"...Kau kembali lagi rupanya… Lily…"
Ucapan dari pemuda didepan mereka yang tadi berhasil menahan pedang Excalibur Rapidly milik Jeanne dengan tangan kosong lalu merebutnya dan kini mengacungkan pedang Excalibur tersebut ke arah 3 gadis gereja tersebut membuat Jeanne yang merupakan salah satu dari 3 gadis gereja tersebut membulatkan mata miliknya.
Nama itu…
Itu adalah nama kecilnya sebelum dia berganti nama menjadi Jeanne. Nama yang dia gunakan ketika dirinya masih berada di panti asuhan.
Jeanne yang masih dalam keadaan terkejutnya kemudian memandang pemuda di depannya ini lekat-lekat.
Rambut putih… mata cerulean biru yang bagaikan aquamarine sebiru lautan… wajah yang menunjukkan ciri-ciri dari sahabat kecilnya yang dia lupakan…
"...N-naruto…," tukas Jeanne dengan bergetar di nada bicaranya.
Pemuda ini…
Pemuda ini adalah sahabat yang dia lupakan…
…
...
Flashback…
6 tahun sebelumnya…
"Hey Lily…, benarkah kau harus pindah sejauh itu?.." tanya seorang anak kecil berusia 10 tahun dengan rambut putih dan wajah imut akibat pipi yang tampak gemuk.
"Aku diadopsi oleh mama baruku, Naruto…, jadi ya aku harus ikut mama pindah dari sini…," jawab seorang gadis kecil dengan rambut pirang sebahu dan sebuah jepit rambut kecil yang menjepit rambut bagian kanan gadis tersebut.
Naruto yang mendengar hal tersebut kemudian berkata, "Kurasa saat kau pergi aku akan kesepian nantinya…"
Lily yang mendengar perkataan Naruto kemudian memandang ke arah Naruto "Hey tentu saja kau tak akan kesepian…, Ada banyak saudara kita disini,..."
"Lily…, sesudah kau pindah sejauh itu…, apa kau akan melupakanku?.." tanya Naruto dengan memandang ke arah gadis kecil yang sudah menemaninya menjalani hari-hari menyenangkan di panti asuhan tempat mereka tinggal.
"Apa yang kau katakan, Naruto…" tukas Lily dengan tertawa kecil. "Tentu saja aku tak akan melupakanmu…, aku bahkan akan mengirimkan surat padamu agar kita tetap bisa terhubung karena kita teman bukan? Dan teman selalu terhubung satu sama lainnya…,"
"Kau berjanji?..." Naruto kemudian mengacungkan jari kelingking miliknya ke arah Lily yang ditanggapi Lily dengan mengacungkan jari kelingking miliknya dan mengkaitkannya dengan jari Naruto.
"Janji…" tukas riang Lily yang membuat Naruto tersenyum manis. Naruto kemudian melepas kaitan jari mereka dan merogoh sebuah kalung dari saku celananya lalu memberikannya pada gadis kecil di hadapannya.
Sebuah kalung berbentuk bunga mawar silver dengan inisial nama N&L yang berada di tengah bunga mawar itu yang berarti Naruto&Lily.
"Ini hadiahku untukmu sebagai jimat keberuntungan dariku…"
Lily yang melihat kalung tersebut kemudian memeluk Naruto sambil berujar "Arigatou… Naruto…"
...
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Disclaimer : Naruto dan High School DxD bukanlah milikku. Mereka punya para Owner terhormat yang membuatnya. Begitupun character anime lain yang Naruto pinjam untuk melengkapi imajinasi milikku
Kekuatan yang keluar disini sebagian terinspirasi dari One piece, Date a Live, dan masih banyak lagi.
Alternate Reality: OOC Naruto, strong to godlike Naruto, Human Naruto,...,
. . .
Summary: Re-write fic the Last Adventure. Uzumaki Naruto harus memulai semua dari awal dengan berbagai pertanyaan di dalam benaknya tentang siapa sebenarnya dirinya. Ingatan samar yang selalu muncul dalam mimpinya adalah kunci jawaban yang selama ini dia cari. Roda takdir telah berputar untuknya dan Naruto akan membuktikan bagaiman derajat manusia lebih tinggi dibanding makhluk supernatural
…
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
...
"Hoo…, kau masih mengingatku rupanya Lily…," tukas dingin Naruto. "Dan pertemuan kita setelah sekian lama adalah diriku harus menghentikan dirimu membunuh yang tak bersalah…, Sangat ironis sekali…,"
Naruto sendiri hanya memandang datar dengan tatapan dingin ke arah sahabat kecilnya dahulu.
Sahabat kecilnya itu telah banyak berubah. Dia terlihat begitu cantik dengan paras yang dia miliki. Rambut pirangnya yang sebahu di depan dan panjang sepinggang di belakang yang tergerai lurus menampakkan sahabatnya layaknya sebuah boneka porselain. Tubuh yang Naruto tahu sangat sempurna yang tersembunyi dari balik jubah milik Jeanne.
Naruto tak memungkiri hal tersebut mengingat ketika kecil dahulu dia tahu bahwa Jeanne pasti akan tumbuh menjadi seorang gadis cantik.
...after all… that's to much beautiful in Naruto opinion after he saw Jeanne now...
"Tak bersalah?... Dia sudah membunuh anak kecil yang tak berdosa!…," jawab gadis berambut biru sebahu dengan sedikit rambut hijau di sisi kanan gadis tersebut yang bernama Xenovia dengan nada tinggi.
"Apakah kau melihat gadis di belakangku ini membunuh dengan mata kepalamu sendiri?...," tanya Naruto dengan masih nada dingin.
"Kami memang tak melihat tapi dia membawa mayat anak kecil dan tangannya berdarah yang artinya dialah yang membunuhnya…" tukas gadis berambut agak coklat yang diikat twintail dan panjang sepinggang pula yang kini membantu Jeanne yang berdiri dengan memandang Naruto. "Belum lagi dia itu adalah fallen angel yang mana kami tahu fallen angel itu senang membunuh…!" tambah gadis berambut twintail bernama Irina.
Naruto yang mendengar perkataan gadis gereja berambut coklat tersebut menaikkan alisnya lalu terdiam dan menurunkan pedang yang dia acungkan ke arah 3 gadis exorcist tersebut kemudian memutarnya sebelum menancapkannya di tanah. Mengabaikan perkataan dari dua gadia exorcist yang tak dia kenal, Naruto memutar tubuhnya hingga dia kini melihat Raynare yang menangis tanpa mampu berbicara dan terbaring di lantai memandangnya dengan wajah yang terlihat kesakitan akibat luka yang dia derita, Naruto kemudian menurunkan tubuhnya, berjongkok lalu tangan kanannya kemudian Naruto letakkan di atas kepala Raynare dengan begitu lembut dan Naruto kemudian memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya kembali dan terlihat sebuah hologram jam kini terlihat di mata kanan miliknya sembari bergumam.
"...Clock Dawn…: Reverse…"
Lalu sebuah cahaya keemasan menyelimuti Raynare yang mana cahaya tersebut mengembalikan keadaan Raynare sebelum terluka dan Raynare sendiri hanya bisa memandang lemah ke arah Naruto.
Para gadis exorcist yang melihat hal didepan mereka tersentak kaget. Apalagi Jeanne yang merupakan sahabat kecil Naruto. Jeanne tak mengira sahabat kecilnya ini punya kekuatan yang tak dia ketahui...
Naruto sendiri yang melihat luka Raynare tertutup dan keadaan tubuh Raynare sendiri kembali seperti semula kemudian menggumamkan lagi sebuah kata-kata selepas cahaya keemasan yang menyelimuti Raynare menghilang, "...Clock Dawn…: Memories…"
Sebuah kata yang Naruto gumamkan barusan adalah sebuah teknik miliknya yang memungkinkan dirinya melihat memori seseorang dari sudut pandang orang itu sendiri.
Naruto melihat memori Raynare dan dia tak bisa untuk tak tersenyum ketika tahu bahwa Raynare hanya berniat menguburkan anak kecil yang telah tewas akibat iblis liar yang sudah dimusnahkan Raynare itu sendiri.
"Kau tak bersalah Rayna…" tukas lembut Naruto yang kemudian bergerak dan berupaya menggendong tubuh dari Raynare.
"...Naruto…" ucap lemah Raynare dimana dirinya tak mampu bergerak banyak ketika Naruto menggendong Raynare dengab gaya bridal style. Naruto sendiri hanya tersenyum lembut dan mengabaikan ketiga gadis exorcist dibelakangnya.
"Kita pulang okay…, Istirahatkan dahulu tubuhmu saat kugendong…" tukas lagi Naruto pada Raynare yang dijawab dengan anggukan kepala lemah dari Raynare itu sendiri.
Memutar kembali tubuhnya menghadap ke arah tiga gadis exorcist di hadapannya, tatapan mata Naruto kembali berubah menjadi dingin. "Lain kali jika ada seseorang yang tak mencoba melawan kalian dan berusaha menjelaskan tentang sesuatu, lebih baik dengarkan dahulu sebelum bertindak…" Naruto berkata dengan nada dingin.
Xenovia yang mendengar ucapan Naruto kemudian berkata. "Siapa kau?! Apa kau sekutu dari gadis fallen angel yang bersalah tersebut? Kau Heretic kan?!..." tukas Xenovia masih dengan nada tinggi miliknya. Terlihat Xenovia juga bersiap menyerang dengan Excalibur Destruction miliknya. "Jika kau sekutu dari fallen angel pembunuh itu, jangan harap kau bisa lolos dari kami!" tambah Xenovia yang membuat Naruto menajamkan pandangan matanya.
"Jaga ucapanmu gadis kecil…!" balas Naruto dengan nada berat. "Kau kini tengah berada di tempat yang bukan wilayahmu jadi bertingkahlah sopan dimana kau saat ini berada…" tambah Naruto dengan melepaskan aura miliknya dengan kapasitas yang sama saat dia keluarkan untuk menakuti Rias Gremory saat pertemuan pertamanya dengan iblis tomat tersebut yang langsung membuat ketiga gadis gereja yang memandang Naruto langsung terduduk merasakan sesak di dada mereka dan membeku ketakutan.
"Kalian menyerang seorang gadis yang telah membunuh iblis liar yang sebenarnya pembunuh dari anak kecil tersebut…, gadis yang hanya ingin menguburkan secara layak anak kecil yang telah tewas." tukas Naruto. "Kalian beruntung karena aku tak harus mematahkan tulang- tulang kalian terutama tulangmu Lily. Aku tak berniat bertarung namun aku hanya ingin menyelamatkan temanku yang kalian lukai akibat salah paham kalian. Temanku ini walaupun dia adalah fallen angel, namun dia tak masuk dalam fraksi fallen angel, asal kalian tahu…" Naruto kemudian berjalan dengan santai keluar dari gedung bekas tak terpakai itu dengan melewati ketiga gadis yang masih terduduk akibat menahan sesak di dada mereka.
Berhenti sebentar, Naruto kemudian berkata ketika posisinya berhentinya membelakangi para gadis gereja tersebut, "Jangan pernah mencari kami dan berharaplah agar kita tak bertemu lagi, terutama kau Lily…"
Lalu Naruto kemudian berjalan kembali meninggalkan ketiga gadis gereja tersebut…
xxx
…
…
"...Naruto…" panggil Raynare dengan nada lemah ketika dirinya dibaringkan oleh Naruto ke atas tempat tidur yang biasa ditempati olehnya saat mereka tiba di apartemen.
"Ya, Rayna?.." jawab Naruto dengan nada lembut sembari menaikkan selimut untuk menutupi tubuh Raynare.
"Siapa itu Lily?... Kau tadi mengatakan nama Lily pada salah satu gadis yang menyerangku. Apa kau kenal dengannya?"
Naruto kemudian memandang ke wajah Raynare. "Dia teman kecilku saat kami tumbuh besar di panti sebelum dia pindah ke luar negeri…
...Dia juga lebih tepatnya sahabatku yang telah lupa denganku. Sudahlah, aku tak ingin membahasnya, Rayna" tukas Naruto pelan sambil kemudian duduk bersila di samping tempat tidur dimana merupakan tempat Raynare berbaring.
"Ketiga gadis tersebut exorcist, Naruto…"
"Exorcist dari pihak gereja?...," tanya pelan Naruto yang dibalas anggukan lemah Raynare. "Apa yang mereka lakukan disini?"
"Aku tak tahu, Naruto…," tukas Raynare. "Tapi mereka tadi membawa pedang dengan aura suci yang sangat kuat yang digunakan untuk menyerangku…,"
"Maksudmu pedang yang tadi sempat kurebut?"
"Hu'um…," angguk lagi Raynare. "Seharusnya mereka tak disini mengingat ini adalah teritory iblis" tambah Raynare.
"Bukankah ini bisa memicu konflik?" tanya Naruto.
"Seharusnya ini memang sudah menjadi konflik mengingat setiap fraksi tak diperbolehkan masuk ke wilayah yang dikuasai fraksi lain." jawab Raynare. "Entah mengapa aku merasa akan hal yang buruk terjadi, Naruto…"
"Mungkin itu hanya firasatmu." tukas Naruto lembut dengan mengelus kepala Raynare kembali. "Istirahatlah sekarang ya…,"
Raynare kembali menganggukkan kepala miliknya tanda dia patuh pada Naruto. Naruto sendiri hanya tersenyum saja sebelum kemudian berkata lagi. "Uhmm…, Rayna… Kau pernah bertemu langsung dengan Kokabiel yang merupakan salah satu dari pemimpin fraksi fallen angel yang kau ceritakan padaku?" tanya Naruto
"Belum pernah Naruto…, namun aku pernah melihatnya saja walau sekilas, memangnya kenapa?" Raynare bertanya dengan memandang ke arah Naruto.
"Well…, aku tadi bertemu dan bicara langsung dengannya…," jawab Naruto yang langsung dihadiahi tatapan terkejut dan panik dari Raynare.
"Lord K-Kokabiel disini?..." tukas Raynare dengan tubuh bergetar dan wajah panik terlintas di wajahnya. Naruto bisa melihat bahwa Raynare tampak ketakutan juga sekarang.
"Apa kau tahu tujuannya berada di sini, Rayna?" tanya Naruto dengan lembut dan kembali mengelus kepala Raynare untuk meredakan kepanikan dan rasa takutnya.
"A-aku tak t-tahu, Naruto ! Aku hanyalah bagian kecil dari pasukan yang ada di Grigory…," tukas Raynare dengan nada gugup. "Lord Kokabiel adalah sebuah anomali yang sulit dipahami di Grigory sendiri, Naruto. Jalan berpikirnya sama sekali tak bisa ditebak dan juga sangat sulit dipahami, namun dia punya banyak sekali pasukan yang loyal padanya.."
"Kau takut padanya?" Naruto bertanya dan dia bisa melihat betapa kini tubuh Raynare bergetar hebat. "Aku tadi bicara padanya dan dia kurasa ramah, Rayna…"
Naruto saat bicara dengan Kokabiel sama sekali tak merasakan niat jahat darinya. Dia terlihat baik dan juga senang berfilosofi sedikit mungkin menurut Naruto…,
"Hanya ramah jika dia tak marah Naruto…" tukas Raynare kemudian. "Kau tak tahu bagaimana ketika dia marah. Itu sangat menakutkan dan juga dialah yang memberi perintah untuk membunuh para pengguna sacred gear, Naruto"
"Kenapa?"
"Ada alasannya untuk itu Naruto…, kau tahu bukan bahwa setiap sacred gear ketika dibangkitkan awalnya lemah…,"
"Yeah, aku tahu itu, Rayna. Kau sudah cerita itu juga padaku.,"
"Lalu bayangkan mereka mencapai Balance Breaker yang mana kekuatannya mampu membunuh iblis kelas tinggi dengan mudah lalu lepas control…,"
"Saat pengguna sacred gear yang telah mencapai Balance Breaker lepas control, mereka akan menjadi tak terkendali yang akan menghancurkan apapun, Naruto…, untuk itulah kami diperintahkan membunuh para pemilik sacred gear yang memungkinkan memiliki potensi mengancam dan tetap mengontrol mereka. Seperti Issei yang harusnya kubunuh karena dia memiliki sacred gear yang merupakan salah satu Longinus yang merupakan sacred gear yang berpotensi membunuh Tuhan…,"
"Membunuh Tuhan? Kau bercanda kan Rayna…," tukas Naruto dengan sedikit tertawa kecil. "Jika itu berpotensi membunuh Tuhan , lalu kenapa Tuhan menciptakan sacred gear tersebut?"
"Sacred gear awalnya diciptakan sebagai alat perlindungan untuk ras manusia selepas Tuhan tiada, Naruto…"
Naruto yang mendengar perkataan Raynare kemudian menajamkan pandangan matanya. "Apa maksudmu dengan Tuhan tiada, Rayna?"
Raynare yang mendengar pertanyaan Naruto kemudian memandang ke arah langit-langit kamar. "Ini mungkin terdengar gila dan mustahil, namun kami semua termasuk aku yang masuk menjadi anggota prajurit Grigory yang berada di bawah kepemimpinan Lord Kokabiel diberitahu bahwa memang Tuhan tiada selepas perang besar atau Great War dahulu Naruto. Tuhan tiada selepas menyegel naga jahat Trihexa. Setidaknya itulah yang diberitahu kepada kami."
Naruto yang mendengar perkataan Raynare terdiam sejenak sebelum kemudian tertawa kecil.
Tuhan tiada?
That's load of BULLSHIT...!
Jika Tuhan tiada, maka seluruh sistem alam semesta pasti akan lenyap. Dan itulah yang dipercayai oleh Naruto. Tuhan adalah awal dan akhir. Mendengar perkataan Raynare tadi benar-benar terlihat bahwa makhluk supernatural tak lebih dari makhluk bodoh yang hanya mempercayai satu hal namun dengan mudah kehilangan kepercayaan tersebut.
"Raynare yang mendengar tawa kecil Naruto kemudian menoleh dan melihat wajah dari pemuda berambut putih tersebut yang kini tersenyum. " Rayna…" tukas Naruto. "Apa kau percaya jika Tuhan tiada?"
"...A-aku…"
...
"Rayna…, listen to me okay…, Tuhan tetaplah ada selama kita percaya akan hal tersebut. Aku percaya hal tersebut bukan sebatas kepercayaan semata tapi karena aku yakin jika Tuhan memang masihlah ada dan mengawasi kita untuk menentukan jalan kita sendiri." ucap Naruto. "jika Tuhan tiada, maka seluruh sistem alam semesta ini akan hancur dan percayalah hal tersebut." tambah Naruto yang masih mengelus pelan kepala Raynare yang kini terdiam. "Well…, kurasa pembicaraan ini tak ada habisnya nanti jika aku bicara terus dan sekarang juga sudah malam. Belum lagi tubuhmu masih lemah walau semua lukamu sudah sembuh, jadi sekarang istirahat dan tidurlah, okay…" tukas Naruto yang menghentikan elusan tangannya di kepala Raynare dan berdiri dari duduknya. "Tidurlah, Rayna…, aku akan menemanimu disini sampai kau tertidur."
Raynare sendiri hanya menurut dan memejamkan matanya sembari menikmati elusan lembut tangan Naruto yang membawanya ke alam mimpi. Lagipula Raynare sendiri sangat merasa lelah dan dia butuh tidur untuk mengembalikan keadaan tubuhnya secara semula…
…
…
xxx
( Kuoh academy )
Di ruang klub penelitian ilmu gaib, kini terlihat Rias Gremory dan Sona Sitri bersama para budak mereka tengah berhadapan dengan utusan gereja. Jeanne, Irina, dan Xenovia yang duduk di sofa yang dipersiapkan utuk tamu di ruangan klub tersebut tampak memakai jubah coklat yang menutupi pakaian mereka. Aura suci jelas terpancar dari mereka yang membuat para iblis yang berada di ruangan tersebut merasa gelisah. Hal hal yang berbau suci memang adalah kelemahan bangsa iblis. Sedangkan di depan para utusan gereja yang juga duduk di sofa adalah Sona Sitri dan Rias Gremory. Para budak Sona dan Rias terlihat berada di belakang para raja mereka. Issei tampak sibuk memperhatikan teman masa kecilnya yang dia dulu anggap lelaki yaitu Shidou Irina.
"Jadi kami datang kemari hanya ingin meminta izin dari kalian selaku yang mengurus Kuoh ini untuk melaksanakan misi sementara kami di sini." ucap Jeanne berbicara dengan ramah pada para iblis membuka pembicaraan. Tampak Irina yang berada di sampingnya juga bersikap ramah sedangkan Xenovia hanya memasang wajah datarnya di hadapan para iblis di depannya. Kiba yang terlihat juga di ruangan tersebut mengepalkan kedua tangannya layaknya menahan amarah yang memuncak akibat pedang suci yang dibawa para utusan gereja yang kini di hadapan mereka.
"Perkenalkan namaku Jeanne D'Arc. Yang berada di sampingku adalah Shidou Irina yang dulunya adalah teman masa kecil pawn milikmu Gremory-san, sedangkan di samping kananku adalah Xenovia Quarta." ujar Jeanne kembali. "Kami berniat menghindari konflik dengan kalian nantinya jadi kami kemari meminta izin secara baik-baik Sitri-san dan Gremory-san." tambah Jeanne.
Sona yang mendengar permintaan utusan gereja berujar dengan bersikap ramah pula. "Dan bolehkah kami tahu misi apa yang kalian emban agar kami juga bisa merasa lega membiarkan kalian berkeliaran di teritory kami?" tanya Sona.
"Misi kami adalah membawa kembali potongan Excalibur yang dicuri dari pihak gereja." ujar Jeanne yang membuat para iblis di hadapan mereka terkejut dengan informasi yang mereka dengar. "Dan berdasarkan perintah ketua pendeta, kami diharuskan pergi ke Kuoh karena kemungkinan besar potongan Excalibur yang dicuri berada di sini." tambah Jeanne yang membuat iblis tambah semakin kaget.
Potongan dari Excalibur yang asli terpecah saat Great War dahulu ditempa kembali oleh pihak Vatikan dan disimpan dengan penjagaan begitu ketat bisa hilang di curi?. Dan ditambah utusan gereja yang ada di hadapan para iblis ini bilang bahwa kemungkinan potongan pedang Excalibur yang di curi tersebut ada di kota Kuoh?. Lelucon macam apa ini!.
Inilah yang ada di pikiran iblis yang ada di hadapan para utusan gereja. Bukankah ini bisa memicu konflik besar mengingat kota ini didiami oleh iblis dan potongan pedang Excalibur yang dicuri notabene milik fraksi Tenshi ada di kota ini. Dan bukankah ini sama saja menuduh bahwa fraksi iblis mencuri potongan pedang Excalibur tersebut?
Rias yang memang memiliki temperamen tinggi langsung berujar dengan nada dinginnya. "Dan apa kalian menuduh fraksi iblis yang mencuri potongan pedang Excalibur yang hilang tersebut dan menyembunyikannya di kota ini?" ucap Rias dengan begitu dingin. Bahkan para budak dari Rias jarang sekali mendengar ucapan Rias yang begitu dingin seperti ini.
"Oh tenang saja, kami pihak gereja tak menuduh kalian pencurinya." balas Jeanne santai seolah tak terpengaruh dengan nada dingin Rias. "Pencuri yang mencuri potongan pedang Excalibur tersebut sepertinya ingin memicu perang yang ada dengan mencuri pedang tersebut dan menyembunyikannya di kota yang kalian tinggali. Apalagi saat ini 3 fraksi yang berseteru tengah dalam gencatan dingin yang sewaktu-waktu perang dapat terjadi kembali." tambah Jeanne.
"Hal itu memang masuk akal dapat terjadi." balas Sona dengan nada sedikit khawatir. Kenapa masalah seolah selalu datang ke kota yang dia tinggali belakangan ini?. "Tapi apakah tak kurang hanya mengirim 3 orang untuk membawa kembali potongan pedang Excalibur yang dicuri sementara kalian tak tahu seberapa kuat pencuri tersebut hingga dapat mencuri potongan pedang Excalibur tersebut?" tanya Sona.
"Kalian meremehkan kami?" ujar Xenovia angkat bicara. Xenovia sedikit kesal dengan pertanyaan heiress dari pillar Sitri di depannya.
"Tidak! Aku tak meremehkan kalian." balas Sona cepat. "Namun aku hanya bertanya saja. Dan melihat kau menjawab pertanyaan dariku tadi menandakan betapa percaya dirinya kalian. Kupikir kalian dibekali dengan sesuatu yang membuat kalian yakin dan pedang yang Quarta-san segel di belakangnya serta pedang yang tersarung di pinggang Jeanne-san adalah hal yang membuat kalian yakin bukan?" tambah Sona dengan sedikit menyelidik.
"Kau punya pemikiran yang tajam rupanya Sitri-san." balas Irina mulai bicara karena dirinya sedari tadi diam hanya mengikuti alur pembicaraan senpainya dan iblis yang ada di hadapannya. "Kami masing-masing juga dibekali dengan tiga pedang yanh ditempa dari potongan pedang Excalibur yang terpecah menjadi 7 bagian." tambah Irina dengan nada riang di ucapannya.
"Karena itu kami hanya ingin meminta izin untuk memulai misi kami di sini." ujar Jeanne kembali berbicara. "Kalian boleh melapor ke para Maou mengingat Lucifer dan Leviathan yang sekarang masihlah saudara kalian dan biarkan mereka mengonfirmasi misi kami dengan menghubungi atasan kami. Kami hanya meminta agar kalian juga tak ikut campur yang nantinya dapat membuat misi kami berantakan." tambah Jeanne masih dengan nada santainya yang diikuti anggukan kepala dari para juniornya membenarkan ucapan senpai mereka.
"Bukankah lebih baik juga kami ikut membantu?" ujar Rias bicara kembali walau nadanya masih dingin. "Walau kalian dibekali dengan pedang Excalibur tetap saja nantinya kalian akan kerepotan bila berhadapan dengan musuh yang kuat bukan?" tambah Rias dengan nada yang kini berubah mulai meremehkan utusan gereja di hadapannya karena melihat begitu percaya dirinya yang terlihat dari utusan gereja dan itu membuatnya kesal. "Aku punya pengguna Longinus dan sacred gear yang kuat yang pastinya tak akan kalah dari kalian dan mungkin saja lebih kuat dari kalian."
Jeanne yang mendengar nada yang sedikit memprovokasi dari iblis Gremory di hadapannya menurunkan senyum di wajahnya sehingga wajahnya menjadi datar. Aura suci dalam jumlah besar menguar dari tubuhnya seketika yang membuat para iblis harus membulatkan mata mereka dan membuat mereka sedikit merasakan sesak di dada. "Dengar Gremory-san. Jangan bertingkah dengan sombong yang melampaui apa yang seharusnya." ujar Jeanne dengan nada yang berubah dingin. "Aku tak peduli kau punya budak pemilik sacred gear Longinus ataupun sacred gear yang berguna nantinya bila kalian membantu kami, namun jangan meremehkan kami seolah kami sama seperti kalian. Kau mungkin iblis yang lebih kuat dariku, mungkin saja. Namun kau tak akan pernah bisa menang melawan elemen suci yang kami miliki dan berpengaruh buruk pada iblis seperti kalian. Jadi jaga ucapanmu."
Rias yang mendengar ucapan balasan dari Jeanne berniat membalas namun dirinya harus terdiam takkala Sona temannya berujar dengan nada yang tegas. "Hentikan Rias!" ujar Sona dengan tegas. "Hentikan kata-kata yang kau akan ucapkan dari mulutmu dan tolong Jeanne-san hilangkan aura suci yang kau keluarkan." tambah Sona sedikit memohon. Sona tak ingin menambah masalah lagi yang dapat membuat kepalanya serasa pecah.
"Kami menyetujui agar kalian bisa melakukan misi kalian ini di kota Kuoh dan kami tak akan ikut campur dalam misi yang kalian lakukan." ucap Sona dengan nada bicara yang kembali tenang.
"Tapi Sona-" ucap Rias ingin membantah apa yang dikatakan Sona namun kembali terpotong oleh ucapan Sona.
"Kita adalah iblis yang bertanggung jawab di Kuoh ini, Rias dan aku juga termasuk didalamnya bukan hanya dirimu." ujar Sona memotong ucapan Rias dan juga memandang kearahnya. "Jadi aku juga berhak memberi keputusan disini. Dan jangan menggunakan alasan pertemanan kita untuk membantah ucapanku." tambah Sona tegas. Sona tak main-main dengan nada bicaranya kali ini mengingat Rias sudah melanggar perjanjian, jadi dirinya bertindak tegas kali ini pada Rias.
Rias sendiri yang mendengar nada bicara Sona yang tegas hanya bisa terdiam. Dirinya hanya bisa menurut saja kali ini. Sementara Jeanne yang melihat bagaimana Sona bersikap kepada Rias hanya mengulas senyum.
"Melihat sudah tak ada yang harus dibicarakan, maka kami akan pergi sekarang Sitri-san." ujar Jeanne mengambil perhatian dari Sona yang masih memandang Rias dan sukses membuat perhatian Sona teralih kembali pada tiga utusan gereja yang kini berdiri dari sofa tempat duduk mereka. "Kami senang melihat bagaimana anda mau bersikap bekerja sama dengan pemintaan yang kami ajukan tadi." tambah Jeanne dengan nada ramah di ucapannya.
"Ahh baiklah kalau kalian mau pergi Jeanne-san, Irina-san, Xenovia-san." balas Sona dengan berdiri dari sofa yang dia duduki. "Semoga misi kalian segera sukses." tambah Sona.
Para utusan gereja hanya menggangukkan kepalanya mereka dan berjalan menuju pintu keluar. Xenovia yang melihat Asia menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Asia sembari berkata. "Apa kau Holy Maiden Asia Argento dari gereja yang terkenal karena penyembuhannya?" tanyanya yang menghentikan langkah Jeanne dan Irina dan memandang ke arah Xenovia dan Asia.
Asia yang mendengar pertanyaan Xenovia hanya mampu menganggukkan kepalanya yang mendapat tatapan datar dari Xenovia. "Dan kini kau menjadi seorang iblis apakah kau sudah tak percaya lagi pada Tuhan?" tanya lagi Xenovia.
"A-aku se-selalu percaya pada Tuhan." balas Asia sedikit terbata.
Mendengar balasan Asia membuat Xenovia menggerakkan tangannya meraih gagang pedang yang ada di punggungnya yang membuat para iblis disana waspada. Apalagi Issei yang sudah mengeluarkan boosted gear miliknya. Xenovia kemudian berujar. "Kalau kau masih percaya pada Tuhan, maka tak apa bukan kalau aku membu-"
"Hentikan Xenovia!" ucap Jeanne tegas memotong kata-kata yang akan diucapkan oleh juniornya itu dan sukses membuat Xenovia bungkam.
Tangan Xenovia melepaskan gagang pedang di belakangnya yang dia pegang. "Kenapa senpai menghentikanku?" tanya Xenovia.
"Kita tak ingin membuat konflik dengan mereka." balas Jeanne. "Tidakkah kau lihat Sekiryutei disana sudah berancang-ancang ingin memukulmu apabila kau meneruskan ucapanmu?" tambah Jeanne yang menunjuk ke arah Issei yang sudah memanggil boosted gear miliknya. Para budak Sona dan Rias juga sudah bersiaga seandainya terjadi apa-apa.
"Cih…" decih Xenovia sedikit tak suka dan berjalan menjauh dari Asia menuju pintu keluar tanpa bilang apapun.
"Maafkan dia Sitri-san, Gremory-san." ucap Irina. "Temanku satu itu memang sedikit temperamen."
Rias yang melihat budak kesayangannya akan diancam kemudian bicara. "Jika sampai temanmu tadi melukai budakku, maka aku tak akan memaafkan kalian!" ujarnya.
"Bisakah kalian pergi sekarang dengan damai, Jeanne-san, Irina-san?" tanya Sona mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengusir secara halus. "Dan terima kasih Jeanne-san karena telah menghentikan teman anda tadi."
"Tentu Sitri-san." balas Jeanne. "Dan sama-sama terima kasih untuk kalian." tambahnya sembari melangkah pergi keluar bersama Irina untuk menyusul Xenovia yang sudah pergi keluar. Jeanne akan bicara dengan Xenovia selepas ini.
Para iblis yang melihat utusan gereja telah pergi menghembuskan nafas lega mereka. Namun tidak dengan Kiba yang masih mengepalkan erat tangannya. Kiba tahu dia tak bisa bertindak tanpa perintah Rias saat ini. Namun saat Rias sudah tak ada dan dia bergerak sendirian, dia pasti akan memburu utusan gereja itu dan menghancurkan pedang yang mereka bawa. Dan itu pasti karena hanya dengan menghancurkan pedang yang terbuat dari potongan Excalibur itulah, dia bisa membalaskan dendamnya.
…
…
…
"Pertemuan tadi berjalan lebih baik dari yang kita perkirakan, Irina…" tukas Jeanne yang kini berjalan dengan pelan diikuti Irina Shidou di sampingnya dan Xenovia yang masih sedikit kesal.
"Yap…, dengan ini maka kita bisa melaksanakan misi dengan leluasa." balas riang Irina. "Senpai…, bagaimana dengan pencarianmu terhadap teman masa kecilmu itu yang menghentikan kita di gudang bekas beberapa hari lalu?, Apa membuahkan hasil?"
Jeanne yang mendengar perkataan dari Irina hanya bisa memandang juniornya ini dan menghela nafas. "Belum sama sekali…, aku bahkan sudah mengunjungi panti asuham tempat tinggalku dulu sebelum diadopsi oleh mama, namun ibu panti tak mau memberitahukan dimana lokasi Naruto tinggal…"
"Lalu apa yang akan senpai lakukan?" tanya lagi Irina.
"Setelah misi ini selesai kurasa aku akan mencarinya hingga ketemu dan meminta maaf terlebih dahulu Irina.. ," balas Jeanne dengan memandang ke arah jalan yang mereka bertiga lalui. "Dan mungkin nantinya aku bisa memintanya ikut bersama kita ke gereja."
"Tapi dia bersama gadis fallen angel yang merupakan musuh gereja selain iblis.." timpal Xenovia yang kini ikut dalam pembicaraan.
"Kau tidak lupa dengan perkataan teman kecilku itu bahwa gadis fallen angel itu tak masuk fraksi da-Tenshi ( malaikat jatuh) ?" balas Jeanne.
"Tapi bisa saja teman kecilmu itu berbohong senpai..," balas lagi Xenovia. "Kau sudah tak lama bertemu dengannya dan mungkin saja dia sudah berubah sifatnya."
Jeanne yang mendengar perkataan Xenovia hanya tersenyum saja dan berkata. "Tidak Xenovia. Satu hal tang kutahu pasti dari Naruto adalah dia sangat sulit berbohong apalagi pada temannya." tukas Jeanne. "Dan aku juga merasakan bahwa dia belum berubah. Dan itu terbukti dimana dia tak melukai kita sama sekali meskipun itu bukanlah hal yang sulit baginya malam itu."
"Senpai…" panggil Irina kemudian "Apa sebelumnya kau tahu tentang teman kecilmu yang namanya Naruto itu punya kekuatan?"
"Aku tak tahu." balas Jeanne singkat. "Tapi yang jelas kita tahu kini bahwa Naruto punya kekuatan walau aku tak tahu kekuatan miliknya apa, namun aku bisa menduga dia punya kemampuan penyembuhan dimana kalian melihatnya sendiri bukan?"
"Ya…, dia menyembuhkan gadis fallen angel itu dengan cepat dan sempurna senpai…, apa itu merupakan sacred gear?" tanya lagi Irina
"Bukan" jawab Jeanne cepat. "Aku tak merasakan sama sekali aura sacred gear darinya. Mungkin sebuah sihir dari garis keturunan yang bangkit. Mungkin saja Naruto berasal dari garis keturunan penting yang tahu akan sihir."
"Tapi senpai, bagaimana itu mungkin?"
"Semua hal bisa saja terjadi Xenovia" ujar Jeanne yang menjawab pertanyaan Xenovia. "Tapi yang jelas, selepas misi selesai aku harus bisa bertemu dan berbicara dengannya. Juga aku harap aku bisa membujuknya agar mau ikut kita agar dia tak jatuh ke tangan para iblis yang menghuni kota ini."
"Ya itu benar senpai." timpal Irina. "Kita tak bisa membiarkan berkah Tuhan jatuh ke tangan musuh Tuhan."
"Ya…" balas Jeanne. "Sekarang ayo kita fokuskan dulu pada misi utama kita saat ini."
"Ha'i../Ya.." balas Irina juga Xenovia secara berbarengan…
…
…
xxx
Taman di kota Kuoh,
"Kau datang lagi?" tukas Naruto yang duduk dibangku taman yang menghadap ke arah danau sama seperti kemarin dan di jam yang sama pula kepada seorang pria yang merupakan salah satu pemimpin fallen angel yang Naruto tahu bernama Kokabiel. "Kembali berbicara denganku atau mau mengatakan maksudmu menemuiku lagi secara langsung?" Naruto kemudian memandang ke arah Kokabiel dengan pandangan mata tajam.
Naruto berada di taman ini memang sengaja dia lakukan. Hal itu untuk mengetahui apa maksud sebenarnya Kokabiel berbicara dengan dirinya kemarin. Demi hal ini Naruto harus sampai meninggalkan Raynare yang dia larang masuk ke akademi demi keselamatan dirinya selama beberapa hari sampai Naruto memastikan situasi benar-benar aman karena dia tahu pasti ketiga gadis exorcist itu akan mencari mereka.
"Hohoho…, bisakah kau coba menebak apa yang kupikirkan Uzumaki Naruto?" Kokabiel berujar dengan duduk di samping Naruto.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Ossan?"
"Hanya ingin tahu apakah manusia yang kupilih ini nantinya bisa memimpin kemanusiaan atau bukan" balas Kokabiel dengan nada santai.
"Mungkin gadis fallen angel yang tinggal bersamamu sudah cerita tentangku…,"
"Ya…, Rayna sudah cerita banyak tentangmu kemarin dan pagi ini dan minta padaku untuk menjauhi jika bertemu denganmu, Ossan…," tukas Naruto santai pula. "Walaupun begitu tetap saja itu membuatku masih penasaran ditambah kau berkata 'melihat manusia yang kau pilih untuk memimpin kemanusiaan' padaku. Bisa jelaskan apa maksudmu secara rinci?"
"Kuberi beberapa petunjuk saja okay," tukas Kokabiel. "Beberapa hari lalu kau bertemu dengan 3 gadis exorcist bukan saat menyelamatkan Raynare?" tanya Kokabiel pada Naruto yang menganggukkan kepalanya.
"Dan tentunya kau tahu bahwa datangnya ketiga gadis exorcist ke wilayah dimana dua heiress pillar iblis penting berada bisa memicu konflik bukan? Nah…, kuberi tahu bahwa para gadis exorcist tersebut datang ke wilayah iblis ini untuk melakukan sebuah misi yaitu mengembalikan pecahan potongan dari pedang Excalibur yang terpecah menjadi tujuh bagian, Naruto. 3 dari pecahan Excalibur yang merupakan artifak suci milik gereja di curi oleh seseorang dan pihak gereja memperkirakan potongan pedang Excalibur tersebut berada di kota Kuoh ini."
"Excalibur? Holy sword Excalibur dari legenda king Arthur?..."
"Yap… Excalibur dari legenda king Arthur yang terpecah akibat Great War tersebut pecah menjadi 7 bagian dan masing-masing bagian ditempa kembali menjadi sebuah pedang baru yang kemudian disimpan oleh pihak gereja." tukas Kokabiel. "3 pedang dari potongan pedang Excalibur yang berada di Vatikan dicuri dan disembunyikan di kota Kuoh ini dengan tujuan si pencuri untuk membuat konflik antara pihak gereja yang disokong oleh fraksi Tenshi dengan fraksi Iblis. Dan lebih parah lagi pencuri tersebut berniat untuk membunuh dua heiress iblis tersebut dengan pedang yang dia curi itu untuk membuat sebuah perang nantinya…"
Naruto hanya memandang ke arah Kokabiel dalam diam. "Perang? Bukankah itu hanya akan merugikan para fraksi itu sendiri? Keberadaan para fraksi sendiri yang kutahu dari cerita Raynare sendiri sudah melemah kecuali fraksi iblis yang berupaya menambah jumlah mereka dengan evil piece." Naruto masih menatap dengan selidik Kokabiel. "Bagaimana kau tahu tentang misi para gadis exorcist tersebut Kokabiel? Kau tak akan tahu hal itu kecuali…"
Naruto terdiam kembali dan memikirkan segala hal yang mana gear otaknya kemudian menyimpulkan satu hal. Naruto kemudian memandang ke arah Kokabiel yang kini tersenyum ke arahnya.
"Kau sudah menduganya?" tanya Kokabiel kemudian dimana dia mengerakkan sebelah tangan miliknya dan sebuah boundary field atau kekkai terpasang disekeliling mereka yang menghalangi pembicaraan Kokabiel dan Naruto terdengar
"Kau...kau pencurinya bukan? Mustahil kau tahu sebanyak ini jika bukan pencurinya…"
"Ohh...that's right, Naruto!" ujar Kokabiel dengan nada senang.
"Kenapa? Kenapa kau berniat membuat perang?" Naruto bertanya lagi. Naruto tak habis pikir dengan jalan pikiran Kokabiel saat ini. "Jika kau membuat perang lagi maka bisa jadi seluruh keberadaan fraksi dari kitab Injil akan terhapus"
"Aku tahu hal tersebut. Namun kali ini bukan hanya fraksi dari kitab Injil saja yang terhapus melainkan juga fraksi mitologi lain karena aku berniat mengajak mitologi lain dari perang ini, Naruto…" tukas lagi Kokabiel dengan nada tenang.
"Kau gila…!, satu perang saja sudah berbahaya dan kau berniat mengajak mitologi lain? Yang ada kekacauan besar diseluruh dunia dan...dan…" Naruto menelan ludahnya ketika dia menghentikan ucapannya sejenak yang berfikir kemungkinan terburuk yang akan terjadi kemudian berbicara lagi dengan sedikit tergagap…
"...Semua...manusia...akan...mati…"
Ketika Naruto berkata tersebut Naruto kemudian melihat Kokabiel yang justru tersenyum lebar dan menatap ke arah matanya secara langsung. "Dan itulah tujuan asliku sebenarnya…" dia berkata dengan nada bahagia.
"Kenapa?" Naruto bertanya dengan bergetar. "Kau bilang kemarin kau mencintai manusia, tapi kenapa kau berniat membuat perang yang justru membuat milyaran nyawa manusia melayang?"
"Kemanusiaan tak sehebat dan sejaya dahulu. Aku sudah hidup terlalu lama untuk melihat jatuh bangunnya kemanusiaan, Naruto.." tukas Kokabiel menerawang sambil memandang langit. "Manusia di jaman sekarang tak lebih dari sekadar alat yang hanya dimanfaatkan oleh para makhluk supernatural untuk kepentingan mereka. Apalagi semenjak penciptaan evil piece yang merenggut kebebasan hidup manusia itu sendiri dan mungkin saja mitologi lain atau fraksi lain akan mengembangkan benda serupa evil piece yang semakin akan merenggut dan membuat manusia tak lebih dari sekedar alat…
...Dan aku tak ingin melihat manusia yang kucintai jadi seperti itu. Maka dari itu aku membuat perang besar ini yang mana manusia juga akan berpatisipasi yang memaksa mereka harus bertahan dari kepunahan! Dan ketika semua itu sudah berakhir, maka akan ada beberapa manusia nantinya yang bertahan dan memulai sebuah era baru tanpa kami makhluk supernatural sama sekali! Tanpa kami makhluk supernatural yang membuat mereka manusia hanya menjadi alat dimana manusia nantinya bebas menentukan nasib mereka sendiri dan mereka akan bersinar terang layaknya bintang yang menerangi kegelapan!"
"Kau gila… benar-benar gila, Ossan…" tukas Naruto menjawab perkataan Kokabiel dengan nada trenyuh. "Kau menciptakan perang ini hanya untuk kami? Milyaran bahkan triliunan oran tak bersalah akan mati… Dan bagaimana kau yakin bahwa manusialah yang akan bertahan terakhir kali, Ossan?"
Pria ini… Naruto tak menyangka kegilaan akibat cintanya pada manusia sampai membuatnya jadi seperti ini, sampai rela melakukan genosida massal besar-besaran hanya agar bisa membuat manusia kembali berjaya.
"Itu lebih baik dari menjadi alat bukan?" tukas Kokabiel dengan nada kesedihan dan penyesalan yang terlihat di dalamnya. "Aku yakin karena aku tahu bahwa kemampuan bertahan hidup kalian adalah yang terbesar diantara kami makhluk supernatural. Mungkin nantinya hanya akan ada puluhan, atau bahkan hanya ada dua orang saja, tapi tetap saja, ras manusia akan tetap ada dan bertahan." tukasnya dengan nada kuat.
Naruto yang mendengar ucapan Kokabiel kemudian berujar "Kenapa kau memberitahuku hal ini?"
Naruto bingung, kenapa Kokabiel sampai memberitahukan hal ini padanya? Kenapa bukan yang lain,?
"Karena aku percaya bahwa kau akan menghentikanku nantinya, Naruto…" ujar Kokabiel kemudian. "Kau tak akan membiarkan hal ini terjadi nantinya"
"Kenapa kau seyakin itu?"
"Karena aku melihat seorang pejuang dari matamu ketika aku pertama kali melihatmu…," tukas Kokabiel yang membuat Naruto tertegun.
"Kau yang baru berusia 16 tahun namun menunjukkan keyakinan yang kuat dimana kau tak ingin terikat dengan apapun."
"Kau yang menolak menjadi iblis dan menjadi apapun karena kau bangga menjadi manusia."
"Yang memiliki hati lembut yang bahkan sampai begitu naif mengijinkan seorang gadis hibryd fallen angel yang baru kau kenal yang bisa saja membunuhmu namun kau ijinkan tinggal dan punya hidup normal yang mana kau sampai meresikokan hidupmu sendiri padahal kau tahu gadis tersebut diburu oleh atasannya"
"Yang yang punya kekuatan dan potensi tak terbatas yang terlihat jelas dimataku karena kekuatan milikmu yang aku tahu kau tahan dan tak mengeluarkannya secara maksimal…"
"Aku setidaknya menemukan satu bintang yang layak yang nantinya akan membangunkan bintang lainnya!" ujar Kokabiel kembali dengan nada riang yang kemudian dia berdiri dari duduknya dan mengeluarkan kembali sayapnya.
"3 hari lagi aku akan memulai rencana perangku dengan membunuh dua heiress iblis tersebut…, dan datanglah jika kau ingin menghentikanku, Naruto.., buktikan bahwa kau mampu untuk menghentikanku dan memimpin kemanusiaan nantinya karena aku tahu kau memang akan bersinar terang nantinya, Naruto…"
"Meskipun pertemuan kita singkat namun aku senang bisa bertemu denganmu…"
Dan dengan ucapan nya yang terakhir dimana Naruto hanya bisa mendengarnya tanpa bicara apapun, Kokabiel terbang kembali ke langit dengan cepat dan menghilang…
…
…
xxx
3 hari kemudian, penyerangan Kokabiel.
Putus asa…
Keputus asaan melanda para iblis dan utusan gereja dimana mereka kalah telak melawan Kokabiel dan pasukannya yang terlatih akibat perang.
Perbedaan kekuatannya terlalu besar dan belum lagi mental drop yang dialami paara gadis gereja akibat mendengar Kokabiel yang berujar bahwa Tuhan telah tiada.
Terbaring dengan keadaan terluka dan tak bisa apapun, para iblis dan para gadis semakin ketakutan ketika ribuan tombak cahaya terbentuk di pasukan Kokabiel yang mana mengangkat tanganya ke atas dan merintahkan untuk menembakkan ratusan tombak cahaya yang datang ke arah mereka bagaikan air terjun.
Semua iblis dan para gadis gereja hanya bisa menutup mata sampai sebuah dentuman tercipta begitu keras.
Tapi tak ada rasa sakit sama sekali yang dirasakan para iblis dan gadis gereja saat harusnya tombak cahaya tersebut mengenai mereka yang memaksa mereka membuka mata mereka secara perlahan dan mereka kaget ketika melihat sebuah kekkai berwarna emas melindungi mereka dan suara langkah kaki berjalan terdengar di samping kekkai yang melindungi mereka.
Kokabiel yang melihat kekkai yang menggagalkan serangan pasukannya untuk membunuh para iblis dan gadis gereja tersebut justru merasa senang dan berkata. "Datang di saat-saat terakhir? Kau tampak seperti pahlawan teman…"
Ribuan fallen angel yang merupakan pasukan Kokabiel yang mendengar langkah kaki tersebut menyiapkan kembali tombak cahaya di tangan mereka begitu melihat seorang pemuda berambut putih dengan memakai kaus hitam tertutup jaket putih yang mana resletingnya terbuka dan celana jeans hitam berjalan pelan sembari berkata.
"Bukan pahlawan…," tukas pemuda tersebut yang kehadirannya membuat terkejut juga para iblis dan gadis exorcist disana karena kehadirannya.
"Tapi hanya manusia biasa yang kebetulan lewat…"
…
…
...
[...Limit Break: Lightdrive…]
…
…
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Chapter terpanjang yang mungkin kubuat dan up untuk kalian senpai~. Kuharap kalian sedikit puas dengan chapter ini walau aku nanam kentang disini alias kena tanggung… hihihihi… bahasa kaskus gan…
Apa alurnya tertebak dengan mudah? Maa tak peduli pokoknya tulis saja daripada suntuk dan bete aku senpai~
Dan Naruto yang full action aku tampilkan chapter depan saja hihihi… biar makin penasaran saja para senpai ini. Lalu maafkan aku bila ada typo okay, aku tak punya editor sebelum up jadi ya beritahu aku biar bisa kubetulkan saat ada waktu senggang hihihihi…
Seperti biasa berikan review dan saran kalian selalu senpai~ dan terima kasih dukungan kalian semua okay… Arigatou dan sampai jumpa chapter depan…
