Annoying Boy
Rate:: T
Couple:: Mingyu x Wonwoo (Meanie)
Summary::
Sekolah ini memiliki syarat bahwa siswa-siswinya harus kaya serta tampan dan cantik. Mingyu, siswa kelas satu menjadi idola baru di sekolah bahkan mengalahkan ketenaran para sunbae hingga membuat para sunbae kesal, terutama Wonwoo yang selalu merasa kesal setiap melihat Mingyu.
(Their style according to Mansae's style)
Hiwatari's Present
Enjoy~
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Wonwoo membuka matanya dan menunjukkan mata tajamnya masih terlihat mengantuk. Hal pertama yang ia lihat adalah langit gelap dengan bintang-bintang yang bertebaran di kegelapan itu.
Tersadar jika kini ia sedang duduk di kusi taman, namja berambut hitam itupun dengan segeran menegakkan posisi duduknya dan menyadari jika tangannya tengah dikunci oleh seseorang. Mingyu, masih tertidur dengan tangan yang jari-jari yang bertautan dengan jari-jarinya.
Wonwoo menghela napasnya. Ia melngeluarkan ponselnya dan melihat jam yang terpampang pada layarnya. Sudah jam 7 malam rupanya.
Wonwoo menggoyang-goyangkan tangannya yang tengah tertaut dengan Mingyu agar namja tampan yang duduk di sampingnya itu segera bangun.
"Nggg…." Mingyu menggeliatkan badannya tidak nyaman. Beberapa detik kemudian namja berambut abu-abu itu membuka matanya dan menatap Wonwoo dengan pandangan kosong.
"Sudah jam berapa?" tanyanya dengan suara pelan. Wonwoo menghela napasnya. "Sudah jam 7 lewat, cepatlah pulang sebelum terlalu larut."
Mingyu menguap seraya meregangkan tubuhnya. "Aku akan mengantarmu pulang dulu. Ayo!" Mingyu berdiri seraya menarik tangan Wonwoo. Wonwoo menggelengkan kepalanya.
"Kau harus kembali ke sekolah, 'kan? Mobilmu ada di sana. Aku yakin gerbang sekolah sekarang sudah terkunci, lalu bagaimana caranya kau pulang?" tanya Wonwoo.
Mingyu mengaruk belakang kepalanya. "Tinggal panjat gerbangnya saja, aku selalu melakukan itu," jawabnya dengan cengirannya hingga menunjukkan gigi taringnya. Wonwoo memutar bola matanya.
"Ayo!" Mingyu kembali menarik tangan Wonwoo untuk beranjak dari taman itu. Wonwoo kembali menarik tangan Mingyu hingga membuat namja tinggi itu melangkah mundur.
"Aku bisa pulang sendiri, Kim Mingyu. Kau kira aku ini apa? Anak kecil? Justru kau yang anak kecil, pulang sana!" Wonwoo menghempaskan tangan Mingyu yang sedari 1 jam lebih yang lalu terus menggenggamnya.
Mingyu mengerucutkan bibirnya. Sikap emo Wonwoo kembali lagi. Tapi justru itulah yang membuatnya merasa tertarik pada kakak kelasnya itu.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Wonwoo kemudian beranjak meninggalkan Mingyu.
"Hyung, kau tidak mengatakan apa-apa? Hati-hati atau goodnight?" tanya Mingyu yang masih berdiri pada tempatnya. Wonwoo terus melanjutkan langkahnya, tanpa menoleh ke belakang, ia melambaikan tangannya dan berujar, "Selamat malam."
Mingyu mendengus melihat respon Wonwoo, namun sedetik kemudian ia tertawa kecil sebelum akhirnya ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya kemudian keluar dari taman itu. Hari ini harus memanjat gerbang sekolah lagi.
.
.
.
.
'Adikku menyuruhku masuk ke dancing club saja. Katanya aku tidak cocok masuk klub basket T.T Katanya aku terlalu pendek untuk anggota klub basket. Teganyaaaa!' –Soonyoung.
'Iya, benar apa kata adikmu. Lebih baik kau turuti saja sarannya.' –Jisoo.
'Dasar kau tidak punya hati. Batinku sedang menangis saat ini.' –Soonyoung.
'Lebay.' –Jisoo.
'Dasar lebay.' –Seungcheol.
'Berlebihan sekali.' –Wonwoo.
'Sudahlah... Dia memang berlebihan, biarkan saja dia.'-Junghan.
'Aku Kwon Soonyoung, menyatakan out dari grup ini! Uhuhuhu! Dasar kalian para pembully, lihat saja besok, akan kubalas kalian.' –Soonyoung.
'Tapi bukankah kau memang pandai menari, Soonyoung-ah? Kenapa tidak masuk dua club saja?' –Seungcheol.
'Benarkah? Aku tidak merasa pandai menari. Memangnya kapan hyung melihatku menari?' –Soonyoung.
'Aku pernah melihatmu menari di lapangan basket saat kita latihan, dan kau sangat keren. Sungguh.' –Seungcheol.
'Aku terharu, Seungcheol hyung. You're the best!' –Soonyoung.
'Aku juga pernah melihatmu menari. Di depan toilet, seperti orang gila.' –Jisoo.
'Hong Jisoo! Itu 'kan sudah lama sekali, jangan ungkit lagi! You're the worst, Hong!' –Soonyoung.
Wonwoo tertawa melihat chat grupnya yang sangat ramai. Namja bermata tajam itu mengernyit saat melihat perubahan pada layarnya, tertulis di sana Kim Mingyu ingin melakukan video call dengannya.
Namja bermata tajam itu tampak ragu. 'Jawab atau tidak? Untuk apa dia video call?' Wonwoo berdecak sebelum akhirnya menghempaskan ponselnya ke ranjangnya tanpa menjawab panggilan Mingyu. Akhirnya panggilannya berhenti.
Sedetik kemudian panggilan itu kembali datang lagi. Seperti panggilan terror saja, begitulah pikir Wonwoo. Melirik-lirik sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil ponselnya. Ia lalu dengan segera berlari ke kamar mandinya lalu menghadapkan layar ponselnya ke kloset duduknya, lalu menjawab panggilan Mingyu yang setelahnya menjauhkan wajahnya dari pandangan Mingyu.
Wonwoo menahan tawanya saat mendengar suara terkejut Mingyu.
"Apa ini, hyung? Kau berubah jadi kloset? Kenapa bisaaa?" Wonwoo memutar bola matanya dengan malas. Ternyata tidak enak juga ya disamakan dengan kloset.
"Kau mau apa?" tanya Wonwoo.
"Hyung, aku tidak ingin berbicara dengan kloset. Aku ingin melihat wajahmu. Kalau untuk berbicara dengan kloset, di rumahku sendiri pun aku bisa melakukannya." Wonwoo tertawa kecil mendengar ucapan adik kelasnya itu.
Namja berambut hitam itupun akhirnya menghadapkan layarnya pada wajah manisnya seraya beranjak dari kamar mandinya.
"Ada perlu apa?" tanyanya seraya mendudukkan dirinya ke ranjangnya. Mingyu tersenyum tanpa menjawab. Wonwoo menghela napasnya. "Aku tutup, ya."
"Aku hanya ingin melihat wajahmu sebelum tidur, hyung," jawab Mingyu cepat sebelum Wonwoo memutuskan video call itu.
Wonwoo menghela napasnya. "Baiklah." Membalas perbuatan Mingyu sore tadi tidak ada salahnya, 'kan? Mingyu telah menemaninya tadi, sekarang menemaninya tidak ada salahnya juga.
Namja berambut hitam itu membaringkan tubuhnya ke ranjang kemudian berbalik hingga menjadi posisi terlungkup. Ia menggunakan bantalnya sebagai alas tangan kirinya yang sedang menopang dagunya. Mingyu juga melakukan hal yang sama dengan Wonwoo.
Diam. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Mingyu menatap Wonwoo dengan lekat, tentunya dengan senyum tipis yang masih terus bertahan pada wajah tampan itu.
Sepuluh detik ditatap seperti itu membuat Wonwoo tidak nyaman. Ia mulai mengalihkan pandangannya ke arah lain. Lima detik kemudian ia membenamkan wajahnya hingga sebatas hidung. Kini tersisa kedua mata tajamnya yang masih dapat terlihat oleh Mingyu.
Sepuluh detik kemudian namja berambut hitam itu membenamkan seluruh wajahnya pada bantalnya. Ia lalu membalikkan ponselnya hingga layarnya menghadap ke samping, sehingga Mingyu tidak dapat melihat Wonwoo lagi. Wonwoo menaikkan wajahnya, ia mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya.
"Hyung…. Wonwoo sunbaenim. Sunbaenimmm...!" panggil Mingyu.
Wonwoo mendengus sebelum akhirnya kembali menatap layar ponselnya.
"Kau ribut sekali. Cepat tidur sana! Aku sudah mau tidur." Wonwoo hendak memutuskan panggilan namun terhenti oleh panggilan Mingyu.
"Wonwoo hyung!" Wonwoo terdiam, menunggu kelanjutan ucapan Mingyu.
"Selamat malam, semoga mimpi indah, hyung." Mingyu menunjukkan senyumnya sebelum akhirnya tertawa kecil melihat respon Wonwoo yang hanya mendengus seraya memutar bola matanya.
"Selamat malam dan semoga kau tidak mimpi buruk, hobae-ya." Namja berambut hitam itupun kemudian memutuskan video call itu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak tidur. Ya, Wonwoo tidak memerlukan mimpi indah itu, karena ia sudah memiliki kenyataan yang indah, ia tidak butuh mimpi lagi.
.
.
.
.
Jisoo masuk ke kelas, diikuti oleh Wonwoo di belakangnya. Wonwoo berjalan ke mejanya dengan kening berkerut. Matanya sedari tadi memperhatikan satu benda yang dengan manisnya tergeletak di atas mejanya.
"Apa ini?" tanya Wonwoo pada Soonyoung seraya meletakkan tasnya pada kursinya. Soonyoung menaikkan kedua bahunya kemudian menjawab, "Tidak tahu, saat aku datang itu sudah ada di mejamu."
Wonwoo mengambil benda berwarna biru muda itu dan melihatnya lebih jelas. Ternyata itu adalah cupcake yang dibungkus seindah mungkin. Dan pada cupnya terdapat tulisan 'Good Morning'.
Ahhh, sepertinya ia pernah melihat cupcake yang seperti ini. Ini pasti pemberian Mingyu. Ia lalu mendengus kecil sebelum akhirnya memasukkan cupcake itu ke dalam laci mejanya.
"Ahh, cupcake itu. Seperti yang hari itu kau berikan padaku. Memangnya itu dari siapa?" tanya Seungcheol.
Wonwoo menaikkan kedua bahunya. "Entahlah, tapi kali ini aku akan memakannya. Mintalah pada Junghan hyung untuk membuatkanmu cupcake, hyung."
Seungcheol tertawa kecil mendengar perkataan Wonwoo. Menyuruh Junghan membuatkannya cupcake? Maka Junghan akan memberikan cupcake gagal buatannya. Dan Seungcheol sudah bosan memakan cupcake uji coba yang selalu gagal itu. Meskipun begitu, ia selalu dengan senang hati menerima cupcake buatan Junghan yang dibuat dengan susah payah dan juga cinta, meskipun rasanya aneh.
.
.
.
.
Wonwoo menghela napasnya. Lagi-lagi ia diseret oleh Jisoo, Seungcheol dan Soonyoung ke lapangan indoor. Sebenarnya ia berniat pulang cepat dan melanjutkan membaca komik seriesnya, tapi karena ketiga temannya ini terus memaksanya, apa dayanya dia menolak? Katanya sih mereka butuh bantuannya untuk melihat latihan mereka, apakah latihan mereka sudah cukup bagus atau tidak.
Saat mereka memasuki lapangan, lagi-lagi teriakan ricuh dari kursi penonton menyambut kedatangan keempat siswa kelas 3 itu. Tepatnya teriakan yang diberikan untuk Mingyu yang baru saja mencetak point di permaian kecil mereka.
Wonwoo duduk di kursi cadangan sedangkan semua anggota tengah berkumpul di lapangan untuk melakukan pemanasan sebelum akhirnya memulai latihan mereka.
"Kakimu sudah sembuh total?" tanya Sooyoung pada Minghao yang berada di sebelahnya di sela-sela latihan kuda-kuda mereka.
Minghao mengangguk kecil. "Sudah sedikit membaik dibanding semalam, sunbaenim."
"Kalau masih tidak sanggup, lebih baik istirahat dulu, Minghao-ya," ujar Soonyoung. Minghao menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa, sunbaenim. Aku sudah bisa latihan, kok."
Soonyoung hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Ia selalu suka sisi kuat Minghao. Adik kelasnya itu sangatlah sopan dan tidak ingin merepotkan orang lain, di samping itu, siswa keturunan Cina itu juga sangat murah senyum dan menggemaskan. Ia sangat manis, di mata Soonyoung.
Tanpa ia sadari, senyuman tipis terukir di wajahnya. Namun, senyum itu hilang saat ia mendengar suara peluit milik Jisoo.
"Sekarang kita main lima lawan lima. Bentuk kelompok kalian sendiri. Dalam permainan, gunakan defense dan offense yang baru saja kita pelajari tadi." Jisoo memberikan instruksi sebelum akhirnya ia membunyikan peluit dan pertandingan kecil itupun dimulai dengan Jisoo sendiri sebagai wasitnya.
Minghao, Soonyoung, Vernon, dan dua siswa kelas 2 menjadi seteam. Sedangkan Seungcheol berada di team yang satunya lagi.
Permainan telah berlangsung selama 10 menit sebelum akhirnya terdengar teriakan sakit dari lapangan. Jisoo tampak terkejut melihat Minghao terjatuh ke lantai dengan suara benturan yang cukup keras.
"Ah! Mianhae, Minghao-ya." Seorang siswa kelas 2 berjongkok untuk memastikan kondisi Minghao. Ia tidak sengaja menabrak Minghao saat berlari tadi dan tidak sengaja menginjak kaki terkilir namja berambut blonde itu.
Minghao terlihat berusaha untuk memastikan temannya itu bahwa ia tidak masalah dengan tabrakan tadi, tapi karena kakinya yang terasa sangat sakit, ia tidak dapat berbicara, ia hanya bisa mengerang seraya memegang kakinya.
Jisoo yang jaraknya memang cukup dekat dengan Minghao dengan segera menghampiri adik kelasnya itu. Soonyoung yang berdiri di lapangan lawan, berada jauh dari posisi Minghao mengharuskan dia berlari mendekati adik kelasnya yang cedera itu.
Belum sempat ia menghampiri Minghao, siswa kelas 1 itu telah digendong di punggung oleh Jisoo. Soonyoung hanya berdiri terdiam melihat sahabatnya itu terlihat panik mengurus Minghao yang kesakitan. Minghao duduk di kursi cadangan sedangkan Jisoo berjongkok di depan Minghao. Anggota lain sibuk mengambil obat-obatan dan lainnya yang dibutuhkan oleh Minghao. Terlihat Mingyu memberikan handuk basah hangat pada Minghao untuk dikompreskan pada kakinya.
Namja blonde berheadband itu tampak tersadar dari lamunannya. 'Ah! Mungkin aku bisa bantu memberinya minuman, agar dia sedikit tenang.' pikir Soonyoung yang kemudian dengan segera berlari ke bangkunya untuk mengambil air mineralnya.
Saat ia hendak menghampiri Minghao, lagi-lagi ia menghentikan langkahnya saat melihat kini Jisoo tengah membukakan tutup botol air mineral itu dan memberikannya pada Minghao. Namja yang berstatus ketua klub basket itu kini sibuk memberi obat pada kaki Minghao lalu membalut perban baru.
Soonyoung tersenyum tipis saat melihat Minghao sudah sedikit tenang meskipun masih terlihat wajah kesakitan. Ia hanya terduduk menunduk mengamati Jisoo mengobatinya. Tak berapa lama, Jisoo mengangkat kepalanya dan tersenyum pada adik kelasnya itu, mengucapkan beberapa kata yang sukses membuat Minghao tertawa kecil.
Jisoo mengulurkan tangannya pada wajah Minghao untuk menghapus keringat yang terdapat pada kening namja berambut perm itu. Minghao tersenyum dan semakin menundukkan kepalanya.
Jisoo kemudian meencari sesuatu pada tasnya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah pen spidol kemudian menuliskan sesuatu pada perban yang tengah membungkus kaki Minghao.
'Get well soon, then we can play basketball together again. I'll let you play together with me, just the two of us if you promise me you'll get well soon.'
Tulisan itulah yang membuat Minghao menunjukkan senyum manisnya dan menganggukkan kepalanya. Jisoo juga tersenyum senang seraya mengacak rambut perm Minghao menjadikan rambut blonde itu semakin berantakan.
Soonyoung tersenyum tipis melihat keduanya. Namja berheadband itu menundukkan kepalanya dan memandangi botol air mineral yang tengah digenggamnya. Senyumnya perlahan-lahan terlihat semakin getir. Dan perlahan senyum itupun hilang.
Tanpa ia sadari, tangan kanannya kini menyentuh dadanya. Hanya menyentuh. Ia merasakan ada yang tidak nyaman di sana. Rasanya ia tidak ingin memikirkan apapun sekarang, ia tidak fokus, ia merasa ada yang hilang. Pikirannya saat ini, ia ingin segera pergi dari tempat ini.
Soonyoung mengangkat kepalanya, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan panjang. Ia kembali melihat kedua siswa yang tadi menjadi objek pandangannya itu sebelum akhirnya ia memalingkan wajahnya dan melangkah mundur, hendak beranjak dari tempat itu.
BRUKKK!
"Ah!" Soonyoung tersontak saat ia tidak sengaja menabrak seseorang yang ada di belakangnya saat ia melangkah mundur.
"Mianh-"
"Apa kau tidak melihat-lihat saat berjalan? Lihatlah ini, semuanya jadi berantakan." Soonyoung mengedip-ngedipkan matanya saat melihat seorang siswa berambut cotton pink tengah berjongkok dan sibuk mengumpulkan kertas-kertas yang kini bertebaran di lantai. Ia bingung apa yang dilakukan namja yang memakai seragam sekolah itu dengan berkas-berkas sebanyak itu di lapangan basket.
Namja berambut pink itu menghentikan kegiatannya dan mendongak, menatap Soonyoung dengan malas.
"Masih berdiri? Tidak berniat membantuku?" tanya siswa itu dengan nada kesal.
Soonyoung mengerucutkan bibirnya. 'Galak sekali.' batinnya yang kemudian berjongkok dan membantu siswa itu.
Saat ia sibuk mengumpulkan kertas-kertas yang masih tersebar di lantai, siswa berambut pink itu memukul lengan Soonyoung dengan tumpukan kertas yang telah ia kumpulkan.
"Berikan kertas-kertas ini pada Seungcheol hyung. Katakan padanya untuk menyelesaikan ini semua hari ini juga. Aku muak dan lelah mengurus semua ini sedangkan dia bermain-main di sini." Setelah berujar panjang lebar, siswa berambut cotton pink itupun berdiri dan beranjak keluar, tanpa menunggu respon dari Soonyoung.
Soonyoung terbengong sejenak sebelum akhirnya ia tersadar dan menghela napasnya, ia pun kemudian melanjutkan kegiatan memungut kertasnya. Sedetik kemudian ia berhenti dan menoleh ke arah pintu gedung olahraga.
"Lee Jihoon." Gumam Soonyoung pelan sebelum akhirnya tertawa kecil dan kembali melanjutkan kegiatannya.
.
.
.
.
"Hyung, ayo pulang bersama," ajak Mingyu pada Wonwoo setelah latihan mereka selesai. Wonwoo menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa pulang sendiri."
Mingyu menghela napasnya seraya memutar bola matanya. "Iya, aku tahu hyung bisa pulang sendiri. Tapi aku ingin menemani hyung pulang. Mengertilah."
Sebelum Wonwoo sempat menjawab, seseorang dari belakang memanggil Mingyu.
"Mingyu-ya," Mingyu menoleh ke asal suara.
"Ada yang memanggilmu. Dia bilang dia akan menunggumu di taman belakang." Setelah menyampaikan itu, siswa yang tidak dikenal oleh Mingyu itupun beranjak pergi. Mingyu mengernyitkan keningnya. Ia merasa tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini.
"Sudahlah, pergi sana. Orang itu sedang menunggumu di sana. Cepat pergi." Wonwoo mendorong pundak Mingyu menggunakan jari telunjuknya.
Mingyu berjalan dengan wajah bingung. Namun baru beberapa langkah, namja tampan itu berbalik dan menatap Wonwoo.
"Tunggu aku, hyung. Aku akan segera kembali dan kita pulang bersama." Wonwoo menghela napasnya. Ia tidak menjawab perkataan Mingyu dan kemudian berbalik dan beranjak begitu saja. Mingyu berbalik kemudian memiringkan kepalanya sedikit seraya berjalan ke taman belakang. Ia penasaran siapa yang ingin menemuinya.
.
.
Entah kenapa bukannya menunggu di gerbang sekolah, Wonwoo malah melangkahkan kakinya ke taman belakang. Mingyu tidak mengatakan ia harus menunggu di mana, jadi ia bebas dong menunggunya di mana saja? Termasuk di samping gedung sekolah ini, tepatnya di tempat di mana ia mengintip Mingyu dulu.
Wonwoo terdiam saat Mingyu berdiri berhadapan dengan seorang siswi cantik. Tanpa mendengar percakapannya pun ia sudah tahu kalau siswi itu tengah menyatakan perasaannya pada Mingyu.
Wonwoo sudah pernah melihat adegan ini sebelumnya, tapi kenapa rasanya berbeda dengan sebelumnya? Rasanya ia tidak suka dengan siswi yang kini tengah memerah itu.
'Kenapa menyatakan perasaan saja lama sekali?' batin Wonwoo kesal. Namja bermata tajam itu menarik napasnya lalu menghembuskannya. Mengintip orang sedang bermesraan itu tidak baik dan juga tidak menyenangkan, lebih baik ia segera menjauh. Akhirnya namja berambut hitam itupun berbalik dan beranjak dari tempat itu.
Wonwoo berjalan ke lapangan basket outdoor seraya menendang-nendang batu kerikil yang terdapat di sekitar kakinya.
Setelah sampai di lapangan outdoor itu, ia duduk di sebuah bangku cadangan yang berada di depan pagar kawat. Setelah lima menit duduk terdiam di bangku itu, mata tajamnya dapat melihat seorang namja berambut abu-abu berlari ke arahnya.
"Hahh… Hahh…" Mingyu membungkuk seraya bernapas tersenggal-senggal.
"Apa aku lama?" tanyanya setelah berhasil mendapatkan pasokan udara pada paru-parunya.
"Tidak terlalu," jawab Wonwoo singkat. "Urusanmu sudah selesai, 'kan? Ayo pulang." Wonwoo berdiri dan hendak berjalan keluar lapangan, namun tangannya ditahan oleh Mingyu.
"Tunggu, hyung. Itu adalah bola basket milik Seungcheol sunbaenim. Ia menyuruhku mencari bolanya yang dipinjam anak kelas 2 dan memberikannya besok." Mingyu menunjuk sebuah bola basket yang terdapat sablonan sebutan keren Seungcheol di team basket, Coups.
Wonwoo menganggukkan kepalanya. Mingyu dengan segera mengambil bola itu. Pada saat ia berbalik pada Wonwoo, namja yang berstatus sebagai kakak kelasnya itu telah berjalan hendak keluar dari lapangan.
"Hyung!" panggil Mingyu lagi. Wonwoo menghela napasnya sebelum akhirnya berbalik dan menatap Mingyu.
"Apa… kau melihatku di taman belakang tadi?" tanya Mingyu dengan nada pelan dan ragu-ragu.
"Sepertinya tidak," jawab Wonwoo singkat sebelum akhirnya kembali melangkahkan kakinya.
Mingyu mendengus, sepertinya Wonwoo memang melihatnya. Ia dengan segera berlari menghampiri Wonwoo kemudian menggenggam pergelangan tangan namja bermata tajam itu sebelum akhirnya menariknya mendekati tiang ring.
Wonwoo tidak protes, ia hanya mengernyit tidak mengerti saat Mingyu menariknya ke tengah lapangan dan kemudian memberi jarak di antara mereka.
"Ada apa?" tanya Wonwoo. Mingyu menatap Wonwoo serius, dengan kedua tangannya masih memegang bola basket.
"Hyung, dengarkan baik-baik." Mingyu menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya menghembuskannya dengan panjang. Wonwoo menganggukkan kepalanya.
"Aku… Aku menyukaimu, hyung. Kalau aku mengatakan aku mencintai hyung, mungkin hyung akan mengataiku gombal, jadi aku hanya menyatakan suka pada hyung. Tapi sebenarnya perasaanku ini lebih dari sekedar suka." Mingyu menghentikan perkataannya.
Wonwoo terdiam. Mingyu menjadi gugup, ia melihat ke sana dan kemari.
"Ohh, baiklah! Saranghae, hyung. Apakah hyung mau menerima perasaanku?" tanya Mingyu menatap Wonwoo dengan serius.
Untuk beberapa detik Wonwoo masih terdiam, masih dalam kondisi shock serta loading yang lambat, ia sedang mencerna perkataan Mingyu, sebelum akhirnya ia tersadar lalu menggenggam tangannya sendiri di belakang tubuhnya, matanya melihat ke arah lain, ia tampak sedang berpikir.
Mingyu mendengus perlan. "Perlu berpikir sampai segitunya, ya?" tanya namja berambut abu-abu itu dengan nada pelan. Ia meneguk ludahnya dengan susah payah. Jujur ia sangat gugup, ia tidak punya rencana dan persiapan sama sekali. Entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa ia pikirkan terlebih dahulu.
Sebenarnya Wonwoo benar-benar sedang berpikir. Otaknya menyuruhnya untuk menolak. Jelas-jelas Mingyu adalah orang yang selalu membuatnya kesal. Di sisi lain, hatinya merasa panas mendengar ungkapan Mingyu. Lihatlah, ia kini sedang meremas tangannya sendiri untuk menahan detak jantungnya agar tidak berdetak terlalu cepat.
Mingyu menghela napasnya. Ia merasa tidak sanggup mendengar jawaban langsung dari mulut Wonwoo. Ia kemudian melempar bola basket yang ada di tangannya itu pada Wonwoo. Wonwoo dengan terkejut menerima bola itu.
"Kalau hyung menerimanya, lemparlah bola ini ke ring. Kalau sebaliknya, lemparlah bola ini kembali padaku," ujar Mingyu. Wonwoo beralih dari Mingyu kemudian menatap bola yang ada di tangannya. Ia tampak berpikir. Ia memegang erat bola itu.
'Apa yang harus aku lakukan? AKu tidak tahu harus menuruti otakku atau hatiku. Ini aneh. Aku bingung.' batin Wonwoo yang benar-benar merasa bingung.
Namja bermata tajam itu kembali menatap Mingyu. Mungkin lebih baik ia menyerahkan jawabannya pada nasib dan takdir saja.
"Bagaimana kalau begini saja, kau lempar bola ini ke ring. Jika bola ini masuk, berarti aku menerimamu. Jika bola ini tidak berhasil masuk ke dalam ring, berarti aku menolakmu," ujar Wonwoo kemudian melempar kembali bola itu pada Mingyu.
Mingyu meneguk ludahnya dengan susah payah. Syarat dari Wonwoo untuknya justru membuatnya lebih gugup dan lebih tertekan dari pada syaratnya pada Wonwoo ataupun mendengarnya secara langsung. Jujur ia menyesal menggunakan bola ini sebagai penentu jawaban. Sekarang nasibnya ada di tangannya dan juga bola ini.
Meskipun Mingyu sangat mahir dalam masalah shooting dan selalu masuk, tapi jika kau melakukannya dengan perasaan tertekan, maka bisa saja bola itu meleset.
Mingyu menatap ring itu dengan ragu-ragu. Sedangkan Wonwoo mengamati Mingyu seraya menahan senyumnya.
'Ayolah, beb. Kau biasanya selalu masuk. Kali ini masuklah lagi demi aku. Pleaseeee!' doa Mingyu pada bolanya.
Menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia mendribble bolanya beberapa kali dengan matanya menatap tajam ke arah ring. Bahkan ini lebih menggugupkan daripada penalty shoot.
Kedua tangannya kini memegang bola itu. Bersiap-siap melempar bola itu ke ring. sedetik kemudian bola itu telah terdorong ke arah ring dan…
Masuk!
"Yesss!" Mingyu langsung melompat-lompat tinggi dengan kedua tangannya yang dikepalkan ke udara. Ia kemudian berdiri tegak dan menatap Wonwoo dengan bangganya seraya menunjuk kedua pundaknya dengan kedua jempol tangannya. Wonwoo tersenyum melihat reaksi Mingyu.
Namja berambut abu itu kemudian kembali melanjutkan lompatannya hingga semakin menjauhi lapangan. Wonwoo masih tersenyum sebelum akhirnya ia menyadari jika Mingyu telah melompat terlalu jauh dan senyum pada wajah manisnya pun menghilang.
"Iya, lompat saja sampai ke kutub utara," ujar Wonwoo yang kemudian mengambil tasnya yang berada di bangku cadangan lalu beranjak meninggalkan Mingyu. Mingyu yang menyadari kepergian Wonwoo pun dengan segera mengejar namja berambut hitam itu.
.
.
"Kita mau ke mana? Kenapa lewat jalan ini?" tanya Wonwoo yang berjalan di atas benteng kecil setinggi 60 cm, perbatasan antara jalan dengan selokan kecil. Tangan kanan Mingyu menggenggam tangan Wonwoo agar namja manis itu tidak kehilangan keseimbangan, sedangkan tangan kirinya sedang memegang bola basket Seungcheol yang sesungguhnya sangat merepotkan baginya.
"Ke taman bermain." Wonwoo menghentikan langkahnya lalu menatap Mingyu.
"Kencan pertama kita, hyung," lanjut Mingyu. Wonwoo kembali melanjutkan langkah pelannya kemudian berujar, "Aku maunya ke Sea World."
"Tidak, taman bermain lebih seru. Kalau hyung mau lihat ikan, lihat saja di sana." Mingyu menunjuk selokan kecil yang ada di samping Wonwoo seraya menghempaskan tangan Wonwoo yang tengah ia genggam. Ia lalu berjalan menjauhi Wonwoo seraya mendribble pelan bola basket dengan tanga kirinya.
Wonwoo berdecak kesal. Jika ia terjatuh ke dalam parit tadi, ia bersumpah akan memasukkan air selokan itu ke dalam mulut namja berambut abu-abu itu. Ia kemudian melompat turun dari benteng itu dan menyusul Mingyu. Namja berambut hitam itu menendang bokong Mingyu.
"Aku ingin ke Sea World," ujar Wonwoo. Mingyu menghentikan langkahnya seraya tertawa kecil. Ia menoleh pada Wonwoo lalu merangkul pundak sunbaenimnya itu lalu berujar,
"Baiklah, kita ke sana. Pada awalnya aku juga berpikir untuk pergi ke sana."
Wonwoo mendengus kesal. Tuh 'kan, Mingyu mengerjainya. Inilah sikap Mingyu yang selalu membuat Wonwoo kesal. Namja tinggi itu memang menyebalkan. Selamanya akan sangat menyebalkan bagi Wonwoo.
Tapi di samping kesal, ia juga suka padanya.
.
.
~END~
Pemirsaahhh, ini chapter terakhir Annoying Boy, pemirsaaahh~
Bagaimana? Puas dengan endingnya? Maaf yahh kalau mendadak chapter terakhir. Tapi memang target author ff ini sampai chapter 7 doang. Dan lagi, author kepikiran untuk buat ff lain, plotnya udah dapet, tinggal ngetiknya doing. Jadi sebagai penggantin Annoying Boy, silahkan tunggu ff author selanjutnya~ Stay tune, yaaa~!
Terima kasih banyak untuk readers setia author dan reviewers setia author tercintahh~::
elferani, aspirerainbow, ririnssi, asdfghjkl, fallforceye, Guest, BSion, KureyRey, Woozi455, Inne751, MIKKIkane, Guest, 270, Anna-Love 17Carats, Iceu Doger, yuvikimm97, lulu-shi, kookies, riani98, meanie bae, Meanie0506, exoinmylove, Yeri960, 5F1Mansae, mingyoukes, bizzleSTarxo, xxx, Ririsara, wonuugyu, SintaAstina, meicella, wonngyuuuu, shabrinadivaniarl, dieit, exobaekhyunnnn, XiayuweLiu, Firdha858, inisapaseh, korokurakwayun, Baby Yoongi, decan, oninatayoki, karenwairara123, Byunbaby
Terima kasih untuk dukungan kalian selama ini. Terima kasih banyak untuk kalian semua. #kissnhug
Akhir kata dari author,
Review, please~? Gomawo ^^
*bow* m(_ _)m
