Naruto Milik Masashi Kishimoto

Masih Newbie | Banyak typo | DLDR | No EYD | Kesalahan lainnya dkk.

.

.

.

Coach, CEO, and My Lover.

#7

.

.

.

Malam ini sama seperti malam malam lainnya. Gelapnya cakrawala ditemani sang purnama. Lampu-lampu jalan menemani manusia melewati malam.

Terlihat biasa, tapi malam ini merupakan malam istimewa bagi pasangan Uchiha Sasuke dan Uchiha Sakura. Tamu-tamu berdatangan masuk ke dalam sebuah ballroom hotel mewah di pusat kota Konoha.

Hampir semua tamu berasal dari kalangan atas berdatangan dengan pasangannya, teman, kekasih maupun teman hidup.

Begitulah Naruto, datang bersama sang kekasih yang terlihat sangat glamour. Shion dalam balutan gaun emas barunya terlihat sangat menawan. Seperti biasa, Naruto menggunakan setelan tuxedo hitam berkelasnya.

.

Sepasang kekasih itu masih bergandengan tangan mesra sampai dua orang berambut maroon menggandeng gadis anggun menghampiri mereka.

"Naruto-kun, ini sahabatku yang kuceritakan saat itu. Sabaku Gaara" Ujar Shion bersandiwara memperkenalkan kekasih aslinya.

Bukannya menjawab, Naruto menatap intens gadis yang sedang digandeng Gaara. Hyuuga Hinata. Sahabat Shion ini sedang menggandeng mesra murid eksklusifnya. Cih, Naruto tidak suka.

Melihat respon Naruto yang belum membalas uluran tangan Gaara, Shion menyiku perut sixpack kekasihnya itu. Dengan canggung Naruto menyalami uluran tangan Gaara dan memperkenalkan dirinya.

.

.

.

Pesta pernikahan pasangan Uchiha dipenuhi dengan musik dan kebahagiaan orang-orang yang mendatangi malam spesial mereka. Tak terasa malam berlalu dan sekarang sudah melewati pertengahan acara.

"Ne Naruto-kun, ku tinggal sebentar ya. Aku ingin ke toilet" Pinta Shion seraya melepaskan tautan tangannya dengan jari-jari tangan Naruto.

Naruto tersenyum dan mengangguk mempersilahkan Shion pergi dari ballroom mewah yang didominasi cahaya emas.

.

Disisi lain Hinata kebingungan mencari-cari partner nya yang mengajaknya ke pesta pernikahan sahabat Naruto. Hinata sedari tadi menyelip diantara banyaknya tamu undangan yang sedang berbincang bincang dengan segelas wine ditangan mereka.

BRUUK

Merasa menabrak tubuh seseorang Hinata segera meminta maaf dan ingin pergi secepatnya.

"Sumimasen saya sedang terburu-buru."

Sayang sekali, pergerakan Hinata tertahan karena ulah sebuah tangan kekar yang menggenggam erat pergelangan tangan putihnya.

Hinata terhenyak dan menatap wajah pemilik tangan kekar yang terlihat tidak asing bagi dirinya.

Iris amethyst gadis anggun itu membalas tatapan sapphire indah didepannya. Kerja jantung Hinata bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.

Perlahan Naruto melepaskan tautan tangannya dan mulai berbicara.

"Kau mau kemana, hm?"

"Itu, aku sedang mencari Gaara-kun" Jawab Hinata mengalihkan tatapannya kesekeliling ruangan besar itu, mengalihkan dirinya dari tatapan menenangkan Naruto yang bisa membuat dirinya jatuh pingsan.

Naruto mendekatkan bibirnya ke telinga Hinata dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Hinata merona. Kali ini tidak ada balasan Hinata yang mengatakan Naruto pria mesum atau apalah itu. Karena dia senang penuturan Naruto barusan.

Keheningan kembali melanda mereka. Menikmati suasana pesta pernikahan pasangan Uchiha. Ah, mereka sangat senang sekaligus iri bisa melihat dua orang manusia itu berbahagia dengan pilihan hatinya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Mata mereka melihat dan hati mereka memilih.

Tiba-tiba, musik pesta yang terdengar menyenangkan berubah menjadi alunan musik instrumental dari lagu Can't Help Falling In Love With You. Naruto mengerti pertanda apa dibunyikannya music itu. Sudah memasuki sesi dansa teryanyata.

Dari seluruh hadirin yang hadir, hanya Naruto dan Hinata yang tidak berdansa mengikuti alunan music karena pasangan pesta mereka belum kunjung datang.

Sebenarnya, dari lubuk hati paling dalam Namikaze Naruto sangat sangat ingin sekali berdansa dengan gadis disampingnya ini. Ah! Tapi Naruto bukanlah orang yang sabaran, ia harus mendapat apa yang diinginkannya sebelum menyesal.

"Eum Hinata, apakah kau mau berdansa denganku?" Pinta Naruto sambil membungkukkan badannya dan mengulurkan tangan kananya pada Hinata.

Dengan kerja jantung bekerja dua kali lebih cepat dan rona merah di pipi, malu-malu Hinata menerima uluran tangan Naruto untuk berdansa.

Perlahan tapi pasti, Naruto menuntun Hinata mengikuti alunan musiknya yang mellow. Mendalami arti dari lagu yang dimainkan si penyanyi. Rasanya kalau seperti ini Naruto tidak tahan lagi. Ia bingung dengan perasaanya. Ia tidak berasa salah sedikitpun mengajak gadis lain berdansa selain kekasihnya. Kalian bisa menilai Naruto pria brengsek atau apalah itu, tapi Naruto sangat sangat nyaman berada di dekat Hinata. Rasa, perhatian, tutur, ketulusan yang diberi Hinata berbeda dengan semua yang diberikan Shion.

Naruto menatap lekat wajah Hinata yang sangat sempurna, ingin rasanya menciumi seluruh bagian wajah Hinata.

Mungkin betul kata ibu Naruto, ia harus segera memutuskan ikatan dengan Shion. Dirinya ingin memiliki Hinata sepenuhnya.

"Hinata, aku men-"

PIIP

Seketika seluruh ruangan menggelap, tidak ada cahaya dari manapun. Riuh riuh terdengar di setiap penjuru ruangan. Naruto segera memeluk Hinata, tetapi orang yang dicarinya sudah tidak ada ditempat.

"HINAATAAAAA" Naruto berteriak dengan lantamnya ditengah kegelapan. Samar samar ia bisa mendengar suara kecil yang mengerangkan namanya berasal dari pintu keluar.

Dengan cepat ia berlari menabrakki semua tamu undangan yang sedang gundah. Nafasnya terengah engah tapi ia tidak peduli.

.

Iris Naruto menangkap sebuah mobil sport berwarna putih terparkirkan didekat pohon depan Hotel. Dari kejauhan ia melihat seseorang berambut maroon memasukkan Hinata dengan paksa kedalam mobilnya.

Dengan sigap ia menaiki ferarri hitam kesayangannya dan bersiap mengejar mobil sport putih yang sudah melaju kencang.

Seakan tak perduli nyawa, Naruto melajukan kecepatan ferarri hitamnya hingga lebih dari batas normal. Kondisi jalanan yang kosong seperti sudah tahu apa yang akan terjadi. Tak ingin membuang waktu Naruto semakin menaikkan kecepatannya mengikuti mobil putih yang dicurigai milik si brengsek Sabaku Gaara.

Naruto mengerti. Gaara sedang memancingnya ke suatu tempat

.

CKIEEEETTT

Naruto memarkirkan mobilnya di depan apartement yang sudah taka sing lagi bagi mata birunya itu. Rasa curiga dan penasaran ia buang jauh-jauh karena teringat dengan seorang gadis, seorang gadis yang ia yakini belahan jiwanya selama ini.

Kakinya berlari dengan sangat cepat memasuki lobby apartemen, pakaiannya sudah sangat berantakan begitu juga pikirannya. Tiba-tiba langkah kakinya berhenti ketika membaca pesan yang baru saja masuk.

104. Sekarang atau kau akan menyesal

Isi pesan yang benar-benar aneh menurut Naruto. Pertama, orang yang menculik Hinata memang sengaja memancing diri Naruto. Kedua, kamar 104 merupakan nomor kamar apartement orang yang masih berstatus menjadi kekasih Naruto sekarang. Ia benar-benar bingung.

Apa Shion juga menjadi korban dari ini semua?

Atau Shion lah menjadi dalang dari kejadian malam ini.

.

Dengan langkah tergesa Naruto sudah berdiri tepat di pintu apartement Shion. Ia membuka paksa pintu yang jelas-jelas tidak terkunci. Perasaan gundah semakin merajai hati Naruto.

Seluruh ruangan gelap gulita. Pandangan Naruto langsung tertuju pada balkon luar yang disinari terangnya bulan.

"Shion! Dimana Hinata?!" Teriak Naruto pada sesosok perempuan berambut panjang yang tengah memandangi sang purnama.

Shion berbalik badan dan berjalan menghampiri Naruto. Tiba-tiba saja tangan nakal Shion meremas erat kerah jas Naruto dan langsung memagut bibir Naruto dengan indahnya.

Naruto sempat terbuai dengan liarnya ciuman dari Shion tetapi suara rintihan dari arah belakang menyadarkan dirinya dari nafsu.

Segera, Naruto mendorong dengan keras tubuh Shion sampai wanita blonde itu tersungkur di lantai yang dingin. Naruto hampir saja meludahnya?

Dirinya berlari ke arah kamar Shion tapi nihil, dia tidak menemukan apa-apa. Hingga suarah erangan dan lenguhan dari arah gudang tertangkap indra pendengaran Naruto.

Baru saja Naruto melangkahkan kakinya keluar dari kamar Shion, tubuhnya membeku ketika melihat pemandangan di depan iris shappirenya.

Hinata, gadis yang sudah mencuri hati dan pikirannya itu berada di pelukkan pemuda brengsek yang juga sedang menodongkan pisau tajam ke arah leher hinata. Mulut Hinata diperban dan kedua tangannya diikat.

Kepalan tangan Naruto yang hampir mengenai wajah Gaara terhenti.

"Kau bergerak sekali lagi maka perempuan ini akan mati" Ancam Gaara semakin menekankan ujung pisau ke leher Hinata.

"BRENGSEK! KATAKAN APA YANG KAU INGINKAN!" Naruto berteriak sekeras mungkin. Hatinya sesak melihat Hinata diperlakukan seperti sekarang, air mata telah mengalir deras dari kelopak matanya.

Bukannya Gaara, malah Shion yang datang dengan anggunnya menjawab pertanyaan Namikaze Naruto.

"Aku menginginkan saham dan harta perusahaan Namikaze, atau tidak, Hinatamu ini menjadi taruhannya." Ujar Shion sambil memainkan beberapa helai rambut indigo Hinata

Naruto bungkam. Ternyata sosok Shion yang sebenarnya sedang ada di depan matanya sendiri. Seharusnya ia tidak pernah memberikan kesempatan bagi Shion. Seharusnya ia mendengarkan perkataan orangtuanya sedari dulu. Semua sudah terlambat.

Dan sekarang Hinatalah yang menjadi taruhannya. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia tidak ingin kehilangan Hinata yang sangat berarti baginya tapi di sisi lain ia tidak mungkin dengan mudah menyerahkan seluruh harta perusahaan bagi Shion dan rekan brengseknya.

Shion tertawa licik. "Kehh, sudah mulai bimbang tuan Namikaze? Berikan jawabannya atau gadis ini menjadi korban"

Hinata yang sudah terisak mengode Naruto agar tidak memberikan hartanya. Lebih baik dirinya mati tanpa harus membebankan Naruto.

Tubuh Naruto hanya bisa bergetar, ia harus mengambil keputusan sekarang.

Kepala Naruto yang menunduk mulai terangkat

"Baiklah Shion aku akan–"

DOOOR

Satu buah peluru berhasil menembus punggung Sabaku Gaara yang sepertinya sudah tak sadarkan diri. Hinata lagsung terjatuh dari posisi awalnya. Ia tidak peduli sekaligus sangat berterimakasih pada orang yag tengah menembak Gaara. Dengan sigap Naruto segera menghampiri tubuh Hinata yang sangat pucat.

Tapi ia tak sadar akan Shion yang sudah berada di belakang punggungnya mengambil pisau berujung tajam dan siap menghabisi Naruto

.

.

.

Bersambung

Akhirnya update juga. Maaf kalau updatenya kelamaan hehe.

Oke, kali ini saya ga banyak bacot deh hehe,, terimakasih buat yang masih membaca fic saya yang tak seberapa ini huhu

Akhir kata,, silakan di review =))