"Yeollie.. Tenanglah.."
Suara isakan itu terdengar sangat dekat namun Chanyeol hanya bisa melihat kegelapan di sekitarnya.
"Y-Yeollie, kumohon.."
Semuanya jelas saat ia membuka mata, tapi ia terus meronta. Meronta untuk menyingkirkan fikiran tentang Baekhyun yang meninggal karena overdosis.
Ia bingung. Semuanya terasa sangat nyata. Baekhyun, penyakit itu, kematiannya. Semuanya tercampur aduk dalam ingatan Chanyeol. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Aku disini, yeol.. aku tidak akan meninggalkanmu.."
Baekhyun terus memperhatikan kekasihnya yang tengah dipegangi oleh beberapa suster. Butuh suster-suster terkuat yang ada di rumah sakit jiwa itu untuk menandingi kekuatan Chanyeol. Ia menyaksikan cairan bening dari suntikan itu perlahan mengalir kedalam tubuh tunangannya.
"Tenanglah.. Kita akan pergi ke taman jika kau bisa mengontrol dirimu.." tangan mungil Baekhyun membelai wajah Chanyeol dengan lembut dan meninggalkan sebuah kecupan di dahi lelaki tercintanya.
Wajah Chanyeol yang penuh amarah dan frustrasi berangsur-angsur digantikan oleh wajah yang rileks bersamaan dengan tubuhnya yang melemah karena pengaruh bius yang baru saja disuntikkan.
Air mata Baekhyun mengalir di pipinya saat ia memeluk tubuh Chanyeol dan terisak di dada bidang lelaki yang sekarang tertidur itu.
Hatinya hancur setiap kali melihat Chanyeol meronta-ronta sambil meneriakkan namanya, terkadang ia memohon-mohon agar Baekhyun tidak pergi, padahal lelaki mungil itu hampir tidak pernah meninggalkan sisi Chanyeol.
- - Good but Bad - -
"Yeollie.. Kau suka pemandangannya kan? Udaranya juga sejuk.."
Jemari lentik Baekhyun kini terjalin dengan jemari Chanyeol. Ia tersenyum lembut, tangan mereka benar-benar tercipta untuk satu sama lain, apalagi dengan cincin yang sama yang melingkar di jari mereka. Ingatan tentang pertunangan mereka masih segar di ingatan Baekhyun. Chanyeol terlihat begitu tampan dan gagah dalam balutan kemeja, jas hitam dan celana bahan. Saat itu Chanyeol terlihat sangat bahagia.
Semuanya sempurna sebelum skizofrenia mulai mengikis kebahagiaannya. Dokter bilang penyakit itu menurun dari ayah Chanyeol dan bisa mempengaruhi Chanyeol kapan saja.
Tapi tak apa, Baekhyun masih dengan sabar dan setia mengurus tunangannya. Baekhyun dengan tulus membersihkan tubuh Chanyeol, dengan penuh kasih sayang menyuapinya, dengan penuh perhatian membujuknya untuk minum obat, dengan segenap tenaga terus mendorong kursi rodanya kemanapun Chanyeol mau. Semua yang mereka lewati bersama terlalu berharga untuk ia lukis kembali dari awal dengan orang lain. Lagipula ia tau bahwa takkan ada yang bisa menggantikan posisi Chanyeol di hatinya, takkan ada yang bisa memberinya rasa sedalam rasa yang diberikan lelaki itu, takkan ada yang bisa membuat Baekhyun merasa sangat sempurna.
Baekhyun senang menceritakan tentang apa yang ia alami setiap hari walau tidak ada tanggapan dari Chanyeol yang hanya duduk di kursi rodanya dengan tatapan kosong.
Wajah, tubuh, hati, suara, tawa, bisikkan, kekurangan dan segala yang ada pada Chanyeol sangat sempurna baginya.
"Park Chanyeol, saranghae.."
Ia akan menunggu. Menunggu sampai Chanyeol memenangkan pergulatannya dengan penyakitnya. Menunggu sampai mereka benar-benar menjemput kebahagiaan mereka.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
Ada yang bingung?
