TRIANGLE LOVE

Disclaimer:
Vocaloid bukan milik saya! Tapi fanfiction ini milik saya!

Rating: Teen

Genre: Romance, Friendship, Hurt/Comfort, School Life

Summary:
"Cinta itu tak berdasarkan apa pun, bukan?"

Author: Wah, saya kayaknya lagi update gila-gilaan.

Rin: Awas ngaco! Yang di fic satu lagi udah gaje, OOC pula!

Len: Fic yang ini jangan buat ngaco lagi.

Author: Saya turuti apa kata si otak! =.=

Rin: Bawel, ah... Mulai!

Author: Kalian punya urusan sama aku, ya. Kita ketemu lagi di end chapter ini. Muehehehe.

Rin + Len: E-Etto... *sweatdrop*


Rin's POV

Aku hanya diam dalam pelukan Len. Wajahku merah. Aku yakin dia nggak sungguh-sungguh. Kita anak kembar, ingat?

"Eh, bukan begitu juga maksudku!" seru Len dengan wajah yang juga merah. Ia melepaskan pelukannya. Aku hanya melihat ke bawah.

"Pokoknya cuma Rin yang aku sayang," kata Len berusaha membenarkan kata-katanya. Tuh, kan? Aku tidak salah.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. "Iya," balasku.

.

.

"Rin!" Miku langsung menyerbuku begitu aku memasuki ruangan. Ia langsung memelukku dengan erat. Ukh... Pelukannya terlalu erat!

"Rin-chan..." Lenka-chan menghampiriku dengan wajah bersalah.

Rinto-kun pun menghampiriku. "Maaf, ya, kalau aku buat kau sakit hati. Tapi aku ngerasa kalian nggak cocok saja," katanya.

"Kenapa?" balas Len tajam.

"Aku nggak ngomong sama kau," balas Rinto lagi.

Aku menggeleng saja. "Kalau gitu, ya sudah."

Rinto-kun dan Len menatapku dengan pandangan bingung.

"Jadi kau terima gitu?" tanya Rinto-kun.

Aku hanya mengangguk tanpa ekspresi.

"T-Tapi... Rin..." Len seakan tidak mau dengan keputusan itu.

"Kau yang bilang, jangan kau sangkal sendiri!" seruku sambil menjulurkan lidah.

Len terdiam. Kemudian ia tertawa. Ia mengelus kepalaku. "Ya sudah..."

Rinto-kun menatap kami dengan pandangan tidak senang.

"Rin-chan," katanya.

"Kenapa?" balasku.

"Kau tahu nggak, aku punya perasaan padamu?" lanjutnya dengan lembut.

Perasaan? Apaan?

"Nggak usah gangguin Rin, deh!" seru Len tiba-tiba.


Len's POV

"Nggak usah gangguin Rin, deh!" seruku tiba-tiba. Aku yakin Rin nggak ngerti apa maksud Rinto dengan perasaan-perasaan gaje yang dia bilang itu. Tapi tentu saja aku ngerti! Kalau Rin ngerti, pasti mukanya merah semua dah. Alias nge-blush. Makanya, sebelum dia ngerti, mending aku cegah dulu. Kalau Rin sampai punya perasaan sama dia gimana? I am finish lah.

"Maksudnya apa?" tanya Rin lagi.

Aduh, adik kembarku yang satu ini lugunya nggak tanggung-tanggung! Imut banget!

"Itu maksudnya..." Rinto hendak menjelaskan pada Rin. Aku langsung bereaksi.

"Rin imut banget!" seruku sambil mencubit pipinya. Yah... Hanya ini yang dapat kulakukan.

"Aduh. Aduh!" seru Rin sambil berusaha menyingkirkan tanganku dari pipinya.

Sebenarnya aku kasihan juga ya, sama dia. Dicubitin gitu kan, sakit. Tapi aku harus melakukannya. Kalo nggak, ntar si Rinto baka itu mengganggu lagi. Zzz...

Rinto menatapku dengan masam. Lalu ia berkata dengan tajam.

"Len, kau tuh, seperti anak kecil, tahu nggak?" katanya dingin.

Aku tertegun. Aku melepaskan tanganku dari Rin dan juga menatapnya dengan dingin. Sedangkan Rin kaget mendengar teguran itu.

"Anak kecil bagaimana?" bentakku keras.

Rinto ini keterlaluan! Kau yang childish, tahu? Mau buat aku malu di depan Rin atau bagaimana?

"Buat apa sih, kau mencubit pipi Rin-chan. Kan, bikin sakit tahu, nggak. Dan itu seperti anak kecil," cibir Rinto lagi.

Aku sudah sangat marah sekarang. Mau disindir? Oke!

"Daripada merhatiin Rin, kau merhatiin adikmu saja! Dia kasihan, tahu?" seruku. E-Etto... Keceplosan.

"Apaan?" tanya Rinto. Ia melotot pada Lenka-san. Lenka-san tampak ketakutan.

"N-Nandemonai!" jawab Lenka-san.

Perdebatan ini dihentikan oleh Teto.

"Eh! Berantemnya nanti aja. Kita ini mau latihan! Nggak usah berantem-berantem lagi, deh. Buang waktu, tahu!" serunya menegur.

Aku hanya mendengus ke arahnya.

"Kalian berdua sih, menurutku kayak anak kecil. Nggak Len, nggak Rinto-kun," kata Miku tiba-tiba sambil mengurus rambutnya.

"APA?" teriakku dan Rinto serempah.

"Eh... Sudah, sudah. Latihan saja," kata Rin menenangkan.

Aku lega melihat Rin yang sudah agak baikan. Tapi drama-nya...

"Ya sudah. Rin-chan nggak apa, nih?" tanya Rinto sambil menghela napas.

Rin mengangguk mengiyakan.

"Ya sudah. Lenka, kau hafal dialog-nya?" seru Rinto pada adik kembarnya.

"Eh? Sedikit," jawab Lenka-san.

Kini Lenka-san berubah menjadi Lenka-san yang dulu. Ia tampak ketakutan. Entah kenapa. Ah, aku tidak peduli, deh.

Kami pun memulai latihan. Aku merasa agak janggal karena Lenka-san yang memainkan peran Rin. Ia memang cukup baik dalam bermain peran, aku mengakuinya. Tapi sebagus apa pun dia bermain, aku jauh lebih nyaman bermain peran bersama Rin.

Sesekali aku melihat ke arah Rin untuk mematiskan apakah dia baik-baik saja. Aku tak ingin adikku itu cemburu. Eh! Maksudnya bukan cemburu! Tapi... begitulah...

Tapi ekspresi yang diberikan Rin padaku selalu saja sama. Dia hanya tersenyum manis padaku.


Rin's POV

Eh... Len berulang kali menatap ke arahku. Dia mau ngapain? Aku yakin konsentrasinya pasti bubar dengan begitu. Apa dia mencemaskanku? Eh? Tidak mungkin! Aku kan, tidak apa-apa. Agar ia tak curiga dan bisa konsentrasi, aku hanya memberikan senyum padanya. Senyum palsu alias senyum yang dipaksakan.

Ini memang hal yang sulit. Tapi harus kulakukan. Karena ini demi kepentingan kami bersama. Aku yakin, apa yang sudah kulakukan itu benar. Aku tak boleh serakah, memikirkan Len untuk diriku sendiri.

Lagipula Lenka-chan memang baik dalam bermain peran. Pasti ia akan sangat cocok untuk bermain peran bersama Len. Meskipun hatiku sakit, aku tak dapat berbuat apa-apa.

Len, kau harus tahu. Kita ini saudara. Andai saja kita bukan saudara, kita bisa selalu bersama, bukan? Karena suatu saat nanti...

"Len!" teriak Rinto-kun tiba-tiba.

Len menengok ke arahnya dengan masam. "Kenapa?" tanyanya dingin.

"Kau nggak konsentrasi!" bentak Rinto-kun lagi.

"Jadi maksudmu aku harus gimana? Aku sudah melakukan sebaik yang kubisa! Lagi pula kau sudah membuat Rin nangis, kan? Masih belum puas!" seru Len balas membentak. Kenapa namaku jadi dibawa?

"Apa urusannya dengan Rin-chan?" seru Rinto-kun lagi.

"Oi, sudah!" teriak Miku sambil melemparkan negi-nya ke arah Len dan Rinto-kun.

"Kalian mau berantem apa mau latihan, sih?" seru Teto. Gadis berambut magenta itu mendengus kesal.

Latihan pun berjalan dengan lancar kembali. Aku merasa tidak enak. Apa aku yang membuat mereka bertengkar seperti ini?

.

.

"Len," panggilku sewaktu istirahat. Kakak kembarku langsung menatapku.

"Ya?"

"Tadi kenapa ngeliatin aku terus?"

Len terlihat kaget. Ia melihat ke atas, untuk mencari jawaban.

"Eh... Nggak apa, kok," jawabnya sambil tertawa sendiri.

"Aku salah, ya?" tanyaku sambil menunduk.

"Hah? Rin nggak salah apa-apa, kok. Hahaha. Tenang saja," jawabnya sambil mengelus kepalaku.

Aku ingin sekali menunduk lebih dalam agar tidak ada yang melihat mukaku yang merah ini.

.

.

Aku dan Len berjalan pelan ke rumah ketika latihan sudah selesai. Latihan dapat berjalan dengan lancar. Yah... Diselingi ribut-ribut sedikit antara beberapa temanku, termasuk Rinto-kun dan Len.

Suasana sangat sepi. Tak ada yang memulai percakapan. Maupun aku dan Len hanya menyusuri jalan panjang ini tanpa berbicara sedikit pun.

Rin! Ayo, cari bahan pembicaraan! Masa kau mau diam terus dengan kakakmu? Aku sibuk mencari bahan pembicaraan.

Aha! Bagaimana kalau bicara tentang makan malam saja? Aku sudah berniat untuk membuat banana split untuk dessert malam ini. Kakakku kan, suka sekali dengan pisang! Ingat?

Baru saja aku membuka mulut, tapi...

"Rin, kita ke tempat rahasia dulu, yuk," ajak Len sambil tersenyum.

Aku menutup mulutku. Ke tempat rahasia? Mau apa? Karena penasaran, aku hanya mengangguk.

"Ya sudah! Yuk!" seru Len lagi. Ia menarik tanganku dan berlari sekencang-kencangnya.

Um... hei? Aku ini cewek. Aku nggak bisa lari sekencang kau berlari. Tapi... aku merasa senang dengan situasi seperti ini.

.

.

"Pohon yang itu bagus, ya," kata Len. Ia menunjuk sebuah pohon sakura yang dipenuhi bunga sakura yang berwarna pink.

Aku hanya mengangguk karena sedang sibuk menyirami pohon-pohon di sana. "Cantik." Hanya itu komentar yang kuucapkan.

"Rin, kenapa harus siram-siram segala?" tanya Len. Ia berjalan mendekatiku.

"Tempat rahasia ya, dirawat, dong," jawabku.

Len mengangguk-angguk. "Kalau begitu aku bantu," kata Len.

Aku balas mengangguk.

"Eh, Rin. Pohon itu bagus, ya," kata Len lagi. Menunjuk pohon yang tadi. Aku hanya mengangguk. Sampai bosan mendengarnya. Tapi kalau aku bilang begitu, pasti ia tersinggung, kan?

"Mau mengukir nama kita?" tawar Len. Ia mengambil sebuah pisau yang ada di tasnya.

Aku berhenti menyiram pohon sejenak. Mengukir nama?

"Mengukir nama? Gimana caranya?" balasku beberapa detik kemudian.

"Bisa, deh," kata Len. Ia menggoreskan pisaunya ke batang pohon itu. Karena tidak sabaran, aku menyusulnya.

"Nah, jadi, kan?" balas Len sambil tersenyum.

Aku memperhatikan apa yang terukir di pohon itu. "LEN". Dengan tulisan yang agak berantakan. Maklum lah...

"Giliran Rin!" seru kakak kembarku. Ia memberikan pisau kepunyaannya padaku. Aku menerima pisau itu. Nah, aku tak bisa mengukir atau apalah itu. Dan yang paling aku takut, pisau itu menggores dan mengenai tanganku.

"Gimana caranya?" tanyaku.

"Eh? Kau nggak tahu? Ya sudah. Sini, bareng aku. Biar tanganmu nggak kena pisau," kata Len. Ia mengulurkan tangannya pelan dan menyambut tanganku. Kemudian ia menggenggamnya dan membantuku menuliskan namaku di batang pohon itu.

Dag... dig... dug...

"Sudah jadi," kata Len. Ia melepaskan tanganku dan mengambil pisaunya lagi. "Enak ya, jadi anak kembar," kata Len lagi sambil tersenyum.

Aku tersentak. Jadi anak kembar? Enak?

"Apa enaknya kalau kita ini kembar?" tanyaku.

"Kita bisa selalu bersama. Kita ini seperti satu. Tak bisa dipisahkan," ujar Len berseri-seri.

Aku menunduk. Souka... Pola pikiran Len benar-benar berbeda dengan pola pikiranku.

"Rin? Kenapa?" tanya Len.

"Menurutku nggak enak," jawabku sambil membersihkan sisa-sisa tanah yang berada di tangan.

"Lho? Kenapa?" tanya Len kaget.

Aku berjalan mengambil pot tanaman dan melanjutkan menyiram.

"Karena... kau nggak tahu perasaanku," jawabku pelan, berharap ia tak mendengarnya.

"Memang apa yang kau rasakan?" tanya Len. Rupanya ia juga mendengarku.

"Kau bilang anak kembar itu selalu bersama dan tak dapat dipisahkan. Namun aku berpikiran lain. Suatu saat kita akan berpisah, kan? Kau akan memiliki hidup sendiri dan aku juga akan memiliki hidup sendiri," jawabku datar.

Betul, kan? Len memiliki jalan pikiran yang beda denganku. Apa yang kupikirkan ini beda dengannya. Apa aku salah?

"Eh? Tapi..." Len mencoba membenarkan omongannya.

Aku yang sudah nggak mood lanjutin siram-siram asal saja. Toh, nanti kalau kita berpisah, tempat ini nggak bakal jadi milik kita lagi, kan?

"Rin, memangnya nanti kau mau ngapain?" tanya Len hati-hati.

Aku diam, sibuk. Aku sendiri nggak tahu kalau dewasa nanti mau ngapain. Tapi pasti semua orang tahu. Menikah, memiliki anak, bekerja, dan teman-temannya itu. Tapi apa aku akan semudah itu hidup bersama orang lain? Nggak tahu. Makanya aku nggak jawab.

"Rin! Jawablah!" seru Len kesal.

"Aku nggak tahu," jawabku singkat.

Len hanya cemberut.

"Kalau nggak tahu, ya, nggak usah bilang kalau nanti kita berpisah, dong!" katanya dengan nada tinggi.

Aku membalikkan tubuh dan menatapnya dengan tajam.

"Yah, biar bagaimana pun, anak kembar itu pasti akan berpisah!" seruku dengan nada tinggi pula.

Len hanya mendengus. Ia menghampiriku.

"Mau apa?" tanyaku datar ketika ia sampai di hadapanku.

Ia menepuk-nepuk kepalaku, tepatnya di pita putih besar yang selalu kupakai dengan lembut.

"Masa depan nanti saja. Sekarang nikmati dulu. Lagipula, kau pikir aku ini bisa semudah itu melepaskanmu nanti?" ujar Len dengan suaranya yang lembut.

Aku hanya diam dan merasakan kehangatan ini. Ya sudah. Aku ngaku saja kalau aku sedang nge-blush.

.

.

TO BE CONTINUED


Author: Kita punya urusan, kan?

Rin: Apa, ya?

Len: Lupa, tuh.

Author: Nggak usah pura-pura lupa, deh! =.=

Rin: Nggak penting. Yang penting RnR, Minna~

Len: Yang banyak ya, review-nya~ XDD