Disclaimer : Hetalia belongs to Hidekaz Himaruya
Alternate universe, omegaverse.
Perancis & Inggris ― Juni 1940
Tiba-tiba mulutnya dibungkam. Ia ditarik paksa ke balik sebuah pohon besar. Sepasang mata emeraldnya membulat, ia meronta mencoba melepaskan diri.
Apakah semuanya berakhir hanya sampai di sini? Dia bahkan belum sempat berlari jauh.
"Hei, omega, di mana kau?"
"Aku tidak menyangka larinya cepat juga."
"Mungkin dia bersembunyi?"
"Ah, cepat cari dan tangkap dia!"
Jantungnya berdegup kencang. Derap langkah serdadu terdengar begitu dekat, melewatinya, terus menuju kedalaman hutan gelap. Tangan yang membungkam mulutnya masih persisten erat; sarung tangan hitam dengan samar-samar bau anyir darah. Bau alfa yang tajam; yang baru ia kenali beberapa saat lalu.
Arthur menelan ludah. Dia tahu siapa alfa ini. Hanya tidak mengerti; apa rencana yang ia miliki?
Kegaduhan alfa-alfa yang tengah memburunya terdengar semakin jauh, sementara alfa yang berhasil menangkapnya―Ludwig, ia yakin sekali―masih diam menunggu. Bekapan pada mulutnya tak mengendur barang sedikit pun. Ia dibuat mual oleh bau anyir darah yang menyerang indera penciumannya; darah Francis.
Apa Ludwig berubah pikiran? Atau sejak awal dia tak sungguh-sungguh berniat membiarkannya kabur; hanya ingin agar permainan lebih menarik karena diwarnai aksi pengejaran? Heh, para alfa memang tertarik pada hal-hal yang menantang kekuatan fisik mereka. Mengejar omega di tengah gelap tentu menyenangkan bagi mereka. Seperti berburu mangsa.
Arthur baru akan menyerah dan pasrah menerima takdirnya―karena dia yakin melawan pun percuma―ketika Ludwig melepaskan tangannya, kemudian memutar badannya dengan paksa. Kedua pundaknya dicengkeram erat. Sepasang mata biru itu terlihat jauh lebih tajam, seperti bersinar dalam gelap. Arthur bergidik ngeri.
"Dengar," ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu kembali fokus pada Arthur untuk berbisik. "pergilah ke arah timur, kau akan menemukan sebuah sungai di sana. Berjalanlah mengikuti arus, sekitar 500 meter kemudian kau akan menemukan perumahan penduduk. Ambil ini dan pergilah ke Dunkirk. Sesaat sebelum matahari terbit akan ada kapal menuju Kent. Pulanglah ke Inggris." Tangannya digenggam. Ludwig mengangsurkan gulungan uang kertas kepadanya.
Arthur mengangkat kepalanya, memandanginya dengan tidak percaya.
"A-aku―"
"Kau tidak punya waktu lagi, omega. Setelah hari ini, tidak ada lagi kapal yang akan menuju Inggris, kecuali kepunyaan Jerman. Ini kesempatan terakhirmu, cepat pergi sebelum Gilbert berbalik arah mencarimu."
Ia membuka mulutnya. Ragu. Sepasang mata emeraldnya terlihat bimbang. "Ke-kenapa kau menolongku?" Gulungan uang kertas itu ia genggam dengan tangan gemetar.
Alfa itu mendengus pelan, sejenak kembali memperhatikan sekeliling. Ketika ia beralih kepada Arthur, ada sedikit hangat yang terpancar dari sepasang mata biru itu. "Aku punya seorang omega, dan aku sangat yakin tidak ingin hal yang sama terjadi padanya. Kakak-kakakmu juga pasti tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Sekarang cepat pergi!" Kemudian ia didorong.
Arthur menelan ludah, menganggukkan kepalanya kepada Ludwig, kemudian melangkah cepat menembus belukar liar. Dia tidak bisa berlari, kakinya terlalu sakit. Dan seperti yang dikatakan Ludwig, ada sebuah sungai membentang di hadapannya. Cahaya bulan yang keperakan terpantul pada permukaannya yang tenang. Tidak terdengar bunyi gemericik air, jadi Arthur menyimpulkan sungai itu cukup dalam. Menarik nafas, ia menuruni bukit kecil yang cukup terjal dengan hati-hati. Tangannya berpegang pada pohon-pohon yang tumbuh di sekitar. Jalannya sedikit melompat, tidak ingin memberi beban terlalu berat pada kaki kirinya yang terluka. Ia meringis menahan sakit saat kakinya tak sengaja menginjak rumput berduri.
Arthur memekik kaget saat kakinya menginjak batu yang tidak stabil, yang kemudian membuatnya terpeleset dan mengirimnya meluncuri bukit terjal berbatu hingga sampai di bibir sungai. Ia mengerang; pantat dan telapak tangannya sakit sekali. Dia tidak tahu berapa jam waktu yang ia punya, tapi yang jelas, tidak lama. Ia tidak ingin percaya begitu saja, tapi untuk apa Ludwig membohonginya? Tidak ada untungnya bagi alfa itu. Apalagi karena dialah yang melepaskan Arthur dan memberitahunya petunjuk jalan. Kalau Ludwig bilang ini kesempatan terakhirnya meninggalkan Perancis dengan aman―setidaknya ia tidak perlu berenang mengarungi Selat Inggris―Arthur tidak boleh menyerah hanya karena sedikit nyeri saja.
Ia pun beranjak bangkit, menggertakkan giginya menahan sakit dan meneruskan perjalanannya dengan langkah terseok.
Mungkin tidak semua Nazi sejahat yang orang-orang katakan. Dan siapa pun dia, orang yang menjadi alasan Ludwig untuk melepaskannya adalah omega yang beruntung. Apakah mungkin baginya bertemu dengan alfa yang seperti itu?
Arthur mendengus tertawa, menggeleng-gelengkan kepala. Saat ini yang terpenting adalah mempercepat langkahnya dan segera mencapai perumahan penduduk. Tentang tempat yang akan dia tuju seandainya dirinya telah kembali ke Inggris pun bisa dipikirkan nanti. Apa rumahnya masih aman? Haruskah ia pergi ke pengungsian terdekat? Dapatkah ia meninggalkan Perancis dengan selamat?
Karena terlalu asyik dengan dunianya sendiri, ia tidak lagi berjalan lurus dan hampir terperosok jatuh ke sungai. Arthur merintih kesakitan, pantatnya beradu dengan batu yang ada di pinggiran sungai. Selama beberapa saat ia diam memandangi permukaan air sungai yang tenang, dengan kedua kaki terendam air dingin. Kalau pedesaan yang tuju searah dengan aliran air, kenapa ia tidak berenang saja? Dingin memang, tapi masih lebih baik daripada berjalan tertatih yang pasti memakan waktu lama. Kalau lelah ia hanya tinggal mengikuti arus saja; sepertinya cukup deras.
Ah, ia tidak punya waktu untuk berpikir lama-lama.
Arthur merogoh bagian dalam kemejanya, menemukan sebotol suppressant yang ia bawa untuk jaga-jaga sebelum pergi ke ruang bawah dan bertemu Ludwig. Dia yakin sekali kalau dirinya masih membutuhkan gulungan uang dari Ludwig, jadi ia membuka tutup botol dan mengeluarkan beberapa butir tablet putih, membuangnya. Ia menyisakan beberapa butir, dan ruang kosong untuk menjejalkan uang masuk ke dalam sana. Tidak higienis, tapi ia bisa mendapatkan suppressant lagi kalau sudah sampai Inggris nanti. Arthur menyimpan kembali botolnya, kemudian memandangi permukaan air sungai dan menarik nafas dalam-dalam. Ia menurunkan tubuhnya ke dalam air dan tanpa mempedulikan dinginnya air yang membuatnya menggigil, ia berenang bersama arus. Semoga pelariannya dari tentara Nazi tadi cukup sebagai pemanasan; ia harap dirinya tidak kram. Dia harus berterima kasih pada Dylan yang pernah menceburkannya ke dalam danau, lalu panik sendiri karena baru sadar adiknya tidak bisa berenang. Kalau peristiwa itu tidak pernah terjadi, dia tidak akan pernah belajar berenang.
Ketiga kakaknya memiliki peran masing-masing dalam hidupnya. Mereka jauh dari sosok kakak teladan yang sempurna, tapi mereka bertiga telah menyempurnakan hidup Arthur semampu mereka. Ia harap kakak-kakaknya baik-baik saja.
Badannya menggigil kedinginan ketika seorang penduduk membantu menariknya keluar. Arthur memeluk dirinya sendiri, terbatuk-batuk. Pandangannya buram. Orang-orang di sekitarnya berbicara dalam bahasa yang tidak ia mengerti―bahasa Perancis―yang terdengar seperti dengung lebah di telinganya.
Ah, telinganya kemasukan air. Pantas semuanya terdengar teredam.
Dia dibawa ke sebuah rumah. Tangan yang hangat merangkul pundaknya, membimbing dan menuntun jalannya. Pria baruh baya yang menolongnya tadi terus mengajaknya bicara. Tapi Arthur tidak mengerti sama sekali. Dia ingin mengatakan kalau ia tidak bisa berbahasa Perancis. Dia ingin meminta mereka diam sejenak. Dia ingin bertanya, apakah ada yang bisa mengantarnya ke Dunkirk? Tapi ia terus terbatuk-batuk. Air keluar dari mulut dan hidungnya. Sepertinya paru-parunya kemasukan air. Apakah ia tertidur di sungai tadi dan mengambang sampai sini? Ia tidak ingat lagi.
Pria itu―seorang beta―mendudukkannya di kursi. Tak lama kemudian ada handuk tebal yang menyelimuti tubuhnya.
Jam berapa ini? Waktunya tidak banyak lagi. Ia harus segera pergi ke Dunkirk.
Mereka terus saja berbicara; ia pusing mendengarnya. Tidak bisakah mereka diam sebentar? Ia mengerang pelan, memeluk dirinya. Dasar tubuh lemah sialan.
"Hei, beri dia ruang, beri dia ruang."
Di mana dia? Benarkah ini pedesaan yang disebutkan oleh Ludwig? Apakah di sini aman? Siapa orang-orang ini? Apakah tidak ada tentara Nazi di sini?
"Hei, Nak, katakan, dari mana kau berasal? Kau tidak terlihat seperti orang sini."
Apa yang mereka bicarakan? Dia harus pergi ke Dunkirk sekarang juga.
"Ah, kurasa dia tidak mengerti. Dia pasti orang asing."
Apakah ada yang bisa membawanya ke Dunkirk? Sial, batuk-batuknya tak berhenti juga. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan pada mereka? Kenapa tenggorokannya terasa begitu sakit?
"Hei, Nak, apa yang―"
"Aku―" Ia berdehem, menelan gumpalan dalam kerongkongannya. Apakah itu rumput yang baru saja ia telan? "―aku harus pergi ke Dunkirk sekarang." Suaranya begitu parau, seperti telah memakan kertas pasir.
"Istirahatlah dulu, Nak. Kau bisa melanjutkan perjalananmu nanti. Lagipula, apa yang mau kau lakukan di sana? Dunkirk bukan tempat yang aman." Pria setengah baya yang menolongnya berucap, mengulurkan tangannya dan menyentuh pundak Arthur.
Ia menggelengkan kepalanya cepat-cepat.
"Tidak, tidak. Aku― aku harus mencapai Dunkirk sebelum matahari terbit. Ini kesempatan terakhirku untuk kembali ke Inggris! Kumohon, bawa aku ke sana!" Arthur tidak yakin orang-orang ini mengerti perkataannya. Mereka memandanginya dengan heran. Ia cepat-cepat menyusupkan tangannya ke balik kemeja dan mengambil botol berisi suppressant dan uang. "Aku punya uang! Bawa aku ke Dunkirk, aku mohon! Akan aku bayar! Aku, aku tidak tahu berapa jumlahnya tapi―"
Ia mencoba membuka tutup botol, tapi tangannya terlalu gemetar, berkali-kali gagal. Hingga akhirnya beta tadi menggenggam tangannya. Arthur mengangkat kepalanya, sepasang alisnya bertautan.
"Baiklah, aku akan mengantarmu. Ke Dunkirk, kau bilang? Tapi kau harus ganti baju dulu. Kau akan mati kedinginan sebelum sampai ke tempat itu."
Ia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias. Berkali-kali mengutarakan terima kasih. Ternyata tidak semua orang Perancis menyebalkan seperti kodok itu. Ah, Arthur tidak peduli dengan nasib Francis. Hal yang pertama ia lihat setelah siuman adalah Ludwig berkali-kali melancarkan serangan pada Francis. Alfa itu terlihat begitu menyeramkan. Ia terbangun juga karena merasakan aura membunuh yang gelap dan mencekam. Tidak menyangka kalau tentara Nazi itu berakhir membantunya melarikan diri.
Ada banyak hal yang tidak ia ketahui, orang-orang yang tidak ia kenal, dan situasi yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Pun dengan apa yang ia alami saat ini. Beberapa hari yang lalu ia masih tinggal di rumahnya yang hangat. Tidak peduli meski perang berkecamuk. Karena ia selalu berpikir kalau itu bukan urusannya. Hanya perselisihan para alfa serakah yang haus akan kekuasaan. Dia tidak peduli. Sampai beberapa hari yang lalu, ia masih berselisih dengan Allistor. Berlari dari kejaran kakak sulungnya tanpa khawatir akan tertangkap dan terluka. Selalu ada Aiden sebagai tameng perlindungannya, dan Dylan sebagai pengalih perhatian. Beberapa hari yang lalu semuanya masih baik-baik saja baginya, meski dunia tidak setenang hari-harinya.
Dia masih ingin percaya kalau semua ini adalah mimpi. Lanjutan dari mimpi buruknya tentang kematian Aiden. Atau bahkan mimpi yang begitu konyol dan panjang sebelum Allistor membangunkannya tiap pagi dengan teriakannya yang mengganggu telinga.
Ia hanya perlu bangun dan membuka mata; semuanya akan berakhir seketika. Hidupnya akan kembali normal seperti semula. Tapi kenapa ia tak kunjung bangun? Kenapa ia berkali-kali jatuh dan tetap terperangkap dalam mimpi? Padahal biasanya ia selalu terbangun dari tidur sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Karena ini adalah kenyataan.
Tapi tetap saja, ia masih tetap ingin percaya kalau semuanya adalah mimpi belaka.
Bahan yang melekat pada tubuhnya tidak halus seperti yang ia pakai sebelumnya. Cenderung kasar dan membuat kulitnya gatal. Tapi pada detik ini, ia tak lagi peduli. Karena saat ini ia berada dalam mobil tua―suara mesinnya berisik sekali―yang akan membawanya menuju Dunkirk. Pria paruh baya yang duduk di belakang kemudi berkali-kali mengatakan sesuatu, mengajaknya bicara. Namun ia terlalu lelah untuk memperhatikan. Setelah tak lagi menggigil kedinginan, kini kedua matanya terasa berat. Kalau dipikir-pikir, rasa-rasanya ia banyak tertidur hari ini. Pasti efek samping dari suppressant yang ia konsumsi untuk pertama kalinya. Tubuhnya hanya belum terbiasa.
Kedua matanya mulai terpejam.
"Arthur, hei, bangun. Arthur."
Ada guncangan pelan pada bahunya. Begitu pelan, seperti tidak berniat membangunkannya. Samar-samar ia mendengar suara lembut Aiden, tapi matanya terlalu berat untuk dibuka.
"Hei, bocah! Jangan tidur di situ. Cepat pindah ke kamarmu!"
Alisnya mengernyit ketika ada suara parau yang terdengar jelas di telinganya. Tidak salah lagi; suara Allistor. Namun ia masih tidak punya tenaga untuk sekedar membuka mata. Apakah Dylan mengerjainya lagi? Mengelem kelopak matanya hingga tidak bisa terbuka? Dia mencatat dalam hati untuk menarik rambut pirang kakaknya yang satu itu kuat-kuat. Sekali-kali ia harus perlu diberi pelajaran.
"Shush, pelankan suaramu, Kak."
Sebuah tepukan mendarat di puncak kepalanya. Ia mengerang pelan, masih belum sanggup membuka mata.
"Dia tidak akan bangun kalau kau membangunkannya dengan suara selirih itu."
Ada tangan lain, yang menepis tangan tadi, kemudian membelai rambutnya. Begitu lembut dan penuh kasih sayang, semakin dalam mengirimnya ke dalam gelap yang tenang dan menyenangkan. Bukan sesuatu yang mencekam atau menyesakkan, tapi kegelapan yang damai. Dengan bisik-bisik Aiden yang melantun seperti buaian. Dylan pasti menggunakan lem terbaik yang ia curi dari kotak perlengkapan Allistor untuk mengeratkan kelopak matanya.
"Entahlah, mungkin aku memang tidak ingin membangunkannya? Seharian tadi ia belajar berenang dengan Dylan di sungai belakang. Arthur pasti lelah." Masih dengan belaian lembut pada puncak kepalanya. Ia memang hidup dengan tiga alfa, tapi kadang-kadang rasanya seperti ibunya masih hidup dan menyayanginya. Apakah Aiden benar-benar seorang alfa? Dia masih sulit percaya akan hal itu.
"Heh, aku juga lelah! Kau pikir siapa yang dari tadi memeganginya agar tidak tenggelam? Merepotkan sekali anak ini." Sentilan pada dahinya. Ia mengerang pelan.
"Kau kan alfa, Dylan. Sedangkan Arthur adalah seorang omega. Dia jauh lebih mudah kelelahan daripada dirimu."
"Salahnya sendiri minta diajari berenang."
"Salahmu sendiri menceburkannya ke dalam danau. Kau ini bodoh atau apa, bagaimana kalau dia tenggelam dan mati?"
"Ah, kenyataannya dia masih hidup sampai sekarang, Kak…"
"Hei, hei, sudahlah. Kalian berisik sekali, nanti Arthur bangun."
"Kau terlalu memanjakannya, Aiden!" Allistor dan Dylan menyalak kompak.
Mereka bertiga benar-benar berisik. Tipikal alfa. Ia begitu ingin bangun dan meneriaki ketiga kakaknya agar diam. Tidakkah mereka tahu semua badannya terasa pegal-pegal setelah seharian berada di air? Biarkan dia istirahat, sialan! Oops, Aiden akan mencuci mulutnya dengan sabun kalau tahu ia belajar umpatan dari Allistor. Salahkan si rambut merah yang lebih sering mengumpat daripada berkata baik-baik. Rasanya setiap alfa punya keahlian khusus untuk mengumpat, kecuali Aiden, tentu saja. Atau kakaknya yang satu itu berkata lembut hanya di hadapannya? Sepertinya begitu. Nyatanya ia dapat mengimbangi makian Allistor juga. Para alfa benar-benar mengerikan. Mulut mereka semua harus dicuci dengan sabun berkali-kali agar bersih!
"Kalau kau selalu memanjakannya, dia akan tumbuh menjadi omega yang menyebalkan dan tidak tahu diri, bro."
"Sekarang saja dia sudah cukup menyebalkan dan tidak tahu diri. Si kerdil ini."
Ho, tunggu saja sampai dia agak besar nanti. Sampai dia hanya perlu sedikit berjinjit untuk dapat menyentil dahi Allistor dan Dylan, tidak perlu memakai kursi. Kemudian dia akan lari setelah menarik rambut mereka kuat-kuat hingga tercabut dari akarnya, dan membuat dua alfa itu botak. Lihat saja nanti!
"Itu karena kalian berdua terlalu sering mengganggunya! Aku bisa mendidiknya menjadi omega yang layak dan kuat, kalau tidak ada pengaruh buruk dari mulut kotormu, Kak, dan juga sifat isengmu, Dylan."
Hah, memang benar dua alfa itu mendatangkan banyak masalah dalam hidupnya! Kalau sudah besar nanti, dia akan menikah dengan Aiden dan pergi dari rumah ini. Sudah ia putuskan begitu saja!
"Mustahil! Kau hanya akan menjadikannya omega yang lemah dan tukang mimpi! Kau, Aiden Kirkland, terlalu memanjakan bocah ini!" Lagi-lagi dahinya disentil. Dasar Dylan sialan.
"Kau sendiri akan membuatnya jadi bahan tertawaan! Seperti lelucon konyolmu yang menyebalkan, idiot!" Nah, akhirnya keluarlah kata makian dari mulut Aiden. Ia ingin tertawa, tapi tidak ada suara yang keluar. Apakah Dylan juga mengelem mulutnya?
"Apa katamu? Setidaknya dia akan punya kepribadian yang lucu dan menarik, bukannya tumbuh besar menjadi mesin pengumpat yang hanya akan menakuti para alfa saja, seperti kalau dibesarkan oleh―"
"Eejit, kau ingin mati, ya?!"
"Aku setuju dengan Dylan. Tidak ada alfa yang mau menikah dengan omega bermulut kotor. Aku pun tidak mau." Ah, apakah Aiden serius mengatakannya? Kalau begitu ia harus berhati-hati kalau berbicara di depan Aiden. Jangan sampai kakaknya itu mendengar koleksi kata-kata kasarnya yang bahkan belum ada seperempatnya dari kamus makian Allistor.
"Hoo, jadi si kembar mulai bersekongkol melawanku sekarang? Bagus sekali."
Apakah itu suara gertakan jari-jemari yang ia dengar? Aiden dan Dylan mendengking? Kenapa mereka berlarian? Tidakkah mereka sadar derap langkah kaki mereka berdebum memekakkan telinga? Para alfa berisik itu.
"Huwaaa, ampun, Kak, ampun!"
"Aduh, kenapa kau memukulku keras sekali! Kau tidak pernah melakukannya pada Arthur, padahal dia lebih sering mengganggumu! Aduh, a-ampun, Kaaak!"
Lambat laun derap langkah mereka menjauh. Semakin samar, samar, samar; hingga tak terdengar lagi. Kemudian hanya hening, sepi, dan sunyi yang mencekam. Sekali lagi tenang, dan ia tak lagi mengkhawatirkan apakah kelopak mata dan mulutnya dilem oleh Dylan atau tidak. Semuanya diam, gelap dan tenang, hingga―
"Nak, hei, nak! Bangun, kita sudah sampai." Suara siapa itu? Dia tidak mengenalinya. Terdengar parau, tapi bukan Allistor. Tidak lembut seperti Aiden dan tidak bernada ringan seperti Dylan. Siapa dia? "Nak, bangunlah." Ada tangan yang menyentuh pundaknya, mengguncangkannya pelan.
Hangat. Terlalu hangat. Tidak biasanya London terasa begitu hangat. Di mana dia berada? Apakah dia masih di England? Ah, bukankah kodok sialan itu membawanya ke Perancis? Apakah Perancis selalu sehangat ini?
Ia mencoba membuka matanya, tapi rasanya terlalu berat. Ia seperti tak memiliki cukup tenaga untuk melakukannya. Kenapa sekujur tubuhnya terasa lemas? Apa yang terjadi padanya? Apakah kodok sialan itu berhasil meracuninya? Berani sekali dia, Arthur akan memangkas rambut pirangnya menggunakan gunting rumput.
Kenapa kedua matanya tak juga terbuka? Ataukah mansion Francis memang selalu segelap ini?
Tapi terakhir yang ia ingat―
Tentara Jerman.
Tiba-tiba sepasang matanya terbuka. Nafasnya pendek dan cepat.
"Nak, kau tidak apa-apa?" Ia menoleh. Siapa pria paruh baya ini? Alisnya mengernyit tidak mengerti.
Ah, dia pergi ke tempat yang dikatakan oleh Ludwig. Pemukiman penduduk yang masih aman. Bukankah dia dalam perjalanan menuju ke Dunkirk untuk mengejar kapal? Apakah dia sudah sampai di sana?
Arthur menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sepi. Tidak seperti pelabuhan yang ia ingat. Benarkah mereka sudah sampai?
"Di mana?"
"Pelabuhan masih kurang dari 200 meter lagi ke arah sana. Aku hanya bisa mengantarmu sampai sini, mereka tidak akan membiarkanku lewat. Pergilah. Kuharap kau selamat sampai ke kampung halamanmu." Sepasang mata biru itu memancar hangat. Sekilas mengingatkannya pada Ludwig.
"A-ah, baiklah. Hanya ini yang aku punya, kuharap cukup untuk―"
Tangannya digenggam. "Bawalah, mungkin kau akan membutuhkannya. Berhati-hatilah dalam perjalananmu, Nak. Jauhi para alfa, siapa pun mereka."
Ia memandangi tangan keriput yang menyelubungi tangannya, mengerjapkan matanya dengan tidak mengerti. "Ta-tapi―"
"Hush. Pergilah. Matahari akan terbit sebentar lagi. Pasti kapalmu bersiap untuk segera berlayar."
Arthur menganggukkan kepala. Kakinya masih sakit, tapi untuk jarak 200 meter di depan mata, ia yakin dirinya masih sanggup. Jadi ia berterimakasih pada pria paruh baya itu dan segera pergi. Padahal dia bahkan tidak tahu siapa namanya, dan tidak memberitahu namanya sendiri. Tapi apa pun itu, yang terpenting sekarang, ia harus segera mencapai pelabuhan dan pulang.
Ke mana tempat yang akan ia tuju setelah sampai di Inggris dan apa yang akan ia lakukan di sana, bisa dipikirkan nanti. Keadaan memang tidak akan kembali seperti semula seperti sebelum perang. Karena Allistor, Aiden, dan Dylan tidak akan ada di rumah untuk menyambut kedatangannya. Tapi apa pun yang akan terjadi nanti, Arthur merasa kalau di Inggris, semuanya akan menjadi lebih mudah untuk dilalui. Semoga.
Dia tak mempedulikan denyut nyeri konstan pada pergelangan kaki kirinya yang cedera, memaksakan diri untuk tetap berlari. Keramaian di kejauhan mulai tampak olehnya, membuatnya lebih giat mengayunkan kakinya. Ada satu kapal di dermaga berisi para alfa berseragam; tentara Inggris. Ia menelan ludah melihatnya, tapi tak melambatkan laju larinya. Ia tidak menghiraukan tatapan aneh yang diarahkan kepadanya. Ia tidak peduli. Ia harus segera pulang ke Inggris.
Tapi bagaimana caranya―
"Hei, tunggu, tunggu. Kau mau ke mana? Seorang omega?" Seorang tentara menghentikannya. Alisnya mengernyit heran. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?"
"A-aku harus pulang ke Inggris. Kumohon, biarkan aku naik."
Alfa itu mendengus. "Maaf, omega, tapi kapal ini sudah penuh. Lagipula apa yang akan kau lakukan di Inggris? Pergilah ke pengungsian terdekat dan tinggallah di sana."
"Kumohon! Aku tidak bisa tinggal di sini, aku harus kembali ke Inggris!" Ia mencoba menembus blokade, tapi tentu saja tidak mungkin. Dia tidak selincah itu.
"Hei―"
"Aku punya uang! Aku akan membayar! Aku―" Tangannya menyusup ke balik baju, mengeluarkan botol berisi suppressant dan uang. Dengan tangan sedikit gemetar ia membuka tutup botol dan mengeluarkan gulungan uang. "Ini. A-aku tidak tahu berapa jumlahnya tapi―"
Alfa itu menarik dagunya dengan kasar. Sepasang matanya memicing tajam.
"Mata uang Jerman, huh? Dari mana kau mendapatkannya?"
Alis tebalnya mengernyit. Arthur memperhatikan uang dalam genggaman tangannya. Dia sama sekali tidak menyadarinya sebelumnya. Bodoh, bagaimana mungkin―
"Hei, apa yang terjadi di sini? Kenapa kapalnya belum berangkat juga?" Seorang alfa―sepertinya berpangkat lebih tinggi dari tentara yang menahannya―mendekat. Sepasang mata hijaunya memicing curiga.
"A-ah, maaf, Kapten Andersen, sir. Aku akan segera mengusir omega ini dan akan―"
"Omega?" Pria itu berdiri di hadapannya. Lagi-lagi dagunya ditarik, tapi tidak sekasar tadi. Sepasang mata hijau itu memicing memperhatikannya. Arthur hanya diam. "Siapa namamu?"
"A-Arthur Kirkland."
Alisnya mengernyit. "Kirkland, huh? Apa hubunganmu dengan Allistor Kirkland?"
"Allistor? A-aku adiknya."
Selama beberapa saat alfa itu memperhatikannya. Memiringkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Arthur tidak berani melawan. Ini adalah kesempatan satu-satunya yang ia miliki untuk kembali ke Inggris. Dia tidak boleh menghancurkannya dengan bersikap membangkang.
"Adik, kau bilang? Hmm. Naiklah, aku ingin tahu dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu." Kemudian lengannya ditarik dan ia diseret naik. Alfa yang tadi menghalanginya seperti akan mengutarakan protes, tapi kapten ini―Andersen namanya―lebih dulu memberinya isyarat untuk diam.
Sama seperti waktu ia pergi menuju Dunkirk, para alfa tentara berseragam memandanginya aneh, membuatnya tidak nyaman. Arthur hanya menundukkan kepala dan membiarkan Kapten Andersen menariknya pergi.
"Apa yang kau lakukan di Perancis? Dari mana kau mendapatkan uang itu? Tentara Jerman membayar atas pelayananmu?"
Sepasang mata emeraldnya membulat. "Tidak! Apa maksudmu?! Aku―"
"Jawab pertanyaanku yang pertama, omega. Apa yang kau lakukan di Perancis?" Nada bicaranya tegas dan mengintimidasi. Lagi-lagi Arthur hanya menundukkan kepala, tak berani melihat ke arahnya.
"A-Allistor mengirimku pergi bersama seorang Perancis. Seorang alfa. Orang itu bilang dia tahu tempat yang aman. Tapi kemarin tentara Jerman mengambil alih."
Di ufuk timur langit mulai terang. Kegelapan seperti menyingkir pergi, memberi ruang pada matahari untuk menampakkan diri. Permukaan Selat Inggris yang tenang diretaskan oleh kapal, yang terus melaju tanpa halangan.
Ia menceritakan semuanya pada Kapten Andersen. Tentang percobaan pelariannya dari tentara nazi. Tentang Ludwig yang memberinya kesempatan untuk kabur. Bahkan tentang pria paruh baya yang mengantarnya ke Dunkirk. Kapten Andersen mendengarkan sepenuh hati, tidak memotong pembicaraannya, hanya menggumam sesekali.
Arthur mengakhiri ceritanya dan menghela nafas. Kapten Andersen menganggukkan kepala.
"Perancis telah menyerah pada Jerman, jadi tidak ada lagi tempat aman di sana. Aku sulit percaya pada Tuan Beilschmidt dalam ceritamu, tapi sudahlah. Segera setelah kapal berlabuh, pergilah ke pengungsian terdekat. Aku akan memberitahu Kirkland kalau kau ada di Inggris."
Ada binar pada matanya. Ia terlalu sibuk menceritakan kisahnya sehingga tidak menanyakan kabar kakaknya. "Kakakku baik-baik saja?"
Kapten Andersen mengerjapkan matanya, mengangguk-anggukkan kepala. "Dia baik, aku yakin. Prajurit yang tangguh."
"Kalau begitu, apa― apa kau tahu tentang dua kakakku yang lain? Aiden dan Dylan?" Tentu mereka berdua juga baik-baik saja, kan?
Alisnya mengernyit, Kapten Andersen tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepala. "Maaf, aku tidak pernah mendengar nama itu. Kirkland tidak mengatakan apa-apa tentang keluarganya. Tentu saja, suasana di medan perang tidak memungkinkan untuk bercengkerama santai."
Tentu saja.
"Ah, begitu, ya…"
"Ada pusat kesehatan setengah mil dari pelabuhan Kent. Pergilah ke sana. Paramedis akan mengantarkanmu ke pengungsian terdekat." Dengan itu Kapten Andersen pergi meninggalkannya. Arthur mengedarkan pandangannya dan dari kejauhan tampak dataran Inggris.
Pada akhirnya ia berhasil sampai di Inggris dengan selamat.
Para alfa berseragam masih melemparkan tatapan heran ke arahnya. Arthur mempercepat langkahnya, sakit pada kaki kirinya tak lagi terasa, karena ia mulai terbiasa dengan denyut nyeri konstan itu.
Matahari sudah tinggi, bersinar terik di atas kepalanya. Ia sangat haus dan lapar, harus segera menemukan pusat kesehatan yang disebutkan oleh Kapten Andersen. Melangkah secepat mungkin sambil berusaha untuk menjauh dari tentara-tentara yang tetap memandang aneh ke arahnya. Apalagi dia berjalan sendirian. Mungkin bau omeganya tidak tercium jelas―tersamarkan oleh suppressant yang ia telan setelah Kapten Andersen meninggalkannya―tapi dari postur tubuhnya saja mudah ditebak kalau dia adalah seorang omega. Nasehat pria paruh baya yang menolongnya terngiang-ngiang dalam kepalanya.
Jauhi para alfa, siapa pun mereka.
Ia berusaha mempercepat langkahnya, tidak tahu apakah arah yang ia tuju benar atau tidak. Ia lupa bertanya lebih lanjut pada kapten Andersen. Bodoh.
Sekarang setelah sampai di Inggris, apa yang akan ia lakukan? Apakah benar-benar tidak ada pilihan lain kecuali tinggal di pengungsian?
Arthur tidak ingin mengakuinya, tapi kakak-kakaknya benar. Dia tidak akan betah tinggal di barak pengungsian bersama para omega dan beta yang menyebalkan. Ini bukan saatnya untuk bersikap egois. Arthur tahu dirinya tidak punya pilihan, tapi apakah memang tidak ada sama sekali? Bukankah rumahnya cukup tersembunyi? Mungkin aman kalau dia tinggal di sana saja. Lagipula ia tahu betul seluk beluk rumahnya dan lingkungan sekitar. Ada banyak tempat-tempat yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi kalau-kalau hal yang buruk terjadi. Tapi―
"Hei, jangan pergi sendirian, omega. Di sini berbahaya. Lebih baik kau ikut saja dengan kami."
Tiba-tiba saja ada tiga alfa yang mendekat kepadanya, menyudutkannya. Arthur mengawasi pergerakan mereka dengan waspada. Harusnya dia lebih hati-hati dan tidak menghindari keramaian. Setidaknya di antara puluhan alfa tentara, mungkin ada orang yang bisa membantunya. Sementara sekarang? Ah, Arthur bahkan tidak melihat ada orang lain lagi di sekitar sini. Berapa jauh jarak yang sudah ia tempuh? Kenapa pusat kesehatan yang disebutkan Kapten Andersen tak juga tampak olehnya?
"Ah, jangan takut, darling. Kami akan mengantarmu ke pusat kesehatan. Kakimu sakit, kan?" Tapi kilatan pada mata dan seringaian lebar yang menghiasi wajah mereka membuat Arthur curiga. Apakah semua alfa begitu putus asa dalam carut marut perang ini? Ia menelan ludah. "Ayo, sayang. Tidak perlu membuang-buang waktu lagi."
Salah satu dari mereka mendekat, melanggar zona nyaman Arthur dan menarik tangannya. Arthur mencoba untuk berkelit, tapi tangan alfa itu menangkap lengannya yang terluka, membuatnya memekik sakit.
"G-git! Lepaskan aku!"
"Ho-ho, aku tidak tahu omega yang mengenal kata itu. Menarik sekali."
Arthur dikepung. Dia tidak mengerti mengapa para alfa ini senang sekali memaksa, dan mengapa ia selalu berakhir di posisi tersudut. Ia tidak bisa memukul, kedua tangannya telah ditarik. Menendang pun rasanya tidak mungkin. Ia terpojok, punggungnya beradu dengan batang pohon. Alfa yang berada di depannya melangkah maju. Lututnya menyusup di antara paha Arthur, mencegahnya menutupkan kaki.
"Hehe, aku berubah pikiran, sayang. Lebih baik kita bermain dulu sebelum kami mengantarmu ke pusat kesehatan, oke?"
Ia menggertakkan giginya kesal. Hanya bisa menggeliat lemah. Kalau tidak bisa melawan lagi, satu-satunya cara adalah mencoba meminta pertolongan. Dia tidak yakin bisa berteriak dengan tenggorokannya yang sakit, atau apakah ada orang yang akan menolongnya, tapi tidak ada salahnya mencoba.
"Wanker, lepaskan aku se―hmmp."
Alfa itu tiba-tiba menciumnya dengan kasar. Arthur mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Bau alkohol yang tercium kuat membuatnya mual. Selain itu ia tidak suka sensasi kering dan kasar, yang menempel persisten pada bibirnya.
Sial, alfa brengsek ini mencuri ciuman pertamanya. Bukannya Arthur sengaja menyimpannya untuk pasangannya kelak, ia hanya tidak―belum―menemukan orang yang cukup menarik untuk ia cium. Ciuman yang sering ia berikan pada Aiden waktu kecil tidak dihitung! Itu kan antara saudara.
"Mmhm―puah! Brengsek kau, lepas―mmhm!"
Sialan, apa yang telah dimakan alfa itu sebelum datang mengganggunya? Ada sesuatu yang menjijikkan terasa pada ujung lidahnya, membuat matanya berair. Apalagi karena ada tangan-tangan jahil yang mulai menjelajah ke balik bajunya. Arthur benar-benar ingin menangis dibuatnya.
Rasanya tentara Nazi di rumah Francis jauh lebih manusiawi. Setidaknya mereka sabar menunggu giliran dan tidak bersama-sama mengeroyoknya.
Ah, kenapa dia membandingkan hal seperti itu?
"Ah―" Arthur merasa pantatnya diremas. Mukanya memerah, nafasnya berat. Ia hanya bisa menggeliat tidak nyaman.
Dia jadi meragukan keputusannya untuk kembali ke Inggris. Kenapa dia tidak tinggal dengan orang-orang baik di pedesaan di Perancis? Bodoh. Apa yang akan ia lakukan di sini kalau berakhir seperti ini?
Ia haus dan lapar, belum lagi menderita sakit dan nyeri di sekujur tubuhnya, tentu saja tidak bisa melawan. Tapi ironis sekali, ia berhasil kabur dari puluhan tentara Nazi yang terkenal kejam, kenapa berakhir terperangkap oleh tiga alfa tidak jelas ini? Keberuntungan benar-benar tidak berada di pihaknya akhir-akhir ini. Kenapa alfa-alfa selalu membuntutinya? Aneh sekali, apakah dia mengeluarkan semacam feromon? Padahal ia sudah mengonsumsi suppressant!
"Heh, katakan, apa kau seorang virgin?" Alfa yang mendominasinya mendesak pinggulnya ke depan. Arthur bisa merasakan sesuatu yang keras mengenai pahanya.
"G-git―"
Bahkan makiannya tak lagi berbisa. Ah, tamatlah sudah riwayatnya.
Arthur tidak ingin menyerah, tapi sadar tidak ada yang bisa ia lakukan. Kalau pun secara ajaib ia berhasil melepaskan diri dari cengkeraman ketiga alfa ini, tidak mungkin dia berlari jauh. Denyut nyeri pada pergelangan kaki kirinya terasa lagi. Ia memutuskan untuk fokus pada rasa sakit itu, dibandingkan memikirkan tangan-tangan yang menggerayangi tiap inci tubuhnya.
"Ahh―"
"Hei, aku ingin bertanya, apa kalian tahu di mana letak pusat kese―" Seketika gerakan tangan-tangan liar yang memetakan tubuhnya berhenti. "Oh. Ah, maaf. Sepertinya aku tidak sengaja mengganggu sesuatu yang sedang kalian lakukan."
Arthur bertemu pandang dengan sepasang mata biru langit yang menakjubkan. Sesaat ia terpana, hingga lupa pada apa yang harus ia lakukan, kesempatan yang ia miliki; hingga alfa di hadapannya kembali membungkam mulutnya.
"Pergi! Tanya saja pada orang lain, yankee!" Alfa yang lain berseru.
Sepasang mata emeraldnya membulat. Ia baru menyadari kebodohannya dan memperbarui perlawanannya. "Mmh―tolong―mmph!"
"Apa lagi yang kau tunggu, cepat pergi dari sini!" Serangan tangan-tangan liar pada tubuhnya dimulai lagi.
"Ah, apa kalian yakin? Kurasa omega itu tidak setuju dengan tindakan kalian."
Bodoh. Apakah si pemilik mata biru itu tidak tahu apa yang terjadi padanya? Kenapa malah mengobrol dengan para alfa ini, bukannya menolongnya?!
"Berisik! Pergi dari sini dan kembali ke negaramu, yankee!"
"Tentu, tentu. Aku akan pergi, tapi setelah―hiat!"
Sekali pukul dan alfa yang ada di sisi kirinya terlempar jauh. Arthur tidak yakin, tapi ia sempat melihat sebuah giginya tanggal dan jatuh. Darah mengalir dari sudut mulutnya, ia mengerang kesakitan dan memegangi rahangnya.
"Hei, sialan kau!" Pukulan kedua dan alfa yang ada di sisi kanannya juga terlempar jauh. Tubuhnya menghempas batang pohon dan merosot turun. Darah mengalir dari kedua lubang hidungnya.
"K-kau―"
"Heh, kau pasti lahir dari pantat sialan seorang alfa. Bagaimana mungkin memperlakukan omega seperti itu? Tidak bisa dipercaya!" Alfa bermata biru ini menarik rambut alfa di hadapannya, melemparkannya menjauh. Sebelum alfa itu dapat bangkit, ia lebih dulu mengayunkan kakinya dan menendang rahang alfa itu. Sama seperti kedua temannya, ia terkapar tidak berdaya. Kali ini Arthur melihat dua giginya tanggal, terlempar bersama dengan darah yang memuncrat dari mulutnya.
Ia mengerjapkan matanya dengan takjub.
Kemudian alfa itu membalikkan badan dan Arthur kembali dipertemukan dengan sepasang mata biru yang mengingatkannya pada lautan luas. Warna yang begitu indah dan menghanyutkan. Ia dibuat tidak bisa berkata-kata. Mukanya masih memerah dan mulutnya sedikit menganga. Ia bahkan belum cukup sadar untuk membenarkan bajunya yang berantakan di sana-sini, masih terpukau oleh alfa yang berdiri di hadapannya.
"Err, kau tahu di mana pusat kesehatan berada?"
Pemuda itu mengibaskan tangannya pada rambut pirang keemasannya, tersenyum segan.
Kapten Lars Andersen : Netherland.
Saya terlalu malas untuk menciptakan banyak OC, jadi anggap saja Andersen adalah orang Inggris di cerita ini, haha *plak
Akhirnya Alfred debut! Eh, tapi dia belum memperkenalkan diri… Sudahlah…
