7

It's A Cheesy Love Story

.

.

"Kemana hati akan berpaling jika bukan kepadamu?"

.

.

"Cobalah lebih meluruskan tanganmu, Kyung!" pinta Luhan melatih Kyungsoo untuk perform bersama dirinya, Baekhyun dan Lay di ruang seni milik sekolahannya. "Nah begitu, ulangi lagi sampai kau menyatu dengan gerakanmu" Luhan menghampiri kedua temannya yang sedari tadi memperhatikan Kyungsoo.

"Kurasa dia memang berbakat, hanya saja tubuhnya agak pendek. Aku akan mencarikan hak tinggi untuk perform-nya," komentar Lay manggut-manggut bangga akan anggota barunya.

"Dia lebih baik menampilkan tarian sendirian dibanding bersama dengan kita. Waktunya agak mepet, dia akan susah mengimbangi gerekan kita. Tapi kalau dia sendiri, orang lain tidak akan membandingkan gerakannya dengan gerakan kita. Bagaimana?" usul Baekhyun meminta pendapat yang lainnya.

"Kurasa Baek ada benarnya" Luhan mengiayakan usul Baekhyun. "Berhenti sebentar, Kyung. Kemarilah !"

"Bagaimana kalau kau perform sendirian ? Akan mencarikanmu tarian yang tidak perlu banyak teknik tapi cukup apik untuk kau bawakan."

Kyungsoo menatap ragu ke arah Luhan. "Tapi, lu! Aku malu jika sendirian"

"Hahahaha...tidak apa sayangku, kau ingin hari itu jadi malam spesial bukan? Kau ingin Tao mulutnya menganga lebar melihatmu bukan? Kau ingin Suho meresmikan hubunganmu bukan?" tanya Baekhyun bertubi-tubi.

"Ayolah, Kyung!" bujul Lay ikut-ikutan.

"Baiklah...aku akan berusaha semampu yang ku bisa. Mohon bantuannya"

Begitulah suasana geng Venus. Kyungsoo akan berlatih sampai pukul 21.00 selama 3 minggu.

.

.

~ It's A Cheesy Love Story ~

.

.

02.55 a.m.

Yifan dan kawan-kawan sedang bermain di salah satu club malam dekat dengan studio dance Jongin. Mari kita lihat dari si bayi besar Sehun yang sedang duduk di salah satu sofa dengan penerangan lampu kerlap kerlip dengan wajah di tekuk. "Yifan hyung! Carikan aku susu!" rengeknya.

"Shut up! Berhenti merengek Sehun! Hyungmu ini sedang sibuk! Cari saja susu dari jalang disini!" teriak Yifan mengalahkan kerasnya suara musik yang membuat para pengunjung menggila. Itu semua karena ulah Chanyeol yang hari ini berubah profesi menjadi DJ. Soal musik, Chanyeol memang jagonya.

"Mereka mengeluarkan desahan, hyungg! Bukan air susu!" protes Sehun semakin memberungut tidak jelas.

"Remas saja seperti ini! Siapa tau keluar susunya" Yifan meremas kuat payudara gadis yang di pangkuannya hingga sang gadis mengerang sakit. Sehun bergidik jijik mendengarnya. Mungkin sebaiknya kita pulangkan saja bayi besar kita.

Lalu dimana Taehyung dan Jongin? Mari kita bergeser sedikit ke Taehyung yang duduk di sebelah Sehun membawa laptopnya. Sehun sempat berpikir anggota termudanya ini sedang mengerjakan makalah di club, tapi ketika melihat layar laptop Taehyung dugaan itu sirna. Berbagai macam sandi dan aplikasi yang tak ia ketahui berderet dengan indahnya menampilkan angka-angka yang Sehun duga nominal uang yang sangat besar. Lalu berganti sandi-sandi aneh, berganti nominal uang lagi. Sehun sampai pusing sendiri melihatnya.

Kita tinggalkan Taehyung dengan laptopnya dan Sehun dengan kepuyengannya. Jongin memisahkan diri dari kawanannya, ia berada di sebuah kamar dengan seorang wanita yang sibuk dengan bagian bawahnya. Jongin melirik handphonennya yang terus berkedip tanda telpon masuk.

"Shit! aku bahkan belum keluar sama sekali!" umpatnya manarik juniornya yang masih keras dan tegang dari kulunan mulut hangat wanita itu. Wanita tersebut ingin memprotes tapi melihat wajah Jongin juga sama-sama kesal. Yah mungkin ada acara penting di pukul 3 dini hari, membangunkan ayam jantan agar bersiap berkokok misalnya.

Jongin terpaksa mulai berpakaian dan menggunakan celanannya. Karena masih dalam keadaan setengah on, tentu dirinya merasakan sakit di alat vitalnya. Hingga yang terlihat dari luar adalah gundukan cukup besar. Ya mau bagaimana lagi ini sudah waktunya menjalankan tugas barunya.

Melihat Jongin sudah keluar kamar, Sehun berubah sumringah. "Kau sudah selesai, Jongin? Kau pakek gaya apa hingga secepat ini?"

"Gaya gajah duduk. Aku hanya blow job saja, bodoh!" balas Jongin yang tangannya sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya sambil berjalan ke pintu keluar.

"Oh blow job. Kau bisa melakukan sendiri, Jong. Kucing tetanggaku bisa memblow job diriya sendiri. Ia sering menjilat-jilat selangkangannya sendiri di depan teras " tutur Sehun mengikuti Jongin dari belakang. Sehun akhirnya punya teman pulang. Yeyyyy, hatinya bersorak gembira keluar dari tempat ini.

Mendengar ocehan Sehun, Jongin langsung berbalik. "Oh Sehun yang pintar dan tampan," panggil Jongin dengan manisnya namun jika ini film kartun kalian dapat melihat tanduk merah di kepalanya.

"Itu kucing sedang 'mandi' bodoh! Dia menjilati itu-nya sendiri untuk membersihkan badannya...bukan blow job! Oh God, apa semua orang tampan bodoh?" seru Jongin. Sadar akan kata-katanya ia berguman lagi pada dirinya sendiri, "Ah kurasa tidak, buktinya aku tampan dan pintar..."

Jongin menuju studio dancenya dengan berjalan kaki. Dari gerbang Jongin cukup terkejut di teras sudah ada gadis berbaju piyama polkadot dengan menggendong tas sekolah duduk menyender ke tembok dengan mata terpejam.

"Pantas saja ia menelponku berulang-ulang" guman Jongin mendekati Kyungsoo lalu menepuk-nepuk lengan.

"Ahh! Apa? Apa? Maling?" seru Kyungsoo gelagapan tengok kanan kiri seperti orang bingung.

"Ayo masuk!" ajak Jongin setengah menyeret Kyungsoo yang masih mengantuk.

Jongin memilih balkon studionya. Kyungsoo masih belum benar-benar sadar rupanya ia duduk sambil mengucek-ucek matanya agar tetap terjaga. Lalu membuka tas sekolahnya mengeluarkan tumpukan buku tebal.

Jongin sampai terheran sendiri, untuk apa buku sebegitu banyaknnya padahal ia sudah membuat rangkuman kemarin. "Singkirkan bukumu itu! pelajari saja ini! dan kerjakan soal di bagian belakangnya" Jongin melempar buku kecil miliknya. Kyungsoo dengan refleknya yang bagus langsung menangkapnya sebelum nyasar ke jidat mulusnya.

"Kau mau kemana?" cicit Kyungsoo melihat Jongin berbalik menuruni tangga lagi.

"Anginnya sedikit kencang, akan ku ambilkan selimut tebal. Dan aku harus mengurus adikku sebentar"

"Adik? adik yang mana?" tanya Kyungsoo polos.

Jongin mengarahkan pandangannya ke selangkangannya yang menyembul ingin di bebaskan. Kali ini sukses membuat Kyungsoo langsung melek, kantuknya hilang seketika.

"Berniat membantu?" ujar Jongin jail.

"Pergi kau bedebahhhh!" Kyungsoo melempar buku tebalnya ke kepala Jongin namun meleset.

"Melempar saja tidak becus!" guman Jongin geleng-geleng sendiri.

.

03.37 a.m.

Kyungsoo sudah berselimut tebal seperti kura-kura - kelihatan kepalanya saja- sambil terus mengerjakan soal yang di berikan Jongin. Namun matanya tidak mau di ajak kompromi, berkali-kali ia mengucek matanya atau menepuk-nepuk pipinya sendiri. Dan sialnya itu terlihat imut dan menggairahkan bagi Jongin. Jongin sampai ingin menangis sendiri, merasakan adik kecilnya mendadaknya keras lagi. "Lama-lama tanganku bisa keriting jika terus menjinakanmu" batinnya dalam hati.

"Jongin!" panggil Kyungsoo dengan suara halusnya.

"Apa?" jawab Jongin ketus.

"Kau tidak mengantuk?" tanya Kyungsoo berkedip-kedip lucu. Jongin menggeleng. "Aku ngantuk sekali" adu Kyungsoo pada Jongin.

"Aku tidak bertanya" Sahut Jongin semakin menyebalkan.

"Jonggg, tentang syaratmu...walaupun aku menyetujuinya tapi bolehkah aku meminta ijin dulu pada eomma? Dia akan mencariku jika aku menghilang seharian" Kyungsoo ingat syarat yang di ajukan Jongin bahwa ia meminta satu hari setelah selesai tes, ia ingin membawa Kyungsoo ke Jeju seharian penuh tanpa alat komunikasi. Alasannya simpel saja, Jongin tidak ingin di ganggu dengan suara telpon dan menikmati waktunya bersama Kyungsoo tentunya.

"Tentu, aku yang akan meminta ijin langsung pada eommamu"

"Jongiinn~" panggil Kyungsoo lagi. Jongin sampai memegangi selakangannya berharap tidak semakin membesar.

"Yakk! Berhentilah memanggilku dan kerjakan soalnya!" sembut Jongin. Kyungsoo langsung buru-buru mengambil pensilnya kembali mengerjakan.

Ah, ini lebih baik. Suaranya sungguh berbahaya bagi Jongin.

Sekarang Jongin yang gantian mengantuk. Ia berjalan-jalan di sekitar balkon untuk mengurangi kantuknya sambil menunggu Kyungsoo selesai. Tiba-tiba dia ingat rumah Kyungsoo jauh dari sini, bagaimana ia bisa sampai disini? Taksi? Malam-malam begini akan susah menemukan taksi. Lalu dengan apa?

"Soo-ya...kau kesini naik apa?" tanya Jongin penasaran.

"Aku naik sepeda. Kau tidak liat di depan terasmu ada sepedaku?" jawab Kyungsoo sambil menghitung dengan jari tangannya yang mungil. Ya hari ini Jongin ingin mengasah soal hitung menghitung.

Jongin menelongok ke bawah. Benar ada sepeda hitam dengan keranjang di depannya. Si maniak hitam. "Kau tidak capek mengayuh sepeda?"

"Mau bagaimana lagi. Motor sport eomma sangat berisik jika di hidupkan...aku harus menuntunnya sampai ke persimpangan jalan agar eomma tidak dengar. Dan itu berat, aku tidak mau. Apalagi mobil, aku tak bisa mendorongnya hingga kepersimpangan bukan."

"Kenapa mukamu terkejut begitu?" sambung Kyungsoo sambil menyerahkan pekerjaannya.

"Ahh kau pasti mendengar anak-anak membicaranku anak jalang dan miskin. Eommaku bukan jalang ya...eommaku bekerja sebagai fotografer freelance dan soal miskin...aku merasa berkecukupan walaupun tidak mewah. Aku bukan Geum Jan Di yang miskin bertemu pria kaya berambut keriting. Euuh...jujur aku tidak suka orang kaya"

"Bukan..bukan begitu. Hey..ngomong-ngomong Suho orang kaya abad ini" kata Jongin mengingatkan pernyataan Kyungsoo yang tidak sinkron dengan kenyataan. Ia mencoret-coret jawaban Kyungsoo yang salah sambil terus mengobrol.

"Suho pengecualian" ujar Kyungsoo malu-malu.

"Terserah. Aku tadi terkejut karena kau bisa menaiki motor sport. Kau kan pendek, mana bisa" jelas Jongin.

"Kau mengejekku? Kau tidak tau teknologi bernama high hells yang bisa menambah tinggi badan dengan mudah?"

Jongin hanya mangut-mangut, cukup masuk akal pikirnya. "Kau mau bertanding memacu motormu denganku?"

Kyungsoo menggeleng lucu. "Eomma tidak akan mengijinkanku balapan seperti itu. Aku hanya boleh mengendarainya untuk kepentingan yang mendesak."

"Ohh baiklah..." Jongin sedikit kecewa, jarang-jarang bukan ada gadis yang bisa naik motor sport. "Kelemahanmu pada ketidak telitianmu, kau salah menghitung di tengah-tengah pengerjaan sehingga hasilnya ikut salah. Ini lihatlah!"

Kyungsoo menerima kertasnya banyak coretan merah, mendadak pundung.

"Kurasa kau harus belajar lebih keras. Tenang saja, aku akan membuatkan rumus lain yang lebih singkat tapi hasilnya sama" Jongin mencoba menenangkan Kyungsoo yang sepertinya kecewa berat dengan pekerjaannya sendiri. "Ambil ini! aku membuat mind mapping mata pelajaran yang lain. Kau bisa memahaminya lebih mudah dengan ini"

"Gumawo, Jonginie..." ucap Kyungsoo dengan panggilan manisnya kepada Jongin. Jongin menghempuskan nafasnya lega, adiknya tidak bereaksi lagi.

"Aku sudah meluangkan waktu tiduku, tidak ada hadiah kecupan untukku kah?" tanya Jongin usil dan penuh harap. Rupanya ketika ia mengengok Kyungsoo sudah tidur dengan kepala di atas meja. Jongin tidak marah atau kecewa, melihat betapa manisnya gadis itu tidur saja sudah cukup menghibur hatinya.

Sebenarnya Kyungsoo pura-pura tidur karena terlalu malu mendengar perkataan Jongin. Kecupan? Di dahi? Di pipi? atau bibir plum-nya? Kyungsoo jadi malu sendiri memikirkanya.

.

.

.

Hari ini Taehyung sengaja membolos 2 jam mata pelajaran terakhir, ia duduk di bawah pohon taman sekolah tempat beberapa hari lalu dirinya berserta hyung-hyungnya bercocok tanam. Sudah lima hari sejak dirinya membawa laptop di club mencari informasi terkait rekening sepupunya. Dan harinya dirinya menemukan titik terang. Sumber pemasukan terbesar dari rekening sepupunya berkemungkinan besar adalah wali sah sepupunya.

Selama ini ia bertanya-tanya siapa yang menjadi wali dari Jongin, mengingat Jongin tinggal sendiri. Dari keluarga ibu Jongin tidak ada yang ditunjuk, jadi kemungkinan besar keluarga dari mendiang ayah Jongin. Taehyung tidak begitu kenal dengan keluarga dari ayah Jongin, jadi ia tak bisa memperkirakan siapa.

Tapi pencariaannya tidak sia-sia sejak beberapa kali gagal menyelundup ke kamar Jongin akhirnya ia mendapat nomor rekening Jongin tentu tanpa password. Bagi Taehyung tidak masalah, membobol password dan mengecek keluar masuknya sebuah rekening adalah hal mudah bagi hacker sekelas Taehyung.

Hawa dingin menyapa kulit pipinya. "Kau masih berkutat dengan laptop bodohmu itu?" suara yang mampu Taehyung kenali dengan mudah yang tak lain adalah kekasihnya yang iseng menempelkan cup berisi thai tea rasa green tea ke pipinya.

"Ya ampun, kau cemburu pada sebuah laptop?" ungkap Taehyung dengan nada tak percaya. Jungkook duduk di sampingnya sambil menyerot thai tea-nya dengan acuh. "Aku tidak dikasih?" tanya Taehyung memelas.

"Tidak" seru Jungkook tegas.

"Baiklah" Taehyung pura-pura pasrah kalah dan kembali mengetikan sesuatu di komputernya.

"Jadi apa yang kau temukan dari laptop bodohmu itu?" tanya Jungkook mendekat untuk mengintip apa yang kekasihya kerjakan. Taehyung tak menyahuti apa pun, dia tak menggubris perkataan Jungkook sebagai bentuk demo.

"Ini minumlah! Sedikit saja tapi" Jungkook akhirnya mau tak mau menyondorkan minumannya ke Taehyung. Tapi di luar ekspektasinya, Taehyung menolaknya. "Kau mau apa Taehyungie?"

Taehyung memberi isyarat dengan mengetuk-etuk pipinya dengan telunjuk dan melempar wink-nya. Jungkook kadang jengah menghadapi kekasihnya yang mesum dan kekanak-kanakan tak kenal tempat dan waktu.

"Satu kecupan saja okey!" Jungkook mendekatkan wajahnya ke arah pipi kekasihnya. Tinggal beberapa inci lagi untuk mengabulkan permintaan aneh Taehyung namun sebelum bibirnya menyentuh pipi, tangan Taehyung menangkup kedua pipinya lalu mengucup bibirnya.

"Tae..." ucap Jungkook lirih. Taehyung mengakhiri kecupannya namun rupanya ia hanya ingin memiringkan kepalanya agar dapat memberikan ciuman manis bukan hanya sekedar kecupan. Jungkook yang tidak siap di serang tubuhnya menjadi kaku, bahkan minumanya lepas dari genggamannya dan berakhir tumpah sia-sia.

Di tengah panasnya ciuman couple kita. Pluk! Sebuah gumpalan kertas mendarat di kepala Taehyung dengan sukses menghentikan acara menyesapi bibir manis kekasihnya. "Hey, bocah mesum! Berhenti berbuat tidak senonoh sementara hyungmu disini sedang berkonsentrasi membuat lagu!"

Sepasang kekasih tersebut mendongak ke atas mencari sumber suara. Mereka menemukan Chanyeol sudah duduk santai di salah satu ranting pohon yang cukup tinggi. "Hyung! Apa yang kau lakukan disitu?" tanya Taehyung polos, ingatkan Chanyeol untuk minum obat nyamuk setelah ini. Bukankah dirinya sudah bilang sedang membuat lagu. Siapa yang bodoh sekarang?

Chanyeol meloncat dari singgah sananya dan mendarat apik di depan Taehyung. "Kau tidak lihat ini?" Chanyeol mengacung-acungkan kertas coret-coretan yang berisi lirik-lirik lagu. Taehyung dan Jungkook hanya ber-oooh ria.

"Aiishh...jika begini saja kalian sangat kompak. Ngomong-ngomong apa yang sedang kau kerjakan itu, Taehyung? Aku sedari tadi melihatmu dari atas sedang mencari profil seseorang"

Taehyung hanya diam saja tanpa menjawab.

"Aku hanya ingin tau dan siapa tau aku bisa membantu. Aku membutuhkan bantuanmu juga nanti. Kita bisa saling membantu, bagaimana?" tawar Chanyeol dengan senyum lebarnya. Sekarang di mata Taehyung, hyungnya ini benar-benar seperti sales pasta gigi.

Akhirnya mereka sepakat saling membantu. Mereka duduk bersila bertiga di bawah pohon. Taehyung menjelaskan apa yang ia sedang ia cari. Chanyeol jadi agak tidak enak hati karena ternyata masalah keluarga rupannya. Sekarang dirinya tau kenapa Jongin, kawannya yang sudah hampir tiga tahun ini tapi tak pernah diketahui latar belakang keluarganya. Hanya Taehyung yang mengoceh di depannya ini, satu-satunya keluarga Jongin yang ia tahu.

"Aku sudah menelusuri aliran dana tebesar di rekening Jongin. Ada 3 dana yang masuk. Pertama dari Kim corp, kalau tidak salah itu perusahaan keluarga ayah Jongin. Kedua, dari penyewaan penginapan di Jeju milik ibu Jongin...aku pernah menginap disana jadi aku tau. Ketika, milik pribadi...cukup besar uang yang dikirim ke rekeningnya setiap bulan mengingat ini hanya rekening pribadi bukan kepunyaan perusahaan manapun tentu aku mencurigai yang terakhir ini. Sisanya nominalnya tidak begitu besar dan berasal dari beberapa perusahaan...mungkin saham yang ditanam atas nama Jongin" jelas Taehyung penuh semangat.

"Jadi kau mencurigai dana dari kepemilikan pribadi itu?" simpul Chanyeol.

"Jangan-jangan paman yang kemarin mengunjungi ibu Jongin" timbal Jungkook ikut menduga-duga.

"Ya, tentu hanya orang dekat yang menggelontorkan dana sebesar itu. Bisa jadi paman yang kita liat itu, sayang... tapi tak perlu khawatir aku sudah menemukannya. Dia Kim Siwon."

"Kim Siwon?" ulang Jungkook tak percaya.

"Kau kaget? Kau tau dia presedir Kim Corp? Bahkan aku harus mengetik namanya di mesin pencarian, aahhh aku kurang baca koran sepertinya" ujar Taehyung yang lebih keliatan seperti menggerutu sendiri.

"Tunggu..tunggu... aku tidak tau soal Kim Corp tapi bukannya Kim Siwon adalah pemilik sekolahan ini?" ucap Jungkook sampai menutup mulutnya karena terlalu kaget.

"Ayah Suho dan Tao? Bagaimana bisa?" Chanyeol tak kalah kaget.

"Kalau begitu paman yang mengunjungi ibu Jongin adalah Kim Siwon ahjussi. Kau tidak mengenalinya, Kookie? Bukankah kau sering ke rumah Suho?" tanya Taehyung pada kekasihnya.

Jungkook mengusap-usap tengkuknya. "Well, aku tidak pernah bertemu dengannya. Kurasa jadwalnya padat hingga jarang di rumah"

"Baiklah kalau begitu kita sudah dapat kartu as-nya. Dari artikel yang kubaca dirinya mempunyai adik bernama Kim Kangin, ayah Jongin yang meninggal bunuh diri. Jadi secara tidak langsung Kim Siwon adalah paman Jongin. Pertanyaan paman macam apa yang sampai mengirimi keponakannya jutaan won?"

"Mungkin karena kasihan" ujar Chanyeol asal.

"dan menjenguk adik iparnya sesering itu?" tandas Taehyung. "Dan tak ada artikel apa pun tentang ayah Jongin yang bunuh diri, bukankah ini mencurigakan? Seperti ada sesuatu yang di tutup-tutupi," lanjutnya.

"Apa aku boleh menyuarakan isi pikiranku? Aku tau jika dugaanku ini berlebihan, tapi kemungkinan pasti ada bukan. Aku berpikir mungkin saja ayah Jongin bunuh diri karena istrinya berselingkuh dengan Kim Siwon ahjussi yang notabene kakaknya. Parahnya lagi ternyata Jongin oppa adalah bukan anaknya melainkan anak kakaknya. Akhirnya ibunya Jongin jadi tertekan dan merasa bersalah sampai harus di rawat." Jungkook dihadiahi pandangan tak percaya dari kedua pemuda di sampingnya.

"Oke aku terlalu banyak menonton drama sepertinya" sahut Jongkook merasa hipotesisnya lebih mirip sebuah naskah drama.

Cup! Sebuah kecupan mendarat di pipi Jungkook. "Tidak, sayangku...kau mungkin saja benar"

"Yakkkk! Berhenti bermesraan di depanku! Mataku jadi tidak suci lagi!" pekik Chanyeol kelimpungan dihadiahi tontonan kemesraan TaeKook.

"Maaf, hyung...aku lupa kau bujangan lapuk. Baik mungkin dugaan Kookie ada benarnya. Tapi kalau boleh jujur dari foto Kim Siwon ahjussi di internet sama sekali tidak mirip dengan Jongin." Taehyung menatap layar laptopnya yang menampilkan foto Kim Siwon yang menurutnya sangat mirip dengan Suho.

"Tao juga tidak mirip tapi dia anaknya" saut Chanyeol ikut melihat layar laptop Taehyung.

Taehyung mendesah lemas. Pikirannya buntu, mungkin ibu Jongin benar-benar shock suaminya bunuh diri saja ...tidak ada alasan lain. Dan Kim Siwon hanya menjalankan perannya sebagai seorang paman. Tapi dengan uang sebanyak itu dan kedekatan dengan ibu Jongin, semua ini menjadi ganjil kembali.

"Baiklah kita buktikan satu persatu dulu. Dimulai dari tes DNA. Ambil rambut Jongin, Kim Siwon ahjussi, ibu Jongin, Suho, Tao, Nyonya Kim ... aku tidak tau namanya, dan terakhir ayah Jongin. Kookie, kau cari rambut Siwon ahjusii beserta keluarganya dan aku akan mencari rambut Jongin hyung dan bibi. Hyung, bukannya kau ingin membantu bukan?" tanya Taehyung dengan senyum mengerikan.

"Please, jangan bilang kau menyuruhku mencari rambut ayah Jongin yang sudah meninggal. Come on, guys... seorang Park Chanyeol berkeliaran di pemakaman dan menggali makam...Big No!" tolak Chanyeol yang sangat takut hal-hal berbau horror.

"Oppa penakut ihhh..!" cemooh Jungkook. Chanyeol hanya bisa mendengus sebal di katai seperti itu.

"Aku tidak menyuruhmu menggali makam, hyung! Kau bisa memutar otakmu mencari apa pun yang bisa di tes DNA" sanggah Taehyung. "Sebagai balasannya aku akan membantumu. Apa yang bisa ku bantu, hyung?"

Chanyeol berhedem sebentar."Ehemm..begini, aku mengkhawatirkan Kyungsoo. Dia sekarang masuk geng Venus bukan? Tapi kemarin aku berpapasan dengannya di jalan raya dekat rumah Jongin. Kurasa – "

"Jangan mengada-ada, hyung! Itu kan jalan umum. Kekhawatiranmu tidak logis" potong Taehyung.

"Dengarkan dulu sampai selesai. Jongin juga akhir-akhirnya selalu pulang dari club lebih awal bahkan dia kadang menolak ikut...dan yang terakhir kemarin kita secara tidak langsung di usir tidak boleh bermalam di studionya walaupun dia beralasan tidak enak badan dan ingin istirahat. Oh ya dia juga sering tidur di kelas. Aku khawatir Kyungsoo ada apa-apa dengan Jongin. Kasian Kyungsooku yang polos."

"Baik..baik...jadi apa yang bisa ku bantu?" putus Taehyung. Sebenarnya dirinya ragu membantu dalam hal ini, kekhawatiran hyungnya ini kemungkinan besar benar mengingat insiden sepupunya menggendong Kyungsoo noona dengan raut wajah sangat cemas.

"Aku ingin mengintai studio Jongin nanti malam. Kau tau kan aku kagetan dan takut setan, jadi kau temani aku okey?" Chanyeol mengulurkan tangannya meminta kesepakatan. Taehyung akhirnya menyalaminya tanda sepakat. "Baiklah, ku temani."

TBC

.

Note:

Jika merasa cerita ini mulai agak absurd, tolong ingatkan saya ya! Seriously, saya rasa kemampuan saya dalam menulis makin kacau belakangan ini...

Cerita ini awalnya menyorot kyungsoo yang menjalani lika-liku yang bersahabat dengan minseok yang notabene siswa terbully, ide awalnya seperti itu. Namun semakin kesini saya tidak sanggup menulisnya karena minseok gambaran sahabat saya yang telah berpulang. Alhasil saya menuliskan minseok akhirnya pindah sekolah demi keselamatannya. Jadi itu alasan kenapa minseok hanya muncul di awal-awal.

Ngga ada yang tanya, thor! Yaudah lah ya, saya cuma share aja. Siapa tau ada yang punya sahabat kek minseok mending segera di laporkan ke guru atau pihak sekolah biar nanti di tindak lanjuti.