berniat membuat Kyungsoo terluka, dan ia menyerah begitu melihat Kyungsoo benar-benar tampak tidak baik-baik saja.

"Maafkan aku. Setelah kita mengenal, mungkin setengah tahun setelahnya aku baru mengetahui kau menjalin hubungan dengan seseorang."

Kyungsoo memperbaiki raut wajahnya demi membuat perasaan bersalah Luhan menguap. "Aku tak apa, Luhan. Aku akan baik-baik saja."

Luhan mengangguk pelan.

"Nona Chef, sepertinya jam istirahat makan siang sudah berakhir dan ada pelanggan yang mengantri di depan pintu restoran."

Seorang lelaki muda dengan apron dan raut wajah lelah masuk ke ruang loker. Dua wanita di sana menghela nafas bersamaan, mengulas senyum kecil berisi penyemangat. "Kenapa kita sibuk sekali akhir-akhir ini?"

Mereka terkekeh pelan sebelum bangkit dan kembali melilitkan apron ke tubuh ramping.

.

.

.

"Bagaimana keadaan gadis kecil itu?" Chanyeol bertanya ketika Baekhyun keluar dari kamar. Wanita berbalut gaun brokad putih kerah tinggi itu hanya mengedikkan bahu. Mendudukkan bokong seksinya tepat di sebelah pria jangkung itu, dan bibir merah mulai bercerita.

"Dia tidur, bergumam tentang ibunya dan sesuatu lain yang aku tak mau repot memahaminya."

Chanyeol mengarahkan jemari untuk memainkan anak rambut Baekhyun yang tak ikut terikat. Menggulungnya dengan ujung jemari dan memilinnya; sebuah kebiasaan yang sejak lama tak pernah hilang. Baekhyun memejamkan mata, menikmati.

"Kau murung akhir-akhir ini."

Baekhyun memutar bola matanya malas. "Pertanyaanmu sungguh basi, Park."

Chanyeol hanya tersenyum kecil.

"Kemana dia? Katanya akan datang petang ini?" Baekhyun menatap Chanyeol bertanya.

"Menungguku, bocah?"

Seorang pria jangkung lain berambut pirang dengan tampilan acak-acakan membuka pintu ruang bersama sapaan yang terdengar menyebalkan, setidaknya bagi Baekhyun. Baekhyun merengut dan nyaris melemparkan bantal sofa ke pria berwajah—apakah Baekhyun baru saja melihat ekspresi kelam di sana?

"Jangan memanggilku bocah hanya karena kau beberapa tahun lebih tua dariku, Wu." Baekhyun mendesis.

Pria itu mengedikkan bahu acuh, melempar jasnya ke sembarang arah dan menghempas diri ke sofa seberang. "Kau memang bocah."

"Kau!"

"Baek, kau akan sakit kepala. Jangan lanjutkan, oke?" Chanyeol mencoba menghentikan pertengkaran bodoh itu sebelum Baekhyun mulai mengomel dan berakhir merengek sepanjang malam dengan keluhan pusing. Baekhyun mendengus.

"Melihat wajahnya aku sudah mulai sakit kepala. Kau kusut sekali, Kris. Apa lagi yang Seungho minta?" Baekhyun memicing jengkel.

Kris membuka matanya, menyorot dingin dan itu membuat Baekhyun tahu tempatnya untuk saat ini. "Masih belum ada yang berubah, tetap sama seperti sebelumnya. Dan kenyataan bahwa ia mengabaikan Kyungsoo sampai saat ini membuatku—"

"Kau mempunyai perasaan dengan sahabat Luhan itu?" Salah satu alis tebal Chanyeol terangkat, melempar sebuah rasa heran dan tak percaya. Kris menghela nafas lelah.

"Aku yang mengenalkannya pada Seungho, dan tak pernah tahu jika dunia terlalu sempit untuk brengsek seperti kita."

Baekhyun mendengus mendengar kata terakhir dalam kalimat itu. "Kata terakhirmu membuatku jengkel setengah mati, kau tahu."

Baekhyun mengerang, menepis jemari Chanyeol yang memainkan anak rambut di sisi wajah. Memberikan Kris sebuah tatapan serius yang membuat pria itu pun balik menatap. "Aku benci kenyataan ini," Kris menatap raut wajah dingin Baekhyun tanpa suara. "kau tahu, kan, kita akan mati jika semua ini terbongkar."

Chanyeol menghela nafas, menarik bahu Baekhyun untuk bersandar ke tubuhnya. Atmosfer ini terlalu mencekik dan tubuhnya benar-benar membutuhkan sesuatu yang ringan setelah melewati hari yang cukup berat dengan pisau bedah, aroma besi melayang-layang dan tekanan di ruang operasi. Dan sialnya ia masih memiliki satu jadwal lagi malam ini. "Berapa kali kalian membahas hal itu? Bisakah kita pikirkan itu nanti? Karena sampai sekarang pun, tak ada yang bisa menebak jalan pikirannya. Aku yang akan mendapatkan pukulan paling keras nantinya dan aku akan memikirkannya saat itu tiba."

Kris mendengus.

"Dia tahu benar bagaimana cara memainkan perannya."

Baekhyun mengangguk tanpa suara, ia baru akan membuka mulut saat ponsel pintarnya menderingkan panggilan. Wanita berbibir merah itu terkesiap ketika mengetahui siapa yang menghubunginya. Ia berdehem, mengatur nada suaranya agar terdengar seperti Baekhyun yang centil dan manis. Seperti biasanya.

"Yeoboseyo, Luhaaan? Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini? Apakah kakakku absen menjemputmu dan—"

"…"

Baekhyun terdiam.

"Chanyeol punya jadwal operasi malam ini, tapi semua akan baik-baik saja. Aku bisa menjaga Shia sampai urusanmu selesai nanti. Ahaha…" Baekhyun tertawa manis, namun wajahnya sedatar dan sedingin lantai es. "Tentu saja, Luhan. Aku sama sekali tidak keberatan dengan gadis manismu. Kau bersama Sehun, kan? Baiklah. Sampai jumpa, aku menunggu Shia di rumah."

Dua pria di sana melempar tanya saat ia mengemas ponsel dan tas bersama coat yang ia tarik dari sandaran sofa.

"Luhan dan Sehun akan menemui seseorang," Baekhyun mengenakan coat krimnya "Dan tebak siapa? Aku berani bertaruh itu Seung Ho, dan aku benci kenyataan bahwa sepertinya dia akan kembali bertingkah setelah ini. Aku pergi, dan kau Kris, jaga Nara untuk malam ini."

Pintu itu tertutup cukup keras saat Kris melambaikan tangan malas sebagai tanda persetujuan. Chanyeol menghela nafas.

"Frekuensi helaan nafasmu meningkat, Park." Kris meraih saku celananya dan mengeluarkan sebungkus rokok, menyulutnya dengan api. Menikmati bagaimana benda bernikotin itu terbakar dan memenuhi rongga paru-parunya dengan asap putih.

"Jika dia tahu kau mengontaminasi sayap baratnya ini dia akan membunuhmu." Kris acuh tak acuh. "Kau tahu, aku benci sesuatu yang rumit."

Kris menyeringai tipis.

"Yah, kita hanya pion. Kita lihat bagaimana kita akan bergerak dan siapa yang akan dikorbankan demi check mate."

.

.

.

Luhan tak pernah memikirkan apa yang akan ia katakan, apa yang akan ia lakukan, saat ia bertemu dengan Seungho nantinya. Tanpa makian dan penuh kesadaran. Dan sejujurnya jika boleh, ia tidak ingin menemuinya sama sekali. Tapi kenyataan tidak membiarkannya hidup semudah itu. Ia harus bertemu dengannya, untuk beberapa saat membuka luka lama dan meluruskan semuanya. Tentang ia yang akan baik-baik saja tanpa pria brengsek itu, tentang ia yang tak membutuhkan apapun darinya.

Jikalau hal ini terjadi tanpa Sehun di sisinya sebagai penopang, pun ia tak akan mengubah pendirian. Ia memang bukan wanita kaya, tapi setidaknya kerja kerasnya mampu menghidupi gadis manisnya di rumah. Luhan mampu membesarkannya sendiri, dan selama tujuh tahun ini ia bisa melakukannya. Meskipun ia nyaris remuk redam.

Luhan terkesiap ketika jemari hangat menggenggam tangannya yang dingin dan gemetar. Luhan menoleh, untuk mendapati Sehun tersenyum lembut menenangkan. Untuk sejenak, Luhan merasa dadanya terbasuh air dingin.

"Tidak perlu menyusun kata-kata, percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Bukankah ada aku di sini?"

Luhan terkekeh ringan. "Aku baru tahu sisi lainmu yang ini," Luhan tak memperhatikan bagaimana pupil mata Sehun melebar sepersekian detik. "kau memang suka kalimat-kalimat chessy?"

"Jika itu menenangkanmu, kenapa tidak?"

"Terimakasih, itu berhasil menenangkanku."

Aura tidak menyenangkan datang dari arah belakang mereka dan tanpa sadar membuat Luhan menegak dan kehilangan senyum.

"Kau datang lebih awal, Luhan."

Seungho duduk di seberang meja dengan tatapan dingin kepada Sehun meski bibirnya mengucap sapa ke Luhan. Luhan hanya mengangguk kecil, ia meremat jemari Sehun yang masih menggenggamnya.

"Apakah kita perlu memesan makan malam lebih dulu, Luhan? Pela—"

"Kami kemari bukan untuk makan malam." Luhan berucap tegas, tak ada keraguan di sorot matanya. "Bukankah kau pasti punya sesuatu untuk kau katakan pada kami?" Dalam diam Sehun menyeringai mendengar betapa Luhan sangat menekankan kata 'kami' saat berucap.

Seungho tampak membeku sejenak.

"Aku ingin kau dan Shia kembali padaku."

Dan itu bukan kalimat "Aku ingin kembali padamu". Luhan mendengus sinis; betapa angkuh lelaki di hadapannya ini.

"Hidup kami sudah lebih dari cukup sekarang," 'kami' untuk Luhan dan Shia. "kami tidak membutuhkan dirimu untuk apapun itu."

"Bagaimanapun aku ayahnya."

"Kau kabur, menelantarkan kami dan membuatnya tumbuh lebih dewasa dari umurnya. Kau masih bisa menyebut dirimu ayah?"

"Tidak bisakah kau memberikan kesempatan kedua? Aku berniat baik untuk memperbaiki semuanya dan—"

"Kau terlambat," Luhan menjeda, menarik nafas dalam. "Jika kau berniat mengajukan tuntutan ke pengadilan; menuntut hak asuh anak perempuanku pun aku tidak melarangmu, karena aku tahu aku yang akan menang."

Seungho mengatupkan bibir dengan tangan mengepal kuat di atas paha. Matanya menyorot tak suka kepada lelaki di samping mantan kekasihnya yang terlihat begitu santai.

"Aku bersama Sehun saat ini," Luhan merasakan hatinya begitu lega setelah mengucapkan kalimat itu. "dan tak akan ada yang berubah."

Seungho mendecih teramat pelan. "Apapun maumu, kau tetap tidak bisa menghalangiku untuk menemui putriku, bukan?"

Genggaman Sehun pada jemarinya menguat dan tanpa menoleh Luhan tahu emosi yang bergejolak pada lelaki ini sejak tadi.

"Jika Shia tidak keberatan, maka kami pun tidak akan keberatan." Sehun buka suara. Matanya menatap dingin pada Seungho di hadapannya. "Jika Shia ingin bertemu denganmu, aku tak akan melarangnya."

"Memangnya siapa dirimu?"

Sehun tersenyum sangat tipis. "Bukan siapa-siapa, hanya saja aku sedang bersama mereka sekarang. Dan aku tak berniat untuk melepaskan mereka."

Pertemuan singkat itu meninggalkan banyak perasaan yang membuncah. Luhan gelisah di atas jok samping dan Sehun hanya bisa diam, menunggu wanita itu membuka mulut.

"Menyesal tidak melayangkan tinju kepadanya?" Namun lama-lama ia pun jengah.

Luhan terkekeh lemah, menoleh dan menatap Sehun dengan pandangan penuh rasa terimakasih. "Ya, aku takut keamanan akan menyeret kita keluar dan itu tidak baik untuk direktur rumah sakit sepertimu."

Sehun mendenguskan tawa. "Apakah itu kode untukku untuk bercerita tentang diriku?"

"Kau pria yang sangat peka."

"Perkenalkan, aku Oh Se Hun. Pria duapuluh tujuh yang jatuh cinta dengan wanita bernama Lu Han, yang akan menjadi Oh Lu Han suatu saat nanti."

Luhan tertawa kecil, diam-diam membuat pria itu lega. "Kau pria yang sangat percaya diri. Maksudku tentang pekerjaanmu, sahabatmu, dan keluargamu. Aku tahu kau pasti punya cerita tentang itu. Rasanya sangat tidak adil; kau mengetahui nyaris semua hal tentangku sementara aku tidak."

Sorot mata Sehun sedikit berubah. "Aku bukan pria dengan latar belakang yang baik-baik; malah terbilang menyedihkan."

"Kalau begitu kita pasangan yang cocok."

Sehun tertawa. "Kau tahu Luhan, aku tersipu dengan ucapanmu."

"Jadi?"

"Cukup klise sebenarnya, mungkin kau bisa menemukan kisahku di cerita-cerita yang ada di toko buku. Aku lahir tanpa ayah, dan dirawat oleh wanita bodoh yang sangat mencintaiku. Aku tak pernah tahu siapa pria brengsek yang menjadi ayahku, pun tidak mencari tahu."

Luhan tercekat.

"Masa kecilku tidaklah berwarna merah muda; kami sangat menderita. Ibuku membanting tulang untuk memberi aku makan dan menyekolahkanku, berhutang di rentenir kejam, dan aku hanya bisa mengingat penderitaan di masa kecilku; selain kasih sayang ibuku pastinya. Hei, Luhan, jangan menangis."

Sehun tersenyum lembut ketika melihat Luhan sesunggukan. "Aku tidak menangis."

"Mau aku lanjutkan?" Luhan mengangguk. "Saat aku tigabelas, ibuku meninggal. Dia kelelahan, penyakit menggerogoti tubuhnya dan kurasa dia sudah tak sanggup menderita. Setelahnya, aku bertemu dengan Chanyeol dan keluarganya, mereka mengambilku dari panti asuhan dan merawatku. Kehidupanku membaik dan kurang lebih sama dengan kebanyakan orang lain."

"Tentang Baekhyun?"

"Dia adik tingkat kami saat kuliah. Aku menganggapnya adik karena yatim piatu, sementara Chanyeol berakhir jatuh cinta dengannya. Apalagi yang ingin kau tanyakan?"

"Lalu, di mana keluarga kalian? Kau dan Chanyeol?"

Luhan tidak menyadari bagaimana raut wajah Sehun sedikit menggelap. "Chanyeol kehilangan ibunya sejak lahir, dan ayahnya, Tuan Park yang mengangkatku menjadi anak asuhnya, meninggal karena usia lima tahun lalu. Beliau mewariskan rumah sakitnya ke Chanyeol, tapi dia menolak dan berakhir aku yang mengelolanya sekarang. Dia lebih mempercayakan rumah sakit ini kepadaku ketimbang harus melewati rapat dewan direksi alot untuk menentukan direkturnya. Kau bisa lihat sendiri bagaimana Chanyeol tidak terlalu menyukai hal-hal yang terlalu rumit; meski kecintaannya pada dunia bedah menjadi pengecualian."

Luhan terdiam. Tidak menyangka akan mendengar cerita yang memilukan seperti itu. Sudah dari jauh hari ia tahu masa lalu Sehun, tapi ia tidak tahu akan seburuk ini. Ia merasa sedikit lebih beruntung, meski berakhir dibuang, ia pernah merasakan kasih sayang secara utuh.

"Dan hal itu pula yang membuatmu sangat menyayangi Shia?"

Sehun mengangguk. "Dia gadis yang manis dan baik hati, siapapun bisa mencintainya dengan mudah. Lebih dari itu, melihatnya seperti berkaca pada diriku sendiri. Aku tidak bisa membiarkannya merasakan apa yang pernah aku rasakan. Sesederhana dia tak lagi boleh merasakan kesedihan. Pun begitu denganmu."

Luhan menggenggam tangan Sehun yang ada di persneling, membawanya ke atas pangkuan dan merematnya hangat. "Sehun, terimakasih…"

Sehun tersenyum jenaka, mengusir atmosfer sedih yang melayang-layang. "Terimakasih untuk?"

"Semuanya. Untuk semuanya."

.

.

.

Kris memasuki sebuah ruangan gelap yang pekat dengan aroma tembakau dan cengkih yang terbakar. Seorang yang berdiri di depan jendela yang menampakkan langit malam menjadi fokus matanya sejak awal, meski ia bertindak seolah tak peduli dengan melangkah ke sudut ruang, membuka pintu sebuah ruangan kecil berisi komputer dan segala tetek bengek-nya.

"Kenapa kau di sini?" Kris bersuara.

"Memangnya salah masuk ke kediaman temanku sendiri. Aku butuh teman bicara." Kata pria di depan jendela itu. Kris diam, berkutat dengan background hitam dan tulisan hijau yang ada di layar komputer besarnya. Pria di depan jendela mendekat kepadanya, memasuki ruang kecil itu.

"Kau ada pekerjaan malam ini?"

"Pertanyaan basi." Kris mematikan komputernya setelah data yang ia butuhkan telah terkopi pada flashdisk yang kemudian ia masukkan ke dalam ransel hitam. Pria berambut pirang itu beranjak menuju rak tinggi di sisi kiri, memasukkan beberapa barang di sana. Mengepaknya dengan cepat lantas memakai topi hitam yang tergeletak di sisi komputer.

"Kau tidak melupakan apa yang aku katakan sebelumnya, kan?"

Kris terhenti di mulut pintu. "Soal Shia?"

Pria itu mengangguk kecil. "Kau bisa melakukannya untukku, kan?"

"Kita sudah membicarakannya sejak awal. Kita sudah memulainya. Tidak perlu kau pastikan lagi." Kris teringat dengan gadis kecil yang ada di bangunan tua itu. Ia mendesah tanpa suara dan memejamkan mata.

Suara kekehan terdengar di antara keheningan. "Ya, kita sudah memulainya. Dan aku berharap ini akan berakhir dengan baik."

"Baik? Shia akan banyak terluka, begitupun dengan Luhan. Kau berharap ini akan berakhir dengan baik?"

Pria itu berbalik, menatap Kris dengan senyuman miring. "Mereka akan kembali kepadaku; itu hal baik yang aku maksud."

Kris menghela nafas tanpa suara. "Persetan dengan semua rencanamu, aku tidak peduli selama bayaran yang kami terima pantas."

Pria itu tertawa, menggema di ruang kecil itu. "Bukankah selama ini kalian selalu mendapat bayaran yang pantas?"

Kris mengedikkan bahu, membenarkan tali ranselnya dan beranjak pergi.

"Cepat pergi dari sini, Yoo Seung Ho."

Suara debaman pintu menyamarkan kekehan halus dari satu-satunya pria di sana.

.

.

.

"Kau terlambat, Kris. Ada jalang yang menahanmu di jalan?"

Kris memutar bola matanya malas pada wanita yang baru saja menyapanya itu. Ia baru turun dari mobil dan sudah disambut dengan kalimat menyebalkan seperti itu.

"Bukan urusanmu, bocah. Dan ada apa dengan rambut merah itu, Baek? Chanyeol tiba-tiba fetish dengan warna merah atau kau sedang ingin membuatnya jengkel?"

"Dia mengabaikanku seharian ini." Baekhyun mengedikkan bahunya santai.

Kris lantas menyapa pria jangkung yang bersandar di mobil jeep hitam dengan sebuah lambaian singkat. Chanyeol balas melambai jenaka, meski ia bisa melihat raut wajah keras di sana.

"Kau datang, Kris."

Kris mengedarkan pandangan ke sekitar bangunan tua yang ada di belakang mereka.

"Dan kenapa kita ada di bangunan bekas kebakaran ini, Kris?" Suara feminine terdengar lirih.

Kris memandang Baekhyun sejenak dengan tatapan penuh arti. "Kau tahu Kim Jae Ha, target kita ada di sini, dia suka membawa gadis muda ke tempat sepi dan me—"

"Baiklah hentikan itu." Baekhyun bergidik. "Benar-benar tidak elit, apa enaknya bercinta di tempat kumuh macam ini?"

Kris memutar bola matanya malas. "Kau yang bertanya."

"Seharusnya malam ini aku tidur dengan tenang." Baekhyun menggerutu, namun tetap merapikan coat hitam yang ia kenakan beserta beberapa barang kecil di dalam saku.

"Sudah kubilang tak ada yang cocok untuk klien ini. Dan bukankah dirimu yang memaksa ikut?" Chanyeol berusaha tersenyum, namun nada bicaranya tetap terdengar jengkel.

"Oh, iya. Stok di sana sudah menipis." Baekhyun memasang maskernya dan melenggang masuk ke bangunan tua itu dengan langkah santai.

"Hei, Sayang—"

"Sayangmu sudah mati. Cepat masuk, kau tahu aku benci tempat macam ini." Baekhyun menghilang di balik pintu usang.

Dua pria jangkung itu masuk. Masker yang melindungi hidung mereka ternyata tak dapat menghalangi aroma apak dan menjijikkan yang melayang di udara. Cahaya bulan dari jendela kaca yang pecah sedikit menerangi langkah pelan mereka, suara desahan samar dari kejauhan cukup mengganggu pendengaran.

Namun mereka berhenti melangkah karena hal lain, yang membuat Chanyeol menurunkan pistol yang sedari tadi teracung ke depan. Baekhyun merosot di sisi dinding dengan bahu gemetar. Chanyeol hendak mendekat namun tertahan dengan gestur yang Baekhyun berikan; wanita itu ingin mereka masuk lebih dulu, meninggalkannya sejenak dan ia akan segera mengikuti.

Kris hanya mengangguk pelan dan meneruskan langkahnya.

Lorong gelap dengan dinding kehitaman mereka lewati dengan gema suara menjijikkan yang makin terdengar jelas. Kris menempelkan punggung di dinding sisi pintu, mengintip seorang pria muda berpakaian lengkap yang tengah tenggelam dalam hasrat bersama gadis bertubuh polos di atas meja.

Kris memberi kode anggukan kecil yang membuat Chanyeol langsung memasuki ruang remang itu dan menembak dua manusia itu dengan peluru bius berturut-turut. Dua orang itu ambruk tanpa suara setelah sepersekian detik menyadari ada yang menancap pada tubuh mereka.

Chanyeol menurunkan maskernya dan langsung membenarkannya kembali, ia mengernyit jijik. "Kita harus membereskan ini." Katanya dengan sorot mata jengkel.

Di sisi lain Kris menurunkan maskernya tanpa merasa terganggu.

"Kau tidak akan membiarkan Baekhyun yang melakukannya, kan?" Ia menarik tubuh pria muda itu, membereskan celananya yang berantakan. Menatap tanpa arti pada gadis telanjang yang tubuhnya berkilat basah dengan cairan dan organ intimnya yang tidak dalam kondisi baik.

Ia menoleh pada Chanyeol yang sedang menyiapkan kantung hitam yang tak berbeda dengan kantung mayat.

"Bisakah kau memakaikan pakaian gadis in—"

"Biar aku yang melakukannya." Baekhyun melangkah masuk. Poni merahnya jatuh membingkai wajah, membuat ekspresinya tak terlihat jelas.

Kris melangkah mundur, menyeret pria muda itu dan memasukkannya ke kantung hitam. Sementara itu Baekhyun mencabut peluru bius yang menancap pada lengan gadis itu, melemparnya pada Chanyeol di belakang dan mulai membenahi gadis ini. Ia sedikit gemetar ketika memakaikan gaun merah menyala yang teronggok di lantai.

"Berikan jas, dompet dan kunci mobil pria itu." Baekhyun berkata dingin. Chanyeol memberikannya bersama usapan pelan di salah satu bahu yang dihiraukan.

Jas hitam terpasang di tubuh gadis yang tak sadarkan diri itu. Baekhyun mengambil sesuatu dari dalam coat-nya; beberapa berkas kecil dalam tas hitam mahal yang tipis bersama selembar cek beratasnamakan pria muda itu. Baekhyun mengobrak-abrik dompet pria itu, menarik beberapa kartu tertentu dan seluruh uang cash di sana. Memasukannya ke dalam tas hitam itu.

Baekhyun menurunkan gadis itu, menyandarkannya ke kaki meja yang membuat posisi senyaman mungkin. Ia meletakkan tas hitam itu di sisi sang Gadis bersama kunci mobil.

Baekhyun merapikan rambut gadis muda itu sebelum bangkit dan meninggalkan ruangan itu.

Kris dan Chanyeol mengikuti ketukan langkah Baekhyun dengan kantung hitam besar yang di bawa bersama.

"Baekhyun masih tidak bisa berdamai dengan masa lalunya?"

Chanyeol bungkam.

Baekhyun duduk di samping Chanyeol yang mengemudi dengan tatapan pedih. Selama perjalanan ia bungkam. Hanya buka suara saat bertanya pada Kris ketika pria itu berkata tidak bisa membantu setelah ini dan melesat pergi dengan mobilnya; sesuatu tentang pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan sendiri.

"Kenapa kau melakukannya?"

"Apa?"

"Meminta Kris membuat berkas, memberikan mobil pria itu ke gadis panggilan itu dan ya, semuanya."

Baekhyun memalingkan wajah. "Untuk membersihkan jejak; apa lagi memang? Gadis macam itu tak akan banyak berpikir. Dia mendapat bayaran yang fantastis dan dia tak akan memusingkan apa yang terjadi. Kalaupun dia bertingkah aku yang akan membereskannya."

Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun yang bergetar.

"Kau merindukan Shia?"

Baekhyun menoleh dengan sudut bibir berkedut. "Kau suka sekali mengalihkan pembicaraan." Chanyeol mengedikkan bahu.

"Gadis manis itu selalu membuatmu lebih baik. Kau ingin bertemu dengannya esok?"

Baekhyun mendesah pelan, membalas genggaman Chanyeol dan memejamkan mata.

"Ya."

"Ah, Chanyeollie." Chanyeol menoleh dan mendapat sebuah seringai dari Baekhyun. Pria itu menggeleng malas ketika seringai itu berubah menjadi senyum manis.

"Biarkan aku ikut ke ruang baumu malam ini; aku ingin memberi sedikit pelajaran pada brengsek di bagasi itu."

.

.

.

Sehun keluar dari kamar mandi dengan uap panas yang menguar keluar. Pria tampan itu mengenakan jubah mandi berwarna putih dan handuk kecil yang menutupi rambut hitam lebatnya. Ia melangkah menuju kloset, menarik kemeja putih dan celana kain hitam di salah satu lemari terbuka dan melemparnya ke atas ranjang bersprei putih bersih pula.

Sehun mengeringkan rambut dan tubuhnya sekilas, membiarkan udara kamar yang sejuk menerpa torsonya yang mengagumkan. Pria itu menatap bayangan tubuhnya yang terpantul di cermin besar, matanya mengamati sesuatu di sana dengan tatapan tak berarti.

Ia keluar dari kamar setelah berpakaian dan ia bertemu dengan Tuan Seo di ujung tangga. Pria baya itu membungkuk sopan padanya dan ia balas sekenanya. Ia menuruni tangga dengan tenang, Tuan Seo mengikutinya di belakang.

"Aku tidak ingin makan malam, minta salah satu pelayan untuk menyiapkan kopi."

Sehun melangkah ke taman belakang sendirian. Taman itu hanya berisi beberapa pohon dan semak perdu serta kolam kecil yang airnya gemericik memecah malam. Ia duduk di kursi teras, merasakan punggungnya menempeli metal hitam yang dingin. Matanya menatap ke atas sejenak, ke langit malam yang benar-benar gelap.

Ia memejamkan mata, menghirup nafas dalam-dalam.

Seorang pelayan wanita mendekat dengan langkah pelan, meletakkan secangkir kopi dan undur diri tanpa suara. Sehun membuka mata merasakan kehadiran pria baya yang kini berdiri tepat di belakangnya.

"Duduklah di sampingku, Paman Seo."

"Sepertinya Anda sedang ingin sendiri; lebih baik saya undur diri?"

Sehun tertawa. "Aku memintamu duduk di sampingku; aku sedang ingin ditemani. Dan bukan Anda, tapi Sehun."

Suara kekehan khas terdengar dan membuat Sehun tersenyum. Sehun meraih cangkir kopinya saat Tuan Seo—Paman Seo untuk sekarang, duduk di kursi sebelah. Sehun menghidu aroma khas dari kopi itu dan mencicipnya satu teguk.

"Jika Ibuku masih hidup, mungkin sekarang dia yang duduk disampingku dan berceramah tentang kopi dan insomnia." Sehun berkata.

"Kau merindukan ibumu, Sehun?" Pria baya itu menatap Sehun dengan senyum tipis, lantas menyamankan tubuh tuanya ke sandaran kursi. Mendesah pelan saat punggungnya yang kaku terasa lebih nyaman.

"Entahlah, Paman."

Sehun kembali meneguk kopinya.

"Akhir-akhir ini kau banyak tersenyum." Sehun terkekeh mendengar kalimat itu. Tak dipungkiri pria baya itu benar, akhir-akhir ini ia memang banyak tersenyum. Masalah tak pernah surut, pun malah bertambah; namun nyatanya kehadiran dua orang perempuan dalam hidupnya mampu menutupi semua itu. "Kau benar-benar mencintai Nona Luhan?"

"Aku benar-benar mencintai mereka; Luhan dan Shia. Kau tahu itu semua, Paman."

"Sudah memikirkan sebuah pernikahan?" Sehun nyaris menyemburkan kopinya. "Pak tua ini sudah gatal ingin melihat salah satu dari kalian berdua menikah sebelum aku mati nanti. Baik kau maupun Chanyeol sama saja."

"Kau akan bersama kami untuk waktu yang lama." Sehun berucap tegas. "Untuk saat ini; belum, aku belum memikirkan pernikahan. Luhan belum benar-benar menerimaku sepenuh hati dan aku pikir kami masih perlu waktu untuk sampai pada tahap mengikat janji. Terlebih, Yoo Seung Ho masih menjadi pengganggu."

"Bukannya kau sendiri yakin pria itu tak akan mendapatkan hati Luhan maupun gadis kecil itu? Kenapa kau begitu khawatir?"

Sehun meletakkan cangkir kopinya. "Kau tahu alasannya, Paman. Lalu di mana Chanyeol dan Baekhyun? Sudah selarut ini dan mereka belum pulang." Sehun bertanya.

"Kau pun pulang larut, Sehun. Chanyeol mempunyai operasi mendadak di rumah sakit dan Baekhyun pulang ke mansion barat."

"Apa Baekhyun sedang perang dingin dengan Chanyeol sampai pulang ke mansion barat?" Sehun tak memperhatikan bagaimana sorot mata Paman Seo berubah.

"Ya, dia menggerutu tentang Chanyeol yang membuatnya jengkel; ia sampai mengecat rambutnya menjadi merah."

Sehun terkekeh. "Bocah itu. Aku tak tahu kenapa mereka tak juga menikah."

"Mungkin mereka menunggumu menikah lebih dulu."

"Ah, hentikan pembicaraan ini."

Paman Seo terkekeh serak.

"Sebaiknya kau pergi tidur sekarang, kau punya rapat direksi besok pagi." Paman Seo memejamkan mata.

"Aku tidak lupa. Ah, Paman, kosongkan jadwal siangku besok."

"Hmm. Wanitamu akan datang berkunjung?"

Sehun tertawa. "Aku suka sebutan itu dan ya; Luhan akan datang bersama Shia besok siang."

"Kau benar-benar dimabuk asmara."

"Aku pergi Paman, aku sangat mengantuk sekarang."

Sehun meninggalkan taman itu meski kopinya belum tandas. Pria tampan itu terkekeh saat menaiki tangga, mengingat pembicaraannya barusan dengan pria baya yang sudah ia anggap sebagai ayah itu.

Sehun melangkah ke meja kerjanya begitu memasuki kamar, duduk di sana dan mencatat beberapa paragraf kalimat di buku bersampul hitam. Ia menyingkirkannya ke dalam laci setelah menyelesaikan tulisannya. Pria itu melepaskan kemeja yang membalut tubuhnya, melemparkannya ke sofa di sudut ruang untuk kemudian melempar diri ke atas ranjang.

Sehun meraih ponsel di nakas dan tersenyum tulus ketika membuka kotak pesan. Membuka pesan dari seseorang yang ia terima sebelum pulang tadi.

Today, 06.17 PM

Apa kau tidak sibuk besok? Apa kami bisa mengunjungimu saat jam makan siang? Shia libur dan dia ingin makan siang denganmu.

.

.

.

Seorang wanita dewasa dengan celana kain berwarna krem dan blus merah marun menggandeng gadis kecil yang tersenyum riang. Mereka menyusuri lobi rumah sakit dan mencuri perhatian sebagian pasang mata saat memasuki lift yang kosong.

"Mama, apakah Shia sudah cantik?"

Luhan tertawa, mengusak rambut lebat Shia yang tergerai. Ia memandangi Shia yang tampak manis dengan gaun krem yang berbalut outer bermotif kotak berwarna hitam-merah marun. "Tentu saja Shia sudah sangat cantik. Coba lihat di pantulan lift." Shia mengikuti kalimatnya. Melihat bagaimana ia dan ibunya tampak senada.

"Mama juga cantik." Shia memberikan cengirannya yang menggemaskan, membuat Luhan terkekeh senang.

Mereka sampai di lantai tertinggi gedung rumah sakit itu. Luhan meletakkan kotak bekal yang terbungkus kain di sebuah meja begitu mereka keluar dari lift, hendak menghubungi Sehun namun sebelum ia menekan nomor, sebuah pesan datang. Luhan tak mampu menahan senyum.

Today, 12.45 PM

Langsung masuk saja, pintu terujung di koridor kanan. Sekretarisku sudah tahu kedatanganmu.

Luhan memasukkan ponselnya dan meraih kotak bekal. Ia membimbing Shia melangkah ke koridor kanan dan ia disambut seorang lelaki muda berkacamata yang berdiri di depan kubikal kaca.

"Selamat Datang, Nyonya Luhan dan Nona Shia. Direktur Oh sudah menunggu di dalam."

"Terimakasih." Luhan membalas bungkukkan sopan itu dan Shia tersenyum manis.

Luhan membuka pintu dan mendapati Sehun tengah duduk di kursi kebesarannya. Ekspresi terkejut di wajah pria itu membuat Luhan mengernyit, namun berakhir dengan semu tipis saat tahu apa yang membuat pria itu terkejut.

"Apa kau berkata sesuatu tentang merah marun semalam dan aku melupakannya?"

Sehun bergantian melihat kemejanya sendiri yang berwarna merah marun dan sepasang ibu dan anak di sana.

"Astaga…" Luhan memalingkan wajah malu sementara Shia sudah berlari mendekati Sehun. Sehun tertawa, menyambut gadis kecil itu dengan sebuah gendongan dan kecupan yang menggemas di belah pipinya.

"Selamat Siang, Papa… Apakah Shia terlalu lama?"

Sehun mengecup kening Shia. "Selamat Siang, Sayang… Tidak. Papa tidak keberatan menunggu. Jadi, apa yang Shia bawa untuk makan siang hari ini?"

Shia turun dari gendongan Sehun, mendekati Luhan dan meraih kotak bekalnya. Gadis kecil itu dengan semangat membongkar bungkusan kain itu dan menjejerkan kotak-kotak berisi menu makan siang yang menggiurkan. Di sisi lain Sehun meraih pinggang Luhan, mencuri kecupan singkat pada pelipis wanita itu.

"Kau sangat menyukai skinship." Luhan memalingkan wajah, tapi sama sekali tidak menolak.

"Dan kau tidak keberatan dengan itu; jadi tidak apa-apa, kan?"

"Mama membuat kimbab dan juga tempura. Shia tadi membantu Mama membuat salad dan memotong buah, apa Papa suka dengan stroberi? Jika tidak, ada buah—"

Dua orang dewasa di sana tersenyum tulus. Sehun mengelus rambut Shia sayang lantas menatap Luhan. "Dia sangat ceria."

"Sudah, ayo makan siang."

Shia nyaman di pangkuan Sehun dan menerima suapan dari pria itu. Di sebelahnya Luhan makan dengan tenang, melihat bagaimana Shia berbinar ketika Sehun menyuapkan makan siangnya serasa sudah membuat perutnya kenyang dan terberkati. Ia merasa benar-benar lega, beberapa beban yang memberati bahunya terasa terangkat dan ia merasa begitu ringan dan bahagia.

Luhan tersenyum, menyadari bahwa hal sederhana ini sudah membuatnya jauh lebih baik.

Luhan mengerjap ketika mendapati sepotong daging terulur di depannya. Luhan menoleh dan melihat Sehun menyumpitkan daging itu untuknya, tatapannya yang jenaka membuatnya nyaris bersemu.

"Kenapa Mama melamun?"

"Ah, tidak apa-apa, Shia."

"Katakan aaa…" Luhan benar-benar bersemu ketika mendengar Sehun mengatakan kalimat itu. Ia menerimanya dan langsung memalingkan wajah. Ia benar-benar ingin mengubur diri karena hal ini.

Shia terkikik geli. Sehun mengangkat telapak tangannya dan mereka ber-tos ria.

"Mama cantik sekali, Shia suka…"

"Shia juga cantik, sekarang ayo habiskan makan siangnya."

Sehun membiarkan Shia sibuk dan memakan makan siangnya sendiri, terus bergumam sendiri saat mengunyah, membuatnya terlihat seperti tupai lucu. Sehun menatap Luhan dan ia langsung mendapat atensi.

"Apa?"

"Kalian akan kemana setelah ini? Luhan, berikan aku buah peach."

Luhan berusaha tidak salah tingkah saat menyuapkan sepotong buah peach pada Sehun yang tampak santai dengan semua itu. "Kami akan ke supermarket dan membeli sesuatu untuk Kyungsoo."

"Kyungsoo?"

Luhan mengangguk, tanpa sadar kembali menyuapkan potongan buah pada Sehun. "Dia akan ulang tahun sebentar lagi; hmm, sebenarnya masih cukup lama. Tapi kurasa lebih baik aku membeli sesuatu untuknya hari ini, selagi ada waktu senggang."

"Apakah aku perlu mengirim hadiah juga?"

Luhan tertawa kecil dan menggeleng. "Tidak perlu. Dia akan merasa aneh nantinya."

"Maafkan aku tidak bisa menemani. Ada beberapa pertemuan setelah ini dan juga cukup banyak berkas." Sehun tersenyum lelah.

Luhan mengangguk pelan. "Bukan masalah. Ah, ya, dimana Tuan Seo? Aku belum bertemu dengan beliau."

"Ada di ruangannya, sedang mengurus beberapa hal untuk perjalananku ke Jepang."

Luhan mengerjap.

"Jepang? Papa akan pergi ke Jepang?" Shia yang juga mengikuti pembicaraan itu bertanya. Gadis kecil itu tampak sudah selesai dengan makan siangnya dan sudah merapikan kotak bekalnya dengan baik.

Sehun mengangguk. "Ya, beberapa hari lagi Papa harus pergi ke sana."

"Ada pekerjaan apa?" Sehun terkekeh melihat tatapan Shia yang penuh rasa ingin tahu.

"Sesuatu tentang pengembangan alat kedokteran dan juga pematenan obat."

Shia mengernyit, mencoba mencerna kalimat itu dan berakhir mengeryit bingung. "Shia tidak mengerti. Pematenan obat itu apa?" Dua orang dewasa di sana tertawa.

"Nanti Mama akan menjelaskannya, Sayang…"

"Eum!" Shia langsung berbinar mendengarnya.

"Hei OhSeh kenapa kau tidak memberitahuku kalau Shia kemari, hah?" Pintu terbuka keras dan menampakkan Baekhyun yang berjalan bersungut-sungut membuat snellinya berkibar.

"Nona Baekhyun!"

"Ah, hai gadis manis. Tampak cantik hari ini?" Shia turun dari pangkuan Sehun dan memeluk Baekhyun sekilas. Baekhyun memuaskan diri menciumi pipi gadis kecil itu. Membiarkan Shia terkikik geli dan berusaha menjauhkan Baekhyun dari dirinya.

Shia mengerjap ketika menyadari ada yang berbeda pada Nona Baekhyunnya. "Kenapa rambutnya jadi merah?"

Baekhyun tersenyum masam. "Park Dobby jelek membuatku kesal, jadi aku mengecat rambutku menjadi merah untuk membalasnya."

"Park Dobby itu siapa?"

"Baekhyun jangan mengajarinya dengan julukan aneh." Baekhyun memutar bola matanya malas mendengar kalimat peringatan dari kakak lelakinya itu. Ia tidak menghiraukannya dan malah menyapa Luhan dengan manis.

"Hai, Luhan. Tampak serasi dengan warna merah marun, huh? Aih, manis sekali."

Luhan memilih tersenyum untuk menjawab godaan itu. "Hai, Baekhyunna…"

Baekhyun bersemu mendengarnya. "Aku senang sekali saat kau memanggilku seperti itu."

Shia menarik snelli Baekhyun. "Jadi Shia memanggil dengan Nona Baekhyunna sekarang?"

Baekhyun memekik gemas, mencubit pipi gembul itu dengan beringas. Baekhyun meraih Shia ke dalam gendongannya dan langsung melesat pergi.

"Aku akan memamerkan gadis manis ini ke departemenku!"

Luhan mengerjap. "B-baekhyunna—"

"Shia akan baik-baik saja, Mama!" Shia tersenyum manis dan melambai ceria padanya. Membuat Luhan tersenyum pasrah.

"Maafkan dia, Luhan…"

"Tidak apa-apa, Shia akan baik-baik saja dengan adikmu."

"Tentu. Baekhyun sedikit tertekan dengan pekerjaannya dan kelihatannya Shia membuatnya sedikit lebih baik. Kau tidak keberatan, kan?"

Luhan menggeleng, tampak geli dengan kalimat itu. "Kenapa harus keberatan?"

Luhan membereskan kotak bekalnya dengan cekatan, mengemasnya dengan rapi dan kembali memasukkannya ke dalam balutan kain. Ia hanya mencoba mengalihkan diri dari tatapan Sehun yang membuatnya gugup. Luhan menoleh cepat ketika suara shutter kamera yang lirih terdengar. Ia menatap tak percaya pada Sehun yang tengah memegang ponselnya.

"Kau mengambil gambarku?"

"Sayang sekali jika aku tidak mengabadikan wajah cantikmu."

Luhan terkekeh lemah. "Aku benar-benar baru tahu kau sangat jahil seperti ini." Sehun mengedikkan bahu, lantas meletakkannya ke meja.

"Lebih dari potretmu di ponselku; kurasa kau harus mengkhawatirkan hal lain." Luhan melemparkan tatapan bertanya dan Sehun tersenyum mempesona. Sehun mendekatkan wajahnya. "Baekhyun sedang memamerkan gadis kecil kita, dan tebak apa yang akan ia katakan ketika ada yang bertanya siapa dirinya?"

"Astaga!"

Sehun tertawa melihat reaksi Luhan yang sangat menghibur. Ia tersenyum, merasa hatinya begitu ringan dan hangat dengan hal sederhana ini.

Bisakah ia berharap ini akan berlangsung sedikit lebih lama?

.

Tbc

.

Dua bulan terakhir saya ada project collab dengan Chi, yang risetnya bikin mampus dan oh-take-a-lot-of-time untuk prosesnya; saya kobam. (Alhasil chapter ini berasa campur aduk) Yah, syukurlah worth it dengan hasil yang kita berdua dapet, hehe. Juga project pribadi saya buat event yang sama. Ramadhan dan Lebaran juga sangat menyita waktu, acara dimana-mana.

Jadinya, baru sekarang bisa nerusin ini dan yang lainnya. Kalau pada lupa dengan ceritanya, duh, saya udah nggak bisa apa-apa, hehe. Terimakasih sudah membaca! ^^

See ya next week! 'Coz this is long holiday, Baby!

.

Anne, 2018-06-24