KICK THEN KISS CHAPTER 7 : RUN
.
.
.
Esok paginya Jungkook sudah bersiap pergi ke kampus seperti seharusnya. Ia telah mandi dan berpakaian. Dan sekarang ini Taehyung dan Jungkook sedang menikmati sarapan di meja makan Kim's Mansion.
Meja makan ini mampu menampung 20 orang disisinya dan satu orang di setiap ujungnya. Taehyung duduk di salah satu ujung meja, dan Jungkook duduk disebelahnya. Ini pertama kalinya setelah sekian lama Jungkook sarapan dengan seseorang. Sejak tinggal disini, Jungkook tidak pernah makan bersama Taehyung yang notabenenya pemilik bangunan besar ini, karena itulah ada sedikit rasa senang bagi Jungkook.
"Aku senang sekali dengan permainan kemarin." Ucapan Jungkook memecah keheningan antara mereka berdua tapi ia tidak berhenti untuk terus memasukan telur mata sapinya ke mulut. Jungkook tersenyum kala membayangkan untuk kesekian kalinya permainan basket kemarin di hutan pinus disela-sela kunyahannya.
Dua maid datang mendekat dan menuangkan jus jeruk kegelas Jungkook dan Taehyung, tapi Taehyung memberi gesture menolak saat maid tersebut melakukannya. Taehyung bilang dia sedang tidak ingin minum itu dan meminta dibawakan sari apel. Maid tersebut mengangguk, membawa kembali jus jeruk, dan kemudian pergi keluar ruang makan.
"Kau benar-benar senang?" Taehyung kembali sibuk memakan sarapannya namun sempat melirik Jungkook saat bertanya. Sedangkan Jungkook yang ditanya menjawab dengan anggukan yang bersemangat. Poni lembutnya melompat-lompat diatas alis matanya.
Dilihat dari tingkah laku sekecil itupun, Jungkook yang sekarang ini berusia 20 tahun masih memiliki pribadi anak kecil dalam dirinya, dan Taehyung tahu itu.
"Dan apakah kita bisa melakukannya lagi?" Jungkook bertanya dengan hati-hati, ia mengulum bibirnya gugup saat melihat Taehyung berhenti sebentar, memikirkan jawabannya. Dan Jungkook tidak bisa menyembunyikan raut memohon di wajahnya. Taehyung tersenyum, cukup lembut hingga membuat Jungkook sempat terkejut.
"Tentu." Tak bisa ditahan Jungkook langsung tersenyum lebar mendengarnya, bahkan deretan giginya yang lucu seperti kelinci-pun terlihat. "Tapi jika aku benar-benar ada waktu, Jungkook." Tambahnya, tapi itu tidak menyurutkan senyum Jungkook. Bagi Jungkook yang hidup dengan seorang ayah mafia tentu tahu betapa sibuknya orang-orang ini. Jadi dia sudah terbiasa menunggu jika ingin bermain bersama ayahnya, dan itupun berlaku antara dia dan Taehyung.
"Oke. Dan… lain kali kita harus mengajak Jimin dan Yoongi-hyung!" Jungkook tersenyum dengan binar matanya yang penuh semangat, sedangkan Taehyung membersihkan mulutnya dengan serbet, satu alis rapinya terangkat, arti dari sebuah pertanyaan.
"Siapa?" Tepat setelah Taehyung bertanya, bibir cherry yang tadinya melengkung manis langsung mengerucut sebal.
"Jimin! Park Jimin … temanku yang berambut oranye itu dan Yoongi -hyung adalah kakak laki-lakinya Jimin, dia bermain dengan sangat baik. Kita bisa bermain dalam tim!" Taehyung ber-oh-ria dan mengangguk mengerti.
"Tentu." Dengan mudah Taehyung mengizinkan dan senyum Jungkook semakin mengembang.
"Bicara tentang si rambut oranye itu, apa kau sudah mempersiapkan penjelasan padanya, Kim Jungkook?" Seketika senyum manis Jungkook luntur dan tergantikan ekspresi horror pemuda itu.
Jungkook lupa, hari ini dia mungkin akan mati ditangan Jimin.
.
.
.
Mobil Taehyung dan Jungkook sudah terparkir didepan mansion, sudah dalam keadaan siap dengan supir yang menunggu di sisi mobil. Disana juga ada Namjoon yang menunggu di sisi mobil Taehyung.
Angin bersemilir dengan lembutnya, membawa aroma musim semi yang menyegarkan. Jungkook yang menyadari itu tersenyum, awal pagi ini sangat menyenangkan, pikirnya.
"Selamat pagi, Tuan Kim." Sapa Namjoon, senyum berdimple nya tercetak jelas pada wajah tampannya, begitu kontras dengan wajah-wajah serius anak-anak buah Taehyung disekitar sana. Jungkook tersenyum geli melihatnya, tapi ada hal lebih lucu disana karena Taehyung hanya melirik Namjoon dan sama sekali tidak menggubris sapaan ceria itu. Tapi pria dengan surai blonde lembut itu tetap menyunggingkan senyumnya. "—Dan selamat pagi, Jungkook." Lanjut Namjoon, Jungkook tersenyum.
"Selamat pagi juga." Balasnya ceria, ia lontarkan senyum mengembang pada Namjoon dan kemudian melangkahkan kaki mendekati mobilnya.
Taehyung-pun berjalan mendekati mobilnya, dengan segera salah satu anak buahnya disana membukakan pintu untuknya namun, saat hendak memasuki mobil suara Jungkook menghentikannya.
"Hati-hati dijalan!" Teriak Jungkook dengan senyum lebar . Namjoon tersenyum mendengarnya tapi Taehyung hanya acuh dan kemudian masuk kedalam mobilnya, bahkan tidak meliriknya sedikitpun. Melihat itu, Jungkook hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal. Taehyung kembali menyebalkan, pikirnya.
Namjoon yang melihat tingkah laku Jungkook hanya bisa tersenyum maklum. "Sudah-sudah, segera masuklah." Titah Namjoon, Jungkook mengangguk dan masuk kedalam mobilnya, disusul Namjoon yang masuk kedalam mobil Taehyung. Dan tak menunggu lama kedua mobil itu segera melaju pergi meninggalkan Kim's Mansion.
.
Didalam mobil Taehyung, seperti biasanya, suasana selalu hening dan sepi. Taehyung duduk dikursi belakang sambil membaca dokumen laporan mengenai perkembangan klub-klub malamnya dengan seksama, mengingat peristiwa kematian overdosis di beberapa klubnya mungkin saja berefek buruk pada penurunan pengunjung. Tapi, ia tidak menemukan itu. Usahanya baik-baik saja, dan ia tersenyum puas setelahnya.
Namjoon yang duduk di kursi sebelah supir memperhatikan Taehyung lewat kaca spion. "Tuan, aku sudah mendapat kabar dari Hope." Ucapnya.
Taehyung mengangguk pelan dan mengulurkan tangan untuk meraih amplop kertas yang diberikan Namjoon. Pria Kim itu membuka segel khas kelompok mafia milik Hopedari amplop dengan pisau khusus yang diberikan Namjoon.
Didalam amplop terdapat sebuah koran dengan merek berbeda dan beberapa lembar kertas penting. Taehyung membaca koran pertama, dan disana terpampang di halaman pertama dengan foto yang memenuhi seperempat halaman abu-abu itu sebagai berita utama. Tertulis disana "Kecelakaan Terheboh 5 Mahasiswa." dimana kecelakaan mobil yang terjadi di jembatan yang membuat mobil yang mereka tumpangi melompat dan jatuh kedalam sungai tadi malam. Semua orang didalamnya tidak terselamatkan.
Taehyung tidak berekpresi melihat berita itu. Dan kemudian melihat lembar-lembaran kertas didalam amplop, tidak butuh waktu lama untuk Taehyung membacanya untuk mengerti isinya.
"Apa-apaan ini?" Desisnya. Namjoon menghela nafas.
"Dia bilang dia tidak mau membuat banyak drama." Taehyung melempar kertas-kertas itu kesamping, ekspresinya terlihat sangat kesal.
"Dia hanya cari untung." Namjoon mengangguk setuju.
"Tapi menurut pendapat saya pribadi, menjual organ tubuh mereka lebih baik. Setidaknya kita tidak perlu terlalu banyak menangani polisi."
"Aku tidak peduli dengan polisi yang akan mencari-cari akar masalahnya. Aku hanya ingin kecoa-kecoa itu merasakan ajal yang mengerikan, hingga keluarga mereka juga tersiksa karenanya." Taehyung mendesis. "Dan kecoa-kecoa lainnya diluar sana tahu untuk tidak pernah mengganggu milikku, apalagi menyakitinya." Namjoon tersenyum kecil.
"Mau bagaimana lagi, Hope sudah melakukannya. Kau ingin menelfonnya?" Taehyung menggeleng.
"Tidak perlu. Aku muak melihat wajah idiotnya." Namjoon tersenyum.
"Bicara tentang 'milik' muitu, kulihat kemarin kalian bersenang-senang di lapangan tua." Taehyung menatap malas Namjoon.
"Urusi masalahmu sendiri, penguntit." Namjook terkekeh.
"Aku hanya ingin tahu." Taehyung tidak menanggapi itu dan memilih melihat keluar jendela mobil, tidak peduli.
.
.
.
Jungkook dan Jimin duduk di kursi taman yang masih berada di lingkungan kampus mereka. Tempat mereka berada sedikit jauh dari keramaian para mahasiswa-mahasisiwi disana. Sebuah pohon menaungi tubuh mereka agar tidak tersengat teriknya mentari hari itu.
Jimin menatap kedepan dengan tatapan serius namun sarat akan kekesalan. Tangannya terlipat dan kakinya menyilang bagaikan penguasa yang murka sedangkan Jungkook yang duduk disampingnya hanya bisa diam, menunggu Jimin berkata sesuatu.
"Kau mau diam saja? Tidak ingin menjelaskan 'sesuatu'?" Jimin berbicara dengan nada kesal, mata kecilnya menunjukan kobaran api yang membara. Jungkook menghela nafas..
"Apa yang kau ingin tahu? Tanyakan saja…." Jawaban Jungkook terdengar acuh, Jimin yang mendengarnya menatap tak percaya sahabatnya ini. Matanya melotot dan mulutnya terbuka secara reflex.
"Huh? Tingkah seperti apa itu? Setelah membohongiku, sekarang kau ingin bersikap tidak peduli seperti tadi padaku?!" Jungkook hanya bisa menghela nafas lagi untuk menanggapi sahabatnya yang sudah naik darah ini.
"Jimin, aku hanya tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan ini semua. Bukan maksudku bersikap begitu." Jimin mendecih namun kemudian menghela nafasnya kasar.
"Kau bisa memulainya dengan alasan kenapa kau bisa menikahinya?" Jimin kembali pada ketenangannya. "Dan itu semua haruslah jelas." Jimin menekankan kata terakhirnya agar Jungkook tidak mempermainkannya dengan menceritakan hal yang berbelit-belit.
Jungkook menggelengkan kepalanya pasrah. Jimin benar-benar kesal padanya dan mau tidak mau Jungkook harus mengikuti kemauannya agar semua ini segera selesai.
"Baiklah baiklah, oke, eum—jadi—kurasa kau bisa menyebutnya pernikahan politis walau aku tidak tahu alasan pastinya kenapa ayahku tida-tiba menikahkan aku dengan dia, yang kutahu ayahku sedang dalam masalah, Jim. Dan aku juga tidak tahu keuntungan seperti apa yang didapat pria itu, bahkan juga keuntungan seperti apa yang didapat oleh ayahku, kurasa dia mencoba melindungiku?" Ada keraguan diakhir kalimat itu, karena jauh dilubuk hati Jungkook terbesit hal lain yang tidak mampu pemuda itu katakan, karena itu sangat menyakitkan. Bagaimana jika ayahnya bukan ingin melindunginya, tapi hanya semata untuk mendapatkan uang atau apapun itu yang mengenai usaha ayahnya.
Jimin mengangguk. "Lalu, kapan kau menikah dan dimana hingga aku tidak tahu—tidak diberi tahu maksudku." Jimin menekan kata-kata terakhirnya.
"Seminggu lebih yang lalu kurasa. Pernikahan ini sangat mendadak, Jim. Malamnya aku diberitahu dan saat aku membuka mata aku sudah ada di benua lain, aku diculik ayahku sendiri ke Kanada walau tahu aku belum menyetujuinya. Karena ini semua terjadi begitu mendadak, aku jadi belum sempat bercerita padamu." Jimin mengangguk lagi.
"Jadi pada akhirnya kau menyetujuinya." Jungkook mendengus.
"Ini semua kulakukan untuk ayahku, sudah kubilang, bukan?, kurasa dia ada dalam masalah."
"Dan kenapa disaat kau ada waktu, kau malah berbohong padaku, idiot?!" Jimin menaikan suaranya, membuat Jungkook hanya bisa menggigit bibirnya, merasa bersalah.
"Karena aku menjijikan…." Ucapan Jungkook membuat Jimin lagi-lagi menatap tak percaya pemuda disampingnya ini.
"Memangnya kau kenapa?" Jungkook menghela nafas.
"Aku menikah dengan seorang pria, bodoh. Kau pasti menganggapku jijik!" Jimin menepuk dahinya, lagi-lagi dibuat tak percaya.
"Hanya karena itu?" Jungkook mendelik.
"Ini tabu dinegara kita, idiot! Dan juga pastinya kau!" Jimin menggeram.
"Orang lain mungkin mengatakan kau menjijikan, tapi tidak dengan aku. Kau pikir sudah berapa lama kita berteman dan seasing apa aku padamu hingga hanya karena itu kau pikir aku akan membuangmu?!" Jungkook terdiam. "Bagaimana bisa kau tidak percaya padaku dan berpikir seperti itu?" Suara Jimin melemah. "Aku lebih membenci kau yang berbohong, Jungkook." Jungkook menggigit bibirnya lagi.
"Maafkan aku…." Ucap tulus Jungkook. Jimin menghela nafasnya, pandangannya dia alihkan ke langit yang begitu cerah diatas mereka.
"Jangan lakukan itu lagi. Kalau ya, kupastikan untuk mematahkan tulang-tulangmu…, sobat." Jungkook terkekeh dan mulai berani menatap penuh Jimin, kemudian tersenyum simpul.
"Maaf…."
"Jangan meminta maaf lagi, idiot. Aku merasa jadi orang jahat, apalagi setelah tahu banyak masalah yang telah kau lalui." Jungkook tersenyum lagi.
"Baiklah."
Jimin melipat tangannya kedada dan kembali menatap langit. "Uh, kasihan sekali Jungkook kita ini." Jungkook mengikuti arah pandangan Jimin, dan awan-awan lembut bergerak pelan disana.
"Ya, kasihannya aku." Jimin terkekeh mendengarnya tapi tidak lama dahi Jimin berkerut karena sesuatu terlintas diotaknya.
"Kook, apa dia jahat padamu?" Jungkook menaikan sebelah alisnya heran, tapi kemudian pikirannya menerawang pada segala waktu-waktu yang telah ia lalui bersama Taehyung.
"Bagaimana ya, dia itu selalu dingin, auranya mengintimidasi, dan sering sekali membuatku kesal karena sungguh, ia sangat menyebalkan... Tapi dia tak pernah menyakitiku, kurasa." Jimin melirik Jungkook yang menatap awan-awan.
"Jadi kau menyukainya?" Jungkook langsung berpaling dan melotot pada Jimin.
"Kau gila? Tidak!" Jimin melirik Jungkook malas.
"Hei, dengar ya. Selama ini yang aku tahu kau tidak pernah tertarik dengan hubungan romantic, Kook. Dan sekarang kau sudah menikah saja, kupikir mungkin kau mulai…ja-tuh-cin-ta?" Jungkook menatap jengah Jimin.
"Kenapa aku bisa menyukainya jika aku bahkan tidak bisa menyukai orang lain sebelumnya?"
"kenapa tidak." Jimin terkekeh.
Jungkook hanya bisa menampakan wajah kesalnya karena pikiran gila Jimin. Tapi walau begitu, ia bersyukur, Jimin sepertinya sudah memaafkannya.
"Tentang kejadian kemarin di klub, kau tidak ingin tahu?" Tanya Jungkook pelan, Jimin menggendikan bahunya tidak peduli.
"Aku tidak mau dengar bagaimana ceritanya, aku sudah cukup frustasi hanya dengan melihatmu terbaring dijalanan karena obat-obatan sialan itu. Tapi karenanya, aku minta maaf karena tidak bisa menjagamu." Jungkook menepuk lembut bahu Jimin.
"Bicara apa kau ini. Itu bukan salahmu dan baiklah kalau kau tidak mau tahu."
"Memang berbahaya bermain di klub malam seperti itu, kau bisa bertemu pengguna narkotika dan mereka akan mencari teman baru, contohnya mungkin kau. Dan lagipula aku tidak perlu khawatir karena pasti suamimu itu sudah mengatasi orang-orang yang menyakitimu kemarin." Jungkook tersenyum kecut.
"Mungkin."
"Kau tahu, malam itu bukan hanya tentangmu, bung. Kau ingat Irene-sunbae yang pernah aku ceritakan?" Jungkook langsung membeku. "Kemarin orang tuanya menghubungi pihak kampus dan mengatakan kalau gadis itu kabur dengan pacarnya malam itu. Dan hilang entah kemana sampai saat ini." Jungkook mengerutkan dahinya.
"Kau tahu darimana?"
"Orang-orang berbicara."
"Dan kau percaya?" Jimin menggendikan bahunya.
"Ya. Mau bagaimana lagi, banyak fakta yang menyebutkan Irene-sunbae itu pemberontak dan banyak orang tahu ternyata dia sudah punya kekasih dari kampus lain. Jadi tentang dia kabur dengan pacarnya… aku percaya." Jungkook menunduk.
"Dia benar-benar menghilang?" Jimin mengangguk.
"Ya, sejak malam itu tidak ada yang melihatnya, atau menghubunginya. Gadis itu benar-benar mencintai kekasihnya, tapi orang tuanya tidak setuju, kurasa itu masuk akal hingga dia kabur begitu saja." Jimin terkekeh. "Seperti drama saja."
Jungkook melihat Jimin yang tersenyum karena berpikir bahwa kisah Irene-sunbae ini sangat konyol, namun ada sedikit kesedihan sebenarnya. Bagaimanapun juga Jimin pernah menaruh hati pada seniornya itu.
Tapi Jungkook sekarang tidak bisa peduli akan hal itu, karena dirinya sekarang ini sedang diliputi ketakutan. Benar kata Jimin, orang-orang yang menyakitinya malam itu akan dibereskan oleh suaminya. Dan orang itu adalah Irene-sunbae. Dan Jungkook semakin yakin setelah mendengar kisah konyol itu. Entah apa yang terjadi sebenarnya pada gadis pirang itu.
.
.
.
Jungkook dan Jimin kebetulan pada hari ini sama-sama memiliki jam pulang kuliah yang sama. Dan Jimin menawarkan diri—memaksa—untuk menemani Jungkook hingga dijemput supirnya. Sekarang ini mereka berada jalan kecil yang sedikit jauh dari kampus, tempat dimana biasanya Jungkook diantar dan dijemput supirnya.
"Kau harus berjalan sejauh ini?" Jungkook mengangguk.
"Ya, aku tidak mau anak-anak kampus melihatku diantar-jemput mobil."
"Tapi, bagaimana jika hujan?"
"Kurasa kau tahu alat yang dibuat manusia yang sering disebut payung, Jimin." Jimin memutar bola matanya jengah.
"Tetap saja itu merepotkan. Ini sama saja seperti jaman SMA dulu saat kau pergi dan pulang dengan bus." Jungkook tidak menjawab lagi karena sebuah mobil berhenti didepan mereka berdua.
Pak Ahn, supir mobil Jungkook keluar dan berlari kecil untuk membukakan pintu mobil untuk Jungkook. Jimin melihat pemandangan itu dengan begitu terpukau.
"Gila. Aku tahu kau selama ini seorang 'Tuan Muda' tapi baru kali ini kau diperlakukan benar-benar seperti itu." Jimin menelusuri lekuk mobil dan cat nya yang berkilauan. "Mobil yang keren, bung." Jungkook jengah dengan kelakuan sahabatnya ini dan memilih melihat kearah Pak Ahn.
"Pak Ahn, bolehkah kita mengantar dulu temanku ini?" Tanya Jungkook, Pak Ahn terlihat ragu, tapi melihat wajah penuh harap Jungkook pria tua itu mengalah.
"Ya boleh, Tuan. Tapi hanya mengantar ya." Jungkook mengangguk dan Jimin bersorak ria.
.
.
.
Jungkook berbaring di sofa panjang di ruang baca Taehyung dengan selimut yang menutupi dari dada hingga ujung kakinya. Pemuda itu sedang membaca buku kuliahnya dengan serius. Dua hari tidak kuliah cukup merepotkannya dengan ilmu yang terlewati, jadi malam ini pemudai bersurai hitam itu berencana bergadang.
KREKK—suara pintu terbuka, tapi tidak membuat Jungkook berpaling hanya untuk tahu siapa yang membukannya, karena ia tahu saja orang itu tidaklah lain adalah Taehyung.
Pria dengan surai hazelnut dan iris mata yang lebih gelap dari rambutnya serta kulit tan yang eksotis itu berjalan mendekati Jungkook yang tetap tidak bergeming dari kegiatan belajarnya. Taehyung mendudukan dirinya di sofa single yang berada disamping sofa Jungkook.
Taehyung mengamati Jungkook yang begitu nyaman berbaring disofa dengan selimut yang menyelimutinya. Terlihat begitu hangat.
"Kau berencana tidur disini?" Jungkook mengangguk malas.
"Aku harus belajar." Ucap Jungkook.
"Kau bisa belajar dikamar." Jungkook diam tidak menjawab dan keheningan berlangsung beberapa menit. "Kim Jungkook!" nada suara Taehyung sedikit meninggi dan Jungkook langsung mendelik pada pria itu. Dan saat pandangan mereka bersibobrok, Taehyung tahu ada ketakutan dan amarah di kedua iris sekelam malam tak berbintang milik Jungkook.
"Kau, apa yang kau lakukan pada Irene-sunbae?" Tanpa basa-basi Jungkook mempertanyakan pertanyaan yang berputar seharian ini dikepalanya. Jungkook mendudukan dirinya kemudian menatap nyalang Taehyung didepannya. Taehyung yang terdiam sekarang, dirinya hanya menyilangkan kakinya dan melipat tangannya sebagai balasan tatapan berani Jungkook. Ia melihat Jungkook dengan pandangan santai, sesantai posisinya dan hal itu membuat Jungkook kesal bukan main. "Kau apakan dia?!" Suara bentakan Jungkook tak menggentarkan Taehyung, justru senyum miring yang memuakan terpatri di wajah tampan itu.
"Ada hal apa hingga kau bertanya?" Suara Taehyung berubah menjadi dingin.
Mata Jungkook menatap nanar Taehyung. "Kau tahu…."
"Ya, aku tahu gadis itu." Jungkook menelan salivanya kasar.
"Kau tidak membunuhnya, 'kan?"
"Kenapa aku harus membiarkan hidup orang yang telah melukai miliku tetap hidup bahagia?" Ucapan cetus Taehyung membungkam Jungkook.
Taehyung menghela nafas saat Jungkook tidak lagi merespon. "Kau tidak perlu memikirkan gadis itu lagi. Sudah memang salahnya dari awal. Kuberi tahu, dia termasuk bandar obat-obatan itu. Maka, jika ia mati, bukankah aku pahlawan?" Jungkook menelan salivanya kasar untuk kesekian kalinya.
"Kau menakutkan…." Taehyung tersenyum miring, menatap remeh Jungkook.
"Jangan Jungkook, kau tidak boleh seperti itu. Kau tahu faktanya aku seorang mafia. Dan bukankah aneh untuk anak mafia sepertimu berkata begitu? Tuan Jeon tidak pernah menyakiti orang maksudmu?" Jungkook bungkam dan menunduk sedalam mungkin, tidak mampu membalas kata-kata Taehyung.
Taehyung menyandarkan dirinya disofa santai, menatap Jungkook dengan pandangan serius.
"Jangan pernah merasa bersalah untuk orang yang telah menyakitimu, Jungkook."
.
.
.
Bohong jika Jungkook bilang ayahnya tidak pernah menyakiti bahkan membunuh seseorang. Dan mungkin tidak lagi 'seseorang' tapi ada puluhan atau ratusan nyawa yang hilang karena kehendak Tuan Jeon.
Tuan Jeon pernah menjadi mafia besar karena bisnis judi yang saat itu hanya dia satu-satunya pemilik klub-klub judi yang tersebar di 45% wilayah Korea Selatan. Orang-orang yang lemah diri mudah sekali terbawa. Bukan hanya dari kalangan atas, orang-orang miskin-pun bisa bermain ditempatnya.
Cara bersih tidaklah berlaku dalam bisnis gelap ini. Katakanlah Tuan Jeon adalah penipu ulung, ia menipu kliennya, menipu polisi, dan menipu masyarakat.
Dan Jungkook kecil tumbuh pada era emas Tuan Jeon.
Tapi Jungkook atas kebaikan dan kelembutan dari ibunya yang kuat, tetap menjadi pribadi yang baik. Sangat lucu bagaimana bisa anak ini tidak terpengaruh apapun walau nyatanya saat itu kegelapan mengitari dirinya dan pikiran sederhananya.
Jungkook muda mengerti jika perbuatan ayahnya adalah salah, tapi seperti ibunya saja, ia terlalu menyayangi ayahnya, dan hanya diam dengan semua itu.
Namun karenanya, Jungkook tumbuh menjadi pribadi pemalu dan menutup diri dari orang-orang. Ia takut jika orang-orang tahu siapa ayahnya sebenarnya, dan ia tahu, ia tidak mampu menghadapinya.
Beruntunglah Jungkook yang menemukan Jimin, seseorang yang bisa mengerti dirinya.
Kembali ke masalah sebenarnya.
Hal yang membuat Jungkook begitu shock dengan apa yang terjadi adalah, seseorang mati karena menyakitinya, dan orang itu adalah eseorang yang dia kenal. Sebanyak apapun nyawa yang telah direnggut Tuan Jeon, semua itu hanyalah jumlah tanpa nama bagi Jungkook. Tapi kali ini berbeda, maka tak bisa ditahan ada rasa ketakutan Jungkook pada Kim Taehyung.
Dan perasaan takut itu membuatnya menghindari Taehyung.
.
.
.
Hari-hari telah terlewati dengan Jungkook yang menghindari Taehyung, walau waktu bersama mereka sudah cukup minim, tapi tingkah Jungkook ini semakin membuat waktu bersama semakin kecil. Jungkook berusaha untuk segera tidur sebelum Taehyung pulang. Dan mengunci pintu ruang baca, jika Taehyung pulang lebih awal. Dan bertingkah sepasif mungkin saat mereka sarapan paginya.
Sudah dua minggu lebih ini terjadi. Tapi, entah kenapa Taehyung-pun tidak peduli dengan tingkah Jungkook ini. Ia membiarkan pemuda itu melakukan apa yang dia inginkan. Lagipula dia semakin sibuk setelah pernikahannya, ia tidak punya waktu untuk meladeni tingkah kekanakan Jungkook.
Taehyung dan Namjoon sedang berada di ruang kerja Taehyung di Kim's Mansion. Taehyung duduk di meja kerjanya, sedangkan Namjoon bekerja di sofa di ruangan itu. Seperti biasanya, mereka berdua memeriksa setiap dokumen dengan teliti. Mungkin ini adalah rahasia Taehyung mengapa pria ini bisa sesukses sekarang di dunia gelap para mafia yang persaingannya sangat kejam. Taehyung selalu memeriksa berkas-berkasnya sendiri, dan segala keperluan selalu ia ketahui. Maka, tidak ada kecerobohan sedikitpun yang bisa menjatuhkan dirinya.
Dan keberadaan orang terpercaya miliknya, Namjoon, semakin menguatkan posisinya.
Taehyung menyimpan berkas terakhir diatas tumpukan di sebelah kirinya. Ia sudah selesai dengan berkas hari ini, sama seperti Namjoon yang sudah menyelesaikan berkas-berkas yang akan besok Taehyung periksa.
"Kau sudah selesai?" Taehyung mengangguk, pria itu menyandarkan dirinya di kursi kerjanya yang nyaman. "Ingin ku suruh maid membuatkanmu teh?" Taehyung menggeleng.
"Tidak perlu. Aku ingin segera tidur setelah ini. " Namjoon mengangguk dan merapihkan berkas-berkas diatas meja.
"Boleh kubertanya sesuatu?" Namjoon melihat kearah Taehyung yang mengangguk tanpa membuka matanya.
"Kau akan membiarkan Jungkook seperti itu untuk berapa lama?" Tanya Namjoon, Taehyung menghela nafas.
"Namjoon, sudah kubilang jangan mencampuri hal ini."
"Tidak, aku harus. Kau bisa saja terlihat tidak peduli, tapi aku tahu kau sangat memikirkannya. Kau tahu? Kau menjadi tidak fokus akhir-akhir ini, dan melimpahkannya dengan berkerja terlalu keras dari biasanya."
"Kita hanya semakin sibuk, Joon." Namjoon mendengus pelan, Taehyung hanya membuat alasan, ia tidak suka itu.
"Hei, aku sudah bekerja untuk padamu selama 5 tahun, aku hampir tahu segala tentangmu. Dan kau tidak dalam keadaan baik sekarang ini." Taehyung mendesis.
"Sejak kapan kau menjadi keras kepala begini?"
"Sejak anak itu—Jungkook kemari. Aku tidak menyukai keberadaannya yang melemahkanmu begini." Taehyung memijit pangkal hidungnya. Namjoon sedang keras kepala, dan saat pria itu seperti ini, Taehyung tidak bisa menghindar.
"Jujur, kau tampak menyedihkan." Ucap Namjoon lagi.
"Dengar, sekali lagi kukatakan. Mungkin dia memang melemahkanku, tapi camkan dalam otakmu bahwa Jungkook juga menguatkanku, dan kau sudah tau mengapa begitu. Semua keputusan yang aku buat sudah kupikirkan baik-baik, dengan segala konsikuensinya. Sekarang ini dia hanya merasa takut padaku."
Namjoon menatap nanar. "Lalu, kenapa kau hanya diam saja? Kau harus memperbaikinya. Kau mencintainya, bukan? Kau tidak ingin dia juga jatuh cinta padamu? Apa kau sadar, setiap kali dia melihatmu, yang ada dipikirannya kau ini monster!"
Taehyung tergelak. "Aku memang monster, Joon." Ia berdiri dari duduknya. Seringaian tipis tercetak disudut bibirnya, dengan gerakan lembut pria itu menjilat bibir bawahnya.
"Kau tahu Jungkook adalah—apa ya kita menyebutnya?—Seorang Maiden Heart?Kau bisa mengerti itu kalau tahu dia marah luar biasa hanya karena aku mengambil ciuman pertamanya. Seperti yang Jeon tua itu katakan saja, dia dibesarkan secara normal oleh ibunya. Dan sekarang ini dia bersamaku, dia harus mengerti manusia seperti apa aku. Aku tidak ingin dia jatuh padaku tanpa tahu aku ini apa. Kau bilang tadi apa? Monster? OK, sebut saja begitu." Namjoon mendengus.
"Jadi, kau ingin dia menerimamu apa adanya?" Taehyung mengulum senyumnya.
"Bukan hanya itu, tapi dia juga harus menerima siapa dirinya sebenarnya. Ia lahir dari seorang pria penjahat dan sekarang menjalin janji keabadian bersamaku—seorang penjahat. Suatu hari… mungkin, dia juga akan menjadi seorang penjahat?"
"Kusimpulkan untuk sekarang ini, kau tidak akan melakukan apapun?" Taehyung mengangguk.
"Tidak. Aku menunggu Jungkook sadar atas segalanya dan itu tidak akan lama. Firasatku, semua itu akan cepat terjadi."
"Dan kau tahu sendiri, firasatku tidak pernah meleset."
.
.
.
Sebulan telah berlalu sejak pernikahan Jungkook dan Taehyung. Mereka berdua melalui tiga minggu terakhir ini dengan hubungan yang dingin. Jungkook sibuk dengan kuliahnya dan Taehyung-pun sibuk akan pekerjaannya.
Jujur Jungkook masih merasa takut pada Taehyung hingga sampai saat ini. Dan kebiasaannya untuk menghindari Taehyung masih ia lakukan.
Tapi walaupun begitu, Jungkook tidak bisa menghindari sarapan bersama pria itu. Setiap pagi Jungkook harus tetap melihat pria bersurai hazelnut itu disatu meja makan bersamanya. Untunglah Taehyung-pun tidak mencoba bicara padanya lagi, tidak seperti hari-hari pertama setelah kejadian itu.
Dentingan alat makan memenuhi ruang makan Kim's Mansion, Jungkook maupun Taehyung sibuk dengan makanannya sendiri. Atmosfir disana begitu dingin, bahkan para maid bergidik ngeri karenanya.
Namun atmosfir itu pecah saat Namjoon membuka pintu ruang makan dengan kasar dan berjalan cepat kearah Tuannya, Kim Taehyung. Semua orang disana terkejut, tapi saat melihat wajah serius pria bersurai blonde itu, dan dirinya yang terburu-buru, Jungkook tahu sesuatu tidak beres.
Namjoon berbisik ditelinga Taehyung. Satu kalimat—dua kalimat, dan mata Taehyung melirik Jungkook.
Perasaan Jungkook langsung tidak nyaman, sebenarnya apa yang terjadi?
Tapi tidak butuh Jungkook menunggu terlalu lama, karena tepat setelah Namjoon berbicara, Taehyung dengan wajah seriusnya memanggil namanya dan mengatakan suatu hal tak terduga.
"Ayahmu, Tuan Jeon, dia masuk rumah sakit."
.
.
.
T.B.C
.
Hai guys, SHY tahu ch.7 ini pendek, membosankan, banyak bicara, dan lama buanget updatenya. Well, SHY stuck banget di ch.7 ini karena banyak hal yang terjadi kehidupan SHY. But, keep calm, SHY bakal terus lanjut FF ini, doakan saja OK.
Mulai ch. kedepannya mungkin bakal lebih banyak konflik, SHY rasa. Dan SHY minta maaf karena gak bisa bales riview kalian ya, takut keceplosan spoiler kkkkk~.
Terimakasih atas fav,follow, and riview dari kalian semuanya. Itu semua membangkitkan semangat SHY.
I LOVE U –shy
