.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : T rate/Death Chara/AU/Twisted plot (as usual)

Pair : SasukeXSakura

Genres : Psychology/Mystery/Romance/Tragedy

By Devilish Grin

.

KURUSHII KURUSHII

Chapter 7

.

Di dalam rumah sakit

.

Setelah mendengar kabar kalau Hinata masuk rumah sakit, Hanabi dan Sasuke bergegas pergi menuju tempat Hinata dirawat yang letak rumah sakitnya tak berada jauh dari kompleks perumahan Hyuuga berada.

Hinata sekarang berada di sebuah rumah sakit kecil, atau bisa disebut sebuah klinik 24 jam yang berada tak jauh dari perumahan mereka. Di sana juga sudah ada Hiashi yang sedang menunggui Hinata. Pria itu langsung panik dan bergegas pulang menuju ke klinik begitu mendapat kabar kalau putrinya dibawa ke klinik karena melakukan percobaan bunuh diri.

"Papa!" begitu tiba di klinik, Hanabi segera berlari menghampiri Hiashi dan memeluknya. "Bagaimana keadaan Hinata?" tanya Hanabi dengan nada kecemasan.

Belum lama gadis itu bercerita pada Sasuke betapa ia sangat membenci sang kakak. Sekarang lihat, bagaimana sebenarnya dia sangat peduli dan khawatir pada Hinata. Sasuke yakin, jauh di dalam lubuk hati Hanabi, ia sangat sayang pada Hinata.

"Sebenarnya apa yang terjadi pada Hinata?" tanya Sasuke yang berjalan mendekati Hiashi dan Hanabi.

Hiashi melepaskan pelukannya dari Hanabi dan beralih menoleh ke arah Sasuke yang sedang berdiri di belakangnya dan menanyakan keadaan Hinata. Pria berusia 45 tahun itu menghela napas dalam-dalam seperti ada suatu beban berat yang tertumpuk pada kedua pundaknya.

"Saya mendapat kabar Hinata mencoba untuk bunuh diri di dalam kamar mandi dengan menyayat kedua pergelangan tangannya," jawabnya miris sambil memejamkan mata, "dia sudah ditemukan oleh para pelayan tengah tergeletak di dalam bathub yang penuh berisi air. Untung nyawanya masih bisa diselamatkan, dan setelah mendengar kejadian itu, saya buru-buru pergi kemari," ungkapnya tanpa bisa menutupi rasa sedih yang bercampur dengan ketakutan itu dari Sasuke. Tak terbayangkan bagaimana bila Hinata sampai terlambat ditolong.

"Ayah!" disaat Hiashi sedang menjelaskan kondisi Hinata pada Sasuke, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bergerak dari kejauhan menghampiri Hiashi dengan raut wajah tak kalah cemas.

"Kau ini kemana saja?! Bukankah sudah kubilang untuk menjaga Hinata di rumah? Kalau terjadi apa-apa pada Hinata bagaimana? Kau mau bertanggung jawab!?" Hiashi memarahi pemuda yang baru datang tersebut karena telah lalai menjaga Hinata.

"Maafkan aku, Ayah. Banyak urusan perusahaan yang tidak bisa kutinggal...," jawab pemuda itu dengan perasaan bersalah karena tidak mematuhi sang ayah. Dia hanya bisa menunduk pasrah.

"Sigh..." Hiashi menarik napasnya dalam-dalam. Memang benar, tak seharusnya dia memarahi Neji seperti ini.

"Neji..., maafkan Ayah, tak seharusnya Ayah memarahimu...," ucapnya kemudian dengan perasaan bersalah telah memarahi putra satu-satunya itu di depan umum.

"Sudahlah, tidak apa-apa," balas Neji yang untungnya dapat mengerti kekalutan sang ayah, "sekarang bagaimana keadaan Hinata di dalam?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan. Dia tak ingin ayahnya terus-terusan merasa bersalah.

"Dia sedang ditangani di dalam. Semoga saja lukanya tidak terlalu parah," jawab Hiashi sambil berharap kalau putrinya baik-baik saja.

"Syukurlah..." Neji dapat terlihat langsung menghela napas lega. Sesaat kemudian mata itu melirik ke arah Sasuke yang sedang berdiri sejak tadi di sebelah Hanabi.

Akhir-akhir ini dia memang sangat sibuk sekali mengurusi perusahaan sampai tidak mengikuti perkembangan yang terjadi di sekitarnya. Pemuda itu mengamati Sasuke dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dilihat dari penampilannya yang sopan, Neji yakin kalau pemuda itu bukanlah anak berandal kenalannya Hanabi. Dia sempat berpikir kalau Sasuke adalah relasi ayahnya.

"Ayah? Siapa dia?" akhirnya Neji memutuskan untuk bertanya langsung.

"Ah, Neji, kenalkan. Dia adalah Tuan Sasuke Uchiha, seorang psikiater, terapist yang menangani Hinata." Hiashi yang menyadari kalau dia lupa membicarakan masalah Sasuke pada Neji segera mengenalkan pemuda itu.

"Salam kenal." Sasuke mengulurkan tangannya ke arah Neji memberi ucapan salam.

"Neji Hyuuga. Aku harap anda dapat menyembuhkan Hinata." Pemuda itu membalas uluran tangan Sasuke dengan ramah sambil mengutarakan harapannya pada Sasuke.

"Saya akan berusaha," balas Sasuke yang paham kalau dia berperan penting untuk kesembuhannya Hinata.

Tak berapa lama seorang dokter perempuan keluar dari ruangan Hinata bersama dengan dua orang suster lainnya. Kedua suster itu bergegas pergi dari sana, kembali melanjutkan tugasnya, dan sang dokter menghampiri Hiashi yang berada di luar ruangan bersama yang lain.

"Dokter, bagaimana keadaan Putri saya?" tanya Hiashi dengan tidak sabar kepada sang dokter.

"Anak anda baik-baik saja. Untung pendarahannya dapat dihentikan, tapi sedikit saja terlambat, anak anda mungkin tak bisa diselamatkan lagi," jawab sang dokter yang sedikit marah karena Hinata nyaris saja tak bisa ditolong.

"Apa saya bisa menemui anak saya sekarang?" tanya Hiashi yang pikirannya saat itu hanya tertuju pada Hinata.

"Oh, tentu saja. Keadaannya sudah jauh lebih baik, silahkan." Wanita itu kini tersenyum. Wajah cantiknya jelas terukir kalau sedang memasang senyuman seperti ini. Dia mempersilahkan Hiashi juga yang lainnya untuk masuk ke dalam ruangan Hinata.

...

Di dalam ruangan

.

Begitu masuk ke dalam ruangan Hiashi segera menghampiri Hinata yang sedang bersandar di atas tempat tidurnya. Laki-laki itu segera memeluk Hinata dengan penuh kasih sayang, sementara Hinata yang dipeluk hanya diam dengan tatapan kosong.

"Hinata..." Hiashi meluapkan rasa cemas dan ketakutannya akan kehilangan Hinata pada putri sulungnya itu. Merengkuh Hinata erat dalam dekapan lengan kekarnya. "Berjanjilah pada ayah kalau ini adalah terakhir kalinya kau mencoba bunuh diri...," ucapnya dengan nada gemetar.

"Maafkan aku, ayah...," balas Hinata dengan suara pelan. Sungguh ia tak bermaksud untuk membuat ayahnya khawatir, tapi dia juga tidak bisa menahan perasaan sedihnya yang sudah tak terbendung.

"Hinata, jangan membuat Ayah semakin sedih. Kau masih memiliki kami, karena kami semua di sini sangat sayang padamu." Neji ikut mendekati Hinata. Dia duduk di samping tempat tidur gadis itu dan membelai lembut surai indigo panjang sang adik dengan penuh perhatian.

Hanabi yang berdiri di ujung tempat tidur Hinata hanya bisa melihat betapa besarnya perhatian yang diberikan Hiashi, juga Neji kepada Hinata. Kecemburuan dan rasa iri yang sempat tertahan kini muncul kembali ke permukaan. Sungguh rasa benci itu kembali datang. Kenapa harus Hinata yang mendapatkan segala perhatian yang sangat ia dambakan? Kenapa harus sang kakak yang selalu diutamakan. Semua kasih sayang Hiashi dan Neji sepertinya sudah habis hanya untuk Hinata seorang. Hanabi semakin merasa kalau dirinya tak terlihat di balik bayang-bayang Hinata yang terlalu sempurna.

"Kenapa...?" suara lirih gadis itu terdengar bergetar, membuat perhatian Hiashi dan Neji langsung teralih padanya. Terkejut dengan cara bicara yang diucapkan oleh Hanabi yang biasanya selalu bicara keras dan menantang.

"Kenapa kau selalu mengambil semua perhatian yang seharusnya kudapatkan!?" kali ini Hanabi menatap tajam ke arah Hinata dengan sorot mata yang begitu tersakiti.

Hiashi dan Neji melepaskan pelukan dan rangkulan mereka dari Hinata. Keduanya terkejut, tak menyangka Hanabi akan berkata demikian. Sasuke yang berdiri di sebelah Hanabi hanya bisa memijat kening. Kenapa dia harus terjebak di dalam drama keluarga seperti ini.

"Kenapa kau selalu mengambil orang-orang yang kusayang!? Kenapa!?" Hanabi semakin histers. Air matanya tumpah.

"Hanabi! Jangan bicara seperti itu pada Kakakmu!" Hiashi membentak Hanabi yang lepas kendali.

"Aku benci Ayah! Aku benci Kakak! Aku benci kalian semua!" Hanabi berlari meninggalkan ruangan sambil berderai air mata.

"Hanabi!" Hiashi berteriak geram berusaha untuk memanggil gadis itu.

"Biar saya yang mengejarnya." Sasuke berinisiatif untuk mengejar Hanabi. Menurutnya saat ini Hinata lebih membutuhkan Hiashi dan Neji di sisinya.

"Maaf merepotkan," ucap Hiashi yang jadi merasa tak enak pada Sasuke yang harus terlibat ke dalam permasalahan keluarganya.

...

Sasuke bergegas meninggalkan ruangan dan mengejar Hanabi yang sudah berlari duluan keluar. Dia memang cemas pada adik Hinata itu yang emosinya masih sangat tidak stabil.

Hanabi berlari di sepanjang lorong rumah sakit menuju luar sambil menerobos kerumunan para suster yang sedang berjalan di depannya. Tidak memedulikan tatapan sengit yang dilemparkan ke arahnya. Sasuke berlari ke arah para suster itu serta meminta maaf atas sikap Hanabi.

"Hanabi!" Pemuda itu memanggil Hanabi yang sudah berlari keluar rumah sakit.

Sasuke berdiam diri sejenak di depan pintu gedung rumah sakit dan kedua onyx-nya menjelajah halaman rumah sakit yang tak terlalu besar itu, mencari-cari sosok Hanabi. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan gadis itu.

Hanabi sedang berdiri sendiri di antara pepohonan yang ada di halaman rumah sakit. Sasuke berjalan menghampirinya dengan perlahan agar tidak membuatnya terkejut dan malah semakin menjauhinya.

"Hanabi." Pemuda itu memanggil Hanabi dengan hati-hati.

"Kenapa kau kemari? Apa kau juga mau menyalahkanku?" tanya gadis itu dengan ketus saat melirik Sasuke yang berjalan mendekatinya.

"Hanabi, ada baiknya kau memperbaiki sikapmu itu. Tidak baik kau marah-marah pada Hinata dan memaki semua orang seperti tadi." Sasuke berusaha sebaik mungkin menggunakan kata-katanya untuk menjaga perasaan Hanabi.

"Untuk apa mengaturku? Semua orang sudah tidak peduli padaku..." Hanabi mulai menangis. Dia berdiri sambil tetap memalingkan wajahnya dari Sasuke. Cucuran air matanya mulai berguguran.

"Justru Ayahmu sangat mencemaskanmu, Hanabi." Sasuke berusaha memberikan pengertian pada Hanabi.

"Kalau dia memang mencemaskanku, seharusnya dia yang ada di sini sekarang, bukannya kau!" tangis Hanabi semakin menjadi. "Percuma saja, karena Ayah memang tidak pernah sayang padaku!" gadis itu juga menggeram marah dan memukulkan kepalan tangannya pada batang pohon yang ada di sebelahnya.

"Hanabi bersikap dewasalah sedikit. Saat ini Ayahmu sedang fokus untuk merawat Hinata. Kau tidak boleh egois! Jangan tempatkan Ayahmu berada pada pilihan yang sulit, Hanabi." Sasuke benar-benar tak habis pikir kenapa Hanabi bisa berpikir sesempit itu dan tidak mau melihat pada kenyataan.

"Semua orang selalu menuntutku untuk jadi lebih dewasa dan menjadi anak baik, tapi mereka sama sekali tidak mengerti apa yang aku butuhkan!" percuma saja Sasuke bicara panjang-lebar karena gadis itu sama sekali tidak peduli.

Setelah puas marah-marah dan menangis gadis remaja itu berlari pergi meninggalkan Sasuke.

"Hanabi!" Sasuke hanya bisa menghela napas pasrah dan membiarkan gadis itu pergi. Saat ini hati Hanabi sedang kalut, jadi percuma saja dia mengejar dan mengajaknya bicara.

Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk kembali ke dalam gedung rumah sakit dan menemui Hiashi.

...

Di dalam sana dia dapat melihat Hiashi dan Neji yang sedang berbicara pada Hinata. Ketiganya terlihat begitu akrab. Hinata benar-benar dimanjakan oleh kasih-sayang dari keduanya. Ironis sementara sang adik, Hanabi merasa tersisihkan. Dengan perasaan sedikit ragu, Sasuke melangkah masuk ke dalam.

"Ah, Sasuke. Bagaimana dengan Hanabi? Di mana dia?" Hinata adalah orang pertama yang menyambut kedatangannya di antara keluarga Hyuuga. Dia sempat menoleh ke belakang punggung Sasuke, seperti sedang mencari sosok Hanabi.

"Hanabi memutuskan untuk pulang..." Sasuke memberitahukan situasi Hanabi apa adanya.

"Begitu, ya..." Hinata tersenyum miris dan tertunduk, seperti mengerti apa yang terjadi pada Hanabi barusan. "Sepertinya..., dia benar-benar membenciku, dan semua ini adalah salahku...," ucapnya dengan napas berat.

"Hinata, jangan salahkan dirimu seperti ini," sambar Hiashi sambil menggenggam erat tangan putrinya. Dia tidak ingin Hinata kembali bersedih dan menanggung beban pikiran yang lain.

"Maaf, tapi sepertinya saya harus pamit dulu," ucap Sasuke yang merasa agak malas harus berlama-lama lagi di rumah sakit.

"Oh, begitukah? Cepat sekali." Neji menyayangkan kalau Sasuke mau segera pulang. Sebenarnya banyak hal yang mau dia bicarakan pada pemuda itu mengenai Hinata.

"Saya masih ada urusan lain lagi," jawab Sasuke sambil tersenyum tipis, "Hinata...," onyx-nya menatap ke dalam sepasang lavender milik sang pasien yang kini terlihat sendu, "aku berharap ini adalah kali terakhirnya kau mencoba untuk bunuh diri," ujarnya lembut, namun tegas.

"Baiklah, saya permisi dulu. Selamat siang."

Sasuke akhirnya undur diri. Memberikan ruang dan kesempatan pada Hinata untuk merasakan betapa keluarganya sangat menginginkan kesembuhan dirinya, menginginkan ia kembali seperti sedia kala, dan banyaknya orang-orag yang peduli padanya, juga memberikan Hinata waktu untuk berpikir kalau tindakannya tanpa sadar telah menyakiti Hanabi.

Begitu keluar dari dalam rumah sakit, pemuda itu segera memutuskan untuk menemui Sakura di Spring Coffe's Shop, sebuah cafe yang sering ia dan Sakura kunjungi setiap mereka pulang kuliah dulu.

TBC