©Misscel

Seperti yang dijanjikan, Yunho tiba di depan rumah Jaejoong tepat pukul 6 pagi. Sebelum ke sini ia sudah mengirimkan pesan kepada gadis itu agar bersiap-siap. Sekarang ia tinggal menunggu Jaejoong. Kembali sebuah pesan ia kirimkan ke sosial media Jaejoong. Baru saja pesan itu dikirimkan, sosok Jaejoong sudah nampak dan mengumbar senyum ke arahnya.

Yunho membuka kaca jendelanya, menengok kepada si gadis yang berstatus pacarnya dan memberi isyarat untuk Jaejoong segera masuk. Mata musangnya secara singkat juga memerhatikan bagaimana penampilan gadisnya. Ia nyaris tertawa karena Jaejoong memakai celana pendek selutut, sepatu sneaker, dan t-shirt yang ketat. Beruntung Jaejoong memakai sweater sehingga lekukan tubuhnya tak terlihat dengan jelas.

"Yunnie, baru saja sampai kan?" Jaejoong langsung bertanya ketika mendaratkan pantatnya ke kursi samping kemudi. Ia memasang senyum semanis mungkin yang membuat Yunho lebih terpesona padanya.

"Tidak, Luv. Baru saja. Ayo berangkat, Yoochun dan yang lainnya sudah lebih dahulu menuju lokasi," dengan segera Yunho mengemudikan mobilnya. Tidak ingin terlambat adalah alasan nyatanya kali ini.

Mereka akan menempuh 3 jam perjalanan menuju Sokcho. Barangkali akan membuat Jaejoong bosan terlebih dahulu sebelum hiking. Well, gadis seperti Jaejoong berada di gunung sungguh sangat sesuatu yang langka. Walau memang tidak jarang bahwa gadis cantik dan fashionable menyukai kegiatan hiking, tetapi Jaejoong? Yunho akan melihat secepat mungkin jawabannya, bagaimana ekspresi Jaejoong nantinya.

"Kita akan hiking ke mana? Apa gunung Bugaksan? Aigo, kita bisa mampir ke Blue House jika ke sana, iya kan Yunnie Sayang?"

Jaejoong tersenyum malu dengan tingkahnya yang sedikit lebih genit. Ia membenarkan juntaian rambutnya yang tidak habis di ikat ke atas. Hal itu juga bermaksud untuk menarik perhatian Yunho. Hari ini ia akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan pria itu. Menjatuhkan Yunho lebih dalam pada pesonanya sebagai gadis yang sangat baik di mata Yunho.

"Kita akan ke gunung Seoraksan, Babyboo. Gunung Bugaksan sudah sering sekali kami jelajahi, sebenarnya kami ingin pergi ke Jeju, tetapi kau ikut dan aku tidak ingin orang tuamu khawatir andai menginap," Yunho menoleh sedikit, senyuman tipis yang menawan ia sunggingkan.

Melihat ekspresi Jaejoong yang menautkan kening, Yunho yakin bahwa si primadona kampus ini tidak tahu menahu tentang berbagai gunung yang biasa di datangi pecinta alam sepertinya. Tetapi wajah kebingungan Jaejoong juga sangat menggemaskan sekali. Yunho mencubit pipi Jaejoong dengan pelan dan terkekeh karena Jaejoong mengerjapkan matanya dan menyentuh pipinya dengan wajah merona.

"Yunnie, aku akan menurut saja ke mana pun Yunnie membawaku, asalkan bersama Yunnie, aku mau, seharusnya Yunnie katakan padaku saja, bahwa ingin ke Jeju, aku akan meminta izin kepada orang tuaku. Dengan begitu kita akan bersama-sama lebih lama dan kencan kita akan semakin mengasikkan," Jaejoong menatap Yunho polos.

Ia mengutarakan dengan jujur keinginannya yang selalu ingin bersama pria ini. Tidak peduli dengan permainan atau taruhan yang sedang mereka lakukan. Yunho sudah jatuh cinta padanya, itu kesimpulan yang tidak akan ia ganggu gugat lagi. Dan ia juga tidak ingin munafik dengan menampik bahwa sedang mengalami kasmaran dengan pria tampan yang diinginkan tiap gadis di kampus.

Tanggapan Yunho hanya tertawa kecil dan mengacak lembut rambutnya. Kemudian pria itu memfokuskan ke depan dan kemudinya. Jaejoong hanya bisa menatap Yunho. Ia cukup kesal bahwa Yunho tidak menjawabnya. Perjalanan 3 jam ke depan akan membosankan dengan hanya berdiam saja. Uuh, Yunho begitu berbeda hari ini. Dimajukan bibirnya dengan imut, memberikan ekspresi bahwa ia sedang kesal dengan si tampan yang menggetarkan hati.

"Kau tahu, Sayang? Tadi malam kau benar-benar ingin menggodaku atau bagaimana? Kau tidak tahu bagaimana konsekuensinya, kan?"

Jaejoong sedikit terkejut karena secara tiba-tiba Yunho bersuara dan mengangkat tema yang langsung membuat pipinya bersemu. Ia menunduk sejenak kemudian dengan tatapan yang diubah seperti anak kucing memelas, Jaejoong menatap kekasih tambatan hatinya. "Aku tidak menggoda, hanya ingin mengirimkan photo itu kepada Yunnie saja," ujar Jaejoong dan memainkan kukunya.

"Hmm, aku tidak suka jika kau mengirimkan itu kepada pria lainnya. Jangan berpose yang bisa membuat orang mengejarmu selain di depanku dan hanya untukku."

Mendengar ungkapan posesif Yunho bukannya marah Jaejoong tersenyum lebar. Perasaan senang karena mampu membuat pria itu bagai terbakar cemburu, sangat yakin bahwa Yunho memang sudah nyaris bertekuk lutut padanya. "Aku janji tidak akan mengirimkan photoku yang seperti itu kepada yang lain," Jaejoong memiringkan tubuhnya, perasaannya deg-degan tetapi dengan berani ia menyandarkan kepalanya di bahu Yunho.

"Kau masih mengantuk, Sayang?" Tanya Yunho dan melirik sang kekasih yang memejamkan matanya bersandar dengan nyaman di bahunya.

"Tidak, aku hanya ingin bersandar di bahumu yang nyaman. Tidak boleh?" Mata besar itu membuka dan menatap Yunho yang baginya amat sangat tampan dengan jarak sedekat ini.

"Aku menyetir, Cinta. Kau bisa sepuasnya bersandar di bahuku ketika kita sampai di puncak gunung nanti," Yunho tidak main-main mengatakannya. Ia akan mengabulkan permintaan Jaejoong andai berhasil sampai di puncak nanti.

Kepala Jaejoong langsung terangkat dan menatap berbinar Yunho. Seolah tawaran pria itu adalah sebuah lotre besar yang harus ia menangkan. "Benarkah? Aku boleh bersandar sepuasku? Bagaimana jika memelukmu?" Pertanyaan kedua adalah bentuk keagresifannya yang tidak bisa dibendung. Jaejoong sedikit menyesalkan hal itu, ia menggigit bibir bawahnya dan menyamankan duduknya kembali.

"Aku yang akan memelukmu nantinya. Tidurlah Joongie-ku, aku akan membangunkanmu ketika kita sampai nanti," Yunho tidak ingin Jaejoong kehabisan tenaga sebelum mereka melakukan hiking. Lagi pula Jaejoong terlalu berisik dan cukup menggodanya jika terus terjaga sedangkan mereka harus segera sampai tepat waktu.

.

.

.

Mata Jaejoong berkedip saat Yunho mengguncang-guncang tubuhnya dengan pelan dan menyentuh pipinya lembut. Wajah pria itu tersenyum saat ia terbangun dari tidur selama perjalanan ke sini. Jaejoong membenarkan posisinya bangkit dari kursinya yang direndahkan agar mudah untuk berbaring dan bersantai.

"Kita sudah sampai Yunnie?" Tanya Jaejoong seraya menatap ke luar kaca jendela mobil. Tetapi ia malah melihat sebuah bangunan dan matanya tertuju pada board yang bertuliskan Motel. "Motel?" Tanyanya dengan suara yang pelan dan menatap Yunho penuh tuntut.

Seumur-umur Jaejoong tidak pernah diperlakukan serendah ini. Benar, ia tidak tahu apa yang ada dalam benak Yunho. Tetapi ia memiliki pikiran bahwa hiking dan ke luar kota hanya alibi Yunho semata. Pria itu ingin menjebaknya dan membawanya ke tempat yang jauh. Emosi Jaejoong menggelegak. Meskipun Yunho tampan tetapi ia tidak akan terpesona lagi andai yang dalam pikirannya adalah benar. Ia akan berteriak sekuat tenaga jika Yunho berani menyentuhnya.

"Hmm, kita harus meletakkan barang-barang yang tidak perlu dibawa dulu di sini, lalu kita akan naik bus menuju Seoraksan National Park. Ayo cepat turun, kita harus bergegas," ujar Yunho dengan santai, ujung matanya memperhatikan gerak gerik Jaejoong yang semula ketakutan dengan wajah memucat lalu sekarang berangsur seperti semula dengan kekikukan yang dapat ia tangkap.

Yunho ingin tergelak karena reaksi Jaejoong yang barangkali berpikir berbeda karena melihat motel. Well, gadis di sampingnya benar-benar menghibur sekali. Perjalanan mendaki mereka kali ini lebih berwarna. Setidaknya untuk Yunho, entahlah bagaimana teman-temannya akan menatap Jaejoong ketika mereka melihat nanti.

Pelan-pelan Jaejoong turun dari dalam mobil. Yunho sudah mendahuluinya beberapa langkah. Kegugupannya karena mengira semua jebakan masih ada. Perasaan was-was itu tidak mudah hilang. Ia menatap memperhatikan Yunho yang berbicara dengan salah satu pria paruh baya, kemudian mendapatkan sebuah kunci dari si pria tadi dan berbalik menatapnya.

"Ini kunci untuk kamarmu, aku akan bergabung dengan yang lainnya," Yunho melempar anak kunci ke arah Jaejoong. Tertawa pelan karena sang kekasih tidak bisa menangkapnya dengan baik.

Well, Jaejoong masih merasa gugup Yunho bisa menyadari itu. Ia langsung berbalik dan menuju salah satu kamar yang ada di lorong motel ini. Derap langkah yang berhelat semeter di belakangnya terdengar jelas. Ia tahu itu adalah Jaejoong. Gadisnya mengikutinya.

"Kau akan bersama teman-temanmu?" Jaejoong bertanya dengan suara bergetar dan menatap punggung Yunho yang seksi berbinar.

"Iya, Sayang. Aku takut ada seorang gadis yang ketakutan jika sekamar denganku, padahal kita hanya meletakkan barang-barang saja tidak menginap sama sekali," sahut Yunho dan berhenti di sebuah pintu. Menunggu Jaejoong yang masih melangkah menujunya.

"Tetapi aku.. aku.. " Jaejoong menggigit bibir bawahnya. Ini situasi yang cukup membingungkan. Ia takut di tempat asing ini seorang diri, dan jujur sekarang ia ingin Yunho menemaninya. Entahlah kenapa jadi sekarang malah pikirannya berbalik. Tai sudah cukup penjelasan Yunho tadi bahwa pria itu tidak seperti apa yang dituduhkan pikirannya pertama kali. Ia merasa lega karena itu.

"Apa hmm?" Sebelah kening Yunho terangkat dan wajahnya semakin mendekat ke wajah Jaejoong.

Astaga, Jaejoong gugup sekali sekarang. Bukan kegugupan karena takut, tetapi gugup menantikan apa yang berani Yunho lakukan, apa akan menciumnya lagi sama seperti waktu itu di taman. Pipinya merona merah dengan memikirkan itu. Tetapi pria itu hanya terkekeh dan menggenggam tangannya. Mengambil kunci dari jemarinya dan membuka pintu dengan santai.

"Masuklah Sayang, kita harus melihat apa saja yang ada di dalam sana."

Tangan Yunho menggenggam tangan Jaejoong, melakukan sedikit gerakan mendorong pada Jaejoong agar segera masuk ke dalam. Ketika mereka sudah masuk Yunho menutup pintunya dan menatap Jaejoong dengan tatapan yang penuh arti. Meleburkannya bersama perasaan cinta yang meluap-luap.

"Aku suka ketika kau menuliskan sederetan kata ketika mengirimiku photo kemarin. Kau begitu menggemaskan dengan menyebut namamu seperti itu," bisik Yunho tepat di telinga kanan Jaejoong yang membelakangi posisinya.

Seringaian lebar tercetak di bibir Yunho. Pelan-pelan ia harus membuat gadis ini lebih jauh masuk dalam perangkap cintanya yang tidak memiliki jalan ke luar. Penjara. Benar, penjara cinta yang sudah ia siapkan untuk Jaejoong, sang ratu yang akan ia manjakan tapi akan selalu dituntun mengikuti apa kata sang raja, dirinya.

.

.

.

EYD ga beraturan, typo dimana" -bow-.

Lebih aktif di wattpad. Misscelyunjae.

thank buat yang sudah reviews :) .

.

.

.