June, 14th
Sebenarnya aku tidak mau menunggu dibawah teriknya matari seperti ini. Musim panas adalah musuh alaminya sejak kecil. Tapi aku tidak mau berurusan dengan Akashi dalam mode marah. Seian itu, aku merasa harus datang karena banyak hal. Terutama sih karena balas budi karena Akashi baik—setelah dipikirkan dengan seksama olehku meski dengan caranya sendiri.
"Sudah kubilang aku menjemputmu." Suara itu membuatku sadar dari lamunanku dan mendapati Akashi dengan kaos polo hijau dan juga celana jeans selutut. Kontras dengan penampilannya selama ini yang selalu rapi, hari ini dia terlihat lebih santai.
"Saat kau mengirimiku pesan, aku sudah berada di luar. Jadi yah sekalian saja aku menunggu," aku membela diriku sendiri. Tapi memang benar, aku tadi (secara terpaksa) berada di luar karena membantu kakak iparku menulis buku tentang bahasa bunga.
Benar-benar membantunya menuliskannya karena kakak iparku ini benar-benar gaptek dengan teknologi. Handphone yang dia punya saja dari jaman SMA sampai sekarang masih belum diganti. Saat kutanya alasannya, jawabannya "Karena aku tidak paham dengan handphone jaman sekarang."
"Ayo kita pergi." Eh tunggu? Akashi tadi tidak mengatakannya dengan nada memerintah?
Dan saat aku sadar, tangan Akashi sudah menggenggamku.
.
.
.
Tunggu— bulan ini bukankah Kiss day?
.
.
Fourteen
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
School life, lil OOC, typos. Tidak mengambil keuntungan profit dalam pembuatan fanfic ini. Saya tidak sanggup memasangkan Akashi dengan chara perempuan di fandom ini karena saya cinta Akashi sepenuh hati #nak
Akashi Seijuuro x YOU (terserah bagaimana interpresentasi kalian dengan ini, yang jelas saya pakai first POV)
Fourteen © tsaforite
.
.
Sudahkah aku bilang pada Akashi jika aku takut pada gelap?
Ah—lupakan. Akashi tentu saja tidak tahu karena aku tidak pernah mengatakannya. Tapi mengajakku nonton adalah suatu penderitaan sendiri. Apalagi aku menyerahkan semua keputusan film apa yang mau ditonton pada Akashi karena aku yakin tidak akan menonton satupun adegan di film itu karena sibuk melawan ketakutan diriku sendiri pada gelap.
Dan saat melihat tiket yang memuat film apa yang dipilih Akashi, aku makin ingin berlari pulang kerumah serta mendinginkan diriku di dalam rumah.
Dari semua film, kenapa harus horror? Akashi mau modus atau memang semua stok film musim panas tahun ini adalah horror?
Kalaupun sekarang aku membawa headset serta ipod milikku, aku pasti sudah menggunakannya agar tidak mendengarkan sound effect yang menakutkan dari film horror itu sementara mataku tetap terpejam selama film diputar.
"Kau tidak suka film ini?" tanya Akashi yang membuatku ingin menjedukkan kepala ke tembok terdekat. Kemana Akashi yang suka bertanya dengan nada memerintah itu? Kenapa dia bertanya dengan gentle.
"Tepatnya aku takut dengan kegelapan."
Akashi tidak berkata apapun lagi. Aku yang sedang sibuk berpikir random agar aku bisa mengalihkan ketakutanku akan kegelapan dan film horror, Akashi menarik tanganku yang membuatku terpaksa berdiri dari kursiku.
"Kita kemana Akashi?" tanyaku yang masih menutup mata dan mempertanyakan bagaimana aku masih tetap bisa berjalan tanpa terjatuh.
"Keluar. Dan panggil aku Seijuuro."
"Maaf, aku lupa."
Dan begitu menyadari jika aku sudah berada di ruangan yang memiliki intensitas cahaya yang tinggi, pelan-pelan aku membuka mataku. Begitu menyadari kami sudah berada di taman, aku menatap Akashi dengan kebingungan karena lelaki itu menatapku dengan kesal.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau takut dengan gelap?"
"Kau tidak bertanya padaku."
"Kau harus memberitahukannya tanpa orang lain memintanya."
"Tapi aku bukan orang yang suka menceritakan diriku sendiri pada orang lain."
"Kau harus melakukannya, padaku setidaknya."
"Kenapa?"
"Aku ingin tahu."
Aku diam dan Akashi menghela nafas. Memandang sekeliling kami dimana banyak orang yang tengah berpacaran membuatku menghela nafas. Musim panas dan berlibur bersama para adalah hal yang terbaik. Namun itu tidak bisa berlaku padaku.
"Kenapa?" tanya Akashi yang membuatku menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa," dan aku menyadari tanganku masih bergandengan dengan Akashi. Mencoba melepaskannya dan malah berakhir dengan semakin kuat digenggam tanganku.
Sebenarnya aku ingin bertanya tentang klub basketnya, bukankah ini seharusnya summer camp? Jangan salahkan aku mengetahui semuanya, karena aku secara tidak sengaja membaca di buku agenda Akashi yang dulu aku berikan padanya jika bulan ini seharusnya summer camp.
"Hari ini kegiatan di summer camp sengaja aku buat untuk bersantai, jadi aku bisa naik pesawat pribadiku untuk mengunjungimu," penjelasan Akashi yang seolah bisa membaca pikiranku itu membuatku memasang wajah lempeng.
Dasar holang kayah. Apa-apa naik pesawat pribadi.
Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya karena aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri dan akhirnya aku malah sampai di pantai tanpa tahu bagaimana caranya kami berada di sana. Akashi membawaku ke pantai yang entah bagaimana caranya tidak ada orang samasekali. Aku memikirkan beberapa opsi, seperti Akashi dengan sengaja mengusir semua orang agar hanya tersisa kami berdua—dengan kekuatan uangnya, kenapa tidak?—atau kami berada di kawasan pantai milik keluarga Akashi.
"Pantai ini milik keluargaku dan terakhir kali aku ke sini saat lima tahun yang lalu," penjelasan Akashi itu membuatku mengangguk dan mencoret kemungkinan pertama yang tadi sempat terpikirkan oleh padaku.
"Lalu kenapa tidak mengadakan summer camp disini saja dan malah pergi jauh-jauh?" sebenarnya aku tidak ingin terlalu penasaran dengan kegiatan klub basket, tapi daripada aku tidak punya bahan percakapan samasekali kan.
"Mereka menjadi manja jika aku adakan summer camp di sini."
Aku tidak mengatakan apapun lagi karena aku kehabisan bahan pembicaraan dan aku memang pernah mendengar jika latihan yang dibuat Akashi itu benar-benar neraka dunia. Aku tidak bisa berkomentar apapun karena pada kenyataannya Akashi pada organisasi kesiswaan—tepatnya padaku—sering berlaku kejam denga memberikan tugas yang tidak manusiawi.
Saat sadar tanganku dilepaskan oleh Akashi, aku segera berlari menuju pantai dan merentangkan tanganku. Sesekali aku berputar sembari meloncat, karena aku memang menyukai pantai. Dan aku berhenti karena nafasku sudah terlalu pendek-pendek. Aku menatap ombak yang berkejaran dan membuatku melepaskan sepatu yang kupakai lalu kaos kakiku sebelum bertelanjang kaki menuju pinggir pantai yang ombak-ombak kecil bisa menerpa kakiku.
"Sebegitu sukanya kau dengan pantai sampai meninggalkan orang yang mengajakmu?" suara itu membuatku menoleh ke arah Akashi yang pada akhirnya memasang wajah kesal dan suaranya kembali seperti biasanya. Dan entahlah, aku lebih suka seperti itu.
"Maafkan aku, tapi sudah lama aku juga tidak ke pantai," tawaku lalu berusaha melangkah karena kakiku agak terbenam di pasir.
Akashi memegang tanganku dan membuatku menoleh padanya. Dia seolah tidak tahu apa-apa dan menarik tanganku agar berjalan. Aku tidak mengatakan apapun dan Akashi juga sepertinya tidak mau mengatakan sesuatu padaku, sehingga aku hanya mencoba menikmatinya sembari memejamkan mata. Namun tidak berapa lama, aku menubruk sesuatu yang aku kira punggung Akashi. Namun saat membuka mataku, aku berjarak sangat dekat dengan dada Akashi dan saat aku mau mundur, aku tidak bisa karena sebelah tangan Akashi sudah melingkar di belakangku.
"Se-Sei ... bisa lepaskan aku? Ini salah."
"Tidak."
Ini seperti pengulangan saat Maret lalu. Saat aku melihat kekasihku berselingkuh dan aku menangis di pelukannya. Dimana aku bisa mendengarkan suara jantung yang berdetak tidak karuan sehingga membuat jantungku bersikap sama. Dan saat seperti ini, aku sadar jika Akashi ternyata lebih tinggi dari dugaanku. Mungkin karena aku terlalu sering melihatnya bersama tim basketnya sehingga aku pikir tinggi kami sama.
"Hari ini tanggal 14 Juni," Akashi membuka percakapan tetapi tetap tidak melepaskanku.
—dan aku sendiri juga anehnya malah tidak berusaha melepaskan diri.
Akashi tidak berkata apapun membuatku akhirnya membuka suaraku. "Lalu?"
"Di agenda yang kau berikan padaku, ada tulisan bahwa hari ini adalah kiss day."
Aku diam, mencoba menelaah perkataan Akashi dan saat aku sadar apa maksudnya, aku langsung mendorong tubuh Akashi sehingga jarak akhirnya tercipta diantara kami/
"Kenapa kau membacanya?!"
"Kau sendiri yang memberikan padaku, kau lupa?"
"Tapi seharusnya kau tidak membacanya. Argh ... jangan-jangan alasan kita selalu bertemu tanggal 14 setiap bulan karena itu?"
Aku memegang kepalaku dengan frustasi dan tidak menyadari Akashi mendekatiku. Saat aku menyadarinya, wajah Akashi sudah berada di depan wajahku yang membuatku hendak melangkah mundur namun tanganku ditahan olehnya.
"Katakan padaku, apa salahnya jika kita selalu bertemu di tanggal itu?"
"Tentu saja salah! Karena aku bukan siapa-siapa dirimu."
Wajah Akashi semakin mendekat dan akupun menutup mataku. Namun aku sadar jika bibirku tidak dicium dan saat membuka mata, Akashi mencium keningku—atau harus kubilang dia mencium poniku.
"Kau salah jika mengira kau bukan siapa-siapa bagiku. Kau penting bagiku."
"Tapi kenapa Sei?"
"Apa butuh alasan?"
"Semua reaksi pasti ada aksi yang melatarbelakanginya."
Aku berusaha melepaskan tangan Akashi dari tanganku, namun gagal. Dan saat menatapnya untuk menyampaikan keinginanku bahwa lebih baik dilepaskan saja, tatapannya kembali seperti saat kami bertemu tadi di tempat janjian yang membuatku ingin meminta kembalikan Akashi yang aku kenal sebelumnya. Yang senang menyiksanya dengan memberikan berbagai tugas yang kadang tidak manusiawi baginya.
"Jika aku mengatakan alasannya padamu, apa jaminannya jika kau tidak memberikan argumen untuk menolaknya?" pertanyaan itu membuatku menatapnya tidak mengerti.
"Maksudnya apa?"
"Aku terbiasa bahwa perkataanku adalah absolut dan penolakan bukanlah bagian dari hidupku," Akashi malah mengatakan hal yang membuatku semakin tidak mengerti. Aku tahu hal itu, lalu apa hubungannya dengan semua ini?
"Lalu apa?"
Akashi tampak frustasi yang membuatku ingin protes karena seharusnya ekspresi itulah yang harusnya aku yang menggunakannya sekarang. Aku di sini frustasi berusaha menterjemahkan setiap perkataanya.
"Apakah kau masih tidak mengerti yang aku maksudkan padamu?"
"Tidak."
"Aku hanya mengatakannya sekali, jadi dengarkan baik-baik," Akashi menghela nafas lalu menatapku dengan intens. "Aku menyukaimu. Tidak—yang benar aku mencintaimu."
Aku menatap Akashi dengan tatapan tidak percaya. Kenapa diantara semua orang, harus aku? Aku yang orang tidak mungkin masuk dalam list perempuan idamannya—yang aku tidak sengaja ketahui karena salah satu sahabatku sangat menyukai Akashi sampai mencari tahu apapun tentang Akashi—malah disukai olehnya?
"Tapi aku—"
"Aku tahu kau akan berusaha menolakku, makanya aku sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini padamu."
Aku sebenarnya ingin bilang jika aku bukan ingin mengatakan bahwa aku menolak Akashi, tetapi aku tidak yakin semuanya akan bisa berjalan dengan semestinya. Mungkin saja Akashi mengatakan hal ini karena dia kasihan padaku dan bukan mencintaiku seperti yang dikatakannya. Namun aku mendekatinya dan memeluknya, entah untuk apa.
—mungkin berusaha memastikan bahwa yang aku dengar bukanlah bualan belaka dengan detak jantung Akashi?
"Terima kasih dan maaf," ucapku lirih dan aku tidak tahu bagaimana ekspresi Akashi sekarang ini.
"Aku sudah bilang aku tidak ingin mendengarkan penolakanmu secara langsung."
"Aku bukan mengatakan maaf untuk menolakmu," ucapku sambil memejamkan mata dan malah berfokus pada suara jantung Akashi yang berpacu dengan cepat dan mengakibatkan reaksi yang sama denganku. "Aku mengatakannya karena aku tidak tahu harus melakukan apa padamu."
Ada jeda panjang yang membuatku berpikir bahwa aku mengatakan hal yang salah. Dan saat aku akan membuat jarak, Akashi melingkarkan tangannya pada tubuhku.
"Tidak perlu dipikirkan sekarang tentang hal itu. Aku tahu kau masih butuh waktu untuk memikirkannya."
"Tapi—"
"Aku tahu aku selalu menginginkan semuanya sesuai dengan ekspetasiku, tapi perasaan seseorang tidak mungkin aku perlakukan seperti itu. Jadi lebih baik seperti ini saja."
Dan akupun hanya bisa menangis dalam diam sehingga membuat pakaian Akashi basah serta Akashi menepuk-nepuk pelan puncak kepalaku. Dia tidak mengatakan apapun lagi setelah itu dan menemaniku mencari sepatu yang kulepaskan sembarangan sebelum mengantarkanku pulang ke rumah.
Mungkin aku tidak bisa menjawab sekarang bagaimana perasaanku pada Akashi karena aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan pada lelaki itu. Mungkin hubungan kami masih tidak memiliki status apapun dan kemungkinan aku meragukan perasaan Akashi setiap saat bisa saja terjadi. Namun tanganku yang tidak terlepas digenggamnya seolah aku berharga dan aku menghilang jika dia melakukannya membuatku merasa harus mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan oleh Akashi padaku.
Iya saya tahu menelantarkan fanfic ini selama setahun. Saya gatau harus nulis apaan dari kemarin dan setelah saya merasa jenuh di akun FFn yang lainnya dan berusaha mencari kesenangan baru, menemukan fanfic ini di draf. Dilanjutkan ditulis serta saat dibaca lagi malah buat saya tepuk jidat berkali-kali.
Ini yang nulis saya? Saya yang gak mau terlibat dalam hubungan percintaan apapun dan malah bisanya nulis beginian? Fungsi otak saya geser atau bagaimana? (" -_-)
tsaforite
14/08/2015
