Orpheus and Eurydice

Story by C.C

.

Naruto © Masashi Kishimoto

I don't take any profit from this fict!

.

Alternate Universe, Highschool, Some OC & A lil' bit OOC.

Drama, Hurt/Comfort & Friendship

.

Hope you can enjoy it and give me your feedback? :)


.

Chapitre Sept

The Truth

.


Kakashi berjalan santai menyusuri koridor gedung KAA yang menuju ruang kerjanya. Ia baru saja menyudahi kelas yang diajarnya dan segera bersiap untuk melakukan pekerjaannya yang lain selain mengajar di KAA, karena tak ada lagi kelas yang harus diajarnya hari ini. Sesekali ia membalas ramah sapaan para siswa yang berselisih jalan dengannya. Langkah kakinya yang ringan tiba-tiba terhenti beberapa meter dari pintu ruang kerjanya saat matanya menangkap bayangan seorang pemuda yang dikenalinya. Sebelah alisnya terangkat sembari otaknya menduga-duga perihal apa yang membuat pemuda itu menemuinya lagi.

"Are? Uchiha? Kau sedang menungguku?" Kakashi bisa melihat tubuh muridnya itu tersentak kaget saat mendengar ucapannya. Sepertinya Sasuke memikirkan sesuatu hingga tak menyadari kedatangannya.

Sasuke langsung berbalik menghadap gurunya itu dan membungkukkan badannya sekilas dengan sopan. "Sensei, ada yang ingin kuserahkan padamu," ujar Sasuke tanpa basa-basi. Ia terdiam sebentar sambil meremas pelan kertas yang dipegangnya.

Kakashi melirik sekilas lembaran kertas yang dipegang Sasuke. "Masuklah," perintahnya pada Sasuke sembari membuka pintu ruang kerjanya. Sasuke dengan patuh mengekorinya di belakang. Kakashi langsung duduk di kursi putarnya dan mempersilakan Sasuke duduk di kursi yang tersedia di hadapan meja kerjanya, tapi sepertinya Sasuke lebih suka berdiri karena pemuda itu tetap bergeming di tempatnya. "Nah, apa yang ingin kauserahkan padaku? Kau sudah memutuskan sesuatu? Kuharap apa yang akan kaukatakan adalah berita baik, Uchiha," ujarnya kemudian.

Sasuke tak langsung menjawab. Ia meletakkan dua lembar kertas yang dipegangnya tadi ke atas meja kerja Kakashi. "Aku sudah memikirkannya dengan matang, dan ini adalah jawabanku, Sensei," Sasuke berkata dengan nada tenang dan Kakashi dapat melihat ekspresi yakin di mata kelamnya.

Kakashi mengembuskan napas sejenak dan mengalihkan tatapannya pada lembaran yang diserahkan Sasuke padanya. Ia membaca sebentar isi kedua lembaran kertas itu, "Hmm … jadi, ini jawabanmu? Kau memberiku kabar baik dan kabar buruk di saat yang bersamaan, Uchiha," Kakashi menyuarakan komentar pertamanya setelah mengetahui isi kedua lembaran kertas tersebut. Ia mengembuskan napas lagi sebelum menatap Sasuke, "Kapan kau akan melakukannya?" tanyanya kemudian.

"Jika kondisinya memungkinkan, akan dilakukan minggu depan. Aku sudah mengambil cuti dari minggu ini," jawab Sasuke datar. Ia balas menatap gurunya itu dengan tatapan yakin.

Memang tak ada keraguan di mata Sasuke seperti yang Kakashi lihat beberapa hari yang lalu saat muridnya itu menemuinya. "Ini pertaruhan yang besar, tapi aku paham kau tak punya pilihan lain. Aku juga sadar bahwa selama ini kau sudah cukup menderita, Uchiha," Kakashi berkata dengan nada berat. Tersirat kepedulian pada nada bicaranya. "Baiklah, aku akan menerima kedua surat ini. Tapi kuharap aku akan merobek kertas ini," ucap Kakashi lagi sambil mengacungkan salah satu lembaran kertas yang diberikan Sasuke tadi.

"Hn. Kalau begitu aku permisi dulu," Sasuke berkata sambil membungkukkan badannya sekilas pada Kakashi sebelum ia berbalik dan berjalan meninggalkan ruang kerja gurunya itu.

"Uchiha!" Kakashi menahan langkah Sasuke dengan panggilannya sebelum pemuda itu benar-benar meninggalkan ruang kerjanya. "Semoga operasimu berhasil," ucapnya tulus.

Tak ada tanggapan dari Sasuke. Pemuda itu hanya terdiam di tempatnya dan menghilang di balik pintu yang tertutup tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Kakashi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan menghela napas lagi. "Sangat disayangkan kalau kau benar-benar mundur dari dunia musik, Uchiha," Kakashi bergumam pelan sambil menatap prihatin pada secarik kertas yang bertuliskan "Surat Pengunduran Diri" di kepala surat tersebut.

.

.

.

Tenten berdecak kagum dan refleks menepuk kedua tangannya dengan semangat ketika alunan musik yang tadi bergema di ruangan penuh cermin itu berhenti. Ia langsung menghampiri sosok Sakura yang masih berdiri dengan napas tersengal di tengah ruangan. "Kau hebat, Sakura! Sangat hebat! Bagaimana mungkin kau menyembunyikan bakat tarimu selama ini?" Tenten berkata antusias pada Sakura yang memandangnya sambil tersenyum senang.

"Benarkah, Senpai?" Sakura menyambut handuk kecil yang disodorkan Tenten padanya, lalu menyeka butiran peluh yang mengalir deras di wajah cantiknya.

"Tentu saja! Aku yakin Kurenai-sensei akan langsung meloloskanmu pada test yang akan diadakan setelah libur musim panas nanti," Tenten berujar dengan semangat.

Sakura hanya bisa tertawa pelan melihat betapa antusiasnya sang senpai. "Tapi bukankah Senpai pernah berkata padaku kalau Kurenai-sensei itu sangat perfeksionis dan selektif dalam memilih murid-murid yang akan masuk ke departemen tari?" Sakura mengulang kembali kata-kata yang pernah diucapkan Tenten padanya.

Tenten bersedekap dan menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Memang. Tapi untuk sebuah permulaan, kau sudah masuk kategori 'good' penilaian Kurenai-sensei," tukas Tenten ringan. Ia lalu mendudukkan dirinya di atas lantai studio tari milik departemen seni tari dan menepuk lantai di hadapannya, mengisyaratkan agar Sakura ikut duduk bersamanya. "Sejak kapan kau suka menari?" tanya Tenten dengan nada ingin tahu. Sebotol air mineral lalu ia berikan pada Sakura.

"Terima kasih," ucap Sakura saat menyambut botol minuman yang disodorkan Tenten. Ia langsung menenggak setengah isi botol itu sebelum menjawab pertanyaan Tenten. "Kurasa sejak aku berumur empat tahun. Ah, atau tiga tahun? Pokoknya sejak aku kecil," jawabnya kemudian.

"Sudah selama itu?" Tenten tampak tidak percaya dengan jawaban Sakura. "Lalu kenapa kau tidak mengembangkannya? Sebaliknya kau malah menekuni dunia musik," tambah Tenten dengan raut wajah heran.

Sakura tampak termenung sesaat, "Grand-mère-ku tidak suka melihatku menari," sahutnya pelan. Ia lalu menyunggingkan seulas senyum kecil pada Tenten.

"Grand-mère?"

"Nenek dari pihak ayahku," ucap Sakura cepat. "Saat mengetahui kalau aku sangat suka menari, tanpa sepengetahuanku dia membuang sepatu, baju dan juga CD yang selalu kugunakan saat aku menari. Ketika aku berumur 10 tahun, dia membawaku ke Paris dan membesarkanku sebagai seorang violinist sebagai pengalih keinginan besarku untuk menjadi seorang penari." Sakura berbagi sedikit cerita hidupnya untuk menjawab keingintahuan Tenten.

"Wow! Aku tak percaya bahwa di dunia ini ada seseorang yang tidak suka melihat kau menari, Sakura. Apalagi orang itu adalah nenekmu sendiri," Tenten mengungkapkan pendapatnya. "Lalu, bagaimana kau tetap bisa mengembangkan kemampuan menarimu sedangkan grand-mère-mu melarangnya?"

Sakura terdiam sejenak. Kenangan-kenangan saat pertama kali ia tinggal di Paris kembali berputar di kepalanya. "Saat pertama kali tinggal di Paris adalah saat-saat yang sangat berat bagiku. Aku tak membenci musik karena aku memang suka mendengarkan lagu-lagu untuk iringan tarianku, tapi aku sama sekali tidak bisa membaca score-score yang ada di partitur musik. Meskipun ayahku adalah seorang maestro, tapi aku dilahirkan dengan bakat menari. Sampai pada akhirnya aku menggunakan pendengaran tajam dan imajinasiku yang cukup tinggi untuk dapat mengembangkan potensi bermusikku," jelas Sakura panjang lebar.

Tenten menaikkan sebelah alisnya, "Maksudmu?"

Sakura memandang Tenten dengan mata hijaunya dan tersenyum, "Aku belajar memainkan biola sambil membayangkan bahwa saat itu aku juga sedang menari dengan musik yang kumainkan melalui biolaku. Cara seperti itu ternyata cukup ampuh bagiku mempelajari musik. Tak lama setelah itu aku mengenal seseorang yang mempunyai studio tari kecil dan dia memperbolehkan aku untuk melihat murid-murid yang belajar menari di sana. Jadi aku bisa tetap menyenangkan hati grand-mère sembari meningkatkan kemampuan menariku," tambah Sakura lagi.

"Kau menjadi violinist hebat hanya dengan mendengarnya saja? Kau tahu, Sakura, kau benar-benar hebat! Aku kagum padamu! Meskipun nenekmu melarangmu untuk menari, tapi kau tidak menyerah terhadap mimpimu itu. Kau tetap bisa mempertahankannya dan juga tetap mengikuti keinginan nenekmu," Tenten berkata sambil menepuk pundak Sakura.

"Tapi sekarang dia pasti sangat kecewa padaku," lirih Sakura. Ia memandang lantai yang didudukinya dengan tatapan menerawang.

"Kenapa? Karena sekarang kau lebih memilih untuk mengembangkan kemampuan menarimu?" tanya Tenten. Yang ditanya hanya mengangguk lemah. "Tidak apa-apa. Meskipun sekarang nenekmu belum menyetujuinya, aku yakin suatu saat nanti matanya akan terbuka lebar begitu dia melihatmu menari di atas panggung," ucap Tenten dengan penuh keyakinan.

Mendengar kata-kata Tenten yang memberi semangat, Sakura langsung menyunggingkan senyum manisnya. Ia lalu mengangguk mantap, "Hmm! Aku sangat menanti hari itu. Dan, ah! Aku juga menanti hari di mana aku bisa menari bersama Senpai di atas panggung," ucap Sakura tulus.

Tenten ikut mengangguk dan mengacungkan sebelah ibu jari tangannya pada Sakura. "Aku juga sangat menantikan hari itu."

-oo-

Alunan lagu Fairy Tale dari Ludovico Einaudi memenuhi kamar yang ditempati Sakura dan Hinata. Mereka sedang duduk bersila mengelilingi meja kayu berkaki rendah di tengah ruangan. Banyak kertas-kertas partitur berserakan, baik di atas meja ataupun di lantai di sekitar mereka.

"Ah, akhirnya tugasku selesai juga!" Sakura merentangkan tangannya ke depan dan mengembuskan napas panjang. "Terima kasih karena sudah membantuku, Hinata-chan. Kau tahu bagaimana buruknya aku dalam membaca score," ucap Sakura lagi.

Hinata tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Aku tidak percaya saat tadi Sakura-chan mengatakan bahwa kau tidak pandai membaca score. Aku jadi penasaran bagaimana Sakura-chan bisa memainkan biola dengan sangat bagus," ungkap Hinata.

Sakura tertawa pelan, "Aku hanya bisa mengandalkan pendengaranku yang tajam, Hinata-chan. Makanya aku tidak yakin untuk meneruskan karirku sebagai violinist sementara aku masih sangat payah dalam membaca score. Sekarang saja teman-teman, bahkan Anko-sensei juga, meragukan bagaimana aku bisa memenangkan violin concours empat tahun lalu di Vienna." Sakura mendesah pelan dan merebahkan tubuhnya di atas lantai. Matanya menatap langit-langit dengan tatapan menerawang.

"Tapi menurutku apa yang Sakura-chan lakukan tidak salah. Setiap orang punya caranya sendiri untuk mempelajari sesuatu, bukan? Dan kemampuan bermusik Sakura-chan yang bisa sangat memukau hanya dengan mempelajarinya melalui mendengarkan adalah kemampuan yang patut dibanggakan," ujar Hinata. Ia mulai membereskan pertitur-partitur yang ada di atas meja dan lantai. "Omong-omong, bagaimana dengan persiapanmu untuk test nanti?" Hinata bertanya tanpa menoleh ke arah Sakura. Ia kini beranjak dari duduknya untuk menyimpan partitur-partitur yang sudah ia kumpulkan di laci meja belajarnya.

Sakura langsung memaksa tubuhnya duduk kembali dengan sekali sentakan. Sebuah senyum sumringah ia suguhkan pada punggung Hinata. "Sangat lancar! Aku sudah menyelesaikan gerakan tariku dan hanya perlu melatihnya sampai sempurna," ucap Sakura penuh semangat.

Hinata berbalik menghadap Sakura dan tersenyum kecil. "Syukurlah. Aku sangat ingin melihat kau menari, Sakura-chan. Tapi latihanku sendiri tidak bisa ditinggalkan," kata Hinata dengan nada menyesal.

"Ah, tidak apa-apa, Hinata-chan! Lagipula tidak akan menjadi kejutan untukmu jika kau melihatnya sekarang." Sakura mengibaskan tangannya, lalu mengedipkan sebelah matanya pada Hinata. Ia lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju tempat tidurnya. Sakura langsung merebahkan tubuhnya begitu ia mencapai kasurnya. Kedua mata hijaunya kembali memandang langit-langit dengan tatapan menerawang.

"Ada yang sedang kaupikirkan, Sakura-chan?" Hinata yang juga sudah berbaring di tempat tidur, bertanya pada Sakura yang tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Tidak ada," jawab Sakura cepat. "Hanya…."

"Hanya?" Hinata memiringkan posisi berbaringnya menghadap Sakura.

Sakura mengembuskan napas perlahan sebelum melanjutkan kata-katanya. "Hanya merasa … sudah lama sekali aku tidak melihat Sasuke-kun," ucapnya pelan dan ragu, berusaha agar Hinata tak mendengar kata-katanya. Tapi sayang, Hinata mendengarnya karena meskipun suara Sakura memang sangat pelan, keadaan sunyi di kamar mereka memungkinkan telinga Hinata menangkap suara Sakura dengan jelas.

Sudut-sudut bibir Hinata langsung tertarik ke atas begitu mendengar pengakuan Sakura. "Bukannya kau memang menghindarinya?" tanyanya ringan. "Kaumerindukannya, Sakura-chan?" Hinata menambahkan dengan cepat. Kini senyumnya tampak berbeda dari biasanya.

"Ti-tidak! Mana mungkin aku merindukannya!" elak Sakura cepat. Wajahnya terasa panas saat mendengar perkataan Hinata tadi.

"Kau tidak merindukannya, tapi kau memikirkannya sedari tadi, Sakura-chan. Apalagi namanya kalau bukan kaumerindukan Uchiha-san?" Kali ini Hinata tidak menutupi nada bicaranya yang terdengar menggoda Sakura.

"Aku tidak memikirkannya, Hinata-chan! Aku hanya … Ah, sudahlah! Lupakan saja," Sakura berkata dengan wajah malu. Ia lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. "Sebaiknya kau tidur, Hinata-chan. Oyasuminasai!" ucap Sakura dari bawah selimutnya.

Hinata terkekeh pelan melihat sikap Sakura yang malu-malu. Ia lalu membetulkan posisi tidurnya dan menarik selimutnya sampai ke leher."Oyasuminasai, Sakura-chan! Semoga kau bisa bertemu dengan Uchiha-san di dalam mimpi," ujar Hinata polos.

"Hinata-chan!" Sakura langsung memenuhi kamar mereka dengan suaranya yang menggelegar dan Hinata hanya bisa tertawa pelan sambil menenangkan Sakura yang merajuk karena ucapannya tadi.

.

.

.

Sakura menghela napas berat di bangkunya saat kembali mengingat mimpinya tadi malam. 'Gara-gara Hinata-chan menggodaku semalam, aku jadi benar-benar bermimpi bertemu dengan Sasuke-kun,' batin Sakura. Ia menatap pemandangan di luar kelas melalui jendela kaca yang ada di samping tempat duduknya. 'Tapi, aku ingin tahu apakah Sasuke-kun sudah memutuskan apa yang akan dilakukannya,' gumamnya lagi di dalam hati.

Ia memang tahu mengenai Sasuke yang bimbang untuk memutuskan apakah akan menjalani operasi terakhir yang menentukan kesembuhan tangannya atau tidak dari Gaara. Meskipun Gaara belum pernah mengatakan penyebab cidera yang dialami Sasuke, tapi pemuda itu sedikit banyak sudah menceritakan bagaimana kondisi tangan kiri Sasuke pada Sakura.

"Sakura-chan, kau memikirkannya lagi?"

Suara Hinata yang tiba-tiba terdengar memotong pemikiran Sakura. Ia langsung menatap Hinata yang sedang berbalik menghadapnya dan menggeleng pelan, "Tidak, aku sedang tidak memikirkan siapa-siapa," ucapnya berbohong. Ia tak ingin Hinata menggodanya lagi.

Hinata hanya mengangguk dan tersenyum kecil, meskipun bagi Sakura senyum gadis itu masih terlihat mencurigakan. "Saat istirahat nanti, kauingin makan bersama?"

Sakura menggeleng pelan, "Maaf, Hinata-chan. Sepertinya aku akan menemui seseorang saat jam istirahat nanti."

"Kauingin menemui Uchiha-san?"

"Bukan!" Dan Sakura tidak sadar bahwa nada bicaranya lebih tinggi sehingga menarik perhatian Anko-sensei yang sedang menjelaskan di depan kelas.

"Haruno, sepertinya kau punya alasan kuat kenapa berteriak seperti tadi," Anko berkata dengan nada tajam dan mengintimidasi. "Kurasa kau bisa menjelaskan apa yang kutuliskan di papan tulis karena kau berani berbicara saat aku sedang menjelaskannya," tambahnya lagi.

Sakura mendesah panjang dalam hati. "Ha'i, Sensei," jawab Sakura gugup. Ia lalu memaksa tubuhnya bangkit dari kursi dan mulai berjalan ke depan kelas. Tak lupa Sakura juga melemparkan tatapan tajamnya pada Hinata yang dibalas gadis itu dengan ucapan maaf. Ah, jangan lupa senyum mencurigakan itu masih tersungging di bibir Hinata.

-oo-

Sasuke benci bau rumah sakit dan ia benci warna putih yang mengingatkannya pada suasana rumah sakit. Tapi mau tidak mau ia harus bertahan berada di sebuah kamar dengan nuansa serba putih yang sudah menjadi saksi bisu perjuangannya selama ini untuk beberapa waktu ke depan. Mata kelamnya kini menatap layar LED televisi yang sedang menyala di hadapan ranjang perawatannya. Meskipun matanya tertuju ke depan, tapi sesungguhnya Sasuke tak memerhatikan sama sekali acara komedi yang sedang tayang di televisi.

"Aku tidak tahu kalau kau suka acara komedi, Sasuke-kun."

Sebuah suara rendah dan dalam tiba-tiba menghampiri pendengaran Sasuke yang membuatnya refleks memalingkan kepalanya ke arah sosok pria berambut panjang yang mengenakan jas putih, khas seorang dokter. Sebuah senyum— yang menurut Sasuke sama sekali tidak tampak tulus— dihadiahkannya pada Sasuke. "Apa sudah waktunya?" Tanpa berniat membalas perkataan sang dokter, Sasuke balas bertanya.

Dokter bernama Orochimaru yang sudah menjadi dokter pribadi Sasuke selama empat tahun itu melirik jam tangannya sekilas, lalu menatap Sasuke. "Ya, sebentar lagi beberapa perawat akan membawamu ke ruang operasi. Apa tidak ada sanak keluarga yang ingin menemanimu?" tanyanya ringan.

"Tidak ada yang kutunggu," jawab Sasuke singkat.

"Seperti biasa," celetuk Orochimaru dengan sebuah senyum miring yang masih setia terbentuk di wajahnya. Ia berjalan pelan menghampiri Sasuke yang sudah siap dengan pakaian operasinya. "Terkadang dukungan dari keluarga membuatmu lebih kuat," tambahnya. Ia mulai memeriksa beberapa tanda vital di tubuh Sasuke.

Sasuke hanya diam dan pasrah saat Orochimaru melakukan beberapa pemeriksaan terakhir sebelum ia menjalani operasi hari itu. Sudah seminggu lebih Sasuke menginap di rumah sakit sejak ia mengatakan akan melakukan operasi terakhirnya. Selama itu Sasuke menjalani beberapa latihan fisik untuk tangan kirinya agar Orochimaru dapat melihat sudah sejauh mana perkembangan terakhir pada tangan pemuda itu dan kemarin Orochimaru mengatakan bahwa kondisi tangan kirinya sudah memungkinkan untuk menjalani operasi terakhirnya.

Awalnya Orochimaru memang mengatakan bahwa saat ini masih terlalu cepat Sasuke menjalani operasi terakhirnya, tapi setelah mengamati Sasuke selama seminggu ini, ia yakin kalau presentase keberhasilan operasi terakhir Sasuke naik menjadi 80%. Dan karena itu Orochimaru turut senang atas perkembangan itu, tapi ia tak mengatakan hal itu pada Sasuke karena sepertinya pemuda itu sudah tak memedulikan lagi presentase atas keberhasilan operasinya.

"Baiklah, sampai ketemu di ruang operasi, Sasuke-kun," ujar Orochimaru, memecah keheningan yang tercipta sedari tadi. Ia lalu segera berbalik dan berjalan meninggalkan kamar rawat Sasuke. Empat tahun mengenal Sasuke, ia jadi sedikit paham sifat pasiennya itu. Selama menjalani pengobatan, Sasuke selalu menjalaninya sendiri. Orochimaru bisa menebak bukan tak ada keluarga yang ingin menemani Sasuke, tapi pemuda itulah yang memang tak menginginkannya karena ia tahu Sasuke tidak akan mau memperlihatkan wajah putus asanya pada kerabatnya setiap kali hasil operasi yang dijalaninya tak sesuai harapan.

Sepeninggal Orochimaru, Sasuke mengalihkan perhatiannya pada taman kecil yang ada di samping kamar rawatnya. Tak ada satu pun orang di taman itu, hanya ada beberapa perawat yang sesekali melintasi taman itu. Ia jadi ingat dengan hutan pinus yang ada di pinggiran Ame. Sepertinya ia akan mengunjungi hutan itu setelah keluar dari rumah sakit. Tepat saat ia memikirkan suasana damai di hutan Ame, beberapa orang perawat masuk ke dalam kamarnya.

"Uchiha-san, kau sudah siap?" tanya salah seorang perawat wanita yang sudah sering merawatnya.

"Hn," Sasuke hanya bergumam pelan. Ia lalu merebahkan tubuhnya kembali dan pasrah dengan apapun yang akan dilakukan perawat-perawat itu pada tubuhnya. Begitu ranjangnya bergerak, Sasuke memejamkan matanya, berusaha menenangkan pikirannya yang tanpa ia sadari mulai kalut. Apakah operasi ini akan berhasil? Kalimat itulah yang terus berputar-putar di dalam benaknya hingga ia mendengar bunyi beruntun dari ponselnya. Sasuke langsung membuka matanya dan meraih ponselnya yang sedari tadi digenggamnya.

"Uchiha-san, kau tidak boleh membawa ponselmu ke dalam ruang operasi," ingat seorang perawat yang hendak mendorong ranjang perawatannya.

"Biarkan aku membalas pesan yang baru masuk sebentar saja. Setelah itu Anda bisa menyimpannya," balas Sasuke. Ia tak menunggu jawaban dari perawat itu dan langsung membuka beberapa pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Matanya dengan tekun membaca satu persatu pesan itu, pesan dari teman-temannya. Tapi kemudian wajahnya sedikit terkejut ketika membaca pesan terakhir yang masuk.

"Uchiha-san, kita sudah sampai."

Suara salah seorang perawat yang memanggilnya membuat Sasuke tersentak. Ia lalu tersadar bahwa ranjangnya sudah berada di depan ruang operasi. Setelah memastikan pesan yang dikirimnya terkirim, Sasuke lalu menyerahkan ponselnya pada seorang perawat. Ia kembali memejamkan matanya begitu ranjangnya bergerak memasuki ruang operasi.

"Kita akan melakukan anestesi. Bernapaslah dengan tenang dan rileks, Uchiha-san," suara perawat itu kembali terdengar.

Cahaya lampu yang sangat terang langsung menyiksa matanya begitu ia membuka kedua matanya. Sasuke mengikuti perintahnya dan hal terakhir yang diingatnya adalah wajah seorang gadis kecil yang sedang menari di tengah aliran sungai hutan Amegakure.

-oo-

Naruto sudah mendesah sebanyak sepuluh kali dalam lima menit terakhir dan hal itu membuat Gaara yang tengah membaca laporan anggota OSIS berdecak kesal. "Naruto! Bisakah kau tenang sedikit? Aku sedang berkonsentrasi membaca laporan ini," ucap Gaara dengan nada tajam.

"Oh, ayolah, Gaara! Aku juga tahu bahwa kau sama gelisahnya seperti aku. Sudah sepuluh menit kau terus memandangi halaman yang sama pada laporan itu," tukas Naruto tak kalah tajam. Ia tak henti-hentinya memandangi layar ponselnya yang tak berkedip sedari tadi.

"Sasuke tak akan membalas pesanmu," celetuk Gaara. Ia menutup laporan yang tadi dibacanya dan menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.

Naruto melempar ponselnya dengan kasar ke atas meja, kemudian mengacak-acak rambutnya. "Aku tahu! Kau tidak perlu mengingatkannya," keluh Naruto, "aku hanya ingin tahu apakah operasinya sudah berjalan atau belum."

Gaara tak langsung menjawab, ia melirik jam tangannya sekilas. "Dari apa yang disampaikan Ino tadi, mungkin sekarang dia sedang bersiap-siap," sahut Gaara akhirnya.

"Tch! Teme tidak adil! Hanya telepon dari Ino saja yang diangkatnya," Naruto masih menggerutu kesal. Ia menggoyang-goyangkan kursinya ke depan dan ke belakang.

"Kau terdengar seperti kekasihnya yang sedang cemburu, Naruto," celetuk Gaara tanpa rasa bersalah.

Naruto hanya memberengut kesal dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja dengan kasar. Ia kemudian mendesah panjang, "Bagaimana kalau operasi Teme tidak berhasil, ya? Ah, untuk apa aku menanyakannya lagi? Dari penjelasan Kakashi-sensei, Teme sudah pasti akan segera mengundurkan diri dari sekolah dan langsung berangkat ke Amerika untuk mengambil studi bisnisnya," gumam Naruto. Nada bicaranya terdengar muram.

Gaara hanya bisa menghela napas dan mengangkat kedua bahunya singkat. "Itu sudah menjadi keputusan, Sasuke. Kurasa dia sudah memikirkannya dengan sangat matang," ujar Gaara yang bangkit dari duduknya. Ketika matanya menatap pintu ruang OSIS yang terbuka, saat itulah mata jade-nya bersirobok dengan kedua emerald milik Sakura. Gaara bisa melihat dengan jelas raut terkejut di wajah gadis itu. Ia ingin memanggil Sakura, tapi tidak sempat karena gadis itu sudah pergi ketika ia mengerjapkan matanya.

"Gaara, kau melihat apa?" Naruto memutar tubuhnya untuk melihat ke arah yang sedang ditatap Gaara. Tak ada siapapun di sana. "Oi, Gaara—"

"Aku pergi dulu. Kalau Neji-senpai datang, katakan padanya aku sudah memeriksa laporan-laporan ini," ucap Gaara pada Naruto. Sedetik kemudian ia sudah meninggalkan ruang OSIS.

-oo-

Sakura baru saja mengunjungi kelas Naruto dan Gaara— kelas 2-S— saat jam istirahat untuk menemui kedua pemuda itu atau salah satunya jika ia tidak bisa bertemu dengan mereka di saat yang bersamaan. Namun salah seorang teman sekelas mereka mengatakan bahwa Naruto dan Gaara sedang berada di ruang OSIS. Sakura langsung bergegas menuju ruang OSIS untuk menemui keduanya. Meskipun ia menyangkal godaan Hinata saat di kelas tadi, tapi ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia ingin tahu bagaimana keadaan Sasuke sekarang.

Sakura sudah sampai di depan ruang OSIS yang kebetulan pintunya sedang terbuka lebar. Nama Gaara dan Naruto sudah berada di pangkal tenggorokannya saat ia mendengar suara cempreng milik Naruto.

"… Teme sudah pasti akan segera mengundurkan diri dari sekolah dan langsung berangkat ke Amerika untuk mengambil studi bisnisnya." Sakura dapat mendengar dengan jelas setiap kata yang diucapkan Naruto, meskipun ia bisa mendengar Naruto berbicara dengan nada sedih.

'Mengundurkan diri? Jadi, Sasuke-kun memutuskan untuk menyerah?' Sakura hanya bisa terdiam di tempat tanpa bisa berkata apa-apa. Jantungnya terasa seperti ditekan saat mendengar perkataan Naruto itu dan napasnya tercekat, seolah oksigen di sekelilingnya tiba-tiba saja menipis. Ia sadar bahwa Gaara yang duduk di hadapan Naruto menyadari keberadaannya, namun ia langsung mengambil langkah seribu untuk meninggalkan ruangan itu sebelum Gaara menyadari sebulir air mata yang sudah jatuh menyusuri pipi putihnya.

-oo-

"Ternyata kau memang ada di sini, Sakura."

Suara Gaara mengusik Sakura yang tengah duduk di bangku taman yang menghubungkan koridor terbuka gedung timur dan gedung barat; tempat kesukaannya untuk menenangkan diri. Sakura segera menghapus jejak-jejak air mata yang ada di pipinya. Meskipun tangisnya sudah berhenti, namun matanya masih berkaca-kaca.

"Boleh aku duduk?" Gaara kembali bersuara setelah tak mendapati Sakura membalas perkataannya. Ia bisa melihat Sakura mengangguk pelan dan langsung menempati tempat di samping Sakura.

Sakura berdecak kesal; lebih pada dirinya sendiri. "Maaf. Aku selalu bersikap aneh seperti ini di hadapanmu, Gaara," gumamnya pelan. Nada suaranya terdengar parau.

Gaara terdiam mendengar suara parau Sakura. Ia bisa merasakan kepiluan yang tersirat dari nada bicara gadis itu. "Sakura … sepertinya kau salah paham." Setelah membiarkan hening menyelimuti mereka selama beberapa saat, akhirnya ia mampu membuka suaranya.

Kepala Sakura refleks berpaling pada Gaara, "Maksudmu? Aku jelas-jelas mendengar Naruto mengatakan bahwa Sasuke-kun akan segera mengundurkan diri dari sekolah. Itu artinya dia juga akan menyerah pada keadaannya, kan?" Kali ini nada bicara Sakura terdengar lebih tinggi, tetapi juga terdengar lirih.

"Kau tidak mendengar perkataan Naruto yang sebelumnya," Gaara berucap dengan lembut. Seulas senyum menenangkan ia berikan pada Sakura. Dan ia bernapas lega saat ketegangan di wajah Sakura perlahan mengendur. "Sasuke tidak akan mengundurkan diri dari sekolah jika operasinya berhasil," tambahnya lagi agar Sakura yakin bahwa perkataannya benar.

"Benarkah? Kau tidak bohong, kan? Kau tidak mengatakan itu hanya untuk menghiburku, kan?" Sakura memberikan pertanyaan beruntun pada Gaara untuk meyakinkannya.

Gaara menggeleng pelan, "Tapi jika operasi terakhirnya tidak berhasil, Sasuke memang akan mengundurkan diri dari sekolah dan pindah ke Amerika," ujarnya kemudian.

'Amerika?' gumamnya lirih dalam hati. Sakura yang tadinya sudah bernapas lega merasa napasnya kembali berat. "Jadi … semuanya tergantung hasil operasi terakhirnya?" gumam Sakura.

"Mm-hmm. Kita hanya bisa berharap yang terbaik untuk operasinya hari ini," ucap Gaara lagi. "Kau jangan khawatir," tambahnya.

"Hari ini? Operasinya dilakukan hari ini?" tanya Sakura memastikan.

Gaara mengangguk, "Mm. Tadi aku dan Naruto sedang membicarakan tentang operasi yang akan dijalani Sasuke hari ini, sampai Naruto membahas tentang keputusan Sasuke. Dia sudah menyerahkan surat perpindahan departemennya dan surat pengunduran dirinya secara bersamaan pada Kakashi-sensei. Jika tangan Sasuke sembuh total maka otomatis Sasuke akan kembali ke departemen musik, tapi jika tangannya tidak bisa sembuh, Sasuke akan mengundurkan diri dari sekolah ini dan benar-benar mundur dari dunia musik," jelasnya panjang lebar.

Sakura meremas pinggiran bangku kayu yang didudukinya. Air matanya kembali mengalir saat membayangkan kemungkinan buruk yang dikatakan Gaara terjadi. 'Jangan cengeng, Sakura!' rutuknya dalam hati sambil menghapus jejak air matanya dengan cepat. "Aku … hanya tidak bisa membayangkan jika Sasuke benar-benar keluar dari dunia musik," lirihnya kemudian.

Gaara tak tahu harus berkata apa. Ia tidak bisa membayangkan ataupun berpura-pura memahami apa yang dirasakan Sakura saat ini. Karena itu ia memilih diam dan menunggu Sakura tenang. Cukup lama Gaara dan Sakura saling berdiam diri, hingga akhirnya Sakura mengembuskan napas panjang sebelum menyenderkan punggungnya pada bangku taman yang mereka duduki.

"Terima kasih karena sudah menemani temanmu yang cengeng ini," Sakura akhirnya memecah keheningan yang menyelimuti mereka sedari tadi. Ia tersenyum kecil pada Gaara yang langsung menatapnya. "Kau benar-benar teman yang baik, Gaara," ucapnya lagi.

"Tidak. Aku bukanlah teman yang baik seperti yang kaukatakan, Sakura," sela Gaara cepat. "Aku tak bisa merasakan penderitaan Sasuke, sedangkan kau sepertinya sangat memahaminya," tambahnya lagi.

Sakura tak langsung menyahut. Kali ini ia meremas ujung rok kotak-kotaknya. "Jujur saja … aku bisa tetap menari sampai sekarang berkat Sasuke-kun. Jika aku tidak bertemu dengannya, mungkin aku benar-benar akan menyerah begitu saja terhadap mimpiku. Karena itulah aku tak bisa membayangkan sosok Sasuke-kun yang begitu optimis harus bertekuk lutut pada takdir yang kejam jika operasinya tidak berhasil," Sakura berkata lirih.

"Dan karena itulah aku mengatakan bahwa kau teman yang baik, Sakura," Gaara berucap tulus. Lalu keheningan menyelimuti mereka lagi.

"Ne, Gaara…."

"Hmm?"

"Boleh aku tahu kecelakaan seperti apa yang dialami Sasuke-kun hingga dia mengalami cidera parah seperti itu?" Sakura menatap Gaara dengan tatapan memohon agar pemuda itu menceritakan kepadanya bagaimana awal mula penderitaan Sasuke. Sudah cukup ia menahan rasa ingin tahunya itu selama ini.

Gaara mengalihkan pandangannya dari Sakura, takut jika gadis itu bisa membaca pikirannya. 'Apakah sekarang saat yang tepat untuk mengatakannya pada Sakura?' pikir Gaara. Tapi ia takut jika Sakura akan mengambil kesimpulan yang salah di akhir penjelasannya nanti.

"Gaara…." Suara Sakura terdengar sedikit mendesak.

Terdengar Gaara berdeham sebentar sebelum ia memutuskan untuk mulai berbicara. "Sasuke sebenarnya bukanlah perwakilan KAA yang akan mengikuti violin concours di Vienna empat tahun lalu. Seorang senpai kami sudah terpilih untuk mewakili kompetisi itu," Gaara memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Sakura. Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, "Tapi kemudian ada insiden kecil yang terjadi antara Sasuke dan Hidan hingga membuat tangan Hidan terkilir. Akibat kejadian itu Sasuke ditunjuk untuk menggantikannya mengikuti kompetisi itu."

Sakura bisa merasakan ketidaksukaan Gaara saat dia menyebut nama senpai-nya itu. Dia bahkan tak menambahkan suffix –san ataupun –senpai saat menyebut namanya. "Apakah karena masalah itu dia ingin balas dendam pada Sasuke-kun dengan menghancurkan tangan kirinya?" Sakura bertanya ragu.

Gaara menggeleng pelan, "Bukan. Masalahnya jadi lebih besar setelah Sasuke kembali dari Vienna dengan mendapatkan posisi kedua di kompetisi itu." Gaara bisa melihat tubuh Sakura sedikit menegang begitu mendengar lanjutan perkataannya. "Aku tidak tahu pasti bagaimana awal mulanya, tapi Sasuke terlibat perkelahian yang menyeret beberapa siswa seni rupa dan Hidan. Anehnya saat itu Sasuke berada di pihak siswa seni rupa karena ternyata dialah yang menghajar Hidan hingga babak belur," Gaara menghentikan penjelasannya lagi. Kali ini ia bisa merasakan napas Sakura yang tercekat saat mendengar lanjutan ceritanya.

Sakura sedikit heran kenapa Gaara tak juga melanjutkan perkataannya. Ia menatap pemuda itu dan memanggilnya pelan, "Gaara…."

Gaara membalas tatapan Sakura sebentar, lalu mengalihkan tatapannya ke depan. "Suasana hati Sasuke memang sangat buruk begitu dia kembali ke Jepang, tapi aku tidak yakin itu adalah alasan utama kenapa Sasuke bisa sampai terlibat dalam perkelahian itu. Lalu aku dan Naruto memutuskan mencari tahu penyebabnya," lanjutnya kemudian.

"Dan apa kalian menemukan alasannya?" Rasa penasaran yang begitu besar tergambar jelas pada pertanyaan Sakura.

"Ya, akhirnya kami mengetahui alasannya," Gaara menggantung kalimatnya. "Tanpa sepengetahuan para guru, Hidan dan kawan-kawannya sering mencari masalah dengan siswa seni rupa dan di hari itu dia melakukannya lagi. Sayangnya Sasuke tak sengaja melihatnya. Aku yakin Sasuke tidak akan mau mencampuri urusan mereka, jika saja Hidan…." Gaara kembali menghentikan ucapannya, yang otomatis membuat Sakura semakin penasaran.

"Apa yang dilakukannya pada Sasuke-kun?"

Gaara menghirup napas dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. "Hidan menghina ibu Sasuke yang juga adalah pendiri departemen seni rupa. Aku tak tahu tepatnya apa yang dikatakannya tentang Bibi Mikoto, tapi yang pasti kata-katanya berhasil membuat Sasuke murka. Kukira permasalahan itu selesai di situ saja setelah Sasuke membuat permintaan maaf secara tertulis kepada Hidan dan menjalani skorsing. Tapi ternyata harga diri seorang senpai yang sudah dua kali dicoreng oleh kouhai-nya, membuat dia nekat menyewa orang untuk menghabisi Sasuke."

"Apa?" Sakura berkata spontan dengan wajah tak percaya. Sebelah tangannya menutup mulutnya yang terlihat sedikit terbuka karena terkejut. Napasnya lagi-lagi tercekat saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Gaara. Ia bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya pada Sasuke.

"Menghabisi yang kukatakan bukan membunuh Sasuke," Gaara bisa melihat Sakura menghela napas lega saat ia kembali berkata, "menghabisi yang kumaksud adalah menghabisi masa depan Sasuke dengan menciderai salah satu tangan Sasuke agar dia tidak lagi bisa bermain musik. Kau tahu bahwa tangan seorang musisi adalah aset berharga baginya, kan? Dan itulah yang terjadi … tak lama setelah hari itu Sasuke ditemukan tak sadarkan diri di sudut kota Konoha dengan tangan kirinya yang terluka parah. Begitu Sasuke sadar keesokan harinya, ia tahu bahwa ada yang salah dengan tangan kirinya." Gaara menyudahi penjelasannya dengan menghela napas panjang.

"Kejam sekali," komentar Sakura dengan wajah ngeri. "Bagaimana bisa dia melakukan hal itu pada Sasuke-kun yang lebih muda darinya?" gumam Sakura pelan.

Gaara mengangkat bahunya sekilas dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan menengadah ke langit biru yang tidak tertutup awan. "Aku juga tidak tahu," bisiknya pelan.

"Lalu apa yang terjadi pada senpai kalian itu?" tanya Sakura penasaran.

"Tentu saja dia diberhentikan dari sekolah dengan tidak terhormat. Setelah itu aku tak pernah melihat wajahnya lagi dan aku sangat bersyukur akan hal itu. Jika aku bertemu dengannya saat itu, mungkin aku tak bisa menahan diriku untuk tidak menghajarnya," sahut Gaara tenang.

Sakura mengangguk sekali, "Oh, begitu. Lalu … bagaimana Sasuke bisa berpindah ke departemen seni rupa? Apa dia sendiri yang langsung mengajukan permintaan perpindahan departemen?" Sakura bertanya tanpa menoleh pada Gaara. Ia lebih memilih memandang rerumputan yang dipijaknya.

"Awalnya Sasuke sudah akan keluar dari sekolah karena perintah kakeknya. Kau tahu? Keluarga Uchiha adalah salah satu investor untuk yayasan ini, dan kakek Sasuke sempat menghentikan aliran dananya begitu mengetahui apa yang terjadi pada cucu kesayangannya. Terjadi sedikit masalah saat itu, tapi setelah bernegosiasi dengan pihak sekolah dan atas sifat keras kepalanya Sasuke, dia berhasil dipertahankan di KAA dengan syarat harus berpindah departemen," jelas Gaara lagi.

"Dan Sasuke memilih departemen seni rupa?"

Gaara mengangguk. "Sasuke tentu saja tidak cocok berada di departemen tari atau drama, jadi satu-satunya departemen yang bisa menampungnya hanyalah departemen seni rupa. Dia dipindahkan ke sana dengan harapan saat cideranya sembuh, Sasuke bisa segera kembali ke departemen musik. Para guru masih sangat mengharapkan hal itu mengingat bagaimana kemampuan bermusik Sasuke," jawabnya.

"Hoo … jadi begitu ceritanya," komentar Sakura setelah mendengar jawaban panjang Gaara. Ia sudah akan mengucapkan terima kasih pada pemuda itu saat Gaara kembali membuka suaranya.

"Sejak saat itu keadaan sekolah benar-benar gempar, hubungan tidak baik antara departemen seni rupa dan departemen seni musik semakin memburuk," tambah Gaara lagi.

"Ah, ya … aku juga salah satu korban akibat ketidakharmonisan hubungan kedua departemen itu," gumam Sakura dengan nada sedikit sarkastik saat mengingat kejadian yang menimpanya di awal kepindahannya ke KAA. "Ternyata akar masalahnya memang karena gengsi kedua departemen," tambahnya lagi.

Gaara mengangkat kedua bahunya, "Kurasa karena Bibi Mikoto yang mendirikan departemen itu," sahutnya. Sakura kembali menoleh padanya, meminta ia kembali melanjutkan perkataannya melalui tatapan matanya yang berkilat penasaran. "Bibi Mikoto dulunya adalah seorang pianis terkenal dan menjadi penanggung jawab departemen musik. Tak ada satupun siswa seni musik yang tidak mengaguminya. Tapi tujuh tahun yang lalu dia mengemukakan idenya untuk membuat satu departemen baru, yaitu departemen seni rupa. Dan saat departemen itu terbentuk, Bibi Mikoto tak lagi menjadi bagian dari keluarga besar departemen musik," sambung Gaara dengan nada menerawang.

Sakura tak mengalihkan tatapannya dari Gaara. "Jadi pendiri departemen seni rupa adalah ibunya Sasuke-kun…," gumamnya.

Gaara mengangguk lagi. "Alasan Bibi melakukan hal itu karena dia ingin menyediakan tempat untuk generasi muda yang mencintai seni rupa yang saat itu belum ada tempat untuk menampung kemampuan mereka. Alasan yang lebih pribadi adalah karena dia ingin menyediakan tempat untuk putranya yang lain … Kakak Sasuke," tambah Gaara.

"Kakak Sasuke-kun?" Sakura mengerutkan keningnya.

"Ya, kakaknya seorang pelukis. Keluarga Uchiha adalah keluarga pecinta musik, sama seperti keluargaku, dan kakaknya adalah satu-satunya keturunan Uchiha yang keluar dari zona itu. Jadi Bibi Mikoto ingin memberikan tempat untuknya yang tidak mendapat tempat dalam keluarga Uchiha. Bibi juga yakin kalau departemen itu nantinya bisa berkembang pesat seperti departemen musik dalam hal melahirkan generasi-generasi baru yang berkualitas," Gaara menjawab pertanyaan Sakura. Ia kembali menghentikan perkataannya sejenak untuk mengambil napas. Kali ini Sakura bisa melihat ekspresi Gaara berubah menjadi sedikit … sendu.

"Tapi hal itu tidak berjalan sesuai rencana. Baru beberapa bulan departemen itu berdiri, orang tua Sasuke beserta kakaknya meninggal dalam kecelakaan pesawat dan saat itu tidak ada orang yang tepat untuk menggantikan posisi Bibi Mikoto. Sejak saat itu departemen seni rupa sempat berdiri tanpa penanggung jawab selama beberapa tahun sampai Asuma-sensei mengambil alih jabatan itu tiga tahun yang lalu," lanjut Gaara lagi.

Ah, Sakura ingat dulu Sasuke pernah bercerita padanya bahwa kedua orang tua dan juga kakaknya sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Melihat ekspresi sendu Gaara, ia memikirkan cara untuk sedikit mengalihkan topik pembicaraan. "Kenapa bisa tidak ada yang menggantikan posisi Ibu Sasuke-kun? Bukannya sekolah ini sudah sangat terkenal hingga orang-orang akan dengan senang hati menjadi bagian di dalamnya?" Sakura baru tersadar bahwa dirinya sedari tadi terus bertanya pada Gaara dan ia sedikit merasa tidak enak hati.

Gaara tersenyum melihat raut wajah ingin tahu Sakura yang belum pudar, setidaknya gadis itu sudah tak terlihat sedih lagi sekarang. "Kau tahu sekolah ini berdiri dari investasi orang-orang kaya, Sakura, dan tidak bisa dipungkiri bahwa kelangsungan masing-masing departemen tergantung dengan investor yang ingin berinvestasi di masing-masing departemen. Dan para investor saat itu tak berminat untuk membantu departemen seni rupa. Bibi Mikoto menggunakan aset pribadinya untuk membangun departemen itu, karena itulah sepeninggal Bibi Mikoto departemen itu tak terurus," jelas Gaara.

"Tidak mungkin! Kenapa perlakuannya tidak adil seperti itu?" ucap Sakura tidak percaya. "Pantas saja para siswa seni rupa merasa didiskriminasi."

"Mau bagaimana lagi? Sekolah ini bukan milik pemerintah, tapi swasta, dan sekolah swasta sepenuhnya bergantung pada investor yang menginvestasikan uangnya pada sekolah tersebut. Bahkan kepala sekolah tak bisa melakukan apa-apa selain berusaha menemukan seseorang yang ingin bertanggung jawab terhadap departemen itu secepat mungkin," komentar Gaara.

Sakura mendesah panjang. "Ternyata masalahnya serumit itu," gumam Sakura yang menggigit bibir bawahnya.

"Karena itulah Sasuke tak menjelaskan padamu penyebab dia tak lagi berada di departemen musik. Dia harus menjelaskan panjang lebar padamu agar kau mengerti situasinya, dan kau pasti tahu Sasuke bukanlah tipe orang yang suka bercerita panjang lebar … Ah, sebenarnya aku juga, tapi karena kau yang meminta, aku membuat pengecualian hari ini," tukas Gaara sambil terkekeh pelan. Ia tak menyangka dirinya bisa berbicara panjang lebar pada Sakura.

Sakura tak bisa menahan senyumnya setelah mendengar perkataan Gaara. Pemuda di sampingnya ini benar-benar teman yang sangat baik. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan Gaara. "Terima kasih karena sudah bersedia menceritakan semuanya padaku, Gaara," ucap Sakura tulus.

"Bukan apa-apa. Anggap saja penebusan kesalahanku," gumam Gaara tanpa sadar.

"Kesalahan? Kesalahan apa?" Sakura menaikkan sebelah alisnya, heran.

"Karena membuatmu menangis saat kita berada di restoran Prancis itu," sahut Gaara.

Sakura mengernyitkan keningnya, "Sudah kukatakan itu bukan salahmu, Gaara!" Kedua emerald Sakura menatapnya dengan tatapan protes.

Gaara tertawa lagi, "Kau memang mengatakannya seperti itu, tapi aku tetap saja merasa bersalah … ah, jangan protes lagi!" Gaara buru-buru menambahkan saat ia melihat Sakura yang hendak memprotes perkataannya. "Jadi, apa sekarang kau sudah tidak sedih lagi?" tanya Gaara pada akhirnya.

Sakura menggeleng, membuat Gaara mengerutkan keningnya. "Aku masih khawatir pada Sasuke-kun," jawabnya jujur. "Saat ini, selagi kita berbicara, di suatu tempat Sasuke-kun sedang berjuang untuk masa depannya. Tapi aku tidak boleh kalah darinya, bersedih dan menangis seperti orang bodoh di sini tidak akan berarti apa-apa," tukas Sakura yang kemudian mengulas sebuah senyum getir.

"Yosh, yosh…," Gaara tak bisa menahan tangannya untuk mengelus puncak kepala Sakura, yang lebih terlihat seperti mengacak-acak rambutnya. Ia tersenyum puas begitu melihat Sakura melancarkan tatapan protesnya.

Gadis itu bangkit dari duduknya agar Gaara tak mengacak-acak rambutnya lagi dan bersedekap. "Err … aku ingin pergi ke suatu tempat setelah ini. Tapi sebelum itu, apa aku boleh meminta sesuatu padamu, Gaara?"

"Hmm? Apa itu?"

-oo-

Setelah bel pertanda usainya kegiatan belajar mengajar hari itu berbunyi, Sakura langsung bergegas menuju gedung KAA lama. Ia tidak berniat untuk berlatih menari di studio tari yang ada di sana, melainkan mengarahkan kakinya ke lantai dua di mana studio musik berada; tempat ia pernah menemukan Sasuke yang sedang memainkan piano dengan tangannya yang cidera.

Begitu sampai di ruangan itu, Sakura langsung duduk di bangku berkaki tinggi yang ada di hadapan grand piano tua yang berada di tengah ruangan. Ia membuka penutup piano yang sedikit berdebu dan mulai menekan tuts-tuts piano itu dengan sembarangan. Sakura mendesah panjang, "Aku memang tidak berbakat bermain piano," gumamnya kemudian. Ia lalu teringat akan sepenggal kenangan masa kecilnya bersama Sasuke dulu dan seulas senyum manis langsung terbentuk di bibirnya.

"Kau benar-benar payah! Berjanjilah untuk tidak mendekati piano dan mencoba memainkannya setelah ini!"

Kritikan pedas itu disampaikan oleh Sasuke kecil padanya setelah Sakura berhasil memainkan lagu Twinkle Twinkle Little Star kepunyaan Mozart menggunakan piano dengan susah payah. "Karena aku tidak bisa memainkannya, kauharus memainkannya lagi untukku. Kau sudah berjanji padaku, Sasuke-kun," bisik Sakura, seolah sosok Sasuke sedang berada di dekatnya.

Sakura lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka kotak pesan masuk yang ada di ponselnya. Ia membuka pesan masuk terakhir yang diterimanya, dan pesan yang hanya berisi satu kata ambigu yang tak ada di kamus manapun itu, kembali berhasil membuat Sakura menarik sudut-sudut bibirnya ke atas. Ia lalu meletakkan ponselnya di atas piano dan menyatukan kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya kemudian terpejam.

'Kami-Sama, kumohon … lancarkan operasi Sasuke-kun dan berikan kesembuhan pada tangan kirinya. Aku ingin mendengar kembali permainan musiknya,' Sakura menggumamkan doanya di dalam hati dengan khusyuk. Berharap sepenggal doa yang ia kirimkan untuk Sasuke bisa memberi sedikit keajaiban pada operasi pemuda itu.

.

.

From : 08xxxxxxxxxx

Subject : Ganbatte!

Kuharap operasimu hari ini berjalan lancar dan tanganmu bisa sembuh total, jadi aku bisa kembali menagih janjimu dulu. Aku sangat menantikan saat di mana kau bisa kembali memainkan Tristesse untukku, Sasuke-kun.

HS.

From : Sasuke-kun

Subject : Re: Ganbatte!

Hn.

-TBC-


Authors Note:

Baru kali ini bisa update OnE dalam itungan satu bulan aja #tumpengan :3

Oke, adegan SasuSaku di sini emang ga ada sama sekali, lebih banyak GaaSaku-nya karena memang chapter ini dibuat untuk menjawab sebagian teka-teki yang gak diketahui Sakura selama ini :)

Dan Gaara juga kubuat jadi banyak ngomong di sini, yah, meskipun Gaara memang gak se-tsundere Sasuke … Jadi kalo ada yang merasa Gaara OOC, itu memang disengaja karena cuma dia yang kepikiran untuk jelasin semua teka-teki itu pada Sakura selain Ino dan Naruto~

Chapter depan berkemungkinan besar penuh dengan scene SasuSaku :D So, just wait it, Guys! ;)

Ah, mau ngucapin selamat sama readers yang menjawab dengan tepat di review ttg pertanyaan yang pernah aku ajuin di A.N chapter-chapter sebelumnya xD

.

Akhir kata, mind to give some feedback? Concrit? I'll very appreciate it ^^ Flame? It's ok.

.

Sign,

C.C

31102014