Disclaimer :
Naruto - [Masashi Kishimoto]
Highschool DxD - [Ichiei Ishibumi]
By : ARIES.H
Warning : AU (Alternate Univers), Action, OOC, Gore, [mungkin alur berantakan], Friendship, Typo!.
•
"Walau sudah terpancing tetap saja kalah ya... " Orochimaru menatap datar ke arah Sasuke yang tengah berbaring di pangkuan gadis berambut merah dari balik jendela salah satu bangunan yang menggapit gang itu. Padahal dia berharap murid didiknya itu dapat mengimbangi Naruto bertarung, namun sepertinya dia salah.
"Maaf Orochimaru-sama memang siapa yang mengalahkan Sasuke itu?" tanya seorang pria berambut putih panjang yang mengenakan Jas hitam kepada tuannya yang kini tengah duduk sebuah kuris di dekat jendela.
"Oh dia," Orochimaru berdiri dari duduknya, sedikit merapihkan jasnya sambil menatap sejenak ke arah Sasuke sebelum berbalik dan berjalan keluar di ikuti pengawalanya yang bernama Kimimaru sambil berucap yang membuat Kimimaru terdiam sementara, "Dia Kyuubi, dan aku ingatkan kalau kau bertemu dia jangan macam-macam, karena level dia berada jauh di atasmu."
'Dan ini semakin menarik..' batin Orochimaru mengingat dua orang yang dia kenal dari 'Fraksi' Yakuza yang tadi di kejar anak buah Naruto
•
Mata itu terus menatap jauh Orochimaru dan satu anak buahnya dari balik jendela salah satu bangunan yang menggapit gang itu sebelum keduanya hilang di balik pintu.
"Sudah ku duga kalau Uchiha Sasuke ada kaitannya dengan Orochimaru. Tapi siapa dia? Ada apa kaitannya dengan Orochimaru?" guman pria berpakaian jas hitam rapih itu. Dia memang tau pria berambut pirang itu adalah mantan napi Penjara 666. Tapi yang pasti dari pembicaran yang dia dengar dari penyadap suara yang terpasang tersembunyi di ruangan Orohimaru berada yang terhubung ke Hand Phonenya, Orochimaru seperti terdengar mengenal mantan napi itu kalau di lihat dari cara menanggapi pertanyaan anak buahnya. Dan informasi ini sangat penting, mau bagaimana pun ketua Mafia TAKA dan mantan penjahat kelas Internasional sepertinya ada hubungan satu sama lain itu sangat aneh. Apa lagi Kelompok besar Yakuza dari informasi yang dia dengar Kelompok itu ada kaitannya dengan TAKA. Dan lebih mengejutkan satu orang buronan Internasional tadi juga bersama mantan Napi berambut pirang itu.
©ARIES.H©
Kedua kaki itu berjalan sedikit cepat di antara siswa siswi lainnya, tujuannya tak lain untuk menghindari pandangan jijik atau aneh yang tertuju ke arahnya. Kepalanya menunduk membuat dia sesekali membetulkan kaca mata bundarnya. Dekapannya pada buku dia eratkan saat perasaan tak nyaman hinggap di hatinya walau begitu dia terus berjalan ke arah gerbang. Baru saja berbelok di persimpangan gerbang dia terpekik kecil akibat menabrak seorang pria berambut pirang.
"Hm. Sudah ku bilang berapa kali, sepertinya kebiasaanmu tetap saja tak pernah hilang."
"Naruto-kun!" Tenten yang baru mendongakkan kepalanya kaget saat yang dia tabrak rupanya Kekasihnya.
Naruto hanya tersenyum kecil sebelum memabawa Tenten ke dalam mobilnya yang tak jauh darinya. Meninggalkan beberapa siswa siswi yang memandang penasaran ke arah mobil sport hitam itu yang perlahan melaju menjauh.
•
Mobil sport hitam itu berhenti di halaman sebuah rumah sederhana. Tak lama sosok Naruto keluar dari dalam mobil bersama Tenten yang masih senantiasa mendekap buku tebal pelajarannya dengan kepala menunduk tak lupa rona merah tipis di kedua pipinya entah karena apa.
"A-aku akan mempersiapkan makanan." Asal Tenten dengan gugup kemudian berjalan cepat ke dalam rumah. Dia sudah tak tahan, apa lagi kalau mengingat kejadian di dalam mobil tadi saat dirinya di cium tiba-tiba oleh Naruto hanya karena dia selalu gugup di dekatnya.
Naruto yang melihat itu hanya tersenyum kecil, gemas atas sifat kekasihnya.
•
Kedua lengan kekar itu memeluk erat perut rata Tenten yang masih mengenakan seragam sekolah. "Hm... Ini salah satu yang aku suka darimu, sifatmu itu sungguh menggemaskan." guman Naruto menyusupkan wajahnya ke leher jenjang Tenten yang kini sudah merona hebat.
"N-naruto-kh-kun.. H-hent-tikan."
"Hm?" Naruto hanya diam masih senantiasa menghirup aroma tubuh kekasihnya. Pelukannya dia eratkan bahkan dia merasakan tubuh kekasihnya menegang.
"Baiklah." Namun itu tak mengubah apa pun kedua lengan Naruto tetap memeluk erat tubuh Tenten yang berada di pangkuannya.
Hening...
Keduanya hanya diam saling mendengarkan detak jantungnya masing-masing. "Ne.. Jadi saat aku tak ada, apa kau baik-baik saja?"
Mendengar Tenten mengangguk. "U'm.. "
Salah satu alis Naruto sedikit terangkat mendengar jawaban seperti itu.
"Jawaban apaan itu."
Rona merah di kedua pipi Tenten bertambah. "Y-ya. Kak Ebusi selalu menjaga ku dan baik kepada ku. Bahkan saat aku di ganggu oleh orang yang menjaga rumah ini dia langsung memukulnya."
"Benarkah?"
Tenten kembali mengangguk.
"Hanya itu?"
Tente kembali mengangguk. "U'm."
"Ahk!" pekikan kecil keluar dari mulut Tenten yang kini wajahnya sudah merona hebat saat dengan tiba-tiba Naruto menggigit pelan kulit lehernya.
Hap!
Tak butuh lama Naruto membalikan tubuh Tenten untuk menghadapnya.
"Lalu siapa laki-laki brengsek bertato yang berani mencium mu ini. Hm.." Naruto menatap wajah kekasihnya yang menunduk malu.
Deg!
Mendengar itu sontak Tenten mendongak kaget tapi kembali dia tundukan kepalanya akibat tak kuat dan takut saat Naruto menatapnya dengan datar. Dan karena itu dia hanya bisa meremas kedua tangannya.
Lama terdiam dan kasihan kepada kekasihnya Naruto merubah raut wajahnya. "Jawab saja. Aku tak marah kok."
"M-m-ma-f."
Hening kembali terjadi di antara keduanya setelah ucapan maaf terbata Tenten.
Akibat tak tahan atas sifat kekasihnya ini Naruto menyentuh dagu kekasihnya untuk mendongak menatapnya. Senyum kecil Naruto tunjukan saat melihat mata kekasihnya yang di balik kaca mata itu sudah berkaca-kaca.
"Baiklah kalau kau tak mau menjawab."
Cup!
Ciuman itu sedikit lama sebelum Naruto menjauhkan kembali wajahnya dan menatap wajah kekasihnya yang tengah kaget dengan mulut sedikit terbuka, namun tak lama setelah kesadarannya kembali Tenten kembali menundukan wajahnya dengan kedua pipinya merona. "Itu untuk menghapus ciuman si brengsek itu."
"Hahh.. Kenapa kau salalu menundukan wajah mu sih." Naruto dengan gemas memeluk perut rata Tenten. Dan mungkin semua pengikut sang Kyuubi ini akan melongo seketika saat melihat sifat -manja- Boss mereka yang mereka tak ketahui.
Di sisi lain Tenten hanya membalas pelukan kekasihnya meski sedikit gugup, lagi pula dia sangat kangen kepada kekasihnya ini setelah tak bertemu dua tahun lamanya. Alis Tenten sedikit terangkat saat dia memeluk kepala kekasihnya entah kenapa tubuh kekasihnya sedikit menegang. Dan saat menemukan luka di antara rambut pirang kekasihnya ini dia semakin mengeratkan dekapannya.
Naruto hanya diam menikmati kehangatan tubuh kekasihnya, saat kekasihnya menemukan luka di kepalanya. Setelah tau kehidupannya kekasihnya ini memang mengerti dan tau luka atau apa pun yang terjadi pada tubuhnya.
"Naruto-kun..." guman Tenten khawatir. Dekapan pada kepala kekasihnya dia eratkan.
"Tak apa..."
Hening..
Terjadi keheningan di kamar itu, keduanya hanya diam saling mendekap satu sama lain. Namun entah kenapa tiba-tiba tubuh Tenten menegang dengan wajah merona hebat saat sesuatu benda keras di antara kedua pantatnya.
"Hm... Sepertinya kau merasakannya?" Naruto semakin menyusupkan wajahnya di dada kekasihnya sebelum sedikit menjauhkan badannya dari kekasihnya. Dan dengan gerakan kecil dia baringkan tubuh kekasihnya di atas kasur.
Naruto tersenyum kecil menatap kekasihnya yang kini tengah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Ayolah.. Padahal ini bukan pertama kalinya buatmu." menyingkirkan kedua tangan itu yang menghalangi wajah ayu kekasihnya, dia hiraukan bekas luka bakar di salah satu pipi kekasihnya.
"Na-naruto-kun j-jangan.. Nanti Kak Ebusi-"
"Hm... Biarkan saja." Naruto mencium bibir tipis kekasihnya dengan tangan kanannya melepas kaca mata bundar yang selalu terpasang di atas hidung mungil kekasihnya.
Dan dengan itu hanya terdengar desahan dan pekikan kecil yang memenuhi ruangan itu.
©ARIES.H©
BRAK!
Seketika seluruh pasang mata yang tadinya tengah menikmati alunan musik Dj langsung tertuju ke arah pintu masuk Club malam ini. Si pelaku yakni Arthur dalam ke adaan berantakan dengan nafas terengah-engah tak lupa beberapa luka kecil yang mengeluarkan darah di beberapa bagian tubuhnya, terutama bagian wajahnya. Dan kaca mata ke sayangannya dia harus lerakan tertinggal entah dimana saat dalam meloloskan diri dari kejaran pria yang memakai bandana dimana dirinya dengan nekat terjun dari atas sebuah bangun, memang tidak tinggi tapi tempat di bawah bangunan itu terdapat sebuah pasar lapak kecil yang cukup padat.
Menghiraukan semua pandangan tertuju ke arahnya, Arthur dengan langkah cepat menuju ruangan tempat mereka berkumpul. Hanya membutuhkan beberapa menit dia sudah tiba di depan pintu masuk ruangan dimana mereka sering berkumpul. Dan dengan cepat dia buka pintu di depannya.
Cklek!
Masih dengan nafas sedikit terengah-engah Arthur masuk.
"Vali! Bikou tertangkap!"
Sontak ucapannya membuat satu orang di situ bingung.
"Tunggu apa maksudmu Arthur?" Koruka berdiri dari tempat duduk santainya. "Dan kenapa kamu!?"
Tak langsung menjawab Pria berambut pirang pucat itu segera duduk bersandar di sofa dengan nafas sedikit normal. "Dimana dia?"
"Dia sedang menemani Boss untuk menghadiri sebuah pertemuan."
"Cih!" Arthur hanya mendecih mendengar itu sambil mendongakan kepalanya ke atas dengan sandaran sofa sebagai tumpuannya.
"Memang siapa yang menangkap Bikou?" Koruka setelah duduk kembali.
"Kyuubi, orang yang berambut pirang itu."
•
Di dalam sebuah Club malam atau lebih tepatnya di sebuah ruangan khusus yang berada di dalam sebuah Club malam terdapat dua orang yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Namun tak jauh dari mereka terdapat seorang pria yang tengah duduk di ikat dengan sebuah kantong hitam menutupi kepalanya.
"Tak biasanya Boss lama sekali datang." ucap Shikamaru yang kini tengah duduk berdiri di belakang sofa yang tersedia di ruangan itu dengan menghadap ke arah pria yang tengah duduk di ikat. Mulutnya senantiasa menikmati sebatang rokok yang berada di tangannya..
"Ahh... Biarkan saja, mungkin dia sedang bertemu dengan kekasihnya." Ibiki setelah meminum minuman kalengnya yang sedang duduk bersandar di sofa.
Menegakkan tubuhnya Shikamaru berjalan ke arah kulkas untuk mengambil sebuah minuman dingin sebelum duduk di sofa.
Ck!
Membuka pengunci itu Shikamaru menenggak air yang berada di dalam kaleng itu.
Hening keduanya diam sibuk dengan pikirannya masing-masing.
BRAK!
Keheningan itu tiba-tiba terpecah oleh sebuah dobrakan pintu. Si pelaku Konohamaru yang dalam ke adaan berantakan dengan nafas tak beraturan.
"CEPAT PERGI! POLISI-"
Sebelum menyelesaikan perkataannya Konohamaru tiba-tiba terjatuh dengan memegangi kaki kanannya yang tertembak.
Melihat itu Ibiki, Shikamaru yang tiba-tiba berdiri langsung membalikan badannya berlari ke arah pintu lainnya.
"Sial!" umpat Shikamaru membuang batang rokoknya dan terus belari di lorong Club di ikuti Ibiki di belakangnya.
"Apa ini ada kaitannya dengan orang-orang kita tidak ada." ucap Ibiki mengingat saat dia dan Shikamaru membereskan masalah di gang tadi semua orang sudah tak ada.
BRAK!
Shikamaru mendobrak pintu belakang Club ini sebelum kembali berlari.
Baru saja akan keluar dari gang sepi yang berada di belakang Club tiba-tiba keduanya berhenti saat sebuah peluru yang berniat mengincar salah satu dari mereka meleset menembak tembok.
"Sepertinya Polisi sudah mengepung kita." Shikamaru sambil mengatur nafasnya mengintip dari balik tembok ujung gang melihat beberapa Polisi tengah berlari mendekat.
"Lalu bagaimana? Hahh.. Hhah. Hahh!"
"Tak ada cara lain, ikuti aku!" Shikamaru berlari ke arah sebuah tangga besi yang terhubung langsung dengan atap gedung dan menaikinya.
•
"Jangan bilang kita akan melarikan diri dengan melompati gedung ini!" Ibiki sedikit meniggi.
"Mau bagaimana lagi hanya ini satu-satu jalan, lihat cahaya lampu itu. Polisi sudah mengepung kita." Shikamaru menatap ke arah cahaya lampu-lampu sirine Polisi di tembok atau kaca bangunan yang terlihat mengelilingi mereka berdua. Ya kini mereka berdua berada di atas sebuah gedung Restoran yang berada tiga bangunan di belakang Club milik Boss mereka.
" Kita hanya brandalan biasa kenapa mereka datang banyak sekali."
Shikamaru hanya diam mendengar perkataan Ibiki dan kembali berlari sesekali memanjat sebuah tembok atau pagar besi sebelum berlari kencang dan melompat ke gedung lain.
"Sebenarnya akulah yang di cari mereka!." Shikamaru meloncat tinggi, melayang di udara sebelum dengan kedua tangannya mencengkram kuat pagar besi sebuah apartemen. Dan dengan sekali hentakan kuat Shikamaru sudah berada di beranda apartemen lantai empat.
BRAK!
Shikamaru dengan kuat membuka paksa pintu apartemen itu, tak peduli siapa pemilik apartemen itu.
"Apa maksudmu tadi?" tanya Ibiki setelah masuk ke dalam apartemen.
Menghentikan kegiatan pencarian pintu atau apa saja yang menuju ke atap, Shikamaru berkata. "Apa kau pernah mendengar berita soal sekelompok orang merampok Bank Negara? Dan salah seorang itu adalah aku dan Boss."
"Pantas saja mereka mengerahkan semua unit untuk menangkap mu." Ibiki mengikuti Shikamaru memanjat sebuah tangga besi yang menuju ke atap, mengingat tidak ada pintu yang menuju ke atap.
Baru saja mereka tiba di atap sebuah getaran di dalam saku celana Shikamaru.
[Dimana kalian? Bagaimana bisa ada Polisi di Club.]
"Maaf, boss. Sekarang aku bersama Ibiki sedang melarikan diri-"
Starb! Starb! Strab!
Keduanya segera bersembunyi di balik mesin AC berukuran besar yang berada di atap saat beberapa peluru mencoba mengincar mereka. Menghiraukan Hand Phone Shikamaru yang tergeletak tak jauh dari mereka akibat lepas dari genggaman Shikamaru.
"Cih! Mereka hebat juga." Shikamaru mengintip melihat beberapa Polisi yang mengejar mereka sudah berada di atap bangunan ini dan ada juga yang berada di atap Mall yang mereka lewati tadi. Kemudian tatapannya beralih ke bahu kanannya yang berdarah tak sengaja tertembak dan dia menyesal tidak membawa Pistol kesayangannya.
"Apa kau tidak apa-apa." Ibiki yang berada di samping kanannya menatap bahu sohibnya yang berdarah.
"Yaeh... Ini bukan apa-apa." Shikamaru kembali mengintip namun baru saja akan mengintip sebuah peluru panas menembak sisi AC tempat mereka sembunyi.
"Aku akan alihkan perhatian mereka, kau loncatlah." ucap Shikamaru masih dengan nafas memburu.
Tak langsung menjawab, "Baiklah..." Ibiki berdiri bersiap setelah beradu tinju dengan Shikamaru.
"Mulai!" Dengan capat Shikamaru berpindah tempat di balik AC yang berada tak jauh dari mereka berdua tadi. Bersamaan dengan itu Ibiki berlari cepat ke tepi atap gedung di saat beberapa Polisi menembaki Shikamaru.
Tap!
"YAAHH!" Ibiki meloncat jauh ke gedung lainnya.
"Sial!"
BRAK!
"Ugh!" Ringis Ibiki saat pendaratannya tak mulus.
"Minggir bodoh!"
Baru saja menapakkan kedua kakinya di atap Ibiki menoleh ke belakang melihat Shikamaru dalam ke adaan melayang terjun ke arahnya.
Brak..
Shikamaru mendarat dengan mulus saat Ibiki dengan waktu yang tepat menghindar. Dan tak banyak bicara keduanya kembali berlari di atap bangunan
•
"Cih! Mereka cepat." sebuah umpatan keluar dari salah satu Polisi 'khusus' yang mengejar Shikamaru dan Ibiki. Polisi 'khusus' itu keluar dari balik mesin AC yang berukuran besar memperlihatkan rambut pirang pucatnya yang di terpa cahaya bulan. Tertulis Name di dada bagian kanan Polisis 'khusus' itu bernama, Saji.
"Bagaimana ketua? Mereka terlalu cepat. Apa kita tetap mengejarnya." tanya salah satu Polisi yang mendekatinya.
"Tidak. Terlalu berbahaya dalam ke adaan gelap begini, juga medan tak menguntungkan kita." ucap Saji menyimpan kembali Pistolnya yang malam ini sudah memakan korban.
©ARIES.H®
To. Be. Continued~
Next Chapter 8!
Out~
