Author Note:

Halohaa!

Maaf ya bagi yang kecewa jika chapter sebelumnya tidak memuaskan.. Hehe..

Di chapter kali ini adalah awal dari SUMMER TIME! Yee... *tepuk tangan* (?)

Dan kali ini saya memutuskan untuk mengubah sedikit jalan cerita dengan menyertakan 'trio gantengs' dalam kehidupan Jack. Siapa aja trio gantengs itu?

Terima kasih sudah selalu membaca cerita ini! Mohon saran dan kritiknya jika berkenan, selamat membaca cerita yang bisa disebut gaje ini! Semoga menghibur~ ^^


Part 7

Festival Renang

JENG!

Sinar lampu menyoroti seseorang yang hanya terlihat bayangannya. Hitam kelam.

"Salam pemirsa.. Bertemu lagi dengan saya! Di investigasi Mineral Farm. Saya, MC sementara, akan menemani anda selama kurang lebih 10 menit. Eh.. 5 menit malah.. Ah.. sudahlah.. Ehm!"

"Seperti yang kita ketahui pada episode sebelumnya, di 5 paragraf terakhir... eh.. 4.. eh.. kayaknya 5.. eh.. Ah! sudahlah! Ehm! pokoknya di sekitar paragraf terakhir, Claire menangis.."

"Apakah saat ini Claire masih bergalau? Ataukah dia mengurung diri di kamarnya dan tidak keluar? Dan saat kita melihatnya dia sudah..."

"Berisik!"

DUAK!

BYUUURRRR!

Claire menendang orang yang dari tadi cerocos sendiri gak karuan di depan kolam ikan. Siapa yang suka berada di dekat kolam? Cuma satu. Ya, makhluk hijau nan misteri plus ajaib minus kenormalan ini.

"Hapueehh! JAHAT! Aku kan sedang berlatih jadi MC acara gosip!" Jawab Kappa sambil berusaha bangkit dari kolam ikan, yang sudah lama ikannya kabur semua. Ga tahan kolamnya dicemplungin Kappa terus.

"Ya tapi gak usah aku juga kali yang digosipin!" Claire protes, sambil sibuk mengambil madu yang sudah penuh dari atas pohon dekat kolam itu berada.

"Tapi kan gosip yang paling panas itu gosip tentangmu! Yang waktu itu menangis di pemandian air pana.."

"Kau ngintip ya?!"

BUK!

BYUURRR!

Sekali lagi, Claire menendang makhluk nan malang plus aneh minus keindahan itu ke dalam kolam ikan. (Malangnya nasibmu, nak!)

"Huh.. Menyebalkan.. Padahal aku sudah ingin melupakannya.."

Ya, seperti yang kita semua ketahui.. Di episode *ehm!* chapter sebelumnya, Claire memang sedang bersedih.

"Tapi tidak lagi kok!" Claire manjawab sambil mengangkat cangkulnya. Kamu mau lempar cangkul itu kemana nak?

Ohh.. Begitu.. Apa alasannya?

"Memang sih.. Aku waktu itu sedih.. Tapi sekarang tidak! Karena.." Sambil mengangkat cangkul dengan kedua tangannya, Claire berteriak.

"Kata nenek, sehabis menangis karena sedih, berarti semangat kita untuk terus mnju harus 1000000%! Karena itu, aku harus semangat!" Sambil berkata begitu, Claire dilatar belakangi oleh Kappa yang terpeleset ketika berusaha keluar dari kolam. (?)

Baiklah, jadi kamu sekarang tidak bersedih?

"Tidak! Sama sekali!" Jawab Claire yakin, bulat, teguh.

Lalu, bagaimana soal Jack?

"E-ehh?! I-itu.. Mm.. Aku tetap memutuskan untuk menolongnya.. Mengumpulkan kunci-kunci itu.. Tapi.. Aku tetap sebal padanya! Karena dia tetap kasar! Dia juga masih sering mengataiku.. dan.. tapi.."

PLOK!

Sekantung bibit tomat terlempar ke kepala Claire.

"Hoii! Kau ini bicara dengan siapa?" Jack heran.

"Eh? Sama.. sama siapa ya?" Rupanya Claire tidak sadar dari tadi bicara bersama sang narator. Oke, lupakan tentang narator, balik ke cerita!

"Nah, jangan lupa tanam bibit ini ya!" Jack menunjukkan sejumlah kantung bibit pada Claire.

"Iyaa.. Iyaaa" Jawab Claire.

Sebenarnya, Claire masih sedikit canggung pada Jack. Dan tanpa disadari Claire jadi terus memperhatikan Jack. Dia benar-benar seperti manusia biasa. Sama sekali beda dengan hantu di bayangan Claire yang mengerikan, kayak Kappa gitu. Tapi perbedaannya, manusia biasa tak dapat melihatnya. Dan Jack tidak dapat menyentuh mereka.

"Guk!" Hoshi menyadarkan Claire dari lamunannya.

"Ada apa Hoshi?" Tanya Claire sambil menggendong Hoshi.

"Gugugugukkk guk guk guk!" Hoshi tiba-tiba panik dan terus menyuruh Claire melihat ke arah pintu masuk Mineral Farm.

"Hee?" Claire melihat ke arah pintu masuk.

Tetetetererengg~~

Backsong nada ondel-ondel.. *ehm* nada bajak laut beserta ombak-ombaknya pun berputar. Dari ujung sana terlihat seseorang berjalan menuju Mineral farm, dibelakangi oleh matahari terbenam (masih pagi cuy!). Karena orang itu memakai bandana ungu, Claire sempat mundur mengira dia berdarah sama dengan juri serba ungu yang familiar itu. Tapi begitu wajahnya mulai kelihatan, orang itu benar-benar berbeda dengan juri kita satu itu. Begitu orang itu sampai di depan Claire, dia mematikan radio yang daritadi dia bawa. Rupanya backsong yang tiba-tiba keluar berasal dari radio itu.

"Halohaii, girls!" Sapanya dengan menunjukkan giginya yang kelihatan super putih karena didukung oleh kulitnya yang go.. *ohok!* sedikit hitam dari yang lain.

"... emm.. hai?" Jawab Claire. Dia bilang tadi girls.. emang ada siapa lagi selain Claire disini?

"My names Kai! Its nice to meet ya!" Jawabnya sambil berpose-pose.

"Hahaha.. ya.. ya.." Jawab Claire seasalnya. Kenapa sih orang aneh selalu bermunculan di dekatnya?

"So.. lady.." Orang yang menyebut dirinya Kai itu mengambil tangan Claire. Dari jauh, ada seseorang yang sudah bersiap melempar kantung bibit ke kepala Kai. Belum sempat dilemparkannya kantung bibit itu, seseorang dari jauh sudah melemparkan sesuatu lebih cepat darinya.

PLOK!

Beberapa telur berjatuhan ke kepala Kai.

"Lepaskan tanganmu dari Claire, dasar kau si hitam!"

Jeng!

Munculah...

Pahlawan kebenaran, Rick-the man! Yang saat ini penuh dengan pakan ayam disana-sini ... berhasil menyelamatkan Claire!

"Kauu..." Kai pun melepaskan tangan Claire dan mengacungkan telunjuknya ke arah Rick. "Kauu! Si Ricky the Twinky the Poooo!"

"Seenaknya saja kau memberi namaku yang aneh-aneh, dasar Kaing Kaing hitam!" Rick gamau kalah, ikut mengacungkan telunjuknya ke arah Kai.

"Ahh, kau memang tak ada sense keindahan, memberiku nama dengan suara anjing memelas begitu.. Ricky the pooo!" Jawab Kai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Pooo?! Awas kauu!" Rick melemparkan telur lagi ke arah Kai, namun meleset dan terkena Kappa yang baru saja berdiri, lalu jatuh lagi ke kolam. Untungnya mereka tidak melihatnya.

"Huh! Terima ini!" Kai mengambil jagung yang ada di dalam bandananya.. (kok bisa?!) Dan melemparkannya ke Rick. Sayangnya jagung itu cuma nyangkut di rambut Rick dan tidak menyebabkan benjol apapun.

Mereka terus menerus melemparkan barang perang yang mereka bawa. Claire hanya diam saja melihat mereka, sedangkan seseorang mulai emosi, kemudian karena sudah tidak sabar lagi, Pahlawan kebenaran yang asli pun muncul.

"Jangan..." Jack kali ini meletakkan karung bibitnya dan menggantinya dengan sabit Claire.

"JANGAN BERANI-BERANINYA KAU BERTENGKAR DI KEBUNKU!" Jack sudah siap melemparkan sabitnya namun terhenti ketika kedua mata mereka melotot karena melihat sesuatu yang lain. Makhluk hijau, muncul dari kolam.

"A.. apa.. a-a-a..." Rick tidak bisa berkata lagi.

"I-it.. iuu.. itu.." begitu pula Kai.

"..." Kappa yang merasa dirinya dilihat pun hanya tersenyum. "Hai.. aku Kappa."

"UWAAAAAAAAAAAA!" Mereka pun berpelukan, dan lari bersama, meninggalkan Mineral Farm, dan para penghuninya, yang saat ini sedang tidak tau apa yang terjadi.

"Hee? Kenapa mereka?" Tanya Kappa polos.

"... Rupanya kau.." Jack meletakkan sabit Claire ke tanah. "Ternyata kau ada gunanya juga ya."

"Ngomong-ngomong.. Tadi itu siapa?" Tanya Claire.

" ..." Jack masih memperhatikan tangan Claire yang tadi disentuh makhluk gosong itu. Dan dia tidak suka.

"Mm.. Kenapa?" Tanya Claire ketika melihat Jack yang sedang mengerutkan dahinya.

"Kau mau-maunya disentuh orang menjijikan begitu.. Cuci tangan!" Suruh Jack.

"Hee?" Claire melihat tangannya. "Memangnya kenapa?" Tanya Claire.

"CUCI!" Karena tampang Jack yang seram, Claire pun mengalah dan berlari ke rumah untuk mencuci tangan, walau masih bingung. Sementara Jack masih bete dan menghela nafasnya.

"Cemburu yaaaaa?" Tiba-tiba Kappa muncul di bawahnya, dengan wajahnya hanya berjarak 5 cm dari wajah Jack.

"GUWAAH!" Secara spontan, Jack menendang Kappa sehingga Kappa terpental dan nyemplung ke kolam lagi. Beruntung ikan di kolam itu sudah tidak ada. Coba kalau ada, ikan itu bisa jadi model lagu "ikan di obok obok". Sementara itu Claire keluar dengan wajah ceria, berlari ke arah Jack.

"Heeiiii! HEIII! BESOK... BESOK.. FESTIVAL RENANG?!" Tanya Claire senang.

"e-e-eh? I.. iya?" Jawab Jack.

"ASIKKK! YEAH! HOREEE!" Claire langsung berputar-putar mengelilingi ladang, melupakan semuanya. Termasuk Jack yang saat ini masih plengo melihatnya.

"Memangnya kau suka sekali berenang?" Tanya Jack penasaran. Sebenarnya sudah tidak perlu ditanyakan lagi, Jack tau jawabannya. Hanya saja dia ingin menyakinkannya.

"IYAAAA!" Senyuman lebar Claire sudah sangat meyakinkan Jack.

"Ba-baiklah.. menangkanlah ya.." jawab Jack sambil mundur beberapa langkah.

"PASTII!" Teriak Claire. "Lalu.. kau besok ikut tidak?" Tanya Claire pada Jack.

DEG!

Untuk sesaat, Claire melihat Jack merinding.

"Ti-tidak.. aku.. melihat saja.. dari pi-pinggir.." jawab Jack terbata-bata lalu masuk ke dalam rumah.

"Kenapa dia?" Tanya Claire heran.

"Dia tidak bisa berenang." Lagi-lagi Kappa muncul tiba-tiba dan membuat Claire kaget sampai terjungkal. Ya, namanya juga hantu, mana mungkin bisa berenang? Atau.. jangan-jangan dari saat dia manusia, dia tidak bisa berenang? Demikianlah, Claire sangat menantikan hari esok. Walau sebenarnya, Claire tidak menyadari.. Besok adalah bencana.. Dimana akan terjadi perubahan besar baginya.

-Pantai 1 Summer 08.00 AM-

"Wwooooohoooo!" Claire yang sudah mengenakan baju renang merahnya berlari mengitari pantai. Sementara Jack yang datang bersamanya pun hanya bisa memandanginya dari pinggir pantai.

"Hoi! Aku tak ikutan ya! Aku mau tunggu di kursi alun-alun saja!" Teriak Jack sambil pergi ke alun-alun kota.

"Baiklah~~" ujar Claire sambil bermain-main di pasir. Sementara orang-orang lain pun mulai berdatangan.

"Hai Claireee!"

Buk!

Karen berlari dari jauh dan langsung memeluk Claire. Karen juga sudah mengenakan perlengkapan renangnya.

"Karen! Kau akan berenang juga?" Tanya Claire sambil balik memeluk salah satu temannya itu.

"Tentu saja! Aku tak akan kalah denganmu!" Jawab Karen semangat.

"Wah-wah.. Kalian semangat sekali!" Muncullah Elli, namun masih mengenakan pakaian perawatnya.

"Elli! Kau tidak ikut lomba?" Tanya Claire.

"Tidak, aku akan menjadi petugas keamanan kali ini! Menggantikan Haris dan dokter! Karena mereka akan ikut lomba!" Jawab Elli senang.

"Kok kamu malah senang sih?" Tanya Karen.

"Kalau dokter ikut, berarti trio gantengs ikut lomba dong!" Ann nimbrung, dengan baju renangnya dan kacamata renangnya. Dia ikut berenang rupanya.

"T-trio gantengs?" Alis Claire mengkerut mendengar nama yang baginya agak norak itu.

"Iya! Trio gantengs selalu memenangkan lomba renang ini! Itu loh.. si Gray, Dokter, sama Cliff!" Popuri juga ikut-ikutan.

"O-oh.. jadi trio gantengs itu mereka?" Tanya Claire.

"Iya! Mereka keren! Selain itu mereka selalu menjadi juara renang!" Elli meringgis senang.

"wah, berarti mereka jago sekali ya! Aku tidak akan kalah!" Claire semangat.

"Hei hei.. cewek dan cowok itu lombanya dipisah Claire.." Mary menambahkan, tapi tampaknya dia tidak ikut lomba berenang.

"Ehhhhh?! Tidak seru ahh..." jawab Claire.

"Ya, harus seperti itu dong! Supaya kita bisa menentukan siapa saja trio gantengs!" Jawab Ann. Claire langsung menghela nafasnya. Rupanya, mereka yang memutuskan siapa itu trio gantengs.

"Tenang saja! Tahun ini aku akan masuk ke dalam trio gantengs itu!" Tiba-tiba Kai muncul di tengah-tengah mereka.

"Halo Kaiiii!" Sapa Popuri.

"Ah, kau itu.. hanya besar mulut saja! Tahun lalu, kau juara bontot bersama si Rick kan?" Sindir Karen.

"A-ah! Tahun lalu itu, kakiku terkilir! Karena itu aku hanya mengeluarkan 1/8 kekuatanku yang sesungguhnya!" Kai gak mau kalah.

"Okeee.. okeee.." jawab Ann malas.

"Aku juga akan masuk ke trio gantengs!" Rick tiba-tiba datang.

"kau? Ricky the Twinky the Pooo? Bwahaha! Tidak mungkin." Sindir Kai.

"Apa kau Kaing kaing item?! Awas kau!" Rick gak mau kalah, mulai melempar pasir ke arah Kai.

"Apa?! Terima ini!" Kai balas melempar pasir.

"Aduh.. Ayo, kita pergi!" Ajak Elli. Dan para gadis pun menghindari mereka. Kemudian..

[[Yak! Selamat datang! Selamat datang! Di festival renang!]]

Sang walikota yang mengenakan baju renang bunga-bunga kembali membuka acara. Dengan mikrofon kesayangannya tentunya.

"Aah, sudah mau dimulai!" Claire semangat.

"Eehh! Tapi trio gantengs belum datang!" Ann kecewa.

[[Karena para peserta lomba laki-laki belum lengkap, jadi kita akan mulai yang perempuan dulu. Ayoo! Bersiap-siap, ladies!]]

"Selamat berjuang ya!" Ujar Elli.

"Se-semangat.." Mary menambahkan.

"Claireee! Berjuanglahhh!" Rick berteriak.

"Claire! Jangan dengarkan suara dia! Nanti kau kalah!" Sindir Kai.

"Apa?!" Rick bersiap melempar kerang.

"Kalian! Hentikan!" Elli mulai emosi.

Sementara lomba renang untuk perempuan dilaksanakan, trio gantengs.. *ehm!* Gray, Dokter, dan Cliff sedang dalam perjalanan menuju pantai. Saat ini mereka sedang melewati gereja menuju alun-alun kota.

"Hatsyiim!" Cliff bersin.

"Kau flu?" Tanya Gray. Aduh.. perhatiannya.. (?) *narator ditimpuk Gray*

"Mau minum ini?" Dokter menunjukkan cairan yang tidak bisa dideksripsikan warnanya. Cliff dan Gray langsung merinding.

"Ti-tidak.. aku hanya sedikit kedinginan karena langsung memakai baju renang.." jawab Cliff.

"Mmm.. baiklah." Jawab dokter memasukkan botol cairan itu ke kantung celana renangnya. Jadi selama ini dibawa-bawa?!

Kemudian mereka berjalan dan mulai memasuki alun-alun kota. Alun-alun itu sangat sepi karena orang-orang sedang berkumpul di pantai. Sampai tiba-tiba, Dokter melihat sesuatu, dan langsung mendorong Gray dan Cliff untuk sembunyi ke semak-semak.

Grasak!

"Aduh.. apa-apaan sih?!" Gray protes.

"Sttt! Lihat itu!" Dokter menunjukkan ke arah papan pengumuman di alun-alun. Gray dan Cliff pun melihat ke arah yang ditunjuk Dokter. Dan mata mereka berdua pun melotot.

Mereka melihat, kaca papan pengumuman itu terbuka sendiri. Kemudian kertas di dalamnya pun terlepas, dan melayang! Kertas itu terputar-putar. Kemudian kertas itu kembali ke tempatnya. Dan kaca papan pengumuman itu tertutup lagi. Tapi tak hanya itu. Setelah selesai, tong sampah di sebelahnya tertendang. Dan isinya keluar semua, penuh dengan kertas pengumuman lama. Kemudian, tong sampah itu kembali lagi ke posisi semula. Dan entah bagaimana caranya isinya bisa masuk sendiri ke tong sampah itu.

"I-ituu.. ha-hantu?" Gray berbisik kepada mereka berdua.

"Ti-tidak mungkin! Ka-kata Carter.. orang yang sudah meninggal, akan berada di langit!" Jawab Cliff.

"Aku juga tidak percaya. Kita lihat saja dulu kelanjutannya." Jawab dokter.

Tiba-tiba dari arah pantai, muncul Claire berlari menuju papan pengumuman itu, membawa piala di tangannya.

"Jack! Aku menang!" Teriak Claire.

Sementara mereka bertiga di balik semak-semak hanya kebingungan melihat Claire berbicara sendiri.

"Jack? Siapa itu? Rasanya.. Namanya tak asing?" Ujar Gray.

"Stt, lihat itu!" Sahut dokter.

Terlihat di mata trio gantengs, Claire menyerahkan piala kepada 'seseorang' yang mereka tidak bisa lihat. Kemudian piala itu melayang dan terputar-putar dengan sendirinya.

"Aku hebat kan? Hahaha!" Ujar Claire bangga.

Tiba-tiba piala itu bergerak sendiri dan memukul kepala Claire. Kemudian Claire meringgis kesakitan dan mengambil piala yang melayang itu, dan melemparkannya ke depannya. Anehnya, piala itu terpental seperti mengenai sesuatu. Kemudian Claire tertawa.

"Sudah cepat, bawa piala itu pulang dan buka gemboknya! Aku masih ingin bermain di pantai sebentar! Atau kau mau berenang di pantai?" Ujar Claire dengan nada meledek.

Kemudian Claire tertawa kecil.

"Iya, iya.. aku tau.. ya sudah, cepatlah pulang, sebelum ada orang yang melihat piala melayang sendiri! Tidak lucu kan?" Claire kemudian berlari ke arah pantai. "Aku duluan ya!" Dan pergi begitu saja tanpa mengetahui keberadaan trio gantengs.

Sementara, piala melayang itu mulai pergi ke arah Inn, dan menghilang. Tampaknya seperti kata Claire tadi, dia ingin segera 'pulang'. Tapi sayang, sudah ada orang yang 'melihatnya'.

"Apa itu.. tadi?" Cliff masih tidak percaya apa yang dilihatnya. Dia lalu mengucek-ngucek matanya.

"..." bahkan Gray tak sanggup berkata-kata lagi.

"Secara medis, aku tidak pernah percaya hal-hal semacam ini." Dokter membuka kaca matanya. Kacamata 'renang'nya yang dari tadi ia pakai. "Tetapi jujur, baru kali ini aku tertarik pada hal semacam ini."

"Claire.. Dia bisa melihatnya.. Hantu itu?" Tanya Gray.

"Kita belum tau itu hantu atau bukan, siapa tau itu adalah makhluk yang hanya bsia dilihat dengan menggunakan sesuatu hal yang medikal.." Dokter mulai asik dengan dunianya sendiri.

"Tapi.. Kenapa Claire tidak pernah mengatakannya pada kita?" Tanya Cliff.

"Mungkin dia punya alasan, kenapa dia tidak bisa mengatakannya." Jawab Gray.

".. Aku tertarik untuk menyelidiki gadis itu." Dokter mengenakan kacamatanya. "Kalian ikut?" Tanyanya kepada Gray dan Cliff.

"aku ikut! Aku juga akan cari informasi dari carter." Jawab Cliff.

"Hmph! Menarik juga." Jawab Gray sambil tersenyum dan menurunkan topinya.

"Hei."

Muncul seseorang dari belakang mereka, yaitu Zack yang memasang tanpang heran. Sambil mengkerutkan alisnya.

"Apa yang kalian lakukan? Berjongkok di semak-semak begitu? Lomba sudah akan dimulai!" Teriaknya.

"Ahh.. Gawat. Aku lupa." Jawab dokter dengan gayanya.

"Aku juga." Jawab Gray.

"Ahh! Ayo! Cepat kalian berdua!" Teriak Cliff panik.

Mereka lalu pergi meninggalkan alun-alun kota. Namun mereka tidak menyadari bahwa di alun-alun kota masih ada sosok lain.

"Dewi.. bagaimana ini? Mereka menyadari Jack?" Tanya para kurcaci.

"hehehe..." Dewi hanya tertawa. "Tidak apa. Ini akan menjadi menarik. Aku ingin melihat kelanjutannya."

"Tapi.. Bagaimana nanti si Claire ya?" Tanya salah satu kurcaci.

"Dia? Haha.. Tidak perlu khawatir. Lagipula, akan lebih mudah menyelesaikan masalah dengan bantuan banyak orang kan?... Itu juga yang harus Jack sadari." Jawab sang dewi.

"Begitu ya?" Tanya kurcaci.

"Ya, baiklah, akan kuberikan mereka dukunganku." Kemudian dewi dan kurcaci menghilang ditemani oleh cahaya-cahaya pelangi.

Sementara itu, di pantai, keadaan semakin meriah begitu trio gantengs datang. Itu berarti, lomba untuk peserta laki-laki akan segera dimulai. Mereka pun segera bersiap di tempat mereka.

"Claire, kau akan mendukung siapa?" Tanya Karen.

"Eh? Siapa ya?" Jawab Claire bingung.

"Kau beruntung loh.. Saat mereka kemari, mereka terus memelototimu!" Sahut Ann.

"Me.. memelototi?!" Claire panik. "Aku salah apa?" Tanya Claire.

"Bukan itu maksudnya! Mungkin mereka tertarik padamu!" Ujar Popuri.

"Ah.. Aku tidak yakin.. Apa yang sudah kuperbuat ya?" Ujar Claire sambil memikirkan kesalahan apa yang ia perbuat.

[[Baiklah! Lomba akan dimulai! 3...2...1!]]

BYUUURRR!

Mereka semua sangat cepat, namun seperti dugaan semua, trio gantengs memimpin di depan, sementara bontotnya adalah Kai, Rick, dan Jeff.

[[Dan seperti kita duga, pemenangnya adalah Gray, Cliff, dan Dokter! Yang mencapai garis finish bersamaan!]]

"Trio Gantengs menang!" Teriak Ann.

"Wooo! Kerennn!" Popuri ikut teriak.

Sorakan yang meriah pun melanda. Namun saat lomba selesai, trio gantengs mendekati Claire.

"Bisa bicara sebentar?" Tanya dokter dengan tampang serius.

"E-eh.. boleh.." jawab Claire sedikit gugup. Takut mereka benar-benar punya masalah dengan Claire.

"Lebih baik kita bicara di gereja saja." Ujar Cliff.

"ide bagus, ayo!" Jawab Gray.

Kemudian mereka pergi ke gereja. Dan itu membuat Claire semakin takut. Apa yang mereka ingin bicarakan sampai-sampai perlu ke gereja segala? Jangan-jangan mereka ingin menghakimi Claire di depan Tuhan? Sampai sebegitunya?!

((Aku salah apa?!)) Teriak Claire dalam hati.

Masih dalam pakaian renang, mereka memasuki gereja. Cliff pun menutup pintu gereja. Masih tak ada orang di gereja karena Carter belum kembali dari pantai. Kemudian Gray yang pertama bicara.

"Sebenarnya..."

"Maafkan aku! Sungguh aku tak tau aku punya salah pada kalian! AMPUNI AKU!" Teriak Claire panik.

"Tu-tunggu dulu! Hei.. Memangnya kami terlihat seperti orang jahat?" Tanya dokter.

"Sepertinya dia salah paham.." Jawab Cliff.

"eh? Kalian tidak marah padaku?" Tanya Claire.

"Tidak-tidak." Jawab mereka bertiga bersamaan.

"Lalu.. Ada apa..?" Tanya Claire.

"Sebenarnya.. Kami melihat..." Gray terhenti. "Kau saja yang jelaskan." Gray menepuk pundak Dokter.

"Hah.. Baiklah.." Dokter melepaskan kaca mata renang yang daritadi dipakainya, dan sedikit mengacak-ngacak rambutnya yang basah. *Woooow* (?)

"Cepatlah!" ujar Gray tidak sabar.

"Ehm! Claire. Jujurlah kepada kami. Kami melihatnya." Ujar dokter dengan nada tegas.

"i-iya? Melihat apa?" Tanya Claire masih belum memahami ke arah mana mereka ingin bicara.

"Piala. Kau menyerahkan piala kepada seseorang di alun.. ehm.. bukan seseorang tepatnya.. tapi.. mungkin bisa disebut, Hantu? Karena kami tidak bisa melihatnya.." tambah Cliff.

DEG!

Muka Claire langsung berubah. Keringat dingin menyertainya. Bagaimana dia tidak menyadari kalau mereka bertiga melihat dirinya menyerahkan piala pada Jack.. Yang mereka tidak bisa lihat?

"Bagaimana?" Tanya mereka bertiga. Sementara Claire hanya bisa diam di tempat, tidak tau harus mengatakan apa.

((Aku harus bilang apa?))

'Iya, kalian tau? Aku bisa melihat hantu loh! Kalian sih tidak bisa.. Hahahaha!'

((Tidak.. Tidak.. Aku tidak bisa berkata begitu..))

'Sebenarnya.. Aku memiliki kekuatan gaib! Aku juga memiliki banyak sekutu gaib! Dan.. Karena kalian mengetahuinya.. Aku akan menyihir kalian menjadi kodok! Wahahahaha!'

((itu malah tambah ngawur lagi.. Aduh.. Jack! Ini salahmu!)) Kutuk Claire dalam hati yang karena tambah panik, dia tidak bisa berpikir jernih lagi.

"Claire?" Mendengar mereka bertiga memanggil namanya, jantung Claire rasanya ingin copot. "Ceritakan semuanya kepada kami."

Haruskah Claire berbohong? Ataukah dia harus menceritakan yang sebenarnya?

"... Nenek.. Tolong aku.."

-Bersambung?-