Gelapnya malam tak sanggup menyembunyikan betapa mencekamnya perang yang sebentar lagi akan berlangsung. Kegelapan ini malah membuat suasana kian menakutkan. Debaran jantung, laju aliran darah, keringat yang muncul dalam hawa dingin telah menunjukkan kalau hanya Sang Pencipta yang dapat mencegah terjadinya pertempuran ini.
Sasuke dan hampir setengah populasi pasukan telah melaju lebih dahulu ke medan perang. Mereka pergi menuju ke posisi yang telah ditentukan, menunggu saat yang tepat sebelum menyerang lawan. Pain juga bersiap pada posisinya. Orochimaru menyerahkan pertaruhan strategi perang ini pada keduanya. Sasuke dan Pain, keduanya adalah samurai handal yang mungkin bisa menjadi kunci dalam pertempuran ini.
Sayup-sayup, telinga Orochimaru menangkap gemuruh dari kejauhan. Musuh semakin dekat, ia tahu itu. Padang rumput luas yang terletak di antara perbatasan kedua negara akan menjadi saksi. Alih-alih gentar, kini pria itu malah tersenyum. Darahnya mendidih karena telah lama tak pernah turun langsung ke medan perang. Ia berbalik ke belakang, memandang satu persatu wajah pasukannya. Semoga kali ini dewi keberuntungan berpihak padanya.
Setelah perang ini selesai, diam-diam ia akan mencari dan membunuh Haruno Sakura—tanpa sepengetahuan Sasuke tentu saja. Orochimaru akan memberikan siksaan yang tak bisa dibayangkan manusia mana pun. Ia akan menyiksa Sakura sampai pererempuan itu akan memohon untuk mati saja. Ah, terlalu banyak hal yang ingin ia lakukan sebagai pembalasan pada perempuan itu. Lihat saja nanti. Sekarang, ia harus fokus pada musuhnya dulu.
Kabut tebal menutupi indera penglihatan. Api yang berasal dari obor membuat suasana pada dini hari tersebut didominasi dengan warna merah. Dewa kematian seperti sedang mengintai dibalik tebalnya kabut, mereka siap menyambut jiwa-jiwa yang akan gugur sesaat lagi.
Orochimaru dan Hyuuga Hiashi, kedua pemimpin tersebut saling berhadapan.
Orochimaru yang angkuh.
Hyuuga Hiashi yang penuh angkara murka.
Hiashi sedikit merasa di atas angin karena melihat pasukan Orochimaru yang kalah jumlah. Kerumunan lawannya tak sebanding dengan pasukan yang ia bawa. Kabut tebal dan merahnya api akibat nyala obor tak dapat menutupi perbedaan tersebut. Dan pada saat seperti ini, Orochimaru masih menunjukkan kesombongannya. Mereka semua harus membayar mahal karena sudah mengkhianati perjanjian damai yang telah disepakati dan sudah tentu pembalasan akan kematian Neji.
Tak perlu lagi ada basa-basi. Tak ada kata yang perlu dikeluarkan.
Aba-aba telah diberikan. Kedua pasukan saling melaju, semakin mendekat, dan ledakan, gemuruh, dentingan pedang mulai terdengar. Perang ini sudah dimulai!
.
.
.
.
.
SHADOW
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto. Saya tidak mengambil keuntungan apa pun dari pembuatan fanfiksi ini.
AU
Didedikasikan untuk allihyun.
.
.
.
Suara pedang yang beradu, tombak yang saling menusuk. Kilatan cahaya dari ujung pedang menjadi saksi setiap nyawa yang tercabut. Rumput hijau mulai penuh dengan warna merah. Bukan, ini bukan merah akibat nyala api. Ini adalah darah!
Cipratan darah tak hanya memenuhi rerumputan, tapi juga senjata, wajah, dan tubuh para prajurit—entah kawan atau lawan.
Pain belum merasa ada yang menarik dalam pertempuran ini. Ia belum mendapat lawan yang sepadan sejak tadi. Kepuasan membunuh seratus samurai lemah tentu tak setara dengan membunuh satu komandan tangguh lawan. Ah, apa ia melaju ke pasukan inti lawan saja? Tapi, kalau begitu juga tidak seru. Tidak menyenangkan kalau pemimpin lawan lebih dulu mati.
Sabetan pedang terdengar lagi. Kali ini pria itu menebas leher prajurit lawan yang hendak menyerangnya dengan tombak. Menghindari arah tusukan tombak bukan hal sulit untuknya. Tusuk, tebas, potong, tendang, menghindar. Huh, semua terasa membosankan, sama sekali tak menarik. Tak adakah lawan yang lebih sepadan untuknya?
Pain akhirnya mulai sedikit senang saat menghadapi salah satu komandan pasukan lawan. Mereka bertarung cukup sengit. Lengan Pain bahkan sempat terkena sabetannya. Namun, sekali lagi Pain menunjukkan perbedaan kualitas yang mereka miliki.
Pria itu membalikan badan, ia tersenyum mengejek dalam hati. Orang-orang berperang seperti gerombolan ikan yang dibom. Lautan manusia yang saling beradu demi kesenangan penguasa. Dalam hati, ia mencemooh orang-orang tersebut.
oOo
Sasuke menunggu pada posisisinya dengan sabar. Keriuhan yang ditangkap indera pendengarannya menandakan kalau pertempuran telah berlangsung. Ia masih menunggu saat yang tepat sebelum menjalankan rencananya.
Pria itu dapat merasakan kegelisahan yang menyelimuti pasukan yang ia bawa. Mereka sudah tak sabar untuk bergabung dan bertarung. Sabar, kalau muncul sekarang semuanya akan kacau. Untuk mengantisipasi keadaan, ia sudah memerintahkan beberapa orang untuk menelusuri sekitar wilayah pertempuran. Jika mereka bertemu dengan mata-mata lawan, maka orang itu harus dibunuh tanpa ampun. Jangan pernah membiarkan pihak lawan tahu kalau ada pasukan yang masih bersembunyi.
Waktu terus begulir. Pihak Orochimaru semakin terdesak akibat kalah jumlah. Hyuuga Hiashi semakin yakin kemenangan telah berada di pihaknya.
Pasukan Orochimaru terus terdesak.
Kekalahan semakin membayanginya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tepat pada saat Hiashi merasa ia sudah menang, dari arah samping muncul pasukan lain. Mereka datang bagaikan kilat yang menyambar bumi. Cepat dan mematikan.
Sasuke dan beberapa orang langsung menuju ke pasukan inti lawan sementara pasukan lainnya terus menyerang. Orochimaru menyeringai licik, mereka berhasil membuat lawannya terkecoh. Sungguh bodoh berpikir kalau mereka sudah hampir kalah. Pasukan yang bertempur tadi bukanlah pasukan utama. Pasukan utama adalah pasukan yang kini menyerang dari segala arah dengan Formasi Cakrabyuha. Samurai-samurai yang baru muncul adalah mereka yang tak takut mati, mereka yang sadar kalau strategi Sasuke adalah penyerangan satu arah. Tak ada kata mundur, sekali maju maka hanya ada dua pilihan, membunuh atau dibunuh.
Pasukan Shimosa tentu belum mengantisipasi adanya serangan mendadak. Waktu telah hampir pagi, pasukan lawan telah kewalahan, saat itulah mereka lengah. Sasuke berhasil membunuh dua komandan lawan. Dalam kerumunan orang yang tak terhitung jumlahnya, Sasuke melaju seperti seekor hiu yang membelah kerumunan ikan kecil.
Orochimaru menyeringai puas. Inilah pertarungan yang sesungguhnya.
.
.
.
oOo
.
.
.
"Kau masih diam di sini?" Perempuan yang menyambut Sakura dengan tak ramah di lorong tadi sepertinya belum puas untuk terus mengusiknya. Perempuan itu mendecih saat Sakura tak menunjukkan tanda-tanda akan menggubris ucapannya. Sakura tetap berlutut dengan serius di depan patung Buddha, matanya terus terpejam sambil mengatupkan tangan di depan dadanya. "Doamu tak akan didengarkan. Jadi, percuma saja."
Sakura membuka kedua kelopak matanya. Mata hijaunya memicing pada perempuan itu. "Doa seorang ibu selalu didengar, sebanyak apa pun dosanya."
"Anak Iblis benar-benar sudah cengeng sekarang. Aku jadi penasaran, sehebat apa Uchiha Sasuke ini sampai kau melupakan kami."
Sakura tak menjawab. Ia malah memberikan senyum mengejek. "Tapi, aku tak selemah dirimu yang tak bisa menyelesaikan misi."
"Itu karena mereka tak memberikanku waktu yang lebih banyak!"
"Terima saja kalau kau memang lemah, Tenten."
Perempuan yang dipanggil Tenten itu mendengus. Sakura kembali pada posisinya untuk berdoa. Ia tak mau lagi meladeni semua ucapan Tenten yang memang ditujukan untuk memancing emosinya. Ia hanya ingin mendoakan arwah Sanosuke agar tenang di alam sana.
"Lebih baik kau berdoa agar Uchiha Sasukemu itu tidak mati malam ini. Karena sebentar lagi strategi serbuk bunga akan dilaksanakan."
"Aku tak peduli padanya. Mau dia mati atau hidup, semuanya bukan urusanku. Orang yang paling kucintai telah mati, tak ada lagi yang perlu kukhawatirkan."
.
.
.
oOo
.
.
.
Pertempuran masih berjalan dengan sengit. Strategi Sasuke bisa dibilang cukup efektif, tapi perang ini belum selesai. Pain yang juga menyerang pasukan inti mulai merasakan kesenangan tak terkira saat melihat Sasuke membunuh lawan-lawannya. Tubuhnya bergejolak karena ingin melawan lelaki itu.
Pain memacu kudanya mendekati Sasuke, keduanya bersisian melawan musuh. Perpaduan dua samurai terhebat di Hitachi ini membuat gentar lawan. Mereka bagaikan dua elang yang sedang menyambar kumpulan tikus. Tak ada ampun, semuanya diselesaikan dalam satu tebasan. Entah sudah berapa banyak mayat yang berkelimpangan di sisi keduanya. Pemandangan semakin mengerikan karena hari telah menjelang siang dan matahari telah berkuasa kembali di langit.
Ya, inilah saatnya membuat Iblis Perang bangkit.
"Kau tahu, Uchiha," ucap Pain sambil membalas serangan lawan. "Aku yang membunuh anakmu."
Sasuke berbalik dengan tatapan penuh amarah, kuda yang ditungganginya terlihat sangat gelisah karena aura berbahaya yang memancar dari sekujur tubuhnya.
"Aku yang memanahnya."
"BEDEBAH!"
Arah kuda Sasuke langsung berbalik menuju Pain. Warna matanya sudah semerah darah. Ini dia yang ditunggu Pain sejak tadi, Iblis Perang yang sedang murka.
Pertarungan di antara keduanya tak terelakan. Pain menerima semua serangan Sasuke dengan senang hati. Sedangkan prajurit lain terlihat kebingungan. Dua orang yang seharusnya bahu-membahu memenangkan Hitachi malah saling menyerang.
Tak ada yang berniat melerai karena telalu takut. Bagi pihak Shimosa, hal ini tentu menguntungkan. Tapi, tidak untuk pihak Hitachi. Sasuke dan Pain adalah andalan mereka, sudah pasti ini adalah sebuah kerugian besar.
Panas matahari kian menyengat. Arena pertempuran semakin sengit. Tak ada yang tahu ke mana arah perang ini. Semua menjadi tak menentu, terutama sejak Sasuke dan Pain bertarung. Mereka seperti sudah siap membunuh satu sama lain. Suara pedang mereka yang beradu terdengar sangat mencekam. Luka akibat tebasan pedang mulai menghiasi tubuh satu sama lain.
Lalu, pada saat itu juga kabut tebal kembali menyelimuti. Orang-orang tanpa terkecuali memegang dada atau lehernya karena kesulitan bernapas. Satu demi satu mulai bertumbangan. Tak terkecuali dengan Sasuke dan Pain. Mereka berdua sama-sama berjongkok dengan menggunakan pedang yang ditancapkan ke tanah sebagai penyangga, mencegah agar tubuh mereka ikut jatuh. Keadaan semakin tak menentu.
Di tengah tebalnya kabut, muncullah orang-orang berjubah hitam yang memakai topeng berbentuk wajah hewan. Mereka berjalan melangkahi jasad para prajurit seperti tanpa beban. Beberapa terlihat mengangkat tubuh orang-orang yang sudah pingsan—orang-orang yang diketahui sebagai petinggi Shimosa dan Hitachi.
"Grrrh," geram Sasuke saat tubuhnya mulai kehilangan kesadaran. Ini bukan kabut biasa, pasti ada zat lain yang terdapat di dalamnya.
"Sial, kenapa mereka mengganggu kesenanganku?" Pain terlihat tak senang, entah ia berkata pada siapa. Terlihat jelas pria itu sangat terganggu karena pertarungannya berhenti di tengah jalan.
Sasuke tak dapat menyaksikan kejadian berikutnya karena kesadarannya juga ikut hilang. Dari belakang, salah satu sosok berjubah hitam itu menyerahkan topeng pada Pain, sepertinya topeng itu mencegah mereka ikut pingsan akibat kabut aneh yang tengah menyelubungi medan perang.
"Semua target sudah dibawa, kita pulang sekarang," kata orang itu pada Pain.
"Sebentar, bawa dia juga," balas Pain sambil menunjuk Sasuke. Ini akan semakin menarik. Mereka bisa melanjutkan perterungan ini di lain waktu.
oOo
"Yang Mulia, strategi serbuk bunga berhasil."
Wanita itu tersenyum puas saat mendengar laporan dari bawahannya. Dengan ini, resmi sudah Shimosa dan Hitachi jatuh ke dalam genggamannya. Oh, tak lupa juga dengan sekutu kedua negara tersebut. Bagus, setengah Jepang sudah ia kuasai. Hanya tinggal sedikit lagi sebelum semuanya sempurna.
"Pain dan yang lainnya sedang dalam perjalanan untuk kembali."
"Bagus, kau boleh pergi."
Berikutnya, tawa kepuasan wanita itu menggelegar, memenuhi seisi kamar mewahnya. Ia sudah menunggu lama akan saat-saat seperti ini. Para bangsawan bodoh yang haus kekuasaan itu tinggal menunggu waktu untuk kehilangan kedudukannya. Jubah merahnya ia lepaskan. Ia menghirup udara sebanyak yang sanggup ditampung paru-parunya. Inilah kemenangannya.
.
.
.
.
.
.
.
Di dalam penjara, Pain menatap perempuan itu tanpa diketahui penjaga lain. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengannya di sini. Haruno Sakura, Anak Iblis itu masih sama seperti yang dulu.
.
.
.
.
.
Sakura melihat kertas kecil yang diselipkan di lengan kimononya. Dari dalam tandu, ia menatap sang pria yang duduk dengan nyaman di atas kudanya. Sungguh di luar dugaan, ia malah bertemu dengan Pain di sini, di Hitachi. Orang itu adalah salah satu orang kepercayaan Yang Mulia. Pesan yang tertulis di dalamnya sangat jelas. Ia harus kembali membunuh.
'Aku telah membujuk Orochimaru untuk mengirimmu ke Shimosa. Kau harus membunuh Hyuuga Neji, buat Hitachi dan Shimosa berperang. Jangan sampai penyamaranmu terbongkar. Sudah ada Tenten di sana, dia akan menjelaskan semua tempat yang ada di kastel Shimosa.'
.
.
.
.
.
"Lakukan tugasmu dengan baik."
Itulah yang Pain ucapkan padanya saat mereka tiba di Shimosa. Wanita itu menggeram, Pain berlaku seolah Sakura akan gagal dalam misi ini. Waktu bermain-main sudah selesai.
.
.
.
.
.
Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
.
.
.
.
.
Tbc
A/N:
Lakukan tugasmu dengan baik. Kalau ada yang ingat, Pain pernah ngucapin itu di chapter 4 hohoho
Saya memang sengaja bikin beberapa plot hole yang membingungkan, semuanya bakal terjawab seiring perkembangan fict ini. dan semuanya bakal jelas saat fict ini berakhir.
Saya langsung balas review saja. Yang login cek PM.
Shiechan: Kenapa sakura dijuluki Anak Iblis? Hmm, rahasia dulu ya. Yang pasti dia dapat julukan itu bukan tanpa alasan ;)
Rainy de: awal pelarian mereka ada di fict IRONI. Fict Shadow ini adalah sequelnya.
naanuu: tunggu di ending aja ya hehe
guest: makasih, ini udah update
allihyun: yo, thx al buat koreksi typo dan misstyponya. Huhu sesuai dugaan gue, lu ngalay di kotak ripiu wkwk nih udah gue update
cheryyl: haha tunggu saja saat SS ketemu, kira2 bakal gimana ya? #ditendang
UR: thx, ini udah update
Guest: alurnya semrawut gaje? Kan sudah saya bilang memang sengaja dibikin ada plothole ;) kenapa sakura ga memberontak waktu diperkosa neji? Namanya juga lagi misi, ya harus meyakinkan dong #ditendangSakura
Namuchi: siapa Yang Mulia itu? Hayo tebak siapa #dilempar
Uchan: yoo
Naoe bia: makasih
Guest dan K: yo, udah lanjut.
.
.
.
Kalau nemu typo atau misstypo, kasih tau saja ya di mana. Mata saya suka ga teliti.
Terima kasih untuk semua yang sudah baca, review, fave, dan follow. Saya tunggu tanggapannya untukn chapter ini.
