.

.

.

Title:

Genre: Friendship/Family

Rating: T

Summary: 18 tahun sama sekali bukan waktu yang singkat untuk mereka. Ada pertemuan, pendekatan, konflik, koalisi, persahabatan, dan... romansa.

Warnings: Mungkin menurut Anda OOC, menurut saya nggak. Mungkin ada typo yang nyelip. Mungkin...

Disclaimer: Saint Seiya © Kurumada Masami, Saint Seiya: the Lost Canvas © Teshirogi Shiori

.

.

.

VII. M - 18

.

.

.

Pemakaman itu berlangsung khidmat.

Begitu khidmat sampai Manigoldo merasa bosan.

Banyak orang menghadirinya, mulai dari kalangan prajurit rendah sampai Gold Saint. Meskipun terkenal anti-sosial dan jarang muncul di depan khalayak, kabar tentang segala jasanya semasa ia masih aktif membuat mereka semua menyayangi dan menghormati Lugonis, sama besarnya dengan yang mereka rasakan terhadap Leo Ilias, yang baru saja meninggal dua tahun yang lalu.

Manigoldo melirik sekelilingnya. Ia berdiri bersama para Gold Saint lainnya, di belakang Sage-sensei-nya tersayang. Ada Sagittarius Sisyphus, yang berdiri mengapit keponakannya, Regulus, bersama Capricorn El Cid. Ada juga Gemini Aspros, yang akan sesekali melirik ke satu arah—tempat saudara kembarnya, Defteros, secara sembunyi-sembunyi ikut menghadiri upacara pemakaman tersebut. Di sebelahnya berdiri Taurus Hasgard dan Virgo Asmita—dua orang yang baru dilantik menjadi Gold Saint beberapa tahun yang lalu—yang sama-sama khusyuk mendengarkan doa yang diucapkan oleh sang Kyoukou-sama. Aquarius Dègel dan Scorpio Kardia berdiri berdampingan, seolah fokus mendengarkan namun sebenarnya tengah asyik mengamati Pisces Albafica, yang berdiri sangat dekat dengan makam palsu yang tengah mereka kelilingi.

Ya, makam palsu.

Sebelum acara pemakaman dimulai, Albafica mendatangi Sage dan memohon agar diizinkan memakamkan jasad Lugonis di taman mawar di samping kuil Pisces. Tidak ada alasan apapun yang diutarakan—Sage dengan segera memberikan izinnya dan mengatur segalanya. Acara pemakaman ini hanyalah formalitas belaka, sekaligus penampilan debut Albafica sebagai Saint Pisces yang baru.

Meski begitu, di luar dugaan Manigoldo, Albafica dapat menguasai diri dengan baik. Wajahnya datar tanpa ekspresi, padahal beberapa saat yang lalu ia menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya. Mungkin ada kaitannya dengan fakta bahwa yang berada di dalam gundukan tanah itu bukanlah jasad Lugonis atau Albafica memang berusaha menunjukkan kedewasaannya, mencoba menjadi contoh bagi semua orang—bahwa mereka tidak perlu sedih berlebihan ketika dihadapkan dengan kematian seseorang yang begitu disayang.

Acara terus berjalan, namun Manigoldo merasakan sesuatu hal yang aneh terjadi pada tubuhnya. Awalnya ia kira hanya pusing biasa, namun semakin lama semakin terasa seperti ribuan jarum menusuk-nusuk kepalanya, lalu menyebar ke bagian-bagian tubuhnya yang lain. Napasnya sesak. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, namun perlahan keseimbangannya oleng dan hal itu segera disadari oleh Hasgard yang berdiri tepat di sampingnya.

"Baik-baik saja, Manigoldo?" tanya pria bertubuh besar itu, cemas.

"Er… yeah. Cuma sedikit pusing. Sori, tapi biarkan aku bersandar padamu sebentar, Hasgard," ucap Manigoldo sambil menunjukkan cengiran lebar, berpura-pura kuat.

Acara terus berlangsung tanpa terganggu apapun. Begitu doa selesai dipanjatkan, satu persatu para Saint meninggalkan, hingga yang tersisa di sana hanyalah Kyoukou Sage dan para Gold Saint. Dari pengelihatan matanya yang mulai memberat, sekilas ia melihat Sage menghadap ke arahnya, namun detik berikutnya ia malah berbicara pada Sisyphus. Manigoldo tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, meskipun seharusnya dengan pendengarannya yang sudah terlatih cukup baik ia bisa melakukannya. Mungkin karena kepalanya terasa semakin berdentum-dentum. Terlalu sakit untuk memfungsikan indera pendengarannya dengan baik.

"Manigoldo."

Seseorang merangkulnya pundaknya secara tiba-tiba. Fokus matanya kabur sehingga ia tak bisa jelas melihat siapa si pemeluk itu. Beruntung ia hapal suara kamerad-kameradnya.

"El… Cid?"

"Ya. Bertahanlah sejenak. Sisyphus sedang membawa Albafica menjauh, lalu kita bisa membawamu ke kuilmu."

"Hah…? Apa hubungannya dengan Al—"

"Kau menyentuhnya, 'kan?"

Suara Aspros ikut bergabung, dan sedetik setelahnya ia merasakan sentilan kuat di dahinya.

"Aku tahu bahwa kau terus berlatih agar kau bisa memproteksi diri dari racun yang menguar dari aroma di sekitar tubuh Saint Pisces, tapi kau belum menguasai caranyanya! Jangan bertindak bodoh dengan seenaknya menyentuh Albafica, Manigoldo," desis sang Gemini.

Ah.

Itu rupanya.

"Kau dengar aku, Mani—!?"

Teguran Aspros terpotong. Semuanya mendadak berubah gelap di mata Manigoldo.

.

.

.

Bersambung...

.

.

.

Lagi-lagi chapter pendek ahaha. Yang minta Mita~ tuh, muncul ahaha! *dilempar sendal*

aicchan: Gitu-gitu, 'kan, si Maman punya sisi baik, jadi ya betah aja deh. Wong kadang mereka ganti-gantian curhat, Maman ngegalau soal Aal, Cid ngegalau soal Sissy (eaaaa). Oh, ya, ditunggu aja ya giliran Mita nongol dalam porsi yang lebih besar hehe

black roses 00: Wow, bisa nebak, ya? Hebat! *tepuk tangan* Yah, soalnya ceritanya, 'kan, lompat-lompat. Supaya pembaca nggak terlalu bingung sama timelinenya. Insyaallah apdet setiap hari menjelang tengah malam, tapi kayaknya sebentar lagi bakal melambat apdetnya XD

Maturnuwun review ne, mbak, mas. Kulo jaluk review maning ora nopo-nopo to?