Setelah sekian lama ceritanya mangkrak karena author lagi proses merampungkan laporan tugas akhir kuliah, akhirnya ada sedikit waktu buat lanjutin cerita. Tapi sebelumnya mohon maap banget kalau ceritanya agak maksa, jujur author sendiri lupa jalan ceritanya mau digimanain…haha terlalu lama absen jadi gini..
Oke deh, Selamat membaca ya, semoga bisa sedikit menghibur….
.
.
.
.
.
.
.
.
Suasana restoran saat ini tidak begitu ramai, karena memang jam istirahat makan siang telah berlalu beberapa jam yang lalu. Hanya segelintir meja yang ditempati oleh pelanggan restoran tersebut. Sebuah meja yang terletak cukup dekat dengan taman yang ada di restoran tersebut nampaknya penuh dengan hidangan-hidangan dari restoran tersebut yang tengah dikelilingi oleh tiga orang dewasa. Namun hanya satu orang dari mereka yang tampaknya terlihat kelaparan, sedangkan dua orang yang lain hanya duduk diam dan bahkan saling melempar pisau tak kasat mata yang keluar dari kedua bola mata mereka berdua.
"kalian benar-benar menemaniku makan dengan konotasi yang sesungguhnya. Sungguh ini perayaan yang menyenangkan" Sakura berhenti makan sebentar dan dengan malas menatap dua orang yang ada dihadapanya tengah saling beradu tatapan tajam tanpa menyentuh hidangan di depannya.
Sepertinya dua orang yang Sakura maksud cukup menyimak dengan baik kalimat yang keluar dari Sakura, sehingga dengan segera Sasori menyusul Sakura menikmati hidangan yang ada di hadapannya, sedangkan Sasuke dengan perlahan mengambil cangkir berisi kopi tanpa gula dan meminumnya sedikit kemudian meletakkannya kembali.
"makanlah yang banyak, Sakura. Aku yang akan membayarnya" Sasuke mengarahkan tatapannya ke arah sahabatnya.
"sungguh ?" Sakura menatap ke arah Sasuke menelisik. "baiklah. Sasori, makan yang banyak, kalau perlu pesan lagi saja ya" Sakura beralih menatap Sasori.
Sasuke membelalakan matanya mendengar penuturan dari sahabatnya tersebut. "aku hanya ingin membayar makanan yang kamu makan, tidak dengannya" Sasuke kembali menatap Sasori dengan tajam.
"kenapa kau bertingkah kekanakan seperti ini. Kau itu CEO perusahaan, Sasuke" ucap Sakura. "aku adalah sahabatmu, dan Sasori adalah rekan bisnis perusahaanmu. Jadi tidak ada masalahkan mentraktir rekan bisnismu sendiri"
Mereka menghabiskan makanan mereka beberapa jam kemudian, akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam rumah sakit, begitupun Sasuke yang mengekor di belakang Sakura. "terima kasih Sasori telah menemaniku makan"
"bukankah ini sudah sering kita lakukan, Sakura" jawaban Sasori cukup membuat Sasuke yang ada dibelakang Sakura kembali menatap tajam Sasori. "kalau begitu hati-hati saat pulang dan beristirahatlah, hari pertamamu bekerja cukup melelahkan"
"baik, terima kasih Sasori"
"ya, sampai bertemu besok, Sakura" ucap Sasori.
"ehhem" Suara yang Sasuke keluarkan menginterupsi interaksi Sasori dan Sakura.
"sebaiknya segera ambil tasmu, Sakura"
Sasori telah menghilang di balik lorong meninggalkan Sakura dan Sasuke yang masih berdiri di depan ruang milik Sakura.
"aku akan berkemas, dan kau sebaiknya menjenguk saudara Ino walaupun sebentar, karena memang belum diperbolehkan untuk masuk ke dalam ruang perawatan. Aku akan menyusulmu" Sakura menghilang di balik pintu ruangan sedangkan Sasuke melakukan apa yang sahabatnya katakan tadi.
Sekitar sepuluh menit, Sakura menyusul Sasuke menuju bangsal perawatan, dari jarak yang masih jauh sudah terlihat Sasuke tengah berbincang dengan Ino dan ada beberapa anggota keluarga di sekitar mereka.
"nona Sakura" ucap Ino begitu melihat Sakura mendekati mereka. "anda akan pulang ke rumah ?"
"iya Ino, tugas jagaku hari ini sudah berakhir. Semoga Sai segera sadar dan cepat pulih ya"
"terima kasih Nona Sakura dan Tuan Sasuke. Pulanglah dengan hati-hati"
"terima kasih Ino" Sakura meneruskan langkah yang sebelumnya tersenyum ke arah anggota keluarga pasien dan Ino, sedangkan Sasuke menundukkan kepala sebagai tanda pamit.
.
.
.
.
.
.
.
Saat ini dua orang tengah berdiam di dalam sebuah mobil mewah yang tengah melaju di jalanan, seseorang yang duduk di kursi penumpang sedang asik menggunakan handphonenya, sedangkan yang berada di belakang kemudi hanya menatap serius jalanan didepan.
Begitu mereka berhenti dilampu merah, Sasuke terlihat mengambil sesuatu dari kursi penumpang bagian belakang, kegiatanya cukup membuat Sakura yang ada disampingnya penasaran.
Set !
Begitu Sakura menoleh, yang ia lihat adalah sebuket bunga yang tadi Sasuke pegang. "untukmu"
"untukku ?" Sakura cukup terkejut dengan apa yang Sasuke berikan padanya.
"bukankah itu untuk saudara Ino tadi"
"tidak, itu untukmu. Kalau tidak mau ya sudah" setelah Sasuke bicara, dia membuka kaca mobil dan hendak membuang rangkaian bunga tersebut.
"jangan !" Sakura kemudian meminta bunga tersebut. "terima kasih" ucap Sakura merona.
"ralat, itu bukan saudara Ino, tapi suaminya" ucap Sasuke.
"jadi Ino sudah menikah"
Sasuke menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "terima kasih untuk makan siangnya"
Sakura menatap ke arah Sasuke. "kau sebenarnya tadi tidak perlu datang ke rumah sakit hanya untuk memberikan ini. Kalaupun mau menjenguk suami Ino langsung saja ke keluarga mereka"
"dan membiarkanmu berdua dengan si merah itu ?"
"ada apa denganmu ?" Sakura kini menatap sahabatnya dengan penuh tanya. "tidak ada yang salah dengan yang aku lakukan, tapi kenapa kau terlihat seperti sedang marah"
"aku hanya berusaha menjadi sahabat yang baik"
"menjadi sahabat yang baik katamu ?" ucap Sakura tidak percaya. "kau adalah sahabat terbaikku sejak dulu, tapi sahabat yang baik tidak akan mempermalukan sahabatnya sendiri didepan temannya" Sakura sedikit meninggikan suaranya.
CKIITT !
Sasuke mengerem kendaraannya secara mendadak, membuat dirinya dan juga Sakura terdorong kedepan cukup keras.
"jadi kau tidak suka dengan apa yang aku lakukan ?"
"tidak, bukan begitu" ucap Sakura. "tapi, tidakkah kau sadar bahwa yang kau lakukan tadi cukup bisa disebut kekanakan, Sasuke" jelas Sakura.
Sasuke hanya diam dan menatap cukup lama kearah Sakura. "baiklah"
SETT !
Sasuke merebut buket bunga yang Sakura pegang kemudian membuka kaca mobil dan melemparkan buket bunga tersebut ke jalanan yang ramai. Sakura yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa ternganga dan mematung.
"Arrggghh, apa yang kau lakukan ! " Sakura kini berubah dengan wajah yang memerah marah mendorong Sasuke walaupun itu tidak berdampak apapun padanya.
Sakura kemudian keluar dari mobil dengan cepat dan mencoba menyeberang jalan raya yang ramai di jam pulang kerja seperti ini. Sasuke yang terkejut dengan yang dilakukan oleh sahabatnya tersebut langsung keluar menyusul. Sakura sudah bersiap jalan namun tertahan oleh tangan yang memegang kuat lengannya, sehingga Sakura kembali tertarik kebelakang. "kau sudah gila hah !"
"kau yang gila !" balas Sakura. "lepaskan aku !"
"itu terlalu berbahaya, aku tidak akan membiarkanmu" jawab Sasuke. "sudahlah, Sakura !" Sasuke masih memegang erat lengan sahabatnya yang akan nekat menyeberang jalan hanya demi buket bunga.
"aku bilang lepaskan, Sasuke !" Sakura masih berusah melepaskan diri.
"aku tidak mau !" kini Sasuke yang mencoba sedikit menyeret Sakura untuk tidak terlalu dekat dengan jalan raya, yang ternyata cukup sulit. Sasuke tidak tau jika tenaga sahabatnya ini cukup besar.
"menyingkir dariku Sasuke, aku mau mengambilnya" namun tiba-tiba Sakura diam mematung menatap buket bunga yang telah hancur terlindas truk yang lewat. Sasuke yang juga menyaksikanya ikut membisu.
Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Sakura, tampak jelas dari raut wajah Sakura begitu sedih dan terluka. Sasuke yang melihatnya menjadi tidak tega, akhirnya secara spontan Sasuke merangkul Sakura untuk menenangkannya. "Oke, baiklah. Aku salah aku minta maaf, Sakura"
"aku akan menggantinya, aku janji. Sekarang mari kembali ke mobil dan pulang" Sakura yang masih tampak syok tersebut hanya bisa menurut dan berbalik mengikuti apa yang Sasuke katakan.
Namun begitu mereka berbalik, Sakura terkejut dan sadar setelah apa yang mereka lakukan. "Siall !!" Sakura kemudian bergegas masuk kedalam mobil dan diikuti oleh Sasuke yang bingung dengan berubahan perilaku Sakura. Ternyata Sakura yang penuh emosi tadi melupakan apa yang mereka lakukan tadi ada di tempat umum dengan banyak pasang mata menyaksikan kericuhan yang Sakura buat. Diluar sana tidak ada yang tidak tau siapa itu Sasuke Uchiha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"bagaimana ini.." Sakura terlihat mondar-mandir di dalam kamarnya kemudian menatap buket bunga yang tergeletak di tempat tidurnya. Beberapa jam yang lalu setelah Sasuke mengantarnya pulang, setelah kejadian yang menghebohkan di pinggir jalan raya tadi. "aku harus menemui Sasuke sekarang" Sakura langsung menyambar tas miliknya dan menuju rumah milik sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Sakura sudah sampai di sebuah bangunan megah yang cukup sering dirinya masuki dulu. Beberapa kali Sakura mengetuk pintu, tidak ada jawaban, akhirnya Sakura nekat untuk masuk. "kenapa sepi sekali, apa bibi Mikoto dan paman Fugaku belum kembali juga ?" Sakura menelisik dalam rumah megah ini. " Kak Itachi juga tidak ada di ruangan" Tampak tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam ruangan yang menjadi saksi bisu karya-karya mahal milik Uchiha sulung tersebut tercipta.
"Nona Sakura ?"
"Harumi" Sakura terkejut begitu melihat salah satu pembantu rumah ini memergokinya masuk sembarangan. "maaf kalau saya masuk dengan lancangnya ke rumah ini, Harumi"
"tidak apa-apa, Nona Sakura" jawab Harumi dengan tersenyum. "Nona Karin dan Nona Sakura sudah seperti anggota keluarga di sini. Jadi Nona Sakura tidak perlu sungkan" jelas Harumi. "Nona Sakura ingin bertemu dengan siapa, apakah tuan muda Sasuke ?"
Sakura hanya menggangguk menanggapi perkataan Harumi. "tuan muda Sasuke ada di kamarnya, Nona"
"baiklah, terima kasih Harumi". Harumi terlihat tersenyum dan kemudian pamit untuk kembali ke dapur.
Sakura telah sampai di pintu kamar milik sahabatnya. Kemudian mencoba mengetuk pintu, beberapa kali tidak mendapatkan tanggapan akhirnya Sakura mencoba membuka sendiri pintu kamar sahabatnya. Begitu masuk kedalam, Sakura tidak menemukan pemilik kamar tersebut. "kata Harumi dia di kamarnya". Sakura mencoba menajamkan pendengaranya, setelah samr-samar mendengar gemericik air di kamar mandi. "apa dia sedang mandi ?" tanya Sakura penasaran. "apa tidak apa-apa aku disini ? sebaiknya aku keluar dulu saja" Sakura memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan meninggalkan kamar tersebut.
Baru saja akan membuka pintu, seseorang yang dari tadi berada di kamar mandi keluar hanya dengan handuk yang melilit daerah pinggang kebawah sampai di atas lutut, sedangkan bagian atasnya hanya dibiarkan terbuka menampilkan badan yang terlihat berotot dengan proporsi yang begitu sempurna itu. Sakura yang tadi menoleh kembali menghadap ke arah pintu merasa gugup dan panik yang tiba-tiba disuguhi pemandangan seperti itu.
"Sakura ?" Sasuke menghentikan langkahnya begitu melihat sosok berambut merah muda berdiri di depan pintu kamarnya membelangkanginya. "kenapa kau ada di sini ?" Sasuke mendekati Sakura yang masih setia menatap pintu kamarnya.
"ano Sa-Sasuke aku.." Sakura membalikkan tubuhnya namun kembali terkejut ketika mendapati sosok didepannya berada cukup dekat dengan kondisi cukup menggairahkan menurut Sakura, yang membuatnya kembali membisu.
"ada apa ?" tanya Sasuke dengan nada datarnya.
"se-sebenarnya aku ingin membicarakan sesuatu padamu, tapi sepertinya waktunya tidak tepat. Aku akan kembali lain waktu saja" jawab Sakura setelah dengan susah mati menahan debaran jantungnya.
Setelah mengatakan hal tersebut Sakura kembali berbalik badan untuk meninggalkan kamar yang cukup membuatnya kepanasan. Namun seseorang menangkap pergelangan tangannya untuk mencegahnya keluar. "tunggu sebentar, duduklah disana" setelah mengucapkan itu, Sasuke membimbing Sakura untuk duduk di sofa kamar miliknya.
Setelah mendudukkan Sakura, dia kembali ke ruang ganti untuk memakai pakaian, dan kembali dengan pakaian santai yang terlihat pas dan sempurna membalut tubuh tegap Sasuke. Sasuke mendekati Sakura yang tengah duduk dan menurutnya cukup terlihat tegang. "kenapa kau terlihat tegang begitu hah ?" tanya Sasuke.
"tegang apa maksudmu, biasa saja" Sakura mencoba mengelak, yang kemudian hanya ditanggapi dengusan dan senyuman tipis dari Sasuke. Kemudian Sasuke memberikan handuk kecil kepada Sakura. "untuk apa ini ?" Sakura menerima handuk tersebut tampak jelas raut bingung di wajahnya.
"bantu keringkan rambutku, sambil membicarakan apa yang ingin kau sampaikan padaku" Sasuke tiba-tiba mendudukkan dirinya dibawah Sakura tepat di bawah kaki Sakura.
Sakura cukup terkejut, namun kembali bersikap biasa dan mulai mengusap rambut milik sahabatnya tersebut dengan handuk. "apa yang ingin kau bicarakan ?"
Baru saja ingin membuka mulutnya, tiba-tiba suara dering handphone di atas meja menginterupsi mereka. Terlihat nama seseorang di layar handphone tersebut. Sasuke bergegas mengambil handphone tersebut. "apa perlu aku aktifkan speakernya ?" tanya Sasuke kepada Sakura saat menoleh ke belakang.
"terserah kau saja" jawab Sakura singkat dan kembali kedalam aktivitasnya yang sedang mengeringkan rambut sahabatnya itu.
"sebaiknya aku aktifkan, sekalian kau bisa titip oleh-oleh darinya kan?" ucap Sasuke. "Halo"
"hai sayang, sedang apa ?" terdengar suara yang begitu Sakura kenal. Entah kenapa suara itu cukup membuat Sakura gugup.
"aku baru selesai mandi"
"Sasuke, aku mau mengabarimu kalau aku akan sedikit lebih lama berada di Paris. Tolong kau kabari Sakura juga ya ?"
"Saku-"
"Oh iya, kau sudah baca artikel di internet ?" Karin tiba-tiba memotong perkataan Sasuke.
"Artikel apa ?"
"Apa yang kau lakukan dengan Sakura di pinggir jalan itu, Sasuke ?"
Pertanyaan Karin kepada Sasuke membuat Sakura mematung tegang, tidak menyangka jika berita yang dia takutkan, muncul begitu cepat. Membuat Sakura merasa bersalah, banyak pikiran di kepala Sakura bagaimana cara menjelaskan kesalahpahaman tentang kejadian yang terjadi waktu itu.
"memang beritanya seperti apa ?" tanya Sasuke dengan ekspresi yang tenang, yang cukup membuat heran Sakura.
"aku bacakan judulnya ya, Pemimpin baru perusahaan Uchiha Company tertangkap berselingkuh, siapakah perempuan tersebut, begitu tulisannya" ucap Karin.
Sasuke kemudian menoleh kebelakang untuk melihat ekspresi Sakura. Sangat tampak sekali kalau Sakura begitu merasa menyesal. "tenang saja, akan aku bereskan semuanya" jawab Sasuke tenang sambil menatap Sakura.
"Sasuke, jika ingin cari skandal, jangan dengan Sakura. Kau tidak merasa kasihan padanya ?"
"aku tidak sedang men-"
"bukankah kau sendiri tau kalau Sakura menyukaimu-"
Deg
TBC
