DUMB!
Tiba-tiba ada seseorang yang melompat dari atas dinding dan mendarat tepat diantara Raja Madara juga Naruto.
.
.
"Kita bertemu lagi Na-ru-to..."
.
.
Disclaimer Masashi Kishimoto
Pairing of Course NaruSaku
Warning,absurd story,story from me,typo,etc
.
.
Secrets of a Country
..
..
..
Chapter 7 – Choice
.
.
.
Debu-debu yang sejak tadi berterbangan di depan Naruto dan membuat matanya perih, kini berangsur-angsur mulai mereda. Naruto pun dapat melihat kembali. Namun baru saja ia membuka kedua matanya, ia telah dikejutkan dengan sosok yang tidak disangka-sangkanya berada di depannya.
"Kakuzu.." ujar Naruto pelan—tak percaya.
Sebuah seringai terpampang jelas di wajah Kakuzu. "Kau rindu padaku?" tanya Kakuzu bercanda.
"Ja-jadi kamu bawahan Raja Madara?" tanya Naruto masih saja tak percaya.
"Kamu baru tahu?" Kakuzu terkekeh pelan.
Kini wajah Naruto mengeras. Ia mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat. "Seharusnya aku sadar soal ini. Saat itu kau dan teman-temanmu terlalu mudah untuk menyerah. Padahal dilihat dari sifatmu juga teman-temanmu itu, kalian tidak akan mudah menyerah begitu saja"
Naruto tersenyum mengejek. "Jadi, ini rencanamu?"
Seringai Kakuzu yang sejak tadi terpampang jelas, kini mulai memudar setelah melihat Naruto yang tersenyum mengejek. Ia menjadi geram ketika melihatnya. Ia menjentikan jarinya dan seketika datanglah beberapa ratus orang dengan pakain perang yang lengkap. Bersiap untuk perang. Orang-orang itu atau lebih tepatnya semua prajurit itu, segera membentuk formasi di belakang Kakuzu. Memasang sikap siap sedia. Hanya tunggu perintah dari Kakuzu saja lalu mereka akan segera menyerang Naruto dan juga kawan-kawannya.
Seringai lebar terlihat di wajah Naruto. "Apakah kami sehebat itu hingga kalian menyiapkan banyak sekali prajurit untuk membunuh kami?"
Mendengar kata-kata Naruto tersebut membuat Kakuzu kehilangan kesabarannya. Ia pun kembali menjentikkan jarinya yang merupakan pertanda untuk para prajurit itu agar segera menyerang Naruto dan kawan-kawannya. Tak perlu waktu yang lama bagi para prajurit itu untuk merespon perintah Kakuzu. Dengan segera mereka menyerang Naruto dan kawan-kawannya.
Tubuh Naruto dengan gesitnya menghindari serangan-serangan yang ditujukan padanya. Sedangkan tangannya bergerak kasar menyerang semua yang menghalangi jalannya. Lalu saat dia dihadang oleh beberapa orang yang menatap remeh padanya. Api kemarahan membakar dirinya. Namun ketika ia hendak menyerang orang-orang tersebut, tiba-tiba muncul sebuah api yang saling berpilin dari belakang tubuhnya.
WHUSS!
Dalam hitungan detik, api itu telah berhasil melukai orang-orang yang menghadang Naruto.
Naruto yang terkejut segera membalikkan tubuhnya. Berniat untuk mencari tahu siapa orang yang baru saja menghalangi niatnya untuk menyerang orang-orang tadi. Namun begitu ia berbalik, ia hanya melihat Kakashi yang tengah berlari cepat menghampirinya. "Selamatkan saja gadis itu! Urusan disini biar aku dan yang lain yang menanganinya" ujar Kakashi sambil menghindari setiap serangan dan menyerang balik.
Tanpa perlu berpikir panjang lagi, Naruto tersenyum dan segera mengangguk paham. Ia melangkahkan kakinya cepat—menuju ke tempat Sakura berada. Terkadang ada beberapa orang yang berniat menghalanginya. Namun berhasil ia singkirkan dengan kasarnya. Karena saat ini ia tak bisa mengendalikan emosinya. Yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana cara untuk menyelamatkan Sakura. Ia tak sanggup melihat gadis yang memberi cahaya baginya itu terluka. Jika sampai ia membiarkan gadis bunga sakuranya terluka, ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
Kini hanya tinggal beberapa meter lagi hingga ia bisa mencapai tempat Sakura berada. Ya, hanya tinggal beberapa meter lagi sebelum...
BOOM! DUAR!
Sebuah bola api jatuh dari atas dan menimbulkan sebuah ledakan yang cukup kuat untuk melempar seseorang hingga beberapa meter.
Naruto mengerjap-ngerjapkan kelompak matanya. Kepalanya masih terasa berputar-putar setelah dirinya baru saja terlempar karena ledakan tadi. Namun ia tetap berusaha untuk bangkit. Naruto meringis kesakitan ketika dirasa bahu kirinya seperti terbakar. Mungkin ini akibat ledakan tersebut. Tadi memang ledakan tersebut tepat berada di samping kirinya. Jadi, ada kemungkinan bahu kirinya mengalami luka bakar karena ledakan tersebut.
"Rupanya kau masih bisa bangun, ya, un!" terdengar suara dari atas.
Naruto pun segera mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara. Matanya seketika membola saat ia melihat Deidara sedang duduk di atas awan kecil dengan santainya sambil menatap Naruto remeh. Bukan Deidara yang membuat Naruto terkejut. Karena ia telah memperkirakan kalau Deidara juga akan ada disini. Yang membuatnya terkejut ialah, melihat Deidara duduk di atas awan yang melayang. Bayangkan! Duduk di atas awan yang melayang! Seumur hidupnya, ia tak pernah melihat orang duduk di atas awan yang melayang.
Melihat Naruto yang terkejut, sebuah seringai bangga terpampang di wajah Deidara. "Kenapa, un? Terkejut, un? Melihatku duduk di atas awan seperti ini, un?" tanya Deidara namun tak ada jawaban maupun reaksi apapun dari Naruto. Yang ada hanyalah Naruto yang masih saja menatapnya terkejut.
"Sebenarnya ini hal yang mudah, un. Kau hanya perlu membekukan sebuah awan agar bisa diduduki, un. Jadi tak perlu terlalu terkejut, un" jelas Deidara yang mulai bosan melihat tatapan terkejut dari Naruto yang baginya terlihat bodoh itu.
Naruto pun akhirnya tersadar dari keterkejutannya kemudian berdecih kesal. "Cih! Aku terlalu banyak membuat-buang waktuku disini" Naruto kembali melangkahkan kakinya cepat—menuju ke tempat Sakura berada.
"Oi! Urusanku denganmu belum selesai, un!" seru Deidara kesal karena Naruto meninggalkannya begitu saja.
Merasa tak dihiraukan, Deidara pun membentuk bola-bola api dengan tangannya. Lalu melemparkannya pada Naruto. "Terima itu, un!" seru Deidara meluapkan amarahnya.
BOOM! DUAR!
BOOM! DUAR!
BOOM! DUAR!
BOOM! DUAR!
Dengan gesitnya, tubuh Naruto berhasil menghindari setiap serangan yang Deidara tujukan padanya. Tentu hal ini membuat Deidara bertambah geram saja. Namun tak lama kemudian sebuah seringai muncul di wajah Deidara.
Naruto terus berlari sambil menghindari setiap serangan dari Deidara. Namun tiba-tiba ia menghentikan laju kakinya. Itu dikarenakan datangnya sekumpulan prajurit yang begitu banyak. Mungkin jumlahnya sama seperti prajurit yang dibawa oleh Kakuzu tadi.
Walau ia dihadang oleh banyak sekali prajurit, ia tetap tak menyerah. Jika ia menyerah, maka namanya bukanlah Naruto. Jadi dia akan tetap berjuang hingga tetes darah penghabisan. Itu semua ia lakukan hanya untuk Sakura. Gadis yang memberinya secercah cahaya juga harapan dalam hidupnya.
.
.
.
~*~*~*~*~*~Secret of a Country~*~*~*~*~*~
Sakura, dia merasa dirinya sangatlah tidak berguna. Disaat teman-temannya berjuang, dia hanya dapat menonton tanpa bisa membantu apa-apa. Dia jadi menyesal. Andai saja waktu itu ia tidak beristirahat di lorong yang sepi itu. Andai saja ia lebih berhati-hati juga waspada. pasti semua ini tak akan terjadi.
"Gomen, teman-teman. Gomen, Naruto" gumamnya pelan.
Mata Sakura kini hanya tertuju pada seorang saja. Naruto. Ia khawatir pada laki-laki itu. Sifatnya yang ceroboh, dan selalu menyerang tanpa berpikir itu membuat Sakura semakin khawatir. Ia tak mau hal buruk terjadi pada Naruto. Laki-laki yang membuatnya bisa melihat dunia luar. Laki-laki yang tak pernah menyerah.
Terlihat Naruto sedikit kesusahan ketika harus menyerang para prajurit—yang menghalangi jalannya—bersamaan dengan menghindari setiap serangan dari prajurit lain juga serangan bola api dari Deidara. Hal ini membuat Sakura mau tak mau menjadi semakin khawatir. Ia tak bisa tenang. Lalu tiba-tiba terbesit di otaknya. Hal yang mungkin dapat mempermudah Naruto.
"Naruto!" panggil Sakura keras. Naruto yang merasa namanya dipanggil, segera menolehkan kepalanya ia terlihat terkejut juga senang. Rupanya sejak tadi ia tak sadar kalau Sakura telah sadarkan diri.
"Sakura-chan? aku senang melihatmu telah sadarkan diri" ujar Naruto sambil tetap menyerang juga menghindari serangan.
Sakura memutar bola matanya malas ketika melihat tampang Naruto yang terkejut dicampu senang itu. Menurutnya Naruto sangat telat menunjukkan ekspresi itu. Karena sejak Naruto menyerang Madara, ia telah sadarkan diri. Lalu kenapa baru sekarang Naruto menyadarinya? Apa itu tidak kelewatan? Mungkin alasannya karena Naruto terlalu sibuk untuk menyadarinya. Yah, walau itu sedikit keterlaluan menurutnya.
"Sudahlah, tak perlu bahas hal tak penting itu. Lebih baik, coba kamu serang dia menggunakan kekuatan elemenmu!" seru Sakura membuat Naruto sadar. Seharusnya ia melakukan hal tersebut sejak tadi.
Naruto mulai berusaha untuk menyerang Deidara menggunakan kekuatan elemennya. Namun seberapa keraspun ia berusaha, tak ada kekuatan apapun yang ia hasilkan. Ia jadi bingung. Seingatnya, waktu itu ia bisa mengeluarkan elemen angin. Tapi kenapa sekarang ia tak bisa mengeluarkan setupun jenis elemen. Ia tak mengerti.
"Konsentrasilah, Naruto! Konsentrasi!" saran Sakura.
Naruto pun mencoba berkonsentrasi. Namun para prajurit dan Deidara terus menyerangnya hingga ia harus menghindar. Tentu hal ini membuat Naruto sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Konsentrasinya selalu saja buyar setiap seseorang melancarkan serangan padanya yang membuatnya harus menyerang balik atau menghindar.
Sakura menjadi bertambah khawatir juga bingung. Melihat Naruto yang sepertinya kesulitan untuk mengeluarkan kekuatan elemennya. Jika seperti ini terus, bisa-bisa Naruto kelelahan dan hal itu dapat dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya untuk menyerang Naruto. Bukankah itu berbahaya?
"Berhentilah, Naruto!" perintah Madara.
"Kau tak perlu menyia-nyiakan tenagamu seperti itu hanya untuk gadis seperti dia" lanjut Madara sambil mendekati Sakura.
Madara memegang dagu Sakura dan melihatnya lekat-lekat. Sedangkan Sakura membalasnya dengan tatapan tajam dan marah. Ia meronta agar Madara melepaskan tangannya dari dagu Sakura. Tapi Madara malah menyeringai angkuh. "Dia memang manis, tapi banyak gadis yang lebih manis darinya di luar sana. Dia pribadi yang kuat tapi juga lemah" komentar Madara.
Madara melepaskan tangannya dari dagu Sakura dan beralih ke rambut Sakura. Membuat Naruto bertambah marah melihatnya. "Hanya rambutnya yang merah muda saja yang jarang ditemui. Sisanya kau bisa cari dengan mudahnya. Lalu untuk apa kau mati-matian ingin menyelamatkan gadis merah muda ini?" tanya Madara yang juga membuat Sakura tertarik. Sebenarnya ia juga ingin tahu alasan kenapa Naruto begitu ingin menyelamatkannya.
Naruto yang tadinya marah, kini mulai tenang. Ia berdiri menatap tajam Madara dari kejauhan. Karena sekarang tak ada lagi yang menyerangnya. Mana mungkin ada yang berani menyerangnya di saat ia sedang berbicara dengan Madara—pemimpin para musuhnya itu. Sebuah senyum lembut terpampang di wajah Naruto. "Jika kau bertanya alasan umumnya, maka aku akan menjawab bahwa tak butuh alasan apapun untuk menolong seseorang. Tapi jika kamu bertanya alasan khususnya..." Naruto menggantungkan kalimatnya. Membuat jantung Sakura berdegup kencang.
Manik mata Sapphire Naruto kini beralih menatap manik mata emerald Sakura dengan lembut. "Maka akan ku jawab bahwa karena dia sangat istimewa bagiku. Menurutku tak ada gadis yang sepertinya. Bukan hanya tentang rambut merah mudanya. Tapi tentang segala yang ada pada dirinya.." lanjut Naruto membuat Sakura kini menahan nafasnya.
"Walau kami baru benar-benar dekat dan mengenal satu sama lain secara khusus hanya sekitar beberapa hari, namun itu sudah cukup bagiku untuk menuliskan namanya dalam daftar orang-orang yang istimewa dalam hatiku" kalimat Naruto yang terakhir ini membuat jantung Sakura bagai drum yang tengah ditabuh dengan gaya rock n roll. Sangat kencang dan cepat. Ia juga tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona merah bagai kepiting rebus. Beruntung jarak Naruto dari tempatnya cuku jauh. Jadi Naruto tak bisa melihat wajah merah Sakura sekarang.
Di saat suasana yang sangat romantis ini, tiba-tiba saja Madara tertawa keras. Sangat keras hingga telinga Sakura yang berada di dekatnya merasa kesakitan. Seakan gendang telinganya akan pecah jika Madara tak cepat-cepat menghentikan tawanya yang mengerikan itu. "Alasan yang bagus. Aku menyukainya" ujar Madara yang kini telah berhenti tertawa.
Naruto kembali menatap tajam Madara. "Sekarang biar aku yang bertanya"
Sebuah seringai terlukis di wajah Madara. "Tentu saja. Silahkan tanyakan saja apapun yang ingin kau tanyakan"
"Kenapa kamu menculik Sakura-chan?! apa yang kau inginkan darinya?!" tanya Naruto kasar.
Seringai di wajah Madara melebar. "Sebenarnya jawabannya sangat sederhana. Aku hanya ingin memancingmu datang kemari dan seperti dugaanku, kau datang" jawab Madara yang membuat Naruto bingung. Sedangkan Sakura terlihat biasa saja. Karena sejujurnya ia telah mengetahui alasan tersebut.
"Untuk memancingku? Kenapa?" tanya Naruto tak mengerti.
"Kau ini banyak bertanya, ya! Tapi tak apa. Akan ku jawab dengan senang hati. Aku memancingmu karena aku ingin membunuhmu. Aku bisa saja menyuruh seseorang untuk langsung membunuhmu tanpa harus memancingmu kemari dengan gadis ini. Tapi itu tidaklah seru. Akan lebih seru jika mempermainkan dirimu dulu baru membunuhmu" jawab Madara yang membuat Sakura bergidik ngeri. Ia tak tahu kalau orang disampingnya ini adalah seorang Pshycopat berdarah dingin.
"Hanya karena itu kau menculik Sakura-chan dan membuatnya menderita?!" tanya Naruto dengan nada yang mulai meninggi karena marah.
"Woo, tenang. Tenang. O, ya, kamu tidak menanyakan alasanku kenapa ingin membunuhmu?" Madara mulai berjalan menjauhi Sakura dan kembali ke tempatnya semula.
"Kenapa? Kenapa kamu ingin membunuhku?" tanya Naruto pada akhirnya.
Seperti tadi, Madara tiba-tiba saja tertawa keras. Membuat semuanya bingung. Sakura lebih bingung lagi. Dia bingung antara Madara itu orang Pshycopat atau orang gila. Sedangkan Madara sendiri sekarang telah berhenti tertawa. Matanya menatap tajam Naruto. "Aku ingin membunuhmu karena..." Madara sengaja menggantungkan kalimatnya membuat semuanya menjadi penasaran. Namun tidak dengan Kakashi. Karena dia telah tahu alasan Madara.
Ekspresi wajah Madara kini berubah menjadi datar, tak berperasaan, kejam, benci, marah, dan keras. "Kau seorang pa-nge-ran yang hilang" lanjutnya yang membuat mata Naruto dan kawan-kawannya membola karena sangat terkejut. Mereka tak bisa percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Ya! Kaulah pewaris sah kerajaan ini. Kaulah yang sekarang seharusnya menjadi raja bagi negeri ini. Jika aku tak membunuhmu, maka aku tak akan dapat berkuasa lagi disini. Sebenarnya cukup membiarkanmu tinggal di hutan saja. Namun tetap saja ada kemungkinan orang akan mengetahuinya. Jadi kuputuskan untuk mengakhir hidupmu" Madara memperjelasnya. Membuat mau tak mau Naruto dan kawan-kawannya harus mempercayai pendengaran mereka.
"Tapi biar ku permudah saja. Akan ku beri kau pilihan. Kau bisa menyelamatkan satu diantara dua orang yang kutunjuk. Lalu setelah kau menyelamatkan salah seorang dari mereka, kau akan satu lawan satu denganku. Kita lihat siapa yang paling pantas untuk memimpin negeri ini" tawar Madara membuat Naruto semakin bingung saja.
"Pilihan? Menyelamatkan? Siapa?" Naruto sama sekali tak mengerti.
"Ya, pilihlah! Kau ingin menyelamatkan gadis yang sangat istimewa bagimu.." Madara melihat Sakura dan dengan tiba-tiba tali yang mengikat kedua tangan juga kaki Sakura mengencang.
"AAAAAhhhhhh!" teriak Sakura kesakitan. Membuat Naruto terbakar amarah.
"...atau.." Madara menggantungkan kalimatnya dan menatap Naruto dalam. Tangan kirinya terangkat. Lalu tiba-tiba muncul dari dalam tanah di dekat dinding kanan Naruto, sebuah bola yang terbuat dari tanah. Bola itu sangatlah besar. Ini seperti saat-saat kemunculan Sakura.
Setelah bola itu menampakkan wujudnya seutuhnya, tiba-tiba bola itu retak dan tak lama kemudian tanah yang menjadi dinding bola itu hancur berkeping-keping. Memperlihat sesuatu yang berada di dalamnya. Bersamaan dengan itu, Madara melanjutkan kalimatnya yang langsung membuat Naruto dan kawan-kawannya terkejut kecuali Kakashi. "Ibumu, Naruto. Aku selama ini menyembunyikannya agar ia bisa melihat saat anaknya meregang nyawa seperti suaminya"
'Ibu Naruto?jadi selama ini Permaisuri Kushina masih hidup?' pikir sakura.
"I-ibuku?" tanya Naruto entah kepada siapa. Ia terus menatap sesosok wanita berambut merah panjang dengan wajah yang terlihat begitu lelah dan mata yang hanya dapat menatap sayu. Tubuhnya terlihat kurus dan kurang terawat. Tapi semua itu tak mengurangi paras anggun juga cantiknya.
"Ya, dia ibumu. Ibu yang kau nanti-nantikan dan rindukan" Madara sengaja menjawab pertanyaan Naruto untuk memperjelasnya.
Namun itu malah membuat Naruto semakin marah. Cukup menderita baginya melihat keadaan Sakura yang terikat. Kini ia harus kembali menderita dengan melihat ibunya terikat dan dengan keadaan yang begitu menyedihkan. Sedangkan ibunya tiba-tiba saja terlihat bersemangat. Ketika ia dapat melihat anak yang ia yakini sebagai anaknya. Walau ia telah bertahun-tahun lamanya tak melihat anak yang sangat ia sayangi itu, tapi ia tetap dapat mengenalinya. Semua itu karena paras Naruto yang tak jauh beda dengan paras suami tercintanya, Minato.
Seulas senyum lembut terlukis di wajahnya melihat kini anak yang selalu ada di setiap mimpinya itu kini telah tumbuh dewasa. Bahkan air mata Kushina tak bisa ditahan lagi. Tangannya juga terasa gatal ingin memeluk dan mendekap Naruto erat-erat. Namun apa daya. Sekarang ia tak lebih dari sekadar sebuah boneka. Ia tak bisa apa-apa karena terikat seperti ini. Hanya nama Naruto saja yang dapat terucap dari bibirnya. "Na-Naruto...Naruto anakku"
DEG!
Mendengar ibunya memanggil namanya, dunia seakan berputar dan waktu seakan berhenti baginya. Entah kenapa ha itu membuatnya ingin berlari ke tempat ibunya berada dan memeluknya erat. Ia pun hendak melangkahkan kakinya menuju ibunya. Namun Madara menghentikannya. "Pilih Naruto! Gadis yang sangat istimewa bagimu atau ibu yang begitu kau rindukan?"
Naruto menghentikan langkanya dan terdiam. Lalu ia mengepalkan tangannya dan menundukkan kepalanya. Ia menggigit bibirnya sambil berpikir. Ini pilihan yang sangat sulit baginya. Kedua orang itu sangat istimewa baginya. Ia tak bisa memilih salah satu diantara dua orang itu.
"Naruto tak perlu memilih" ujar Ino tiba-tiba. Semua perhatian pun hanya tertuju padanya.
"Selamatkan Sakura, Naruto! Biar ku selamatkan ibumu dan pamanmu akan mengurus para penggangu. Ku lihat ia cukup hebat" perintah Gaara.
"Aku akan membantu Gaara. Kau harus cepat selamatkan Sakura. Jika sampai sahabatku terluka, aku tak akan memaafkanmu" tutur Ino dan Gaara menggangguk setuju.
Senyum Naruto pun merekah. Dengan cepat ia pun berlari ke tempat Sakura untuk menyelamatkannya. Sedangkan Kakashi mulai mengurusi para pengganggu yang berusaha mengganggu Naruto. Lalu Gaara dan Ino berlari ke tempat ibu Naruto berada. Namun tiba-tiba, di tengah perjalanan mereka, tanah yang menjadi tempat mereka berpijak bergoyang.
"Eh, ada apa ini?" tanya Ino bingung.
Tak berapa lama kemudian, terlihat sebuah retak-retakan dari dalam tanah.
"Sepertinya aku terlambat" ucap seseorang bersamaan dengan munculnya sesosok monster dengan rupa yang sangat menyeramkan. Monster itu terbuat dari campuran tanah dan api. Monster itu sangatlah besar dan di pundaknya, terlihat Hidan tengah duduk dengan santainya. Monster itu monster milik Hidan!
"Cih!" Kakazu berdecih ketika melihat kemunculan Hidan. "Seperti biasa. Pasti kau melakukan ritual bodohmu itu dulu, kan?" tebak Kakuzu.
"Tak ada waktu untuk mengobrol" ujar Hidan dingin. Membuat tangan Kakuzu terasa gatal ingin menghajar Hidan. Namun sayangnya kini ia sedang berusaha menghalangi niat Kakashi yang tengah berusaha menghancurkan para penghalang Naruto.
Kemunculan monster itu membuat Naruto dan kawan-kawannya terkejut. Apalagi monster itu berada tepat di hadapan Gaara juga Ino. Hidan pun menggerakan monster itu. Monster itu kini telah berdiri kokoh di atas tanah. Kedua tangannya yang besar itu menghantam tanah.
DUMB!
Lalu muncullah batuan-batuan besar yang terbuat dari tanah bergerak dari bawah menuju Gaara juga Ino. Mereka berhasil menghindar, tapi tiba-tiba muncullah semburan api dari monster itu.
WHUSS!
Api itu salin berpilin dan melesat cepat ke arah Gaara juga Ino. Mereka berdua yang masih belum siap pun akhirnya terkena api itu. Namun tak berhenti disitu, Hidan kembali menyerang mereka menggunakan tanah seperti tadi.
DUMB!
Gaara dan Ino pun terpental jauh. Naruto menghentikan langkahnya karena terkejut. Sedangkan Kakashi masih setia melawan Kakuzu. Lalu Sakura, ia merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Melihat Ino, sahabatnya yang paling berharga kini tergeletak tak sadarkan diri. Begitu juga dengan Gaara. Mungkin itu akibat tubuh mereka yang tak siap menerima serangan. Karena dampak dari serangan akan lebih berpengaruh terhadap orang yang tidak siap daripada orang yang siap.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu mencapai tujuanmu?" tanya Madara dengan sebuah seringai yang terpampang jelas di wajahnya.
Naruto mengepalkan tangannya kuat-kuat dan mendongakkan kepalanya menghadap Madara. "Mungkin kamu tidak akan membiarkanku mencapai tujuanku..." Naruto menggantungkan kalimatnya.
"Tapi aku tetap tidak akan menyerah..." Naruto menatap tajam Madara. Sedangkan Madara, seringai yang terpampang di wajahnya semakin jelas terlihat.
Naruto menundukkan kepalanya. "Ya, aku tidak akan menyerah.." Naruto semakin kuat mengepalkan tangannya. Kali ini kesabarannya benar-benar habis. Madara telah menyakiti gadis yang sangat berharga baginya, menyakiti ibu yang selalu ia mimpikan, dan menyakiti teman-temannya yang dengan setia menemani perjalanannya. Lalu sekarang ia melihat pamannya—Kakashi—yang kini terlihat begitu kelelahan. Ia tak bisa memaafkan Madara atas semua itu.
"Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk meraih tujuanku. Kau harus mengingat itu, Raja Madara!" Naruto kembali mendongakkan kepalanya dan menatap tajam Madara. Namun kini berbeda. Manik mata Sapphire nya yang indah dan jernih telah berubah menjadi merah semerah darah. Gigi-giginya bertambah runcing. Kuku-kukunya yang tajam semakin panjang. Tak hanya itu, bahkan tubuhnya kini bagai diselimuti oleh api dan tumbuh beberapa ekor di pantatnya. Ia terlihat bagaikan seekor monster. Tapi memang ada darah siluman—yang dapat menjadikan Naruto bagai monster—yang mengalir dalam tubuh Naruto. Jadi tidak heran jika tiba-tiba saja Naruto berubah menjadi seekor monster walau tidaklah sempurna.
Semuanya yang tadi sibuk berpertarung, kini berdiri diam tak berkutik. Terkejut dengan perubahan pada diri Naruto. Bahkan Kakashi sendiri pun sangat terkejut.
"Apa yang terjadi padamu, Naruto?" gumam Sakura tak percaya dengan apa yang baru saja dilihat oleh matanya. Naruto terlihat begitu mengerikan menurutnya lebih menyeramkan dari saat Naruto berubah sebelumnya. Ekor-ekor Naruto yang berwarna merah bagai api bergerak-gerak tak tentu arah dan sebuah geraman terdengar dari mulut Naruto yang terlihat menyeramkan dengan gigi-gigi runcingnya. Sakura tahu kalau suatu hari nanti hal ini pasti akan terjadi. Tapi ia tak tahu kalau melihat Naruto dalam keadaan seperti itu akan membuat hatinya begitu sakit.
Sedangkan Madara, ia juga ikut terkejut. Namun itu hanya sebentar. Karena detik berikutnya, sebuah seringai kembali terpampang jelas di wajahnya. "Hoo, permainan baru saja di mulai, ya? Menarik sekali"
.
.
.
~*~*~*~*~*~ To be Continued ~*~*~*~*~*~
Yahoooo, minna! Bagaimana kabar kalian semua?
Semoga baik, ya! Karena kabarku juga baik... (Readers : perasaan nggak ada yang nanya, deh! (-_-) )
Bagaimana cerita kali ini? sudah cukup seru dan menegangkankah? Semoga saja sudah. Karena Shizu sudah berusaha yang terbaik. O, iya! Sekedar informasi, di chapter berikutnya, pertarungan yang benar-benar pertarungan baru akan di mulai. Chapter ini mungkin pertarungannya belum terlalu seru. Gomen soal yang itu dan semoga saja pertarungan di chapter berikutnya akan lebih seru. Semoga saja.
Hmm... sepertinya sekian dulu corat-coret yang tidak penting ini. REVIEW nya Shizu tunggu, ya! Jangan lupa! Sayounara! Dan sampai bertemu di chapter selanjutnya! Jaa!
